Haru biru anakku lulus kelas satu

Setelah libur 11 minggu akhirnya besok Kai kembali bersekolah. ALHAMDULILLAAAAAAAH. Äitinya udah gak sabar banget ini menggiring anak-anak kembali ke sekolah. Cape banget rasanya pergi-pergi sambil mengurus dua bocah yang selalu berkelahi tumbuk-tumbukan. Gue gak sabar bisa window shopping lagi tanpa kaki gue diganduli bocah. Gara-gara mereka, gue sampe kelewatan Zara dan Mango sale saking gue sungguh gak tahan kalo harus masuk toko sama bocah. Rusuhnya luar biasa.

Tapi gue bukannya mau nulis soal liburannya anak-anak di sini. Ataupun kebahagian gue melepas mereka besok sekolah. Yang mau gue ceritakan justru soal pesta penutupan di sekolahnya Kai awal Juni lalu karena gue lumayan terpana dan terharu biru sama acaranya.

Tahun ajaran 2016-2017 kemarin berakhir di tanggal 2 Juni di seluruh Finlandia. Dua minggu sebelum kurikulum berakhir, di sekolahnya Kai banyak banget kegiatan seneng-senengnya, termasuk kegiatan di luar kelas. Ada gerak jalan sama UNICEF, tanding bola dengan sekolah lain, trail running di hutan (Kai di posisi ke-7 loh untuk seluruh anak kelas 1 di Kerava), nonton teater, bazaar dan banyak lainnya.

Di minggu terakhir tiba-tiba Kai pulang sambil membawa selembar kertas dari ibu guru. Rupanya laporan hasil tes di sekolah. Jadi ceritanya, ibu guru diem-diem bikin tes buat anak-anak trus hasil tesnya dikabarkan ke orang tua. Yang diukur waktu itu adalah kemampuan membaca (jumlah kata yang dibaca dalam satu menit), kemampuan berhitung (mengerjakan soal tambah-tambahan) dan…errr…gue lupaaaa 😀

Karena tesnya diadakan secara diem-diem, anak-anak gak tau kalau itu tes. Buat mereka sih cuma sekedar mengerjakan tugas biasa aja. Bagus juga ya, biar mereka gak deg-degan. Hasilnya toh tidak digunakan untuk penilaian lebih lanjut.

Tanggal 3 Juni pesta penutupan tahun ajaran pun digelar. Acaranya sengaja diadakan di hari Sabtu biar orang tua bisa ikut serta.

Pestanya sih sederhana aja. Sebagian besar acaranya diadakan di halaman sekolah, sama seperti acara pembukaan tahun ajaran dulu waktu Kai jadi murid baru.

Awalnya kepala sekolah mengumumkan nama-nama siswa yang dapet stipendi (beasiswa) tahun itu. Nilai stipendinya sih gak besar-besar amat. Bentuknya paling berupa voucher buat beli buku, voucher buat masuk taman trampolin, yang nilainya cuma beberapa puluh euro. Stipendi tersebut biasanya disponsori oleh perusahaan di sekitar Kerava (sekolah musik, toko buku, tempat kursus, dll) tapi ada juga guru-guru yang memberikan stipendi dari koceknya sendiri.

Ada banyak banget stipendi yang dibagikan hari itu. Stipendi olah raga, musik, membaca, prakarya, melukis, sampai stipendi buat siswa yang dianggap baik hati dan suka menolong juga ada. Tapi gak sampe yang semua siswa dapet juga sih. Ini dia yang lumayan menarik buat diperhatikan. Gue pikir murid-murid yang gak dapet hadiah bakal sedih. Tapi keliatannya gak tuh. Mereka seneng-seneng aja. Apalagi kalau temen deketnya yang dipanggil untuk menerima stipendi, mereka malah bersorak-sorak.

Setelah itu diadakan perpisahan buat anak-anak kelas 6 yang akan pindah ke SMP. Nama-nama murid kelas 6 dipanggil satu persatu untuk menerima mawar dari kummi-nya. Kummi ini semacam buddy program di sekolahnya Kai. Murid kelas 5 dipasangkan dengan kelas 1 sementara kelas 6 dengan kelas 2. Kakak-kakak kelas 6 berjalan ke depan lapangan untuk menerima mawar dari adek buddy-nya. Yang cewe biasanya saling peluk-pelukan, yang cowo-cowo tetap woles dan cuma sekedar tos tangan aja.

Dan kemudian… guru, kepala sekolah dan semua staff sekolah berkumpul buat bernyayi. Sama juga seperti di acara pembukaan tahun ajaran dulu tapi kali ini lagunya tentang perpisahan. “Selamat jalan menyongsong masa depan, ingatlah kami di sini yang selamanya jadi temanmu.” Eyalaaah, gue terharuuu…

Setelah nyanyian tersebut murid-murid diajak masuk ke kelas bersama orang tuanya. Kami dateng komplit sekeluarga waktu itu. Gue, Mikko dan Sami semua ikut menemani Kai di kelasnya, kelas 1A.

Di kelas, anak-anak dan ibu guru ternyata sudah menyiapkan konser kecil buat orang tua. Anak-anak bernyanyi sementara bu guru main piano. Nyanyinya suka rada fales, ketuk iramanya pun banyak salahnya tapi lagunya manis sekali dan anak-anak yang bernyanyi lebih manis lagi bikin gue kembali terharu sampai mata sedikit basah. Jadi makin tersadar kalau anakku sudah besar. Udah bukan anak baru di sekolah lagi.

Berikutnya dibacakan lagi stipendi yang didapat oleh anak-anak dari kelas 1A ditambah beberapa stipendi baru yang tadi belum diumumkan oleh kepala sekolah. Yang pertama adalah stipendi matematika buat dua orang murid yang secara sukarela mengerjakan projek matematika.

Yang kedua adalah stipendi buat murid yang katanya rajin sekali membaca di kelas. Nah, di sini, tiba-tiba murid kelas 1A mulai bisik-bisik “Pasti Otto, pasti Otto” sambil menunjuk seorang murid yang bernama Otto. “Pasti kamu, Otto. Pasti kamu,” seru-seruannya semakin ramai.

“Stipendi ini diberikan untuk anak yang setiap hari membawa buku ke sekolah dan menggunakan waktu istirahatnya untuk membaca” ibu guru mengumumkan. “Otto” nama Otto pun disebut. Disambut dengan sorak-sorai anak satu kelas. Beberapa anak bahkan menyampiri Otto dan menepuk-nepuk pundaknya.

Ya ampuuuuun, ini gue kok terharu melulu sih? Yang dapet stipendi bukan anak gue tapi hati gue kok ikut senang?

Anak-anak itu keliatan tulus sekali bersorak buat temennya bikin gue jadi teringat motto pendidikan di Finlandia – bukan untuk kompetisi. Suasana non kompetitif-nya terasa sekali saat itu. Dan gue merasa telah menemukan tempat yang tepat buat diri sendiri karena gue ini takut banget sama yang namanya kompetisi. I don’t strive well in a competitive environment. That I know for sure. Dan karena sifat Kai plek-ketiplek sama ibunya ini, gue bahagia sekali telah menemukan sistem pendidikan yang sesuai untuk si anak sulung.

Sistem pendidikan yang non kompetitif ini tentunya bukan buat semua orang karena ada orang-orang yang butuh suasana yang lebih menantang. Tapi buat gue dan Kai, ini yang paling baik. Di lain pihak, sekolah Kai juga gak mendukung gerakan ‘semua anak dapet penghargaan’. Sebuah kebijakan yang gue suka biar anak-anak belajar untuk mengatasi rasa kecewa sekaligus jadi lebih tau apa itu yang bisa disebut sebagai prestasi. Gue juga suka banget melihat stipendi-stipendi di atas tidak selalu diberikan atas dasar prestasi karena beberapa stipendi juga diberikan atas dasar kebutuhan.

“Tapi sebenernya aku sedih, loh. Dari segitu banyak stipendi kok Kai gak dapet apa-apa,” gue berbisik buat Mikko. Maklum, gue ini kan tiger mother wanna be yang selalu gagal jadi macan karena terlalu malas.

“Yah, gak papa. Kalo tadi ada stipendi buat sepak bola mungkin Kai yang bakal menang”

“Ya dapet apa, kek. Matematika, kek. Kata gurunya kan Kai lumayan pinter matematika”

“Istri gak denger ya tadi stipendinya buat apa? Buat anak yang sukarela ikut projek matematika. Su-ka-re-la. Emangnya gak nyadar kalo anak kita pemalas? Always do the minimum requirements”

“Ow, iyaaa. Qcedih” Sedih karena gue dan Mikko juga sama-sama pemalas. Pantes aja nular ke anaknya.

Pada akhirnya tibalah saatnya rapor dibagikan oleh bu guru. Nah, ada satu keunikan lagi di sini. Rapornya diberikan oleh guru langsung untuk anak-anak, bukan ke orang tuanya. Memang sih, banyak ortu yang dateng tapi ada juga loh anak yang gak didampingi ortunya hari itu. Kembali teringat sama petuah kepala sekolah dulu, belajar di sekolah adalah tugas anak, bukan tugas orang tuanya. Anak-anak bertanggung jawab atas pelajarannya dan sekarang mereka juga yang melihat hasilnya.

Isi rapotnya apa? Duh, lupa lagi kita orang. Udah hilang pun entah kemana.

Seingat gue, ada beberapa kategori yang dinilai dalam rapor. Kemampuan membaca yang dibagi lagi dalam sub pengertian bacaan, perkembangan kosa kata, dll. Kemampuan matematika yang terdiri dari sub pengertian konsep, geometri dan berhitung. Kemudian ada juga kategori motorik halus, motorik kasar dan tingkah laku.

Penilaiannya belum berupa angka, cuma dijelaskan saja apakah kemampuan anak termasuk baik/advanced, cukup baik, perlu dikembangkan atau ketinggalan.

Seperti biasa kemampuan motorik halus Kai, terutama dalam hal menulis, masih perlu dikembangan. Tulisan doi memang keriting dan susah dibaca. Tapi nilai-nilai lainnya bikin gue dan Mikko lega, bahkan bangga sekali sama Kai. Buat Kami yang penting mah Kai betah aja di sekolah. Masih teringat perjuangan membawa Kai ke sekolah di awal tahun dulu.

Oiya, yang bikin gue juga seneng banget sama sekolahnya Kai adalah gurunya Kai yang luar biasa baik, sabar, cantik, mungil macam bidadari. Keliatan banget anak-anak kelas 1A sayang sama gurunya itu. Ibu guru membagikan rapot sambil memeluk muridnya satu persatu. Trus anak-anak juga boleh menarik hadiah dari kantong ajaib. Permen sebiji aja sih hadiahnya, tapi nerima rapot sekaligus dapet permen bikin wajah mereka berseri-seri kaya bohlam.

20170603_100342

20170603_100346

Murid mana coba yang gak seneng sama guru baek, cakep, mungil, rambut kriwil-kriwil kaya Barbie ini?

Itulah akhir dari pesta penutup tahun ajaran di sekolah Kai. Anakku resmi lulus kelas satu. Sebenernya sih acaranya sederhana aja, gak terlalu istimewa. Tapi gak tau kenapa kok hati gue gremet-gremet terus selama di sana. Hormon keibuan lagi keluar semua kayanya. Mungkin juga karena biarpun acaranya sederhana tapi rasanya begitu hangat, akrab dan personal. Segitu senengnya gue sama acara tersebut sampai merasa harus dituliskan di sini.

Besok Kai akan memulai harinya sebagai anak kelas dua. Baru aja tadi gue cek email sekolah dan ternyata tahun ini Kai harus pindah sekolah yang jaraknya 1,8km dari rumah. Rupanya gedung sekolah Kai gak lulus pemeriksaan kesehatan. Ada yang perlu direnovasi dan selama renovasi tersebut Kai harus numpang belajar dulu di sekolah lain yang lebih besar tapi juga lebih jauuuuuh.

Ampun daaaah.

Ngajarin Kai pulang dan pergi sekolah sendirian 600meter aja perjuangannya luar biasa. Gimana kalo jaraknya bertambah tiga kali lipat? Mamamiaaaaaaaaa.

Mulai besok kerusuhan gubrak gubruk pagi hari pun dimulai lagi.

Siap?

Tentu tidaaaaaaaak.

Advertisements

8 comments

  1. wah bapak2nya mungkin juga mau dipeluk ama guru barbie nya ya… huahahaha

    sama nih rik, besok mulai sekolah lagi. males banget ya mesti bangun dan siap2 pagi… udah enak 2 bulanan setiap pagi gak mesti grabak grubuk… hehehe

  2. Hidup malas-malasan! #eh?!
    Kayaknya anak saya juga ngikutin kemalasan kami ortunya nih mbak Rika;))
    Kai beruntung banget.. Bersekolah yg sistemnya sesuai kepribadiannya. Semoga di kelas 2 Kai makin betah di sekolah meski perjuangan jalannya bertambah jauh.

  3. congratulations Kai!! dan semangat, kak Rikaaa 😂😂

  4. kaiiii udah naek kelas! hore!
    semangatttttt yaaaaa buat aiti nya jugaaaaaaaaa …. go go power ranger lah

  5. diarynetizen · · Reply

    Semangat terus berkarya..ikutin blog kami juga ya

  6. Waah hebat Kai brangkat sekolah sendiri.. lumayan yaa kl jaraknya lbh jauh 3 x lipat… semangaaat…

  7. Waah Kai berangkst sendiri..hebat banget Kai xD

  8. Rikaaaa gw selalu suka cerita beginian nihhh. coba dicari raportnya apa aja nilainya? penasaraaann. haha

    ini gw nyari sekolah yang pulang jam 12 aja susye amat apalagi yang begini modelnya.

    mau lagi lagi lagi baca blog post tentang sistem pendidikan disana yaaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: