Hari ke empat di Sevilla dan hari ke lima perjalanan Spanyol kami. Not a good day karena gue bangun tidur dengan badan cenat-cenut dan perut cekat-cekut. Penyakit maag gue kumat lagi. Udah dua tahun lebih gak kena serangan maag kok sekarang lagi liburan justru kumat? Sekalinya kena langsung dengan kekuatan bulan begini (akan menghukummu!). Sakitnya sungguh bikin gue hampir gak bisa jalan.
Biarpun lagi sakit-sakit gitu gue putuskan untuk tetap lanjut jalan-jalan. Gak ada acara spesial sih hari itu tapi kan besok kami harus berangkat ke Cordoba jadinya gue mau berpuas-puas menikmati Sevilla hari ini.
Udah puas pusing-pusing di pusat kota, hari itu kami berjalan ke Triana, daerah di tepian sungai Guadalquivir yang cantik dan tenang. Seperti biasa banyak kafe-kafe di pinggiran sungainya, sepertinya kalo malem daerah ini akan lebih hip.
Waktu gue lagi asik foto-foto ada seorang kakek berhenti dan menunjuk-nunjuk patung Matador yang ada di Triana sana. Selanjutnya gantian dia menunjuk-nunjuk kamera gue. Apaan sih ini? Mau minta di foto? Mau bantuin ambil foto?
Terus aja dia nunjuk kamera dan patung matador bergantian, lantas tangannya mengarah ke lubang di tengah patung matador sambil bilang “Matador…Matador…Bull fight” sambil kemudian menunjuk sebuah tempat di kejauhan sana.
Akhirnya Mikko yang bisa menyibak kode rahasia si kakek, “Ooohh… I know what he means…through the matador’s heart you can see the bull fight arena.” Rupanya si kakek ngasih tau kita makna dari patung tersebut.
Ternyata gak bisa lama-lama di Triana karena makin lama kondisi gue makin loyo aja. Perut makin sakit dan badan mulai meriang. Kondisi butuh tempat tidur. Gak pake lama gue langsung cari taksi cabcus menuju hotel sementara Mikko lanjut jalan-jalan bareng Kai dan Sami.
“Bang, Kale Gerona, bang” kata gue ke supir taksinya
“Pardon?”
“Kale Jerona?”
“Pardon?”
“Serona?”
Iiiihh, masih aja supir taksinya gak ngerti ucapan gue. Untung ada corat-coretnya Mikko disebuah kertas yang menuliskan alamat hotel kami di Calle Gerona.
“Ahaaaa….Kaye Hherrona”
Ya maap akika kagak tau nyebutnya harus begitu.
Sampe di Calle Gerona si supir nanya nomer berapa alamatnya? Aiiih, gak ditulis sama Mikko. Sampai Calle Geronanya berakhir masih gak ketemu juga itu Hotel Don Pedro, jadinya sama si supir gue disuruh turun karena jalanan disitu satu arah semua. Lebih gampang jalan kaki, neng, katanya (atau begitulah kira-kira karena toh supirnya ngoceh dalam bahasa Spanyol dan bahasa tubuh)
Keluar dari taksi gue macam Siti Hawa terdampar di bumi, hilang arah. Ini gue ada dimana sih kaga kenal gini daerahnya? Udahlah badan meriang, pala cenat cenut, perut sakit, pake nyasar pula. Hampir 10 menit muter-muter hampir aja gue mau nangis sesunggukan tapi untung banget setelah itu penampakan Hotel Don Pedro mulai keliatan. Pengen sujud syukur rasanya.
Begitu sampe kamar langsung tenggak dua panadol dan tidur-tiduran sampe Mikko datang. Enak rupanya bisa sendirian begitu, berasa lagi me-time biarpun sambil sakit perut. Enaknya sakit di hotel gue bisa tidur dengan damai sentosa tanpa harus mikirin cucian, urusan dapur dan tetek bengek rumah tangga lainnya. Kalo tau kan dari tadi pagi gue ngaso begini.
Sorenya Mikko dateng bareng Mirka, rupanya mereka mengajak Kai dan Sami berwisata naik kapal di sungai Guadalquivir. Dan Kai tampak senang sekali sama pengalamannya itu, sampai sekarang masih aja diulang-ulang cerita naik kapal bareng Mirka.
Malemnya Mikko dan Mirka pergi nonton bola di stadion Sevilla, sebelum pergi Mirka bantu gue untuk cari makanan yang bisa dikirim ke kamar hotel. Ternyata sedikit sekali loh pilihan delivery service di Sevilla situ. Dan kebanyakan restoran gak melayani take away. Pilihan yang ada cuma pizza dan pasta-pastaan dari telepizza. Pesen pizza sebijik aja sampenya hampir dua jam ya boooook. Pada nonton bola dulu pasti deh ya?
Besoknya perut gue masih sakit dan badan masih lemes padahal kami harus pindah kota ke Cordoba. Untungnya cuma 45 menit naik kereta dan selama di kereta anak-anak bisa duduk anteng (oh mukjizat). Dari stasiun Cordoba jalan kaki 10 menit ke Hotel Itaca, check in dan langsung menyerbu kasur. Gue dan Mikko langsung tepuk tangan liat kamarnya. Kasurnya ada tiga!!! Akhirnyaaaa…malam ini gak harus tidur keroyokan lagi di kasur sempit.
Seharian itu gue leyeh-leyeh aja di hotel daripada ngotot jalan tapi trus kaputt lagi. Cuma keluar sekali buat makan siang di restoran samping hotel. Seperti biasa menunya dalam bahasa Spanyol dan staffnya gak gitu bisa bahasa Inggris.
“Beef” katanya sambil nunjuk menu no. 1
“Fish” menu no. 2
“Bambi. You know Bambi, yes?” menu no. 3, daging rusa maksudnya.
“Matador. Bull” ditambah tepuk-tepuk pantat untuk menu terakhir yang akhirnya kami simpulkan sebagai sop buntut.
Katanya sop buntut itu makanan spesial banget yang cuma ada di musim bull fighting. Buntutnya sendiri berasal dari banteng yang mati di arena pertandingan dan kemudian disebarkan ke beberapa restoran. Sok-sok jadi aktivis animal rights gue larang Mikko makan sop buntut, lagian siiiiih…kalo mau sop buntut mah di Jakarta juga banyak malih.
Akhirnya gue pilih pesen ikan dan Mikko pesen si daging Bambi. Entahlah karena lagi sakit atau emang gak bumbunya gak enak, yang jelas lidah gue kurang setuju sama makanannya. Manis-manis aneh gimana gitu. Memang sepertinya makanan Spanyol bukan jodohku.
Abis makan ya seperti biasa gegoleran di hotel lagi sementara Mikko bawa Kai dan Sami jalan-jalan sambil cari obat maag buat gue. Setelah dapet obatnya barulah perut gue lebih enakan. Asam lambung gue lebih terkontrol dan gak bikin lambung nyelekit lagi. Besok paginya gue bangun dengan keadaan yang jauh lebih segar. Siap mengunjungi si mesjid cantik La Mezquita.
Tumben banget kami bangun pagi hari itu. Jam 8.30 udah siap bergerak dari hotel, bangun terpagi dalam sejarah liburan kami. Soalnya masuk La Mezquita gratis kalo di bawah jam 10. Dalam perjalanan gue baru inget…lupa bawa kamera! Iiiiiiihhhhhh…..langsung mood jadi teracak-acak. Terpaksa deh mengandalkan kamera telepon yang cuma sekadarnya itu.
Sebenernya sih hati ini bete berat karena gak bawa kamera tapi mau gak mau jadi seneng juga ngeliat si mesjid cantik yang udah lama sekali gue liat foto-fotonya dari berbagai sumber. Mesjid yang tiang-tiangnya mengingatkan gue akan gulali.
La Mezquita ini dulunya merupakan lokasi ibadah (temple) buat penganut pagan, yang kemudian berubah menjadi gereja (gothic? cmiiw), berubah lagi menjadi mesjid ketika bangsa Moor masuk ke Spanyol sambil membawa Islam, dan berubah lagi menjadi gereja katolik ketika agama Nasrani kembali berkuasa di Spanyol. Luar biasa sekali ya…sebuah bangunan yang telah menyaksikan ribuan tahun sejarah manusia.
Walaupun bangunan ini terkenal dengan nama La Mezquita, namum pihak pengelolanya sendiri menyebutnya sebagai Cathedral of Cordoba. Tepat di tengah La Mezquita berdiri megah altar katedral dimana misa rutin diadakan. Waktu kami berkunjung di sana malah lagi berlangsung sebuah misa.
Kabarnya masyarakat muslim Spanyol telah beberapakali meminta izin untuk bisa melaksanakan ibadah sholat di La Mezquita tapi sampai saat ini permintaan tersebut belum dikabulkan.
Berada di dalam La Mezquita gue teringat kata-kata Mikko “Bayangkan, ribuan tahun yang lalu Cordoba merupakan salah satu kota terpenting di dunia. Peradaban paling maju di zamannya”. Kota dimana kebudayaan, science, dan politik berpusat saat itu. Dan La Mezquita inilah ikon yang tertinggal dari zaman kemegahan tersebut. Widiiiiww, gue jadi merinding membayangkannya.
Sayangnya keadaan di dalam La Mezquita itu agak remang-remang yang berarti gak kondusif buat foto-foto pake kamera hape. Jadi gue cuma punya sedikit foto dari La Mezquita dan hasilnya pun gak memuaskan. Grrr….sebel rasanya kalo inget ini.
Setelah puas menikmati La Mezquita kami berputar-putar sedikit di old town-nya Cordoba. Kenapa ya di Spanyol sini banyak banget restoran dengan nama 100 Tapas, 101 Tapas, 1000 Tapas, 1001 Tapas? Ada apa dengan angka-angka tersebut sih? Kenapa gak pake angka lainnya? 13? 74? 69? (Lo pikir jalur bis?)
Lagi asik merhatiin resto-resto di sana tiba-tiba Mikko berkata “Istri pasti mau minta foto di sini”
Ehhh? Apaaa? Apaaan yang mau difoto?
Huwaaaaaaa…ternyata kami menemukan harta karun kecil Cordoba. Sebuah gang sempit bernama Calleja De Las Flores alias Jalan Berbunga. Gang kecil penuh bunga-bungaan di kanan kirinya. Cantiiiiiiiiiiikkkkk.
Jalan ini selalu ramai dilewati para turis jadinya agak susye kalo mau puas foto-foto di sana. Saking sempitnya jalannya cuma muat buat satu jalur, kebayangkan susahnya kalo mau bikin foto-foto cakep di tengah banyak orang? Untungnya sih kami sampai di sana waktu masih pagi, belum terlalu ramai.
Di ujung si jalan bunga ada toko kecil yang mengiklankan sumur tua untuk dilihat-lihat. Intrik aja sih sebenernya, pengunjung di suruh liat sumur antik (gratis) sekalian doi jualan suvenir. Gue mah males ngeliat sumur, di Indo juga banyak, tapi yang lucu iklan sumur ini ada dalam berbahasa termasuk dalam bahasa Indonesia daaaan…
Asli gue sama Mikko ngakak bacanya.
Gak terlalu lama di kota tua Cordoba kami pun balik ke hotel untuk ngambil koper. Masih harus lanjut lagi naik kereta menuju Benalmadena, perhentian terakhir liburan kami kali ini. Sambil geret-geret koper ke stasiun Mikko bertanya:
“So…what do you think? Do you think it’s a good idea to go to Benalmadena now or do you still want to go to Granada to see the Al Hambra?”
“Iiiiiiiih….soriiiii deeeeeh. Aku udah capek jalan liat gedung-gedung tua. Udah bosen. Kaki ku udah mau copot. I can’t wait until we get to Benalmadena where I am planning to do absolutely nothing there”
Kapan-kapan lah ya, Al Hambra, badan ini udah gak muda lagi buat diajak jalan terus-terusan. Udah gak sabar mau santai-santai di resort di mana Al-mari, Al-kasur, Al-bath tub dan Al-kolam renang sudah menunggu.
































































