serba serbi finlandia: tentang sekolah di finlandia

Ini masih kelanjutan cerita seputar sekolahnya Kai. Mengamati Kai bersekolah selama 9 minggu ini, termasuk pengalaman gue sendiri yang juga ikut nyicipin sistem persekolahan di Finlandia, ada beberapa hal yang bikin gue jadi ingin berbagi info dan opini tentang hal-hal yang berhubungan dengan sistem sekolah di Finlandia sini. Ingat yah, tulisan ini didasari oleh observasi pribadi dan riset yang sangat lah minim, karena itu tulisan ini sangat subjektif dan fakta-faktanya mungkin saja salah.

Oiya, sekedar info, empat tahun lalu gue ikut program integrasi di Keravan School for Adults (Keravan aikuislukio). Tujuannya sih untuk belajar bahasa sini tapi gue terdampar di program yang bertujuan untuk menyiapkan imigran-imigran muda buat lanjut sekolah di Finlandia, karena itu gue belajar bahasanya lewat pelajaran matematika, biologi, geogradi dsb. Bener-bener jadi anak sekolahan lah.

Selesai dari program tersebut, sekarang gue ikut lagi sekolah kejuruan – SMK kalo di Indonesia – mengambil jurusan memasak. Dua sekolah inilah yang gue maksud dengan “mencicipi sistem pendidikan di Finlandia”

koulu-jules

Tentang Pekerjaan Rumah (PR)

Ini salah satu hal yang harus dibenarkan kalau berbicara tentang sistem pendidikan Finlandia. Banyak yang mengira kalau murid-murid di Finlandia gak punya PR malah dibilang sistem pendidikan di Finlandia bisa bagus karena tidak ada PR. Sekarang, setelah melihat Kai bersekolah, bahkan dari kelas 1 SD murid-murid sini sudah harus rutin mengerjakan PR. Hampir setiap hari malah.

Biasanya PR rutin diberikan dari hari Senin hingga Kamis. Khusus hari Jumat atau menjelang libur tidak ada PR biar anak-anak bisa tenang menikmati waktu bebas mereka.

Ini bukan hal baru. Dari dulu sekali waktu gue baru pindah ke negara kulkas ini, gue udah liat anak-anak teman mengerjakan PRnya sepulang sekolah. Mereka juga suka bilang kalau PR sekolahnya banyak. Hampir tiap hari.

Sebenarnya juga, koar-koar bahwa sekolah di Finlandia tidak ada PR cuma gue temukan di artikel-artikel dalam bahasa Indonesia. Di artikel lain, terutama dari media ternama, biasanya disebutkan bahwa murid-murid Finlandia PRnya lebih sedikit daripada murid-murid di negara (Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dllnya tergantung artikelnya darimana).

Sebanyak apa sih PRnya murid kelas satu SD di Finlandia?

Kalau merujuk ke Kai, untuk anak kelas satu SD ada dua macam PR yang diberikan oleh gurunya: PR di lembaran LKS dan PR membaca.

PR membaca diberikan setiap hari dari Senin hingga Kamis. Untuk PR ini orang tua harus ikut terlibat memantau atau membantu anak membaca karena memang tujuannya supaya anak-anak lancar membaca. Setelah itu ortu harus membubuhkan tanda tangan di lembaran PR sebagai tanda bahwa anak sudah menyelesaikan tugas membacanya hari itu.

Ada juga hari-hari dimana Kai punya dua PR. Selain PR membaca sering juga dia harus mengerjakan tugas di halaman buku LKSnya. Menurut gue sih gak banyak PRnya. Palingan cuma setengah halaman aja dan namanya pun buku anak kelas 1, tulisan dan gambarnya masih besar-besar.

(EDIT: Mikko baru aja kasih info kalau PR yang diberikan dari hari Senin-Kamis di kelas Kai adalah kemauan murid-muridnya sendiri. Di minggu awal sekolah,bu guru mengajak anak-anak berdiskusi dan hasil diskusinya adalah anak-anak ingin ada lebih banyak PR)

img_20161013_160223

buku-buku sekolah Kai

Apakah PRnya susah?

Relatif ini, ya. Biasanya sih Kai bilang PRnya gampang karena Kai sudah bisa membaca. Bagian paling sulit dari PR tersebut justru dalam hal membaca instruksinya seandainya si anak baru belajar membaca.

Rata-rata PRnya masih seputar kegiatan gambar menggambar. Misalnya lagi belajar huruf A, anak-anak disuruh menggambar tiga benda yang berawalan dari huruf A. Bisa appelsiini (jeruk), auto (mobil), apina (monyet), dll. PR gambar kaya begini justru susah buat Kai karena anak-anak gue memang kagak ada yang bisa gambar. Berhubung udah dibilangin kalau tugas orang tua sekedar memantau, bukan ikut ngebikinin PR anaknya,  jadinya kami biarkan aja Kai menggambar sendiri. Hasilnya? Ya jauh bangetlah sama gambarnya anak-anak SD yang suka dipajang ibu-ibu di sosmed.

Untuk PR matematika, udah 9 minggu Kai sekolah, sampe hari ini di lembar LKSnya masih belum ada angka. Belajarnya masih seputaran pengenalan bentuk, konsep besar-kecil, sedikit-banyak dan semacamya yang semuanya disajikan lewat gambar. PRnya bisa berupa mewarnai lingkaran yang paling besar dengan warna hijau, lingkaran yang besar no. 2 dengan warna kuning dan lingkaran yang paling kecil dengan warna merah.

wp-1476364425551.jpeg

dari buku latihan menulis

wp-1476364425951.jpeg

tugas sekolah Kai hari ini. Menulis huruf O

Penasaran juga mau melihat di sekolah lain anak-anak belajar apa. Monggo loh kalau mau ada yang cerita soal PR-PR anaknya di kolom komen.

PR dan juga tugas-tugas di sekolah bisa berbeda tergantung kemampuan anak

Biarpun gak sampai seperti Montessori tapi sekolah di Finlandia berusaha untuk mengenali perbedaan kemampuan murid-muridnya, karena itu tugas-tugas sekolah bisa berbeda dari satu anak ke anak yang lain.

Misalnya aja, karena Kai udah lancar membaca, tugas membaca buat Kai dibebaskan boleh membaca buku apa saja sesuka hatinya asalkan dibaca selama 10 menit. Anak-anak lain ada yang tugas membacanya cuma 5 menit, ada yang bacaannya ditetapkan dari buku LKS. Beda-beda lah.

Karena aku ibu yang sombong, di lembaran tugas Kai, selain membubuhkan tanda tangan, gue tuliskan juga buku apa yang Kai baca hari itu, dari halaman berapa sampai berapa.

Iya, dong. Aku kan mau pamer anakku udah bisa baca novel. Bangga banget nulis Kai kemaren baca Roald Dahl. Sastra banget ih anaknya. Giliran Kai maunya baca dari LKS langsung gak mau nulis apa-apa. Terlalu biasa. Halah!

img_20161013_161835

tempat orang tua tanda tangan ketika anak menyelesaikan tugas membacanya

Kadang-kadang ada juga anak yang super rajin. Dikasih PR setengah halaman, anaknya malah ngerjain tiga halaman, halaman yang seharusnya dibahas di sekolah besok hari. Anak yang rajin begini suka dapet reward main ipad sementara teman-temannya ngerjain LKS di kelas. Kata Kai sih di ipad sekolah ada banyak games. Semacam games ‘edukatif’  supaya anak main sambil belajar.

Sering gue tanya Kai, pernah dikasih ipad gak di kelas? Gak pernah, jawabnya. Tiger mother langsung kecewa.

Jam sekolah juga bisa panjang

Secara rata-rata jam belajar sekolah Kai berlangsung selama 4 jam. Rata-rata ya ini. Karena di hari Jumat Kai cuma belajar selama tiga jam (10.15 – 13.00) dan di hari Kamis sekolah mulai dari pukul 8.15 hingga 13.00. Panjaaang. Hampir lima jam.

Anak kelas tiga, seperti Sabina si anak tetangga, jam belajarnya juga lebih panjang. Tiap hari Senin Sabina punya hari sekolah yang panjang (6 jam) dan di hari-hari lainnya sekolah berjalan selama 3-5 jam. Semakin besar kelasnya, jam belajarnya juga makin panjang.

Untuk gue yang sekolah di sekolah kejuruan, di awal semester sekolahnya singkat-singkat aja. Cuma 3-4 jam sehari. Tapi semakin lama semakin panjang sampe sering juga ada kelas dari jam 8 pagi hingga jam 6 sore. Bujubuneeeee.

Jadi gak bener kalau dibilang sekolah Finlandia punya jam sekolah yang pendek walaupun jangan dilupakan, sekolah di Finlandia memiliki waktu istirahat yang cukup panjang. Satu jam pelajaran di sini adalah 45 menit dan tiap subjek biasanya berlangsung  selama 2 jam pelajaran. Setiap 45 menit, siswa mendapat istirahat sejenak selama 5-10 menit dan setiap pergantian subjek ada waktu bebas selama 15 menit. Jangan pula dilupakan waktu makan siang selama 30-40 menit.

Di sekolah Kai ada juga waktu bebas panjang selama 30 menit  dari jam 9.45 hingga 10.15 setiap harinya. Waktu bebas ini dipakai siswa  untuk bermain di luar, tidak peduli musim apa yang sedang berlangsung. Biasanya Kai bermain bola dengan teman-temannya atau sekedar berlari-larian.

Kesimpulannya sih, jam belajar di dalam kelas lumayan pendek untuk murid-murid di Finlandia. Biarpun anak-anak yang lebih besar sudah mulai memasuki jam sekolah yang panjang tapi ada banyak jeda untuk mereka istirahat sejenak. Jam sekolah yang panjang tidak berarti melulu berkutat di dalam kelas.

Tentang ujian

Memang di Finlandia cuma ada satu ujian nasional yang diadakan menjelang anak-anak lulus SMP. Hasil dari ujian tersebut menentukan ke sekolah lanjutan mana mereka bisa mendaftar. Tapi kalo ujian harian sih lumayan umum, ya. Tergantung guru masing-masing, ada yang suka kasih ulangan ada juga yang gak.

(EDIT: Menurut Mikko, gak ada ujian nasional di SMP Finlandia tapi memang lulus SMP anak-anak dapat rapor bernilai yang akan digunakan untuk mendaftar ke sekolah lanjutan, SMA atau sekolah kejuruan)

Untuk anak kelas satu memang sepertinya belum kenal kata ‘tes’ atau ‘ujian’. Sampai sekarang Kai belum cerita dia ada tes di sekolah.

Pengalaman gue sendiri di sekolah kejuruan, dalam satu semester biasanya ada satu atau dua ujian, kadang malah sama sekali gak ada. Lagi-lagi tergantung gurunya. Pernah juga ketemu guru yang rajin kasih tes waktu gue masih bersekolah di Keravan School for Adults. Tiap-tiap abis topik ada aja ujiannya. Tapi bahan ujiannya jadi sedikit, belajarnya juga lebih fokus karena toh topiknya gak banyak dan pada akhirnya jadi lebih mengerti juga sih.

Semester yang dibagi dalam beberapa jakso 

Gue kurang tau bagaimana harus mengartikan jakso. Mungkin dalam bahasa inggris bisa disebut block system kali ya?

Sama seperti di banyak negara lain, tahun ajaran sekolah Finlandia terdiri dari dua semester dan dalam tiap semester ada beberapa jakso. Satu jakso panjangnya sekitar 4-6 minggu dan untuk setiap jakso mata pelajaran dan jam sekolah bisa berganti-ganti. Ini yang gue alami selama  belajar di Keravan School for Adults dan sekarang di sekolah kejuruan.

Dalam satu jakso cuma ada tiga atau empat mata pelajaran. Kalau di jakso tersebut lagi ada biologi maka di kelas bakalan sering banget ketemu sama matpel satu itu. Bisa tiga atau empat kali dalam seminggu. Belajarnya jadi berasa lebih intensif.

Gue suka banget sama sistem jakso ini karena gue gak harus  belajar terlalu banyak hal dan bisa fokus dalam mempelajari tiga atau empat subjek saja. Pelajarannya juga jadi lebih nempel di otak.

Makan siang gratis dari sekolah  

Hip hip huraaaaa *terbar confetti*  *lempar kotak bento ke udara*

Ini dia kabar baik buat para orang tua. Murid-murid sekolahan sini dapet makan siang gratis dari sekolah jadi bapak ibu gak perlu repot menyiapkan bekal anak.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Penyediaan makan siang di sekolah bertujuan agar anak-anak mendapat asupan bergizi selama jam sekolah, memastikan kesegaran dan kebersihan makanan yang disediakan dan menghindari perbedaan kotak bekal yang mencolok. Biar gak kejadian yang satu makan nasi aking sementara sebelahnya mbekel kobe beef. Namanya pun sosialis, ya, urusan makan siang aja mau disamaratakan.

Menurut pengalaman gue, makan siang di sekolah lumayan enak-enak. Biasanya ada satu atau dua lauk berdaging dan satu lauk vegetarian yang disajikan dengan kentang, pasta atau nasi. Kadang-kadang juga ada sup, sementara roti dan salad-saladan pasti selalu ada dalam berbagai variasi. Buat gue sih mewah, secara di rumah cuma mampu masak dengan satu lauk aja.

Di beberapa sekolah, seperti di sekolah kejuruan gue saat ini, disediakan juga sarapan berupa kaurapuuro alias bubur oatmeal yang dimakan dengan selai buah. Di sekolah Kai, untuk anak-anak yang ikut kerho disediakan välipala, atau makanan ringan, yang berupa rahka (semacam yoghurt kental), pancake, kiiseli (sup buah) dan lain-lainnya.

Murid-murid mengambill sendiri makanannya dari meja saji sambil dibantu oleh satu atau dua petugas dapur. Gue sering bertanya sama Kai apa dia makan salad hari itu, untungnya sih selalu dijawab ‘iya’ padahal kalo di rumah anaknya emoh makan sayur.

Di sekolah gue salad barnya terbilang mewah, bisa ada 6 sampai 8 variasi salad tersedia. Selain yang standar-standar seperti irisan tomat, timun dan selada, ada juga salad campur seperti bean salad, salmon salad with artichoke and penne, artichoke-olive-dried tomato salad, tomato salsa, ceasar salad with chicken strips, dan lain sebagainya. Bayanginnya aja gue ileran. Pokonya makan di sekolah perbaikan gizi amat lah buat gue. Macam anak kos aja pun.

Anak-anak juga diajarkan tentang lautasmalli (apa terjemahannya ya? serving portion? plate model?) – membagi piring menjadi tiga area dimana 1/4 area berisi protein (lauk), 1/4 area lagi berisi strach/karbo dan 1/2 area diisi oleh salad atau sayur-sayuran. Idealnya lautasmalli didampingi juga dengan segelas susu rendah lemak, sepotong roti kaya serat dan semangkuk kecil arbei.

lautaskuva_vaaka_valk

Peringkat Finlandia dalam PISA studies

Di facebook gue masih banyak artikel seliweran tentang sistem pendidikan Finlandia yang katanya terbaik di dunia. Info ini udah ketinggalan jaman karena posisi Finlandia sudah merosot beberapa tahun belakangan ini. Tidak lagi nomer satu dalam segala hal walaupun masih masuk sepuluh besar.

Negara-negara seperti Korea Selatan, Cina, Singapur dan bahkan Estonia sudah menyalip Finlandia untuk berbagai parameter di PISA studies. Agak disayangkan karena…duh, apalagi sih yang bisa dibanggakan oleh Finlandia? Negara low profile yang masih cenderung asing dan tidak terkenal di mata dunia.

education-ranking-singapore-infogx-data

data tahun 2015

Ada beberapa dugaan mengenai penurunan ranking Finlandia di PISA studies. Salah satunya jumlah imigran yang semakin naik dari tahun ke tahun. Kesulitan bahasa dan perbedaan budaya bisa jadi masalah besar yang mempengaruhi kelancaran anak belajar di sekolah.

Teori kedua menduga bertambahnya sekolah-sekolah khusus (music class, sports school, dll) juga menciptakan perbedaan prestasi antar sekolah. Sekolah-sekolah khusus ini diisi dengan murid-murid yang unggul di bidang musik, olah raga dan lain-lainnya yang hampir selalu datang dari keluarga berada, bebas dari masalah finansial, keluarganya lebih harmonis, nutrisi lebih baik, akses ke alat-alat pendukung belajar juga lebih terbuka. Prestasi murid-murid ini melesat jauh dari anak-anak sekolah reguler dan kemudian menciptakan social gap.

Oiya, perlu juga gue sebutkan kalau keunggulan Finlandia dalam bidang pendidikan yang sering disebut-sebut orang itu merujuk pada pendidikan untuk sekolah dasar saja. Tidak untuk tingkat lainnya apalagi untuk perguruan tingginya.

Universitas-universitas di negara ini gak ambisius untuk ikut rangking-rangkingan, jadi kalau benar-benar mau mengukur kualitasnya jangan lihat mereka dari daftar 100 best…10 best… dan semacamnya.

(EDIT: dari OECD’s PISA studies yang terbaru tentang performansi perguruan tinggi di beberapa negara, surprise…surprise…Finlandia berada di tingkat kedua. Ini kejutan juga buat orang lokal sini karena universitas sini gak pernah masuk ke daftar best of ini atau best of itu. Mengutip artikelnya:

These OECD test results may be completely different from conventional university rankings, but the two sets of findings are not incompatible, says Ben Sowter, director of the QS World University Rankings.

While the OECD has compared standards across national higher education systems, the university rankings are focused on an elite group of individual universities.

dan point penting lainnya, masih dari artikelnya:

It casts a light too on how an efficient school system might not translate into success in higher education.

South Korea and Singapore, both high achievers at school level, are below average in the graduate rankings.)

Proses belajar mengajar di sekolah di dukung juga oleh fasilitas publik lainnya

Ini salah satu yang bikin gue kagum. Perencanaan kota yang baik seperti di Finlandia memungkinkan sekolah untuk mengakses fasilitas publik di sekitarnya. Apalagi di kota kecil seperti Kerava ini, semua fasilitas umum bisa ditempuh dengan jalan kaki. Ini tambah bagus lagi karena anak-anak jadi terbiasa berjalan kaki.

Untuk pelajaran membaca anak-anak sering dibawa berkunjung ke perpustakaan, bahkan mereka diwajibkan untuk memiliki kartu perpus. Untuk pelajaran olah raga sekolah menggunakan lapangan sepak bola atau kadang  berknjung ke ice hall untuk bermain ice skating.

Sebenernya mirip juga sih sama jaman gue sekolah dulu. Seminggu sekali berenang di Bulungan atau tes lari di Senayan. Sama-sama make fasilitas publik juga tapi masih harus pake bayar dan lokasinya kadang jauh beneur dari sekolah.

Di sekolah juga ada psikolog, konselor keluarga, konselor pendidikan dan perawat yang bisa diakses oleh murid maupun orang tua. Sebelum semester baru dimulai, Kai harus mengikuti pemeriksaan kesehatan dengan perawat di sekolah. Dan minggu lalu, waktu gue bawa Kai ke dokter karena sakit perut, dokternya bisa mengakses data dari pertemuan kami dengan perawat sekolah tersebut.

Huwoooo…aku kagum karena ternyata sistemnya saling terkoneksi.

Kalau misalnya Kai ada keluhan kesehatan di sekolah, si perawat akan bikin laporan dan laporan tersebut bisa diakses oleh dokter-dokter di rumah sakit di Finlandia.

1094683

Perpustakaan Kerava

Guru menyiapkan sendiri bahan mengajarnya

Biasanya murid-murid cuma dikasih LKS aja dari sekolah tapi tidak ada buku teks karena guru dibebaskan untuk menentukan sendiri metode dan materi belajarnya asalkan tujuan kurikulum tercapai di akhir semester. Ini susah, loh, karena guru jadi harus konstan berpikir bahan-bahan apa saja yang harus dia siapkan besok hari, lusa, dst. Gak sekedar besok buka halaman sekian sampai sekian.

Apalagi untuk pelajaran matematika yang banyak menggunakan alat bantu. Guru-guru menghabiskan banyak waktu untuk menggunting-gunting kartu, menyiapkan kancing, batu, kacang, dllnya buat acara bermain sambil belajar di kelas.

Ditambah lagi mereka juga harus menyiapkan materi yang berbeda untuk murid-murid yang level pengetahuannya juga beda. Ada yang dikasih soal lebih sulit, ada yang dapet bacaan lebih panjang dllnya. Ini gue alamin sendiri waktu masih sekolah bahasa, pas ngelirik tugasnya temen, loh kok tugas doi gampang banget (pamer)

Materi belajar biasanya disajikan dalam bentuk lembaran kertas, hasil foto copy dari berbagai macam buku, gak pernah dari satu text book saja. Kebayang ya betapa repotnya guru-guru sini menyiapkan segitu banyak bahan.

13-3-7669619

Varga Nemenyi – metode pengajaran matematika dari Hungaria

Ini adalah metode pengajaran matematika yang dipraktekkan di sekolah-sekolah dasar Finlandia. Metode ini berasal dari Hungaria dan kabarnya anak-anak SD Hungaria memang memiliki pengertian yang amat mendalam tentang matematika. Prinsip dari metode ini juga sangat sesuai dengan prinsip sistem pendidikan Finlandia secara umum karena itulah metode Varga Nemenyi (dibaca Varga Nemenuei, ‘ue’ nya dibaca sebagai ‘u’ monyong) diadopsi oleh Finlandia.

Pengajaran matematika dengan metode Varga Nemenyi didasari oleh dua prinsip: the love of children and the love of mathematics. Pengajaran matematika harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak, harus menyenangkan karena anak belajar melalui permainan. Kalau ada yang familiar dengan teori Piaget tentang tingkat-tingkat perkembangan kognitif anak, Varga Nemenyi ini menyesuaikan metodenya dengan kemampuan kognitif anak. Kapan anak sudah bisa diajak berpikir abstrak, kapan anak masih harus fokus sama hal-hal yang konkrit.

wp-1476364425218.jpeg

dari buku sekolah Kai. Belajar soal lebih besar dan lebih kecil

img_20161013_155228

mewarnai sesuai ukurannya

 

Beberapa karakteristik metode Varga Nemenyi:

  1. Belajar matematika melalui pengalaman pribadi, pengalaman konkrit. Sesuai dengan teori Piaget, anak-anak SD itu berada dalam Pre-operational atau Concrete operational stage. Masih belajar melalui pengalaman, sentuhan, gerak, penglihatan dan semacamnya. Hal-hal seperti jumlah, bentuk dan angka sebenarnya adalah hal yang abstrak di otak anak-anak jadi guru harus merealisasikan konsep-konsep tersebut dalam bentuk konkrit. Belajar besar kecil dengan cara mengumpulkan batu trus dibandingkan mana yang besar mana yang kecil. Belajar tentang jumlah dengan cara mengumpulkan barang (kancing, daun, bola) untuk kemudian dihitung, dibandingkan mana yang lebih banyak mana yang lebih sedikit.
  2. Pengalaman belajarnya harus langsung. Anak-anak  harus belajar sendiri membuat lingkaran, mengukur jarak, menimbang berat, dllnya. Bukan cuma mendengar dari pak guru atau membaca dari buku. Belum saatnya juga anak-anak kelas satu SD dikasih soal cerita “Jika Budi mempunya tiga permen dan dimakan satu, berapa sisa permen Budi sekarang?” Karena anak-anak SD ‘kan masih egosentris banget. Masih me, me, me, me. Masih susah menempatkan dirinya di posisi orang lain. Saha eta si Budi? Kenapa Budi punya permen tapi aku nggak?
  3. Penggunaan alat bantu belajar. Metode Varga Nemenyi ini membutuhkan banyak alat raga baik dari alam maupun yang harus dibuat sendiri oleh gurunya. Barang-barangnya bisa berupa kancing, dadu, kartu, batu atau apa saja. Salah satu permainan yang umum dalam metode ini misalnya: guru memasukkan kancing ke dalam kaleng kemudian anak-anak disuruh menebak ada berapa kancing di dalamnya. Yang tebakannya benar akan dapat satu poin. Permainan akan berlangsung selama beberapa ronde dan di akhir ronde anak-anak menghitung poinnya. Dari sini anak belajar menghitung dan membandingkan jumlah.
  4. Matematika adalah bagian dari keseharian hidup karena itu metode pengajaran matematika dan alat peraganya  harus dekat dengan kehidupan anak sehari-hari. Selain itu, matematika tidak terjadi dalam kelas saja. Anak-anak harus dibawa ke luar untuk belajar bagaimana matematika berhubungan dengan kehidupan mereka – ke halaman sekolah, ke perpustakaan, ke pasar dllnya. Berhubung orang Finlandia cinta sekali akan alamnya,  di sekolah Kai ada yang namanya metsämatiikka, belajar matematika di hutan. Jadi nanti Kai dan teman-temannya akan ke hutan dan belajar soal jumlah, bentuk,  ukuran dan konsep-konsep lainnya di hutan. Gue pernah liat anak-anak sekolah (mungkin kelas 5-6 SD) lagi ngukur-ngukur kolam bebek di sebuah taman di Kerava sini. Mereka lagi memperkirakan volume kolam tersebut.
  5. Abstraktion tie/ Abstract Road. Ini bagian yang sebenarnya gue belon ngerti. Katanya sih anak-anak belajar mengenai ide konkret dan abstrak melalui tiga elemen:
    1. Direct learning, pembelajaran hal baru secara langsung dengan cara bergerak, menyentuh, melihat, berbicara, berdiskusi.
    2. Material/ alat bantu pembelajaran, bisa berbentuk batu, kayu, mainan atau apa saja. Melalui interaksi dengan benda-benda tersebut anak belajar tentang konsep matematika – bentuk, berat, panjang, lebar, sudut, dll. Konsep-konsep tersebut akan tersimpan dalam memori mereka dalam bentuk mental image.
    3. Investigasi lebih lanjut tentang konsep yang baru dipelajari melalui gambar (yang ada di buku LKS) atau menggambar sendiri konsep tersebut. Dengan menggambar anak-anak mempresentasikan konsep matematika yang ia pelajari.  Menghadirkan kembali konsep abstrak dalam bentuk konkret.
img_20161013_155313-1

salah satu contoh penerapan abstract road: menimbang benda (direct learning) untuk kemudian menggambarkan di LKS benda yang lebih ringan (investigasi melalui gambar)

matikkarasiat

alat-alat pendukung untuk belajar matematika dengan metode Varga Nemenyi

20131210_090646468_ios

dari: http://temmellys.blogspot.fi/ blognya menarik banget. Ada banyak ide kegiatan untuk pengajaran matematika. Sayangnya cuma dalam bahasa Finlandia

Bacaan lebih lanjut tentang Varga Nemenyi dapat dibaca di sini:

http://gyermekneveles.tok.elte.hu/4_szam/pub/lampinen_puumalainen.pdf  (bahasa inggris)

http://varganemenyi.fi/  (bahasa finlandia)

Memang gak banyak artikel (bukan jurnal) yang membahas metode Varga Nemenyi dalam bahasa inggris, kalau dalam bahasa finlandia sih banyak bener. Seperti di website kedua di atas, banyak hal menarik yang gue temukan di sana misalnya panduan DIY alat raga belajar matematika dan tips-tips mengajarkan matematika di rumah (http://varganemenyi.fi/menetelma/vanhemmille/kotona-harjoiteltavia-taitoja)

Gue tulis sedikit tips-tipsnya di sini barangkali saja bisa berguna buat orang tua yang ingin bikin sesi belajar matematika di rumah.

Untuk anak usia pra-sekolah:

  • ajak anak memperhatikan lingkungan sambil bertanya “ada berapa banyak ….”
  • bermain puzzle atau mainan konstruksi
  • belajar menyortir sambil misalnya membereskan mainan, alat-alat dapur, membantu ortu menyortir cucian baju atau piring
  • membahas kejadian sehari-hari. Apa yang terjadi hari ini, apa yang terjadi minggu ini, apa yang terjadi di musim dingin tahun ini.
  • membuat perbandingan barang-barang yang ada di rumah. Besar-kecil, ringan-berat, panjang-pendek
  • berbicara yang jelas soal arah dan relasi: di atas, di bawah, di belakang, di depan setelah, sesudah (menghindari penggunaan kata ‘itu’, ‘di situ’, ‘di sana’)
  • bermain board games
  • melibatkan anak dalam pengalaman hidup yang sebenarnya, mengizinkan anak menggunakan alat-alat, memberikan pengertian yang sebenarnya tentang sebuah kejadian

Untuk anak usia sekolah:

semua hal-hal di atas ditambah dengan:

  • pergi ke perpustakaan, memilih dan membaca buku bergambar
  • melibatkan anak dalam kegiatan memasak dan bikin kue supaya mereka mendapatkan pengalaman belajar tentang gram, kilogram, liter, dan semacamnya
  • bersepeda, berjalan atau mengerjakan proyek renovasi rumah dengan anak untuk mengajarkan konsep jarak dan panjang (meter, sentimeter)
  • main tebak-tebakan berat benda
  • melibatkan anak dalam keputusan finansial supaya anak belajar tentang uang dan nilai uang (misalnya menghitung jumlah lebaran uang vs menghitung jumlah nilai uangnya)
  • bermain berhitung maju dan mundur mulai dari satuan, limaan, sepuluhan, dst. Contoh:
    • satuan: 1,2,3,4,5….        5,4,3,2,1
    • limaan: 5,10,15,20 ….   20,15,10
    • sepuluhan: 10,20,30,40 ….. 40,30,20,10
    • longkap tiga: 0,3,6,9 …. 9,6,3,0
    • dan berbagai variasi lainnya

Cara-cara pengajaran yang disebut di sini pastinya udah banyak kita lakukan sehari-hari ya? Di sekolah-sekolah Indonesia pun gue rasa udah banyak yang menerapkan cara belajar sambil bermain begini hanya saja kayanya Finlandia (dan Hungaria tentunya) menerapkannya dengan lebih serius dan dalam jangka waktu yang lebih lama.

Metode Varga Nemenyi diterapkan untuk anak kelas 1 hingga 6 SD di Finlandia, sementara di negara lain pengajaran matematika secara formal bisa jadi sudah dimulai sebelum sekolah dasar tapi berakhir lebih awal juga dan bergeser ke pengajaran matematika secara abstrak.

Katanya sih metode learning through experience ini biasanya sudah ditinggalkan begitu anak kelas tiga SD. Tapi menurut Varga Nemenyi, metode ini bisa digunakan kapan saja, untuk siapa saja. Semakin lama kita mempelajari konsep baru secara langsung, semakin baik juga kemampuan berfikir abstrak kita.

Varga Nemenyi mungkin terlihat lamban ya? Udah SD kok belajarnya masih ngewarna-warnain lingkaran? Ini memang bukan metode yang tepat buat menyaring bibit-bibit olimpiad matematika sejak dini tapi metode ini berusaha menjamin bahwa SEMUA murid akan mengerti dengan baik konsep-konsep dasar matematika.

img_20161013_155115

buku matematika Kai. Sampai halaman 40an masih belum ketemu angka

Bukan berarti semua orang Finlandia jago matematika, ya. Kan udah dijelaskan tujuan metode ini adalah penguasaan konsep dasar matematika. Ke depannya sih tetap aja manusia terbagi-bagi ada yang jago, ada yang sedang-sedang, ada yang kurang. Tapi kalo udah menguasai konsep dasarnya, bakal lebih mudah nantinya untuk belajar konsep-konsep yang lebih sulit.

Gue juga menduga kalau konsep direct learning berkolerasi dengan keampuan orientasi dan spasial seesorang. Gue ambil gue dan Mikko sebagai contohnya. Gue selalu bilang kalau deket rumah gue ada supermarket. Deket banget lah, kira-kira 3 menit jalan kaki. Kalau ditanya meternya mah gue gak tau ya…gak bisa ngira-ngira. Sementara Mikko lebih bisa memperkirakan jarak dan berat. Lampu merah di depan jaraknya kira-kira 10 meter dari kita, dari sini ke rumah si anu kira-kira 3 kilo meter.

Pantes aja ya berita-berita kita sering menggunakan ukuran “sepinggang orang dewasa”, “sebetis”, “sebahu” ketika berbicara tentang musibah banjir di ibu kota. Trus orang asing yang baca bingung. Pinggangnya siapa? Betisnya siapaaaaa?

Sekolah yang terbuka untuk siapa saja

4viisaat1

Maafkan kalau gue kembali jadi kaset rusak yang lagi-lagi menuliskan kekaguman gue akan prinsip kesetaraan yang terpatri di sistem pendidikan Finlandia. Sekolah gratis, terbuka untuk semua anak, gak ada tes masuk.

Ada sedikit sekali sekolah swasta di Finlandia, biasanya dalam bentuk sekolah internasional yang isinya anak-anak ekspatriat.  Pada umumnya warga Finlandia memulai hidup mereka dengan cara yang sama: lahir di rumah sakit pemerintah dan bersekolah di sekolah negri. Intinya sih memulai hidup dengan start yang kurang lebih sama. Sosialis much? Iya banget!

Makanya gue agak sedih kalo pendidikan dikomersialisasikan dan dibedakan kelas-kelasnya sehingga ada sekolah yang dianggap elit, unggulan, bergengsi dan sebaliknya, ada juga yang non unggulan atau dianggap gak elit.

Memang gak semua negara bisa menyediakan sekolah negri dengan kualitas tinggi secara merata di seluruh wilayahnya. Apalagi sistem belajar yang aktif, direct learning, dsb dsbnya itu membutuhkan banyak biaya jadi ya gak heran kalau kemudian sekolah swasta yang bisa menawarkan fitur-fitur tersebut. Tapi kan sekolah swasta mahal, mamiiihhh. Apalagi kalo udah pake embel-embel active learning lah, fasilitas ini itu lah, cuma orang -orang berduit aja yang bisa menikmati sekolah macam gitu.

Gak sekedar berduit, kadang kala anaknya juga udah harus cemerlang dari orok karena mau masuk sekolah unggulan sering kali ada tesnya. Kita semua udah pada anti lah ya sama tes tertulis dan tes berhitung untuk masuk sekolah. Tapi masih ada yang judulnya tes kesiapan masuk sekolah. Denger-denger cerita orang sih, dalam tes ini anak diminta untuk ikut simulasi sekolah – dateng ke sekolah dan mengikuti kegiatan belajar mengajar di sana selama setengah hari. Biasanya juga anak kemudian mengikuti sesi wawancara dengan kepsek atau psikolog sekolah.

Ini ide yang terdengar bagus kalau anaknya aktif, ramah, gak pemaluan.

Lha, kalo kaya anak gue? Yang pemalu, yang selalu nerves sama situasi baru, yang minderan dan panik kalau berbuat salah? Harus siap-siap GAK LULUS dan batal masuk sekolah impian. Apakah itu artinya anak gue belum siap sekolah? Menurut gue, kesiapan sekolah seharusnya tidak diukur dalam satu hari saja.

Ada juga sekolah-sekolah yang menyaring calon muridnya lewat wawancara dengan orang tua. Berduit udah, anak juga udah pinter, sekarang ditambah lagi ortunya harus harmonis, aktif, entusias dan sesuai visi dan misinya dengan visi misi sekolahan.

Kalau hubungan anak dan ortu tidak dekat, anak gak lolos saringan. Kalau ortu tidak terlihat antusias, keliatan bingung atau males-malesan dalam wawancara, nama anak pun dicoret. Kan sedih kalau anak harus menanggung kesalahan ortu. Lebih sedih lagi memikirkan nasib anak sudah ditentukan, dibeda-bedakan dari usia yang sangat dini. Gimana nasibnya anak-anak dari keluarga bermasalah, apalagi kalau gak banyak fulus? Apa mereka gak berhak mendapatkan pendidikan yang baik?

Ini sekedar pendapat gue aja sih. Sistem seleksi yang gue tulis di atas terdengar modern,sophisticated dan attentive. Tapi buat gue sistem kaya gitu justru berasa gak adil. Di dunia yang ideal semua anak berhak mendapatkan pendidikan yang baik tanpa pandang bulu.

Tapi ini kan pandangan gue sebagai orang tua murid, bukan sebagai guru ataupun pemilik sekolah. Kalo gue yang punya sekolah, dengan investasi yang udah bermilyar-milyar, bisa jadi gue menerapkan sistem seleksi yang sama. Biar sekolah gue terjaga kualitasnya karena muridnya sengaja dipilih yang berkualitas tinggi semua. Buat yang kualitas KW , apalagi kalo duit pas-pasan, silahkan aja ke sekolah lain yang kurang bonafid.

Jadi menurut lo harus gimana dong, Rik? Apa sekolah swasta di Indonesia harus ditutup semua?

Ya gak juga kaleee. Sekolah negri kita juga belon siap menampung semua anak usia sekolah di Indonesia.

Maafkan, ya, aku bisanya cuma protes tanpa memberikan solusi. Tapi doa-doa terbaik gue untuk masa depan pendidikan Indonesia. Mimpi indah gue masih mengacu pada sistem yang ada di Finlandia sini, peningkatan kualitas dan kuantitas sekolah negri serta pembatasan jumlah sekolah swasta hingga sekecil mungkin.

IMG_20160826_100659.jpg

Kai dan Samir berangkat sekolah

Advertisements

52 comments

  1. Wah menarik sekali Rika tulisannya. Meskipun panjang aku membaca dengan seksama ttg sistem pendidikan ini, kalimat per kalimat, terutama bagian belajar Matematika. Sebagai alumni statistika yang ngakunya doyan banget sama matematika dan segala hitungan, tapi dulu selalu tertekan kalau jam2 pelajaran berhitung (terutama fisika). Karena yg diterapkan bukan pengertian tetapi hafalan. Kalau konsep dasarnya adalah pemahaman seperti yang di Finlandia, aku rasa ga akan stress berhadapan dengan angka2. Semoga ya kedepannya pendidikan di Indonesia akan berubah ke arah yg lebih baik, bukan hanya mengedepankan hasil, tapi proses belajarnya juga.

    1. Varga Nemenyi ini pun menarik banget buat gue. Waktu lagi dijelasin sama bu guru gue dengerinnya dengan penuh konsentrasi sambil sedikit menyesal karena dulu gak ngerasain cara belajar yang seperti itu karena buat gue matematika itu juga momok.

  2. Sekolah negeri disini juga ga ada tes masuk. Semua bebas masuk, asal domisili masih masuk distrik. Masalahnya adalah kecenderungan angka tes standar berbanding lurus dengan lingkungan/harga rumah. Lingkungan menengah ke atas = angka tes naik. Masuk akal juga sih karna semakin stabil kondisi rumah, semakin besar sisa energi ortu untuk bisa terlibat dlm urusan sekolah anak.

    Kegundahan gue (ceileh gundah!) lebih ke motivasi guru. Menurut gue, guru akan lebih termotivasi kalau dpt murid2 yang oke (atau dengan kata lain, akademisnya bagus dan antusias), karna merasa kerja kerasnya terbayar. Then, who’s going to care with the troubled kids? They deserve to have same great education. Tapi guru kan juga manusia yah…

    1. tapi di US masih banyak banget sekolah swasta dan sekolah2 swasta yang dianggap elit.

      Kalo soal area domisili dan kualitas sekolah, di sini juga masalahnya sama kok. Lha, memangnya kenapa akika tinggal di Kerava? Demi sekolah anak juga ini.

      Area2 yang dianggap “miskin” prestasi sekolahnya juga kurang karena isinya emang murid2 yang ‘susah’ dan bermasalah. Tapi daerah kek begini belum banyak di Finlandia, tingkat kemiskinan di sini juga masih rendah jadi gap yang tercipta masih kecil banget kalau dibandingkan banyak negara lain.

      1. Dulu roommate aku tamatan Harvard tapi ngajar di tempat paling kumuh di New Jersey padahal dia dari ortu yang lumayan. Sampai beli mobil saja ngak bisa karena setiap bulan dari gajinya sendiri habis buat beli macam-macam untuk murid-muridnya. Di sekolah itu, hampir 100% anak-anaknya, salah satu orang tua mereka either berada di penjara atau bekas masuk penjara. Roommate aku itu berdedikasi sekali untuk ngajar. Preparing lesson plan saja menurut aku ribet sekali untuk anak grade 2. Jarang-jarang lihat ada guru kayak gitu. Masih ada tapi sedikit. Kalau bapaknya teman aku ngak kaya, ngak bakalan bisa juga. Mobil siapa yang beli, insurance siapa yang bayar, baju siapa yang beli?

        1. Dia masih bertahan jadi guru di sekolah yang sama gak, Merry? Ini mengagumkan sekali ya! Dan mengharukan! Dan sedih juga membayangkan usaha dia (dan guru-guru lainnya juga) yang sedemikian besar cuma dapet imbalan yang buat hidup sehari-hari aja gak cukup.

        2. Sebelum aku pindah ke Canada sih masih. Dia dulu waktu kerja praktek disitu makanya kepingin balik aja ke sekolah yang sama. Aku sendiri tuh rasanya gimana gitu lihat dia. Uang sendiri dihabisin sampai $800 per bulan buat beli macam-macam buat anak muridnya termasuk buku karena mereka ngak punya. Untung bapaknya lumayan punya uang dan di tunjang. One in a million.

  3. Sekolahnya misya mungkin bisa dibilang cara belajar mengajarnya mirip-mirip disana rik,
    tapi…mahalnya mana tahan, bayarnya pun pake berdarah2 😥😥

    Mudah2an suatu saat nanti, sekolah negeri bisa pelan2 mengadopsi cara belajar seperti itu ya, fun learning..

    1. Iya, udah banyak katanya sekolah yang kaya gini di ibu kota tapi semuanya muahaaal. Kalo gak punya uang yang harus rela dengan pendidikan yang mutunya lebih dibawah.

  4. Wah mbak rika makasih artikelnya…
    Hmm…iya jtu artikel soal sekolah finland di indonesia suka lebay..apa katena kalo ga lebay ga akan ada yg baca ya..sigh..
    Yg jelas tetep bagus sistemnya..terstruktur dan tidak cepet berubah gtu gak kayak di kita yg masih bingung maunya..pengen gaya amrik finland korea singapura srmuanya aja kd serba nanggung

    Klo soal perinhkat PISA negara asia spt Sg ato Kt unggul.wajar..belajarnya jg gila2an…
    Inget cerita temen korea yg bilang pas sma dia tiap hari masuk sekolah g ada libur samsek..minggu pun masuk

    1. aku pengen tau banget deh sistem sekolah dan metode belajar mengajar yang berlaku di negara-negara itu (KorSel, Singapur, HK, Cina, Jepang) karena, biarpun katanya stressfull, tapi hasilnya memang WOW banget kan. Apa mungkin sebenernya gak se-stressfull itu? Toh hasil standardized testnya tetep tinggi, artinya anak-anak di sana beradaptasi dengan baik dong dengan metode tersebut? Butuh pencerahan nih aku!

      1. Kalo dari cerita temen korea..sebenernya kurikulum sekolah di korea sampai smp itu masih ga berat..
        Pas di sma baru dikejet kurikulumnya buat ngejar 수능( suneung) spmb nya di korea..
        Masalahnya banyak orangtua dan lingkungannya dan anaknya jg mgkn yg ngerasa belajar di srkolah itu kurang jadinya dari kecil udah masuk hakwon buat les tambahan pelajaran sekolah dari kecil..
        Dan karena hakwonnya sampai malam..di sekolah banyak yg jadinya belajar nya terkantuk-kantuk..
        Bulan depan ini spmbnya mbak..pengen liat junior2 d sma dan oryu nyemangatin kakak kelasnya gtu d sma sini tp kok pagi ya jd blm kesampaian..

        Oh iya klo temen kuliah yg org korea dulu saking pengennya nilai bagus mereka mending dpt E buat matkul drpd dpt nilai B..jd sebisa mungkin dpt nilai A..B dst g msk itungan..klo msh bs ngedrop kuliah mereka ngedrop matkulnta biar pasti dpt nilai bagus
        Dan rata2 temen korea prefer ujian tulis drpd ujian presentasi atau lisan..
        Dan mereka suka ujian yg bentuknya model isilah titik2 atau pilihan ganda atau true false..
        Apalannya kuat hehe

      2. Klo kurikulum aslinya blm liat lgsg..tp klo dr berita banyaknya org yg ngeritik soal ujian spmb korea yg menitik beratkan teori dan hafalan ..kayaknya kurikulumnya jd lmyn soal teori dan bahannya luas..kali cerita twmwn rata 2 bilang sma itu capek ga ada libur belajar mulu demi ujian univ..prestise dan nama univ nentuin banget buat cari kerja soalnya..
        Ah iya yg unik di korea..banyak mhswnya tg nunda lulus sampai pasti dapet kerjaan setelah lulus
        Klo blm dpt..nambah satu aemester lg kuliah

  5. aku selalu suka kalo mba rika nulis tentang pendidikan di finlandia duhhh semoga yah di indonesia bisa mirip2 dikit dsana lah (bagian ini doa nya kenceng2) soalnya emang agak membingungkan sih mba dsini apalagi untuk orang tua macam aq yg punya anak umur2 3.5 tahun gini , bingung mau masuk tk yg mana yah ada yg oke tapi mahal bgt n jauh ,ada yg deket rumah tp ko murid nya banyak bgt, hihiihi kayaknya aq uda mikirin anak mau masuk tk mana dr dia belum lahir deh hahhahhaha abisan kayaknya yg pas bgt kaya di finlandia effort nya juga besar (atau malah keknya blm ada) banget pasti belom tentu mampu hohohoohooh jd nya lah aq berusaha milih yang terbaik n terjangkau tentunya menurut ukuran aku.

    1. Masalahku juga samaaaa (seandainya aku tinggal di Indonesia). Aku juga pengen lah metode-metode active learning, direct learning, fun learning dan ning ning lainnya. Tapi ya itu…gak ada dokunya. Dan aku yakin banget orang-orang yang kaya aku itu buanyaaaaak sekali di Indonesia. Yang mau pendidikan bermutu tapi gak mampu bayarnya. Artinya apa? Cuma sedikit orang yang bisa mengakses pendidikan dengan kualitas seperti ini. Artinya apa? Kebanyakan lainnya menyerah dengan mutu yang jauh di bawah. Artinya apa? Ya pendidikan yang baik masih belum merata dan baru dinikmati oleh kalangan atas aja. Ini menyedihkan.

  6. tulisannya informatif mbak rika. Aku baru tau kalo di FInlandia jam mengajarnya juga bisa lama mb. dan soal Peer. Ku kira Peer hanya sekali dua kali dalam seminggu mb. Jadi tahu sekarang kalau Peer itu ya penting juga. hehehe
    Baca tulisan ini mau gak mau aku juga ingin membandingkan dengan pengalamanku mbak rik. hehe (curcol sedikit ya mb). Kebetulan aku ini sekarang ngajar di salah satu SD Negeri di kotaku mbak.
    Antara sekolah dan oraang tua. DI finlanda (dan mungkin negara lainnya) harus berkolaborasi aktif ya mb. Beda bener sama disini (khususnya sekolahku tapi mungkin tidak semuanya tapi mayoritas saja). Anak-anak bener di lepas total kalo udah mulai sekolah. Soal membaca menulis di kelas 1 apalagi. Ya gurunya yang harus ekstra kerja keras mengajari itu. Orang tuanya pokoknya trima jadi anaknya pinter. Dongkol banget gak si mb. Kita orang bukan penyihir gitu lhooo.

    tentang pembelajaran matematika ini sepertinya aku nge fans sama finlandia mbaak. Ekstra kerja keras banget itu harus (berusaha) mengkongkrittkan hal yang abstrak untuk anak2. Kalo disini mah jangan di tanya. Mengabstrakan hal yang konkrit barangkalli (haha kalo ini lebay mb jangan hiraukan saja). rata-rata soal anak kelas 1 ya begitu tu. Budi punya 3 permen bla bla bla. Nah anak di suruh imajinasi. Kalo yang imajinasi tinggi si gak masalah tapi kalo imajinasinya rendaaah. Bleehhh di ajar berkali-kali juga gak bakal nyambung…

    Aku juga punya murid les anak kelas 4 mbaak. Kalo disodorin soal cerita matematika sudah dipastikan anaknya nangis kejer. . . Belum baca soalnya sudah bilang sulit sambil mewek mewek. Jadi aku harus esktra keras mebujuk dia buat baca buat dia mengerti buat bla buat bla buat blaaa. Herannya kalo soalnya bentuknya angka semua dia happy2 aja gitu mbaak. Malah terkadang ngerjainnya cepet banget.. Mungkin itu salah satu efek dari penanaman matematikanya dulu.

    Di negara-negara maju salah satu fasilitas terbaiknya itu perpus ya mb. Senang deh bisa pinjam berbagai macam buku ya kayaknya ya. Kalo di kotaku mbaaaaak ampuuun deh toko yg menjual buku-buku cerita jaraaang banget apalagi perpusss. Ada perpusda tapi ya gitu tu jauh dari kata indah. Ya mungkin karena minat bacanya orang-orang sini kurang bagus jadi ya dianggurin begitu ajaa. atau mungkin juga dananya kurang (dana lagi dana lagi. Kalo ngomongin dana mah mentok tok gak berbelok).

    Sori mori stroberi mbak rikaaa curcolnya segini banyak mmbaaak (harusnya aku jadiin tulisan di blog aja ya sekalian. hehhee)
    Ngomong-ngomong2. Terimakasih sudah di approval mb. rika komentarnya saya

    1. Halo, Fela
      Makasih banget untuk sharingnya di sini. Apalagi dari kamu yang seorang guru di SDN di Indonesia. Tapi….aku jadi sedih baca tentang si soal cerita itu. Jadi inget dulu ada temenku yang benci banget soal cerita matematika. Bahkan sampai dia SMP. Dulu sih suka kita ketawain, sekarang baru nyadar kalo seharusnya yang diketawain bukan anaknya, tapi metode ajarnya.

      Iya,perpus di sini bagus dan mudah diakses. Kerjasamanya dengan sekolah juga bagus.
      Btw, aku pikir2, gak bisa juga ya kita menyalahkan minat baca warga Indonesia yang katanya kecil. Wong akses ke buku aja kadang masih susah.

      Soal peran ortu dalam sekolah. Seharusnya itu jadi satu poin yang aku tulis juga tuh, tapi kelupaan. Dibandingkan dengan jaman aku sekolah dulu (dan mungkin juga sekarang di SD Negri, seperti yang kamu ceritakan) peran ortu di sini memang terlihat lebih besar. Tapi gak sebesar dengan misalnya, peran ortu di sekolah2 Amerika atau Inggris. Di sini tugas ortu terbesar sih memantau rutinitas anak dalam belajar. Buat anak kelas satu ortu memang harus menemani anak membaca, tapi tugas mengajarkan anak membaca tetap ada di tangan sekolah.

      Trus juga, karena udah dibilang dari awal kalau sekolah adalah pekerjaan anak-anak, biarpun keterlibatan ortu tetap diminta, tapi perannya gak banyak2 amat. Gak sering2 amat ortu diminta terlibat dalam acara belajar, dalam acara sekolah dllnya. Gak ada seminar itu itu soal parenting dari sekolah atau kursus buat ortu atau bake sale, volunteering atau acara father and kids/ mother and kids dllnya seperti yang pernah aku baca soal sekolah2 Amerika, Inggris ataupun sekolah swasta di ibu kota.

  7. Anaknya tmn kantorku kelas satu SD kya Kai, dia cerita klo PR anaknya kya PR bahasa inggris diminta buat cerita dalam bentuk lima kalimat tentang keluarga (bahasa inggris). Dan mulai hitung-hitungan, ga lagi mengenal angka huruf kya jaman dlu.

    1. sekolah2 yang kurikulumnya berkiblat ke kurikulum barat memang pada umumnya menerapkan metode direct learning ini sih ya

  8. Waahh bagus bgt mbak rik pencerahan sekali terutama utk emaknya jd tau sistem sini hehe..

    Kalo dl pas Malik sekolah di High Scope dpt PR nya semgg 2x, PR membaca bhs indo dan bhs inggris ganti2an tiap mgg nya dan PR pelajaran lain (misal mgg 1 math, mgg berikutnya IPA dst), tp denger2 dl sih tiap hr dpt PR terus banyak ibu2 yg protes akhirnya diubah sistemnya jd skrg semgg 2x. Ya iyalah yg semgg 2x aja kewalahan, krn plg sekolah udah sore bgt (sekolah dr jam 8.00-14.30) blm lg ditambah extended (ekskul) kya Malik ikut futsal dan renang pulang sekolah bs jam 5 sore sama jam plg kantor blm lg ditambah jarak jauh ke rmh bs 2 jam perjlnan krn macet total (padahal klo hr mgg sepi kosong mlompong jarak cinere-tb simatupang cuma 15 menit) kebayang kan sutrisna nya nyampe rmh malem ketambah hrs bikin PR, anak capek, ibupun capek nyetir besok hrs bangun pagi dan macet lg rrrr…. Makanya gak heran menurut survei (di tipi) skrg2 ini banyak yg msh pd muda (usia 30-35 th) udah kena serangan jantung (gimana enggak coba!?)

    Soal metode matematika hungaria sama kok di HS jg menerapkan sistem sama seperti itu anak2 hrs paham konsep bkn hafalan kya kurikulum indo yg sdh mendarah daging itu hehe.. Sama seperti mbak rika si ibu Antarina (pemilik HS indo, yg jg cucunya Ki Hajar Dewantara itu) jg srg cerita ditiap seminar sekolah klo doi selama kuliah di US gak pernah bs ngukur jarak seberapa pjg krn sistem matematika kita yg salah pemahaman itu. Dia pun belajar keras sama profesornya yg akhirnya tercipta ide utk membangun HS di Indo (kalo di US nya sendiri HS itu sekolah percontohan utk Asia kalo gak salah semacam sekolah penelitian gt makanya adanya cuma di Asia di US nya sendiri gak ada) inipun padahal udah disubsidi sama US tp tetep aja buat kantong kita jebol (byran nya 5jt/bln utk elementary) gmn gak tambah jantungan warga ibukota hahahaha…

    Mau cerita sedikit jg pas Malik playgrup dl di HS jg, setelah survei ke 10 sekolah di cinere dan jaksel dan setelah merasakan ketidakadilan dan sistem yg buruk di islamic school di dkt rmh akhirnya ak survei ke 10 sekolah dan jatuh cinta dgn metode HS, krn bener bgt yg mbak rika tulis diatas sekolah sebelahnya c*kal anak hrs tes paikolog, terus kita ortu diwawancara berduit/gak, di front office nya aja ak sampe diliatin dr ujung kaki sampe ujung rambut branded gak, pokoknya dr awal aja udah gak nyaman bgt sama dgn sekolah yg di bango al jab* jg seperti itu front office nya aja udah super jutek bgt, hrs waiting list dan masa daftarin anak sekolah hrs dr hamil 7bln cuma buat dpt kursi, bertampang kumuh dan kucel kya ak udah pasti ditendang bebaaass hahahahaa…. Pokoknya survei ke 10 sekolah itu bikin merinding disco hrs kuat iman dan mental hihihii… Pantes ayah edi blg klo mau lihat sekolah yg pertama hrs dilihat itu managementnya bagaimana mereka memperlakukan kita ortu konsumen dan alhamdulilah di HS sy tdk menemukan semua kerusuhan2 tadi makanya mahal2 pun dijabanin demiii masa depan anak hehe…

    Soal metode/sistem di HS sebenernya utk ukuran indo udah amat sangat bagus bgt (cuma sayang mehong jd gak semua kalangan bs menikmati), pas playgrup anak2 tdk dicekoki dgn banyak pelajaran mereka hanya playing, singing, dancing and drawing, small grup time nya (duduk manis di kls) hanya 5-10 menit sisanya anak2 bermain di playground atau di dlm kls yg udah disediain banyak mainan (balok, lego, mainan pretend play, books corner dll). Nah pas TK B Malik msk nya ke tahap elementary krn pake metode multiage (kls TK B digabung satu kls dgn yg kls 1, kls 2 & kls 3, dst) gunanya utk slg melengkapi yg kecil bs belajar dr yg besar krg lbh seperti itu mmg ada plus minusnya sih.. Dan utk ortu srg diadain seminar/workshop gratis dr sekolah temanya beragam kdg kita belajar math dll jd di HS sama jg sangat menekankan pentingnya kolaborasi antara sistem sekolah dan lingkungan rmh makanya ortunya jg ikutan sekolah. Tp banyak jg yg gak melakukan kolaborasi itu jd tiap anaknya gak bs ini itu langsung menyalahkan metode sekolah dan pindah sekolah kasian..

    Waahh jd supeeerr pjg ternyataahh hihihii pgn bgt ya ubral ebrol langsung sama mbak rika apalagi soal masalah sekolah😍😁

    1. Makasih Gena untuk sharingnya.
      Trus jadi serius mau tanya…masa sih sekolah C*kal begitu? Aku tuh sape obses banget loh pengen anak masuk C*kal seandainya kami pindah ke Indonesia.

      Terus untuk HS. Kalau itu memang proyek percontohan bersubsidi kenapa mahalnya masih setinggi langit ya? Eh, bisikin dong, C*kal sama HS mahalan mana?

      Hihihihi, jadi gosip nih

    2. Iyaa seriusan mbak rik, ak sempet tanya2 langsung tdnya mau mskin Malik sekolah di si C tp ribet dan uang pangkalnya jauuh lbh mahal (dl HS 50 utk elementary dr kls 1-6, si C 80, blm ada tambahan uang tes psikologi dan apa lg gt, klo byran perblnnya sama ama HS) dan denger2 dr temen, guru2nya pun pilih kasih ktnya anaknya dia srg di bully sama tmn seklsnya, berhubung si ortunya tajir mampus dan srg nraktir blablabla si tmnku ini protespun gak digubris bahkan sampe ke level kepsek pun sama aja, jd di indo msh amat sangat jelas kesenjangan sosial diperlihatkan, untungnya di HS gak gitu2 amet tp gak tahan sama pergaulan borjuis emak2nya😁

      Nah iya denger2 disubsidi tp kok mehong bener ya (tp setelah survei sih hrg segini termasuk yg worthed utk fasilitas, kualitas dll nya, yg lain msh banyak yg cuma fokus di money oriented bkn educations nya yg diperhatikan) nah hrg segitu blm lg ditambah biaya ekskul ini itu, les ini itu, blm kebutuhan anak utk main di playground tiap mgg kan byr jg, blm mainan dan buku2nya ditotal2 bs habis 10-15jt/anak (nangis daraaahh)😱 ku tak tahan dan ku tak sangguup hidup di metropolitan mbak😭😭 makanya mampret ke Finland dmn serba gratis disini walo biaya mkn mehong😜

  9. Haha betisnya siapa…pinggangnya siapa..ehm ga semua sekolah di indonesia spt itu sih mba…satu persatu mulai bnyk kok “sekolahnya manusia” dg konsep idealis belajarnya jg dari alam..bljr dg lbh bnyk praktek..spt kata munif chatib dr judul buku yg sama..optimis saja indonesia berkembang ke arah yg baik…

    1. Iya, udah mulai banyak sekolah (swasta) yang menerapkan sistem active learnign dan penyesuaian metode/bahan ajar dengan tingkat perkembangan anak. Tapi kalau dibandingkan dengan jumlah seluruh sekolah yang ada di Indonesia, sekolah2 seperti ini masih sedikit sekali, dan biasanya MAHAL jadi cuma bisa diakses oleh sebagian kecil masyarakat Indonesia aja yang kemudian semakin mempertajam social gap.

      1. Bukan hanya swasta sih. Sbtlnya kurikulum 2013 (kurtilas) yg memanfaatkan metode active learning menggantikan kurikulum 2006 sdh diterapkan di beberapa sd percontohan. Terbatas kelas 1-4 kemudian bertahap lagi kelas berikutnya..namun di lapangan yg km lihat memang kendalanya di sdm pengajar yg ada…kita saat itu blm siap mengubah cara mengajar dr pola selama ini ke arah spt diatas tulisan mba..tidak mudah lho mba…kasian jg para guru tsb.aplg yg di daerah. Perubahan mmg pelan-pelan semoga mkn bnyk yg menerapkan..

  10. Indie_ana Jones · · Reply

    Mbak boleh nggak tulisannya dishare di medsos? Makasih 😊

    1. boleh, silahkan

  11. Mb rikaa artikelnya menarik sekaliii. Semakin membuat saya pesimis dengan persekolahan di Indonesia. hahaha
    Soal kemampuan spasial orang Finland lebih bagus, kalo cewek gitu juga gak mbak? *gak terima ada cewek yang kemampuan spasialnya lebih dari sebetis dan sepaha 😄

    1. Optimis aja yuk, kalau pendidikan di Indonesia akan semakin membaik. Aku sih masih optimis banget (ciyeee). Gak akan terjadi cepat tapi sedikit demi sedikit perbaikan selalu terjadi. Walaupuuuuun….gampang buat aku untuk ngomong begini karena aku lagi gak tinggal di Indonesia. Kalau aku yang bingung dan stress cari sekolah bagus buat anak sekaligus ringan di kantong, rasa-rasanya aku bakal pesimis juga.

      Soal kemampuan spasial cewe vs cowo sini, aku kurang tau. Harus dicari risetnya. Secara umum di dunia ini sih, katanya….katanya nih yaaaa…orientasi dan spasial cowo lebih bagus daripada cewe tapi itu sih karena perbedaan pengasuhan dan gender role yang berbeda antara cewe dan cowo. Kalau peran cowo dan cewe semakin sejajar, pastinya tingkat perbedaan kemampuan ini juga akan semakin insignifikan.

      1. Haduh pingin sih optimis tapi kok ya gimanaa gitu. Pernah suatu ketika saya iseng ngebuka buku IPA anaknya temen kantor yang masih SD, ya ampuun ada gambar skeleton gitu dan disuruh mengisi nama tulang-tulangnya. Set dah, ampe lulus SMA aja saya gak pernah tau nama-nama tulang.
        Terus kakak saya juga mengeluhkan anaknya SD kelas 1 ujiannya kalimat-kalimat rumit dan panjang (bagi anak kelas 1) padahal umur segitu kan membaca juga belum lancar. Sekolah temennya malah lebih ngawur lagi, mau ujian, anak murid dikasi tau kunci jawaban. Nyari ilmu apa nyari nilai ya, kok gagal fokus.
        Sempat baca-baca orang yang homeschooling anaknya tapi kok seperti berat ya… (ya eyalah) Saya ikut berdoa saja deh, semoga ketika saya punya anak kondisi pendidikan Indonesia sudah membaik. Aamiin. 😀

  12. Ahhh.. Mbak Rika.. Ak tergoda utk komen juga nih.
    Daku guru SD yang sedih pula dengan semua sistem pendidikan di Indonesia. Kadang apa yg dilakukan tidak sesuai dgn hati nurani. Bagaimana tidak disini anak kelas 1 SD seperti Kai harus membaca bacaan yg sangat teoritis dan abstrak.. Konsep matematikanya rumit utk usia mrk. Disini teori pembelajaran hanya sekedar teori. Mau menerapkan kita tak punya kesempatan. Bagaimana akan diterapkan jika ujian sudah didepan mata. Soal ujian pasti ttg suatu yg hafalan teoritis.
    Yg saya tangkap di Finland yg dimatangkan adalah konsep membaca menulis dan berhitung terlebih dahulu. Saya suka sekali ituuu..
    Mbak Rika engkau meracuniku

    1. Halo, Dian.
      Seneng kalo guru SD ikut komen dan cerita di sini. Gimana dengan kurikulum 2013 yang katanya tematik dan praktikal? Belum diterapkan di semua sekolah ya?
      Trus, kalo SD negri kan ga ada tes masuk, berarti anaknya bisa jadi belum bisa calistung dong. Apa kelas 1 SD udah langsung baca teks panjang tanpa mikirin kesiapan membaca anak? Aku tuh pengen banget anak-anakku ngerasain bersekolah di SD Negri di Indonesia, karena menurutku pengalaman yang Indoenesia banget bisa didapetnya ya di SD Negri. Tapi denger dari temen-temen kalo bukan masuk sekolah swasta yang mahal-mahal itu, kurikulumnya susah banget. Ya anak-anakku ga bakal sanggug lah.

      Bener pendapat kamu. Di sini, di awal-awal SD, pengajarannya lebih ke pemahaman konsep. Kesannya gampil banget dan cuma kaya main-main aja, tapi dari yang aku liat, terutama banget untuk soal pemahaman bacaan ya. Orang sini punya pemahaman bacaan yang sangat, sangat, sangat baik. Agak susah buat jelasinnya. Pengalaman aku waktu sekolah bahasa. Kalau ada soal bacaan, dan kemudian ada pertanyaan2, jawabannya gak sekedar mencari lagi dari bacaan yang diberikan. Tapi lebih ditanyain soal pendapat, kesimpulan, analisa, prediksi, dan semacamnya.

      Aku ngerasa punya pemahaman bacaan yang cukup baik. Jaman sekolah dan kuliah dulu lumayan pinter lah ngerjain soal beginian. Tapi bacaan di finlandia sini levelnya lebih tinggi, euy.

  13. Wah, kaget juga pas tau peringkat pendidikan Finlandia. Tapi ada beberapa yang mirip sama pendidikan di Jepang. Tapi saya belum bisa cerita banyak sih, ntar aja pas anak udah masuk SD di sini, biar ngalamin sendiri. hehe…
    Makasih sharingnya mbaaak….

    1. sama-sama nisa
      aku juga cerita gini nunggu anak masuk SD dulu biar lebih akurat fakta-faktanya

  14. mbak rika maaf kemarin lupa bilang. minta ijin tulisannya saya share di medsos lain ya mb. thank you

    1. silahkan aja, fela

  15. rik, setelah baca ini baru nyadar kalo sistem di SG juga mirip banget sama sistem di Finland. gak sama persis sih, tapi mirip. terutama bagian homework, library/fasilitas publik, metode belajar matematika.

    setelah dua tahun ngerasain punya anak primary, ternyata sekolah di SG itu gak susah……….. kalo ortunya gak ngoyo. PR kalo dapetnya banyak, itu krn emang anaknya gak bisa selesai ngerjain di sekolah jd dibawa ke rumah. sekolah favorit, itu bukan karena kualitas guru2 di sekolah lain jelek, tp lebih ngejar ke alumninya misalnya. jd lama2 stigma gue (khususnya) tentang sekolah di SG itu susah dan pressurenya itu tinggi itu ternyata relatif banget.

    1. nah, kalo baca komen lo. Jadi sebenernya sistem sekolahnya sendiri gak berat tapiiii…..masyarakatnya yang kiasu? Begitu bukan? So singaporean

      1. begitulah. jadi ranting gue pas awal2 tentang sistem pendidikan disini sebenernya salah sasaran karena emang ternyata orang tuanya yang amat sangat kiasu. masuk SD emang bener gak diharuskan udah bisa baca. tapi kalau 99% anak di kelas udah bisa baca, kasian kan kalau mesti berkorban utk 1% murid yg masih terpatah-patah?

        tapi so far gue puas dengan masukin keira ke neighborhood school ky sekarang (emang gak bisa masuk fav school sih haha), guru2 lebih fokus dan attentive sama anak-anak. holistic skills lebih diperhatiin karena prestasi akademik bukan jadi tujuan paling utama lagi. yg gue liat, anak2 jadi less stress dan lebih enjoy sama sekolah. tp lets see in 3years ya pas menjelang PSLE (Primary School Leaving Examination), gatau opini gue bakal berubah atau engga, hahaha..

  16. Rik, kalau gitu di sini paling gak santai dong ya pendidikannya. TK usia 3-5 dan full loh dari pukul 9 pagi sampai 3 sore. Kalau SD juga segitu 6 jam juga. Tapi TK ini isinya fullll main doang, SD tahun awal juga lebih banyak tipe alat peraga gitu, btw di sini SD umur 5 tahun. Nah, tapi kata temen gue, anak-anak SD awal, PRnya cuma seminggu sekali doang. Makanya temen gue yang pindahan dari SG, ngerasa anaknya santai abis di sini hihihihi. Di sini juga mirip finland, semua anak dapat kesempatan yang sama untuk sekolah, malah lebih berdasarkan zoning. Jadi ya socio economynya based on zoning itu. Sekolah Katolik zoningnya lebih luas, tapi itupun masih disubdisi sama pemerintah jadi gak terlalu menohok. Sekolah swasta yang mahal ada sih, tapi jaranggg banget, dan itu mahalnya gilak, udah kayak orang kuliah aje. Gue sendiri kalo ada duit juga ogah masukin situ, ngeri temen2nya borju.

  17. Mirip dengan sistem di Denmark ya mbak sistem pendidikannya. Cuma baca langsung dari ibu yang mengerti ttg sistem pendidkan di Findland melalui tulisan mbak ini aku jadi banyak tau. Kalau guru menyiapkan sendiri bahan apa yang akan diajarkan, pr dan ujian tergantung kemampuan anak. Luar biasa ya…beda sama pengalaman aku disekolah dulu, makanya benci banget ama matematika, gurunya kejam…alhasil aku lemah disitu..*eh malah curhat 😀 salam kenal mbak 🙂

    1. salam kenal juga, dewi. Kamu pernah tinggal di Greenland ya? Luar biasaaaaaaaa!

      1. Iya 3 thn lebih disana..ini baru aja pindah ke Denmark…..Aku pengen main ke Findland ..masih plan sih..ke Lapland 🙂

  18. menarik banget postingannya.. jadi ternyata PR itu tetep ada yah.. saya share ya di FB 🙂

  19. mbak aku bacanya ngos2an saking panjangnya. Nah lo berarti artikel2 yg beredar selama ini bahwa gak ada PR di Finland salah besar dong ya?Itu pada dapat source darimana ya bisa nulis begitu?
    Btw aku ngakak nyembur pas baca soal nasi aking vs Beef Kobe, bwahahahaha….langsung bayangin anak bule beneran makan nasi aking…hahahaha….
    Salam kenal ya mbak. Eh aku juga punya temen asli orang Finland, temen FB gt. Coba nanti aku tanya ya dia di kota mana tinggalnya *sok ikrib abis

  20. Duh jadi pengen pindah ke finlandia sekarang juga rasanya baca tulisan ini hehehe amiiiiin Menarik banget ya dan bener2 perlahan tapi pasti prinsipnya. Mau baca2 lagi juga ah metode belajarnya secara selama ini cuma taunya Finlandia ga ada PR taunya ada, itu aja berita udah kurang akurat hehehe

    Sharing aja anakku sekarang lagi TK A di Sekolah Alam mba, menurutku so far kegiatannya lumayan menyenangkan buat anak2 (meski tetep ngarep bisa kaya Kai n Sami yg bebas gegulingan di hutan, lumpur atau salju). Kalau liat kerjaannya pun maen doang dan maen dan maen. Waktu awal ke sekolahnya sempet wondering juga ini sekolahan belajar apa kagak sih soalnya hampir tiap saat ada aja yg lagi main bola lah, ada yang ngejar2 kucing lah, dan dikelas pun kalo diintip kok kaya lagi pada joget2 aja haha Tapi so far so good meskipun sama kaya mba Rika aku mau liat sampe SD dulu biar lebih valid komennya. Banyak juga sih ortu yang ga sreg sama sekolah alam karena kerjaannya anak2 kok kaya tukang sampah, dikit2 nabung sampah, dikit2 buang sampah, ada juga yang merasa sekolahnya kurang ketat karena ga ada PR dan keliatan banyak mainnya. Kalau liat isi pelajarannya so far dan dengar daru teman2 yang anak2nya udah SD, sepertinya metode mengajarnya rada mirip sama yang dijelasin mba rika. Jadi hopeful mudah2an anak2 bisa belajar dengan senang dan ga stress ya karena kelas 1 SD harus udah hafal tahun berapa VOC menyerang Indonesia misalnya atau beda antara bilangan prima dan cacah hahaha itu sih gw jaman dulu stress hehehe

    Keep sharing mba rika!

    1. Halo Rizkaaaa…..aku seneng banget dapet sedikit review tentang sekolah alam karena aku naksir banget sama sekolah ini. Sekolah Alam dan Cikal adalah dua sekolah yang menjadi obsesiku, hihihihihihii.

      Aku juga udah niat banget loh mau nyekolahin anak-anak di Sekolah Alam seandainya kami pindah ke Indonesia tapi nemu review yang detil, yang menjelaskan tentang metode belajar di SA, masih susah banget. Trus juga, aku baru tau SA itu ada banyak. Apa metode belajar dan kualitasnya sama semua? Di daerah TangSel ada Sekolah Alam Bintaro dan Sekolah Alam Madinah School. Ini dua cabang yang berbeda atau bagaimana sih? Anak kamu di Sekolah Alam mana ya ?

      Dan bener kata kamu, ada juga ortu yang gak cocok sama SA, soalnya temenku ada yang nyekolahin anaknya di sana tapi akhirnya pindah ke sekolah yang lebih konvensional. Banyak yang bilang sekolahnya terkesan kotor, anak-anaknya dibebaskan lari-lari dan akhirnya sulit konsentrasi waktu belajar. Aku justru tertarik sama yang beginian karena Kai sama Sami yang terbiasa berjam-jam main di luar selama di sini pasti gak bakal betah kalau di sekolah cuma ngendon indoor aja.

      Ssstt….bocorin biayanya juga dong pliiis.

  21. Hi Mba Rika,

    Anakku di Sekolah Alam Cikeas, Cibubur. Kayanya SAC ini salah satu yang udah lama deh, udah 10 tahun lebih sepertinya. Nah sekolah alam setau aku emang banyak macam, termasuk juga beberapa bentuknya lebih kaya rumah orang yang kebetulan punya halaman luas banget aja terus dia bikin lah saung2 dan diberi nama sekolah alam hehe Waktu awal di SAC ini pun antara excited sama ragu, ya udah lah ya maklum emak2 kan mikirnya yang nyamuk lah, takut anak2 jatoh lah banyak lari2an, kelasnya keberisikan lah karena bentuknya saung atas bawah, dll. Tapi akhirnya mantap masukin kesitu karena 1) butuh sekolah yang berorientasi akhlaq dibanding akademik, terutama at pre school & kindie stages, 2) unik, lucu liat anak2 preschool semangat seret2 sampah ke bank sampah sekolah, tertib antri, jalan sendiri ke kelas ga diantar, 3) emang kesengsem sama sekolahnya yang luas banget bener2 alam terbuka jadi anak belajar ya langsung dr asalnya (ini loh nakk rambutan macam ini bentuknya, merah warnanya ada jg yg ijo, petik, asem2 manis rasanya sembari dicobain ke murid 1-1, sebagai contoh), 4) baper mudah terenyuh karena tau sekolahnya menjalankan subsidi, anak2 penjaga dan pembantu sekolah gratis (apa diskon gede2an lupa) sekolah disitu sama2 anak2 yang lain. Makanya aku kyny sampai ke SD bakal tetep disini supaya mindset yg udah dipelajari bs lanjut mengakar sampe ngelotok, baru mungkin berkelana ke tempat lain hehehe SAC sendiri sejauh ini sih udah sampe SMP, tapi kalo SMP masih jauh amatan ya makkkk secara anak gw msh 5 taun kurang 2 bulan 😀

    Sekolahnya juga berorientasi entrepreneur makanya lucu juga liat projectnya ky wkt playgroup diawal tahun setiap anak harus bertanggung jawab merawat tanamannya masing2 setiap green lab day namanya (1x seminggu) dari bibit sampe waktunya panen pas kenaikan kelas. Pas panen, tiap anak boleh petik dan jual hasil panennya ke siapapun yg ada dikelas. Sama sampah2 yang ditabung untuk di recycle selama setahun juga diakhir tahun dihargain duit (waktu itu dpt goceng lumayan haha). Lucu ya makkkk dulu esde gw mana ada beginian hahaha

    Yang paling bikin nervous itu sering banget ada kegiatan yg melibatkan orang tua. Dari yang work with parents lah untuk project individu, sampe parents jadi guest teacher di kelas lah, sampe level banci tampil paling mutakhir ortu disuruh ngisi sesi sharing sebulan sekali yg penontonnya adalah biasanya para ortu yg lagi nungguin bocahnya, mbak2, dll..dari pada sibuk ngegosip kalik ya hahaha

    Maaf ya gw jadi macam ceramah haha Bukan teriring pesan sponsor, bukan promosi, cuma sharing aja beberapa kegiatan di sekolah alam bwt pencerahan sesuai pengalaman pribadi setahun ini 😀

    Biaya sekolah alam menurut gw sih masih sangat2 wajar, seinget gw kalo untuk Playgroup – TK B itu uang masuknya 18jt sudah sama seragam, sama per bulannya 1 juta. Kalau SD dari kelas 1-6, uang masuknya 28jt sama per bulannya 1.5jt.

    Makasih boleh berbagi ya mba rikaaaaa…keep writing, soalnya isinya berfaedahhhhh aku sukaaaaa

  22. Diana C · · Reply

    Mba rika tulisannya menarik sekali… Cerita mba tentang sekolah di Finlandia membuat saya evaluasi diri. Saya guru matemarika di dua SMA, swasta dengan kurikulum KTSP dan negeri dengan kurikulum 2013… yang swasta membayar dan yang negeri gratis… Yang mba Rika ceritakan di artikel di atas sesuai banger dengan situasi di Indonesia. Terus untuk kurikulum, 2013 agak mirip dengan pembelajaran matematika di Finlandia…cuma bedanya agak susah di praktikkan di Indonesia…

  23. Tulisannya bagus dan lengkap mba (salam kenal, sungkem dulu …). Ijin share ya mba Rika.

  24. Mbak Rikaa.. Tulisannya informatif, terima kasih.. Jadi ngrasa ada disana, nyicipin sistem pendidikan ala Finlandia.. Kai nampaknya senang ya, harapannya di sekolah-sekolah kita pun bisa sediakan makan siang gratis ya.. biar jadi kebiasaan hidup sehat juga, diajarkan disekolah + prakteknya 🙂

  25. […] dengan teman yang sedang tinggal di Finlandia (yang bahkan lebih keren lagi sistem pendidikan anak disana) lalu kita ngomongin sekolah di Indonesia, yang katanya sekolah yang keren kekinian pun infaq masuk […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: