Ke Istanbul

Wuah! Udah lama banget kayanya gak nulis cerita jalan-jalan di sini padahal kalo lagi jalan banyak banget kejadian menarik yang ingin dikenang tapi saking banyaknya, menulisnya jadi malas. Zzzzzzz….

Hari ini gue akan ke Istanbul selama 5 malam bersama mantereman. Wacana Istanbul tercipta di sebuah sore di bulan Oktober waktu gue, Fina dan Rachma lagi duduk-duduk di Espresso House sambil ngescroll IG-nya tebaktebakin. Hingga saat ini kami sebut kejadian itu sebagai konferensi meja bundar. Kebetulan meja di tempat kami duduk bentuknya memang bundar.

Di situlah ditetapkan tujuan wisata kami (Istanbul), tanggalnya (23-28 April) serta pesawatnya (harus Turkish Airlines).

Kenapa Istanbul? Karena mau anget-angetan di hammam plus Istanbul termasuk lokasi wisata dengan kategori murah. Apalagi saat itu Turkish Lira lagi meluncur drastis, apa-apa di Istanbul terasa murah kalau dibandingkan dengan harga di Finlandia. Niatnya nanti mau foya-foya di Istanbul. Mau nginep hotel mevvah dan makan-makan sampai muntah.

Kenapa tanggal 23 April? Karena Februari-Maret masih dingin. Mei udah keburu puasa. Juni-Juli pada mau mudik. Agustus kepanasan. September kelamaan, dah basi rencananya. Pokoknya April udah yang paling pas. Dan di bulan April itu cuma tanggal 23-28 dimana gue, Rachma dan Fina sama-sama kosong.

Rencana kemudian disebarkan ke geng dan peserta trip berkembang menjadi 6 orang. Tapi terus banyak sekali drama-dramanya.

Bulan Oktober itu sebenernya kami udah siap banget mau beli tiket. Apalagi harga tiketnya lagi murah. Cuma 180 euro. Tapi terus Rachma sebar gosip kalau di Matkamessut (Travel Fair) harga tiketnya bisa cuma 100 euro saja. Jadi kami tunggu aja sampai akhir Januari, saatnya Matkamessut digelar di Helsinki.

Harga tiket pelan-pelan naik hingga dua ratus euro lebih. Tapi kami semua berpegang teguh kalau nanti di Matkamessut kami bisa beli tiket murah. Apakah benar begitu? Tentu tidaaaaaaak….ternyata Rachma salah. Harga tiket di Matkamessut sama aja kaya di online. Yang artinya kami udah melewatkan kesempatan beli tiket murah selama berbulan-bulan. GRRRRRRRRRR.

Tapi di suatu hari yang cerah, harga tiket turun juga jadi 199 euro. Kami pun buru-buru mau beli. Pas dieksekusi, ternyata cuma 1 tiket aja yang tersedia, pas pula gue yang dapet. Yang lainnya pilih untuk nunggu harga tiketnya turun lagi.

Apakah harga tiketnya benar turun lagi? TENTU TIDAK SAHABAT! Tiket naik terus sampai lewat 400 euro. Jumlah peserta pun berguguran. Ada yang terpaksa mundur akibat tiket yang terlalu mahal. Gue mules-mules kepikiran apa nanti cuma gue seorang yang berangkat ke Istanbul?

Pada akhirnya rombongan Istanbul tersisa jadi 4 orang. Gue dengan tiket pesawat 200 euro. Dan tiga lainnya yang bayar tiket 360 euro. Perih hati ini bayangin harga tiket 180 euro yang kami lewatkan tahun lalu.

Terus, ketika tiket udah dibeli, kami baru sadar kalo kami SALAH BELI TIKET! Tanggalnya sih bener tapi jamnya salah. Tadinya kami mau beli penerbangan malam biar siangnya bisa ngantor dulu. Eh yang kebeli malah flight siang. Terpaksa deh nambah cuti satu hari lagi.

Abis itu datang pula pengumuman kalau bandara Ataturk ditutup dan nanti kami akan mendarat di bandara Istanbul yang baru. Bandaranya ini jauh gilak dari pusat kota. Kami harus naik bis sekitar 100 menitan untuk mencapai penginapan kami di Taksim. YA TUHAN! Bayanginnya pantat gue udah pegel.

Kami juga harus say goodbye sama niat foya-foya akibat budget yang kesedot untuk beli tiket. Bukannya nginep di hotel mewah kami malah booking hostel. Cem anak kuliahan aja. Padahal udah buk-ibuk semua ni.

Tapi gue liat tiket bioskop di sana cuma 3 euro-an saja! Rasa-rasanya pengen nonton Avangers sambil beli tiket satu baris biar bisa gegoleran dari ujung ke ujung.

Trus, mau ngapain di Istanbul?

Entahlah….rencana sih banyak. Mau liat ini, liat itu. Mau nonton lah, mau spa lah, mau meni pedi lah. Tapi ga yakin semua akan tercapai karena prinsip kami sih mau selow aja, sedapetnya aja.

Terus terang gue rada kewalahan membayangkan apa yang akan terjadi di sana nanti. Gue terbiasa bepergian sama Mikko dan terima beres apa-apa yang udah diatur oleh doi. Untuk ke Istanbul gak ada pembagian tugas yang jelas di antara peserta jadinya kami pada rungsing sendiri. Herannya setiap ketemuan kami malah sibuk makan, bukannya ngurusin hotel atau itin.

Mata gue puyeng cari-cari penginapan ataupun baca-baca soal trasportasi, museum kart, travel tips, dllnya. Apalagi Istanbul ini sebenernya destinasi yang rada riskan karena banyaknya turis scam hampir di semua aspek. Jadi memang harus banyak baca-baca trik and tipsnya. Mulai dari scam hotel, scam taxi, scam money changer, scam restoran….semua ada. Capek gilak bacain soal scam ini. Dan udah pengetahuan umum banget kalau cewek asia tuh target scam yang paling empuk jadi nanti kami harus extra hati-hati. Belum pegi aja gue udah kangen Mikko. Suamiku, pelindungku, satria baja hitamku.

Agaknya Mikko khawatir juga istri mau pergi tanpa doi. Dia tau gue ceroboh, sering kehilangan duit dan gampang nyasar. Jadi tadi malem dia kasih nasehat panjang lebar kapan gue harus narik uang, simpen dimana, tuker uang dimana. Gue jagi keseul, emangnya gue anak kecil? Emangnya lo pikir ini travel pertama gue? Et dah ngegas.

Ya emang sebelumnya abis berantem kecil sih sama Mikko jadi esmosi istri masih tinggi.

Pagi ini Mikko cek lagi dimana paspor gue, dompet, uang. Apa semuanya udah masuk tas?

Untungnya bangun tidur istri udah jinak. Jadinya seneng diperhatiin suami kaya gitu.

Istanbul itu kan kota yang penting banget buat gue dan Mikko. 15 tahun yang lalu gue ketemu Mikko di Bosphorus cruise. 10 tahun lalu kita bulan madu ke sana, napak tilas masa-masa awal ketemu dulu dan tanpa sadar Kai terkinsepsi. 9 tahun lalu kita juga wisata setitik di Istanbul sambil membawa Kai yang masih bayi. Kami pikir Kai perlu lihat kota dimana dia dibuat.

Dan hari ini gue akan ke Istanbul tanpa Mikko!

Agak sedih, deg-degan, tapi untungnya gue pergi sama orang-orang yang super kocak, bodor dan dagelan abis. Apapun yang terjadi di sana pastinya senang bisa pergi bareng orang-orang ini.

Bismillahhirrahmannirrahim. Semoga karya wisata kelompok ini berjalan dengan lancar, aman, bikin hepi dan pas pulang gak ada yang over weight baik kopernya maupun berat badannya.

UPDATE 10.47 AM

Oke. Udah setengah jalan ke bandara, cek-cek tas eh kok ada yang ketinggalan? Keringet dingin, mau nangis dan terus ganti kereta buat balik menuju Kerava. Ini kah azab istri yang gak dengerin nasihat suami?

Jalan dari stasiun ke rumah sambil geret koper. Manjat dinding, manjat tangga menuju balkon karena kunci ketinggalan di dalem rumah.

Sekarang akhirnya naik taksi ke bandara. Melayang deh 40 euro buat bayar taksi.

Eh terus dapet supir kakek-kakek yang nyetirnya pelan sekali. Cobaan hidup kok gini amat.

Advertisements

5 comments

  1. HAahhaha kuhanya bisa ketawa baca drama drama khususnya drama tiket dan drama panjat dinding. 🙂

  2. Hahaha…. ini kok ya malah ketawa di atas deg2annya elo…
    have fun, Rik! Selamat bersenang-senang.

  3. Selamat liburan Rikaaa… Enjoy Istanbul dan lupakan drama, dan jangan kepincut tukang karpet yang adalah scam 😉

  4. Mbak rika selalu punya cerita yang bikin perut sakit. Wkwkwkwkwk. (ada pelajaran nya juga tapi loh 😀)
    Btw selamat bersenang senang mbak rika…..

  5. MomJJ · · Reply

    hahahaha manjat dinding.. mba Rika kudu dijadiin buku deh ini. I love your stories.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: