hidayah yang berbeda

Hari ini hati gue tersentuh oleh satu artikel dari Magdalene:

Screen Shot 2018-10-09 at 19.55.45

Sebaiknya dibaca dulu artikel di atas sebelum lanjut baca tulisan gue. Artikelnya bagus banget dan rada mengharukan. Ada satu bagian yang bikin artikel tersebut terasa dekat di hati:

Saya mencintai keluarga saya, terutama Ibu yang saya ajak bicara mengenai semua hal. Tetapi ketika sudah menyangkut agama, ia selalu mengatakan, “Mama cuma mau kamu cepat-cepat dapet hidayah.” Dia berharap saya akan segera mendapat bimbingan ilahi. Namun saya pikir saya sudah mendapatkannya.

I can so relate to this. Sama ucapan “semoga dapet hidayah” yang juga diucapkan beberapa orang untuk gue.

Dalam artikel Magdalene di atas, penulisnya menemukan bahwa kebenaran sejati ada dalam bentuk cinta, kasih sayang dan toleransi. Pencariannya akan agama dan makna hidup juga jauh dan panjang, gak sekedar sesuatu yang dicapai dengan naek gojek lima menit. Tapi tetap, sang ibu berkomentar “semoga dapet hidayah” tanpa tau kalau sebenarnya si penulis sudah mendapatkan hidayahnya.

Pengalaman gue juga ada miripnya. Gue bimbang bertahun-tahun soal jilbab yang pernah gue kenakan di kepala. Buat gue, sepotong kain itu mengundang begitu banyak pertanyaan dan keraguan. Kenapa harus? Kenapa perempuan? Kenapa tidak laki-laki? Kenapa katanya untuk perlindungan? Perlindungan dari apa? Dari siapa?

Pertanyaan tinggal pertanyaan yang gak dicari jawabannya karena waktu itu gue percaya perintah agama cuma untuk dijalankan, bukan untuk dipertanyakan.

Tapi suatu hari, gue tergerak juga untuk mencari. Mencari jawaban atas pertanyaan dan kegalauan hati (ejiyeee) Pencarian yang prosesnya panjang sekali. Makan waktu sekitar tiga tahunan. Pada akhirnya, jawaban yang gue temukan ada dalam bentuk kepala yang kembali berhiaskan rambut.

Banyak yang kecewa, dan gue mengerti kenapa. Bagi mereka keputusan gue merupakan kemunduran, penurunan iman, degragasi moral. Tapi bukan itu yang gue rasakan, jadi gue gak bisa empati sama pemikiran mereka.

Banyak yang berkomentar

“Semoga dapat hidayah (lagi) ya. ”

“Ayo istiqomah (lagi)”

Karena sepertinya hidayah dan istiqomah bagi mereka ada dalam selembar kain yang menutupi kepala. Tapi tidak buat gue.

Dari sejak saat itu, sejak gue memulai pencarian beberapa tahun lalu itu, gue masih punya banyak pertanyaan lainnya. Tapi sekarang gue gak takut lagi buat bertanya, apalagi buat mencari jawabannya.

Pendapat-pendapat yang dulu gue terima aja tanpa berani dipertanyakan sekarang gak lagi gue anggap sebagai kebenaran. Bahwa tempat perempuan adalah di rumah. Bahwa perempuan harus disunat biar tidak binal. Bahwa poligami adalah kodratnya laki-laki. Dan bahwa-bahwa lainnya yang sekarang gak lagi gue percaya.

Dan ternyata gue bahagia banget menemukan jawaban-jawaban yang membawa gue pada pengertian tentang Islam yang lebih adil, setara dan toleran. Terasa lebih indah dan membawa kedamaian buat gue.

Sejak pencarian ini juga, gue jadi lebih banyak belajar, membaca dan berpikir soal agama. Jauh lebih banyak daripada yang gue pelajari selama 12 tahun di sekolah dulu. Ayat-ayat yang dulu cuma jadi hafalan, sekarang gue coba pahami artinya, konteksnya, tujuannya, aplikasinya. Ibadah yang dulu cuma ritual, sekarang gue coba pahami maknanya. Buat gue itu hidayah. Gak tau ya kalau Mas Anang.

Gue gak jadi lebih alim, gak jadi lebih suci daripada dulu. Gak jadi lantas rajin ngaji atau ngapalin ayat. Masih sama aja sih bandel-bandelnya. Tapi sekarang gue punya keinginan yang lebih tinggi untuk mencari tau, belajar, dan berbuat baik. Dan rasa-rasanya, kok jadi punya cita-cita mulia mau jadi manusia yang berguna bagi nusa dan bangsa. Semoga beneran ya, buka cuma sekedar rasa curiga apalagi rasa cemburu.

Gue tau pilihan gue soal jilbab berbeda dari kebanyakan orang. Banyak bikin orang istighfar juga pastinya.

Padahal jangan salah, biarpun gue gak lagi berjilbab, tapi gue menghormati mereka yang memakainya. Kagum malah, selama alasannya bukan untuk melindungi diri dari pandangan laki-laki dan pelecehan seksual. Karena tanggung jawab itu harusnya dipegang oleh laki-lakinya sendiri, bukan dibebankan pada perempuan.

Tapi mereka yang memahami jilbab sebagai bentuk kesederhanaan dan pendekatan diri kepada sang pencipta, benar-benar patut untuk dikagumi dan dihormati.

Gue juga gak menutup kemungkinan untuk berubah pikiran. Baik soal jilbab maupun soal lainnya. Dalam proses belajar selalu ada kebenaran-kebenaran baru yang terungkap. Jadi silahkan saja kalau mau mendoakan supaya gue dapat hidayah, tapi cukup ucapkan di dalam hati karena mungkin pandangan kita berbeda soal hidayah, gak perlu saling memaksakan.

Advertisements

14 comments

  1. istrinyabayu · · Reply

    Rika idolaQ

    1. pertamax ya mbakQ

  2. Menyuarakan suara hatiku yang terpendam selama ini 😊

    1. aku senang baca komennya *berpelukan*

  3. Mbak Rika panutanQu 😘

    1. Uwuwuwuwuwuuuu (kebanyakan baca mojok.co)

  4. Selama ini setia jadi pembaca blognya mb Rika.
    Pertanyaan seperti itu sering muncul di pikiranku.
    Namun, untuk jadi berbeda disini susah. Ketika ada pertanyaan yang agak nyeleh saja selalu di jawab “tau apa kamu tentang agama” tanpa ada penjelasan yang memuaskan.
    Selama ini aku kayak makai topeng, hanya untuk tampil sama dengan mereka agar tidak dikucilkan.

    1. Aku tau keadaanku jauh lebih mudah di sini. Kalau aku di Indo pasti prosesnya lebih susah karena takut dihakimi dan dihujat orang2. Email aku aja kalau mau cerita2. Kita bisa saling menguatkan. seerika@gmail.com

  5. Aku suka banget tulisan kamu, sungguh! Aku sendiri tidak relijius, tapi bisa relate banget yang kamu tulis!

  6. Wahh aku kenapa ya dulu pakek hijab??? Karena kalau pelajaran agama disuruh berkerudung terus nanggung banget akhirnya sampe skarang pakek kerudung. Jadi awalnya kepaksa??? Iya hahaha sampe lama lama ya jadi biasa aja deh tanpa ada beban sedikitpun meskioun gk ngerti juga kenapa harus? Bersyukur sih berada di lingkungan yg pada gk pernah “semoga dapat hidayah” . Disaat ada temen sy yg tiba tiba memutuskan berhijab reaksi saya dan teman-teman saya? Cukup tersenyum dan beberapa bilang pangling. Dan setuju sama kak rika pria lah yg harus jaga pandangan! Rasul aja kan ketika ada seorang wanita yg berpenampilan terbuka, beliau gk negur ceweknya kok tpi beliau menegur laki2 disampingnya untuk menjaga pandangannya. Semua orang punya sudut pandang masing masing kita cuman perlu untuk saling menghormati.

    1. Tetus kak mau nambahin nih dibeberapa tmpt orang2 nyinyirin yg gk pakek kerudung dibeberapa tmpat orang otang mengernyitkan dahi dan menaruh prasangka pada perempuan yg berkerudung. Segala sesuatu pasti ada pro dan kontra. Mikirin pendapat orang lain cuman bikin kita capek hati. Kalau kata ariel apalah arti pendirian jika tak keras. *gk nyambung wkwkw

  7. Pasti butuh keberanian besar juga buat nulis ini. Keren mba rika! Semangayy dalam pencariannya yaaa…

    Tertanda,
    Kaum feminis non anarkis

  8. Menarik menelusuri opininya mba. Aku rasa hidayah itu hak yg di Atas utk memberi dan mencabut jd aku tdk utak atik org lain tapi ada sedikit penasaran dan pertanyaan. Kalau sholat dan naik haji bgmn apakah rambutnya nanti tdk ditutup? Alasannya bgmn trmksh.

  9. Aiti, aku padamu. I really admire you. sekian terima cilok!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: