Pengajian IMMI dan diskusi singkat bersama Dr. Mulki Al-Sharmani

Jadi ada dua acara dalam sebulanan ini yang menyentuh banget buat hati dan otak gue. Yang pertama baru aja kejadian minggu lalu di KBRI, acara pengajian bulanan IMMI (Ikatan Masyarakat Musim Indonesia di Finlandia). Dari bertahun-tahun gue dateng IMMI baru kali ini gue suka banget sama ceramahnya.

Buat gue pribadi, ceramah-ceramah di pengajian IMMI cenderung konvensional dengan topik-topik yang tradisionalist. Tapi kemaren rada beda karena materinya dibawakan oleh guest speaker Mr. Atik Ali yang merupakan ketua Finnish Islamic Congregation. Beliau ini latar belakangnya dari suku Tatar Rusia yang udah lama banget migrasi ke Finlandia dan merupakan komunitas muslim pertama di Finlandia.

Dalam ceramahnya Mr. Atik Ali menyebut-nyebut soal interfaith dialogue. Bahkan beliau juga mewakili komunitas Yahudi dalam memperjuangkan hak-hak keagamaan masyarakat beragama di Finlandia. Beliau bilang, kita gak bisa berjuang sendiri, kita akan punya power lebih kalau sesama kaum minoritas bersatu.

Wuow. Progresif sekali. I like.

IMG-20190202-WA0016.jpg

Dalam salah satu slidenya malah ada bendera pelangi berkibar-kibar. Jadi, di masa pride parade tahun lalu, komunitas pelangi sini berhasil menggerakkan pemerintah untuk mengibarkan bendera warna-warni di gedung parlemen Finlandia.

Kenapa bisa begitu? Karena mereka aktif bersuara, kata Mr. Atik Ali. Kalau kita juga ingin buat perubahan, yang kita lakukan ya itu…bersuara. Dan karena kita sadar diri kalo komunitas Islam di Finlandia itu kecil makanya kita perlu bergabung sama komunitas agama-agama lain.

Islamophobia memang ada, tapi di jaman yang makin sekuler ini, bukan Islam aja yang menerima tekanan. Banyak agama lain yang juga dirugikan.

Walaupun negara sekuler masih jadi pilihan terbaik untuk menjamin kebebasan beragama penduduknya, tapi masyarakat yang sekuler kadang suka lupa kalau agama juga merupakan bagian dari hak asasi manusia.

Mr. Atik Ali melanjutkan kalau kita harus bereaksi ketika ada kebijakan-kebijakan yang merugikan kehidupan beragama kita. Dengan cara damai tentunya, ya. Tapi kita gak perlu bereaksi terhadap cara hidup orang lain. Gak usah ribut kalo orang itu non muslim, agnostic ataupun atheis sekalian. Sama-sama saling hormat aja ferguso.

Beliau malah bilang, belum pernah dia denger ada komen jelek tentang Islam dari komunitas LGBT. Mereka ini komunitas yang paling banyak mendapat tekanan dan bullying, lebih dari komunitas-komunitas lainnya. Berkaca dari komunitas LGBT, kalo kita tau gak enaknya dibully, jangan malah terus bully orang lain. Begitu moral of the story-nya.

IMG-20190202-WA0014.jpg

Rada keberatan dengan cara duduk konvensional begini dimana posisi wanita selalu di belakang barisan laki-laki. Bisa loh duduk sejajar aja. Tapi aku pribadi akan pilih duduk rada belakang atau nempel tembok cause I like to be invisible dan aku selalu butuh nyender.

Singkat kata gue puas banget sama sesi pengajian IMMI miggu lalu. Topik-topik kaya gini yang ingin gue dengar lebih banyak. Lebih dari sekedar soal halal-haram, keekflusifan Islam, ataupun pembahasan ayat dan hadist yang cenderung monotafsir tanpa membuka kemungkinan adanya tafsir-tafsir lain yang mungkin juga benar atau malah lebih benar.

Gue ingin terlibat dalam diskusi tentang kehidupan yang nyata, kehidupan masyarakat yang majemuk dan karena itu pembahasan tentang interfaith dialogue sangat penting untuk digalakkan.

Yang diomongin Mr. Atik Ali sebenernya gak istimewa banget sih. Pasti yang baca banyak yang angguk-angguk sambil ngebatin “Iya tauuuu”. Tapi topik seperti ini dibawakan di IMMI menurut gue sungguh luar biasa. Jarang-jarang banget ada sesi pengajian yang bisa ngomongin soal Yahudi dan LGBT tanpa nada takut, menyalahkan, ataupun permusuhan. Not even the slightest remark of “Kita rangkul biar bisa diajak ke jalan yang benar”. Completely non judgemental. Tepuk tangaaaaan. I am so so HAPPY about it.

Semoga IMMI bisa lebih sering bikin diskusi seperti ini.

Nah, itu tadi soal kejadian #1.

Yang #2 sebenernya bakal lebih panjang lagi dan lebih banyak tema pembahasannya. Tapi….gue banyak juga lupanya maliiiiih.

Alkisah, dari kegiatan googling soal Islam dan feminisme, ketemulah gue sama nama Mulki Al-Sharmani dan eng ing eng….ternyata kok doi basenya di Helsinki aja dong. Rupanya doi researcher antropologi dan teologi di Universitas Helsinki.

Gak lama setelah itu kok kebetulan Mikko menemukan iklan seminar transnational muslim family dengan Dr. Mulki Al-Sharmani sebagai salah satu fasilitatornya. Ih, gue kan langsung semangat banget mau ikut seminar. Dan trus…kagak ngerti malih. Edededeeeeeh.

Maap permirsa, tapi seminarnya banyak banget membahas soal hukum. Hukum imigrasi, hukum islam, hukum pernikahan dll. Aku kan bisanya cuma baca crayon sinchan aja.

Dari sekian banyak presentasi, gue paling tertarik sama bagiannya Dr. Mulki. Dia bukan orang hukum, jadi riset dia lebih banyak tentang pemberdayaan perempuan melalui komunitas, misalnya komunitas mesjid. Perempuan-perempuan ini yang akan berpengaruh dalam merombak hukum pernikahan yang masih sering merugikan wanita.

Suatu hari waktu lagi memikirkan gue apa yang harus gue lakukan dalam hidup ini, tergerak lah gue untuk mengirimkan email ke Dr. Mulki. Maap, buk…katanya ada yak mesjid-mesjid yang memberdayakan perempuan? Mesjid mana ya? Saya mau ikutan dong.

Eh, dengan baiknya beliau malah mengundang gue untuk ketemu di kantornya. Makjang, bahagia banget gue sampe hati membuncah-buncah. Mau ketemu idola banget ini kan. Makin idola waktu tau kalo ternyata Dr. Mulki temenan deket sama Amina Wadud. Say whaaaaaat? Amina Wadud kan juga idolakyu banget. Malah ternyata Amina Wadud pernah dateng dan bikin seminar terbuka di Helsinki. Kok aku gak tauuuuu?

15495464405251058138793220530746.jpg

Kemudian Dr. Mulki tanya apa yang gue mau, apa yang gue pikirkan dan apa yang gue rasakan. Aku tuh jadi kek konsultasi rohani banget sama dia, gaes.

Gue bilang gue mau cari materi yang membahas Islam dengan lebih progresif. Gue suka baca-baca tapi akan lebih mumpuni kalo bisa ketemu komunitasnya dan bisa diskusi langsung. Eh ibu Mulki malah nyaranin gue untuk memulai komunitas sendiri. Hmm, aku tertarik tapi gak tau mau ngajak siapa. Kalau di Indonesia sih udah ada beberapa, tapi di sini gue kuper abis dan temannya sedikit. Kalau ada online communitynya aku mau dong diajak gabung.

Ada banyak sekali hal yang gue bahas bersama Dr. Mulki dalam pertemuan satu jam dua puluh menit itu. Yang masih gue inget sampe sekarang adalah:

Penggunaan label liberal dan progresif, apakah ada bedanya? I don’t identify myself as tradinionalist atapun conservative muslim. Tapi gue gak tau juga bedanya liberal sama progresif. Yang jelas kata liberal konotasinya negatif sekali di Indonesia.

Menurut Dr. Mulki, ini tergantung pada pengertian kita sendiri tentang kata liberal dan progresif. Kalau kata liberalnya diartikan sebagai pure rationalist dan dikaitkan dengan kolonialisme, maka dia akan menghindari penggunakan kata liberal. Tapi pada prakteknya, pengertian muslim liberal dan progresif suka mirip-mirip, sama-sama mengutamakan interpretasi dan re-interpretasi untuk mencapai pemahaman yang lebih baik, adil dan setara. Pemahaman ini akan diaplikasikan pula dalam mereformasi hukum-hukum yang dianggap memberatkan satu golongan atau yang sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan zaman.

Kalau ada yang mengartikan gerakan Islam progresif sebagai gerakan yang ingin mengubah agama dan kitab suci, jelas itu salah besar. Harus kita ingat kalau penafsiran ayat-ayat suci ditentukan oleh pengalaman pribadi dan konteks sosial budaya yang dialami penafsirnya SAAT ITU. Tafsir tidak datang dari Tuhan melainkan dari manusia.

Menurut Dr. Mulki, satu hal yang kurang dari ulama populer jaman ini adalah pengajaran agama yang saklek seakan-akan yang diajarkan itu adalah satu-satunya kebenaran. Menurut dia, ulama jaman dulu selalu memakai kalimat “Allah knows best” dalam menyampaikan pemahamannya. Karena apa? Karena belum tentu benar. Tafsir ayat suci bisa beda-beda untuk banyak orang. Gak ada yang bisa menilai mana yang benar kecuali Allah.

Nah, pembahasan kata feminisme juga mirip-mirip masalahnya. Banyak aktivis muslim yang menolak menggunakan kata feminis biarpun mereka mendukung nilai-nilai kesetaraan gender. Kata feminisme memang erat kaitannya dengan kaum kulit putih dan kadang kurang inklusif untuk ras lain. Banyak juga yang berpendapat kalau feminisme gak seharusnya disebut-sebut dalam Islam. Islam udah punya aturannya sendiri yang gak kalah setara.

Kembali ke laptop, eh…kembali ke Dr. Mulki, dia bertanya balik ke gue how do you see Islam and feminism? Is it something new that Islam needs to get onboard with? Or is it something that is already grounded in the teaching of our religion?

Dan yes,…kalo dipikirin baik-baik kan Islam turun membawa kebaikan untuk perempuan. Dari yang tadinya gak boleh pegang uang, jadi boleh dapet warisan. Dari yang tadinya bisa dikawinin tanpa sepengetahuannya sendiri jadi diwajibkan menghadiri pernikahan. Dari yang tadinya dianggap rendah kemudian diakui Allah sebagai sejajar karena yang membedakan manusia adalah ketakwaannya, bukan jenis kelaminnya.

Kata feminisme baru muncul belakangan, tapi perjuangannya udah muncul sejak dulu kala. Terserah kalau tidak ingin menggunakan kata feminisme tapi jangan sampai beranggapan bahwa feminisme tidak sejalan dengan Islam. Begitu pula dengan penggunaan label liberal dan progresif, label apapun yang kita gunakan gak masalah selama kita percaya tujuannya membawa kebaikan.

Kalau sudah setuju bahwa Islam adalah feminisme, apakah kemudian cukup sampai di situ?

Tentu tidak, sahabat.

Menurut Dr. Mulki, hal yang sangat penting kita perhatikan dalam menjalankan ajaran agama adalah the lived-in reality. Kenyataan hidup yang kita jalani. Di sini muncul pembahasan tentang perlunya konteks dalam penafsiran ayat dan hadist.

Kembali ke poin di atas, penafsiran suatu ayat sangat dipengaruhi dengan pengalaman pribadi sang penafsirnya. Ayat dan hadis juga muncul berdasarkan konteks keperluan saat itu. Makanya hukum yang dibuat berdasarkan ayat dan hadis harus selalu dikaji ulang sesuai dengan kebutuhan jaman.

Misalnya aja tentang hukum warisan. Apakah masih saklek jatah anak perempuan setengah dari jatah anak laki-laki? No.

Di jaman ini, ketika perempuan banyak bekerja, berkontribusi untuk keluarga dan bahkan jadi breadwinner, saklek menetapkan jatah perempuan adalah setengah dari jatah laki-laki tidak lagi dianggap adil.

Demikian pula dengan An Nisa:34. Dalam kenyataan hidup saat ini apakah cuma laki-laki yang harus jadi pencari nafkah? Kenyataan hidup di banyak tempat menunjukkan single income gak cukup untuk menghidupi kebutuhan keluarga. Di saat kesempatan perempuan untuk berkarir terbuka lebar, apakah adil membebankan tugas mencari nafkah kepada laki-laki saja? Apakah masih tepat cuma laki-laki yang bisa dijadikan kepala keluarga dan harus ditaati ketika kontribusi perempuan juga sama besarnya?

Dan ternyata udah banyak juga perombakan hukum-hukum keluarga di negara muslim. Maroko dan Pakistan sudah merombak hukum warisannya, tidak lagi menyatakan anak perempuan mendapat setengah bagian dari anak laki-laki. Ini reformasi!

Di Indonesia gerakan Islam progresif juga ternyata cukup kencang. Menurut ibu Mulki, ulama-ulama Indonesia sangat aktif dalam gerakan reformasi hukum. Paling rajin bikin konferensi, bikin terjemahan tafsir, dllnya. Konferensi Ulama Perempuan Indonesia tahun 2017 lalu masih terdengar gaungnya di kalangan ulama seluruh dunia.

Dr. Mulki juga ngabarin gue tentang organisasi muslim seperti Fahima, Alimet, dll yang beroperasi di Indonesia dan berjuang dalam membawa kesetaraan gender. Tapi gue cari beritanya soal kok gak ketemu?

Apakah Islam progresif di Indonesia kurang aktif di media, khususnya media sosial? Kurang reach out ke masyarakat dan berita-beritanya kalah terpendam oleh dakwah tradinionalis populer? Ada yang bisa kasih info soal ini?

Pertanyaan terakhir gue buat Dr. Mulki adalah tentang hadist-hadist yang rada mengusik hati nurani.

Belakangan ini gue jadi tau soal keberadaan komunitas Quraniyoon, alias komunitas Quran only. Di dalamnya adalah orang-orang yang menolak hadist dan melandaskan ibadahnya berdasarkan Quran aja. Argumen mereka: banyak hadist palsu, hadist seharusnya gak dianggap sejajar atau malah lebih tinggi dari Quran, banyak hadist yang malah bertentangan dengan Quran, kebanyakan hal-hal “bermasalah” dalilnya pake hadist, dll.

Makin banyak baca-baca Quraniyoon gue jadi makin ngerti alasan mereka. Di lain pihak, gue juga gak siap harus meninggalkan hadist sepenuhnya. Tapi gimana dong caranya kita menanggapi hadist-hadist yang dirasakan gak sreg dengan moral compass pribadi? Misalnya aja hadist yang mengatakan perempuan gak akan bisa membalas jasa suaminya bahkan ketika dia menjilat luka di kaki suaminya. Hadist lain berkata bahkan ketika sedang menunggangi unta, kalau suami meminta, perempuan harus siap turun untuk “melayani” suami. Termasuk hadist soal Asma yang harus menutup segalanya selain wajah dan telapak tangan.

Menjawab kegalaun gue Dr. Mulki berkomentar, iya, ada banyak hadist palsu, hadist yang bermasalah dalam isnadnya, hadist yang diragukan keotentikannya tapi dia pribadi memilih untuk gak semerta-merta menolak semua hadist.

Beliau menyarankan gue untuk baca bukunya Khaled Abou Fadl (buku yang sama yang juga disarankan oleh kawanku Fara. Hi Faraaaaaa *dadah-dadah*) dalam buku itu disebutkan bahwa dalam membaca hadist-hadist yang dirasakan “bermasalah” kita WAJIB untuk berhenti sejenak dan berpikir apakah benar seperti ini yang dimaksudkan agamaku? Apakah ini terdengar adil? Apakah ada penafsiran lain? Bagaimanakah konteks kemunculan hadist ini?

Adalah KEWAJIBAN MORAL kita untuk berpikir, mengkaji dan mengkaji ulang, ketika kita terbentur oleh suatu penafsiran yang dirasakan bertentangan dengan inti sejati dari Islam sendiri.

Apakah inti Islam untukmu? Keadilan? Kesetaraan? Kebaikan? Kedamaian?

Apakah penafsiran yang kau baca sesuai dengan inti Islam itu sendiri?

So yes, I am not going to take you seriously when you say gay people deserved to be pushed off the cliff based on al-hadist.

Bagaimana dengan Al-Quran? Al-Quran adalah suara Allah. Apakah patut dipertanyakan?

Bahkan Aisyah pernah bertanya kepada Sang Nabi, kata Dr. Mulki, apakah Al-Quran diciptakan hanya untuk laki-laki? Apakah kami, perempuan, diberi tempat dalam Islam?

Cara Tuhan berbicara dengan umatnya kadang penuh misteri, sangat wajar kalau kita punya pertanyaan. Bahkan Aisyah tidak takut untuk bertanya dan Nabi pun tidak pernah melarang orang, apalagi perempuan, untuk bertanya tentang Tuhan sekalipun.

Dan kembali lagi, celetuk Dr. Mulki, the way you understand the ayahs depends on the way you think about the Quran.

Apakah kita menganggap Quran sebagai buku sejarah, buku hukum, atau panduan hidup yang kekal dan akan terus valid hingga akhir jaman?

Jika kita pilih yang terakhir, maka sudah sewajarnya ada reformasi terhadap hukum-hukum yang disebut sebagai hukum Islam TAPI prinsip yang dibawa Al-Quran tetap sama sepanjang masa: ajaran yang membawa kita pada kebaikan, keadilan, kesetaraan dan perdamaian. Karena itu, ketika hukum yang ditetapkan jaman dulu tidak lagi dirasakan membawa kebaikan di jaman sekarang, kita perlu melakukan pengkajian ulang.

Sekian kiranya obrolan gue dengan Dr. Mulki. Semoga gak kebanyakan salah kata yang membawa ke salah pengertian. Semoga kita semua menjalankan agama dengan cara yang terbaik menurut kita, sesuai dengan hati nurani dan senantiasi membawa kebaikan dan kedamaian.

Akhir kata, Allah knows best, aku cuma remahan gula gemblong. But it doesn’t mean I can not say what I want to say and share it with you all. Mwah mwah.

Advertisements

15 comments

  1. Waaa.. menarik bangettt… Gw baru tau ad Quraniyoon, taunya kulonuwuunn… #krikrik Suka banget sama paragraf kesimpulan, bahwa ajaran Al-Quran yang kekal adalah kebaikan, keadilan, kesetaraan dan perdamaian. Menurut gw sudah saatnya muslim hijrah ke jalan yang ini πŸ˜‰

    1. Matur nuwuuun #krikrik

      Tapi gue ngerti kalo diskusi agama seperti ini akan lebih sulit ketimbang ceramah searah membahas soal boleh gak boleh, salah benar, halal haram karena sama Dr. Mulki pertanyaan gue suka dijawab balik dengan pertanyaan. Jarang banget ada jawaban saklek bener atau salah.

  2. Unknown · · Reply

    Hallo Rika, mau ikutan berkomentar, ngobrolin soal kesetaraan; apakah seorang perempuan bisa mengimami sholat dan makmumnya laki2? Soal hak waris, dlm Al quran disebutkan laki2 mendpt 2 bagian dan perempuan 1 bagian itu semua krn dlm Islam, laki2 memikul beban sangat berat yaitu bertanggung jawab kepada ibunya, isterinya, anak perempuannya dan saudara perempuannya jadi menurutku Allah SWT sdh membaginya secara adil. Mungkin yg perlu digaris bawahi oleh para aktivis Feminis adalah sikap/perilaku oknum laki2 yg tdk adil thd hak2 perempuan? Saya sendiri melihat Islam sudah sangat sempurna memperlakukan perempuan, Allah SWT memberikan haid/menstruasi salah satunya agar kita beroleh libur dr ibadah bahkan surga Allah taruh dibawah telapak kaki seorg perempuan dsb begitu spesialnya sosok perempuan.

    Oya just another opinion. Sudah pernah baca tafsir Hamka dan Ibnu Katsir? InsyaAllah shahih, bermazhab salah satu Imam besar yaitu Syafii (ahlul sunnah (Sunni)). Karena sepengetahuan saya, org yg menafsirkan Al Quran itu selain hafidzh (hafal Al Quran) juga hrs hafal dan menguasai 2000 hadist klo gak salah jd mmg gak sembarangan dan jg tdk bisa menafsirkan secara literally seperti Quraish Shihab. Menurutku Al Quran sdh Allah SWT ciptakan sbg buku panduan semua umat/manusia utk bisa dipakai diberbagai jaman dan budaya, logikanya krn Allah SWT sendirilah yg telah menciptakan manusia, bumi beserta seluruh isinya πŸ˜ŠπŸ™

    1. Unknown · · Reply

      Tambahan: Dlm Al Quran Surat Al Baqarah:129 disebutkan bahwa pedoman hidup manusia adalah Al Kitab (Al Quran) dan Al Hikmah (Sunnah/Ajaran Nabi/Rasul SAW).

      1. Iya, seperti yang aku tulis kan juga begitu. Al Quran dan hadist sebagai pedoman hidup yang kekal hingga akhir jaman. Sama sekali gak ada niat untuk meninggalkan AlQuran dan Hadist tapi aku setuju sama pengkajian ulang terhadap tafsir dan reformasi hukum-hukum negara yang dilandaskan oleh Al Quran dan hadist

    2. Soal imam sholat ada beberapa ulama yang beranggapan perempuan bisa jadi imam laki-laki. Amina Wadud malah pernah bikin sesi sholat jamaah dimana dia jadi Imam dan makmumnya terdiri dari laki-laki dan perempuan. Di Indonesia Kyai Hussein Muhammad juga beranggapan sama, bahwa perempuan bisa jadi Imam dari laki-laki. Tapi aku rasa soal imam ini hal yang rada teknis, masalah genderkesetaraan lebih terfokus kesetaraan dan akses menuju pendidikan, karir, kebebasan finansial, politik, dll

      Soal warisan, iya aku mengerti alasan mengapa laki2 diberikan jatah dua kali lebih banyak pada saat itu. Tapi kalau berpijak pada kenyataan hidup saat ini, saat perempuan udah banyak yang bekerja, saat banyak single mother yang menjadi penanggung hidup keluarganya, hukum waris seperti itu gak adil lagi. Mau mencari hukum apa yang paling adil sebenarnya juga rada susah karena gak akan ada yang adil utk semua kasus. Tapi aku setuju, oknum laki2 yang gak adil emang ngeselin.

      Setauku Quraish Shihab malah termasuk dalam kategori ulama kontekstualis yang malah sangat tidak menyarankan penafsiran literal dari ayat-ayat suci. Aku suka sama pendapat2 beliau

  3. Agama hakekatnya membawa kedamaian di dalam hati..banyak contoh dalam Islam yang pada intinya lebih mengedepankan dialog..terutama di masyarakat dg berbagai keragaman. Haha kl saya duduknya lbh enak konvensional..perempuan duduk di belakang jadi mau nungging atau garuk2 ga perlu malu diliatin laki2 (lebih ke logika saja sih bkn simbolik) 😁😁😁

  4. Panicihuy · · Reply

    aku suka banget pembahasan ini.. makasih ya rika udah mau membagi sesi curhat sama Dr Mulki..

    1. Terimakasih πŸ™‚

  5. Unknown · · Reply

    Hallo Rika, saya silent reader km, paling suka tulisan2 km ttg Finlandia dan sistem pendidikan disana yg barangkali (yg positifnya) bisa saya terapkan di rmh ke anak2 πŸ˜ŠπŸ™

    Oya ingin menanggapi tulisan ini:
    β€œBelakangan ini gue jadi tau soal keberadaan komunitas Quraniyoon, alias komunitas Quran only. Di dalamnya adalah orang-orang yang menolak hadist dan melandaskan ibadahnya berdasarkan Quran aja. Argumen mereka: banyak hadist palsu, hadist seharusnya gak dianggap sejajar atau malah lebih tinggi dari Quran, banyak hadist yang malah bertentangan dengan Quran, kebanyakan hal-hal β€œbermasalah” dalilnya pake hadist, dll.”

    Allah SWT telah memberikan pedoman hidup utk kita (manusia) agar selamat di dunia dan akhirat yaitu Al Kitab (Al Quran) dan Al Hikmah (sunnah/ajaran Nabi/Rasul SAW/hadist Rasul SAW). Mmg tdk bs dipungkiri jaman sekarang banyak hadist palsu tapi kita bisa mengeceknya dr Sanad (periyawat hadits) dan perawinya (orang yg meriwayatkan). Jadi menurutku keduanya Al Quran dan hadist Rasul SAW tdk bisa dipisahkan maksudnya kita tdk bisa menjalankan hanya Al Quran saja (seperti komunitas Quraniyoon diatas) tanpa didampingi hadist shahih misal dari mana kita tau sholat subuh 2 rokaat, dhuhur 4 dst ? Tentu dr hadits Rasul SAW, Al quran menjelaskan hanya waktu2nya, tapi rukun2 sholat dr takbiratul ikhrom sampe salam tentunya dr hadits. Seperti sabda Nabi SAW: “sholatlah sebagaimana aku sholat”. Rosululloh dikirim utk menjelaskan kalamulloh πŸ˜ŠπŸ™

    Perihal Dr. Mulki, ternyata beliau lulusan Theology Helsinki ya, menurutku bukan level beliau utk menjudge sanad hadist cmiiww πŸ™

    1. Dr. Mulki bukan lullusan teologi Helsinki, dia dari Mesir tapi sekarang lagi jadi riset dan dosen Islamic study di Helsinki. Keahlian dia dalam hukum-hukum Islam, khususnya hukum keluarga. Dan kalaupun beliau lulusa Uni Helsinki gak ada salahnya juga sih menurut saya.

      Beliau sama sekali gak ada niatan menjadi golongan Quraniyoon kok, bukan dia juga yang menghakimi sanad hadist. Dia cuma menyetujui tulisan Khaled Abou Fadl untuk melakukan pengkajian ulang terhadap hadist, terutama yang sifatnya ambigu. Hadist kan ada ribuan, gak semuanya dipermasalahkan. Tapi gak nutup mata juga ada beberapa yang bikin kita terheran-heran.

      Dan kamu baca ditulisanku, Dr. Mulki bilang jangan semerta-merta ditolak, tapi diam dulu, pikir baik-baik dan coba mengkaji ulang makna hadist tersebut. Menurutku gak ada yang bermasalah dengan ini. Malah ini saran yang baik sekali. Kenapa malah dibilang dia gak level menjudge sanad hadist ya?

  6. Wow…tulisan yang berat πŸ˜„
    Karena bukan muslim jadi ga bisa komen juga sih. Tapi aku setuju sama yang dibilang kitab suci itu harus menjadi pedoman seumur hidup, memang ada hal-hal yang mungkin sudah tidak relevan dengan jaman sekarang yang harus kita kaji.
    Kalo menurut yang diajarkan sama aku sih, agama itu harus mengajarkan kedamaian, jadi ketika kita beragama itu harusnya hidup kita menjadi penuh kasih dan damai. Kata-kata yang paling populer itu adalah hidup yang terberkati dan menjadi berkat untuk orang lain… 😊

  7. Waliroh Komarifah · · Reply

    Assalamualaikum kak Rika aku suka banget sama ulasannya, mohon diperbanyak yahhhh hehe. Btw selama ini aku silent reader nya blog kaka πŸ™‚

  8. Kak rika, salam kenal ayah saya itu islamnya cukup konvensional dan saya gak suka sama yg konvensional tapi juga bukan liberal, jgn slaah beliau sama sekali gak mengekang hak perempuan ibu saya aja wanita karir, dan bilang sama saya kalau nikah liat cowok agamanya bener gak? Minimal sholat 5 waktu krna sholat itu tiang agama dan menikahlah dengan pria yg membebaskan wanita untuk mengeyam pendidikan setinggi mungkin dan juga berkarir tapi ttp wanita jyga harus mau didik oleh suami dengan catatan kalau didikannya bener. Saya pribadi mendukung feminist (yg sesungguhnya), sayang sekali feminist sekarang sering disalah artikan dan dijadikan alasan oleh orang2 yg ingin hidup tanpa aturan. Sekarang banyak orang yg berpikir bahwa islam itu mengekang bahkan orang islam sekalipun banyak yg mikir kayak gitu, padahal kalau mau berkaca lihat aja rasul liat aja istri rasul apa pada lupa? Siti khadijah dia itu cerminan cewek setrong dan juga istri yg baik. Banyak orang yg lupa bahwa khadijah itu wanita karir. sebelum nikah dengan nabi dia janda, single mother, kaya raya, pebisni ulung dan khadijah juga yg memutuskan dengan siapa dia ingin menikah, menolak lamaran banyak pria dan memilih bahkan melamar sendiri pria idamannya yaitu nabi muhamad. Maaf aja tapi yg mengekang itu budaya arab harap bedakan arab dan juga muslim.

  9. Oh iyah dan satu lagi bagi kalian para lelaki yang suka ngerendahin istri nabi muhamad aja bilang dia istrimu adalah teman hidupmu bukan pembantumu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: