Bukit Lawang – masuk hutan bertemu orang utan

Akhirnya mudik kali ini kami liburan juga. Destinasi yang dipilih adalah Sumatra Utara, tanah leluhurnya äiti.

Biasa deh, setiap mudik ada aja wacana untuk pulang kampuang basamo sekeluarga besar. Udah dari dulu-dulu banget wacana digalakkan tapi selalu aja batal. Tahun ini gue usahakan banget supaya rencana ini terwujud karena gue sedih memikirkan gak bisa lagi mengunjungi Medan bareng bokap. Tahun ini gue paksa supaya nyokap bisa pergi ke Medan. Remi dan Rima seperti biasa iya-iya di awal rencana tapi kemudian gak jadi pergi.

Udah dari dulu-dulu juga gue dan Mikko berencana melihat Danau Toba seandainya kami bisa sampai di Sumatra Utara. Trus, gue pun tiba-tiba jadi kepingin mengunjungi Bukit Lawang untuk melihat orang utan. Jadi rute liburan kami kali ini adalah: Bukit Lawang – Berastagi – Danau Toba – Medan. Liburan sama nyokapnya cuma di ujung aja karena nyokap mau berlama-lama di Medan ketemuan sama sanak saudara.

Selepas mendarat di Kuala Namu kami langsung naik mobil menuju Bukit Lawang. Selama di Bukit Lawang kami masuk ke hutan di Taman Nasional Gunung Leuser, bertemu orang utan, melihat monyet, beruk dan gibbon, tergelincir di lumpur bahkan sampai luka-luka. Di ujung perjalanan kami mandi di sungai, menginap semalam di tenda, besoknya balik ke hotel sambil rafting (tubing) di sungai.

SERUNYA BUKAN MAIN!

This is gonna be a trip I will remember for the rest of my life. Seriously one of the best trip I have ever taken. Beneran deh, I am telling you…Bukit Lawang should be your next travel destination.

Sezuzurnya, trekking kemarin itu susah dan berat sekali buat gue. Medannya berat, jendral. Jauh banget bedanya sama hutan Finlandia yang pohonnya jarang-jarang, tracknya jelas, tanahnya kering dan cenderung datar. Di hutan Bukit Lawang mau cari pijakan kaki aja kadang susah.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

sepatu stormtrooper kebanggaan Sami yang langsung kotor di awal-awal masuk hutan. Selesai trekking bentuknya makin gak karuan lagi

Dan biarpun di hutan terlindung dari matahari tapi gerahnya onde mande ayam den lapeh. Keringet gue ngucur kaya air mancur. Bajunya Mikko basah kuyup sampai bisa diperas. Kacamata gue senantiasa berembun dan, mungkin, karena muka gue licin oleh keringat, kacamatanya melorot terus dari hidung. Untungnya di Serpong gue sempet cukur bulu ketyek. Kebayang asyemnya kalo hutan yang satu itu juga ikut rimbun.

Tapi suamiku yang sombong sih bilang, namanya hutan tropis ya memang begini. Lembab, gelap, bikin mudah nyasar. Ini masih mending di hutan masih ada trek-nya, di hutan lain yang pernah dia kunjungi jalannya gak ada bentukan trek sama sekali.

Trus…di akhir trekking Mikko juga bilang “Yah, lumayan. Gak begitu susah, gak gitu bikin capek” Sementara gue udah semaput hampir mati.

Pas banget kami trekking bareng pasangan dari Denmark yang tampilannya sungguh sporty sekali. Waktu pertama kali melihat mereka, gue langsung berbisik “Kasian mereka harus ikut trekking sama kita yang bawa anak ini. Kita kan gak bakal bisa jalan cepat.”

“I’m not worried about the kids. I’m sure they won’t slow us down” kata Mikko

“Yang aku maksud itu akuuuu….aku yang lamban dan will slow us down”

Bener aja kan. Baru aja trekkingnya dimulai kami udah harus mendaki selama sepuluh menit. Belon dua menit napas gue udah senin-kemis. Maaaaaak. Ini baru mulai, lho!

Tapi gak usah gentar, my friend. Biarpun treknya terbilang sulit, ada banyak sekali waktu istirahat buat ngumpulin napas. Dan setiap kali melihat sesuatu yang menarik, kami berhenti dulu untuk mendengarkan penjelasan dari pemandunya.

Pemandu kami waktu itu ada dua, Bang Thamrin dan Bang Yon. Mereka cukup banyak tau tentang binatang-binatang di hutan dan juga tumbuh-tumbuhan.

Dan kemarin itu, kami termasuk sangat beruntung karena kami bertemu dengan banyak sekali binatang. Baru saja 20 menit masuk hutan kami udah ketemu sama seekor orang utan yang lagi asik gelayutan di pohon. Gak lama sesudahnya kami ketemu lagi sama orang utan raksasa yang sedang jalan di tanah. Total kemarin itu kami bertemu 12 orang utan dan kami juga melihat monyet thomas leaf, monyet silver leaf, gibbon, dan babon.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

perhentian pertama: makan buah-buahan

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Bang Yon dan Bang Thamrin mengeluarkan nasi goreng bungkus untuk makan siang

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

ibu dan anak

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

orang utan paling besar yang kami temui

Menurut Bang Thamrin ada sekitar 90 persen kemungkinan untuk bertemu dengan orang utan di Taman Nasional Gunung Leuser Bukit Lawang. Tapi kalau menurut Noni yang sekarang bekerja untuk Ecolodge di Bukit Lawang, hal tersebut tidak benar. Ada kalanya orang utan tidak terlihat sama sekali oleh turis, terutama jika di atas gunung sedang musim buah. Saat itu orang utan bakal sibuk makan dan ogah turun gunung untuk menampilkan dirinya buat turis.

Perjalanan hutan kami kemarin itu memakan waktu sekitar 8 jam. Kami mulai jalan dari hotel jam 9 pagi dan sampai di tempat kemping jam 5 sore. Di tengah-tengah ada banyak sekali waktu istirahat, termasuk juga waktu makan. Bang Thamrin dan Bang Yon membawa banyak ransum di ransel mereka. Dua kali kami istirahat makan buah dan sekali makan siang dengan menu nasi goreng.

Waktu kami sedang makan siang, seekor orang utan muncul dan sibuk memutari kami. Sepertinya mau cari makan. Ini bikin turis-turis luar biasa hepi. Kapan lagi bisa makan sambil dihibur orang utan, kan?  Tapi turis-turis mulai cemas ketika si orang utan gak takut untuk mendekat sampai akhirnya terpaksa diusir oleh para pemandu. Sedih sih liat dia diusir. Yang datang menganggu kan sebenarnya kami, manusia yang bikin keributan di hutan, tapi malah orang utannya yang diusir.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Orang utan yang muncul waktu kami makan siang. Maksudnya mau foto Kai dekat orang utan tapi sayang cuma dapet pantatnya aja

Kami juga bertemu dengan dua orang utan yang terkenal di Taman Nasional Gunung Leuser, Minah dan Jackie. Dua orang utan ini dulunya hidup di pusat rehabilitasi yang sekarang sudah ditutup. Jackie terkenal sebagai orang utan yang baik, manja, dan suka peluk-peluk. Sementara Minah malah terkenal ganas dan suka menggigit. Konon udah ada 17 pemandu dan 5 orang turis yang pernah digigit Minah.

Kai dan Sami cemas sekali memikirkan Minah, dan bener aja…di hutan kemarin itu kami memang bertemu sama Minah. Bang Yon langsung maju ke depan. Katanya sih Minah baik sama Bang Yon karena sering dikasih makan. Sementara Bang Yon sibuk ngempanin pisang, Bang Thamrin mengajak kami berlari menjauhi Minah. Kabarnya Minah galak begitu karena dulu suka dipukuli manusia. Sedih ya.

Mendekati akhir perjalanan kami bertemu sama si manis Jackie. Dia lagi asik nongkrong di track tempat kami turis-turis pada lewat.  Kebetulan waktu itu tracknya menurun dan rada susah. Tau-tau aja Jackie pegang tangan gue dan menuntun gue turun. Ya ampuuun..ini dia bantuin gue, ya? Kok manis amat sik?

Eh, tapi…tangan gue dipegang terus oleh Jackie dan gak mau dilepas. Ternyata Jackie memang terkenal suka menyandera turis. Ini taktiknya untuk minta makan dari pengunjung. Tangan gue baru dilepas setelah Bang Yon berkali-kali memancing Jackie dengan makanan. Pada akhirnya tangan gue dilepas karena Jackie pindah pegang tangan turis lain.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

si manja jackie yang suka menyandera orang

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

tangan gue gak mau dilepas

Setelah ngobrol sama Noni, gue diingatkan kalau seharusnya kita jangan berdekatan dengan orang utan. Apalagi sampai pegang-pegang begitu. Jaga jarak aman 10 meter dari orang utan supaya kita tidak mentrasfer kuman yang ada di tubuh kita ke mereka. Biar mereka gak sakit.

Dan harus diingat bahwa selalu ada kemungkinan orang utan menjadi liar dan menggigit pengunjung biarpun menurut Bang Yon, Jackie gak pernah sekalipun gigit orang. Pokoknya Jackie kesayangan semua orang banget deh.  Tapi tetap ya,…harus ingat untuk menjaga jarak dengan orang utan demi kelestarian mereka.

Setelah lewat 6 jam trekking, gue udah mulai capek. Udah mulai nyesel pilih track yang panjang. Di satu jam terakhir gue malah mau nangis karena ampun dijeeee…track menurunnya susah kaya tes masuk PNS. Gue sampai harus menggunakan tangan untuk merambat di tanah karena jalur menurun yang sering terlalu curam. Naro kaki dimana aja bingung karena pijakannya berjauh-jauhan.

Selama jalan turun ini lah Mikko, Kai dan Sami terjatuh sampai luka-luka. Cuma gue aja yang selamat gak pake jatoh tapi gantinya badan keseleo sana sini akibat usaha menahan berat tubuh dalam posisi aneh.  Sedap kali lah rasanya turun gunung sambil nahan sakit badan yang nyut-nyutan. Sebenernya udah kepingin mewek tapi gue tahan-tahanin buat gak nangis karena keki sama pasangan Denmark yang tetap tampak sporty dan mumpuni.

Karena pasangan Denmark itu juga gue emoh minta istirahat selama perjalanan turun. Padahal capeknya mah udah borokokok banget. Tapi gue gak enak hati kalo harus memperlambat laju kelompok kami dan gue juga harus menjaga martabat orang Indonesia sebagai sebagai warga yang fit, setrong, dan pecinta alam. Ecieee…wasailam.

IMG-20170717-WA0019

Elevasi selama trekking di hutan. Bisa dilihat, di akhir trekking jalurnya menurun tajam secara tiba-tiba. Pantes aja susahnya minta ampoooon

IMG-20170717-WA0020

trekking kami selama di hutan itu cuma 10 km-an aja. Gak jauh-jauh banget sebenernya kalo di jalan biasa tapi naik turun di hutan kemaren itu amboooiii… abis trekking nyawa tinggal setengah rasanya.

Kalo kata abang-abang pemandu sih, sedikit sekali orang indonesia yang ikut trek di Bukit Lawang. Kalaupun ada biasanya mereka cuma ambil rute pendek 3-5 jam. Jarang yang sampai benar-benar masuk jauh ke dalam hutan. “Yang kaya ibu ini jarang lah. Hampir-hampir tak ada” begitu kata Bang Yon. Kenapa pulak kau panggil aku ibu, Bang? Tak pantasnya muka ku ini kau panggil kakak?

Tapi tetep sih, hidung gue kembang kempis mendengar komentar Bang Yon. Anaknya anti mainstream banget dong aku ini. Langsung deh jalannya digagah-gagahi, muka lesu dibikin tampak perkasa tapi abis itu tetep keseleo.

Eh, terus Bang Yon dan Bang Thamrin juga berkomentar tentang Kai dan Sami. “Pintar ya anak ibu. Jalannya pintar. Kuat mereka”

Mikko langsung berbisik, “Nah, liat kan? Ini untungnya kita gak punya mobil. Anak-anak kita terbiasa jalan jarak jauh. Fisik mereka kuat dibandingkan anak lain seumuran”

“Yayayaya…aku tau. Tapi tetep…aku kepingin punya mobil” gue balas sambil mendesis.

Di dalam hutan Sami suka sekali manjat-manjat pohon. Terutama memanjat akar gantung yang banyak ditemui di sana. Suatu kali, saat kami sedang istirahat, dia memanjat sampai tinggiiiii sekali. “Awas jatuh..awas jatuh…” kata banyak orang

“I am not worried about him. He’s very good at it. Just let him be.” kata Mikko sok cuek sambil terus makan manggis.

Jadilah Sami suka kasih tontonan buat orang-orang di hutan hari itu. Jungle boy, begitu seru-seruannya para pemandu. Gara-gara liat orang utan yang asik gelayutan, Sami juga belajar buat berayun dari satu akar ke akar lain yang bersebelahan. Eh, berhasil. Seru-seruan buat Sami pun semakin ramai. Babenya bisa dipastikan semakin gede rasa.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Kai dan Sami memang membanggakan sekali kemarin itu. Kami bertemu beberapa anak lain yang juga sama-sama mengambil jalur panjang dan bermalam di hutan tapi tampaknya Kai dan Sami peserta termuda di trekking hari itu.

Dan seperti kata Mikko, biarpun fisik mereka kecil, anak-anak kami ini kuat karena memang mereka terbiasa jalan kaki pun terbiasa aktif di udara terbuka selama berjam-jam setiap harinya. Mereka bisa mengikuti trekking yang terbilang susah ini dengan sangat baik tanpa memerlukan banyak bantuan. Sami digedong dua kali oleh Bang Yon dan Kai satu kali digendong Bang Thamrin ketika jalur menurunnya lagi benar-benar sulit. Habis itu Bang Yon dan Bang Thamrin malah main balap lari di jalur menurun tersebut bikin Kai dan Sami girang bukan kepalang.

Memang para pemandu di Bukit Lawang itu sakti-sakti amat. Gue merambat-rambat di jalur turunan mereka malah lari. Sambil gendong anak pulak! Katanya, kalo gak sambil bawa turis, mereka bisa menyelesaikan jalur trekking kemarin itu dalam waktu 3 jam saja.

“Aku juga pasti bisa” kata Mikko sombong. Gue jawab dengan dengusan. Punya suami kok jumawa amat kek Malin Kundang.

Suatu saat di tengah perjalanan, Bang Thamrin ngomong ke gue

“Enak kali, ya, sama anak ibu ini. Kita bisa bergurau-gurau sama mereka karena mereka pande cakap Indonesia”

Dan gue pun langsung melayang-layang saking ge-ernya. Tapi Kai memang suka sekali sama dua pemandu kami tersebut. Sama Bang Thamrin dia bisa tertawa sampai terngakak-ngakak padahal yang diomongin mah kagak lucu-lucu amat.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Kai suka amat sama pemandu kami satu ini

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Sekitar jam 5 sore kami sampai di area kemping. Kempingnya pas di tepian sungai Bahorok yang melintas di tengah-tengah Taman Nasional Gunung Leuser.

Terus terang aja ya, gue rada kaget liat tenda-tendanya. Secara biaya trekking ini cukup mahal (90 euro per orang), gue pikir nginepnya bakal bergaya glamping. Pake tenda-tenda modern seperti yang gue liat di iklan Alpina (((Alpinaaaa))).

Taunya nggak toh.

Tenda lebih mirip kaya tenda abri tapi dalam ukuran yang lebih kecil dan dibikin berderet berjejeran. Tiang-tiangnya dibuat dari kayu dan dindingnya dari terpal hitam yang tampak teramat lusuh. Tanah di dalam tenda dilapis juga dengan terpal dan di atasnya di gelar 6 matras untuk para peserta trekking.

Di lokasi kemping kami mungkin ada sekitar selusin tenda seperti itu. Di sisi lain sungai Bahorok ada lagi beberapa lokasi kemping lainnya. Katanya tenda-tenda tersebut dibangun oleh pemerintah daerah tapi kemudian diisi oleh operator trekking. Kami trekking bersama Thomas Retreat yang memiliki dua tenda di sana. Tenda-tenda lainnya dimiliki oleh operator-operator lain dan ada beberapa tenda yang digunakan oleh para pemandu sebagai dapur.

Kegiatan berikutnya setelah sampai di lokasi kemping adalah….MANDIIIIIII. Membilas badan yang udah asem banget ini. Mandinya tentu saja bukan di kamar mandi melainkan langsung nyemplung di sungai Bahorok.

Kalo sesama orang Indonesia sih gue bakalan nyebur ke sungai dengan baju lengkap-kap-kap. Tapi di sana itu isinya bule-bule semua yang masuk sungai dengan pakaian renang. Kan aneh juga kalo terus gue berendem pake kaos sama celana panjang. Ntar dikira mau masuk hutan lagi. Jadi gue pun masuk tenda buat ganti ke baju renang. Gak taunya masalah pake baju renang aja jadi ajang perjuangan buat gue.

Akibat terlalu medit untuk beli baju renang gue pun bawa baju renang pinjaman yang sebenarnya terlalu kecil buat gue. Ditambah guenya yang menggemuk setelah Lebaran, edodoeeeee….pake baju renang sulitnya kok melebihi trekking 8 jam? Mungkin karena sulit menerima kenyataan kalau timbangan geser kanan terus.

Pada akhirnya baju renang bisa juga masuk ke badan dan gue pun bergabung dengan yang lain untuk main-main air. Di area kemping sungainya dangkal tapi arusnya lumayan bikin badan kita terseret-seret. Airnya jernih dan segar banget buat mandi-mandi. Anak-anak mah jangan ditanya senengnya kaya apa.  Gue malah lebih seneng lagi melihat mereka main air di sungai seperti juga gue jaman masih kecil dulu.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Jam 7 malam, para pemandu menggelar terpal di depan tenda dan makan malam pun disajikan. Menunya sungguh komplit. Ada gulai ayam, gulai ubi tumbuk, tumis kangkung, tahu goreng, ikan tongkol goreng, telur dadar, ayam balado dan balado teri yang super endeus. Semuanya hasil karya pemandu-pemandu kami.

Pas makan malam ini lah anak-anak bilang kalau mereka senang sekali sama perjalanan trekking kami. Sami paling suka sama Jackie sementara Kai paling suka waktu diajak balap lari di punggung Bang Thamrin. Terus Mikko bilang kalau mereka semua harus mengucapkan terima kasih buat gue karena gue yang mengusulkan perjalanan ke Bukit Lawang ini. “Terima kasih, äiti” kata Mikko “This has been a very interesting trekking trip.” Aaaawwwww….hati gue jadi berbunga-bunga.

Sebenernya Mikko heran melihat gue yang cuma makan sedikit saja malam itu. Kok gak gragas seperti biasanya?  “Takut pupu” gue berbisik di kuping Mikko. Minum pun diirit-irit karena gue juga takut beser.

Dan sebenernya juga, di area kemping disediakan WC. Kakus jongkok yang ditanamkan ke tanah dan kemudian ditutupi oleh terpal. Letaknya dibuat masuk menjorok ke hutan menjauhi perkemahan. Aman lah gak bakal diliat orang. Tapi aku yang incess ini kan rada-rada gelik liat WCnya. Gak kotor jorok gitu sih. Tapi namanya pun WC jongkok ya, dalam hutan pulak, ya jelas gak kinclong kayak WCnya Plaza Senayan.  Pokoknya segala hasrat ke belakang gue tahan sebisa mungkin. Baru bener-bener ke WC kalo udah di ujung tanduk.

Tapi yang ke-incess-incess-an tampaknya cuma gue aja. Mikko dan anak-anak sih bertandang ke WC dengan penuh keberanian. Begitu pula dengan pasangan Demark dan bule-bule lainnya di area kemping. Gak ada yang kembali dari WC dengan muka-muka gelik. Emang guenya aja yang manja.

Setelah makan malam seharusnya akan diadakan berbagai games untuk dimainkan bareng-bareng. Tapi Kai dan Sami udah capek banget malam itu. Mereka ketiduran dengan piring masih di tangan. Pas banget pula, setelah kami bawa Kai dan Sami masuk tenda, hujan deras mengguyur perkemahan kami. Semua orang pun masuk tenda dan tidur.

Semua kecuali gue.

Karena gue cemas memikirkan gimana kalo mau pipis? Gimana kalo mau pup? Saking dipikirinnya sampe akhirnya mau pipis beneran. Semalaman gue gak bisa tidur karena nahan pipis.

Pagi-paginya hujan sudah mereda. Kami bangun dan melihat Sungai Bahorok di depan kami sungguh berbeza dari malam sebelumnya. Sungai jadi tampak lebih besar, airnya lebih tinggi dan arusnya luar biasa kencang.

Ada rencana buat kami menyebrangi sungai dan berjalan ke air terjun pagi itu tapi akibat arus yang terlalu deras, rencana tersebut terpaksa dibatalkan karena dianggap kurang aman oleh para pemandu. Gantinya kami duduk-duduk santai di pinggir sungai dan memainkan beberapa games.

Gamesnya ada banyak dan semuanya  baru buat gue. Ada game This Is A Cup, game Orang Utan, permainan kartu, permainan korek api, dan beberapa lainnya yang gue gak inget. Yang paling hepi waktu itu agaknya Kai dan Sami yang ketawanya sampai terguling-guling. Padahal mah mereka cuma jadi penonton. Game This Is A Cup masih suka mereka mainkan sampai sekarang. Dan mereka juga bilang permainan-permainan ini yang bikin kemping di hutan jadi menyenangkan sekali buat mereka. Untuk ini gue harus mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya buat para pemandu kami hari itu, Bang Thamrin dan Bang Olo.

Suasana santai dan penuh tawa di pinggir sungai tersebut masih terkenang-kenang sampai sekarang. Berasanya kok tenang dan syahdu sekali. Angin bertiup sepoi-sepoi, langit biru di atas kepala kami, deru Bahorok yang jadi latar belakang. Semua orang di area perkemahan terlihat tenang, santai, hepi. Kai dan Sami loncat-loncatan di batu sambil melihat banyak sekali kupu-kupu. Kami bahkan melihat biawak besar di tepi sungai. Gak ada apa-apa di sana selain alam tapi anak-anak gak mengeluh bosan.

IMG_20170711_070052

Sungai Bahorok yang meluap setelah hujan deras semalaman

IMG_20170711_070706

Bangunan hitam di belakang kami adalah tenda-tenda tempat kami tidur di dalam hutan. Jelas kalah fancy sama glamping tapi buat pengalaman seru relakan saja tidur semalam di situ. Setelah dilakonin ternyata not bad kok.

IMG_20170711_101500

IMG_20170711_101449

IMG_20170711_101905

Mikko bilang sebenarnya gue belum boleh dinobatkan jadi Ratu Hutan karena gue belum berani pup di hutan.

IMG_20170711_070929

IMG_20170711_112409

IMG_20170711_112155

Orang Utan Game

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

oh, langit biru

Setelah games kelar dimainkan, kami makan siang dan kemudian tibalah saatnya untuk kembali ke penginapan dengan caraaaaa….TUBING. Alias rafting dengan menggunakan ban.

Kayanya ini bagian paling seru dari acara trekking kami.  Arus Bahorok lagi deras-derasnya hari itu, kapal ban kami pun melaju cepat naik turun mengikuti arus. Kadang kami sampai terlempar-lempar bikin jantung gue rasanya turun ke perut tapi justru itu yang bikin tambah seru. Saking serunya Kai sampai berteriak kalau dia anak yang paling bahagia di dunia saat itu. Dia malah sampai bilang terima kasih buat gue “Terima kasih, äiti. Terimakasih äiti udah ajak aku ke sini. Aku senang sekali”

Anakku yang satu itu memang suka lebay tapi gak urung hati gue meleleh mendengar ucapannya. Gue pun bahagiaaaa sekali bisa ke Bukit Lawang bersama anak-anak. Sebagai anak kota pastinya mereka gak punya banyak kesempatan buat masuk ke hutan, apalagi hutan tropis seperti di Bukit Lawang. Ini akan jadi pengalaman berharga buat mereka. Di usia yang masih teramat muda anak-anakku telah merasakan 8 jam trekking, kemping di hutan, bertemu orang utan dan binatang-binatang lainnya, dan sekarang rafting di sungai Bahorok. Semoga pengalaman ini akan membuat mereka lebih peduli terhadap lingkungan sekaligus meningkatkan rasa ingin tahu mereka untuk mengerti dan menjelajahi dunia.

Di atas kapal ban itu juga gue coba tunjukkan buat Kai betapa megahnya hutan tropis Indonesia karena pemandangan hutan di tepian sungai Bahorok yang kami lewati waktu itu memang Masha Allaaaah…mengagumkan sekali. Hutannya terlihat begitu agung bikin gue tersadar betapa besarnya kekuasaan Tuhan. Sekaligus hati juga sedikit sedih mengingat hutan kita yang hebat itu perlahan-lahan terkikis oleh kebun sawit dan illegal logging.

rafting-on-connected-inner-tubes-down-the-bohorok-river-gunung-leuser-cb4mgn

bukan foto gue karena selama tubing gak bisa pegang kamera. Tapi beginilah cara kami menyusuri sungai Bahorok untuk kembali ke hotel

Setelah berhanyut-hanyutan selama 20 menit akhirnya kami sampai juga di depan hotel. Penginapan kami, Thomas Retreat, memang lokasinya percis di pinggir sungai.  Gue pun langsung jongkok di sungai buat cuci sepatu. Sepatu kami udah berubah warna semua jadi coklat tertutup lumpur. Tenang aja, nyucinya gak pake deterjen kok, gak akan mencemari sungainya. Cuma disikat aja pake bros.

Dan sepatu-sepatu kami itu baru kering tiga hari kemudian, karena agaknya Sumatra Utara hujan terus setiap malam, bikin kami batal mendaki Gunung Sibayak di Berastagi.

Malam itu kami menginap semalam lagi di Thomas Retreat sebelum besoknya bergerak menuju Berastagi.

Begitulah kira-kira pengalaman kami trekking mencari orang utan di Taman Nasional Gunung Leuser. Salah satu pengalaman yang gak bakal gue lupa seumur hidup. Sebagai certified incess yang manja lagi pula pemalas, trekking kali ini pastinya berat buat gue. Lelah lahir batin, sis. Tapi serunya mengalahkan segala capek yang gue rasakan jadi gue sangat menyarankan kalian-kalian semua wahai rakyatku, eh, wahai pemirsa yang baca blog ini, sesama incess maupun bukan incess, untuk memasukkan Bukit Lawang dalam daftar destinasi wisata kalian.

Beberapa tips dari gue untuk orang-orang yang tertarik trekking di Bukit Lawang, terutama trekking satu malam seperti yang kami lakukan:

  • Bawa obat penangkal nyamuk! OMG,  ini super penting. Nyamuk di hutan sejuta banyaknya dan segede-gede umat.
  • Bawa sepasang (atau bahkan dua pasang) baju ganti untuk berganti setelah mandi di sungai dan setelah mandi di air terjun (yang gak gue lakukan)
  • Bawa baju renang untuk main-main di sungai.
  • Bawa handuk karena di hutan kita gak nginep di hotel. Gak dipinjemin handuk.
  • Bawa sikat gigi dan pasta gigi. Tapi sebaiknya gak usah bawa sabun, shampoo apalagi deterjen karena bisa mencemari air sungai.
  • Bawa sendal karena ternyata di area kemping tanahnya berbatu-batu. Bolak balik pake sepatu untuk keluar masuk tenda terasa merepotkan tapi jalan kaki ayam bikin kaki sakit, jadi sebaiknya bawa sendal.
  • Lapisi kaki dengan plastik sebelum pakai sepatu. Jadi setelah pakai kaos kaki, lapisi dulu kakinya dengan plastik baru kemudian kaki masuk ke sepatu. Dengan begini kaki (dan kaos kaki) tetap bersih walaupun sepatu terkena lumpur.  Ini ide yang gue dapat dari cewe Denmark di grup kami. Cuma kaos kaki doi yang tetap bersih tanpa noda setelah trekking.
  • Gunakan ransel yang nyaman dan gak bikin bahu sakit. Lebih bagus lagi kalau ranselnya tahan air. Gue pakai kånken untuk trekking dengan pertimbangan tas ini tahan air jadi aman buat kamera gue seandainya kami kehujanan. Tapi ransel kånken tali bahunya tipis dan gak berbantal, setelah beberapa lama bahu gue mulai berasa kegigit sampai akhirnya botol aqua 1L punya gue harus gue titipkan ke Mikko.
  • Pastikan kamera muat masuk ransel setelah ransel diisi berbagai macam benda lainnya (baju, botol minum, sendal, handuk) karena pasti banget bakal ketemu tanjakan atau turunan yang lumayan kampret susah banget buat dilewati. Gak bakal selamat kalo harus nyambi pegang kamera.
  • Katanya sih yaa….kalau kita merasa jalurnya terlalu sulit, kita bisa minta ke pemandu buat mengganti ke jalur lain.  Area perkemahan bisa diakses dari jalur lain juga yang (katanya) lebih gampang dilalui. Selama waktu masih memungkinkan, pemandu gak keberatan buat mengganti jalur. Kalo mau, minta aja dari awal supaya gak dibawa ke jalur-jalur yang sulit. Tapiiii…namanya pun di hutan, ya, gak mungkin juga jalurnya gampang terus. Dan jalur yang dibilang gampang oleh pemandu, kayanya sih, gak gampang-gampang juga buat turis incess macam akyu.
  • Pakai celana panjang. Ini preferensi pribadi karena gue liat di sana banyak juga bule-bule bercalana pendek. Memang sih di hutan gerahnya minta ampun tapi pakaian tertutup melindungi kita dari nyamuk dan goresan ranting/duri. Pilih aja yang bahannya adem dan ringan
  • Ini juga preferensi pribadi, beberapa orang memakai pakaian olah raga selama di hutan. Pakaian seperti ini terasa ringan dan gak bikin baju basah lepek digelayuti keringat. Gue pun memilih pakai sports bra untuk trekking.
  • Seperti gue udah cerita, kaca mata selalu melorot dan lensanya berembun karena kelembaban hutan yang tinggi. Mungkin pakai soft lense bakal lebih enak. Mungkin, yaaa…gue sendiri belum pernah pakai soft lense.
  • Bawa tisu WC gulung buat yang gak bisa ke WC tanpa elap-elap tisu seperti suamiku. Tapi tolong JANGAN bawa tisu basah karena tisu basah susah terlerai, gak boleh dibuang di WC dan cuma jadi sampah sementara di hutan gak ada tempat sampah.
  • Jangan menyampah di hutan, jangan merusak tumbuhan, jangan mengganggu binatang. Turuti saran dari pemandu, terutama soal foto memfoto karena gue liat ada aja turis-turis keras kepala yang udah dilarang untuk terlalu dekat dengan orang utan tapi tetep nekat mendekat demi foto yang mumpuni. Adapula turis yang mengulurkan tongkat selfie sampai ke depan muka orang utannya, kan ganggu amat! Untung aja waktu itu orang utannya gak ngamuk.
  • Pilih operator trekking yang bertanggung jawab dengan cara rajin2 baca review di internet. Pastikan pemandunya gak nyampah di hutan, gak agresif mendekati hewan demi menyenangkan turis. Gue sendiri pilih Thomas Retreat murni karena pertemanan. Gue punya teman di Kerava sini yang asli dari Bukit Lawang. Temen gue ini adiknya Bang Thomas. Kami sih puas sama servis yang diberikan oleh Thomas Retreat, anak-anak gue bahkan cinta banget sama pemandu-pemandunya. Matras di tenda Thomas Retreat juga, katanya, yang paling bagus, tebal dan dilengkapi dengan kelambu (tenda-tenda lain katanya sih gak pake kelambu). Sangat gue rekomendasikan.
  • Selain Thomas Retreat, gue juga harus merekomendasikan Ecolodge sebagai penginapan dan operator trekking karena Ecolodge menyumbangkan profitnya untuk pelestarian orang utan. Ecolodge ini tampaknya tempat berkumpul para ilmuwan dan peneliti orang utan. Oiya, Makanan di restoran Kapal Bambunya juga enak-enak.
  • Jangan ragu untuk mengajak anak-anak trekking di hutan bahkan jika merasa perjalanan ini terlalu sulit buat mereka. Para pemandu akan siap membantu. Kalau anak capek mereka bersedia menggendong, bahkan sampai berjam-jam selama di hutan. Percayalah mereka ini sakti mandraguna. Trekking sambil gendong anak bukan masalah buat mereka. Jangankan anak, kalo gue semaput pun kayanya bakal digendong juga sama mereka.
  • Sempatkan juga menjelajahi Bukit Lawang karena kota (desa?) ini juga menarik buat diliat. Apalagi area di sebrang hotel kami yang lokasinya lebih tinggi dan lebih dekat ke hutan. Daerahnya mengingatkan gue akan Ubud (walaupun Mikko bilang gak ada miripnya sama sekali) karena banyak hotel-hotel kecil, kafe-kafe unik dan toko seni. Mungkin Ubud 30 tahun yang lalu kali ya? Kami juga sempet melewati Gue Kompeni yang guanya menyatu dengan rumah-rumah penduduk. Bahkan di ujung gua ada kafenya. Keren amat lah. Buat gue dan Mikko Bukit Lawang is laff.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA

penginapan kami

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

yang atap biru-biru itu penginapan kami

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

lantai dua Restoran Kapal Bambu, Ecolodge

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Di Bukit Lawang ada banyak sekali jembatan gantung. Malah ada satu jembatan yang tinggiiii sekali dan kayunya bolong-bolong. Jadi kalau jalan harus hati-hati kalo gak mau tiba-tiba nyeblos ke sungai. Ngeri banget lah jembatannya itu. Di ujung jembatan kita masih harus turun tangga yang bentuk tangganya aneh sekali karena hampir tegak 90 derajat. Arsiteknya siapa sih??? Sayang gak gue foto karena waktu di situ gak bawa kamera

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Tolong TiTi jangan digoyang. Haseeeekkk

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

ngiderin Bukit Lawang sambil kaki ayam akibat sepatu yang belum kering. Untungya gak lama kami ketemu warung yang jual sendal

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

salah satu kelebihan Thomas Retreat adalah lokasinya yang tepat di pinggir sungai. Sungainya pun landai, dangkal dan arusnya gak deras. Pas buat anak-anak main

Catatan tambahan:

  • Biarpun judulnya masuk hutan tapi ternyata hutannya penuh sama turis. Juni-Juli merupakan peak season di Bukit Lawang, gak heran setiap lima menit pasti aja kami ketemu sama rombongan lain. Apalagi kalo udah ketemu sama orang utan, suasananya bakal rame banget kaya pasar. Setelah lewat jam 3 sore baru deh mulai sepi, mungkin karena turis-turis yang ambil rute pendek udah pada keluar hutan.
  • Sinyal internet XL tiarap di selama gue di Bukit Lawang. Gak tau kalau operator lain.
  • Perjalanan dari Medan ke Bukit Lawang buroknya bukan main. Jalannya berlubang-lubang menggelitik kandung kemihku. Jangan lupa pipis dulu sebelum mulai perjalanan.
  • Gue jadi dapet banyak pertanyaan apa bedanya liat orang utan di Bukit Lawang dengan di Tanjung Puting? Hmmm…meneketehe, qaqa. Gue belum pernah ke Tanjung Puting. Kalo sekedar dari baca-baca aja sih pengalamannya jelas beda, ya. Di Tanjung Puting lebih banyak berlayar di atas kapal klotoknya sementara di Bukit Lawang banyak pengalaman trekking di hutannya. Di Tanjung Puting juga ada trekkingnya, tapi jauh lebih sedikit dan trek-nya cenderung mudah karena yang dituju feeding station-nya orang utan. Di Bukit Lawang udah gak ada feeding station jadi harus benar-benar menjelajah ke dalam hutan untuk ketemu sama si orang utan. Kalau tujuannya cuma mau melihat orang utan, Tanjung Puting lebih mudah dicapai ditambah dapet pengalaman tinggal di kapal klotoknya. Kalau mau merasakan pengalaman masuk hutan, Bukit Lawang lebih tepat.  Bukit Lawang juga lebih unggul sebagai ecotravel destination karena kapal klotok di Tanjung Puting kabarnya menciptakan polusi suara di sekitar hutan dan bahan bakarnya mencemari air sungai Sekonyer (ta..ta..tapi tetep…aku kepingin naik kapal klotok, hiks)
OLYMPUS DIGITAL CAMERA

jalan-jalan seputar kampung Bukit Lawang

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Area bagian atas Bukit Lawang ini lebih cantik dan lebih banyak yang bisa dilihat (Thomas Retreat di bagian bawah, dekat dengan sungai)

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

pengangkut ban, tugas mereka mengangkut ban-ban besar ini ke hilir sungai dan ke area-area perkemahan

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

ban sebesar itu diangkut di kepala

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

ini maksudny apa ini? How to us full? Di Bukit Lawang kami banyak menemukan typo-typo bahasa inggris yang suka bikin geli

ini maOLYMPUS DIGITAL CAMERA

Advertisements

36 comments

  1. Kalau lupa bawa sepatu beli sepatu ladang aja di pasar dekat Bukit Lawang 20 rb. Bolongin depannya supaya kalau kemasukan air bs lngs keluar. Biasanya yg sering masuk ke hutan bny yg beli sepatu ini karena sayang sepatu kotor 🤣. Tips tambahan kalau lupa bawa sepatu atau sayang sepatu kotor

    1. Makasih Noni tipsnya
      Emang sepatu hancur lebur abis trekking.

  2. Keren banged mbaa trekkingnya..duluu bgd pas SD pernah kesini cuma piknik dan mandi pakai ban di sungai. Ga tau kalau bisa trekking seseruan. Lengkap pulak infonya mba rika.

    1. Apa mungkin dulu belum ada ya? Katanya Noni sih di situ sempet ada feeding station, jadi gak perlu jauh-jauh masuk ke dalam hutan buat liat orang utan. Tapi sekarang feeding stationnya udah ditutup karena pengunjungnya malah pada nyampah

  3. Ya Ampun Samiiii prince charming aku kelihatan makin charming d foto *gagalpokus* qaqa Rika keren, aku jalan dikit aja udah ngap ngapan. kerennnn lah pokonya family ini

    1. Aku juga sama kok, gampang capek. Tapi karena banyak yang menarik buat dilihat jadi suka lupa sama capeknya

  4. waaahhh….seru banget liburannya mbak….jadi kepengen ke sana juga someday 🙂

    1. ayo..ayoo…gak akan nyesel deh ke Bukit Lawang

  5. Wah seru banget, kepengen banget kesana, ini pacarku pasti juga mau! Cuman aku sama kaya kamu klo udaj disuruh trekking menurun bisa jantung copot!! Haha

    1. Ayo Eva, next Indonesian trip ke Bukit Lawang. Kalo aku aja bisa buat kamu pasti lebih gampang deh. Kamu kan rajin olah raga, aku gak ada olah raganya samsek. Turunannya berasa susah karena aku bener2 udah keabisan energi waktu itu.

  6. Akhirnya ceritanya muncul di blog mbak. Hehehe. Aku udah nunggu2 lho. Hehehe. Untuk itu terimakasih aku haturkan pada dirimu dan keluarga mbak. Hehehe

    Emmm. Kayanya emang seru banget ya mbak trekking di hutan gitu. Semoga kalau makin rame sama turis hutannya gak dibikin macem2 ya dengan alasan mempermudah ini mempermudah itu (fasilitas). Biar tetap lestari hutannya.

    Mbak rika kalau boleh aku tanya2 tentang biaya perjalannya dong. Bisa kah mbak?

    1. Boleh aja, Fela. Semoga akunya sih masih inget ya.
      Email aja ke seerika@yahoo.com

  7. Seru bangett, komplit pula ceritanya.. Bisa ngebayangin Kai dan Sami hebohnya gimana gara2 sering liatin IG Storiesnya kamu hihi..

    1. Bener, anak-anak seneng ikut trekking. Walaupun abis itu capeknya 3 hari

      1. Waduh 3 hari mayan yaaa hahaha..

  8. Aaaaaa kayanya seru banget jadi pengeeen XD definitely masuk wishlist nih… Kai sama Sami kereeen… aku mah tipe kaya kak Rika yg banyak ngos2annya kalo kudu mendaki gunung lewati lembah 😂😂😂

    1. haruuus! masuk wishlist! Perginya rame-rame 5-7 orang biar satu grup isinya cuma kalian aja. Kalo sama temen sendiri kan lebih enak ngaku capek.

      1. Hehehe bener kaak, malunya engga segede kalo sama orang asing yaa XD
        Makasih rec nya kak Rikaa~~

  9. wah jadi pengen… kai lagi libur ya mbak?

    1. Benar, Kai lagi libur sekolah

  10. Seru amat… Jadi pingin trekking, daripada di depan komputer mulu jadi cucumber 😀
    Tapi gw teh takut turun uy kalo trekking, manjat mah ga masalah, giliran turun gunung bakalan jerit-jerit takut kepleset 😐

    1. Kembali ke FIN gue balik jadi mentimun 😀
      Buat gue mau manjat mau turunan, dua-duanya masalah. Jalan datar aja sukanya 😀

  11. Komplit banget ceritanya, senang juga bacanya, lihat keseruan mbak Rika sekeluarga. Salut deh pokoknya! 😉

    1. Mikko pernah juga masuk hutan di Maluku sana, Adhya. Lupa aku, di Ternate apa Halmahera ya. Sampe nyasar-nyasar dan pas balik ke Jakarta kakinya luka-luka karena kebeset-beset ranting

      1. Oh ya? Hebaat jauh bener Mikko bisa sampai ke indonesia bagian timur ini, yang asli indonesia aja jarang mau kesini,hehe
        Ih seandainya mbak Rika ikutan ma Anak2 kita bisa kopdar kali ya di Ternate, hehe

  12. Aku syuukkkaaa cerita-ceritanya Mbak Rika. Semoga selalu rajin dan diberi energi lebih untuk update blog yaaaa. Jangan kayak aku yang suka stalking tapi malas nulis ehehehe… Cemunguuuddd Mbak, salam untuk Kai dan Sami, mereka hebaaatttttt ❤

    1. akyu pun pemalas nge-update blog. ceritanya banyak tapi nulisnya malas

      1. Mungkin Mbak Rika bisa coba upgrade blognya supaya bisa di monetize. Kayaknya kalau ada pundi-pundi dollar yang masuk, Mbak Rika bisa lebih cemunguud nulisnya 😀

  13. huaaaaa mba Rika yang jauh2 dari Finland aja udah ke sini, aku kapan yaaa huhuhu

    1. ayo rencanakan liburan ke bukit lawang. liat kalender cari long wiken.

  14. bemzkyyeye · · Reply

    aihh ketjeh Rik, pengen ah pan kapan kesana 😀

    1. sama anak-anak, ye. pasti seruuuu

  15. Hai kakkk…sudah kembali ke Finland yaa.
    Terima kasihhh udah nulis lengkap bener ecotravel ini. Aku ngarep banget dirimu nulis soal perjalanan ke Bukit Lawang pas liat foto2 IG kemarin. Menarik banget yaaa..senang ngeliat wisata di Sumatra Utara sudah diusahakan ramah lingkungan. Mudahan bisa jadi sumber pemasukan yang jauh lebih menarik dan menguntungkan supaya hutan bisa lestari. Gak dibuka jadi kebun sawit doank 🙂

  16. Panicihuy · · Reply

    waaah… akhirnya update blog.. makasih ya mbak rika info super lengkapnya.. waktu liat di IG penasaran kayak apa sih bukit lawang itu… dan dirimu meski mengaku capek&kesusahan selama tracking 8 jam, tapi ternyata bisa survive dan bisa dinobatkan sebagai incess tangguh setara mulan dan moana, hihihi..

  17. Rik, postingan ini keren sekali pokoknya! Gue ngebaca serasa ikut masuk hutan dan merasakan kegembiraan kalian. Kalau lelah2nya gue cuekin aja hahahahaha. Bahagia banget sih Rik bisa pny keluarga yang hobi bertualang, sementara gue ngebayanginnya agak ga sanggup. Memang mental gue cemen kebanyakan ngemall kayaknya di Jakarta. Makin seneng liat lu bs sedeket itu sama orang utan, walaupun katanya gak boleh, tetep aja seneng!

  18. kaki ayaam. mb rika medan sekali istilahnya. sudah lama gak dengar istilah kaki ayam 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: