membesarkan anak sensitif

Dalam membesarkan anak pasti jadi pertanyaan sejauh apa kita ingin melindungi anak dari dunia luar dan sebaliknya sejauh apa kita harus menyiapkan anak untuk menghadapi dunia luar.

Ini selalu jadi bahan galau gue terutama dalam membesarkan Kai yang saat ini sedang melalui masa-masa sulit. Anaknya lagi super sensi, selalu merasa diserang, penuh kemarahan, rendah diri dan sering sedih. Akibatnya gue dan Mikko jadi sering banget berantem sama Kai. Kesabaran kami diuji terus-terusan oleh si bocah.

Sebagai orang yang sensitif sekaligus penakut gue tau sih, pasti sulit banget rasanya bertahan di dunia luar. Segala hal terasa mengintimidasi, orang ngomong keras dikit bikin hati sakit, mau marah takut dimarahin balik, sementara muka harus tetep cool, senyum harus tetap dipasang, biar orang – orang gak tau kalau kita sebenarnya takut, sedih, marah atau kecewa. Buat anak seperti Kai, validasi dari orang lain itu penting sekali. Makanya dia cenderung jadi people pleaser yang memilih untuk merendam perasaan sendiri daripada kehilangan teman.

Itu yang suka jadi pertanyaan gue dan Mikko. Gimana harus mengajarkan Kai untuk kuat baik di rumah maupun di luar rumah? Kalau anaknya di “sayang-sayang” terus di rumah, apa nanti dia gak jadi makin takut sama dunia luar dimana banyak orang kasar, pemarah, tukang bully dllnya?

Tapi gue yakin gak pernah ada istilah “terlalu sayang” buat anak. Segimanapun sayangnya sama anak, pasti ada aja kesalahan kita yang kemudian membekas di hati anak.

Menurut gue, Kai sensitif bukan karena terlalu disayang. Suatu hari dulu mungkin kami pernah marah ke Kai, pernah kelepasan ngebentak, pernah berantem atau apa pun yang  ternyata jadi pengalaman traumatis buat Kai. Sekarang nasi sudah menjadi bubur, percuma bertanya-tanya lagi salah kami dimana. Sekarang gue cuma mau bikin buburnya jadi bubur ayam. Membantu Kai jadi manusia yang berdaya dengan segala kekurangan dan kelebihan yang dia miliki.

Berkaca pada diri sendiri – yang sampai saat ini masih juga gak bisa mengatasi rasa sensi, rendah diri dan penakutan- yang memberi kekuatan buat gue adalah orang-orang terdekat. Orang-orang dimana gue bisa jadi diri gue sendiri. Bisa menumpahkan segala emosi gue, bisa ceritain masalah-masalah gue, bisa ketawa sampai ngakak-ngakak, orang-orang dimana gue merasa diterima.

Orang-orang tersebut gak banyak jumlahnya. Bahkan ke keluarga sendiri belum tentu gue mau cerita soal masalah hidup gue.

Gue rasa karena itu makanya Kai suka marah-marah ke kami.  Ke keluarganya dia bisa jadi dirinya sendiri. Bisa marah kalo gak senang, bisa nangis kalo ketakutan, bisa protes kalau kecewa. Ibaratnya, jelek-jeleknya Kai kami semua yang dapet. Terutama sekali untuk Mikko, hal ini teramat berat untuk dihadapi. Tentunya doi kecewa kalau anak malah berperilaku tidak baik ke orang tua padahal bisa sopan ke orang lain.

Tapi gue coba memandang kalau Kai bukannya kurang ajar ke kami. Dia cuma jujur aja soal perasaannya ke isi dan äitinya. Kami tetap harus mengajarkan dia untuk sopan dan baik pada orang tua tapi di sisi lain juga harus bisa jadi wadah tempat dia meluapkan emosi.

Hari ini gue tersadar, satu-satunya cara untuk membantu Kai adalah dengan lebih menyanyanginya. Bersikap lebih lembut lagi pada Kai, bicara lebih halus, menghadapi marah-marahnya dengan lebih sabar, lebih banyak peluk-peluk, kasih perhatian, ajak ngobrol dan lebih-lebih lainnya.

Kesannya sederhana padahal sih susah. Tapi penting banget bagi orang tua buat menciptakan suasana yang aman untuk anaknya termasuk aman untuk berekspresi. Sulit buat anak sensitif untuk berhadapan dengan dunia luar, karena itu mereka butuh pulang ke rumah yang penuh kasih sayang. Kalau dia tau dia bisa pulang ke rumah dimana dia akan selalu diterima, didukung dan dihargai, maka dia akan punya kekuatan untuk berkembang di luar.

Dan yang terpenting sekali, gue harus selalu inget anak belajar dengan cara mencontoh. Kalau kami bisa lebih lembut dan lebih sabar ke Kai, semoga dia juga akan belajar untuk bisa mengeluarkan emosinya dengan cara lain di luar marah-marah dan nangis. Sekali lagi, ini gampang nulisnya tapi susah buat dipraktekkan. Siapa sih yang gak kesel kalo anak ngomong ke ortunya sambil marah-marah? Hiish, pengen tebalikin meja rasanya.

Harap bersabar, ini ujian.

Doakan aku ya manteman biar bisa melewati masa-masa sulit ini dengan sukses.

 

PS: kayanya gue perlu disclaimer di sini kalao anak sensitif gak selalu keliatan pemalu, pendiam, penyendiri. Baik gue dan Kai adalah orang-orang yang sangat sosial, suka berteman dan hobi banget nongkrong-nongkrong. Tapi sambil bergaul banyak juga perasaan yang dipendam. Rasa minder, rasa cemburu, rasa tersinggung, takut salah ngomong, dllnya. Sesenang apa pun bertemu orang lain, tetap ada perasaan negatifnya juga.

 

3 comments

  1. Thx for sharing. Lgsg inget Mas B ku

  2. Akupun, Rik….. Merasakan struggle yang sama on the day to day basis, berasa gak sabaran, berasa gampang triak ke anak, dan mikirin terus gimana caranya bikin nasi yg udh terlanjur jadi bubur ini, bisa dijadikan bubur yang pleasing mata dan lidah, in my case : jd bubur babi kek, bubur ayem kek, yg penting ada gunanya 😥😥

    MOTHERHOOOODDDDD KENAPA KAMU KOK BEGINI AMUADDD!!

  3. Kalau dia tau dia bisa pulang ke rumah dimana dia akan selalu diterima, didukung dan dihargai, maka dia akan punya kekuatan untuk berkembang di luar

    Aku baca tulisan yang ini sambil mewe mbak. Merasakan cobaan dari Tuhan tapi berasa sendiri di dunia ini,

    #sorry mbak kalau gak nyambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: