hola espana – 5

15 May

Hari ke empat di Sevilla dan hari ke lima perjalanan Spanyol kami. Not a good day karena gue bangun tidur dengan badan cenat-cenut dan perut cekat-cekut. Penyakit maag gue kumat lagi. Udah dua tahun lebih gak kena serangan maag kok sekarang lagi liburan justru kumat? Sekalinya kena langsung dengan kekuatan bulan begini (akan menghukummu!). Sakitnya sungguh bikin gue hampir gak bisa jalan.

Biarpun lagi sakit-sakit gitu gue putuskan untuk tetap lanjut jalan-jalan. Gak ada acara spesial sih hari itu tapi kan besok kami harus berangkat ke Cordoba jadinya gue mau berpuas-puas menikmati Sevilla hari ini.

Udah puas pusing-pusing di pusat kota, hari itu kami berjalan ke Triana, daerah di tepian sungai Guadalquivir yang cantik dan tenang. Seperti biasa banyak kafe-kafe di pinggiran sungainya, sepertinya kalo malem daerah ini akan lebih hip.

jembatan menuju Triana

landmark Triana

Waktu gue lagi asik foto-foto ada seorang kakek berhenti dan menunjuk-nunjuk patung Matador yang ada di Triana sana. Selanjutnya gantian dia menunjuk-nunjuk kamera gue. Apaan sih ini? Mau minta di foto? Mau bantuin ambil foto?

Terus aja dia nunjuk kamera dan patung matador bergantian, lantas tangannya mengarah ke lubang di tengah patung matador sambil bilang “Matador…Matador…Bull fight” sambil kemudian menunjuk sebuah tempat di kejauhan sana.

Akhirnya Mikko yang bisa menyibak kode rahasia si kakek, “Ooohh… I know what he means…through the matador’s heart you can see the bull fight arena.” Rupanya si kakek ngasih tau kita makna dari patung tersebut.

through the matador’s heart you can see the bull fight arena

Ternyata gak bisa lama-lama di Triana karena makin lama kondisi gue makin loyo aja. Perut makin sakit dan badan mulai meriang. Kondisi butuh tempat tidur.  Gak pake lama gue langsung cari taksi cabcus menuju hotel sementara Mikko lanjut jalan-jalan bareng Kai dan Sami.

“Bang, Kale Gerona, bang”  kata gue ke supir taksinya

“Pardon?”

“Kale Jerona?”

“Pardon?”

“Serona?”

Iiiihh, masih aja supir taksinya gak ngerti ucapan gue. Untung ada corat-coretnya Mikko disebuah kertas yang menuliskan alamat hotel kami di Calle Gerona.

“Ahaaaa….Kaye Hherrona”

Ya maap akika kagak tau nyebutnya harus begitu.

Sampe di Calle Gerona si supir nanya nomer berapa alamatnya? Aiiih, gak ditulis sama Mikko. Sampai Calle Geronanya berakhir masih gak ketemu juga itu Hotel Don Pedro, jadinya sama si supir gue disuruh turun karena jalanan disitu satu arah semua. Lebih gampang jalan kaki, neng, katanya (atau begitulah kira-kira karena toh supirnya ngoceh dalam bahasa Spanyol dan bahasa tubuh)

Keluar dari taksi gue macam Siti Hawa terdampar di bumi, hilang arah. Ini gue ada dimana sih kaga kenal gini daerahnya? Udahlah badan meriang, pala cenat cenut, perut sakit, pake nyasar pula. Hampir 10 menit muter-muter hampir aja gue mau nangis sesunggukan tapi untung banget setelah itu penampakan Hotel Don Pedro mulai keliatan. Pengen sujud syukur rasanya.

Begitu sampe kamar langsung tenggak dua panadol dan tidur-tiduran sampe Mikko datang. Enak rupanya bisa sendirian begitu, berasa lagi me-time biarpun sambil sakit perut. Enaknya sakit di hotel gue bisa tidur dengan damai sentosa tanpa harus mikirin cucian, urusan dapur dan tetek bengek rumah tangga lainnya. Kalo tau kan dari tadi pagi gue ngaso begini.

Sorenya Mikko dateng bareng Mirka, rupanya mereka mengajak Kai dan Sami berwisata naik kapal di sungai Guadalquivir. Dan Kai tampak senang sekali sama pengalamannya itu, sampai sekarang masih aja diulang-ulang cerita naik kapal bareng Mirka.

Malemnya Mikko dan Mirka pergi nonton bola di stadion Sevilla, sebelum pergi Mirka bantu gue untuk cari makanan yang bisa dikirim ke kamar hotel. Ternyata sedikit sekali loh pilihan delivery service di Sevilla situ. Dan kebanyakan restoran gak melayani take away. Pilihan yang ada cuma pizza dan pasta-pastaan dari telepizza. Pesen pizza sebijik aja sampenya hampir dua jam ya boooook. Pada nonton bola dulu pasti deh ya?

Besoknya perut gue masih sakit dan badan masih lemes padahal kami harus pindah kota ke Cordoba. Untungnya cuma 45 menit naik kereta dan selama di kereta anak-anak bisa duduk anteng (oh mukjizat). Dari stasiun Cordoba jalan kaki 10 menit ke Hotel Itaca, check in dan langsung menyerbu kasur. Gue dan Mikko langsung tepuk tangan liat kamarnya. Kasurnya ada tiga!!! Akhirnyaaaa…malam ini gak harus tidur keroyokan lagi di kasur sempit.

Seharian itu gue leyeh-leyeh aja di hotel daripada ngotot jalan tapi trus kaputt lagi. Cuma keluar sekali buat makan siang di restoran samping hotel. Seperti biasa menunya dalam bahasa Spanyol dan staffnya gak gitu bisa bahasa Inggris.

“Beef” katanya sambil nunjuk menu no. 1

“Fish” menu no. 2

“Bambi. You know Bambi, yes?” menu no. 3, daging rusa maksudnya.

“Matador. Bull” ditambah tepuk-tepuk pantat untuk menu terakhir yang akhirnya kami simpulkan sebagai sop buntut.

Katanya sop buntut itu makanan spesial banget yang cuma ada di musim bull fighting. Buntutnya sendiri berasal dari banteng yang mati di arena pertandingan dan kemudian disebarkan ke beberapa restoran. Sok-sok jadi aktivis animal rights gue larang Mikko makan sop buntut, lagian siiiiih…kalo mau sop buntut mah di Jakarta juga banyak malih.

Akhirnya gue pilih pesen ikan dan Mikko pesen si daging Bambi. Entahlah karena lagi sakit atau emang gak bumbunya gak enak, yang jelas lidah gue kurang setuju sama makanannya. Manis-manis aneh gimana gitu. Memang sepertinya makanan Spanyol bukan jodohku.

Abis makan ya seperti biasa gegoleran di hotel lagi sementara Mikko bawa Kai dan Sami jalan-jalan sambil cari obat maag buat gue. Setelah dapet obatnya barulah perut gue lebih enakan. Asam lambung gue lebih terkontrol dan gak bikin lambung nyelekit lagi. Besok paginya gue bangun dengan  keadaan yang jauh lebih segar. Siap mengunjungi si mesjid cantik La Mezquita.

Tumben banget kami bangun pagi hari itu. Jam 8.30 udah siap bergerak dari hotel, bangun terpagi dalam sejarah liburan kami. Soalnya masuk La Mezquita gratis kalo di bawah jam 10. Dalam perjalanan gue baru inget…lupa bawa kamera! Iiiiiiihhhhhh…..langsung mood jadi teracak-acak. Terpaksa deh mengandalkan kamera telepon yang cuma sekadarnya itu.

Sebenernya sih hati ini bete berat karena gak bawa kamera tapi mau gak mau jadi seneng juga ngeliat si mesjid cantik yang udah lama sekali gue liat foto-fotonya dari berbagai sumber. Mesjid yang tiang-tiangnya mengingatkan gue akan gulali.

dinding yang mengelilingi La Mezquita

gerbang masuk La Mezquita

La Mezquita ini dulunya merupakan lokasi ibadah (temple) buat penganut pagan, yang kemudian berubah menjadi  gereja (gothic? cmiiw), berubah lagi menjadi mesjid ketika bangsa Moor masuk ke Spanyol sambil membawa Islam, dan berubah lagi menjadi gereja katolik ketika agama Nasrani kembali berkuasa di Spanyol. Luar biasa sekali ya…sebuah bangunan yang telah menyaksikan ribuan tahun sejarah manusia.

Walaupun bangunan ini terkenal dengan nama La Mezquita, namum pihak pengelolanya sendiri menyebutnya sebagai Cathedral of Cordoba. Tepat di tengah  La Mezquita berdiri megah altar katedral dimana misa rutin diadakan. Waktu kami berkunjung di sana malah lagi berlangsung sebuah misa.

Kabarnya masyarakat muslim Spanyol telah beberapakali meminta izin untuk bisa melaksanakan ibadah sholat di La Mezquita tapi sampai saat ini permintaan tersebut belum dikabulkan.

Berada di dalam La Mezquita gue teringat kata-kata Mikko “Bayangkan, ribuan tahun yang lalu Cordoba merupakan salah satu kota terpenting di dunia. Peradaban paling maju di zamannya”. Kota dimana kebudayaan, science, dan politik berpusat saat itu. Dan La Mezquita inilah ikon yang tertinggal dari zaman kemegahan tersebut. Widiiiiww, gue jadi merinding membayangkannya.

Sayangnya keadaan di dalam La Mezquita itu agak remang-remang yang berarti gak kondusif buat foto-foto pake kamera hape. Jadi gue cuma punya sedikit foto dari La Mezquita dan hasilnya pun gak memuaskan. Grrr….sebel rasanya kalo inget ini.

sekeliling tembok La Mezquita

Setelah puas menikmati La Mezquita kami berputar-putar sedikit di old town-nya Cordoba. Kenapa ya di Spanyol sini banyak banget restoran dengan nama 100 Tapas, 101 Tapas, 1000 Tapas, 1001 Tapas? Ada apa dengan angka-angka tersebut sih? Kenapa gak pake angka lainnya? 13? 74? 69? (Lo pikir jalur bis?)

Lagi asik merhatiin resto-resto di sana tiba-tiba Mikko berkata “Istri pasti mau minta foto di sini”

Ehhh? Apaaa? Apaaan yang mau difoto?

Huwaaaaaaa…ternyata kami menemukan harta karun kecil Cordoba. Sebuah gang sempit bernama Calleja De Las Flores alias Jalan Berbunga. Gang kecil penuh bunga-bungaan di kanan kirinya. Cantiiiiiiiiiiikkkkk.

Jalan ini selalu ramai dilewati para turis jadinya agak susye kalo mau puas foto-foto di sana. Saking sempitnya jalannya cuma muat buat satu jalur, kebayangkan susahnya kalo mau bikin foto-foto cakep di tengah banyak orang? Untungnya sih kami sampai di sana waktu masih pagi, belum terlalu ramai.

balkon cantik somewhere in old town Cordoba, lupa dimana tepatnya

Di ujung si jalan bunga ada toko kecil yang mengiklankan sumur tua untuk dilihat-lihat. Intrik aja sih sebenernya, pengunjung di suruh liat sumur antik (gratis) sekalian doi jualan suvenir. Gue mah males ngeliat sumur, di Indo juga banyak, tapi yang lucu iklan sumur ini ada dalam berbahasa termasuk dalam bahasa Indonesia daaaan…

Asli gue sama Mikko ngakak bacanya.

Gak terlalu lama di kota tua Cordoba kami pun balik ke hotel untuk ngambil koper. Masih harus lanjut lagi naik kereta menuju Benalmadena, perhentian terakhir liburan kami kali ini. Sambil geret-geret koper ke stasiun Mikko bertanya:

“So…what do you think? Do you think it’s a good idea to go to Benalmadena now or do you still want to go to Granada to see the Al Hambra?”

“Iiiiiiiih….soriiiii deeeeeh. Aku udah capek jalan liat gedung-gedung tua. Udah bosen. Kaki ku udah mau copot. I can’t wait until we get to Benalmadena where I am planning to do absolutely nothing there”

Kapan-kapan lah ya, Al Hambra, badan ini udah gak muda lagi buat diajak jalan terus-terusan. Udah gak sabar mau santai-santai di resort di mana Al-mari, Al-kasur, Al-bath tub dan Al-kolam renang sudah menunggu.

hola espana – 4

2 May

Hari ketiga di Sevilla, a slow day.

Seperti biasa dimulai dengan leyeh-leyeh dulu trus lanjut jalan santai ke Alameda de Hercules. Semacam boulevard dimana banyak kafe dan restoran di sepanjang jalan. Mirka merekomendasikan tempat ini karena katanya kewl banget, cozy banget, ngehitz banget dan banget-banget lainnya.

Pas sampe sanaaaaaa….kosong melompong sodara-sodara! Mungkin karena masih pagi kali ya? Kosong aja getoo kagak ada apa-apa. Mana ini anak-anak gaul yang katanya sering nongkrong di sini?

Ya jelaasss, Mirka kan kalo begaul malem hari bareng ribuan penduduk Sevilla lainnya yang memang lebih hidup di malam hari. Kalo udah malem begitu memang sepertinya kafe-kafe di Alameda sini bakal ramai dan seru. Tapi kalo pagi-pagi gini mah gak ada yang bisa diliat. Jadi di sana kami cuma ajak Kai main di playground dan lempar-lempar roti untuk dimakan burung.

Abis itu lanjut jalan-jalan aja kemana kaki melangkah. Mampir dulu di Art Museum of Sevilla buat liat-liat lukisan. Gak terlalu menarik…jadi…lanjuuuuuut. Masuk museum Corte de Ingles alias mall terbesar di Sevilla…menarik buat gue tapi gak buat Mikko. Demi menyenangkan hati suami gue pun gak berlama-lama di sana.

Sempet makan churros di sebuah kafe tapi sayang churrosnya gak gitu enak. Setelah itu lanjut jalan lagi menyusuri jalan-jalan Sevilla dan sambil jalan entah kenapa tiba-tiba aja gue berpikir

“Eh..suamiiiii…aku kok  jadi kepikiran ya…kayanya ulang tahun kemarin aku kok gak dapet kado ya?”

“Aaaaahh..masa? Gak mungkin”

“Iya bangeeeeet…coba deh inget-inget aku dikadoin apa? Kalo gak inget artinya memang beneran aku belum dikadoin. Ih, kok tega bener”

“Ok, in 5 minutes you will get your birthday present, sayang”

“Apaaaaaa? Apaaaaaaa? Apa kadonya?”

Setelah lima menit berjalan tiba-tiba terlihatlah sebuah logo yang sangat gue kenal sekaligus sangat gue rindukan. Ke Ef Si, Kentucky Fried Chicken. Maklum ya boooooo…di Finlandia sini gak ada KFC dan gue kangennya setengah mati mau makan ayam goreng garing.

Tapi gue udah bilang belum kalo selama di Sevilla susahnya minta ampun nemuin orang yang bisa bahasa Inggris? Begitu pula di KFC sini. Staffnya gak bisa kemiggris. Mau bilang kalo gue kepengen beli dua ayam dada aja susahnya setengah  mati. Si mbaknya malah bales nanya “Menu Unos? Dos? Tres?”  Woww…Ricky Martin!

Ya sudahlah, gue beli aja paket menunya.

“Wesyee wesyeee wesyeee” kata si mbak sambil mengepak-ngepakan tangan dan menepuk dada.

Oh, gue ngerti. Mau sayap atau dada? Gitu kali ya?

Gue balas juga dengan memukul-mukul dada. Me Tarzan. You Jane. Chicken breast please.

Tapi toh yang muncul ayam tiga biji: sayap, dada dan paha. Gimana ceritanya ini ayamnya kok jadi tiga biji ya? Kirain tadi mesen cuma dua.

Setelah semua pesanan tiba saatnya mengeluarkan senjata rahasia yang selama ini selalu gue bawa di dalam tas. Alias botol saos sambal ABC. Gak afdol soalnya makan KFC gak pake saos sambel. Namanyapun orang endonesah, ya.

Abis dari KFC kami pindah restoran  dan makan lagi. Abisnya suami sayah gak suka KFC dan berkeras mau makan ditempat lain. Di restoran kedua ini Sami pup sampai dua kali, repot dah gue ganti bajunya Sami sambil sedikit akrobat di WC restoran. Gimana gak akrobat secara di WCnya gak ada fasilitas ganti popok.

Mikko selesai makan lanjut lagi ke Plaza Del Duque janjian ketemu Mirka yang mau nemenin gue shopping-shopping. Gue dan Mirka sibuk keluar masuk toko-toko di shopping street-nya Sevilla sementara Mikko ajak Kai dan Sami ke sebuah taman. Sebenernya ada beberapa barang yang gue taksir dan pengen gue beli tapi pas lagi mikir-mikir mau beli yang mana Mikko udah krang-kring-krang-kring nanya kapan kami selesai belanja. Tampaknya doi mulai kesulitan ngangonin anak-anak yang udah capek dan rewel. Acara belanja hari itupun diakhiri tanpa membeli apa-apa. Emang gak direstui banget kayanya mau buang-buang fulus.

Gue dan Mirka lantas berjalan menuju Plaza De Espana dimana Mikko sedang berada. Sepanjang perjalanan ke sana sebenarnya banyak banget view bagus yang bikin mata gue seger. Gedung-gedung cantik, pohon-pohon berbunga, plaza tempat kumpul-kumpul, dan lain-lainnya. Tapi semuanya gue lewati aja tanpa difoto karena gak enak hati sama Mirka kalo sedikit-sedikit berenti buat ceklak ceklik. Maklum deh, gue ini kan orangnya suka gak enakan. Tapi hati gue tetap terhibur karena sepanjang perjalanan Mirka cerita tentang kisah cintanya yang baru saja kandas beberapa bulan lalu. Seru bok. Sungguh memuaskan hati gue yang haus drama.

Sesampainya di Plaza Espana……astagaaaaaahhhhhh…..tempat ini indah sekali. Plaza tercantik yang pernah gue liat.

Sebenernya ada niat mau bersampan mengelilingi sungai kecil di plaza ini. Kok kayanya semriwing banget gituuu. Tapi kok ada bau-bau kecut menusuk? Eyaampuuunnn….Sami pup lagi sampe celananya basah. Kok sampe tiga kali gini pupunya, nak? Baju ganti sama popoknya udah abis nih. Bukannya naik sampan akhirnya kami malah naik bis balik ke hotel. Batal deh beromantis-romantisan di atas sampan.

Dan sebenarnya lagi, ada juga niat mau nonton pertunjukan Flamenco malam itu di museum of flamenco, tapi biasa deh, shownya baru mulai jam 7 malem. Mikko yang capek ngangon anak seharian gak mau lagi keluar sambil bawa anak yang suka blingsatan kalo udah malem. Gue pun cuma bisa gigit jari. Masalahnya ini Sevilla ma meeeeeenn. Kota asalnya tarian Flamenco. Gak nonton Flamenco di Sevilla itu ibarat pergi ke Mbok Berek tapi gak makan ayam goreng. Basiiiiiiii.

Nah, pas di dekat hotel kami baru perhatiin banyak iklan pertunjukkan flamenco yang ditempel dimana-mana. Ternyata banyak kafe atau restoran di sekitar hotel kami yang nanggep artis flamenco setiap weekend. Kebanyakan ditujukan buat penduduk lokal tapi tetap bisa dinikmati oleh turis.

Mikko langsung semangat. “Ini pasti bagus ini. Autentik. Not some fake touristic stuff.”

Gue sih lebih  hepi liat harganya. Cuma 5 euro bok. Jauh lebih murah daripada nonton di museum yang tiketnya 20 euro per orang.

Masalahnya…acaranya jam 10 malem. Apa kabarnya dua bocah cilik?

Eeeehh….gak nyangka yaaaaaa…Mirka mau bertugas jadi baby sitter kami malam itu. Toh jam 10 anak-anak udah pasti pada tidur, Mirka tinggal duduk di dekat mereka sambil ngenet atau baca buku. Kalaupun ada yang bangun we were only one phone call away. Nonton Flamenconya cuma 10 menit jalan kaki dari hotel.

Jam 8 pergi dulu makan malam di dekat hotel di sebuah restoran yang direkomendasikan lonelyplanet. Sami tidur di strollernya sementara Kai seperti biasa hiperaktif. Tapi alhamdulillah semua tetap lancar terkendali.

Makanannya lumayan enak tapi yang lebih enak lagi suasananya. Bener kata Mirka, Sevilla ini jauh lebih hidup di malam hari. Kayanya semua orang keluar begitu malam menjelang. Rame-rame makan di luar sambil ngobrol bareng keluarga atau teman. Suasanya terasa akrab sekali.

suasana di plaza tempat kami makan. Ini baru pemanasan, makin malam makin ruameeee

enjoying my chicken enchilada. Enak, but not too special. Enakan juga ayam pop

Nah, kalo suka daging sapi dan steak di Spanyol memang tempatnya. Daging sapinya top quality dan harganya relatif murah

Jam sepuluh malam Mirka datang dan kedua sejoli Rika dan Mikko pun mengendap-ngendap keluar hotel. Cengar cengir cengar cengir hati girang luar biasa. Ini pertama kalinya kami bisa keluar malam berduaan sejak Kai lahir. Berasa kaya anak ABG pacaran backstreet. Adrenaline rush banget.

Apa daya…sampe di tempat tujuan…tiketnya abis dijeeeeeeeeee. Kafenya udah penuh-nuh-nuh, gak boleh lagi nambah penonton. Makanya, sapa suruh dateng terlambat?

Sedih banget sebenernya hati ini tapi kami memutuskan untuk menikmati satu-satunya kesempatan kami bisa keluar malam seperti ini. Gak sengaja ketemu sebuah plaza kecil dimana banyak orang duduk-duduk sambil makan, minum dan menikmati live music dari kafe di sekitar situ. Gue dan Mikko pun ikut ambil meja, pesan minum dan duduk-duduk dibawah langit terbuka dengan background live music lagu-lagu romantis. Aaaww awwww prikitiiiiiiwwww…ini romantis sekaliiiiiiii.

plaza kecil dekat geraja putih yang gak sengaja kami lewati malam itu

pasangan yang berbahagia (akhirnya bisa berduaan juga)

Kalo kata Mikko “We’re doing it like the Spaniard”. Baru makan jam 9 malam, trus lanjut nongkri-nongkri sampai larut malam di outdoor cafe. Aaaaaah…inilah hidup. Tiap hari begini kayanya juga boleh deh.

Mirka pernah bilang bahwa wajar banget di Spanyol orang-orang keluar sambil bawa anak sampai jam 10 atau bahkan jam 11 malam. Dan malam itu gue liat sendiri orang-orang masih seliweren sambil dorong gerobak bayi jam 11 malem. Ya secara makan malemnya aja baru mulai jam 9 ya. Emang dah di Spanyol ini kehidupan lebih berputar di malam hari. Keturunan kalong apa ya?

jam 11 malem masih ngalong sambil bawa anak

Kalo yang ini jam 11 malem harus pulang mau ngangonin anak. Padahal plazanya masih rame aja tuh.

Kami kembali lagi ke hotel sebelum jam 11 malam dan di dekat hotel kami temukan lagi satu iklan flamenco di sebuah kafe lain. Masih di dekat hotel juga. Mulainya sih  jam 10 tapi kata Mirka orang Spanyol gak selalu tepat waktu, bisa jadi show-nya baru mulai biarpun saat itu udah jam 11 malam. Jadilah kami ngibrit menuju kafe tersebut berharap kali  ini kami lebih beruntung.

Ternyata benaaaaaar….flamenco shownya masih berjalan. Kesampean  juga deh gue nonton flamenco di daerah asalnya.

Flamenco yang gue tonton ini dibawakan tanpa baju berenda-renda khas penari Spanyol. Di babak pertama penarinya malah beraksi dengan kemeja dan celana panjang biasa. Di babak kedua baru deh doi berganti dengan baju flamenco sederhana dan kipasnya.

Tapi bintang utamanya justru si mbak sinden, sang penyanyi. Gue baru tau kalo jiwa tari flamenco itu sepertinya ada di ekspresi emosi si penyanyinya. Bujubune boooookk…itu nyanyinya menghayati sekali sampe merem-merem. Terutama gue menikmati sekali waktu doi nyanyi diiringi tepuk-tepuk berirama. Duuhh…seru banget deh itu.

abang ganteng berbaju ketat yang ternyata ikutan nari juga di akhir pertunjukkan. Aku padamu Bang.

Secara keseluruhan gue puaaaaaaaas sekali bisa nonton pertunjukkan tari flamenco ini.

Jam 12 malam kami kembali ke hotel dan membebaskan Mirka dari tugas baby sittingnya. Menurut Mirka Kai dan Sami tidur nyenyak tak terbangun sedikitpun. Waaaaaawww….seperti mejiiiiiiik. Emang bener-bener hari keberuntungan gue dan Mikko banget yah.

Baru deh pas gue masuk kamar mau tidur Sami bangun dan oek-oek minta susu. Dan terus terbangun setiap satu jam sampai pagi bikin gue gak bisa tidur. Aduuuh Samiiiiii…jebakan betmen sekali kamu, nak.

hola espana – 3

29 Apr

Hari berikutnya di Sevilla kegiatannya ya gak jauh beda. Jalan-jalan santai seperti biasa. Bangun bareng anak-anak, leyeh-leyeh trus Mikko ajak Kai jalan sebentar cari toko roti buat beli sarapan. Ternyata yah, di Spanyol ini orang-orang demen banget makan manisan di pagi hari. Churros, donat, dan roti-roti manis termasuk makanan yang umum untuk sarapan. Gue senang sementara Mikko terjijik-jijik ngeliat gue sarapan muffin coklat.

Abis sarapan waktunya main-main air di bathtub alias mandi bareng Kai dan Sami. Sepertinya di Spanyol ini umum sekali punya bathtub karena semua hotel yang kami tempati pasti ada bathtubnya biarpun kadang ukurannya sekecil ember mandi Kai. Bener-bener penghiburan banget nih buat gue yang hobi berendem tapi cuma punya shower di rumah.

Abis mandi……leyeh-leyeh lagi…..

ee buseeetttt…ini niat jalan-jalan gak sih?

Akhirnya baru mulai bergerak setelah Kai habis sabarnya dan teriak-teriak “Mau pergiiiiiiiii……mau pergiiiiiiiiiiii…mau pergiiiiiiiiiii”. Barulah isi dan aiti terbirit-birit menyiapkan diri buat berwisata.

Selama di Sevilla kami jalan kaki terus setiap hari. Dari hotel Don Pedro yang letaknya  memang stratehis sekali hampir semua tujuan wisata di Sevilla sini bisa ditempuh dengan jalan kaki. Ya, sedikit gempor sih pasti tapi lumayanlah itung-itung membakar lemak.

Awalnya jalan yang dekat-dekat dulu seperti ke Las Setas atau Plaza Del Duque yang jaraknya cuma 15 menitan. Trus lanjut ke Katedral dan sambung lagi ke AlCazar. Pegel sih, tapi karena banyak ngaso sana sini dan banyak liat ini itu jadinya gak berasa.

on the streets of Sevilla, lebih mirip gang senggol sih

jalan..jalan...jalan...tiba-tiba di ujung sana terlihatlah menara katedralnya

Beberapa tempat wisata antriannya lumayan panjang. Seperti waktu mau masuk ke Katedral Sevilla, yang merupakan katedral terbesar di dunia. Built by lunatic, kalo kata Lonely Planet, saking gedenya sejuta umat.

eh, gak keliatan ya panjang antriannya? panjang amat lah pokonya

Hampir aja kami putar haluan waktu melihat antriannya, takut kedua bocah keburu ngamuk. Tapi untunglah anak-anak lagi manis banget waktu itu, mau sabar di ajak antri.

anak manis cium-cium äiti

Taukah anda di katedral inilah Christopher Colombus dimakamkan? Konon banyak yang meragukan kalau memang Colombus lah yang berbaring di makam itu sampai akhirnya dilakukan tes DNA untuk membuktikan keabsahannya.

makam Christopher Colombus

Selain itu,… yah, seperti biasalah…lukis-lukisan, ruang harta dan perhiasan, ukir-ukiran dsb dsb yadaa yadaaa yadaaa seperti umumnya di katedral lain di benua Eropa. Gue sih gak gitu impressed sama katedral ini. Gede doang tapi hambar (sop kali hambar?)

segede gaban memang katedral ini

Yang paling unik dari kateral ini justru menaranya yang sebenarnya adalah sebuah minaret. Dulu, di jaman peradaban Islam masih berjaya di Spanyol, sebuah mesjid berdiri di lokasi yang tepat sama. Mesjid tersebut kemudian diruntuhkan ketika agama Nasrani masuk dan menguasai Spanyol. Kecuali minaretnya yang tetap dipertahankan hanya saja berubah fungsi menjadi menara gereja. Makanya kalo diperhatikan baik-baik katedral dan menaranya punya detil yang berbeda karena memang dibangun oleh dua pihak berbeda, di zaman yang berbeda.

Setelah bosen liat-liat interior katedralnya kami memutuskan untuk naik ke menara. Kalau di katedral lain biasanya harus menapaki ratusan tangga sampe dengkul mau copot, menara di Katedral Sevilla justru menggunakan ramp. Yang berarti apa ibu-ibu? Iyaaaakk….stroller friendly! Sampe juga loh si hejo Phil and Teds naik ke puncak menara. Pastinya berkat cucuran keringat Mikko yang solo karir mendorong stroller naik dan turun menara. Makacih ya suamiiiii.

Waktu perjalanan turun menara gak keitung anak-anak kecil yang turun sambil lari-lari. Semenit kemudian muncul emak bapaknya yang sibuk mengejar dengan muka panik. Iiih, kesenangan anak kecil banget ini lari-larian di jalan menurun. Untung Kai waktu itu lagi ngantuk jadinya mau duduk manis di stroller. Dalam keadaan segar bugar bisa dipastikan gue bakal ikut panik ngejar-ngejar anak juga. Tips banget loh ini buat yang mau bawa balita naik turun menara Sevilla. Siapkan iming-iming manjur supaya anak mau diajak duduk di stroller. Repot bener soalnya ngejer anak lari-larian di menara sempit tapi rame orang begitu.

taman katedral

Sami enjoying the sun

parkiran kereta kuda di samping katedral sevilla

Abis dari katedral kami makan siang dulu sebentar. Sebenernya mau coba salah satu restoran yang direkomendasikan lonely planet tapi karena anak-anak lagi tidur jadinya kita melipir ke restoran yang agak sepi. Ternyatah…bocah-bocah tetep terbangun.

Di restoran ini gue mencoba yang namanya gazpachos karena dari namanya kok kesannya pedes-pedes gimana gitu ya? Ternyata yang muncul sup tomat dingin. Lhaaaaa…jauh asap dari api. Lumayan enak sih tapi gue tetap lebih suka sup panas.

Mikko pesen tortilla de patatas alias omelette kentang ala Spanyol. Kayanya ini salah satu kesukaan Mikko selama di Spanyol kemarin soalnya sering banget doi makan ini. Gue sendiri sih gak terlalu suka. Telor sama kentang = hambar sama hambar gitu loh. Kurang jos rasanya. Aaah, gimana ini ya. Udah tiga hari kok gue masih belum impressed sama makanan Spanyol.

Setelah makan masih ada sisa tenaga untuk lanjut jalan ke AlCazar, istana yang didirikan oleh bangsa Moor dari Afrika. Banyak yang bilang Al Cazar ini adalah skala kecil dari Al Hambra yang ada di Granada bikin gue jadi makin tertarik untuk melihatnya.

Sebenarnya gue minta supaya Granada dimasukkan juga ke itinerary saking kepinginnya ngeliat Al Hambra, tapi menurut Mikko tanpa Granada pun travel plan kami udah sibuk sekali, gak sanggup rasanya kalo harus nambah satu kota lagi. Akhirnya gue setuju dengan pendapat Mikko dan memutuskan untuk puas dengan Al Cazar saja. Lain waktu ya Al Hambra….

Gak salah memang kalo Al Cazar ini disebut sebagai the little Al Hambra. Istana ini bener-bener indah dan menakjubkan. Detil ukirannya luar biasa, keramiknya berwarna-warni, tamannya indah, ditambah suasananya yang syahdu dan romantis bikin gue pengen berpose ala-ala prewed.

 

“Aduuuuuuh suamiiiiiiii……….kalo tau kan dulu kita kawinannya di sini aja ya. Cantik bangeeeeeet”

Dan sang suami pun terus berjalan pura-pura tak mendengar.

Gondoknya pas di sini kamera gue abis batre sodara-sodara. Langsung gue pelototin Mikko yang malam sebelumnya mencabut kabel batre kamera buat nge-charge teleponnya (dan lupa dipasang lagi). Mau lanjut foto-foto pake telepon….eeeeeh, sama aja…..batrenya wes entek juga. Jadilah gue cuma punya sedikit foto dari kunjungan Al Cazar ini.

Keindahan Al Cazar ini sempat terganggu karena harus diselingi ganti popoknya Kai. Anaknya terlihat lari-lari sambil pegang celana akibat popok yang udah terlalu penuh. Karena gak nemu toilet kami pun bergerilya ganti popok di salah satu sudut istana. Gak  banget ini yaaaaa….tempat seindah ini kok dipake buat urusa ganti popok. Maapkeun.

Setelah ngos-ngosan keliling komplek AlCazar kaki gue protes minta pulang. Tapi pas udah deket hotel hati ini malah tergoda untuk berbelok ke shopping streetnya Sevilla hingga akhirnya gue memisahkan diri dari Mikko yang membawa anak-anak pulang ke hotel. Azaaaaiib…begitu masuk Mango pegel di kaki langsung hilang seketika. Ini lebih manjur dari counterpain! Beneran!

Di Spanyol ada Pull&Bear, Bershka, Stradivarius, C&A dan beberapa merk lain yang ga ada di Finlandia. Trus banyak juga toko-toko sepatu murah meriah yang sungguh menggoda iman. Setelah mengukur jalan dari satu ujung ke ujung lainnya, mencoba seratus baju dan dua ratus sepatu, gue pun balik ke hotel sambil membawa….kaos kaki.

Yeeeeeeee…penonton kecewa.

Biasa deh…banyak yang pengen dibeli tapi fulus terbatas jadi semua-semuanya dipikirin seribu kali. Gak papalah, toh masih bisa balik ke situ lagi besoknya.

Sampai di hotel baru kerasa deh kaki gue cenat cenut tapi sayangnya masih belum bisa istirahat karena kami harus segera jalan lagi karena ada janji makan malam bareng Mirkka.

Nah, susahnya di Spanyol ini yaaa…orang-orang mulai makan malem banget dan resto-restonya cuma buka di jam-jam tertentu. Jam 1-4 untuk makan siang, tutup dulu untuk siesta, trus buka lagi jam 8-11 untuk makan malam. Agak gambling sebenernya keluar malem-malem begitu karena anak-anak pasti udah mulai ngantuk.

Bener aja deh, pas sampe di restoran Las Coloniales, yang katanya hebring bener seantero Sevilla, Kai udah mulai hiperaktif dan Sami rewel karena mengantuk. Dapet kabar kalo restorannya baru bisa nerima order jam 8.30, bisa dipastikan anak-anak mulai overacting selagi menunggu. Rusuh….rusuuuuuh. Gue yakin Mirka jadi ragu mau punya anak setelah melihat kerusuhan kami itu.

Akhirnya gue menyerah, gue mau balik aja ke hotel. Gak tega liat Kai dan Sami capek begitu. Gue biarkan Mikko lanjut makan malam sama Mirka sementara gue menidurkan anak-anak di kamar hotel. Pas banget ketika kedua bocah tertidur Mikko datang sambil membawa seafood pasta. Bukan dari Las Coloniales karena ternyata mereka gak melayani take away, tapi dari pizzeria pinggir jalan yang pastinya gak begitu hebring.  Pastanya sih biasa aja, standar banget rasanya di lidah gue, tapi yang penting gak bikin sakit perut.

Gagal maning gagal maning mau makan enak.

Hola Espana – 2

25 Apr

Hari Rabu tanggal 18 April kami bangun pagi jam 8 waktu Malaga. Duuh, tulang rasanya krutuk-krutuk mau patah. Masih capek  banget sisa penerbangan semalam. Harusnya sih kami naik kereta jam 9.45 menuju Sevilla hari itu tapi akhirnya diundur aja jadi kereta jam 10.40 biar bisa santai-santai dikit. Untungnya tiket belum dibeli ya, emang udah niat banget sih mau jalan-jalan yang fleksibel dan gak terikat sama jadwal yang ketat.

Setelah mandi, sarapan dan beres-beres kami pun naik taksi menuju stasiun kereta. Mepet banget sampe sana jam 10.30 dan pas diliat…wak waaaaaaaw…loket karcisnya penuh ya jooo. Akhirnya ketinggalan kereta deh. Gantinya dapet tiket untuk kereta jam 2 siang yang berarti ada waktu sekitar 3 jam di Malaga.

Jalan-jalanlah kami ke pusat kota Malaga, kota kelahirannya Antonio Banderas ini. Rupanya di sana  lagi ada festival film makanya di pusat kotanya digelar karpet merah. Kirain untuk menyambut gue dan keluarga.

Di kanan kiri karpet merah bertaburan toko-toko zara, mango, benetton dan lain-lain. Biasa deh, rasanya pengen banget gue cek satu-satu, kaya di Finlandia kagak ada aje. (“Tapi suamiiiiii….aku butuh sunglasses. Dan baju…dan jaket…dan sepatu…dan… dan… dan.. dan….). Karena di tahan-tahan sama Mikko akhirnya kami malah nangkring di sebuah plaza kecil dimana ada katedral besar dan banyak kafe di sekelilingnya.

Minum-minum sebentar mau menikmati matahari, aiiyaaaaaa…kegiatan bule banget ini mah. Belum juga lima menit Sri Paduka Ratu (menunjuk diri sendiri) udah lebay berkeluh kesah. Panas dijeeeeeee, ini matahari sinarnya langsung tepat ke muka ane. Dengan alasan kasian Sami kepanasan kamipun setuju untuk menyudahi acara minum-minum cantik itu (emaknya Sami langsung seneng)

Kemudian Mikko tertarik untuk masuk meliat-liat katedral-nya. Gue males gotong stroller naik-naik tangga jadi gue pun membiarkan Mikko masuk katedral sendirian sementara gue memilih untuk masuk museum fashion di sekitar situ alias mango, camper dan benetton.

Abis itu kami makan siang di sebuah kafe dimana gue makan paella yang ayamnya berasa-rasa kurang matang, tapi toh gue sikat juga sampai habis. Dan selesai makan jalan balik ke stasiun untuk naik kereta ke Sevilla.

Stasiun Malaga ini bener-bener bagus sekali. Bersih, lapang, modern

Keretanya baguuuuuusss. 2 jam perjalanan Malaga-Sevilla sungguh terasa menyenangkan naik kereta ini. Sami tidur, Kai seperti biasa mencak-mencak mau lari, mau loncat, teriak-teriak. Ampun daaaaaah…anak ini tingkat kesabarannya terbatas amat yak? Tapi gak masalah juga sih, keretanya kosong dan lega jadi Kai bisa bebas jalan kesana kemari.

Kai duduk tenang di kereta (untuk lima menit pertama)

Sampai Sevilla dijemput temannya Mikko yang lagi student exchange di sana. Jadi berasa punya travel guide, gak pusing lagi cari-cari alamat, rute bis dllnya. Semua dikasih tau sama Mirka.

Hotel kami namanya Don Pedro, letaknya di Calle Gerona, dekat sekali dengan Plaza Del Duque, pusat kotanya Sevilla. Hotelnya model kuno tapi sangat terawat dan cantik. Tapi minusnya….tempat tidurnya kecil amat dijeeeeeee. Ukuran 140cm plus dikasih satu box buat bayi yang ditidurin Sami paling beberapa jam doang sisanya gabung rame-rame tidur berempat di tempat tidur yang kecil itu.

Jadilah selama 4 malam di Sevilla badan gue remuk-remuk kurang tidur.

Sevilla sendiri kota yang cantik sekali dan punya banyak atraksi wisata yang patut dilihat. Untunglah kami punya 4 hari di sana, biar bisa santai jalan-jalannya.

Tapi di hari pertama ini, kami cuma mau jalan sebentar aja ke pusat kota. Udah sore soalnya, anak-anak udah mulai capek. Makan sebentar disebuah tempat yang bernama 100 Montaditos di pusat kota. Pesen beberapa sandwich kecil (montaditos) berbagai rasa untuk rame-rame. Tapi di sini Sami mulai ngantuk dan lapar sementara Kai euphoria liat tangga dan maunya lari-lari naik turun tangga seratus kali. Eyalaaaaaaah……refot bener nanganin dua anak ini sambil makan. Jadi buru-buru aja ngabisin makanannya dan segera pulang ke hotel.

Berhenti sebentar di Las Setas (The Mushroom), yang fyi adalah bangunan dari kayu terbesar di dunia, dan naik menuju pelatarannya. Sepertinya dijadikan tempat nongkri-nongkri asik gitu bagi penduduk Sevilla. Banyak muda-mudi, banyak juga orang tua dan anak-anaknya karena ada semacam mini playground di sana. Tapi gue liat sih kebanyakan anak-anak lebih demen lari-larian di pelatarannya yang terbuka luas itu (tunjuk Kai)

Gak lama-lama di Las Setas lanjut lagi jalan menuju hotel. Sesampainya di Don Pedro gue mulai ritual nidurin anak-anak sambil pelan-pelan perut gue kok sakit ya?

Oh My Dijeeeeeeyyyyy….ane kena food poisoning. Kenapa sekarang ini tiada liburan tanpa food poisoning? Kenapaaaa? *nangis*

Ini pasti gara-gara paella ayam setengah mateng itu pasti! Pasti deh!!!!!!

Setelah kejadian ini gue jadi males makan paella.

Sampai sekarang.

*foto-foto menyusul*

Hola Espana!

25 Apr

Udah mendekati akhir dari acara dolanan kami ke Spanyol tapi guenya malah mogok bikin jurnal. Padahal niat awalnya mau bikin travel journal day per day seperti waktu liburan ke Kreta dulu tapi ternyata liburan kali ini gue tepar terus setiap malam.Jangankan ngeblog, sekedar ngecek emailpun kadang ga ada tenaga.

Beda emang yah liburan dengan dua anak. Lebih capek dan lebih rempong.

Bawaannya dijeeee…gak muat satu koper doang. Harus deh ke bandara sambil geret dua koper dan menggembol dua anak di double strollernya. Kasih tau aja yaaaa…travelling bawa stroller segede gaban gitu ternyata super repot. Makan banyak space di bagasi taksi dan suka susah lipet-lipetnya. Jadi kepengen punya double strollernya maclaren deh tapi kan ya sayang amat keluar uang untuk sesuatu yang dipakenya paling sekali atau dua kali setahun. Kalo lagi gak travel sih gue seneng banget sama si hijau belalang tempur Phil and Teds.

Baru juga di bandara Sami udah nangis-nangis. Kasian sekali memang anak sayangku itu, udah tiga malam menderita karena giginya tumbuh. Nangisnya sungguh bikin pilu hati ibunda. Di pesawat pun masih lanjut nangis sampai akhirnya gue cekokin bubuk Teetha yang khusus gue beli dari UK. Ampuh banget ternyata, anaknya jadi lebih anteng. Rekomen banget loh ini buat bayi-bayi yang tumbuh giginya pake sakit.

Sementara Kai anteng di pesawat, riang gembira bersorak “Kai menee lentokonella” (Kai naik pesawat). Ada kali diulang-ulang seribu kali. Tapi sayangnya cuma untuk 10 menit pertama aja antengnya, abis itu kembali ke asal….bosenan, pengen bergerak, lari-lari dan loncat-loncat. Sibuk deh anaknya teriak “Mau pergiiii…mau pergiiiiii…mau keluaaaar”. Lha mau keluar kemana kalo lagi terbang di langit gitu Kai? Astagadragon, kalo begini ceritanya gimana nanti gue terbang sendiri bawa dua anak dari Jakarta ke Helsinki??????

Ngeliat beberapa anak yang anteng sambil ngadepin iPad, asliiii….gue dan Mikko jadi sirik berat pengen punya iPad juga. Kali aja kalo dipantengin pake video dan games Kai bisa anteng juga ya? Apakah gue harus membatalkan beli mesin cuci dan dryer demi iPad? Dilematis banget ya iniiiii.

Sampai di Malaga udah jam 9 malam waktu setempat yang berarti jam 10 malam waktu Finlandia. Udah lewat jam tidurnya anak-anak. Niat mulia mau langsung meluncur makan KFC dibatalkan begitu ngeliat anak-anak yang kecapean. Kamipun langsung mengambil taksi menuju hotel.

Naaahh…pas udah masuk-masukin barang ke taksi dengan juaranya Mikko berkata:

“How come I dont have the booking printout of the hotel ya?”

”Ya udah, kali supir taksinya tau alamatnya”

“Ya itu dia sayang…aku gak ingat nama hotelnya apa”

JRENG JREEEEEENGGGGGG

Akhirnya dengan gaya koboi Mikko bilang ke supirnya, yang harap di catat, speaks very little english.

“Bang, kita udah booking hotel nih deket bandara sini. Tapi lupa nama hotelnya apa, coba deh situ sebutin nama-nama hotel disekitar sini”

Butuh pengulangan tiga kali sampai supirnya mengerti

“Holiday Inn?”

“No…not Holiday Inn”

” Novotel?”

“No…not Novotel”

“Ibis?”

“No…not that one either”

Duile…ni supir nyebutnya kok hotel-hotel besar doang sih? Bukan maenan kita itu mah, Bang!

” Wesyeee wesyee wesyee?” kata si supir lagi menyebut nama hotel lain yang gue udah gak inget lagi sekarang

“Yeaa, maybe that’s the one. OK, can you please take us there?” kata Mikko.

Berjalanlah taksinya menuju sebuah hotel yang jaraknya kira-kira 15 menitan dari bandara. Begitu sampai di terasnya hari gue langsung berbunga-bunga. Aduuuuh, hotelnya baguuuus.Besar dan terlihat megah.

Dan bener aja pas di cek ke resepsionis itu bukan hotel kami.

Kecele deh.

Tapi untungnya di lobi hotel itu ada peta, dan setelah cek ricek di petanya Mikko pun ingat nama hotel kami yang sebenarnya

“El Campanille” seru Mikko ke supir taksi.

Masuk lagi deh ke taksi menuju hotel Campanille yang ternyata jaraknya cuma lima menitan dari bandara. Hotel kecil yang gak ada apa-apanya dibandingkan hotel sebelumnya. Nah, yang kaya gini baru bener hotel kami. Jarang-jarang banget soalnya kami nginep di hotel besar dan megah.

Walaupun hotelnya kecil tapi terlihat baru, bersih dan nyaman. Puaslah. Abis check in kami makan dulu di restonya karena perut sungguhlah kerucukan. Gue pesen menu yang judulnya steak with potato blablabla. Cuma 9 euro bok. Murce beneeerrrr.

Pas makanannya dateng ternyata cuma selembar daging sama kentang goreng tok. Lhaaa….kenapa tadi namanya fantastis bener sih? Tapi jangan khawatir sodara-sodara….ternyata steaknya sungguh endang estaurina. Dagingnya empuk dan super juicy. Ya ampuuunn, padahaal harganya cuma 9 euro looooh. Mirip-mirip sama harga si sapi suci yang lokasinya dipinggir jalan itu. Rasanya pun jauuuuuuuh lebih enak. Aahhhh…cinta sekali sayah sama hotel Campanille ini.

Abis makan udah gak sanggup ngapa-ngapain lagi. Langsung ngibrit ke kamar dan cepet-cepet tidur karena besoknya kami harus naik kereta ke Sevilla jam 9 pagi.

bukan hari paling berbahagia

15 Apr

Entah apa asal-usulnya, tau-tau aja beberapa hari yang lalu Mikko bilang ke gue

“Sayang, you know how it is when people say that when their kids were born, it was the happiest day of their life. Well,…it’s not for me”

“Oh ya? Kenapa?”

“Iyaaa…when Kai was born they needed to rush him to the emergency room and put the oxygen mask on him. We were worried about his blood sugar level even for days after that”

“And when Sami was born you have all those problems with the bleeding and shaking. I was worried sick about you. Aku stress banget sayang”

“Oh yaaaa? Kasian suami….Well,…I guess they were not my happiest days also, more like…hmm..hari yang paling capek, deh. All I can think about was sleep”

Mungkin memang beda-beda ya pengalaman tiap orang, hari kelahiran Kai dan Sami bukan hari penuh pelangi warna warni buat kami. Perasaan stress, capek dan khawatir malah lebih dominan di hari itu.

But I guess it’s ok. Satu hari itu bukan penentu untuk hari-hari berikutnya. Karena setelah hari tersebut terlewati, perasaan bahagia memiliki Sami dan Kai selalu hadir di setiap hari, setiap jam, menit dan detik dalam hidup kami.

Gak boong, tetep ada juga stress, khawatir, sebel, marah, gemes, dan capeknya….tapi secape apapun gue, sebagaimanapun kesabaran gue diuji, gue selalu bersyukur dan bersyukur dan bersyukur di setiap helaan nafas kedua anak tercinta.

di rumah burung hijau

14 Apr

Jadi ceritanya nih udah pindahan rumah dong. Udah sukses hengkang dari rumah kontrakan dan sekarang tinggal di rumah, eh,..apartemen milik sendiri. Alhamdulillaaaah.

Ternyata proses pencarian rumahnya gak berlangsung terlalu lama. Baru tiga weekend viewing sana-sini akhirnya kami memutuskan untuk mengajukan penawaran di viewing ke-6. Apartemennya keciiiiil tapi cantik dan terawat plus lokasinya yang di tengah kota dan deket supermarket. Begitu si agen bilang kalo udah ada dua penawaran untuk apartemen tersebut gue dan Mikko langsung panik. Langsung gue teriak “Beliiiiiiii…beliiiiiiii…kasih penawaran hari ini juga”

Gak pake mikir langsung aja kami ngajuin harga sesuai yang diminta penjualnya. Gak pake nawar. Maklum booo, namanya juga newbie yang lagi panik, gak kepikiran harus bikin strategi dulu. Sejam kemudian dikasih kabar kalo penawaran kami diterima dan malam itu juga tanda tangan kontrak.

Nah, abis kontrak ditandatangani baru deh mulai bertanya-tanya. Ehhh…kok kita gak nawar ya? Kemahalan gak  ya? Beneran nih mau tinggal di sini? Kok kecil banget ya ini rumahnya? Harusnya uang segini bisa dapet yang lebih besar deh, blablabla blublublu.

Sukses lah gue gak bisa tidur tujuh hari tujuh malam. Tiap hari ngecekin oikotie.fi sambil deg-degan takut ada iklan rumah lainnya yang lebih oke dan lebih murah.

Deal beli rumahnya terjadi akhir Januari tapi pindahannya sendiri baru bisa tanggal 1 April. Setiap hari pula gue ngecek segala macem situs jual beli rumah. Untungnyaaaaaaa, dalam kurun waktu itu  iklan-iklan yang muncul gak ada yang menarik hati jadinya pelan-pelan gue mulai merasa kalau kami telah mengambil keputusan yang tepat. Walopun ya tetep, oikotienya di cek terus sampai sekarang. Old habit dies hard ceritanya. Entah kenapa ngeliat-liat iklan rumah ini kok bikin nagih sekali?

Mendekati akhir Maret gue dan Mikko minta ijin sama si penjual buat ngukur ini itu biar tau apakah perabotan kami bisa masuk ke apartemen mungil ini. Entahlah si pemilik rumahnya lagi sibuk packing ataukah memang mereka punya banyak sekali barang pokonya waktu gue berkunjung keadaannya berbalik 180 derajat dibanding waktu gue viewing.

Ampun dijeeeeeeeeeee….rumahnya keliatan berantakaaaaaaaan bukan kepalang. Mana apartemen mungil cantik yang waktu itu gue liat? Ini sih yang keliatan kecilnya doang, begitu di isi barang langsung seperti mau meledak.

Setelah pamitan pulang gue langsung nangis penuh penyesalan. Huwaaaaaaaa……salah beli rumaaaaaaaah. Apartemennya kecil bangeeeeeeeet. Barang-barang kita gak bakal muat. Perkakas dapurku nanti taro dimana? Itu dapurnya kecil amit-amit pasti nanti bakal berantakan terus.

Mikko masih optimis, katanya si pemilik lagi packing makanya barangnya bejubel semua. Kalo barangnya disusun rapih pasti rumahnya cantik kok, lagipula kan barang kita gak sebanyak mereka. Gak usah khawatir, kita gak salah beli rumah, kata Mikko.

Yah, pastinya hiburan Mikko gak mempan di kuping gue. Kembali gue gak tidur seminggu dan tiap hari bawaannya pundungan terus. Kegiatan packing pun dilakukan dengan tidak rela sambil mendesah-desah. Sedih sekali rasanya meninggalkan apartemen kontrakan kami yang bagus, modern, lengang, dapurnya besar dan banyak lemarinya itu.

Namanyapun gak jago beres-beres ya, kegiatan packing pindahan kemarin itu sungguh bikin gue stress sampai otak hampir melintir. Banyak banget printilan yang masiiiiiiih aja belum dipak. Mana kardusnya abis pula sementara mobil pindahan sudah menunggu. Sementara Mikko dan beberapa teman menggotong barang ke rumah baru gue masih aja sibuk last minute packing plus bersih-bersihin kontrakan.

Jam 5 sore akhirnya apartemen kontrakan kosong dan bersih. Mikko harus ngantor sementara gue dan anak-anak jalan ke apartemen baru. Dan…wak waawwwww. Suamiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii…….kenapa ini kardus dimana-mana? Semua ruangan di tempat baru berantakan ampun-ampunan. Aduuuuh suamikuuuuuu, kenapa gak ditaro satu tempat aja sih kardus-kardusnya? Kalo semua tempat acak adul begini dimana gue mau gelar kasur?

Diiringi tangisan Kai dan Sami yang hari itu capek sekali karena gak tidur siang, gue pun ngangkat-ngangkat kardus supaya berkumpul di satu tempat. Abis itu masih sibuk mindahin perabotan yang tercecer dimana-mana. Kasurnya di kamar A, tapi tempat tidurnya di kamar B. Kursinya di kamar  C, mejanya di ruang tamu. Ampun dijeeeeeeeeee.

Setelah berhasil mengatur tempat tidurnya Kai gue pun gelar kasur juga di kamar Kai dan sukses tertidur rame-rame di satu kamar. Capek sekali hari itu.

Paginya bangun karena kedinginan. Aduuuh, kenapa dingin sekali di sini? Semua heater udah dinyalain kenapa masih dingin? Iiiiiiih, heaternya gak canggih nih. Di apartemen lama gue gak pernah kedinginan walaupun suhu di luar minus 20 derajat.

Truuussss…kenapa lemarinya kecil-kecil banget sih? Gak cukup buat naro baju-baju gue. Dapurnya pun tentunya super mini. Huuuuuhuuuu…foodprocessor, toaster dan perasan jeruk gue harus masuk kardus karena gak bisa siap sedia di kitchen counter.

Dan ini kenapa jendelanya minggir-minggir begini ya? Kenapa juga ga ditaro di tengah? Aneh tauk kalo gak simetris.

Ruang tamunyaaaaa….. Dulu waktu viewing keliatan luas tapi sekarang sofa dan kursi yang udah gue beli jadi keliatan kebesaran di ruang tamu yang ternyata mungil ini.

Huhuhuhuhuhu…..semuanya salah di rumah ini. Salah semuaaaaaaaaaaa. Aku benciiiiiiiiiiiiiii.

Begitulah perasaan gue dua minggu pertama di tempat ini.

Tapi pelan-pelan (sekaliiiiiiiii) tempat tidur singgasana gue dan Mikko (ebuseeed) mulai terpasang dan kami gak harus bersesak-sesakan lagi tidur di kamar Kai.

Setelah kasur gue dikeluarin kamar Kai terlihat lebih luas dan lebih rapih. Karpetnya di pasang, kotak mainannya di susun, kamar Kai jadi keliatan lebih ceria.

Kardus-kardus di ruang tamu mulai berkurang jumlahnya setelah proses unpacking yang oh em ji gak ada habisnya. Sofa yang tadinya keliatan kebesaran…sampe sekarang pun masih aja keliatan salah ukuran tapi waktu ada teman yang berkunjung si teman spontan berseru “Iiiiih, sofanya cantiiiiiiik”. Namanya juga manusia labil gampang dipengaruhi, gue jadi kembali respek sama si sofa. Ah…sofaaaa…memang kamu besar dan montok tapi memang kamu cantik *cium-cium sofa*

Meja makan lama yang penuh baret dan berasa lengket-lengket karena jarang dibersihkan akhirnya dibuang dan diganti satu set meja dan kursi makan baru dariiii…manalagi kalo bukan Ikea. Proses masang mejanya berlangsung dengan penuh keringat dan pusing tujuh keliling, mau bikin meja aja kok rumitnya kaya mau bikin roket ya? Oh, Ikea…sungguh aku benci tapi cinta, cinta tapi benci.

Masih ada pe-er membangun kembali rak buku Ikea yang pas pindahan kemarin harus dipretelin dulu supaya bisa masuk lift. Kalo rak bukunya udah jadi (entah kapanpun itu) kardus-kardus berisi buku dan segala macam dokumen di ruang tamu bisa dibereskan supaya ruang tamu bisa terlihat semakin lapang.

Dan juga masih harus berburu karpet dan rak TV buat ruang tamunya. Lanjut dengan gorden yang niat mulianya sih mau coba-coba jait sendiri karena gue baru aja beli mesin jahit (padahal gak bisa jahit), termasuk juga mau DIY ngecat kursi di ruang tamu supaya warnanya senada sama si sofa dan lanjut lagi dengan mencari pernak pernik buat menghias dinding.

Terakhir, mau beli mesin cuci dan dryer supaya kamar mandi yang kecil mungil itu gak tambah sempit karena harus dijembrengin jemuran. Tapi harus nabung dulu nih buat yang satu ini. Mahal bener soalnya.

Begitulah rencana jangka pendek dan jangka panjang rumah ini. Tetep ada banyak hal yang rasanya salah dan mengganggu di hati gue tapi juga muncul ide-ide untuk mengatasinya. Berantakan sih masih tapi cukup terhibur kalo membayangkan penampakan ruang tamu nanti setelah ada gorden, karpet, lemari TV dan lampu hias. Oke kayanya.

Dan paling seneng kalo lagi masak ternyata gak punya tomat, gula atau beras. Tinggal jalan kaki 3 menit ke supermarket terdekat. Aku bahagiaaaaaaa. Sesuatu banget loh rasanya tinggal di pusat kota dan dekat dengan segala fasilitas.

Dalam hati sih masih ada keinginan untuk suatu hari pindah ke tempat yang lebih besar dan lebih bagus. Malah kalo bisa di rivitalo (row houses, aka rumah petakan macam petakannya Haji Samin gitu kalo di Jakarta mah) yang ada halamannya sedikit biar kalo summer bisa main-main di halaman, tanam-tanam sayuran, atau BBQ-an bareng handai taulan. Aaaaahhh, impian.

Tapi untuk saat ini, semoga betah di rumah mungil si burung hijau.

Image

wall painting di pintu masuk apartemen kami. Asal usul nama "Rumah Burung Hijau"

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 31 other followers