sang pembela agama

Biar ngerame-ramein 212, ya. Sekalian aja kita angkat topik anget hari ini walaupun kisahnya agak jauh dari Monas, berbelas ribu kilometer jauhnya karena gue mau cerita tentang tetangga gue di Kerava sini, ibunya Samir dan Sabina, yang dalam tulisan ini kita sebut aja namanya Bija.

Bija ini udah sekitar 10 tahun hidup di Finlandia. Asalnya dari Afganishtan, datang ke sini karena menikah dengan suaminya, sesama warga Afganishtan yang sudah lebih dulu pindah ke Finlandia sebagai pengungsi. Sudah tiga tahunan ini suaminya menjalani pernikahan poligami. Ada istri ke-dua yang dia nikahi di Kabul sana jadi hidupnya pun terbagi dua – setengah tahun di Kerava, setengah tahunnya lagi di Kabul. Bisa dibilang Bibija  ini setrong banget lah setiap tahun ngalamin jadi single parent selama 6 bulan ngurus dua anaknya yang masih usia sekolah.

Sebagai warga Afganishtan, gak heran dong, ya, kalau Bija ini muslim. Biarpun muslim tapi bukan berarti Bija jadi emoh temenan sama warga lokal, ataupun pendatang dari negara lain, yang beda keyakinan. Malah Bija punya banyak banget temen orang lokal sini. Tiap wiken ada aja acaranya ketemu temen anu, ketemu temen itu. Gak kaya gue yang hidupnya sepi nelongso di Kerava.

Gimana gak banyak temen kalau Bija ini baiknya luar biasa ke semua orang? Tiap masak banyakan dikit, dia bagi-bagikan masakannya ke tetangga. Kebetulan dia suka bikin roti, pas banget sama selera orang sini yang memang suka mamam roti. Tiap lebaran Bija bikin acara makan-makan mengundang teman sesama muslim maupun yang non muslim. Biar orang lain tau kita yang muslim ini juga punya pesta sendiri, begitu kata Bija.

Malam natal pun Bija bikin acara di rumahnya. Bukannya mau ikut-ikut natalan, tapi karena Bija tau ada beberapa tetangga Finlandianya yang hidup sendiri, tanpa anak, tanpa suami. Natal itu kan erat sekali dengan acara kekeluargaan di Finlandia sini. Kebayang gak sih sedihnya sendirian di hari Natal? Sama kaya kita yang muslim juga pasti sedih banget sendirian di hari raya. Karena itu dibikin lah oleh Bija acara makan-makan malam natal di rumahnya sambil mengundang beberapa tetangga yang dia tau gak punya keluarga.

Jangan takut, ma fren, Bibija tetap muslim yang taat yang gak lantas jadi kebarat-baratan. Tetap rajin ibadah, selalu masak daging halal hasil beli jauh-jauh ke Helsinki dan lancar berpuasa 21 jam di musim panas.

Banyak juga budayanya baik sebagai muslim, maupun sebagai warga Afganishtan, yang dia bawa ke Finlandia. Misalnya aja, udah berdarah-darah di rumah sakit pun Bija tetep ngotot minta ditangani dokter perempuan sampai RSnya kewalahan panggil dokter dari RS lain.

Bija juga gak pernah mau nemenin anak-anaknya berenang karena di Kerava gak ada kolam renang khusus wanita sementara dia gak pede pakai baju renang musli. Takut gak nyaman karena justru akan mengundang perhatian orang. Berasal dari budaya yang sangat patriakal, Bija juga menerapkan pola asuh yang agak berbeda dalam mendidik anak perempuannya (Sabina) dan anak lelakinya (Samir), gak seperti orang Finlandia yang apa-apa maunya sama dan seimbang.

Perbedaan budaya yang dibawa Bija ini tentu saja menimbulkan tanda tanya untuk beberapa temannya yang orang lokal. Beberapa dari mereka bahkan sempat protes “Kamu kan udah gak di Afganishtan lagi, Bijaaaa…ikutin cara sini dong”  Tapi Bija sih tetep pada pendiriannya sendiri. Ada beberapa hal dimana dia ikut caranya orang Finlandia, ada beberapa hal yang tetap dia jalani sesuai dengan pendiriannya sebagai muslim dan/atau warga Afganishtan.

Temen-temen Bija merasa mereka sudah menyuarakan pendapatnya, tapi mereka mengerti mereka gak bisa memaksa Bibija untuk meninggalkan prinsipnya, jadinya…agree to disagree, begitu istilah Cimahinya. Daripada maksa-maksa Bija untuk mengubah prinsipnya, mereka justru berusaha menolong Bija di area-area yang tidak bisa ia tangani seorang diri. Misalnya aja, Samir dan Sabina tetap bisa merasakan keriaan di kolam renang sambil ditemani oleh salah satu teman ibunya.

Gak cuma itu, ada juga orang-orang yang membantu Bija belajar membaca, karena memang Bija gak pernah ngerasain bangku sekolah selama di Afganishtan. Dia baru belajar membaca dan menulis, ya, di Finlandia sini. Ada juga orang-orang yang membantu menjaga anak-anaknya ketika Bija ada acara penting, dan ada aja tamu-tamu yang datang ke rumahnya sambil membawa bingkisan hadiah buat Samir dan Sabina. Bija punya teman-teman yang luar biasa baik tapi itu semua karena dia sendiri juga baik banget.

Sering gue dengar orang sini mengucapkan kekagumannya akan Bija. Ramah, murah hati dan penolong. Kata mereka, melalui Bija mereka jadi tau kalau ternyata orang muslim tuh baik amat, gak perlu ditakuti.

Mereka juga kagum liat Bija puasa tapi tetep lancar ngurus anak, ngurus rumah, belanja, sekolah, dll. Hebat banget sih orang muslim ini, begitu pikir mereka.

Bija gak seperti muslim lainnya, ada lainnya berkomentar. Bija mau berbaur dengan penduduk lokal, bahasa sininya gak sempurna tapi dia cukup lancar sepik-sepik suomi, dan Bija gak pemalas, dia rajin sekolah dan punya cita-cita jadi penjahit.

Maklum aja ya, reputasi komunitas muslim di Finlandia gak begitu bagus. Rata-rata pengungsi dari Finlandia memang dari negara muslim, dengan warga negara Somalia di urutan teratas diikuti dengan negara-negara lain seperti Irak, Afganishtan, Syria.

Sebagai sesama muslim, gue gak bisa tutup mata kalau kebanyakan komunitas muslim sini memang eksklusif sekali. Kurang berbaur sama warga lokal dan tingkat penganggurannya tinggi. Ini seperti membahas ayam vs telur sih sebenernya, susah menentukan mana yang salah duluan. Warga lokal yang diskriminatif atau pendatangnya yang gak mau berbaur. Dua-duanya punya kesalahan masing-masing, tapi gue sih…sebagai pendatang, berat rasanya buat terus-terus nyalahin negara yang udah baik amat mau nampung gue di sini.

Memang benar nyari kerja di sini susah, apalagi sebagai pendatang yang ngomong suominya masih belepotan, tapi gak nyangkal juga banyak dari pendatang yang memang MAUnya jadi pengangguran. Apalagi mereka yang berasal dari kebudayaan patriakal, wanita-wanitanya biasanya gak diizinkan bekerja, atau merasa tidak boleh bekerja. Gue gak ngerasa ini salah ya, namanya manusia keyakinannya bisa beda-beda. Tapi kalo situ gak mau kerja ya harus fair dong, jangan terus ngarepin unemployment allowance dari pemerintah sini. Karena kebanyakan yang terjadi ya gitu,…gak mau kerja tapi tetep mau duitnya. Kan gak adil.

Ya gimana terus gak ada ketegangan antara yang lokal sama pendatang kalau begini mah.

Nah…orang-orang kaya Bija ini lah yang kemudian sukses hadir dan mengubah persepsi masyarakat Finlandia terhadap pendatang, khususnya pendatang muslim. Buat gue, Bija ini sosok pembela islam masa kini.

Ada satu artikel bagus sekali dari Prof. Dr. Sarlito Wirawgan yang berjudul Mungkinkah Menistakan Agama.  Di zaman yang lagi panas begini, tulisan Mas Ito tersebut tentu saja menimbulkan banyak pro dan kontra. Ada yang marah-marah, katanya masa sih gak mau belain agama? Muslim kaya apa kamu?

Padahal, kalau menurut Pak Profesor, agama diciptakan untuk melindungi kita, umat manusia, bukan sebaliknya. Dan kita, sebagai umat, membela agama dengan cara menjalankan ibadahnya dan menuruti anjurannya dengan baik. Ketika kita menjalankan dua hal tersebut, kita udah jadi pembela agama. Apalagi kalau bisa jadi agen agama yang baik di tempat asing, bahkan kalau sampai harum namanya di kalangan orang-orang yang tidak seagama, wah…itu mah bisa dibilang udah jadi pahlawan kali, ya. Seperti tetangga gue Bija itu.

Jadi, kalau berdasarkan artikel Mas Ito di atas, membela agama gak berarti harus turun ke jalan, apalagi kalau sampai anarkis, apalagi kalau sampai menghakimi orang lain yang gak sependapat, itu mah bukan membela agama namanya. Membela ego sendiri sih mungkin iya.

Yah, seperti Bija tadi itu lah. Belinya daging halal, tapi gak lantas menjelek-jelekkan daging non halal di supermarket. Beliau muslim yang taat, tapi trus gak lantas musuhan sama yang gak segama.

Kadang-kadang ada juga loh yang berpikir muslim di Finlandia itu gila, mau aja puasa 21 jam. Tapi Bija mah cuek bebek, puasanya jalan terus dari subuh sampai magrib. Gak usah baperan dan marah-marah buat yang kasih komen. Sante aja dan tunjukkan ke mereka kalau dengan puasa kita memang mungkin jadi gampang capek, tapi gak sampe mati kok, malah segala tugas sekolah maupun rumah tangga tetep terurus.

Begitulah cerita gue tentang Bija. Sosok muslim di Finlandia yang sangat gue kagumi. Padahal kalau dipikir-pikir, dia itu bukan ‘siapa-siapa’ loh. Bukan ustadzah atau ahli agama terkenal, bukan ilmuwan ataupun karyawan beprestasi, lha, membaca saja dia tidak lancar. Tapi yang namanya contoh baik bisa datang darimana saja, bahkan dari orang-orang yang tidak terduga.

Dan kalau udah membaca sampai sini, ketebak dong ya kalau gue bukan pendukung demo 411 ataupun 212 (karena 212 yang gue suka cuma Wiro Sableng). Kalau ada  yang berkoar-koar rakyat udah meminta Jokowi untuk bertindak dalam dua demo tersebut, maaf aja, gue gak merasa suara gue terwakilkan di situ. Berapa ratus ribu orang yang ikut demo hari ini? Berapa juta orang dari 250 juta lebih penduduk Indonesia? Apa udah bisa dibilang suara rakyat?

Dan gue yakin ada banyak orang lain yang juga sama seperti gue. Yang sama-sama gak mendukung demo hari ini, yang sama-sama merasa demo kali ini lebih banyak muatan politiknya daripada pembelaan agamanya, yang sama-sama gak mengharapkan Presiden kita turun, yang sama-sama di belakang kubu Ahok, atau bahkan yang sama-sama merasa Ahok gak bersalah.

Yah, terus terang aja…bagi gue, Ahok memang mengucapkan kalimat yang sensitif kaya tespek di Kepualauan Seribu kemarin itu, tapi buat gue sih ya,..apa yang diucapkan Ahok gak salah. Agamaku selalu benar, Al-quranku pun selalu benar, tapi penafsirannya bisa saja berbeda dan bisa jadi salah. Cara penafsiran yang berbeda-beda ini bisa digunakan untuk memaksakan pendapat, menipu, membohongi, dan memanipulasi orang lain. Bija sudah jadi saksinya. Dia udah ngeliat dengan mata kepalanya sendiri gimana ISIS beraksi di Afganishtan dengan dalih “atas nama agama”

Tapi gue berusaha mengerti kenapa banyak orang menjadi emosional menyikapi ucapan Ahok. Agamanya boleh sama, tapi cara kita memaknainya ‘kan berbeda. Kebetulan gue gak merasa Ahok salah, apalagi kemudian jadi tersinggung oleh ucapannya, tapi gue mengerti kalau ada orang yang merasa sebaliknya dan beranggapan bahwa turun ke jalan hari ini adalah cara untuk menegakkan kebenaran. Itu hak kamu, jalankan sesuai keyakinanmu.

Tapi pliss…jangan kemudian yang kaya gue ini dihina dina sebagai kafir lah, gak beriman lah,  sesat lah, ada juga yang bilang yang kaya gue ini udah dapet tempat di neraka. Duh, atit anet loh hati ini bacanya. Pasti setuju kan kalau dalam Islam gak pernah diajarkan untuk menyudutkan, menghujat, menistakan orang lain? Apalagi kepada sesama saudara seiman?

Jangan lah meninggikan diri sendiri dengan cara merendahkan orang lain. Beda pendapat bukan berarti beda kadar keimanan, apalagi beda nasib di akhirat nanti karena yang berhak menentukan cuma Tuhan, bukan kamu.

Advertisements

55 comments

  1. Mba Rikaaa… sukaaa banget dengan postingan ini dan sukaa banget dengan cara mba Rika menyampaikan. Akupun merasakan apa yang mba Rika rasakan.. samaa bangeet.. dikomentarin kafir hanya karena nggak sependapat.. Padahal itu urusan personal kita dengan Tuhan, siapa kamu mudah sekali menghakimi..

    Kadang aku mikir, kalau belajar agama menjadikan diri jadi gampang marah, melaknat, dan gampang menghujat orang lain.. gimana ngga takut belajar agama.

    Demikian, maaf ya kalau curcol

    1. padahal justru melaknat dan menghujat itu kan yang sangat dilaran dalam agama ya.

      ini tulisanku juga curcol kok, semoga gak pada nanggepin dengan serius2 amat

      1. Nggak mbaak.. justeru bagus banget, tulisan curcol yang tidak playing victim dan menjudge yg lainnya.. aku mau nulis beginian masih belum bisa

  2. aku syuka syekaliiii ❤

  3. I do agree.
    Postingan kamu ini kok sama bgt dengan yg ada di pikiran gue selama ini.
    Salut ama Bija.

    Gue udah empet ama siaran TV, medsos dll yg propaganda. Mending ngeyutub aja lah liat beauty atau travel vlogger 😉

  4. Hahahaa inspiring as always! Setujuuu bgt kalo soal respect each others nya tinggi sekalii di Finalndia sini, contohnya kaya teman2 suamiku, saat kumpul main/kerja kelompok/birthday party dll yg lain sukanya pd minum alkohol even cuma nongkrong di pinggir danau sekalipun dan sementara suamiku tidak suka minum alkohol (krn mengikuti ajaran agama kita yg melarangnya) tapi mereka tidak mengganggap itu hal aneh, atau dikata2in lebay/pengecut dll (kalo di Indo kan udah pasti bakal dihina dina) malah saling menghargai (kya pas ultah tmn, suamiku khusus disediain jus & coca cola), saling menghargai tanpa memperdebatkan knp kamu begini begitu, tanpa memperdebatkan mana yg benar/salah, semuanya slg menghargai perbedaan msg2. Sama halnya kya di sekolah Malik bahkan kepseknya sengaja gak ngadain Halloween di sekolah demi menghargai perbedaan yg ada di sekolahnya, owhh ak terharuuu, ak yg agamanya msh dangkal ini tdnya excited mau beli2 kostum Halloween (tutup muka), disediakan muslim meals, jg mereka lihat diriku berhijab pun gak ada rasis2an, ak malah ngalamin rasis di negeri sendiri, ak malah merasa berbeda dan dibeda2kan di negeri sendiri, dmn kebanyakan memandang dr status sosialnya dkk.. Kalo soal Jokowi/Ahok no komen ahh, bener kata2 mbak Rika berbeda itu indah tp bkn berarti hrs saling hina dan hujat yaa, msh perlu belajar banyak lg nih akuu, bener kata Wina Risman ya ternyata kita itu perlu merantau keliling dunia biar wawasannya luas dan justru mengenal lbh dalam apa itu arti keberagaman. Nice share mbak👍🏻

  5. Tahun kemaren waktu Ramadan pertama di Belanda, tiap hari aku ditelpon sama mertua. Beliau memastikan aku ga pingsan sendiri di rumah haha. Karena menurut Beliau, ga makan minum 19 jam itu agak mustahil bisa dilakukan. Tulisan yang bagus Rika. Setuju dengan opinimu. Tuhan ga butuh dibela (apalagi sampai mengatasnamakanNya padahal ada muatan lain dibelakangnya) karena Dia kuasanya lebih dari ciptaanNya. Salam buat Bija, Rika. Salut! Aku kalau dikata2in Islam aliran ini dan itu dan diceramahi tentang masuk neraka, selalu kujawab : iya gpp saya masuk neraka, monggo kalau mau ngapling surga silahkan, jangan lupa kaplingannya ditulisi biar ga diambil orang.

    1. KuasaNYA lebih dari ciptaannNYA

      tulisan kamu di atas sesuai banget sama pendapatnya Sarlito. Dan sesuai dengan kata hatiku juga.

      Kayanya aku sehati sekali deh sama kamu dalam memaknai agama, Den (liat komen kamu di jaketbiruu juga). Ini sebenernya hal yang baru kutemui beberapa tahun belakangan ini lah, aku seperti mengalami revolusi iman. Menurutku sih gak jelek, aku jadi bisa lebih menghargai agamaku lebih dari sekedar “bawaan lahir” tapi menurut orang lain….ya gitu kali yaaaa….

      Yang berat ke aku tuh karena aku nikah sama orang asing dan tinggal di negara asing juga. Jadi banyak yang mikir pemikiran aku tuh karena suamiku lah, karena tinggal di LN lah, padahal menurutku sih ini karena aku sendiri. Memang suami dan tempat tinggal ada pengaruhnya, tapi bisa jadi kalaupun aku tetap tinggal di Indonesia dan menikah sama orang Indonesia, perubahan ini tetap terjadi. Aku kesel aja orang cenderung mencari kambing hitam dalam menghadapi kejadian kaya gini, padahal yang jadi masalah sebenernya tuh dogma-dogma yang sebenernya kurang kuat dasarnya ataupun udah gak sesuai jaman dan perlu dirubah. Aku sendiri cenderung percaya sama penafsiran kitab suci berdasarkan konteks, dan karenanya pengamalannya juga bergantung pada konteks tertentu. Dan terus dibilang jil jal jul.

      Lha, jadi curhat.

  6. Mba Rikaa kerennnn euyyy postingannya! Inspiratif skali! Dulu aku kira Indonesia udah bebas dari masalah gini-ginian, eh ternyata cuma terpendam aja dan baru sekarang meledaknya. Semoga Indonesia tetap aman deh dan salut bangettt buat Bija! Harus bisa niru kayak gitu ya mba 😀

  7. Mbak Rika, ini curahan hatiku sudah tertumpah semua di tulisanmu. 👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼

  8. Saya termasuk yg setuju sama aksi 411 dan 212 sih, tapi ga pernah lah Insya Allah sampe menganggap yg ga setuju kafir dll. Ga pernah juga menghina-dina yg gak setuju.
    Kalo ngomongin saling menghina, banyak juga saya lihat yg gak setuju menghina yg setuju. Menganggap bodoh, dll.
    Nah berarti intinya, saling menghargai pendapat aja ya mbak, masing-masing pasti punya alasan. Untuk bisa damai kan gak harus semua sependapat, asal bs saling menghargai aja.
    Btw, saya sepakat banget bahwa muslim kayak bija ini adalah pembela agama sejati di masa kini 🙂

    1. Nah iya setuju nih sama Mbak Rosa, saya juga pro aksi #411 dan #212, tapi nggak pernah kok nyela-nyela temen-temen non muslim, apalagi yang ngga ikutan aksi sebagai gak beriman, kafir, dll…

      Sebaliknya, semoga yang kontra aksi juga berhenti menuduh dan nyela-nyela yang ikutan aksi damai (dan super tertib) sebagai muslim ekstrim, ditunggangi (kuda keleus ah), pengangguran, kurang kerjaan, terbelakang, bodoh, dll… Meskipun kalo saya sih ngga atit ati, karena ngga merasa seperti yang dituduhkan hehe…

      Yuk, kita SALING respek… 🙂 #salamdamai

    2. Temen-temenku juga banyak kok yang setuju dengan 212 dan 411, dan sama mereka aku bisa diskusi tanpa harus tarik urat. Sama-sama ngerti lah buat menghargai perbedaan pendapat. Mungkin juga karena diskusinya langsung ya. Kadang aku ngerasa keterbatasan untuk ngomong secara langsung bikin orang jadi lebih gampang tersulut ya. Di dunia nyata sih adem, tapi di sosmed malah panas amat susansanya

  9. Sri sundari · · Reply

    Setuju Mb rika dengan tulisan ini.salam untuk bisa.

  10. mbak sama mbak sama. Pikirannya jenengan sama dengan saya mbak rika. Cintaaaaa dengan tulisannya. Untuk si bu Bija aku salut sekali. Udah mau di madu tapi tetep tegar suka memberi pula. Lengkap lah lengkap. Salam kagum dengan bu Bija dan terimakasih untuk tulisannya 🙂

    Heran juga memang dengan mereka-mereka yang suka menjudge orang sembarangan. Dikatai-dikatai ini lah itu lah. Lha situ siapa? Tuhan? Yang tidak suka kenapa harus dipaksa-dipaksa jadi suka ya mbak. Bikin gregetan ya……

    Udah gitu siaran tv yang menurut saya sekarang telah berubah menjadi sinetron. hahahha
    Kita yang masyarakat awam dijejali dengan rekayasa-rekayasa berita yang kian menjadi-menjadi. Sosmed menggila tv pun sama. hahahaha

    (ups maaf mbak rika malah jadi curcol)

  11. Couldn’t agree more! Tulisan keren!

  12. Great post Rika! 🙂 suka banget baca nya!

  13. mba Rika idolakuuuu, aku suka banget bacanya bener-bener mewakili perasaanku. Semoga kita semua jadi pembela agama dengan cara menjalankan ibadah dengan baik, gak perlu menghakimi orang lain 🙂

  14. Aduh mbak aku padamu lah pokoknya ❤❤
    Kalo aku sih udah males berpendapat sama beberapa orang karna males dikatakatain, jadinya kalo obrolan udah kearah demo kemaren lebih sering cengar cengir aja, ujung ujungnya melipir daripada debat nggak jelas.

  15. Post yang sipppp banget. Bija juga hebat deh! Bisa puasa selama itu…. Tapi segala hal yang dilaksanakan dengan iman itu pasti bakalan lancar deh….
    Kalau aku yang komen soal Ahok rasanya agak kurang pas ya? Soalnya ya emang aku merasa pak Ahok ga salah, tapi karena ga ngerti juga sebenarnya mengenai kitab suci orang lain jadi mungkin pemahaman dan pembelaan tentang hal itu jadinya kelihatan bias.
    Kalo soal aksi damai, sepanjang aman2 aja sih ga masalah… Tapiii menurutku sih mending duitnya dipake buat orang yang ga mampu deh, soalnya demo2 gituan sarat dengan kepentingan politik, banyak yang tunggangi… Apalagi kadang yang orasi itu bahasanya omg kasarnyaaaaa… Jadinya kan merugikan juga.
    Aku yakin semua agama mengajarkan yang baik… Tinggal kita manusianya yang bisa menjalankan ajaran agama kita atau tidak.

  16. Olie molie · · Reply

    Aku suka nihh tulisan mba YULIANTI diatas. Pass bener. Yg bikin sedih kalo agama sama tapi malah mendukung yg berseberangan. Saya hanya berharap yang berpendapat berbeda itu…coba lah kenalan dan bergaul dulu dengan orang2 yang dianggap kontra. Jangan ikut kontra terhadap sesuatu yang tidak benar2 kita pahami atau dalami. Sama juga sih jangan asal pro terhadap hal2 yang kita belum pahami dgn baik. Jika mau berpendapat di media sosial…gak ada salahnya riset dulu both side of story jadi bisa kasih opini seimbang dan logis. Bukan karena merasa tersinggung atau terluka dgn anggapan2 yang (jangan2 karena kitanya terlalu baper heheh)

    1. aku setuju kalo memang harus ada both sides of the story. Dan dua2nya harus dibaca apapun opini kita dalam kasus ini, jangan selektif dalam menerima informasi, cuma baca yang disukai aja. Dan bener sih…jangan terlalu baper sama opini orang lain ya. Mudah2an tulisanku gak bikin orang lain tersinggung

  17. Mbak..aku padamu..ditengah vertigo yg amat sangat membandel di kepalaku, sedikit adem baca postinganmu

  18. Salut sama Bija! Send my warm regards to her ya, Mbak Rikaaa.. btw skalian curcol ya, disini gw juga kemarin merasakan hal gak enak / gak nyaman/ terpojok karena melihat tudingan2 dari temen2 sesama muslim ke muslim lain yg nggak ikut atau mendukung 411/212. Ya kafir lah.. nggak waras lah, sakitnya tuh disiniiiii!

    Selebihnya kayaknya udah dirimu tuliskan deh ya. Sedih aja, kenapa sepertinya perbedaan tuh nggak bisa disikapi dengan damai. Its ok kan punya pendapat berbeda, tidak melunturkan kecintaan gw dengan agama dan Tuhanku..

    1. Sama Dil, sakitnya tuh di siniiiiii, biarpun cuma lewat status facebook (bukan omongan langsung) tapi langsung nancep ke hati.

  19. Dessy Setyowaty · · Reply

    Mba rikaaa, ijin share ke facebook ya

  20. Mbak Rika… Aku terharu banget bacanya… Hebat ya Bija…

  21. Halo mba rika, saya silent reader udah lama, suka ama resep lasagna satu panci hehehehe. Sebenernya masalah ahok saya juga engga suka sih dia menyatakan statement yang sensitif itu. Udahlah ga usah bawa-bawa agama, kepercayaan kita beda. Tapi saya tidak suka ama yang ngelakuin demo, banyak mudharatnya. Saya merasa takut loh dengan demo kemarin, padahal saya muslim. Dan saya engga pernah meminta siapapun turun dari jabatannya, itu mah mereka aja yang kurang kerjaan. Kalo engga suka ya pemilu selanjutnya ga usah milih dia, kenapa harus demo. Apalagi demo sambil bawa anak kecil, duh udahlah itu demo apa piknik sih hahahaha

    1. Aku rasa ini pemecahan masalah yang sebenenrya sederhana ya, tapi kayanya diabaikan “Kalo engga suka ya pemilu selanjutnya ga usah milih dia”. Sama juga kok buat yang pro ahok, kalo suka yang tinggal pilih, dan biarkan orang yang gak pro untuk gak memilih. Gak usah saling demo berbalas-balasan (iya, aku juga gak suka sama aksi 412)

  22. Super likeyyy

  23. Aku tambah ngefans nih sama aiti … kirimin bakso virtual 1000 biji buat aiti! salam juga buat si mbak bija itu, aku juga ikut ngefans sama pengen nyicip rotinya #modus

    gw juga benernya rada migren gara – gara 212, 412 apa lah … lebih tepatnya aku sedih karena indonesaku koq begini. ya gw di sini doa terus aja lah biar indonesa selalu maju, aman, tentera,

    1. AKU MAU TAGIH BAKSONYA!

      dan soal 412…sama aja sih, gue juga kurang nangkep maksud dan tujuannya. Mending uangnya dipakai buat hal yang lebih berguna

  24. cm bisa bilang *love love love*

  25. Tuh kan, mba Rika emang IDOLA banyak orang, ayok mba bikin buku!!!! Ijin share ya mba 😀

  26. agree!! ijin share dong mbak

    saya muslim, tp gak setuju sama sekali dengan demo tsb dan menurut saya kesalahan terbesar ahok adalah mengutip sesuatu yang sangat sensitive walaupun apa yang dibilang gak salah kalau secara bahasa (subyek, predikat dan object).
    walaupun kemarin demo nya damai tétap saya gak mendukung karena saya dengar sendiri, saat menuju kesana tetap banyak kata kata dari para peserta demo yang memojokan pihak tertentu. kembali islam itu indah dan tidak pernah menjelekan org lain. kalau mereka bilang ahok menistakan agama apa bedanya mereka yang juga menjelekan ahok?

    Beribadah adalah sesuatu yang paling pribadi yang menurut saya ajang curhat kita sama yang diatas, bukan berarti harus mengganggu aktivitas orang lain. coba kantor jadi libur, kalau yang karyawan nya gaji harian jadi gak dapat gaji atau gak dapat yang makan dong?

  27. Assalamualaikum mbak Rika,
    Selama ini saya silent reader saya suka sekali sama tulisan mbak, dan saya setuju banget kalau Bija itu sebagai agen muslim yg baik karena dia sudah mencontoh ahklak Rasulullah dalam hal berhubungan dengan sesama manusia. Tapi untuk masalah aksi super damai 212 saya ga setuju dengan pendapat mbak, karena seluruh dunia bisa saksikan aksi itu benar2 damai dan aman bahkan 1 batang pohon pun tidak ada yg patah. Secara ilmu komunikasi kalau ada kumpulan massa dengan jumlah yg banyak tidak mungkin kalau tidak ada gesekan tapi karena ini adalah panggilan Allah kumpulan orang yang fantastis yaitu 7,5 jt orang tapi semua nya aman dan terkendali bahkan penuh dengan rasa persaudaraan. Aksi kemaren itu sangat2 bermartabat dan tidak akan ada yang bisa menandinginya bahkan banyak orang yang ikut serta berasa sedang wukuf di Arafah. Kenapa bisa terkumpul orang sebanyak itu karena mereka merasa wajib untuk membela Agama nya dan juga ga rela ada diskriminasi dalam hal penodaan agama, selama ini setiap kasus penodaan agama selalu pelaku lsg ditangkap karena sudah diatur dalam undang2 tapi kenapa dg yg satu ini ga tersentuh itulah yg dituntut mereka. Mengenai Surat Al Maidah yang dibahas nya itu ayat adalah ayat yang sangat terang benderang arti nya jadi tidak ada multi tafsir dan juga bukan kapasitas dia untuk membahas kitab suci agama yg tidak dia anut apalagi sebagai pejabat publik harusnya lebih bisa menjaga sikap dan perkataannya. Mungkin memang itu adalah salah satu cara Allah untuk membuka topeng siapa dia sehingga terpelesatlah dia berkata seperti itu sehingga banyak umat muslim yg tadinya tidak tahu tentang Al Maidah ayat 51 jadi tau. Yah begitulah walaupun berbagai cara sudah dilakukan untuk menggembosi seperti Bus 2 dilarang untuk mengangkut tapi kami bisa berjalan kaki, bayangkan mbak berjalan kaki dari ciamis ke jakarta mereka sanggup atau bahkan mencarter pesawat pun dilakukan demi bisa ikut hadir dan semua bukan bayaran ya mbak, kalau bayaran siapa yg sanggup membayar bahkan mereka rela korbankan hartanya untuk itu semua.
    Aduh maaf mbak jadi kepanjangan nih curhatnya, mohon maaf kalau ga berkenan tapi saya cuma menyampaikan apa yg terasa di hati karena barangkali mbka ga tau yg sebenarnya tapi itu semua balik lagi ke masing2 orang orang karena seperti AA Gym bilang ini adalah “masalah hati”

    1. Walaupun ada hal-hal yang aku gak setuju dari 212, seperti isi khotbahnya yang menurutku gak begitu damai, dan juga pernyataan jumlah massanya (ini juga panjang perdebatannya di sosmed), tapi aku setuju dan salut dan kagum dan angkat jempol buat kelancaran prosesnya yang memang damai dan gak bawa keributan. HEBAT! Bener kata kamu, kalau hati sudah berbicara, efeknya bisa hebat.

      Mengenai multi tafsir Al Maidah ini, kembali ke tulisanku di atas…di kalangan ulama aja ada perbedaan cara penafsiran, jadi gak heran kalau di kalangan rakyat juga ada perbedaan pendapat. Kalau ada yang bilang tafsir yang mereka percayai itu adalah mutlak, silahkan saja untuk percaya seperti itu, jangan lupa untuk tetap menghormati orang berbeda pendapat atau penafsiran.

      Aku kebetulan berbeda sama kamu dalam memaknai ayat al maidah 51 ini. But it’s okay.

  28. Masya Allah, itu keren banget Ibu Bijaa *love love love*

    Saya ngga ikut shalat jumat dan doa bareng yang ramai dan damai banget kemarin itu, tapi saya kenal secara pribadi dengan banyak orang yang ikutan aksi #212. Alhamdulillah banyak diantara mereka yang keren kaya Bu Bija. Ngga dimadu sih hehe, tapi mereka baik, suka sedekah, bagi-bagi makanan, ngga nyinyir, dan punya hubungan yang sangat baik sama temen-temen yang beda keyakinan. Diantara temen saya itu juga ada yang kepala cabang di bank konven, pengusaha catering, dan kontraktor lumayan gede, bergaulnya juga bukan sama sesama muslim doang. Intinya, sama kerennya kok sama temen-temen Mbak Rika di Finlandia… Jadi jangan sedih Mbak 😀

    Mengenai cela-celaan, ngejudge, dan sindir-sindiran, duh itu ada di semua kubu kok, baik pro & kontra ahok, maupun pro & kontra aksi. Memang ngga sehat dan tentu saya juga ngga setuju, tapi kayanya kurang pas sih kalo tudingan “menyudutkan & menghujat” hanya ditujukan kepada yang pro aksi. Semoga semua pihak bisa saling legowo dan walk the talk ya… #salamdamai

    1. Halo Adinda, makasih untuk mengingatkan aku kalau saling cela dan menjatuhkan itu memang terjadi di kedua belah pihak. Ini bener banget. Dan dua-duanya bikin eneg apalagi kalo udah berlebihan. Yang satu sok pinter, yang satu sok suci, sama-sama ngeselinnya.

      Tapi aku rasa mengungkapkan opini, bahkan usaha untuk menggiring opini, sama sekali gak salah asalkan dilakukan tanpa pemaksaan dan dengan kalimat-kalimat yang gak menyudutkan.

  29. Saklek pokokonya pas denger 212 emang langsung keinget sm wiro sableng 😀 😀 😀 pendekar naga geni kapak maut 212

    1. POLISI 212! Kaporitku jugaaaaa

  30. Bija si diplomat islam:)

    Orang2 fanatis dalam beragama perlu dikirim ke negara lain buat ngerasain jadi minoritas.

    upsss disclaimer, sebelum saya dihujat, statemen diatas ga ada hubungan dengan aksi 212.

    Mbak rika juga, keren deh, bisa menyuarakan pendapatnya dengan baik lewat tulisan.

  31. 1000 jempol buat Mbak Rika….Im totaly agree with you mbak… *salim*

  32. Rik, ini kagak ada hubungan langsung sama 212 dan 411 yak. Mau cerita doang, temen gue ya kasian bener loh, kan dia urang Sunda ya, lu tau ndiri dah urang Sunda fanatiknya kayak apa. Kemudian dia ikut suami pindah ke Ostrali. Di situlah mata dia terbuka soal berbagai hal, termasuk soal Jkw yang selama ini dihina dina sama keluarganya sendiri, kemudian juga soal gimana dia skrg sebagai Muslim tinggal di negara sekuler. Suatu hari di FB dia nulis status soal dia support Pak Jkw. Nggak usah nunggu berapa jam, habis dia dihina dina dan dicaci maki sama keluarga sendiri sampe diadu-aduin ke ortunya. Aduh gue sungguh kasian deh sama temen gue itu… Emang bener kayaknya buat beberapa orang, kudu coba dulu jadi minoritas di negara lain, biar bisa membuka mata hati dan pikiran. Biar tau kalo dunia gak selebar daun kelor (sambil kunyah sari roti dan minum Equil biar segeran).

    1. Dear Mbak @leonyhalim,

      Ga semua orang Sunda fanatik kok..hehehe.. 😀
      Peace out

    2. Eh gimana, gimana, kalo ngejudge warga keturunan tionghoa (which i never did) itu ngga boleh karena sara n rasis, tp ngejudge urang sunda fanatik boleh? Hmmm…
      Talk about being minority, no worries… muslim minoritas di US, etnis rohingya di Myanmar, dan etnis uyghur di Xinjiang udah ngerasain kok gmn pedihnya.

      Semoga kebhinnekaan di indonesia tetap terjaga yaa, ngga perlulah menggiring opini kalo muslim Indonesia yang taat itu intoleran, lha mayoritas temen-temen nasrani dan agama lain disekeliling kita damai-damai aja dan bebas berkarya. Kasus intoleransi pasti ada (islam yang katanya mayoritas juga ngerasain kok, wong karyawan yang dilarang berjilbab masih banyak, pengguna jilbab lebar dan celana cingkrang juga banyak yang kenyang dicurigai dan dilabeli teroris), wajib diselesaikan tapi bukan untuk digeneralisir.

      #peaceyo

      -Adinda lagi-

  33. Emak si Neng · · Reply

    Rikaaa bagus banget tulisannya.. setuju banget. Kecuali mengenai 212 Wiro Sableng, buat gw sih paling top adalah Agen Polisi 212!

  34. Kalo masih banyak yang menulis artikel seperti ini, perasaan saya tentang Indonesia kembali positif :).

  35. i am late to the party…
    oh well saya termasuk yg setuju aksi 0212 kemaren….soal yg gak setuju sih wajar2 aja
    cuma yang bikin sebel sudah banyak yang negatif atau ngedoain rusuh duluan…meski gak kejadian kayak yg bulan sebelumhya…yang banyak banget ngedoain suapaya rusuh dan kejadian pas malam..haha

    pernah baca satu hasil study dari buku yang malah judulnya lupa:
    orang2 liberal yang katanya harusnya lebih toleran ama pemikiran lain sebenernya malah cenderung lebih gak bisa terima kalau ada pemikiran lain yg berbeda dengan mereka terutama dari orang2 konservatif..malah sebaliknya orang konservatif yang cenderung bisa menerima pendapat dari orang yg ga sepemikiran

    pas lihat kasus pak Ahok ii kok ya ku cenderung setuju ama hasil study riset itu haha

  36. Gue berkali-kali bahas sama Nino, secara logika aja, ga mungkin Ahok bunuh diri. Bego apa dia menista agama menjelang pilkada. Jadi banyak what if di tiap obrolan. Tapi ya pepesan kosong doang yang mandeg di meja makan.
    Anyway gue tetep merinding lihat foto-foto 212. Orang sebanyak itu sujud bareng-bareng, sejuk dipandangnya. Coba orang ngumpul sebanyak itu untuk hal selain ini. Mungkin juga perbedaan cara pandang ini karena kadar cinta dan cara kita mencintai agama kita beda-beda. Semoga di Indonesia makin banyak yang kaya Bija.

    1. Oiya, minus dimadu ya..
      Dan gue juga sebel sama yang mendewakan Ahok terus menganggap yang lain bodoh, membela membabi buta, dan menganggap beliau ga ada salahnya, padahal waktu itu bisa jadi beda cerita kl beliau rendah hati langsung minta maaf kl kata-katanya dianggap crossed the line, sebelum makin rame.
      Sama sebelnya dengan yang pro aksi damai tapi terus menyerang dengan kata-kata penuh kebencian yang merembet kemana-mana.

  37. Tulisannya cukup bagus.
    Dimulai dari bukti empiris kejadian yang ada dan dilihat sendiri.
    Kemudian diakhir tulisan membuat kesimpulan yang seolah2 menjadikan bukti empiris tadi menguatkan kesimpulan yang dibuat sendiri.

    Sebelum saya mengomentari terlalu jauh, maaf sebelumnya ada beberapa pertanyaan yang harus saya sampaikan :
    1. Apakah penulis beragama Islam?
    2. Kalau Iya, Apakah penulis mendirikan sholat (Mempelajari Adab,Rukun Shokat, Selalu Sholat berjamaah, Di Masjid dan tepat waktu) ?
    3. Apakah penulis rutin menghadiri majelis Ilmu Islam? Tiap hari apa?
    4. Setelah itu dijawab, kalau boleh kita lanjutkan diskusi.

    1. Mbak Rikaaaa…. I’m your big fan, and I love this post so much!!! Setuju banget mbak 🙂

      Mbak, minta izin nimbung dikit untuk bales komen salah satu komentator disini:

      To: Aries Phs.
      Siapa juga yang tertarik diskusi sama situ? Haha.

      Males banget sama tipe komen2 / orang2 kaya gini yang hobinya selalu berusaha men-judge iman/agama orang lain…

      Banyak teman2 saya yang Islam, solat 5 waktu, taat, haji, ada juga yang lulusan pesantren, ahli agama, hafal berbagai kitab hadis, tapi gak dukung 212 dan justru dukung Ahok.

      Masalah? Gak sama sekali! Karna emang gak ada hubungannya… itu masalah pilihan politik, bukan soal agama.

      Kalau Anda berpendapat berbeda, ya silakan lah… tapi saya juga Islam, solat 5 waktu, alhamdulillah sudah diberi kesempatan haji & umrah, ikut kajian Islam rutin, tapi buat saya dan banyak orang lainnya, masalah 212 itu masalah politik belaka. No more, no less.

      Saya dukung Ahok, dan gak tertarik diskusi sama Anda 😉

      1. I love you, Plaf.
        Sampe speechless dan terharu banget baca komennya. Makasih, ya.
        Seperti kata kamu, malesin banget sama orang-orang yang hobinya menghakimin keimanan orang lain. Dan menurutku, mau apapun keimanannya, mau gimana pun ibadahnya, semua orang tetap berhak berpendapat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: