Berbicara soal depresi (6) – depresi bukan berarti…

Khususnya untuk depresi yang gue alami, yaitu depresi dengan level mild to moderate severe, depresi itu bukan berarti:

Perasaan sedih terus menerus

Banyak yang sangka kalau penderita depresi bakal sedih terus-terusan. Makanya banyak yang kaget pas mendengar si anu ternyata depresi karena “Padahal kayanya dia hepi-hepi aja “

Itu kan yang ditunjukkin ke dunia luar. Ada banyak sekali yang bisa kita sembunyikan dari orang lain.

Dan depresi bukan berarti gak bisa seneng, gak bisa ketawa. Emosi itu hal yang sangat kompleks begitu pula manusia yang bisa mengalami berbagai emosi sekaligus.

Depresi juga bukan sesuatu yang nyaman untuk ditunjukkan ke sembarang orang. Jadi ya gak bakal juga kayanya gue ke kantor dengan muka cemberut dan dikit-dikit nangis. Pasti bakal gue tekan sebisa mungkin semua perasaan negatif gue ketika di luar rumah.

Gak juga berarti semua emosi positif gue cuma sekedar pura-pura. Kadang-kadang sih ya. Tapi seringnya tetap jujur kok. Lagi depresi pun gue tetap bisa ketawa, seneng, semangat, tapi ya gak sering-sering amat dan enjoymentnya terhadap emosi positif tersebut juga berkurang.

Keadaan statis 

Mirip dengan poin sebelumnya, penderita depresi gak tiap saat sedih, marah, capek dan negatif-negatif lainnya. Kata episode lebih tepat dalam menggambarkan naik turunnya keadaan emosional penderita depresi. Memang pada dasarnya ada perasaan sedih yang gak mau pergi di hati gue dan buat gue hal tersebut udah jadi normalnya hari-hari gue. Tapi bakal ada episode dimana perasaan negatif tersebut teramplifikasi (apalagi saat PMS) sampai terburuknya gue gak bisa turun dari kasur. Ada juga masa-masa emosi gue membaik dan gue merasa cukup senang sampai kemudian ketemu stressor dan meltdown lagi.

Begitupula dengan manifestasi depresi yang ada dalam post sebelumnya, skalanya berubah-rubah terus mengikuti keadaan emosi. Ada kalanya gue mau banting kaca liat jerawat nongol. Ada juga hari-hari gue bisa tarik nafas panjang dan berkata “this is not the end of the world”

Sekedar perasaan sedih

Lebih kompleks dari itu. Dalam depresi ada kemarahan, perasaan putus asa, terperangkap, gagal, tidak berdaya, rendah diri, dan banyak lainnya. Jangan berharap hanya dengan menghiburnya, seseorang akan terlepas dari depresi. Masalah hidupnya kan gak lantas hilang hanya dengan sekali dua kali dihibur. Dan hanya karena seseorang terlihat bahagia belakangan ini, bukan berarti dia terbebas sepenuhnya dari depresi.

Gak bisa hidup normal

Pada kenyataannya depresi itu sering tidak terdeteksi oleh orang lain karena penderitanya terlihat sangat normal. Apalagi untuk depresi moderate seperti yang gue alami. Gue masih bisa berfungsi dengan baik sehari-hari. Bisa pergi kerja, bisa anter anak kesana kemari, bisa ketemu temen, nonton bioskop, ikut kelas nari, bisa nulis blog juga kaya sekarang.

Pilihan hidup

Jujur aja gue sekarang suka sensi sama ungkapan “kebahagian adalah pilihan” dan sejenisnya. Gak semua hal bisa kita kontrol, termasuk emosi sendiri yang kadang muncul meluap-luap sampai gue gak tau gimana harus mengatasinya. Yang jelas gue gak memilih untuk depresi. Gak ada satu orang pun di dunia ini yang memilih untuk depresi. Jadi kalau ketemu orang lain yang lagi sedih, apalagi yang lagi depresi, keep all that toxic positivity to yourself.

Malas atau cari perhatian

Ini udah jadi bahan keluhan gue dan sesama teman yang menderita depresi. Udah umum banget kayanya orang depresi disangka cari perhatian atau pemalas karena disangka pura-pura sedih biar diperhatiin, suka mengeluh capek dan berlama-lama ngglosor di tempat tidur.

Sedih banget loh dibilang begitu padahal kitanya juga sedang berperang melawan diri sendiri sampai memang beneran lelah rohani dan jasmani. Eh terus ada yang lewat sambil bilang kita males atau cari perhatian. “Apa susahnya sih keluar dari tempat tidur?”

Tabok juga nih ya

Sekedar tentang aku, kamu, dia

Depresi bukan cuma tentang seseorang. Karena manusia adalah mahluk sosial yang selalu terhubung dengan manusia lainnya, depresi pasti akan mempengaruhi orang-orang terdekatnya juga. Seperti depresi gue yang mempengaruhi hubungan gue dengan suami dan anak-anak.

Orang lain juga bisa jadi pencetus dari depresi kita, bahkan anak adan pasangan sendiri. Maka itu, depresi bukan sekedar tentang aku, kamu atau dia. Depresi itu tentang kita.

Saran gue sih, ketika berhadapan dengan orang dekat yang menderita depresi, jangan sekedar mencari cara untuk menolong keadaannya tapi juga bagaimana hubungan kamu dan dia dapat lebih membaik. Hubungan yang membaik bisa mengurangi perasaan depresi. Gunakan kata “kita” dan bukan “kamu” ketika membicarakan masalah atau dalam mencari bantuan.

Let’s talk about depression instead of why don’t you talk about your depression

Let’s seek help instead of you need to seek help

We have a problem instead of you have a problem

9 comments

  1. aku banget tu kak T.T
    g Tau mw cerita ke siapa Karena semua solusi hanya kembali k judgement ” kamu kurang deket Kali sama tuhan ” .
    aku kayak g kenal diri sendiri, tapi aku sekarang mulai terbuka Dan mengakui klo g da yang beres sama diri sendiri.

  2. halo mba rika, aku pembaca lama tapi baru berani komen heheh
    Makasih ya mba udah cerita, dan baca cerita mba rika itu perrrsis sama mba. Dari awal yang merasa not good enough buat ngomong bhs finland, dalam kasusku krn aku kuliah bahasa asing pasti selaluuu ada koreksi dari dosen, sama temen beda jurusan yang selalu minta “eh ngomong bahasa prancis dong” habis itu setelah aku ngomong malah diketawain. Alhasil menjelang 5 tahun kuliah, belum lulus dan malah hampir fobia ini kayaknya krn tiap ada orang ngomong bahasa prancis seluruh badan langsung shut down ga bisa ngapa2in padahal ga ngajakin aku ngomong juga wkkwkwkw endingnya merasa gagal dan bodoh, merasa semuanya bakal sia-sia.
    Aku udah ke psikolog 2 tahun lalu karena merasa ga ada kemajuan jadi berhenti di tengah hehehe Untung sih di Jogja di semua puskesmas ada psikolog jadi buat mahasiswa enak banget cuma 20an ribu per pertemuan.:D

    Eh, baca postingan soal Kai sama Sami itu bikin seneng sendiri lho mba, lucuuuu xD
    Semoga makin membaik ya mba!

  3. Thank you for sharing your stories…semoga semakin membaik kondisinya..saat pikiran kusut kdg saya suka melukis dan menggambar.. itu ternyata bnyk membantu rilis emosi (-) krn menaikkan serotonin…

  4. Peluk mbak rika…

  5. Rika, aku baca dari awal, part 1 sampe part 6 dan baru berani berkomentar disini.

    So much of your words ring true in my situation jaman awal2 pindah kemari, dan aku adalah tipe2 orang yang paling ngga mau diajak ke psikologi/psikiater, karna ga pernah percaya bahwa itu akan membantu (untuk bercerita (psikolog) ya) karna aku orangnya tertutup.

    Untung sekarang jauh sudah membaik dalam artian support systemnya sudah lebih berkembang daripada dulu yang susah teman, susah bahasa, merasa stagnan hidup dst. dan apalagi sekarang ketemu temen hidup yang bener2 ngerti aku.

    Feel better ya, dan semoga obatnya membantu, dan semoga ketemu obat yang bisa membantu tanpa ngasi problem kulit.

  6. so related.. peluk online mba rika

  7. Mba aku baru selesai baca dari part 1 sampe part akhir, rasanya campur aduuk 😦 Kok kayak2nya nyerempet sama yg aku rasain ya. Yang ngerasa semua salah lah, apa2 nggak sesuai standar yang dipatok diri sendiri, adaa aja hal-hal di luar kendali yang bikin jadi down berlarut-larut. Di satu sisi aku merasa ada yang salah, tapi di sisi lain juga merasa ini hal yang normal aja. Namapun idup, emosi naik turun apalagi kalo lagi PMS…

    Pernah aku sok-sok mendiagnosa diri sendiri. Kayaknya karena keseringan main socmed nih. Kayaknya kebanyakan nonton kehidupan orang lain (yg aku tau cuma ditampilin sisi bahagia nya aja) di instagram yang rumahnya rapi, anak2nya terurus dan terdidik dengan baik, suami perfect, holiday melulu jalan-jalan sekeluarga, punya geng yang seru, dst dst. Secara tidak sadar jadi mematok bahwa standar kehidupan yang ‘bener’ itu ya harus kayak gitu. Aku tinggal di australia, suami dan aku sama2 kerja. Rasanya jadi seperti ‘gagal’ gitu kalo membandingkan hidupku dengan orang2 lain yg tampak selalu bahagia ini. Udah kita nih tinggal dan kerja di luar negri, eh jatohnya gini-gini aja, ngga bisa se ‘hedon’, se gaya, se-seru orang lain yg di tanah air. Kalo ditilik-tilik, kayaknya aku lebih bahagia dulu sebelum terpengaruh sama socmed segini intense nya. Sekarang udah mendingan sih karena udah lebih pinter memilah yang mana yg layak di follow.

    Di luar banding2in diri sendiri sama orang lain, ke khawatiranku soal masa depan juga samaa banget sama mb Rika. Soal masa depan anak2, keuangan, dll nya. Over sensitif juga banget (anakku bilang i love you ke daddy nya, aku sedih karena dia ngga ngomong i love you ke aku) – hal2 yang bagi orang lain masalah receh tp buat aku big deal. Jadilah overthink: aku kurang seru kali ya jadi ibu, makanya anak2 jadi lebih sayang ke suami. Ya gitu lah semua tampak salah dan bikin hati ganjel dan gak enak bangett – tapi nggak ada yang bisa mengerti karena aku keliatan membesar2kan masalah.

    Aku sadar yg aku alami ini bukan depresi, ketika perasaan ini bisa di netralisir sama perasaan “kasian” melihat orang yg kurang beruntung, atau ketika melihat orang lain bisa happy with less than what i have. Misal, liat sesama ibu yang bisa cuek bahagia2 aja walaupun anaknya buandeeell banget. Behind the scenes aku tau mereka udah melakukan segala cara untuk handle anak2nya yg hyper, tp kehidupan mereka tetep berjalan happy2 aja. Jadi apa ya, semacam termotivasi kali yaa. Atau mungkin aku borderline depresi ya, atau semacam depresi on the lowest spectrum. Karena kalo udah depresi akut, hal-hal semacam ini nggak akan merasa lebih baik.

    Semoga pelan-pelan tapi pasti teratasi ya Mba Rika, terimakasih udah sharing. Bikin orang-orang kayak aku jadi merasa ngga sendirian 🙂

  8. felihomies · · Reply

    sy silent reader.. thx for sharing

  9. Mbak Rika… minta alamat emailnya boleh? Kayaknya pengen sharing pengalamanku juga deh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: