ayahku wartawan

20 May

“Isi mau kemana?” tanya Kai

“Mau kerja”

“Oh…isi mau telepon om, terus om cerita, terus isi nulis…tik tik tik tik tik” kata Kai sambil pura-pura mengetik

“Iyaaaaa…..” balas isinya sambali tertawa “Istri denger gak? Kai can already explain what my job is”

this!

17 May

Nemu link ke tulisan ini di facebook page seorang teman. Pengalaman yang dialami penulisnya mirip-mirip sama yang gue alami di tulisan ini. Minus ribut-ribut di kantor polisinya. Tapi baca ini bikin gue sadar akan hal-hal yang gue gak ngerti dulu kala itu. Kenapa gue yang posisinya sebagai korban laki-laki brengsek tukang tempel di kendaraan umum ibu kota malah diem aja dan gak berani bela diri? Kenapa temen-temen gue yang liat kejadian itu kok juga ikutan diem aja, malah setelahnya bisa becanda soal itu? Karena ya memang lingkup sosialnya meminta perempuan untuk diem dan nrimo. Diminta untuk menganggap hal-hal kaya ditempelin mas-mas di bis itu wajar aja. Gak usah teriak, gak usah bela diri karena nanti malah bikin orang lain gak nyaman.

A Letter to My Harasser

By: Noorjahan Akbar - Afghanistan Correspondent for Safe World for Women

Hello sir,

I do not know your name, but you passed by me a week after Eid-ul-Fetr in the Bazaar in Kabul. You might remember me. I was the young woman wearing a white scarf and a long red embroidered tunic with dark pants. I was standing by a vegetable stand and bargaining the price of fresh mint when you passed me and nonchalantly pinched my bottom. I turned red. The old man who was selling vegetables noticed but didn’t say anything. He probably sees this every day. This had happened to me more than once, but this time I felt more embarrassed because the old man noticed.

I ran after you and grasped your wrist. Scared and sweating I started yelling. “Why did you do that? How dare you? Do you do this at home to your family members too?” and you started yelling back louder, “you crazy woman! I haven’t done anything. You are not worth doing anything to.”

 I was still ashamed to tell people what you had done. You probably remember how everyone was watching us. Other women advised me to keep calm that this would only ruin my reputation, but I wasn’t going to give up now. I started yelling. Soon the police arrived and took us both to the station.

A tall man in uniform asked me what had happened. I told him. You opened your mouth and the police officer yelled, “You, shut up!” Next thing I knew he was beating you. You were on the floor and he was kicking you with his gigantic shoes. Sweat was dripping off his thick eyebrows. He must have been as angry as I was.

I didn’t see you again, but the friend who was walking with you followed me all the way home. He told me, “what is the big deal?! It is not like he f***ked you.” But I was too tired for a second fight that day.

You and your friend probably both claim to be Muslims. You probably even pray at the mosque every Friday or more often. You probably tell your wives that they should not get out of the house because the world out there is filled with horrible men who will disgrace them. You probably even believe that you had a right to touching my bottom because you think a “good” woman would never be out on the streets without a man. Your sisters are “good.” They stay at home when you pressure them to. If I were a “good woman” I would do the same. These streets belong to men.

I am writing this letter to tell you that I never intended for you to get beaten and humiliated, but I am not sorry for speaking out. I am writing to tell you that I know what you are up to. You want to threaten me, scare me, and keep me shut at home where I will learn to tend to many children and cook food for your kind and be submissive to a man that might someday marry me. You want me to be terrified of the world outside and not find my way and my place in it. You want me to believe that the only safe and “decent” place for me is in the kitchen and the bedroom. But I am writing you to tell you that I am not buying that ever again. Not you, not the Taliban, not this government, not my brother or mother, nor anybody else can convince me that I am less than a man, that I cannot protect myself, that I cannot be what I want to, and that the best life for me is in a “safe” kitchen where a man or a mother-in-law has control over my every move. I am not buying that. Not ever again.

I will come out of the home every day and walk bravely down the streets of my city, not because I need to, but because I can and neither your harassment or sexual assault nor an oppressive government will ever be able to take that ability from me again.

With Defiance,

A Woman You Harassed

Btw, setelah gue nulis blogpost tentang mas-mas brengsek tukang tempel itu ada beberapa temen yang cerita mereka juga pernah ngalamin hal yang mirip-mirip. Dan seperti gue, juga memutuskan untuk diem aja gak berani berontak. Ada yang sama-sama pernah jadi korban tempel di bis kota, ada juga yang kasusnya lebih parah dari sekedar tempel menempel, ada yang yang harrasernya malah orang yang dia kenal lumayan dekat.

Ada sedikit perasaan seneng pas denger cerita mereka, ternyata gue bukan satu-satunya pengecut di dunia ini. Tapi, banyakan sih sedih, ya, karena artinya masih banyak perempuan yang merasa dirinya gak punya hak untuk speak out dan bela diri sampai mau-maunya nerima aja dijadiin korban sexual harrasment begitu.

Mudah-mudahan perempuan jaman sekarang udah lebih empowered.

kawin campur: the downside: masalah hak asuh anak

16 May

Di sekolah ada satu mata pelajaran tentang hukum-hukum yang berlaku di Finlandia, salah satunya tentang hak asuh anak seandainya orang tua bercerai. Hukum Finlandia menetapkan ibu, secara otomatis, mendapatkan hak asuh anak bila usia si anak di bawah 12 tahun. Lewat dari usia tersebut anak dikasih kebebasan memilih untuk ikut ibunya atau bapaknya.  Atau kira-kira begitulah bunyi hukumnya berdasarkan terjemahan bebas gue yang bahasa Suominya jongkok ini.

Gue kira aman dong ya….di sini hak ibu untuk mengasuh anaknya dilindungi banget oleh negara. Seandainya perceraian terjadi si ibu gak harus takut kehilangan si anak.

Ternyata waktu itu gue gak mengerti hukum pengasuhan ini secara jelas. Baca-baca dan denger-denger cerita orang ternyata yang dimaksud “ibu mendapat hak asuh” itu lebih cocok diartikan sebagai: ibu mendapat hak sebagai primary caretaker of the child. Primary ya, bukan sole caretaker. Pada umumnya kasus perceraian pengadilan akan memutuskan titah joint custody dengan maksud untuk melindungi hak ayah supaya juga bisa ikut mengasuh anaknya. Sole custody, entah untuk si ibu atau si ayah, cuma diberikan untuk kasus-kasus yang sangat khusus.

Nah, yang jadi masalah nih kalo yang mau cerai itu pasangan kawin campur seperti gue dan Mikko ini. Sedikit statistik dulu, pada umumnya pernikahan beda bangsa di Finlandia ini terjadi antara lelaki Finlandia dan perempuan asing. Jadi kalo ngomongin kawin campur di sini emang umumnya yang kebayang ya wanita-wanita asing, seringnya, dari negara (yang dianggap) eksotis seperti Thailand (jumlah terbesar), Filipina, Mexico, Indonesia (kibas rambut), dan lain-lain.

Tambahan lainnya, pada umumnya orang asing mengalami kesulitan integrasi karena hambatan bahasa. Yaaaah, gue udah bilang ratusan kali ya bahasa sini susahnya amit-amit?. Kalo gak bisa ngomong Suomi tentunya berefek susah cari kerja yang berarti gak punya penghasilan sendiri.

Jadi kebayang gak kalo ada kasus perceraian di pasangan kawin campur wanita-wanita asing ini harus menghadapi masalah seperti: keluar dari rumah yang biasanya jadi hak milik suami (as the main breadwinner yang bayar cicilan KPR atau kotrakannya), kehilangan sumber nafkah dan harus jadi single parent?

Untungnya di sini masalah pengangguran dan family welfare diurus juga oleh negara. Mereka-mereka yang bercerai dengan kondisi di atas bakal dapat berbagai macam  bantuan dari badan sosial sini, seperti: dicarikan tempat tinggal baru yang kontrakannya dibayar oleh negara. Dikasih uang saku buat hidup sehari-hari termasuk juga dikasih program pelatihan untuk modal cari kerja, mulai dari kursus bahasa sini bagi mereka yang kemampuannya belum memadai sampai kursus-kursus lainnya yang menyiapkan mereka jadi tenaga profesional.

Tapi tetep yah, masalah hidup gak selalu seputar finansial dan kerjaan. Banyak dari mereka yang bercerai ingin pulang ke negara asal supaya bisa kumpul lagi sama keluarganya, supaya ada yang bantu-bantu urus anak, atau supaya bisa cari kerjaan yang lebih bagus daripada di sini. Nah, di sini masalahnya dimulai….

Biarpun pada umumnya bapak-bapak gak dikasih hak asuh utama, tapi mereka tetap berhak untuk bertemu anaknya. Kalo si ibu pindah ke negara lain sambil membawa anaknya berarti si ayah akan kehilangan haknya tersebut. Karena itu si ibu cuma bisa membawa anaknya keluar dari Finalndia dengan persetujuan si ayah. Di sinilah perseteruan terjadi karena banyak bapak-bapak yang gak ngijinin mantan istrinya pulang lagi ke negara asal sambil membawa anaknya.

Buat si istri kondisi begini tentunya kaya buah simalakama. Mau tetep tinggal di sini tapi hidup kok rasanya berat bener? Mau balik ke negara asal tapi gak boleh bawa anak. Pusing gak lo?

Baca-baca di forum banyak yang depresi karena masalah ini. Ada yang ngerasa Finlandia bagaikan penjara buat doi karena sebenernya dia pengen banget pulang kampung tapi gak bisa karena gak mau pisah dari anaknya. Ada yang membesarkan anaknya di sini sambil kerja di restoran, padahal di negaranya pernah kerja jadi akuntan. Ada yang udah berjuang lima tahun bolak-balik ke pengadilan supaya bisa cabut dari sini tapi sampai sekarang belum juga dapet restu. Sedih-sedih amat lah ceritanya bikin gue merembes mili.

Yang kaya gini nih yang kagak gue pikirin waktu nerima lamaran Mikko.

Bukannya gue kepikiran cerai sama Mikko, sih,…tapi jadi takjub sekaligus deg-degan menyadari kawin campur ternyata punya resiko mengerikan macam ini.

Sebenernya hari ini gue lagi pusing teringat cerita teman-teman di kelas gue. Ada satu yang udah bercerai, satu lagi yang dalam proses, satu lainnya lagi juga kepengen tapi masih ragu-ragu.

Yang gue sebut pertama seorang laki-laki, jadi dari awal proses perceraian dia udah tau kalo hak asuh anak pasti jatuh ke tangan istri. Sekarang ini dia pasrah aja belajar bahasa Suomi bersama remaja-remaja berisik di kelas kami dan bulan depan akan mulai kursus supir taxi yang dianjurkan oleh badan sosial dan labour office sini sebagai jalan karir yang tampaknya paling realistis untuk dia. Padahal di negaranya dia pegang titel marketing manager loh. Tapi perusahaan mana pula di sini yang mau ambil manager yagn cuma bisa bahasa Arab dan bahasa Suomi patah-patah?

Dua lainnya teman gue perempuan dan tampaknya mereka belum tau jelas tentang hukum pengasuhan anak di sini. Saat ini mereka terlihat santai karena yakin hak asuh anak pasti akan mereka dapatkan. Untungnya sih mereka memang gak niat balik ke negara asal. Kalo gak salah mereka datang dari desa kecil di negara asalnya dan merasa hidup di sini lebih enak.

Gue cuma kepikiran aja gimana kalo mereka berubah pikiran jadi pengen pulang kampung dan terus terjadi lah drama-drama rebutan anak di pengadilan? Gak tega bayanginnya.

Salah satu poster di forum yang gue baca menyarankan untuk bikin prenuptial buat siapapun yang mau menjalani  kawin campur, apalagi kalo kemudian bakal hidup di negri asing. Prenuptial gak selalu menyangkut harta, hal-hal tentang pengasuhan anak juga bisa dicantumkan di dalamnya. “Seandainya dulu gue punya prenuptial gue gak harus kesepian dan kedinginan begini di Finlandia. Sementara di kampung halaman ada banyak orang yang bisa gue jadikan sandaran” begitu kata si poster.

Gue dan Mikko juga punya prenuptial yang kami buat di Indonesia tapi cuma mengatur soal pemisahan harta supaya nantinya gue bisa beli properti di sana. Prenuptial ini tentunya tidak berlaku di luar Indonesia, dan di sini, di Finlandia, kami gak punya prenuptial karena di sini gue juga punya hak untuk punya properti, yang berarti kami gak bakal kesulitan beli rumah. Soal hak asuh anak dan tetek bengeknya sih dulu itu mana kepikiran.

Well, I have no regret, and hopefully I never will. Tapi gue sarankan masalah prenuptial dan poin-poin tentang hak asuh anak ini dijadikan bahan pemikiran buat siapapun yang berniat menjalani kawin campur, terutama sekali buat yang kemudian akan hijrah ke negri asing setelah pernikahannya.

Btw, ya,…waktu gue bikin prenuptial cukup banyak yang terkaget-kaget. Katanya, baru mau nikah kok udah mikirin cerai? Biarpun gue jelasin gue bikin prenup cuma demi bisa beli properti, tetep banyak yang masih mengerutkan jidatnya. Awas tambah nongnong tu jidat.

Lama-lama gue jadi mikir sendiri. Pada anti banget sih sama kata “prenup”? Lebih lagi sama kata “cerai”? Buat gue perceraian itu harusnya bukan sesuatu yang ditakuti tapi juga bukan untuk dicari-cari. Perceraian bisa jadi juru selamat seandainya pernikahan berjalan tidak mulus, bikin gak hepi, depresi atau malah sengsara. Di lain pihak, dengan mengingat perceraian bisa terjadi harusnya kita juga jadi lebih hati-hati dalam menjalani pernikahan. Jadi lebih mawas diri buat gak bikin salah, meningkatkan toleransi ke pasangan, ingat untuk tetap romantis. Pokonya apapun lah supaya hubungan kita dan pasangan tetap bikin semriwing dingin-dingin empuk. Bukan begitu pemirsa?

no make-up make-up

16 May

Abis ngepupur muka, oles-oles blush on dan gincu gue tanya ke Mikko

“Aku tambah cantik gak, sayang?”

“Seperti biasa ajaaaa”

“Haaah? Kok biasa aja sih? Ini aku pake make-up loh”

“I can’t see any difference”

“Hmm….well…maybe it’s supposed to be that way sih. It’s called the no make-up make-up”

“HAH? No make-up make-up? Are you saying I can start giving you the no money money now?

“…..”

As long as I can have you credit card ya suamiiiii

kawin campur: kisah-kisah pertemuan

15 May

Ada temennya Mikko yang lumayan melongo mendengar kisah pertemuan gue dan Mikko sampai akhirnya kami menikah. Walaupun gue dan Mikko udah saling kenal selama lima tahun tapi memang ketemunya cuma beberapa kali aja, sisanya cuma ngobrol lewat email, yahoo messenger dan telefon. Itu pun gak sering. Trus, tau-tau kami naik pelaminan, yang menurut temannya Mikko itu, sungguh suatu tindakan nekad berani mati.

Iya juga sih. Temen-temen dan keluarga gue juga pada kaget. Pulang liburan dari Kepulauan Kei kok gue udah bawa calon suami aja. Perasaan pas perginya masih jomblo nan madesu. Gue sendiri juga takjub, gak nyangka jeritan hati untuk punya pacar terjawab dengan cepat. Malah langsung dikasih jalan tol lancar mulus menuju pak penghulu.

Tapi, begitu sampe sini, trus ketemu temen-temen lain sesama pelaku kawin campur, kisah gue ini mah gak ada apa-apanya. Asli deh, banyak yang kisahnya lebih menakjubkan dan bikin mulut ternganga.

Seperti misalnya. Ada beberapa teman yang ketemu pasangannya di dumay, alias dunia maya. Gak nyangka loh, friendster yang dulu sempet berjaya itu telah berjasa menyatukan beberapa pasangan beda negara.

Temen gue Nining contohnya (bukan nama sebenernya, soalnya belum minta ijin sama orangnya buat membeberkan kisahnya), bertemu suaminya, Martin, lewat friendster. Si lelaki punya rencana untuk ke Indonesia setelah melihat sebuah dokumenter tentang kulinari negri kita tercinta. Dengan maksud mau cari temen diskusi tentang rencana travelnya, dibuka deh friendster buat cari kenalan orang Indonesia. Ketemu lah sama Nining. Mereka mulai dari email-emailan, chatting, trus lanjut video call.

Kalo menurut Nining, dari cara bicaranya Martin selama video call, keliatan kalo orangnya lurus dan gak neko-neko. Nining jadi yakin kalo Martin memang niat tulus mau kenalan, gak ada maksud mau sekedar iseng.

Singkat cerita Martin dateng ke Indonesia selama 2-3 minggu, jalan-jalan sambil ditemenin Nining, saling naksir-naksiran dan akhirnya pacaran. Tahun berikutnya Martin kembali dateng ke Indonesia, kali ini untuk menikahi Nining. Singkat, padat, langsung.

Buat gue kisah Nining ini cukup bikin melongo. Ketemu sekali selama tiga minggu, trus tahun depannya ketemu lagi buat nikah dan kemudian diboyong ke negri antah berantah yang dinginnya kaya kulkas dan bahasanya susah minta ampun. Berani mati banget gak sih?

Eh, gak nyangka besoknya gue denger kisah-kisah yang lebih ajaib lagi. Ada lainnya yang ketemu suaminya juga di dunia maya, ngerasa saling cocok selama chatting dan video call, langsung aja setuju untuk menikah. Gak pake pertemuan pemanasan dulu kaya Nining, pokonya si pria dateng ke Indonesia udah sambil tanjidoran. Hajar langsung bleh…ayok kita ke penghulu.

Masih ada yang lebih ajaib lagiiiiii…..ada Prita (teteup, bukan nama sebenarnya) yang cuma ketemu sekilas dengan suaminya, Pauli, di sebuah acara pengajian. Ceritanya waktu itu Pauli kebetulan banget dikirim oleh kantornya ke Indonesia. Berhubung Pauli ini bule muslim, dia tertarik untuk melihat perkumpulan muslim di Indonesia. Diajaklah dia oleh seorang teman untuk ikut semacam acara pengajian. Disana dia ketemu sama Prita, dan tau-tau besoknya Pauli ngajak nikah. Sistem ta’aruf kalo menurut bahasa pengajian. Gak pake pacaran dulu.

Kok mau, Prit? Pastinya gue bertanya.

Abisnya dia keliatan serius, sama-sama muslim, taat, sholeh. Bedalah sama bayangan kita tentang bule pada umumnya. Begitu jawab Prita.

Iya, siiiihh….cerita-cerita begini gak cuma kejadian di pasangan kawin campur. Yang kawinnya sesama bangsa juga banyak kok yang kisahnya mirip-mirip. Yang juga ketemu di internet, yag juga sistem taaruf-an, yang ketemunya cuma sekali dua kali trus tau-tau nikah. Tapi kalo gue boleh bilang, di perkawinan campur pada umumnya si wanita kemudian di boyong ke negri antah berantah, yang bahasanya sering kali beda dan belum dikuasai oleh si wanita. Belanja aja susah ngomong sama kasirnya, begimana kalo butuh ke polisi? Belon lagi masalah jauh dari keluarga, temen dan lain-lainnya. Plus tiketnya mahal banget ya jek kalo harus pulang balik ke Indonesia.

Intinya sih, pihak yang diboyong ke negeri asing harus meninggalkan semua support system yang dia punya di negaranya sendiri, yang artinya, cuma bisa mengandalkan dirinya sendiri dan si pasangan kalo ada apa-apa. Nah, gimana bisa yakin si pasangan bisa diandalkan kalo kenalannya cuma sekilas dua kilas? PADA GAK TAKUT DICULIK APA YAAAAA?

Pertanyaan gue ini kayanya susah buat dijawab dengan kata-kata. Alias cuma suara hati yang bisa menjawab. Kayanya waktu dilamar dulu temen-temen gue ini udah punya intuisi kalo si pria memang pilihan yang tepat biarpun belum kenal-kenal banget. Dan sekarang ini keliatan kok mereka hidup berbahagia dengan pasangannya masing-masing. Belon ada kejadian salah satu dari mereka hilang tiba-tiba (ebuseed serem amat).

Bukan berarti gue menyarankan untuk grubak grubuk langsung kawin dengan orang yang baru ketemu, ya. Karena pada kenyataannya banyak juga pernikahan express yang ujungnya bikin gak enak. Biarpun gak ada kejadian di kalangan temen sendiri tapi kalo baca koran suka ada berita tentang perempuan-perempuan Thailand yang nikah ekspress sama pria sini, trus pas sampe sini ternyata hidupnya malah sengsara. Ada yang setelah beberapa bulan nikah ternyata ketauan suaminya pemabuk, ada juga yang suka mukul. Ada yang dapet suami gak waras yang posesif dimana si perempuan gak boleh keluar rumah, gak boleh ketemu siapa-siapa dan dijadikan tahanan rumah. Sampe ada juga kasus-kasus ekstrim yang berujung perbudakan dengan kedok pernikahan (disuruh kerja di restoran atau malah panti pijat tanpa dibayar).

Walaupun kalo mau ditarik suatu kesimpulan hal-hal serem kaya gitu sering terjadi di kalangan perempuan dengan latar belakang pendidikan yang rendah. Gak selalu berarti yang udah pada sarjana (bukan sarjana ASI, red) pasti selamat dari kejadian malang begini juga sih. Nasib buruk bisa terjadi pada siapa saja.

Jaman kuliah dulu di pelajaran dinamika keluarga ada satu teori yang bilang “date your partner for more than 6 months BUT less than 6 years before you’re marrying him/her”. Alasannya, kurang dari 6 bulan bukan waktu yang cukup untuk benar-benar mengenal seseorang. Takutnya nanti pas kawin bakal kaget-kagetan ngeliat tingkah polah si pasangan yang ternyata di luar harapan kita. Kalo pacarannya kelamaan (lebih dari 6 tahun), malah sebaliknya, pas kawin udah gak ada gregetnya lagi, dan pernikahan yang dimulai tanpa excitement justru mengundang bencana. Waktu di antara 6 bulan dan 6 tahun itu dianggap cukup untuk mengenal pasangan dengan baik, menyamakan visi dan misi sekaligus saling me-manage expectation yang ingin kita dapatkan dari perkawinan. Ceileeeee…canggih bener sih teorinya.

Tentunya teori ini berasal dari Ameriki dimana pola pacarannya bisa jadi beda jauh dari kita-kita orang Indonesia. Masalah penarapannya ke diri masing-masing masih jadi pertanyaan. Biarpun begitu, teorinya itu make sense banget menurut gue.

Niat hati sih mau berpegang teguh sama teori di atas tapi terus gue dan Mikko kok malah melanggar peraturan paling pentingnya? Masa pacaran kami terlalu singkat dan kebanyakan sambil LDRan. Tahun-tahun pertama perkawinan asli dijeeeeyyy…babak belur gedebuk enjoy! ( Errr…sampe sekarang malah). Gue shock berat melihat kenyataan yang kadang beda dari bayangan gue. Misalnya gue mikir “enaknya kalo udah kawin kemana-mana ada yang nemenin”. Soalnya pas pacaran gue dan Mikko kan nempel terus bergandengan tangan kemanapun kami pergi. Eeeehh…pas udah kawin baru tau kalo ternyata pak suami hobinya goler-goler di sofa sambil internetan. Akyu sering dibiarkan pergi sendiri karena Mikko males ikutan atau capek atau pengen nonton tinju atauuuu…yang paling bikin gemes kalo dia udah bilang “Memang gak bisa sendiri ya?”

Itu baru contoh kecil aja. Banyak hal lainnya dimana gue masih harus terus belajar untuk me-menage expectation gue supaya hati ini gak terobrak-abrik terus. Hampir 5 tahun menikah gue masih suka kaget akan perbedaan pendapat/keinginan diantara gue dan Mikko. Sebagian tentunya terjadi karena kami berasal dari dua budaya yang berbeda. Tapi gue sering mikir seandainya dulu kami kenal lebih lama mungkin hal-hal kaya gini bisa gue antisipasi supaya berantem-berantem gak penting kami bisa dikurangi.

Begitulah,… Rumah tangga Rika dan Mikko ini memang banyak ajojingnya. Masih syukur belon ada kejadian piring melayang.

Sekarang tinggal pinter-pinter aja mengatur hati dan mengatur emosi. Yang seringnya sih, gak tiap hari juga gue bisa selalu pinter. Belakangan ini Mikko kasih ide untuk selalu mencoba menjadi orang yang baik. “Let’s try to always be nice to each other” katanya. Mau hati lagi mendung, esmosi di ubun-ubun, selalu ingat untuk menjadi orang baik, yang  bicara dengan lembah lembut dan gak cepet marah. In a way, it works for us. Hari-hari kami jadi lebih mulus.

Jadi inget nasihat pak penghulu di pernikahan kami “berlomba-lomba lah berbuat kebaikan dalam pernikahan”. MANGTABS!

Lha kok gue malah jadi curcol begini sih?

Sebelum tulisan ini berakhir, gue persembahkan satu kisah pertemuan lagi yang menurut gue paling luar binasa.

Ada satu pasangan kawin campur yang gue kenal di Muenchen. Sebut saja namanya Mbak Ria dan Alex. Bertahun-tahun yang lalu Alex berpetualang keliling Indonesia, salah satunya ke Tanjung Pinang, kota asalnya Mbak Ria. Dengan maksud tanya arah mau ke pantai Alex masuk ke sebuah Apotik tempat Mbak Ria bekerja. Kebetulan abangnya Mbak Ria juga mau menuju arah yang sama dengan mobilnya, diangkutlah Alex menuju pantai dan kemudian besoknya dijemput lagi. Kesengsem sama Mbak Ria, Alex jadi sering muncul di apotek, jemput mbak Ria untuk ngobrol dan nongkrong-nongkrong. Padahal Mbak Ria gak bisa bahasa Inggris. Apalagi Jerman. Begitu juga kebalikannya, Alex gak bisa bahasa Indonesia. Kebanyakan obrolan mereka ya cuma pandang-pandangan dan bahasa tubuh aja.

Kembali ke Jerman Alex rajin berkirim surat ke Mbak Ria dalam bahasa Inggris dimana surat tersebut akan dibaca oleh bosnya Mbak Ria sambil diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

Beberapa kali Alex menelpon yang obrolanya mandek setelah Halo dan How are you, lagi-lagi karena Mbak RIa gak bisa bahasa Inggris.

Kasian liat Alex yang rajin buang duit buat nelpon tembok akhirnya Mbak Ria belajar bahasa Inggris supaya mereka bisa sedikit ngobrol-ngobrol.

Waktu Alex bilang ingin menikahi Mbak Ria, syarat yang diajukan Mbak Ria adalah Alex harus masuk Islam dulu. “Beri aku satu tahun untuk belajar tentang Islam” kata Alex.

Dan setahun kemudian Alex datang lagi ke Tanjung Pinang untuk melamar Mbak Ria. Saat itu dia seorang muslim dan Mbak Ria udah bisa bahasa Inggris. Tahun berikutnya mereka menikah dan Mbak Ria pun diboyong ke Munchen dimana Mbak Ria kemudian belajar bahasa Jerman. Waktu gue ketemu pasangan itu mereka sudah lancar ngobrol-ngobrol dalam bahasa Jerman. Dan waktu mereka menceritakan kisah mereka ini gue hampir-hampir nangis saking terharusnya.

And that, my friend, is a love that conquers all. A love that can cross the border or languages, believes and regions. A love that speaks its own language.

O iya, kalo ada yang punya cerita unik pertemuan dengan pasangannya boleh loh di share di sini. Gue ini kan selalu suka denger kisah-kisah cinta.

Kisah pertemuan gue dan Mikko sendiri bisa diliat di sini

anak perempuan

6 May

Kalo nonton Say Yes To The Dress gue suka galau sendiri kepengen punya anak perempuan. Sederhana aja sih alasannya, gue kepengen ikutan masuk butik pengantin pas nanti si anak menikah. Mau liat baju-baju pengantin seperti yang gue liat di tivi, sekalian biar bisa ngerasain momen liat anak nyobain baju pengantin, tentunya sambil berlinangan air mata. Lebih seru lagi kalo si suami juga ikut nangis terharu, seperti beberapa bapak yang juga gue liat di tivi.

“Gak akan kejadian, sayang”  kata si suami. Pertama karena Mikko berhati batu, gak bakalan nangis cuma karena sepotong baju. Kedua karena sebenernya kita udah tutup pabrik bikin anak. “Tapi kan aku mau punya anak perempuaaaaaaaan”, gue merajuk. “You know I am specialized in making boys only”, suami berkilah. Iya juga ya…kalo nanti jadinya laki lagi gimana?

Bisa sih nanti ikutan calon mantu shopping wedding dress, tapi kan berasa beda ya kalo bukan anak sendiri? Kurang nendang gitu. Nah, ini juga jadi nambah pikiran gue,… punya cucu dari anak cowo takutnya juga gitu, kurang nendang. Kalo liat di temen-temen sendiri, urusan bantu-bantu merawat anak biasanya diserahkan ke ortu dari pihak istri. Jadinya kakek-nenek dari pihak istri lebih terlibat dalam kegiatan membesarkan cucu ketimbang yang dari pihak suami.

Kalo sekarang Kai dan Sami lebih deket ke Mummunya daripada ke bokap nyokap gue sih itu karena masalah geografis aja. Kalo gue tinggal satu kota sama nyokap udah dipastikan Kai dan Sami bakal dititipin terus ke Oma-Ompungnya. Kaya kalo gue lagi mudik lah, melalak terus ninggalin anak di rumah nyokap sampe nyokap kewalahan ngeladenin dua bocah yang hebohnya kaya petasan itu.

Kakek-nenek dari pihak suami biasanya kebagian jatah megang cucu di jadwal kunjungan berkala aja. Bisa seminggu sekali kalo rajin, kadang sebulan sekali. Sekali lagi, ini yang gue liat dari temen-temen gue ya, tentunya banyak pengecualian. Tapi gue sendiri yakin banget kejadiannya juga bakal sama buat gue seandainya ortu dan mertua tinggal di satu kota. Biar gimanapun lebih enak lari ke ortu sendiri kalo lagi butuh bantuan. Dan sampe saat ini, tugas merawat anak umumnya lebih banyak dibebankan ke pihak istri.

Belon lagi kalo ngomongin soal lebaran atau natal. Umumnya yang gue liat, pihak keluarga istri lebih diutamakan di perayaan hari-hari besar begini. Sepupu-sepupu cowo gue yang udah kawin sekarang jarang muncul di lebaran hari pertama karena biasanya mereka berlebaran rumah mertua. Di sini juga begitu, tiap acara Natal di rumah neneknya Mikko yang cowo-cowo datang cuma sekedar setor muka dan kemudian cabut lagi buat Natalan di rumah mertuanya. Sementara anak-anak cewe dateng awal bantu-bantu menyiapkan makanan dan pulang paling akhir setelah beres-beres.

Selain itu, anak cowo tends to travel while daughter likes to live close to her parents. Lagi-lagi ini pengamatan pribadi aja jadi gak bisa digeneralisasikan. Gue sendiri toh akhirnya tinggal jauuuh dari orang tua, padahal gue anak cewe, dan akhirnya malah tinggal deket mertua. Tapi kalo melihat suami sendiri bawaannya kok mau melanglang buana melulu? Sementara gue saban hari mikir “enak banget kali yah kalo bisa tinggal deket nyokap”. Jadi kepikiran gimana kalo nanti anak-anak gue pergi jauh dan menetap di negeri antah berantah? Yang pulang kampungnya setahun sekali aja belon tentu? Kapan dong gue bisa liat cucu?

Ini sekedar observasi sembarangan aja, tapi jadi buat gue berpikir kok sepertinya hidup di usia senja akan lebih “ramai” kalo punya anak cewe? Yes? Or no?

Yaaahh….pasti lah…ujung-ujungnya kita akan kembali ke peribahasa “laki perempuan sama saja”, tergantung pola asuh dan norma-norma yang kita tanamkan ke si anak dan blablablabla lainnya. Tapi gue jadi kepikiran gimana nanti nasib gue dan Mikko kalo udah jadi kakek nenek? Gue ini punya kecenderungan dependency yang sangat tinggi, selalu butuh keberadaan orang-orang yang gue anggap penting. Membayangkan suatu hari Kai dan Sami mungkin akan hidup jauh-jauh dari gue bikin hati ini retak.

Mungkin ini pengaruh umur ya? Dulu seneng banget rasanya bisa pergi jauh dari keluarga, bebas mau ngapa-ngapain, terlepas dari acara-acara yang membosankan. Tapi sekarang gue justru ngerasa butuh punya keluarga. Bukan sekedar Mikko, Kai dan Sami. Tapi juga keluarga gue di BSD, tante dan om-om gue di Indonesia, dan juga mertua dan adik-adik ipar gue di sini. Hubungan gue sama keseluruhan keluarga besar ini umumnya gak begitu dekat. Bukan yang akrab-akrab gimana gitu. Seringnya sih lamis-lamis aja. But I kinda wish we were close. Gak tau kenapa. I just like the idea of having a big big fat family. Yang kompak, seru, banyak konflik tapi juga saling peduli dan saling tolong menolong.

Hmmm…..

Pemikiran ini semua muncul akibat nonton Say Yes To The Dress. Bener-bener tontonan menarik memang. Mending gue balik lagi nonton episode berikutnya.

tepat sebulan lagi

3 May

…..kita ke Indonesiaaaaaaaaaaaa…..*histeris*

Kembali sarapan pake bubur ayam atau lontong sayur uni elok. Kembali nyemil gemblong bu juju di pasar modern. Kembali ke pelukan Rumah Makan Ujung Pandang dan Sushi Tei.

Sungguh anak durhaka, tiap pulang kampung yang dipikirin kok makanan melulu? Bukannya ayah bunda dan sanak saudara?

Pulang kampung kali ini bakal lama. Dua bulan lebih biar bisa sekalian lebaran.

Puas ya jek? Ya gak juga sih, namanya pulang kampung mana ada puasnya?

Seperti biasa pak suami cuma bisa cuti 6 minggu saja yang berarti gue harus terbang balik ke negara kulkas bareng dua bocah doangan. Padahal tahun lalu udah bersumpah-sumpah gak mau lagi terbang bawa anak tanpa suami tapi demi cintaku terhadap BSD dikerjakan juga misi bunuh diri ini. Sekarang mah terus terang aja deg-degan mulu tiap mikirin terbang balik ini, abisnya Samiun sekarang cukup lasak dan keras kepala kalo ada maunya. Jadi suka kepikiran apa lanjut aja terus di BSD sampai nanti tahun depan dijemput Mikko? HAHAHAHAHAHAHA.

Rencana jalan-jalan tahun ini adalah: Banda Neiraaaaaaaaa. Rencana yang sudah tertunda bertahun-tahun. Katanya kan sekarang tiap hari ada penerbangan dari Ambon ke Banda Neira, harusnya sih gampang ya ke sana? Tapi istri langsung ngambek begitu tau sang suami mau lanjut ke Ternate dari Banda Neira. Yang berarti istri disuruh terbang ke Jakarta sendirian sambil bawa anak. Iiiihh, gak cukup apa ya akoh terbang tanpa suami Jakarta-Helsinki? Pokonya aku mau dikawal balik sampai BSD.

Trus juga, setelah baca-baca dan liat-liat foto tentang wisata Banda Neira, gue bingung juga ya…apaan sih yang bisa diliat di sana? Kok kayanya gak ada apa-apa? Ada benteng sih, tapi kalo liat gambarnya bukan yang spektakuler begitu. Katanya sih lautnya bagus, tapi buat diving, bukan buat mantai dan berenang-renang lucu. Lha piye mau nyelem? Anaknya siapa yang jaga? Lagipula….aku tidak bisa menyelam…membaca saja aku sulit (krik…krik…)

Gantian Mikko yang jadi mikir-mikir tentang Banda Neira. Katanya kok jadi males pergi sama istri, nanti pasti istri mengeluh terus, tempatnya gak asik, gak ada yang bisa diliat, hotelnya gak bagus, gak ada hiburan, dan lain-lainnya.

Iiiih, gue kan jadi merasa tertantang kalo digituin. Biarpun manja dan sering memble tapi aku ini jarang tauk mengeluh pas lagi liburan. Bisa bebas masak dan cuci piring aja udah bikin hati senang. Suami kok kaya gak kenal istrinya aja sih? Yang penting boleh sering-sering makan dan jajan ya.(“This is not a culinary destination” pasti gitu deh kata si suami. Kembali ke permasalahan awal: ngapain dong di Banda Neira??)

Seperti biasa sang istri kembali muncul dengan ide cemerlang “Ke Bali aja yuuuk”. Suami pun langsung remas-remas kepalanya sendiri. “Bali lagiiiii?”

Oh iya,…jangan lupa yaaa…kita harus berkunjung ke Sukabum, walaupun belakangan ini hasrat suami untuk tinggal di Sukabumi udah gak menggebu-gebu lagi. Penduduk pulau Jawa terlalu lemah lembut, begitu kata Mikko, gak cocok buat dijadiin atlet tinju. Yayaya, hasrat Mikko buat jadi pelatih tinju masih tetap membara. Menurut doi karakter orang-orang Indonesia Timur lebih sesuai buat digembleng jadi atlet tinju. Lebih keras. Batu kali keras.

Trus juga, ada rencana gue dan Mikko mau bermalam di hotel sementara anak-anak dititipin sama oma-ompungnya. Mau bulan madu, coy. Ini masih tentative sih statusnya, masih gak yakin nyokap bokap gue bisa menghandle Kai dan Sami. Terutama Kai, yang agak susah beradaptasi sama orang di luar äiti, isi dan mummunya. Takutnya anak-anak meraung semalaman dan satu BSD gak bisa tidur (tapi kan yang penting isi dan äiti bisa indehoy ya?)

Ada juga rencana buat berolah raga, lho. Mau ikutan April berzumba di club house The Green. Selain zumba ada juga yoga, sauna, dan kegiatan gym lainnya. Trus, April juga ngajakin nyoba Bikram Yoga yang baru buka di Teraskota BSD. Iiih, mau banget. Gue pun juga tertarik mau nyoba tapi takut pingsan ditengah-tengah sesi. Kalo sama April kan bisa saling kasih napas buatan seandainya ada yang pingsan.

Baca-baca websitenya, katanya sih satu sesi Bikram Yoga ini membakar 750 kalori. APAAAAAAH? 750??? “Abis yoga kita bisa dua ronde makan di Bu Kris, Rik.” Begitu kata April. Hayoook! Demi ayam penyet Bu Kris, apa sih yang gak? Yoga di atas paku pun gue jabanin (eeerrrr…gak deng).

Selain itu kepikiran juga buat ngikutin Kai trial di sekolah ini dan sekolah itu. Kagak ada niat masuk sekolah sana sih, lha tinggalnya aja di negara kulkas begini. Cuma sekedar pengen tau aja ikut trial itu rasanya gimana sih? Sekaligus pengen liat langsung sekolah-sekolah ngetop yang sering gue baca di blog orang lain.

Dan satu lagi,… pengen dateng ke seminar-seminar keren yang hip dan trendy, yang sering diomongin di dunia maya. Biasanya kan di seminar-seminar gituan banyak tokoh blogger yang ikutan, lumayanlah buat memuaskan hasrat stalking.

Masih ada seabrek rencana lainnya. Mau kursus jait, kursus bikin kue, dan sodara-sodaranya, yang biasanya sih cuma sekedar rencana yang gak pernah terwujud. Soalnya banyakan malesnya ya dijeeeeey. Zzzzzzzzz…..

 Aaah,…ngomongin pulang kampung sih gak ada abisnya. Selalu bikin hati senang.

Sebulan lagi yaaaaaaaaa…….

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 136 other followers