the best time

wp-1495640556793.jpg

Ada seorang teman yang bertanya ke gue “Suka kangen gak sih sama jamannya anak-anak masih bayi?”

Kebetulan si teman ini anaknya memang masih bayi. Masih enak digendong-gendong, dipeluk-peluk, dicium ratusan kali tanpa anaknya protes. Masa-masa paling bahagia jadi ibu katanya.

Karena sepertinya semua orang tau kalau Kai bayi yang super rewel, jadinya gak ada yang heran waktu gue bilang gue gak kangen-kangen amat sama jamannya anak-anak masih bayi. Selain itu, gue juga bukan tipe ibu yang sentimentil, yang sering bernostalgia ke masa lalunya anak-anak.

Tapi alasan utama kenapa gue gak kangen sama masa-masa bayinya Kai dan Sami adalah karena masa-masa terbaik jadi ibu buat gue adalah sekarang ini. Biarpun anak-anakku udah besar, udah berat buat digendong-gendong, udah suka emoh dicium di tempat umum, tapi di rumah mereka masih menghujani gue dengan pelukan dan ciuman.

Gak sekedar itu!

Sekarang juga mereka udah pintar berkata-kata.  Setiap pergi sekolah Kai selalu bilang “Aku cinta äiti” yang akan gue jawab dengan “Äiti cinta Kai” dan lantas dijawab lagi oleh Kai dengan “Aku lebih banyak cintanya…dadah..”

Setiap pagi dari hari Senin hingga Jumat kata-kata di atas udah jadi bagian dari rutinitas pagi kami.

Sementara Sami masih bertahan dengan satu juttu-nya. Ditengah-tengah kegiatan ada aja anaknya memanggil gue karena katanya dia punya satu juttu alias mau peluk äiti. Dan sekarang ditambah lagi dengan perkataan “Aku syinta äiti banyak seperti avaruus” alias cintanya Sami buat äiti seluas alam semesta (avaruus)

“Äiti cinta Sami lebih banyak lagi”

“Ha..ha…haaa….gak mungkin. Gak ada yang lebih banyak dari avaruus. Aku yang menang” Sami terkekeh gembira.

Ucapan cinta seluas alam semesta biasanya diucapkan ketika gue mengantarkan Sami tidur dan diucapkan lagi di pagi hari ketika Sami bangun tidur dan terus mencari äiti untuk kasih ciuman selamat pagi.

Gimana mungkin gue gak bahagia kalau mengingat dua anak yang dulunya bayi kecil tak berdaya sekarang udah lancar berbicara dan mulutnya digunakan untuk mengucapkan kata-kata yang semanis itu?

wp-1495640556807.jpg

Gak sekedar cinta-cintaan, gue juga bahagia banget waktu mendengar Kai menjelaskan masalahnya, kekhawatirannya, kesedihannya lewat kata-kata. Anakku Kai memang dari dulu gampang frustasi, gampang putus asa, hatinya terlalu sensitif, tapi ternyata dia menyadari semua hal itu dan dapat menjelaskannya dengan baik ke orang lain. Katanya Kai gak tau gimana caranya supaya dia gak lagi gampang marah-marah, kecewa dan merasa rendah diri tapi sekedar Kai menyadari kalau dia punya masalah aja gue udah bangga banget.

Apalagi waktu gurunya bercerita kalo Kai anak yang baik, dapat mengikuti proses belajar mengajar dengan baik, pinter main bola, disukai oleh banyak orang dan terpilih jadi perwakilan kelasnya. Ciyeeee…anakku ikut OSIS nih yeee. Masih teringat, kurang dari setahun yang lalu, tiap pagi Kai mengeluh takut pergi sekolah.

Dan Kai sekarang sudah berani pergi dan pulang sekolah sendiri!  Kadang-kadang gue dan Mikko masih mengantar atau menjemput Kai dari sekolah karena suka juga muncul perasaan kangen ngemong anak. Apalagi kalau liat muka senangnya waktu tau gue datang menjemput. Tapi sungguh bahagia rasanya tau bahwa Kai udah bisa pergi sendiri sementara gue juga percaya bahwa Kai akan baik-baik aja selama perjalanan. This is a big thing for us. Kai sudah semakin mandiri, sudah berhasil mencapai tugas perkembangannya untuk anak-anak di kalangan peer groupnya dan gue juga berhasil melalui satu milestone baru sebagai orang tua.

Dan sekolah Kai! Bahagianya gue sama sekolah Kai ini. Gurunya Kai luar biasa baik dan Kai juga sayang sekali sama gurunya. Menurut Kai makanan di sekolah juga enak-enak dan Kai suka salad yang disajikan di sekolah. Seneng banget rasanya mengirimkan anak setiap pagi ke tempat yang aman, sehat dan menyenangkan.

Kai juga ikut les bola dan les piano. Sepak bola udah jadi bagian hidup Kai yang teramat penting. Sebagian besar teman-temannya juga dari klub bolanya. Dan karena bola juga dia banyak berteman dengan anak-anak kelas lain di sekolah. Bahkan dengan anak-anak dari kelas besar.

Berkat sepak bola rasa percaya diri Kai yang teramat rendah itu juga meningkat. Kai lumayan pintar main bola dan dia tau itu. Sejak ikut klub bola dan latihan bola hampir setiap hari, kegiatan mengipas-ngipaskan tangannya menghilang. Mungkin memang dulu itu Kai terlalu bosan di Indonesia, gak banyak kegiatan hingga pikirannya lari kemana-mana. Sekarang ini Kai terlalu sibuk, gak ada lagi waktu untuk banyak-banyak berpikir tentang kemalangan dunia. Hatinya bisa lebih tenang.

Kai juga les piano. Jangan tanya gimana malasnya Kai latihan piano. Bikin gue suka naik pitam. Tapi Kai sukaaa sekali sama guru pianonya. Padahal gurunya dingin-dingin kaku macam es batu. Entah apa yang Kai suka dari dia. Berkali-kali gue “ancam” Kai untuk berhenti les piano tapi anaknya langsung menjerit-jerit bilang kalau dia suka sekali les piano tapi gak suka latihan (di rumah)-nya aja. Gue tau banget yang Kai suka itu ngobrol-ngobrol sama guru pianonya. Äiti bayar kursus mahal-mahal akhirnya cuma dipake buat jadi ajang ngobrol. Kesel-kesel tapi geli liatnya.

Eh, kok ngomongin Kai terus ya?

Samiun bagaimana?

wp-1495640556794.jpg

Suatu hari gue dan Mikko mengantar Sami ke päiväkoti. Baru aja kami masuk, dua anak langsung menyerbu Sami “Sami…Samiii…liat…ini kita bikin pesawat. Yang ini pesawat luar angkasa” kata mereka sambil menunjukkan lego bikinan mereka. “Ayo cepat…ayo cepat kita bikin lagi sama-sama” kata mereka lagi memburu Sami untuk cepat-cepat melepas jaket dan masuk ke ruang bermain.

Sami itu anakku yang pendiam, introvert abis dan susah berteman. Pastinya hati gue langsung hangat melihat sekarang Sami punya dua teman baik di päiväkoti. Iya dua. Cuma dua aja orang-orang yang Sami anggap teman, yang lainnya cuma teman sekedar kenal karena Sami memang susah merasa dekat dengan orang lain. Gak seperti Kai yang  anaknya suka SKSD.

Tapi dua jelas lebih baik daripada tidak ada. Jaman dulu waktu Kai masih di päiväkoti, Sami malah gak punya teman sama sekali. Kerjanya cuma jadi bayang-bayang Kai, mengikut kemana Kai pergi, main apa yang Kai mainkan, dan Kai juga yang jadi juru bicara Sami karena Sami memang jarang buka suara.

Sekarang Kai udah jadi anak sekolahan, udah gak bareng-bareng lagi sama Sami di päiväkoti. Sami pun mulai mencari temannya sendiri dan mulai banyak bicara di päiväkoti. Sebuah kemajuan besar untuk Sami.

Sami ini memang anak yang gak bikin susah. Kalau Kai banyak menyedot perhatian, Sami justru ambil posisi jadi background.  Anaknya pendiem banget dan sangat mandiri sampai kadang-kadang gue suka lupa kalo di rumah ada Sami. Bisa banget dia  main sendiri berjam-jam di kamarnya. Yang kedengeran cuma suara “Piiiuww….piuuuww…dhuaaaarrrr” rekayasa pesawat luar angkasa lagi bertempur. Saatnya makan anaknya akan makan dengan khidmat, tidur pun udah bisa tidur sendiri, dan kalau sudah bosan bermain dia akan ambil remote dan cari tontonan di tivi. Sami ini macam anak ayam aja jadinya. Ngacir dan tumbuh sendiri tanpa harus banyak diurus.  Baik di rumah mau pun di päiväkoti ceritanya sama. Sami selalu jadi anak yang gak banyak menuntut perhatian dan bahagia dengan dirinya sendiri.

Menurut Mikko, Sami juga anak yang diam-diam pintar. Sampai sekarang, di umurnya yang sudah 5 tahun, Sami gak pernah minta diajarkan membaca ataupun berhitung. “Nanti aja kalau aku udah lebih besar” begitu katanya tiap kali gue bertanya Sami udah mau belajar membaca belum?

Tapi datang saat-saat dimana kami dikejutkan Sami dengan pengetahuannya. Ternyata kok Sami udah tahu alfabet? Kok udah bisa tambah-tambahan sederhana? Belajarnya kapan? Yang ajarin siapa?

Gak ada yang ajarin tuh ternyata. Sami cuma suka memperhatikan. Memperhatikan waktu dulu Kai belajar membaca. Memperhatikan Kai berhitung. Memperhatikan Kai mengahapalkan bendera-bendera mancanegara. Dan diam-diam sebagiannya direkam di otak Sami. Memang Sami sungguh tipe anak ayam. Gak perlu banyak-banyak diasuh tau-tau anaknya bisa sendiri.

Kamu kok pinter banget sih, Samiun?

Dan semakin hari Sami semakin pintar, ada aja keahlian barunya. Begitu pula Kai.

Ya, memang, nakal-nakalnya juga bertambah termasuk berantem-berantemnya. Setiap hari ada aja tingkah laku anak-anak yang bikin gue dan Mikko capek, sedih, kesel tapi satu kali aja mereka berbuat manis, hati kami langsung melayang saking bangganya.

Hari ini Kai pulang sekolah sendiri dan tadi itu dia juga udah bisa menunggu di rumah sendirian selama satu jam hingga gue pulang kerja. Sementara Sami yang pendiam itu tadi lancar memperkenalkan dirinya di acara pertemuan dengan daycare baru. “Aku namanya Sami. Aku suka berantem-beranteman”

“Sami kok pinter banget” kata isinya terharu.

Gue tau ada anak-anak lain seumuran Kai dan Sami yang udah kaya prestasi. Jago piano, khatam quran, juara masterchef, dll. Tapi ternyata hal-hal sederhana juga udah cukup bikin bangga gue melambung setinggi langit buat anak-anak.

Kalau katanya anak-anak adalah berkah, pasti berkahnya ini…hatiku dibikin gampang bahagia sama mereka. Gak pake bayar mahal, gak pake ribet. Bocah mau difoto aja äitinya udah seneng banget.

Gue bukan tipe ibu yang berkata “don’t grow up too fast” atau “pengen bocahku jadi bayi lagi”. Semua kerja keras, kurang tidur dan nangis bombay gue dulu itu kan supaya anak-anakku bisa seperti sekarang ini. Pintar, mandiri, baik dan bahagia. Semakin hari bertambah, semakin anakku tumbuh dan berkembang, semakin gue bahagia jadi ibu.

Masa paling bahagia jadi ibu  adalah sekarang.

20170401_102422

Advertisements

33 comments

  1. Gena · · Reply

    Supeeerrbb Mbak Rikaa!! Jd ikutan terharuu 😢 Kaiii Samiii pintar sekalii beruntungnya kalian punya Aiti dan Isi yg luar biasa hebat, kebahagiaan sederhana yg hakiki 👍🏻😘

    1. kebahagian hqq ada dianak-anak kalo rasa yang hqq ada di nasi padang

  2. Ikut hangat hati ini bacanya Mbak Rika!

    1. ma’acih

  3. Baca ini pas lg mlenyat-mlenyot hatiku ngadepin anak yg jejeritan krn bekas sunatnya sakit. This too shall pass (self pukpuk). Kai dan Sami semoga makin gede makin soleh, penyayang dan cerdas yaa! 🙂 Btw Kai udah usia brp?

    1. awww..B udah sembuh belum? Dulu pas Kai sunat aftermathnya lumayan horor. Sutrisno memang yaaa.

      Kai sekarang udah 7 tahun, memtyk

      1. Blom sembuh doiii 😦

  4. Nice writing.. bagus banget Mba..

    1. ma’acih

  5. Ehehehe, padahal aku tipe kakak/sepupu yang gak pingin bayi” itu tumbuh besar sebenernya wkwkw. Kalo masih bayi gak bau kecut, trus bicara cadelnya menggemaskan, trus kalo jalan kan belum teteh, jadi kaya pinguin lucuuu. Trus manusia kecil tuh aduh, superb deh.

    Eh tapi setelah baca ini……ya gimana ya, waktu gak bisa dihentikan untuk membuat mereka makin dewasa dan pintar. Mungkin gak selucu waktu bayi, tapi kejutan” ‘kedewasaan’ dan ‘kepintaran’nya patut disyukuri (dan didukung) wkwkw.

    Kai, Sami, you two such a great boys!
    Bless for your family ❤

    1. kalo anak orang aku juga sukanya pas masih bayi. Lucu, bulet, menggemaskan.

      Tapi menyaksikan tumbuh kembang anak sendiri tuh rasanyaaa….laaaf banget

  6. Mbak rikaaa, sering sering snapgram sama kai dan sami doonggg 😍😍

    1. aku sih mau tapi anak-anak susah banget direkam. pada emoh liat kamera

  7. kaaaaa, ini bacanya bikin ati anget loh! sehangat kuah bakso!! HAHAHA ..
    duh duh kai sama sami bener2 bikin aiti sama isi bangga yaaaaa … seneng banget kalo baca cerita soal sami sama kai … eh cerita soal aiti juga koq hahahaha ..

    peluk peluk jauh semuanya!

    1. BAKSOOOOOOOO. Jadi pengen kan.

      namanya orang tua yaaah, apa pun yang dibikin anak pasti bikin bangga. Padahal kalo anak lain yang bisa begitu, belum tentu aku akan kagum

  8. “Aku lebih banyak cintanya!” Awwwww mengharukan banget!

    1. anakku kai emang suka romantis

  9. Kai sama Sami manisss bangett!!!

    1. Kadang-kadang, Pungky.
      Gak manis dan ngambek-ngambeknya juga buanyak banget.
      Sama lah kaya anak-anak lain

  10. Sami…cintanya seluas samudera…ngasuhnya kayak anak ayam…hahahaa..Samiiii manis sekali. Gimana ga bahagia ya liat mereka sekarang bertumbuh dan bisa bikin kita GR tiap hari. Makasih sharenya Rika…betul..masa bahagia jadi ibu adalah sekarang….

    1. Sami anak ayamkuuuu, hehehehhee
      Bahagia amat kalo anak ngucapin kata-kata sayang

  11. Seneng banget bacanya, Kai dan Sami tumbuh jadi anak yang santun dan penuh dengan cinta *peluk Kai & Sami* 😀

    1. Errr…mereka gak santun-santun amat sih. Kadang suka akward gitu kalo ada orang lain karena mereka gak mau salaman atau ngomong terlalu blak-blakan. Tapi buat aku, mereka dua anak yang manis-manis banget. Yah, namanya juga anak sendiri

  12. Bahagianya punya anak seperti Kai and Sami…

    1. jadi ibu memang begini sepertinya, bahagia kalo ngomongin anaknya

  13. Tiap anak istimewa dan begitu pula dengan tiap pertumbuhan mereka ya mba Rika. Thanks for sharing 🙂

    1. Tiap anak istimewa dan begitu pula dengan tiap pertumbuhan mereka —> betul sekali!

  14. lucunyaa ❤

  15. Mba Rika, sweater sama rambutnya sukak beneerrr *salpok mutlak

    Post semacam ini yang selalu jadi kaporit aku di blognya Mba Rika. As you know, aku fangirl nya Kai sama Sami kan hahahah. Kalau dilihat dari cerita-cerita tentang pertumbuhan dan perkembangan Kai sama Sami sejak bayi, kelihatan banget kalau Mba Rika dan si Bapake mendidik Kai sama Sami dengan baik. Dan kelihatan mereka sangat dekat dengan orangtuanya, sangat dekat juga satu sama lain.

    Btw tapi memang waktu jalannya kaya yang cepet banget… Masih inget banget dulu baca Kai masih ‘ngakalin’ Sami pas milih yoghurt hahahah itu kocak dan manis banget. Sekarang masing-masing udah makin pinter, dan aku terharu betulan baca tentang Kai. Never met anyone dengan hati selembut dan sesensitif Kai, dan aku ikutan bangga liat dia masuk sekolah dan sekarang udah lebih berani beraktivitas sendiri. Dan Samiun…. Taelahh, anak ini memang romantis atau berjiwa puitis sih? Seluas alam semesta?? Seriously?? Kamu mau bikin pembaca blog ini meleleh semua macem mentega dipanasin kah? Dan ternyata dia menyerap banyak ilmu hanya dari mengamati ya, kereeeennnnn….

    Hahah maap panjang banget komenku. Btw selamat berpuasa Mba Rika sekeluarga

    1. Pilih Yoghurt! Astagaaa…cerita lama hampir kulupa. Jadi kubaca lagi dan ngikik sendiri deh. Makasih ya udah ngingetin.

      Tapi aku jadi gak enak nih baca komen kamu. Aku sih ngerasanya banyak banget kurangnya jadi orang tua. Anak-anakku juga banyak kekurangan di beberapa hal. Dan tentunya mereka juga ada nakalnya, ada juga masalah-masalahnya. Tapi yang ingin kuingat dari mereka ya masa-masa bahagianya. Hal-hal yang bikin aku bangga, biar sekecil apa pun

      Satu hal yang aku memang bangga kayanya sih soal gombal-gombalannya bocah. Bikin bagga dan bikin hati meleleh

  16. mba rika yaampuuuun, ini manis banget! aku sbg pembaca bisa sekali merasakan perasaannya dan iri banget. ini kalli ya yg dinamakan lifegoals buat seorang ibu? irinyaaa.. nanti kalau aku sudah jadi ibu semoga bisa mendapatkan cinta spt mba rika ya. 🙂

    1. Amiiinn

      Aku yakin banget, kalo udah jadi ibu pasti bakal ngerasain begini juga. Hati berbunga-bunga karena anak. Aku yakin semua ibu ya perasaannya begini tapi gak semuanya nulis di blog sih, hehehehe.

  17. qonita · · Reply

    mbak rikaaa…..makin nge fans aku ama mbak rika dan family XD
    Sami dan Kai ini tipe yg saling melengkapi yak..seneng deh liatnya..
    moga selalu menginspirasi mbak XD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: