semacam tulisan tandingan: ketika anak mengaku gay

Hari ini gue baca artikel di Mommies Daily dengan judul yang mirip. Untuk ukuran media parenting Indonesia, topiknya ini lumayan progresif. Ai like. Dan ada disclaimernya juga kalau artikel tersebut tidak membahas tentang benar salahnya homoseksualitas, yang memang penting untuk ditulis agar pembaca fokus sama isi artikelnya, bukannya sibuk berdebat tentang salah benarnya homoseksualitas.

Menilik beberapa artikel Mommies Daily lainnya (gue gak banyak baca, kadang-kadang aja), gue pribadi memandang Mommies Daily (MD) sebagai media yang lumayan progresif dan inklusif, makanya rada kecewa waktu liat di artikel tersebut ada beberapa kata yang rasanya kurang sreg karena malah jadi bertentangan dengan imej MD yang mau inklusif tadi itu.

Salah satu contoh permasalahan di artikel itu misalnya dalam kalimat:

ada anak yang mau diajak untuk mencoba berubah tapi ada anak yang tidak ingin ‘diperbaiki’…

Biarpun pakai tanda kutip tapi kata diperbaiki mengartikan bahwa ada sesuatu yang salah dan harus diubah. Bertentangan sama disclaimer yang bilang kalau penulisnya gak mau membahas benar atau salahnya homoseksualitas. Belum lagi ketika di bagian lain ada pertanyaan:

Kapan kita perlu merasa khawatir dengan kemungkinan anak terindikasi memiliki ‘kelainan’ seksual?

Memang lagi-lagi ada tanda kutipnya, tapi kata kelainan tentu menunjukkan sesuatu yang janggal, tidak normal, negatif. Kembali bertentangan dengan disclaimer. Kata kelainan akan memberi kesan yang berbeda kalau dipakai dalam kalimat

“Apakah homoseksualitas adalah sebuah kelainan?”

Pertanyaan seperti ini lebih berkesan netral, belum ada kepastian bahwa yang bertanya membenarkan atau menyalahkan homoseksualitas. Tapi ketika pertanyaannya:

“Gimana kalo anak saya kelainan seksual?”

Jelas tendensius, yang bertanya sudah memutuskan kalau menjadi gay adalah sebuah kesalahan. Kontradiksi sama disclaimernya.

Gue cenderung memandang MD sebagai media berita cepat, gue gak berharap kwalitas tulisan mereka seperti Kompas atau Tempo. Tapi inkonsistensi pernyataan seperti ini ya gaswat juga sik.

Dan yang ganggu banget lagi adalah waktu psikolog yang diwawancara menyarankan:

Jangan menjadi orang tua yang kaku. Cari aktivitas yang lebih sesuai dengan jenis kelaminnya.

Di sini terus terang gue rada esmosi. Aktivitas yang lebih sesuai dengan jenis kelamin? Etdah malih. Kita pan lagi ngomongin orientasi seksual, bukan dikotomi gender. Belum lagi disebutkan soal suka aktivitas lawan jenis dan suka kumpul sama lawan jenis yang juga dianggap sebagai indikasi orientasi seksual di artikel tersebut.

Dikotomi itu kan hal yang ingin kita hilangkan saat ini sebagai orang tua yang modern yang melek kesetaraan gender. Boneka bukan cuma untuk anak perempuan. Anak cowok boleh aja main rumah-rumahan. Baju pink boleh dipakai untuk boy en girl. Segregasi gender mulai dari dini, misalnya pengelompokan mainan berdasarkan gender tadi itu, justru menghambat perjuangan ratusan tahun dalam mencapai kesetaraan.

Dan tentunya, kutipan-kutipan yang gue tulis di atas itu mengindikasikan kalau memang harapan utamanya adalah mengubah orientasi seksual anak. Memang ada juga sih ditulis. LHA PAN KATANYA GAK ADA BENER SALAH MALIH? KENAPA HARUS DIUBAH?

Well, sampai sejauh ini, rasanya pembaca yang budiman sudah tau di mana posisi saya. Gue gak menentang homoseksualitas. Gue mengakui kalau gue mengalami pertikaian nilai terhadap topik satu ini karena di agama (katanya) dibilang salah. Gue mencintai agama gue tapi kok merasa berat kalau harus ikut menyalah-nyalahkan? Jadi gue susah menjawab kalau ditanya apakah menjadi gay sebuah dosa. I really don’t know where I stand in here. Dosa apa bukan dosa? Biar Tuhan aja yang jadi hakimnya.

Saat ini juga udah banyak ulama progresif yang lebih bersahabat terhadap homoseksualitas. Gak dikit-dikit mencaci, mengecam dan ngomongin dosa. Ulama-ulama tersebut juga datang dengan pengertian baru terhadap dalil-dalil yang berhubungan dengan homoseksualitas. Gue masih memantau pencarian mereka.

Tapi gue percaya sama pandangan Islam sebagai agama yang individualis. Amalan kita bergantung pada diri kita sendiri. Kalau jadi gay memang berdosa, orangnya sendiri yang akan menanggung. Gak usah ribet ngurusin hidup orang lain, termasuk anak sendiri, dengan harapan mereka akan membawa kita ke surga.

Tentu saja nilai-nilai yang kita percaya baik harus kita tanamkan ke anak tapi kalau kemudian anak punya pendapat dan nilai-nilainya sendiri, marah-marah atau memaksakan nilai ke anak juga gak bantu masuk surga sih.

Terus, kalau ditanya apakah gue siap atau berharap punya anak gak? Jawabannya sih gak. Gue rasa gak ada yang benar-benar siap punya anak gay bahkan di tahun noceng begini. Di Finlandia yang udah sangat progresif pun homoseksualitas masih belum seratus persen diterima. Masih susah masuk kancah politik misalnya. Sedih kan bayangin kehidupan anak sendiri yang bakal penuh kesulitan?

Tapi kalau ditanya apakah gue terima kalau anak mengaku gay? Ya harus terima. Kalau bukan gue siapa lagi yang akan nerima mereka? Gue orang tuanya. Tugas gue untuk selalu menerima dan mencintai mereka.

Di dunia yang heteronormatif ini, ketika jadi gay banyak tantangannya, sungguh suatu prestasi sebagai orang tua kalau anak berani “coming out” ke kita. Artinya anak percaya sepenuhnya pada ortu, merasa diterima, disayangi, aman, sampai dia berani menceritakan masalah terberatnya. Perasaan itu yang gue inginkan untuk anak-anak. That they can tell me everything. Bahwa mereka yakin apa pun yang terjadi, kasih sayang gue tetap sepanjang jalan.

Hidup semua anak akan keras di depannya, jangan sampai gue jadi tambahan beban buat anak sendiri. Mau anaknya gay atau pun tidak.

Jadi kalau ditanya, apa yang gue lakukan ketika anak mengaku gay:

Gue bilang kalau gue cinta dia tanpa syarat, gue tanya apa pendapat si anak soal homosekstualitas itu sendiri, gue hargai pendapatnya, gue jelaskan tantangan hidup yang akan dia hadapi, gue tanyakan apa yang ia ingin lakukan, apa yang dia harapkan dari gue dan gue biarkan dia membuat keputusan untuk dirinya sendiri.

Apa yang gue bilang itu disebut juga di artikel MDnya kok. Membiarkan anak terbuka, menerima pengakuan anak, merangkul dan blabla lainnya. Tapi terus jadi mentah pas dibarengi sama penggunaan kata-kata kelainan, diperbaiki atau pun anjuran untuk beraktivitas dan pilih mainan yang sesuai dengan jenis kelamin. Mommies Daily jadinya di posisi mana sih ini? Menerima atau tidak menerima anak yang mengaku gay? Menerima di ucapan tapi dalam hati gak bisa terima? Menerima tapi sambil coba ubah kenyataan? Buat gue artikelnya sungguh ambigu. Mau mengedukasi tapi juga mau cari aman.

Prof. Michael LaSala dari Universitas Rutgers, Amerika Serikat, adalah seorang ahli dalam masalah krisis “coming out” anak di keluarga. Beliau menyebutkan tugas orang tua bukanlah mengubah orientasi seksual anak. Menghindarkan anak dari mainan yang dirasakan berlawanan dengan peran gender juga tidak akan mengubah apa-apa. Ketika anak bikin pengakuan tentang orientasi seksualnya, katakanlah: engkau anakku dan aku mencintaimu apa adanya. Tugas orang tua adalah mendukung dan mencintai anak apapun orientasi seksualnya.

THIS!

Ini yang perlu dibaca banyak orang untuk mengurangi kebencian di dunia ini.

PS: kalau tertarik, bisa baca tulisannya Bapak Profesor soal mengatasi krisis coming out di sini: https://ipgcounseling.com/wp-content/uploads/14coming_out_crisis.pdf

21 comments

  1. tema yang menarik, tapi sekaligus sensitif, persoalan ini perlu dibahas dengan kepala dingin tdk ngegas.. dari dulu secara ilmu memang ahli terbagi dua antara, yg menganggap homoseksualitas sebagai penyakit kejiwaan dan yang tidak (ini fakta).bila yg pertama tentu tdk ada pembahasan tp akn merombak bnyk tatanan yg ada selama ini..karena bila benar yg pertama tentu ada langkah2 penanganan dengan pendekatan kejiwaan (stigma bhw org yg punya mental illness itu buruk juga memperparah)… tp setuju, itu tdk perlu dibahas dg kebencian, tetaplah dengan hati tenang dan kepala dingin…sayang sering bnyk yg emosi duluan…sama2 menghormati sikap masing2. bila ingin mendidik anak dengan sudut pandang yang pertama silahkan, yang kedua juga silahkan tapi sebaiknya tidak memaksakan realitas masing2, lebih baik memikirkan konsekuensi logisnya ke depannya, siap nggak?

    1. *bila benar yg kedua (maaf typo)

    2. Gw gak ngegas kok 😂😂😂
      Jangan percaya sama komennya Ripi.
      Dan gue mengakui perbedaan pendapat yang ada di kalangan ahli sekalipun. Tapi di sini gue nulis opini pribadi, pendapat mana yang, paling tidak saat ini, lebih gue percaya. Walaupun, memang sih, ada beberapa kalimat/kata di artikel tersebut yang menurut gue gak seharusnya dipakai dan agak bikin emosi. Tapi semoga tulisan ini tidak terbaca sebagai pemaksaan pendapat.

      1. Trmksh responnya. Iya mba, its ok, sbg org yg pernah merasakan tinggal di barat, saya bisa memahami posisimu dan kegelisahanmu. Bila sy mjd org tua dan ada disana tentu juga akn merasa ada penyesuaian2 dlm menjadi muslim dan pergaulan dg masyarakat. Makanya sy diatas tdk membahas soal agama. Krn masy di barat lbh senang penjelasan dg menggunakan logika. Menurut sy ketakutan agama2 samawi sebetulnya bisa dipahami juga. Krn lbh sulit menjadi laki2 hetero dan jantan drpd sebaliknya, mgkn mba Rika bisa mempelajari buku2 neuroscience tentang otak laki2 dan perempuan, salah satu penyebab mengapa sy sampai berkesimpulan demikian…

        1. Walaupun bener pengalaman tinggal di negara barat tentunya berpengaruh perubahan pemikiran tapi kadang aku ngerasa sedih juga kalau pendapat2ku dihubungkan dengan negara barat/pengalaman hidup di barat. Banyak banget temenku yang gak pernah nyentuh negara barat tapi juga punya pemikiran yang sama terutama terhadap isu-isu yang berkaitan dengan HAM.

        2. Baiklah. Saya tdk ingin ini melebarkan topik ini dg kesan bhw saya menganggapmu hny spt itu mba. Mohon maaf bila ada salah kata. Sukses selalu semoga mba bisa menemukan apa yg dicari..

  2. Rifi Raihan · · Reply

    gas pollll

    1. Wah ini susah sih karna di agama gw seperti yg disebutin mbak rika gay itu tidak dibenarkan, tapi gimana ya kalau ditanya orang apa gy mendukung gay gw selalu jawab “di agama gw itu tidak dibenarkan…” belum gw selesai ngomong si lawan bicara udah nyerocos bilang gw gak open minded padahal dia belum ngedenger penjelasan gw “loe dengerin gw selesai ngomong dulu dong! Di agama gw itu tidak dibenarkan tapi bukan dengan serta merta gw membenci mereka dan mengucilkan mereka!” Duh jadi emosi! Gw punya 2 temen gay semasa kuliah sampe sekarang hubungan kita masih baik, gw lebih memilih diam dan gak membicarakan hal sensitif kayak gini. Lagian apa open minded itu harus memaksa kehendak orang? Harus bikin orang jadi setuju dengan pendapat kita? Kalau gitu mah berarti gak open minded dong. Menurut gw open minded itu kayak “gw punya keyakinan dan cara pandang sendiri, tpi gak lantas memaksa orang untuk untuk meyakini apa yg gw yakini dan menerima bahwa tiap orang punya cara pandang yg berbeda dan gw harus menerima hal itu” lebih baik saling menghormati aja dan gak usah saling mengganggu. Jadi tolong lah bagi yg mendukung gay gak usah memaksa orang yg tidak mendukung (selama mereka gak mengganggu) untuk dukung juga, dan bagi yg tidak mendukung (terutama mereka yg agamis) buat gak menyebarkan kebencian atau seenak deweknya judge orang, hanya allah berhak menjudge manusia. Hidup itu indah kalau kita mau menerima kalau manusia itu berbeda-beda.

  3. Mba Rik.. sbg ibu2 yg punya anak cowok, gue pun mengalami pergulatan yg sama. Dan postinganmu ini seakan menyuarakan apa yg di pikirinku (meski gw gak baca artikelnya si)

    Btw, anakku jg aku masukkin je kelas tradisional.. kelas tarinya jh khusus cowok pula. Daann iyak, muridnya cuma ‘baru’ anakku aja karenaa.. yaaah begitulaah.. kekhawatiran teman sejawat anak2nya jd melambai kalau dikenalman dgn dunia tari😑

  4. Mba Rika, standing applause!! I stan u!! ♥︎♥︎

  5. Hallo Rika! Ikutan nimbrung boleh ya, bagi pembaca seperti saya, tulisan km mmg agak pemaksaan pendapat sih hehe.. Banyak hal yg saya tidak setujui dgn opini km, salah satunya soal ini:
    ”Di sini terus terang gue rada esmosi. Aktivitas yang lebih sesuai dengan jenis kelamin? Etdah malih. Kita pan lagi ngomongin orientasi seksual, bukan dikotomi gender.”
    Berdasarkan pengalaman salah seorg kerabat, yg melambai, pas diwawancara ternyata mmg sedari kecil beliau selalu bermain dgn anak2 perempuan, bermain aneka aktivitas perempuan: boneka, salon2an, pakai baju pink dsb coba deh kamu ikutan kelas Fitrah Based Educations, kalo semua hal tadi itu mmg tdk sesuai dgn fitrahnya laki2, laki2 itu fitrahnya terlahir gagah, perkasa, dsb krn kelak akan menjadi qowwam (pemimpin) bagi keluarganya maupun pemimpin dlm masyarakat. Tugas yg diembannya banyak sekali (silahkan pelajari bab qowwamah). Jadi mmg sedari kecil hrs diasah/di encourage melakukan aneka aktivitas kelaki2an utk mengasah jiwa kelaki2annya bukan malah menyimpang menjadi feminin.
    Jadi sebetulnya kesetaraan yg seperti apa sih yg terus disosialisasikan oleh kaum feminis? Soal para suami hrs masak? mencuci baju? membersihkan rmh dsb? Sepengetahuan saya, semua hal itu tergolong ke dlm basic life skill yg wajib dimiliki oleh semua org (laki2 maupun perempuan) utk bertahan hidup. Mari pelajari bab qowwam dan hadist Rasul dgn baik dan benar,
    Dari Al-Aswad, ia bertanya pada ‘Aisyah, “Apa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan ketika berada di tengah keluarganya?” ‘Aisyah menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membantu pekerjaan keluarganya di rumah. Jika telah tiba waktu shalat, beliau berdiri dan segera menuju shalat.” (HR. Bukhari, no. 6039)
    Kalo km baca sejarahnya Nabi Muhammad SAW yg ada di Museun Muhammad di Madinah, beliau sedari kecil hidupnya mandiri, selalu menjahit sendiri pakaiannya yg robek sendiri, menambal sepatunya sendiri, menimba air, menggembala kambing dsb. Jadi mungkin yg di sosialisasikan oleh kaum feminis perlu dikaji ulang, jangan sampai salah kaprah.
    Hal kedua yg mau saya luruskan, di dlm ajaran Islam LGBT itu jelas dosa, kisah contoh dlm Al Quran jelas ada yaitu kisah penyuka sesama jenis pada jaman Nabi Luth beserta adzabnya (silahkan googling), kenapa kaum LGBT harus ditindak tegas krn mereka ibarat virus yg menular, sosialisasi kaum LGBT sangat gencar baik di negara maju maupun di pelosok2 daerah di Indonesia, dgn disebarnya buku ttg kelainan seksual para penyuka sesama jenis dsb, hal ini yg wajib kita cegah dan diobati agar virusnya segera mati dan tdk menyebar kmn2, sdh menjadi tugas dan tanggung jawab kita bersama karena saya pribadi tdk mau anak2 kami menjadi bagian dr kaum tsb, naudzubilahmindzalik.

    1. Boleh dong nimbrung *nawarin teh* hehehehheh

      Pada dasarnya, membaca sesuatu yang tidak sesuai sama opini kita memang bikin kita merasa terpojok dan tertekan. Sama kaya baca komen Mbak Tuti aku juga merasa ada pemaksaan pendapat. Tampaknya titik tolak kita udah beda. Saya percaya dengan ajaran Islam yang pro equality, saya percaya dengan Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang yang tidak akan membebani di luar kemampuan hamba-Nya. Karena itu saya percaya Islam adalah agama yang feminis, agama yang memperjuangkan kesetaraan.

      Benar, kaum feminis memperjuangkan kesetaraan, termasuk kesetaraan dalam mengerjakan tugas3 rumah tangga. Kegiatan masak, nyuci, dll itu basic life skills tapi pada kenyataannya di dunia lebih banyak dilimpahkan ke wanita. Jadi ya timpang, tidak setara.

      Contoh2 yang mbak bilang soal Nabi yang sudah mandiri dari kecil itu benar. Ada banyak sekali contoh2 feminisme dalam Islam. Makanya salah juga kalau dibilang feminisme berlawanan dari Islam. Karena yang dicontohkan dalam Islam justru memperjuangkan semangat feminisme. Khadijah yang piawai berdagang, Aisyah jadi pemimpin perang sering digaungkan sebagai bukti kalau Islam mewadahi wanita untuk bisa aktif di mana pun. Perjuangan kesetaraan adalah perjuangan Islam.

      LGBT tidak menular. LGBT bukan virus ataupun bakteri. Sama sekali tidak ada penelitian ilmiah tentang ini. Kalau ada yang menganggap LGBT menular, itu adalah dugaan yang tidak berasalan dan didasari rasa takut. Dalam sejarah Islam ada kok kisah2 transgender yang sholat di mesjid dan punya safnya sendiri. Ulama2 jaman dulu menempatkan mereka di antara saf laki-laki dan perempuan. Di zaman kerajaan Ottoman juga banyak sufi yang gay. Sebagai sufi, mereka berada di strata tertinggi di masyarakat menunjukkan penerimaan yang baik terhadap kaum LGBT. Dan sudah saya tulis, masalah LGBT dosa atau tidak, saya serahkan ke Allah SWT tapi kewajiban setiap muslim untuk bersikap baik terhadap sesama seperti yang dicontohkan dari dua cerita tersebut.

      Kalau tulisan seperti blog ini dianggap sebagai sosialisasi LGBT yang tujuannya penyebaran virus LGBT tadi itu, jelas salah besar. LGBT gak butuh sosialisasi, yang butuh disosialisasikan itu bagaimana kita harus bersikap terhadap mereka dengan lebih manusiawi.

      Boleh banget kok kalo Mbak dan keluarga gak mau masuk ke dalam golongan LGBT, banyak juga pasti yang mau seperti ini. Asalkan tidak bersikap prejudis dan diskriminatif terhadap kelompok LGBT karena perlakuan baik adalah untuk semua orang.

      1. kusuka ini banget Mba. Perlu kusimpan dalam hati agar bisa berlaku baik pada siapapun, apapun itu.

      2. Sembari *nyeruput teh* hehe begini lho ibu rika, kalo saran saya belajar ttg Islam sebaiknya dari Al Quran dan As Sunnah/hadist/yg dicontohkan Rasul SAW jangan melihat contoh dr kaum sufi maupun kaum2 lainnya baik bangsa arab itu sendiri karena mereka hanya manusia biasa yg banyak khilaf dan salah tapi ikutilah yang sdh dicontohkan oleh sosok manusia paling mulia di muka bumi yaitu Nabi Muhammad SAW, hal2 yg diluar itu/yg tdk dicontohkan Nabi berarti menyimpang/sesat ajarannya.

        Oiya saya punya rekomendasi tafsir Al Quran shahih yaitu yg paling dikenal karya Ibnu Katsir dan karya Hamka kalo di Indonesia, bisa dicari di toko2 buku Islam (gak bakalan ada kalo cari di gramed*a) seperti di Darul Tauhid Bdg atau di kawasan Radio Rodja Bdg.

        Yang dimaksud virus disini, bukan makna sebenarnya tapi seperti yg saya blg diatas DIIBARATKAN (maaf di capslock semua biar jelas) sbg virus krn sosialisasi pemahaman/ideologi kaum LGBT sdh sangat gencar hingga ke pelosok2 negeri dgn ditemukannya aneka buku2 (32 LGBTQ childreens books) yg mendukung keberadaan kaum tsb di sekolah2 terutama kepd anak2 di bwh umur, bayangkan anak2 yg tdk berdosa ini dicekoki pemahaman yg menyimpang akan jadi apa bangsa ini kedepan?? Saya pribadi sih jelas menolak, jika mereka (kaum LGBT) tdk bertobat dan kembali ke jalan yg benar (yg tentu saja pasti para ulama sdh melakukan pendekatan ini) maka jalan terakhir ya hrs dibasmi atau minimal diasingkan/dipenjara/dikarantina layaknya pecandu narkoba agar tdk makin menjalar/merajalela di masyarakat terutama kepd generasi penerus bangsa.

        Ternyata di dlm ajaran Kristiani (Katolik) sendiri jg ada ayat jelasnya ya soal kaum ini, pernah lihat gak sosok Jakub Baryla, bocah laki2 berusia 15 thn asal Polandia yg berdiri dibarisan paling depan utk menghalangi pawai LGBT?? Baryla mengatakan bahwa dirinya tdk menentang org2 dlm pawai tsb tetapi ”menentang perbuatan buruk yang mempromosikan homoseksual”.

        1. Seperti yang sudah saya bilang, kadang memang sulit berdiskusi kalau titik tolak awalnya sudah berbeda. Saya percaya Islam sebagai agama yang setara dan membawa kedamaian karena itu tidak akan pernah terpikir membasmi sesama mahluk hidup apapun alasannya.

          Saya tidak memandang LGBT sebagai ancaman. Jika ada film atau buku yang menampilkan tokoh LGBT, saya pandang itu sebagai representasi dari kenyataan yang ada, bahwa kita hidup bersama LGBT. Tidak seharusnya mereka diasingkan, dilupakan, dianggap tidak ada. Dengan pandangan yang Mbak Tuti punya, tampaknya Mbak mengartikannya sebagai propaganda yang mengancam. Padahal menurut saya LGBT itu bukan ideologi. Tapi memang ideologi hidup saya untuk menerima orang yang berbeda dari kita, termasuk berbeda orientasi seksualnya.

          Saya sudah pernah dibilangin belajar agama jangan dari internet, jangan belajar sendiri, harus belajar dari ustad, jangan ustad yang ini atau yang itu, harus ustad yang lulusan Arab/Mesir/etc, sekarang ditambah lagi belajar harus dari Al Quran dan Hadist, jangan dari orang. Serba salah dong ya. Tampaknya kalau berbeda pendapat, semuanya jadi salah.

          Terimakasih rekomendasi bukunya. Mungkin kalau sempat atau tertarik akan saya baca tapi sekarang ini buku yang menarik perhatian saya juga masih banyak yang mau dikejer baca. Buku2 Amina Wadud, Kalis Mardiasih, Kyai Hussein, dll. Saat ini saya udah menemukan kelompok belajar yang nyaman, yang terbuka untuk diskusi dan bukan sekedar dogmatis benar salah. Belajar Islam seperti ini bikin hati tenang dan tidak penuh ketakutan.

  6. Although I don’t read the article yet, but I feel you Rik.

    Gue pun belum tau gimana akan bersikap jika tiba2 anak gue coming out as a gay. Cuma yang gue tau adalah, gue akan berusaha sekuat mungkin untuk tetap dalam komitmen gue, yakni mencintai dan menyayangi anak gue tanpa syarat. Dan bener katalo, kalo dia berani coming out ke gue as her parent, it means she trusts me enough. And that’s a really big deal for me.

    Btw, gue pernah nonton film dokumenter tentang kehidupan para transgender dan gays/lesbians di Indonesia. Mereka, terutama para transgender, hidupnya kan termarjinalisasi. Pilihan karier untuk transgender sempit banget. Mereka cuma bisa kerja di salon, dunia fashion atau ya jadi PSK.

    Nah di situ diwawancarai juga ibu dari seorang narasumber. Si ibu ini bilang gini (kira2 ya):

    “Saya memilih menerima anak saya dengan kondisi dia apa adanya. Awalnya mungkin berat, tapi saya lihat, enggak ada yang salah dengan anak saya. Dia gak membunuh, mencuri, atau melakukan tindak kriminal lainnya. Kalau saya tidak merangkul dan menerima dia, koq rasanya malah enggak adil. Saya yang melahirkannya, menyusuinya, merawatnya sejak kecil. Jadi sudah sewajarnya jika saya terus menyayanginya.”

    Ih nontonnya gue mewek banget. Ya ampun, hati ibu itu seluas samudera banget. Salut!

  7. Gue juga belom baca artikel MD itu, tapi boleh ya urun komen soal gay. Dalam Kristen ada satu ayat, pergaulan yang jahat merusak pergaulan yang baik, dan itu mentah2 makleb jadi alasan untuk melarang kita jangan gaul sama gay, atau kalau dulu gue… dilarang bergaul sama orang yang suka merokok 😀 Oi oi… potongan satu itu kan ada ayat pendukung yg lain, ada printilannya.
    Gue percaya bahwa energi itu menular, karena pada dasarnya manusia kan mahluk spiritual, energi kita terkoneksi. Namun, juga tidak semudah itu pan… dan ini beda kaitannya sik.
    Gue sih setuju ama lo, urusan dosa… biar jadi urusannya Tuhan. Urusan gue sebagai manusia, yang menerima manusia lain. Pertama, dia adalah manusia kemudian baru dia sebagai gay, sama kayak gue… pertama gue manusia, kemudian baru gue sebagai jomblo… hahahah….

  8. Oh iya mbak rika saya jadi inget dengerin pengajian ustad yg damai banget, ustad ini lagi bahas bahwa yg namanya hati itu hanya allah yg maha membolak balikan termasuk perasaan ketertarikan dan cinta itu juga allah yg menghadirkan, mereka semua yg sudah sampai pada jenjang pernikahan iti juga krna allah mengizinkan lalu ada yg nnya tentang cinta terlarang? Cinta kpd istri/suami org lain? Cinta kpd seseorang yg berbeda agama? Cinta kpd sesama jenis? Bukannya itu tidak dibenarkan dalam agama? Tpi ustad bilang kalau semua perasaan cinta itu dihadirkan oleh allah, bahkan banyak dari cinta terlarang itu sampai pada pernikahan, kenapa allah mengizinkan? Lalu si ustad jawab “mmg benar semua cinta itu termasuk cinta terlarang itu dihadirkan oleh allah, dan beberapa sampai pernikahan itu pula krna seizin allah tapi apakah cinta itu diridhoi oleh allah? Dizinkan dan diridhoi itu hal yg berbeda dan ingat terkadang allah menghadirkan cinta itu itu justru sebagai ujian untuk manusia, apakah kamu akan menjadi manusia yg buta oleh cinta manusia lainnya? Lalu apakah allah membenci umatnya para perilaku cinta terlarang? Tentu tidak allah tidak membenci mereka tapi allah sedang menguji mereka dan ingin melihat apakah cinta mereka terhadap manusia lainnya melebihi cinta mereka kepada tuhan mereka? Dan siapapun yg berhasil melewati ujiannya pasti akan mendapat pahala yg berlipat ganda dari allah”
    Ya tapi gimana ya gak semua orang percaya tuhan itu ada kembali lagi cara pandang manusia itu gak bisa dipaksakan selama tidak mengganggu satu sama lain its okay!

  9. dimatasaya · · Reply

    Rika, I have nothing of great substance to add to this comment section, just that I applaud you for your bravery in writing this article for a mixed audience. I love how progressive you are, and bringing progress always begins with these types of discourse. Bravo.
    (Also, I feel so inclined to add a line quoting the ever-fabulous Taylor Swift.. “shade never made anybody less gay.” 😉)
    Keep on keeping on & bringing progress forward. I look forward to meeting you again.

  10. dimatasaya · · Reply

    By the way, ini Wulan. WordPress made me create a blog name lol.

  11. Nyayu_Miftahul · · Reply

    hallo mb rika, sebagai sesama muslim saya merasa wajib untuk mengingatkan mb rika, mau diterima atau tidak terserah mb rika. menurut saya sayang sekali mb rika masih mempertanyakan apa yang sudah jelas2 disampaikan Allah melalui al-quran, bahwa perbuatan gay itu adalah perbuatan salah/dosa. ini Allah lho yang ngomong langsung, bukan ustadz ini ataupun ustadz itu. sejarah tentang kaum nabi luth yang diazab itu jelas2 dimuat dalam al-quran (Surat Hud : ayat 82), bukan sekedar omongan turun-temurun yang mungkin bisa diragukan kebenarannya. menurut mb rika, kehidupan gay itu ujung2nya (maaf) ke hubungan badan sesama jenis tidak ? nah hubungan itulah yang dilarang dalam agama. kecuali jika dia memang ditakdirkan menjadi homoseksual tapi bisa menjaga dirinya dari perbuatan tersebut (non-gay). CMIIW

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: