the weight of the world on my son’s shoulders

Minggu pertama mudik, kami sekeluarga liburan sebentar ke Singapura. Di Singapura itulah gue perhatiin Kai punya kebiasaan yang ganggu banget. Anak ini jadi suka loncat di tempat. Memang sih dari dulu Kai suka banget lompat-lompatan tapi ini kok semakin sering dan suka bikin kesel karena loncat-loncat di tengah keramaian bikin Kai jadi suka nabrak orang, jatuhin piring atau gelas,  nginjek kaki orang lain, dll. Dimarah-marahin deh anaknya.

Tapi lama-lama gue perhatikan kalau loncatnya Kai ini sering terlihat otomatis alias dilakukan tanpa sadar. Hati gue mulai curiga. Apa kelainan syaraf? Apa kakinya sakit? Tapi karena lagi sibuk jalan-jalan gue gak terlalu banyak mengulik resah di hati tersebut dan sampai di Indonesia acara loncat-loncat ganggu ini syukurnya hilang….untuk kemudian berganti dengan gerakan lain yang juga cukup ganggu, Kai jadi suka mengibas-ngibaskan tangannya ke depan dan belakang.

Lagi-lagi gue perhatiin kalau gerakannya Kai ini sering kali dilakukan tanpa sadar, di luar kontrol.  Misalnya aja lagi makan, ditengah-tengah nyendokin makanan, gerakan nyendok ini kadang terpotong dulu karena Kai harus mengibaskan tangannya ke belakang. Ini bisa terjadi berkali-kali selama makan, jadi bayangin  berapa kali dalam sehari dia berkibas-kibas begitu?

Nyokap gue terganggu banget melihat gerakan Kai ini. Menurut nyokap ini kebiasaan jelek yang perlu dihentikan. Bolak balik nyokap menegur Kai buat berhenti berkibas-kibas begitu dan kebiasaan Kai ini pernah jadi pembicaraan satu rumah BSD.

Dengan muka sedih Kai bilang ke gue kalau dia gak suka ditanya-tanya tentang kenapa dia menggerakkan tangannya sedemikian rupa.  Dia gak bisa menjelaskannya ke orang lain, karena buat dia gerakan itu terasa normal aja dan terjadi tanpa alasan. Bagi Kai gak ada yang lucu tentang gerakannya, jadi kenapa orang-orang harus tertawa? Hati gue lumayan perih denger omongan Kai.

Gue pun bicara dengan Mikko. Kami berdua menyadari gerakan Kai itu bukan sekedar kebiasaan, bukan sekedar suatu fase yang nanti akan berlalu. Gerakan repetitif yang terjadi diluar kontrol tentunya pertanda kecemasan yang terpendam.

Pada suatu malam yang tenang dan damai, dalam perjalanan pulang dari Aeon menuju rumah BSD, Mikko berbicara dengan Kai.

“Kenapa Kai suka gerak-gerakin tangannya seperti itu? Kai tau gak kenapa?”

“Aku susah jelasinnya, isi. Gerakan ini mungkin buat orang lain aneh, tapi kalau buat aku normal aja. Ini biasa banget buat aku, seperti…aku ini Kai, aku harus bergerak seperti ini. Duh, susah deh jelasinnya”

“Oke. Apa Kai punya banyak pikiran di kepala?”

“Iya jelas. Banyak banget. Terlalu banyak”

“Terlalu banyak? Kai mikirin apa aja?”

“Tentu saja di dunia ini banyak yang harus dipikirin, isi. Ada banyak juga yang menakutkan. Seperti misalnya katastrofi yang bisa terjadi kalau terlalu banyak polusi. Gunung meletus, angin puting beliung, topan badai.”

“Kai tenang aja. Isi udah hidup lama sekali, Äiti udah hidup lama sekali. Demikian juga Mumu sama Oma, dan dunia belum berakhir, belum ada katastrofi. Memang polusi dan sebagainya bisa mempercepat  terjadinya katastrofi tapi itu semua terjadi pelan-pelan, dan kita bisa mencegahnya. Kai udah tau bukan?”

“Iyaaaaa. Aku tau. Jangan banyak makan daging. Jangan nambah polusi. Sering jalan kaki, jangan sering-sering naik mobil atau pesawat. Naik kendaraan umum lebih baik”

“Kereta. Naik kereta yang paling bagus” (yang satu ini Samiun yang nyeletuk)

“Tapi Oma pernah ngerasain gempa bumi loh” (masih Samiun)

“Iya benar. Tapi gempanya kecil sekali waktu itu di Jakarta. Gak ada yang rusak. Gak ada yang terluka. Gak perlu khawatir”

“Iya, tapi ‘kan tetap di tempat lain pasti ada gempa bumi yang terjadi, ada topan badai yang terjadi”

“Dengar, Kai. Kita sekarang di Jakarta. Jakarta aman. Gak ada tsunami, gak ada angin puting beliung, gak ada gunung berapi. Dan nanti kita di Finlandia juga aman. Jadi Kai gak usah khawatir, ya. Apalagi yang suka Kai pikirin?”

“Ada banyak. Misalnya gimana kalau ada orang jahat datang. Gimana kalau isi sama äiti gak ada, aku jadi sedih. Aku gak suka kalo aku ngomong terus isi cuma jawab “yaaa…yaaaa” tapi gak bener-bener dengerin aku. Terus aku juga sedih liat äiti sedih waktu ompung meninggal.  Kemarin waktu di makam ompung, äiti nangis”

“Äiti gak nangis lagi, Kai. Äiti udah gak sedih lagi sekarang. Jadi Kai gak usah sedih juga ya”

“Benar äiti gak sedih? Äiti gak sedih ompung meninggal?”

“Pasti äiti sedih. Tapi gak sebanyak dulu lagi.  Dan sedih itu gak papa. Äiti tetep seneng juga. Äiti seneng ada Kai, ada Sami. Äiti lebih banyak senengnya daripada sedihnya”

“Tapi mungkin Oma sedih. Oma kan sekarang sendirian gak ada ompung”

“Tapi kan ada Om Remi sama Tante Icha sama Aubrey yang nemenin Oma”

“Kai. Apa Kai sedih kalo isi marah? Menurut Kai isi sering marah gak?”

“Hmm…gak sering. Pas aja marahnya. Aku sedihnya karena liat isi sering marah ke Sami. Tapi memang sih, aku sama Sami harus berusaha untuk jadi anak yang lebih baik”

“Kai tau? Kai udah jadi anak yang baik. Baik banget. Sami juga. Kalian berdua udah jadi anak yang baik sekali. Soal satu ini Kai gak perlu khawatir, isi dan äiti tau kalian berdua anak yang baik sekali. Isi sama äiti yang harus berusaha untuk lebih sabar sama Kai dan Sami biar gak sering marah-marah dan lebih sering dengerin kalian”

“Iya.  Orang dewasa juga bisa marah atau berantem. Sama juga kaya anak-anak. Aku sama Sami juga suka berantem”

Tentunya di sini Mikko melirik gue. Gue memang paling gak bisa nahan emosi dan sering kelepasan marah-marah ke Mikko di depan Kai dan Sami.

“Kadang-kadang aku ngerasa aku bukan anak yang baik. Aku tau aku harus jadi anak baik tapi aku tetap nakal, tetap suka marah, aku gak tau gimana caranya supaya baik terus. Äiti tau gak, menurut aku, aku gak bisa masuk surga soalnya aku masih sering nakal”

“Kai pasti masuk surga. Äiti yakin. Kai anak yang baik. Anak yang baik juga kadang-kadang nakal. Semua anak pasti ada nakalnya. Sama juga orang dewasa pasti juga pernah nakal, pernah jahat tapi baiknya lebih banyak.

“Äiti yakin Kai masuk surga?”

“Iya,  yakin”

“Gimana dengan penjahat? Apa dia juga boleh masuk surga? Kemana dia pergi kalau bukan ke surga? Apa ada surga khusus untuk penjahat? Siapa yang masuk tempat yang ada apinya itu? Kalau Tuhan baik kenapa dia bikin tempat itu?”

Untung sekali waktu itu lampu merah berganti menjadi hijau dan gue harus memutar mobil di U-turn yang butuh konsentrasi tinggi. Maklum, supir amatir. Gue pun terhindar dari keharusan menjawab pertanyaan-pertanyaan Kai.

“Kai. Apa menurut Kai, kalau Kai mengibas-ngibaskan tangan begitu Kai jadi lebih tenang? Bikin Kai gak khawatir lagi?”

“Hmm. Sepertinya memang begitu, isi. Kalau aku bergerak-gerak, pikiran di kepalaku jadi berkurang.”

“Oke. Kalau begitu isi ikut senang. Isi senang Kai mau cerita sama isi. Kai bisa janji gak kalau Kai ada pikiran, Kai cerita sama isi atau sama äiti?”

“Kalau memang ada yang harus diomongin ya pasti aku cerita, isi. Tapi kalau gak ada apa-apa ya aku mau ngomong apa juga?”

“Oke. Janji ya. Isi juga janji nanti dengerin Kai lebih baik lagi”

Pembicaraan di atas tentunya gak memecahkan masalah Kai. Anakku itu tetap aja masih khwatarin memikirkan berbagai masalah dunia, masalah orang lain dan masalahnya sendiri  di kepalanya. Gue dan Mikko butuh bantuan profesional buat membantu Kai menjadi anak yang lebih santai, yang lebih anak-anak, gak terperangkap dengan pikirannya yang kelewat dewasa buat umurnya sekarang. Agak berlawanan sama sifatnya yang kadang masih anak-anak banget. Masih percaya sama Sinterklas, percaya sama peri gigi biarpun Sami udah bilang ke Kai “Sinterklas itu cuma orang dewasa pake kostum tauuuuk”

Di satu sisi gue sedih sekali melihat anak gue hidup dengan beragam kecemasan di otaknya tapi di sisi lain gue bangga sama pemikirannya yang dewasa, sama hatinya yang sensitif, dan niat-niat baiknya untuk dunia maupun untuk orang lain.  Semoga tiga hal tersebut bisa tetap terjaga dengan baik sepanjang hidupnya. Dengan kadar yang proposional dan lebih age appropriate tentunya.

Kalau denger cerita dari seorang teman, katanya si teman ini waktu kecil juga seperti Kai. Penuh kekhawatiran dan sering banget gerak-gerakin jarinya tanpa sadar seperti lagi main piano. Sampe dimarahin orang-orang karena terlihat aneh. Tapi sekarang teman gue ini orangnya mah asik dan sante bae sekaligus juga dia ini salah satu manusia paling baik yang gue kenal. Berkaca dari kisah si teman, gue berharap gue gak perlu banyak-banyak khawatir tentang Kai.

 

PS: percakapan antara Mikko dan Kai tentunya terjadi dalam bahasa Finladia yang lebih dikuasai Kai ketimbang bahasa Indonesia. Percakapan aslinya terdengar lebih santai daripada terjemahan yang gue bikin walaupun tetap aja, bagi gue dan Mikko, pemilihan kata dan tentunya topik pembicaraannya terdengar sangat dewasa dan serius untuk anak 6 tahun.

PPS: Untuk percakapan antara gue dan Kai, pada aslinya gak selancar di atas. Kai kadang suka kesulitan menemukan kata dalam bahasa Indonesia, kadang ngomongnya suka muter-muter dulu, kadang suka pake selipan bahasa Finlandia yang kemudian akan gue parafrasekan dalam kalimat yang lebih tertata. Biarpun begitu, I am a proud mom. Gue bangga Kai bisa mengungkapkan perasaan dan pemikirannya lewat kata-lata.

PPS: belakangan ini isi blog seputaran anak-anak mulu ya? Resmi sudah jadi blogger emak-emak yang hidupnya meluluk tentang anak-anak. Tapi beneran deh, semakin besar anak-anak ini semakin bikin takjub dengan tingkah laku dan pemikiran mereka. Mau gue rekam sebanyak mungkin untuk  kenangan di masa depan.

 

Advertisements

28 comments

  1. Koq aku jadi ngembeng gitu ya air mataku baca kegelisahannya Kai, one in a million banget anak2 yg punya case kayak Kai. Apalagi pas bahasan tentang dia bisa masuk surga atau nggak. Langsung beleberan ini airmata 😣😣
    Semangat ya Kai :* hidup memang nggak serumit apa yang kita pikirkan tapi nggak semudah yang kita bayangkan juga. Selalu ada hikmah di setiap kejadian (tsaah syedap betul)

  2. Mbak Rika, aku bacanya kok terharu banget ya. Hangaat sekali. Salam untuk Kai dan Sami ya mbak 🙂

  3. Special kiddo bener ya Rik mereka, keknya ngobrol ama adult 40 thn jg mungkin ga bahas seperti yg mereka sampaikan😄

  4. Halo kai assalamualaikum insha allah dunia akan baik2 saja, kai anak baik insha allah bisa ke surga. Mba rika ngobrolin apa aja sih anaknya? Pinter2 banget gini?

  5. qonita · · Reply

    Kai dewasa bangett…..penasaran mbak Rika ama Miko biasanya ngobrol apaan ke Kai ampe begini dewasanya

  6. Rika, ini omongan serius banget ya 👍🏼 dan Kai koq bisa mikirin itu semua walau akhirnya dia jd khawatir trus ya 😁. Semangat Kai……….

  7. Kai, di sekolah diajarin apaan ya bisa kritis begitu? Pinter banget Kai, aku aja ga pernah mikirin yg Kai pikirin

  8. Mba Rika..lama ga komen….hehe..sebelumnya Minal Aidzin Wal Faidzin ya…Mohon Maaf Lahir Batin..Selamat Idul Fitri utk Mbak Rika Sekeluarga…. :).. Terharu bgt mba dengerin curhatan Kai…he is super sweet boy…anak yg super baik…Kalo menurutku kebiasaan si Kai suka gerakin tangan ntar lama2 pasti ilang sendiri Mbak, seiiring bertambahnya usia dan saat dia bisa memanage hati dan pikirannya nanti…soalnya saya dulu juga gitu *ngaku*…saya suka gerakkin kaki kalo pas duduk atau makan, juga krn mikirin sesuatu dr kecil..smp dimarahin Ibu, tapi lama2 ilang sendiri…hehe……Aku ada temen, persis seperti Kai, baik bgt, perasaannya halus dan pemikirannya dewasa bgt ga sesuai umurnya. Dia cerita dulu waktu masih kecil terkadang merasa pikirannya berat, dan bingung gimana meringankannya, katanya kalo dia gerak2 gitu ato lari keliling rumah bisa ringan rasanya…kadang dia suka gerak2in tangannya pake sapu ato raket2 kecil kayak orang main gitar gitu,..trus mungkin ortunya risih ya, akhirnya dia dibeliin gitar kecil gitu macam ukulele..ya udah deh, kalo lg mulai mikir gitu, temenku bilang dia langsung mainin gitarnya..awalnya asal gonjreng aja biar lega katanya..lama2 jd hoby trus jadi gitaris deh dia smp menang lomba2…katanya kalo udah main gitar, pikirannya jd lebih ringan dan santai. trus efeknya bagus bgt, temenku jd pribadi yg baik banget, halus perasaannya dan dewasa bgt.. 😀

  9. Wulan · · Reply

    Kai pemikirannya kritis ya Mbak. Semangat ya Kai.:)
    Btw, adik aku juga suka gerakin kakinya dan sering aku omelin. Apa dia begitu karena seperti Kai ya Mbak. Terlalu banyak yang ada dipikirannya, jadi melakukan gerakan itu tanpa sadar. Aku jadi mau tanya ke dia ntar.

  10. bemzkyyeye · · Reply

    Ndak apa2 isi blog nya anak2 trs, Rik.. Biar nanti bisa baca2 lg klo pas anak2 udah gede ☺️

    Btw itu pembicaraan nyaaaaaaa hahahaha.. Banyak bnr yg dipikirin sih Kai.. Kritis sekali. Klo drmh suka ngobrolin banyak hal kah Rik? Sampe kepikiran semua yg org dewasa pikirin heheheheh

  11. Kaaaiii. Kritis banget. Dan oh so thoughtful. Rasanya pengen melukin dia trus bilang ke dia untuk rest assured, semuanya pasti akan baik2 aja. *background song: Sleeping Child by MLTR*
    Awal2 baca aku pikir Kai punya tic disorder. Tapi mungkin itu memang mekanisme dia untuk distraction gitu ya mba, supaya lebih tenang dan ga mikir macem2.

  12. Aku menahan perasaan banget nih bacanya, cerita-cerita Mba Rika bikin terharu deh. Kai kritis dan baik hati, aku yakin Kai ini bibit unggul, maksudnya Kai ini akan jadi orang sukses. Amiinn… 🙂

  13. ooh Kai… Tante boleh peluk? *peluk erat-erat*

  14. Kaiiiiiiiiii! Gw sampe keabisan kata – kata, rik mau ketik komen … peluk kai! Dunia akan tambah baik dengan adanya Kai!!! dan Samiun!!! Dunia akan lebih ceria dengan celetukannya dia .. Isi sama Aiti bangga banget nih sama dua jagoannyaaa .. *dan melow*

  15. imavandam · · Reply

    Sedih aku bacanya rik…kai terlalu banyak mikir di umurnya yg masih anak2 terlalu menghawatirkan hal hal yg dia takutkan.

  16. Kai jiwanya matang walaupun umur masih muda. Anakku juga gini Rika, ngobrol tentang hal seperti Kai dengan segala kekhawatiran dia dsb…dsb…Yang penting kita ngga lupa di samping wisdom mereka, mereka tetap anak-anak. Salam ya untuk keluarga, enjoy your stay!

  17. Wuih kai bener2 pemikirannya dewasa banget yah? Kasihan sih sebenarnya, soalnya dianya kan masih anak2. Harusnya menikmati masa kanak2nya tanpa memikirkan hal2 yang diluar kemampuannya untuk memecahkan masalah. Tapi diluar dari usianya yang masih kecil, sifat dasar kai udah kelihatan yah, baik hati dan penyayang.

  18. TNgembeng bacanyaa…Kai anak yang baikkk sekali hatinya dan super cerdas. Semoga kebaikan selalu mengelilingimu dan Sami yaa…

  19. Kai hatinya peka dan halus banget, berpikiran panjang ke depan.
    Beda banget ya sama Sami yang lebih santai.
    kalo baca tentang Kai dibagian ini, rasanya pengen meluk Kai dan bilang semua akan baik-baik aja kok, nggak usah cemas Kai.

  20. PELUK DULU SINIHHH!!! dohhh, anak laki kayak beginiii, mudahmudahan nanti jadi menantu akuhhh *LHOH!. Kai hatinya halus pikirannya cerdas compassion sekaliii dan sudah bisa cari solusi untuk apa yang kusut dipikirannya. Kai pasti disayang Tuhan, selalu dalam lindungan berkah ya nak *tisu mana tisuuu

  21. Semoga kebaikan dan ketulusan hatimu terjaga seiring bertambah besarnya umurmu ya, Kai..
    Dan semoga kekhawatiranmu nantinya berubah bentuk menjadi energi dan semangat membuat komunitasmu, duniamu bertambah baik..
    Dan sekarang, semoga Kai bisa tetap ceria sebagaimana anak-anak di dunianya. Pukpuk Kai.. *malusayasudahbesartapikalahpekasamakai*

  22. Anisa Husnawati · · Reply

    kak bikin youtube channel dong. pasti seru:D

  23. Salam kenal ….. udah lama sy jadi silent reader… terimakasih ya… sudah menulis blog yg menghibur & menginspirasi ini….

  24. Kai pinter banget ya.. apalagi dia bisa sampein apa isi kepalanya dalam bentuk kata-kata..

  25. beeuh bahasannya tingkat dewa ini 😀
    luar biasa banget pemikiran kai yaa, mungkin kita yang udah tua2 ini sama sekali ga pernah kepikiran hal2 itu, tapi kasihan juga sama kai jadi punya banyak hal yang dikhawatirkan, untung aiti-nya psikolog 😀
    semangat yaa kai, yuk kita sama2 berjuang biar bisa masuk surga 😀

  26. Searching “bule di sawah” eh nyangkutnya di artikel ini
    https://seerika.wordpress.com/2012/10/16/sidemen-yang-bikin-hati-demen/
    Pas dibaca2x blognya tentang parenting. Ngikut belajar parenting ah.
    Sampai berapa lama kah saya akan bertahan X-P

  27. Kai ❤
    Kai dewasa banget ya, Mbak, pemikirannya.. plus kayaknya Kai sensitif juga tapi alhamdulillah Kai bisa belajar mengutarakan pikiran ke Isi dan Aitinya. Semangat, Kai!

  28. […] lumayan pintar main bola dan dia tau itu. Sejak ikut klub bola dan latihan bola hampir setiap hari, kegiatan mengipas-ngipaskan tangannya menghilang. Mungkin memang dulu itu Kai terlalu bosan di Indonesia, gak banyak kegiatan hingga […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: