mencari ikhlas

Bokap gue tutup usia kira-kira dua bulan yang lalu. Menceritakan apa dan kenapanya selalu bikin hati gue perih sampai sekarang. Malah mungkin akan untuk selamanya. Yang jelas tahun baru 2016 dimulai dengan beli tiket mendadak buat gue mudik ke Jakarta. Sendirian, tanpa Mikko dan anak-anak.

Tiket dibeli untuk penerbangan esok hari. Mahalnya jangan ditanya, bayarnya apalagi…sampe sekarang masih dicicil. Tapi waktu itu gue merasa harus banget pulang. Harus banget liat bokap di rumah sakit.

Singkat cerita, dua minggu  gue di Jakarta, tiap hari mondar-mandir BSD-Harapan Kita. Capek, sedih, takut, bingung, kecewa tiap melihat keadaan bokap yang ternyata lebih buruk dari yang gue bayangkan. Tiap hari juga pikiran penat sampe gak bisa tidur. Padahal seharusnya kesempatan banget buat tidur gebluk mumpung gak ada anak-anak ‘kan?

Keluarga gue bukan tipe sentimentil yang suka berbagi perasaan atau ngomongin hal-hal sedih. Selama nungguin bokap di RS, gue dan nyokap cenderung membahas kejadian sehari-hari aja. Makanan kesukaan, warung makan baru yang perlu dicoba, tingkah laku Kai dan Sami, Aubrey yang hobinya menyanyi, gosip artis dan politikus, dll. Padahal gue yakin banget, kami semua sekeluarga punya banyak pertanyaan di dalam hati masing-masing. Apakah Papa akan membaik? Apa Papa akan selamat? Gimana kalau gak?

Terus terang berada di rumah sakit bikin gue stress. Gue kenal bokap sebagai laki-laki kuat, galak dan ambisius. Melihat dia terbaring di kasur RS bikin gue mau nangis apalagi kalau batuk-batuknya udah kumat dan bikin detak jantungnya naik turun, rasanya mau lari aja. Bayangkan nyokap gue yang harus menghadapi itu setiap hari selama tiga minggu di rumah sakit?

Biarpun sibuk bolak-balik ke RS, gue banyak main-mainnya juga. Tiap hari ada aja jadwal ketemuan di GI lah, di Central Park lah, di PS lah. Gak kaya orang yang lagi ngadepin masalah. Don’t judge me, but it was my way of coping. Kalau bukan karena teman-teman yang mau diajak ketemuan waktu itu, mungkin gue depresi berat selama di Jakarta.

Singkat cerita (lagi), waktu dua minggu di Jakarta udah hampir berlalu. Gue harus balik ke Kerava. Dan pas banget, di malam sebelum gue harus terbang bokap akhirnya dilepas dari rumah sakit dan boleh pulang ke rumah.

Senang campur khawatir liat bokap pulang. Tentunya senang dapet berita kalau bokap gak perlu perawatan intensif di RS lagi, tapi liat beliau yang tampak begitu lemah dan lelah setiap saat bikin kami khawatir juga. Tentu saja kekhawatiran ini disimpan di hati masing-masing, gak banyak dibicarakan ke nyokap ataupun Remi dan Rima. Begitulah kami.

Balik ke Kerava langsung deh kangen-kangenan sama Kai, Sami dan tentunya Mikko – suami pahlawanku, yang membelikan tiket gue walaupun kami lagi bokek berat, yang entah bagaimana caranya bisa mengatur jam kerjanya yang aneh itu supaya anak-anak gak terlantar (kebetulan banget mertua yang biasanya suka bantu-bantu lagi liburan ke luar negri).

Satu hari yang bikin gue bahagia. Balik ke rumah burung hijau, anterin anak-anak les, jalan sambil gandengan tangan sama suami dan yang terpenting bokap dah gak di RS lagi.

Satu hari.

Karena besoknya gue dapet kabar bokap meninggal.

Rasanya jangan ditanya deh. Kaya dunia runtuh.

Tiga minggu setelahnya gue nangis setiap hari. Termasuk di acara rame-ramenya KBRI. Waktu lagi asik-asik bergembira, pilihan musiknya berganti ke lagu-lagu jadul – tipe lagu-lagu karaoke kesukaan bokap. Langsung deh gue nangis meraung-raung di KBRI. Apalagi kalau mengingat gue suka kesel sama hobi karaokenya bokap ini. Setiap karaoke speakernya harus banget menggelegar biar satu RT bisa denger. Padahal bokap gak pinter-pinter amat nyanyi. Tapi sekarang mah,…kangen banget sama si Papa. Mau karaoke pake mega speaker juga gak masalah, asal bisa sekali lagi aja peluk Papa dan salim tangannya.

Setelah tiga minggu tangisan gue berhenti tanpa sebab. Suatu pagi gue terbangun dan seperti biasa teringat kalau bokap udah gak ada. Tapi herannya waktu itu gue gak nangis. Bisa jadi air mata gue udah kering. Walaupun begitu, rasa sedih dan kosong di hati masih ada sampai sekarang dan entah kapan akan menghilang. Dugaan gue sih gak akan pernah.

Sering Kai bertanya “Äiti masih sedih? Sedih karena Ompung meninggal? Sedihnya sedikit atau banyak? Kenapa sedih terus? Kapan gak sedih lagi?”

Äiti juga gak mengerti, nak. Ini juga hal baru buat äiti. Sedih yang gak bisa hilang, yang mungkin gak akan menghilang.

Gue pernah baca kalau orang yang mengalami kehilangan berubah in a way yang gak terlihat oleh orang lain. Hal ini gue rasakan sendiri kebenarannya. Setelah tiga minggu bertangis-tangisan gue mulai kembali menjalani hidup normal. Kembali sekolah, balik ke dapur, ngurus rumah, ketemuan ama temen-temen, dll. Semuanya dikerjakan seperti dahulu kala. Gue pun tetap jadi orang yang sepertinya sama – tetap pendiam dan pemalu di sekolah, banyak omong dan suka ngelucu di kalangan temen Indonesia, hobi ngomel ke Mikko, tetep rajin blogwalking, marathon nonton serial tv… tapi dalam hati gue ada yang beda. Ada perasaan sedih yang menetap dan gak bisa diobati, hati yang terasa tertusuk tiap kali inget bokap. Dan kesedihan ini bisa muncul kapan aja. Di kereta waktu liat kakek sama cucunya. Di sekolah waktu denger teman bercerita tentang ayahnya. Di restoran waktu lagi liat menu makanan. Atau malah waktu lagi bengong dan gak mikirin apa-apa.

Gue rasa ini memang proses yang harus kita lalui sebagai manusia. Untuk hidup dengan berbagai emosi di dalam hati. Gue tetap bisa senang, bahagia dan ketawa ngakak biarpun di sudut hati ada duka yang gak mau pergi.

Kalau dibilang mungkin gue sedih karena belum ikhlas atas kepergian bokap…ya, mungkin benar juga. Gue masih dalam perjalanan mencari ikhlas. Sampai sekarang masih banyak pertanyaan yang suka muncul di kepala. Gimana kalau bokap lebih cepat di bawa ke rumah sakit? Mungkin kami gak harus kehilangan beliau. Gimana kalau dibawanya ke rumah sakit lain? Ke luar negri? Apakah tindakan yang diberikan dokter semuanya benar dan baik buat bokap? Apakah dokter-dokter kemarin itu cukup kompeten? Kenapa dulu gak cari dokter yang lebih baik? Kenapa kok bokap dibolehin pulang dari rumah sakit? Kalau dia masih di RS apakah dia akan selamat? Apakah gue kurang berdoa? Apa gue kurang ibadah?

Ikhlas….kemana sih harus mencari kamu?

Kadang juga gue berpikir, gak adil banget gue ‘dikasih angin’ waktu bokap diijinin pulang dari rumah sakit. Udah sempet seneng-seneng tapi terus dihempas lagi cuma dalam waktu dua hari. Tapi terus gue berbicara dengan teman-teman yang juga sudah mengalami kehilangan. Mau yang kehilangan secara tiba-tiba ataupun yang kehilangan setelah bergelut dengan penyakit tahunan, dukanya sama aja. Sama-sama pake banget.

Satu hal lagi yang juga gue perhatikan, yang namanya kehilangan orang tua itu pasti akan sangat-sangat menyedihkan mau gimanapun bentuk hubungan yang kita miliki. Sebelumnya gue gak pernah mikir kalau gue akan sesedih ini. Hubungan gue dan bokap sebenernya gak deket-deket amat, malah bisa dibilang agak kaku. Di mata gue bokap itu galak, otoriter dan gue menyadari kalau dia bukan manusia sempurna. Ada cukup banyak kejadian dimana bokap bikin gue sakit hati, termasuk juga tindakan dia yang melukai perasaan nyokap dan adek-adek gue. Tapi gue yakin duka gue sama besarnya dengan mereka yang kehilangan ayahnya yang juga sekaligus bff/pahlawan kuda putihnya.

Yang ada malah kesedihan gue diiringi dengan beribu penyesalan. Menyesal kenapa gue gak membina hubungan yang lebih baik sama bokap, lebih berbakti, jadi anak yang lebih baik, yang gak suka lupa atau telat ngucapin selamat ulang tahun. Pastinya gue pun secara sadar ataupun gak sadar sering juga menyakiti perasaan bokap. Gue tau banyak pilihan hidup gue yang gak disetujui sama beliau, dan selama ini gue gak terlalu peduli. Tapi sekarang gue bertanya-tanya, apakah gue cukup membahagiakan bokap? Apa dia bangga sama gue? Apakah dia senang ataukah malah bersedih melihat hidup gue sekarang? Apa dia merasa berhasil ataukah gagal dalam mendidik gue? Kalau mikir gini bawaannya mau nangis aja deh.

Seandainya…seandainya aja waktu bisa diulang. Gue ingin ngomong ke bokap kalau ‘Ika baik-baik aja, Pa.’ Gak semua harapan bokap gue realisasikan. Gue bukan bukan wanita karir dengan pekerjaan yang dapat dibanggakan. Gue juga milih ikut sekolah masak yang terdengar ece-ece di telinga bokap dan bukannya lanjut S2 atau S3 di universitas sini. Tapi inginnya bokap tau kalau yang gue lakukan memang yang terbaik buat gue. Biarpun sok cuek, sebagai anak gue tatap butuh afirmasi dan persetujuan dari orang tua.

Sekarang gue cuma bisa berharap supaya bokap ikhlas sama pilihan gue dan penuh maaf atas kesalahan gue terhadap beliau.

Gue juga berharap sekali kalau bokap bisa tau bahwa ada beberapa hal yang gue lakukan demi dia dan nyokap. Seperti mengajarkan bahasa indonesia ke anak-anak karena tujuan utamanya memang supaya bokap-nyokap bisa bebas lepas ngomong sama cucunya. Atau usaha gue untuk mudik setahun sekali, biarpun kerjanya melalak terus dari mol ke mol, tapi niat utamanya tetap untuk bokap dan nyokap.

Kalau gue boleh kasih nasehat, anjuran dari gue ya supaya kita-kita lebih menyayangi orang tua. Jadi anak yang lebih baik dan lebih berbakti. Gue tau hubungan anak dan orang tua ala Indonesia gak seperti film Hollywood yang penuh kemesraan, kedekatan, banyak-banyak diskusi dan ‘i love you’ di sana-sini. Tapi kalau udah kehilangan begini, ada banyak sekali rasanya yang ingin disampaikan. Seperti kata lagu, wish I could have told him in the living years(yang sekarang selalu sukses bikin air mata tumpah):

I know that I’m a prisoner
To all my Father held so dear
I know that I’m a hostage
To all his hopes and fears
I just wish I could have told him in the living years

Say it loud, say it clear
You can listen as well as you hear
It’s too late when we die
To admit we don’t see eye to eye

Dan seklise kata pepatah: malah sayang jika telah hilang. Dulu aja sukanya inget-inget yang bikin sebel tentang bokap. Sekarang malah ingetnya sama masa-masa bokap anter jemput gue ke sekolah, ke tempat les, ke pesta ulang tahun, ke acara kemping, dll. Kok si Papa mau aja ya? Apa gak capek?  Gue aja suka lemah letih lesu jemput anak yang päiväkotinya 5 menit jalan kaki dari rumah.

Memang hubungan antar anak dan orang tua itu unik, ya. Makanya banyak muncul di facebook anak-anak adopsi yang mencari orang tua kandungnya. Atau anak-anak yang tetap bersedih atas kematian ayah/ibunya yang abusive. Kayanya manusia memang sudah diprogram untuk membutuhkan orang tua. Sama kaya bebek yang udah imprinted untuk mengekor induknya seketika menetas dari telur. Kehilangan orang tua rasanya seperti kehilangan rumah tempat untuk pulang, seperti tumbuhan yang gak punya akar, seperti layangan yang putus talinya.

Gak heran kalau kematian ayah atau ibu memberikan dampak yang sangat besar dalam kehidupan manusia. Dalam kasus gue, biarpun cuma diagnosa pribadi, tapi gue akui gue mengalami depresi. Jadi suka sendiri, males ketemu orang, kehilangan gairah pada hal-hal yang biasanya disukai, susah tidur nyenyak, cita rasa terhadap makanan berkurang (tapi herannya berat badan gak turun-turun)

Dalam suasana berduka begini, let me tell you what helps me and what doesn’t help.

Yang pertama sekali gue rasakan membantu adalah kedatangan teman-teman gue. Terus terang aja, gue setuju ketemu mereka atas dasar gak enak hati, gak enak kalau nolak. Tapi pas udah ketemuan gue malah merasa terbantu.  Setelah nangis dua hari tanpa henti, seneng juga rasanya membicarakan hal lain, hal-hal ringan yang bisa bikin gue senyum atau ketawa. Yes, gue gak mau banyak-banyak ngomongin bokap waktu itu. Please ngomongin yang lain aja, yang bikin gue seneng.

Tentunya perihal ketemuan ini cuma berlaku untuk teman-teman dekat. Ada juga beberapa yang gue tolak kedatangannya (dengan alasan palsu), termasuk gue memilih untuk gak bikin pengajian buat bokap di sini karena gue sungguh gak sanggup untuk ngadepin orang banyak.

Sehubungan dengan hal di atas, alasan kenapa gue gak mau ketemu orang waktu itu karena gue gak sanggup cerita tentang bokap, sakitnya bokap, dan detil-detil lain tentang kepergian beliau. Sementara pada umumnya orang selalu bertanya kenapa? Bagaimana? Sakit apa? Beneran, pertanyaan-pertanyaan ini justru mengundang air mata yang sebenernya juga udah terlalu banyak ngucur.

Saran gue, sih, tanyakan saja “Apa kamu baik-baik saja? Apa yang bisa saya bantu?” pada orang yang sedang berduka.  Gak perlu tanya kenapa, apa dan bagaimananya dari mereka, apalagi kalo hubungan pertemanannya gak deket-deket amat. Yang nanya kan bukan kamu aja, semua orang juga pasti punya pertanyaan yang sama. Bayangkan rasanya harus mengulang cerita sedih lagi dan lagi dan lagi dan lagi. Kita yang berduka ini juga mau move-on kaleeee.

Food and money do help! Gak bohong dan gak niat matre juga. Lagi sedih begitu pastilah males banget berjibaku sama kerjaan rumah, jadi gue terbantu sekali kalau bisa dibebaskan dari tugas-tugas tersebut. Anak-anak bisa tetap makan dengan bantuan makanan dari teman. Makasih banget buat Mbak Yessy, Ayu, Rachma dan Ghighie yang udah memakmurkan perut kami sekeluarga di masa susah ini. Buat Anggi dan Rio yang mensponsori kami main-main ke matkamessu. Juga buat teman-teman di Jerman yang mengirimkan uang belasungkawa.

Dari nyokap gue tau kalau sumbangan dari para pelayat membantu banget untuk melancarkan bermacam urusan.  Yang namanya kematian ternyata meninggalkan sejuta urusan yang banyak makan biaya. Memudahkan banget ada uang di tangan untuk kasih tip pekerja di pemakaman, uang amplop untuk satpam komplek yang bantu-bantu ngurus tahlilan, dll.

Teman, tetangga, sanak saudara adalah elemen lain yang sekarang gue maknai keberhargaannya. Masih terngiang-ngiang ucapan nyokap di telepon waktu itu

“Mesjidnya penuh, Ka. Banyaaak kali yang sholat buat Papa. Alhamdulillah kali mama ngeliatnya”

“Temen Ika banyak yang datang. Cahyo, Merddy datang ke rumah pagi-pagi. Si Vera juga, dari pagi kali udah sampai dia di sini temenin mama,  Wahyu ikut sholat di mesjid, April juga dateng. Clara, temen Ika yang di Jerman dulu, masih ingat sama mama. Fatimah pun dateng sama temen-temen Ika SMP. Seneng mama liat mereka datang”

Gue jadi tersadar bahwa teman yang gue pilih ternyata bukan cuma untuk gue tapi juga untuk keluarga gue – orang tua, pasangan, dan anak-anak gue juga nantinya. Di Kerava sini pun gue terhibur denger cerita tentang tetangga yang rajin ngecek keadaan nyokap tiap dua hari, sodara-sodara yang ngurusin printilan tahlilan supaya nyokap gak perlu repot, teman nyokap yang nginep di rumah tiap akhir pekan supaya nyokap gak sendirian.

Makanya tulisan Novi yang ini kena banget di hati gue. Mulai sekarang gue juga ingin punya hubungan yang lebih baik terutama dengan teman dan relatif. Gue ingin anak-anak gue juga dikelilingi banyak orang di kala mereka menghadapi cobaan. Kita sering berpikir kalo our kids are our legacy. Ternyata segala macam hubungan yang kita jalin, baik dengan teman, tetangga, karyawan, dll bisa jadi legasi kita juga.

My brother and sister! Termasuk Icha, adek ipar gue. Entah lah apa hidup gue tanpa mereka. Gak bisa bilang banyak, yang jelas gue bersyukur banget punya adek-adek buat berbagi duka ini, adek-adek yang bisa diandalkan buat mengurus segala hal yang perlu di urus pasca kepergian bokap. Gue sendiri gak akan sanggup melakukannya sendirian. Bikin gue jadi berpikir untuk nambah adek lagi buat Kai dan Sami (hmmm…). Seriously people, having siblings matters!

Dan anak-anakku! Tentunya mereka ini yang juga mendorong gue untuk keluar dari depresi. Sibuk ngurusin mereka bikin gue gak punya waktu buat bengong-bengong dan kemudian nangis. Tingkah lucu mereka bikin gue merasa terhibur. Kai yang khawatir kalau äitinya masih sedih bikin gue merasa telah sukses mendidik anak yang baik hati. Dan Sami, yang biarpun gak banyak omong, tapi sekarang harus cium äiti dulu setiap bangun tidur sambil bilang “Sami syinta äiti selama-lamanya”

Berbicara dengan teman yang juga pernah mengalami kehilangan jelas membantu. Masih inget Rani bilang ke gue “Gak papa kok, Rik, nangis. Gue dulu juga tiga minggu nangis sampe mata bengkak”. Jadi seperti dapet afirmasi kalo this is a BIG thing. Wajar kalo gue sesedih itu, nangis-nangis tanpa henti seperti itu. Tapi liat Rani, Leony, Vera dan Jeani, gue jadi punya harapan kalau masa-masa nangis tanpa henti gue akan berlalu. Gue bisa hidup normal lagi dengan mata kering seperti mereka. Biar gimana pun bumi tetap berputar.

Ada beberapa hal yang masuk kategori TIDAK membantu. Selain pertanyaan kenapa/kapan/sakit apa dan sebangsanya, gue juga paling sensi waktu ada yang nanya “Kok gak pulang (lagi) sih?”. Hadeeeeeh….cukup dijawab pake senyum sendu aja deh. Dalam hati mah udah berdarah-darah sakitnya.

Atau komen-komen seperti

“Kalo di Penang/Malaka/Singapur/ Australi lebih bagus loh perawatannya. Dulu adekku/sepupu/om juga sakit jantung/diabetes/udah sempet koma tapi bisa selamat. Beda sama di Indonesia”

Atau “Kenapa gak sama dokter ABC? Dia kan ahlinya bidang xyz?”

Gue aja masih susah terima kalau bokap gue gak terselamatkan dari penyakitnya.  Gak usah ditambah lagi dengan komen-komen yang cuma nambahin penyesalan dan penasaran gue.

Kalau mau terus terang, sih, di masa berduka gini, gue memang jadi gampang sensi dengan segala ucapan yang disampaikan ke gue. Rasanya semua salah.

Dibilang bokap sekarang udah gak kesakitan lagi tapi gue ‘kan maunya dia sembuh, sehat dan HIDUP. Kenapa harus mati dan bukannya sembuh?

Dibilang sekarang bokap ada di tempat yang lebih baik tapi….dari kecil gue udah dijejeli ajaran tentang siksa kubur. Apa benar papaku terbebas dari rasa sakitnya di sana? Ataukah malah dia lebih tersiksa? Apa segala kesalahannya dimaafkan? Apakah gue malah menambah dosa-dosanya? Apa tingkah laku gue malah menambah siksaannya?

Dibilang gue dibikin seneng sama bokap, dalam artian gue dikasih kesempatan dua minggu bersama beliau, malah sempet liat bokap pulang dari RS sehingga gue bisa terbang kembali ke Finlandia dengan hati tenang…ya, emang bener sih…

Memang begitu kejadiannya. Gue gak sempat merasakan terbang dengan persaaan kacau balau. Tapi itu kan artinya enak di gue tapi berat buat nyokap dan adek-adek gue. Gue di sini cuma gelosoran aja nangis sepuas hati. Bayangkan rasanya jadi nyokap, Remi dan Rima yang sedihnya juga pasti kebangetan tapi harus tetap sibuk ngurusin ini itu. Gue masih nangis sampe sekarang kalo inget omongan Remi di telepon “Si mama pulang ke rumah, Ka. Dia gak kuat lagi denger dokter bilang kalo Papa udah gak ada. Gue sendirian di rumah sakit urus jenazah Papa”. Apa rasanya jadi Remi waktu itu?

Dibilang harus sabar dan ikhlas…gampang ngomong tapi susah prakteknya, ya, sis.

Kalau semuanya salah, terus harus bilang apa dong, Rik?

Yang paling menyejukkan hati itu jika ada yang bilang:

“Gue doain bokap ya, Rik. Al fatihah buat bokap lo.”

“Gue doain elo dan keluarga sabar dan kuat ya, Rik.”

“Gue baca tahlil dari rumah buat bokap ya, Rik.”

Gak usah banyak-banyak tanya apa dan kenapa. Gak usah bingung-bingung cari ucapan penghiburan buat gue. Ucapkan saja doa untuk papaku. Itu udah lebih dari cukup.

Biarpun dari dulu udah diajarkan kalau harta gak akan dibawa mati tapi baru terasa sekali kebenarannya sekarang. Dari dulu niat mau kirim surprise tumpeng ulang tahun buat bokap tapi kok kelupaan melulu. Setiap mudik juga suka bingung mau bawa oleh-oleh apa buat bokap supaya dia seneng, eh, ekarang udah gak bisa lagi kasih hadiah apa-apa buat beliau.

Yang tersisa cuma do’a. Do’a anak untuk orang tuanya.

Dan kalau teman-teman yang baca tulisan ini mau berbaik hati, tolong kirimkan juga do’a untuk beliau. Semoga tenang dan bahagia di sisi Sang Pencipta.

Al-Fatihah untuk papaku.

 

 

 

 

 

 

 

144 comments

  1. Al Fatihah buat Papanya mbak Rika..

    1. makasih ya, Prima

  2. semoga diberikan keringanan kemudahan kelancaran kekuatan keikhlasan dan kesabaran melewati masa masa duka ini ya mbak rika.semoga papa ditempatkan ditempat yg terbaik disisiNYA.time heals the wound mbak.i was there before.i know exactly how it feels.

    1. makasih yaaaaa. Semoga seiring waktu semuanya bertambah mudah

  3. Bolehkah aku memberikan pelukan virtual? Tahun ini 4 tahun papaku meninggal, rasa kangennya tetap sama, masih suka nangis juga kalo inget, i feel you. Semoga Almarhum diberikan tempat yang terbaik dan berbahagia bertemu Penciptanya. Amin

    1. boleh banget. kita pelukan sama-sama yaaa *love*

  4. Mba..
    Aq ga sanggup nahan air mata bacanya..
    Aq juga ikut berduka atas kehilangan Papanya kak Rika.
    Smoga Almarhum dijauhkan dr siksa kubur, diampuni segala dosa-dosanya, diterima smua amal ibadahnya.

    Amin ya rabbal alamin

    1. makasih untuk doanya, syera

  5. mba Rika, turut berduka cita ya mba.. Akupun sudah 10 tahun kehilangan bapakki.. dan terkadang suka ‘cemburu’ dengan mereka yg ketika papanya berpulang telah berada di usia dewasa.. kepengennya punya waktu yg lebih lama dgn bapak.. dan mungkin kalau sedih aku bisa mengatasinya, tapi kalau rindu.. sampai skg masih rindu sampai dada ini sakiit..

    Kukirimkan Alfatihah utk papa mba Rika ya, semoba beliau khusnul khotimah ya..

    1. Aaaw, Dewi…ikut terharu atas kehilangan kamu😦
      Alfatihah juga buat papa kamu

  6. :,( Al Fatihah untuk Papanya Rika.

    1. makasih, Aya

  7. Mba aku virtual hug boleh ya :”(
    Aku ampe nangis bacanya. Papaku udah ga ada dari 13an tahun yang lalu. Mendadak. Karena jantung barangkali, karena malemnya tidur seperti biasa, paginya udah kaku.
    Nangis sampe kayak orang keabisan napas. Tapi setelah itu aku biasa aja. Entahlah. Aneh banget. Kayak tiba-tiba merasa bahwa dia ga hilang atau meninggal. Hanya sedang pergi jauh. Tapi akan kembali. Bahwa kita akan bertemu lagi. Terkadang, kalo lagi inget, lagi kangen, masih bisa nangis2 apalagi pas mau nikah. Beugh mellow abis😦
    (Pake acara dengerin lagu I loved her first by Heartland pula hadeehhh nangis paraaahhh)
    Sejujurnya, apakah rasa kosong dan hampa akan hilang? Ga akan hilang. Selamanya akan selalu ada saatnya kita ingat, kangen, lalu menangis merindukan dia, mba.
    Tapi kita boleh percaya, saat masanya tiba, kita tetep akan bertemu kembali :”)
    Dan saat itu, kita boleh peluk beliau sepuasnya dan ga akan perlu ngerasa kehilangan beliau lagi :”)

    1. Semoga aku juga bisa merasa seperti kamu nanti. Ngerasa kalo si papah cuma pergi aja dan nanti kita akan bertemu lagi. Amin.

  8. Mba Rika..aku turut berduka atas kepergian papa tercinta,ompung Kai, Sami dan aubrey. Semoga keluarga dikuatkan dalam melalui masa2 sulit ini. Sekitar 3 thn lalu aku jenguk teman baikku yg baru kehilangan papanya. Dalam kunjunganku itu aku ga ungkit2 tentang papanya, aku malah ajak dia cerita2 tentang hal2 sehari2 yg bikin kita ketawa2.walau aku tahu dia berduka banget. Sesekali dia akan nangis ditengah obrolan kita tapi aku cari bahan obrolan lain dan tentu bawakan dia makanan yg enak2 dan dia suka…kupikir cuma itu yg bisa kulakukan sebagai teman. Memang berat menjawab pertanyaan basa basi utk orang yg sedang berduka. Kirim doa buat papanya mba rika dan big hug for you…

    1. Yang kamu lakukan udah bener banget, Jo. Yang paling penting emang kita ada untuk temen kita dan membantu sebisanya. Rasa penasaran akan detil kejadian disimpen aja dulu, karena itu kan buat kepentingan kita pribadi, sama sekali gak bantu si temen

  9. bemzkyyeye · · Reply

    Alfatihah buat papa nya yah, Rika 😇

    1. Alfatihah juga buat papanya Yeye

  10. Mbak rikaaa, may I hug you ?
    Bebearapa minggu yang lalu eyangku kritis gara-gara kanker ovarium. Terus baca postingannya mbak tentang pertanyaan Kai yang kematian itu bikin aku kebayang-bayang.

    Beberapa minggu berlalu, kondisi eyang semakin kritis. Dan, dua hari yang lalu eyangku meninggal mbak. I really really feel your pain mbak.

    Saat ini aku juga sedang mencari keikhlasan. Sama mbak, aku juga sering mikir “seandainya oh seandainya”. Akhirnya, yang kemaren udah setrong nggak nangis, tiba-tiba banjir air mata, nggak peduli dimana dan lagi ngapain.

    Stay strong ya mbak rika. Kita pasti akan bertemu dengan keluarga kita esok hari. Alfatihah untuk ayahnya mbak rika🙂

    1. Semoga perjalanan kita mencari ikhlas dimudahkan ya, Am. Doa yang sama untuk nenek kamu

  11. *virtual hug*

    Rika, I lost for words, I feel you.
    Al-Fatihah buat bokap-bokap kita ya.

    1. Makasih, Aftri

  12. mbak Rika, saya ikut sedih baca cerita ini😦, turut berduka cita ya mbak, semoga mbak Rika sekeluarga tetap tabah dan almarhum diampuni segala dosa-dosanya, amin ya rabbal alamin

    1. Makasih ya, Adhya

  13. afiiarifiani · · Reply

    Mba Rika, turut berduka ya. Aku kirim doa buat papa mba Rika darisini ya mba.
    Baca tulisan ini aku langsung nangis jadinya. Bulan depan tepat 10 tahun papaku meninggal. Sampai sekarangpun masih tiba-tiba nangis sesenggukan pas lagi diem kalo inget. Aku paham banget rasanya mba. Yang kuat ya mba Rika *hug*

    1. Emang paling gak boleh bengong ya kita. Tau-tau udah mbrebes mili aja kalo bengong.
      Doa terbaik buat papa kamu ya, Afi

  14. Innalillaahi wa innailaihi raajiun. Insha allah papa mba Rika diampuni segala dosa&khilafnya diterima amal ibadahnya selama di dunia, insha allah mbak Rika dan keluarga selalu dilimpahi ketenangan karena pasti selama ini sudah bersabar. Bapak saya juga dah ga ada 20th lalu kangen rasanya, tapi kalau lihat sepupu saya yang ayahnya meninggal saat dia 2th (dia 20th sekarang) saya kira saya lebih beruntung. Al-fatihah untuk papa mbak Rika.

    1. Aaawww, Rangi. Udah lama sekali ya kehilangan kamu.
      Alfatihah untuk ayah-ayah kita

  15. Jujur aku baca ini banyak yang aku lompat-lompatin, takut ketauan tiba-tiba mewek di depan suami hehehe. Ini aja tenggorokan rasanya udah tercekat. Makasih atas tulisan mbak yang jujur, yang udah nampar aku untuk selalu jaga hubungan sama ortu. Semoga keluarga semua selalu diberi ketabahan. Al fatihah..

    1. Sama-sama ya, Lalaaaa….

  16. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un, turut berduka cita Rika😦 Semoga almarhum mendapat tempat terbaik disisiNya dan Rika sekeluarga kuat dan sabar, aamiin YRA

  17. Mba Rikaaa… aku turut berduka citaa yaah… semoga mba Rika beserta keluarga diberikan kekuatan untuk menghadapi har-hari ke depan. Baca postingan mba Rika bikin aku teringat sama alm.ibuku, tahun ini beliau genap 5 thn berpulang, tapi rasa sedih dan kehilangan masih terasa sampai sekarang. Apalagi disaat aku melangkah ke level hidup menikah dan punya anak, dimana dimasa2 itu aku sangat butuh sosok mama disampingku,tapi beliau hanya senyum dan melihat dari kejauhaan saja. Sedihnya tak terkira ya mba…
    Tetap semangat utk mba Rika. Enw, salam kenal ya mba, aku suka banget baca cerita nya Kai dan Sami, mereka anak2 yang lucu dan pintar 😊

    1. Aku jadi ikut sedih, El, bayangin kamu menikah dan melahirkan sambil kangen sama ibu.
      Sama-sama semangat dan salam kenal juga ya, Elita

  18. Mbak rika yang tabah ya .. Semangat mbak 😃😃

    1. Terimakasih yaaa

  19. mysatanicverses · · Reply

    Rika, turut berduka cita. Semoga Almarhum ayahmu berbahagia dan keluargamu diberi kekuatan. Saya ingin sharing cerita dari Ajahn Brahm ini. Semoga bermanfaat menumbuhkan keikhlasan dan kekuatan. Amin. https://www.mail-archive.com/mabindo@yahoogroups.com/msg00352.html

    1. Aku udah baca artikelnya dan jadi berharap seandainya kita dibesarkan di budaya seperti itu.
      Ceritanya berguna supaya kita bisa menemukan perspektif baru dalam memaknai kematian

  20. Turut berduka cita ya… semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan.
    Sebenarnya hanya waktu yang bisa menyembuhkan rasa kehilangan itu sih. Waktu mertua laki2 gue meninggal juga suami gue bener2 stress… bahkan sampai setahun juga masih mimpi2 manggil2 nama papanya… tapi sekarang, hampir 3 tahun berlalu, suamiku sekarang masih mengenang bokapnya tapi selalu tersenyum. Yang tersisa sekarang bukan sedih, kehilangan atau penyesalan, tapi rasa syukur karena pernah memiliki ayah, yang walaupun galak dan keras kepala tapi tetap adalah ayah yang terbaik.
    Aku yakin, mba bakalan sampai pada moment itu juga, untuk sekarang, beri waktu aja pada diri sendiri untuk bersedih, karena memang hanya itu yang bisa kita lakukan.
    Take care ya…🙂

    1. Doain aku ya, Yul. Biar bisa tabah sampai akhirnya bisa ikhlas dan bersyukur atas waktu yang pernah aku lalui sama papaku

      1. Amin….aku doain mbak. Semoga mbak bisa lebih tabah dan sabar.

  21. ikut berduka cita ya rik…
    semoga bisa tabah dan kuat ya….

    1. Makasih, Arman

  22. Rik, post ini bikin gw sedih…. jadi inget ortu di Indo ;( mana tahun ini ga bisa balik huhuuu tambah sedih.

    Sabar ya Rik, semoga bisa mengikhlaskan kepergian papanya. Yang terpenting adalah doa, dan semoga beliau diterima di sisi-Nya. Amin.

    1. Aaw, Diah. Untungnya sekarang teknologi udah canggih ya. Bisa teleponan dan facetime sama ortu. Semoga tahun depan mudik lagi

      1. tetep aja vid call gabisa peluk pelukan gak seru

  23. Wulan · · Reply

    Turut berduka cita ya Mbak.
    Semoga Mbak Rika sekeluarga tetap tabah dan almarhum diampuni segala dosa-dosanya. Amin
    Tetap semangat Mbak.:)

    1. Makasih, Wulan

  24. Turut berduka cita, Rika.. Tahu Banget perasaan kamu.. Aku juga baru kehilangan Bapakku akhir January kemarin.. Mari semangat sama-sama..

    1. Mari kita pelukan dulu, Shin. Papaku juga berpulangnya Januari

      1. Mari berpelukan.. Semoga orang tua kita damai disana ya Rik.. Tetap semangat.. Sekarang giliran kita berusaha menjadi orang tua yang sehat dan panutan bagi anak-anak kita.. Amin..

  25. turut berduka cita yg sedalam2nya Mba.. semoga bisa terus tabah dan kuat ya Mba.. doa terbaik buat Mba sekeluarga..

    1. Amin. Makasih, ya, Astrid

  26. Dessy · · Reply

    Turut berduka ya mbak….. ikhlas adalah kata yg mudah diucapkan tapi….suliiiiiiiiiit sekali untuk dilakukan. Kehilangan orang-orang tercinta membuat kita sering berandai-andai. Terutama tentang hal yg belum sempat kita lakukan untuk mereka. Suamiku meninggal lebih dari 6 tahun lalu dan setahun setelah itu ayahkupun pergi untuk selamanya. Banyak sekali andai-andai dalam otakku yg membuatku bertambah sedih. Dan kepercayaan kepada Allah yg membuatku tegar, bukan hanya untuk diriku tapi juga untuk anak-anakku. Kamu benar mbak, do’a dan selalu menjadi org yg beramal shaleh adalah hal terbaik yg bisa kita lakukan untuk mereka. Insyaallah kita akan bertemu lagi dg orang yg kita cintai. Do’aku untuk papa mbak, smg beliau berada di sisi terbaik Allah…

    1. Dessy, speechless bayangin yang harus kamu hadapi. Sama-sama semangat dah kuat ya; Des. Ada anak-anak yang butuhin kita jadi kuat.

  27. Rika, Aku kirim doa untuk papa kamu yang disana. Aku doakan kamu, mama dan keluarga di Indonesia supaya kuat mengatasi kehilangan.

    Bagus posnya Rik, ditulis dari hati dan aku setuju dengan yang kamu tulis. Dari komen yang mungkin bentuk kepedulian tapi ngga memperhitungkan perasaan sampe tindakan temen dekat yang just being there.

    Mamaku udah meninggal 6 bulan lalu, sampe sekarang aku masih sedih dan masih sering nangis. Dibilang ngga ikhlas ya gimana, orang sakit parah ngga bisa sembuh, meninggal itu sebenernya jalan keluar yang terbaik untuknya. Kehilangan akan tetap ada, berduka juga normal kok bahkan sampe tahunan juga ada. Yang penting hidup jalan terus. Peluk dari jauh Rika & heel veel kusjes 😘

    1. Makasih banget, mbak Yo. Aku masih inget tulisan mbak Yo tentang ibu mbak, termasuk juga waktu mbak nulis “rasanya seperti layangan putus”. Kerasa banget sekarang di aku mbak.

      Peluk dari Kerava ya, mbak

  28. Rika salam kenal ya. Gue jadi silent reader lo udah dari tahun 2014. Gue ga bisa ga nangis waktu baca tulisan ini banget perasaan Rika, nyokap gue tutup usia tahun lalu dan di tahun yang sama, enam bulan kemudian bokap menyusul. Gue setuju banget dengan komen Mba Yoyen. Walau gue udah tau cuma kematian yang bisa menyembuhkan sakit fisik dan kesepian bokap, tetep aja ga ada yang siap dengan kematian. Gue doain semoga bokap lo tenang di sana Ka. Mudah-mudahan suatu hari nanti kita bisa ketemu di KBRI

    1. Fris…udah di Helsinki belum sih? Ayo lah ketemuan

      1. Belom Kaaaa. Masih taun depan kali kesananya. Sekarang gue masih di Medan nemenin adek gue sampe dese lulus kuliah.. Keburu lo balik ke Indonesia lagi kali ya😀

  29. Izinkan sy mengucapkan belasungkawa kpd mbak rika, semoga mbak rika dan keluarga di beri ketabahan untuk melalui cobaan ini. Khusus buat mbak rika sy mau ucapkan terimakasih atas tulisan yg sgt bermanfaat ini. Mungkin sy blm pernah merasakan kehilangan spt yg mbak rika alami, tp tulisan ini bs sgt membantu ketika hrs menghadapi org lain yg sedang berduka krn selama ini sy hny bs diam dan merasa gak bs membantu krn bingung tdk tau harus bersikap bgmn dan melakukan apa ketika teman atau ada org lain sdg berduka.
    Meski blm semua, sy selalu suka baca tulisan mbak rika.

    1. Makasih banget komennya. Ini tulisan curhat aja sebenernya tapi seneng banget kalo ada yang bilang berguna

  30. Innaalillaahi wainnaailaihi rojiu’un, pertama2 aku turut berduka cita ke 2 may i remind you that “Nothing last forever” gak ada yg abadi mbak semua mahluk hidup akan mati, (tua atau muda bukan syarat untuk mati,sakit bukan pula syarat untuk mati) iklas akan datang dg berlalunya waktu, 8th aku tidak ketemu almarhum ayahku kemudian ayahku meninggal wkt aq di taiwan bukan 3minggu aku menangisi kematian ayah tapi 3 bulan setiap hari aku menangis *berkali2 dlm sehari, tiap malam terutama sblm tidur aku pasti menangis sejadi2nya,tiap aku naik bis naik kereta selalu teringat ayah krn wkt kecil aq selalu ikut ayah kemana2 dia bepergian alhasil aq pun menangis di bis di kereta di jalan dimana2! Hingga 3bulan baru lah aq tdk lagi meneteskan air mata. Sakit hati ini bila ingat kata2 ayah waktu ditelpon bahwa ibuku galak ke ayah maki2 ayah “ndok ibumu loh masa nyuruh ayah kerja udah tau ayah ini buta apa yg bisa ayah lakukan?apa ayah harus jd pengemis di pasar?” Kata ayah. (ayah sakit-sakitan udah lama makanya aku jd tkw untuk menggantikan posisi ayah sebagai tulang punggung keluarga aq kirim uang tiap bln bukan cuma untuk biaya adik2ku sekolah tp jg buat biaya berobat ayah diabetes akut sampe ayahku buta udah operasi mata 2x tapi tetap g bisa melihat) sejak aku jd tkw aq blg ke ibu *ibu emang galak dan tak berperasaan (maaf ini fakta) ibu tega bilang ke ayah *kamu tuh g tau malu mskan dr uang anak aja kok g kerja sana!padahal ayahku buta bagaimana ia hendak bekerja? Aku kirim 5juta/bulan gak pernah cukup buat ibu tetap galakin ayah aq selalu blg ke ibu…bu tolong hormati ayah aq yg cari nafkah bu,ayah sakit tolong jgn galakin ayah. Tiap kali nelpon ibu g kasih aq ngomong ma ayah dg berbagai alasan yg lg shalat lah yg lg dirumah tetangga lah,ibu blg ayah sehat gemuk doyan makan.tp pas sepupuku balik dr taiwan dan melihat kondisi ayah parah bngt kurus tinggal tulang berbalut kulit.ibu menelantarkan ayah…sakit mbak denger semua ini…ingin aku pulang merawat ayah tp aku g bisa…aku hrs kerja biar bisa biayain perobatan ayah dan adik2. Sepupuku bawa ayah ke RS hingga akhirnya ayah meninggal aq hanya bisa mendengar suara terakhir ayah via telpon.aq hanya bisa nangis dan menyalahkan diriku sendiri krn aq g disana saat ayah butuh aq untuk merawatnya…iklas kmna aq harus mencarimu? Ayahku meninggal agustus 2010 aq baru benar2 iklas dlm beberapa bulan ini mbak rika…setelah 5th! Semoga iklas dtg pada mbak rika secepatnya krn iklas itu indah tiada lg penyesalan tiada lg sakit hati dll…semoga cerita saya ini membantu mbak rika untuk cpt menemukan iklas. Mbak rika masih untuk tiap tahun ketemu bokap wkt bokap di RS mbak rika ada dsana untuk ikut merawatnya. “Dont blame yourself”

    1. Mbak Ima, saya gak tau mau bilang apa baca cerita mbak. Yang ada malah berlinang-linang air mata nih saya, mbak.
      Berat banget cobaan yang mbak hadapi. Dan luar biasa banget mbak mau berbagi ceritanya ke saya. Makasih ya, mbak. Bikin saya jadi inget kalau selalu ada yang bisa kita syukuri dari kehidupan kita.
      Doa terbaik untuk ayah-ayah kita ya mbak.

      1. Aamiin semoga ayah kita dimuliakan di sisi Allah SWT. Jgn pernah merasa kita yg paling terpuruk mbak krn masih banyak yg lbih parah dari kita jd memang hrs selalu bersyukur dan berhusnudzon kpd Allah, iklas kunci kebahagian dan kedamain mbak 😉

  31. Rika, doaku untuk Papa juga ya.. *peluk*.
    Btw Rik, gw kehilangan bokap oktober 2014, belum terlalu lama.. Masih seger banget dalam ingatan 1 minggu sebelum berpulang beliau ngotot ke Jakarta nengok gw yang baru pindahan rumah. Sampe2 bilang sama nyokap yang masih banyak banget deadline kerjaan :”ayo ma, kalo gak sekarang gak ada waktu lagi”. Yasudahlah semua orang di tinggal ortu selamanya pasti punya cerita ya.. Mari simpan cerita indah kita 😊.

    Satu yang menggelitik gw Rika.. Soal legasi. Benerrr banget, dengan meninggalnya bokap dan melihat para pelayat dan orang2 yang buanyak sekali nyolatin membuat gw berfikir.. Bahwa apa yang bokap perbuat di dunia ternyata berarti buat orang2, dengerin cerita2 orang tentang alm bokap endebrei endefrei.. Ohhh seolah gw diingatkan bahwa, kamu juga suatu hari akan menyusul dil, highlander cm ada di film/series doang hihihi.. Trus jadi kaya bikin gw yang “ohh, berbuat baiklah sama orang2 or jalin hubungan yang baik sama relasi2mu” karena semua bakalan nurun ke anak lo.. Ahahaahaha asli gw kaya keran bocor nulis spontan banget nih Riiik.. Gak tahan banget kalo topiknya soal Ditinggal Ayah. Maap yaaaa…

    Sekali lagi, doa untuk Papa dan salam buat keluarga ya 😊

    1. Waaa, Dilaaa….baru tau kalau lo juga udah kehilangan bokap lo. Belum terlalu lama juga, ya.
      Baca kalimat bokap lo “kalo gak sekarang gak ada waktu lagi” bikin gue merinding entah kenapa. Bener-bener deh….demi masa ya, waktu itu cuma milik Allah.

      Perasaan gue sekarang pasca ditinggal bokap juga gitu, Dil. Jadi lebih inget untuk berbuat baik, demi anak-anak gue nantinya.

  32. Rikaaa turut berduka cita yaaa, semoga Allah selalu memberikan keringanan, kesabaran, keiklasan untuk melewati masa berkabung ini ya Rik. Dan semoga Papa lo ditwrima semua amal ibadahnya dan diampuni segala dosa2nya .
    Al Fatiha buat Papa mu … *peluk*

    1. Makasih ya, Nisa

  33. Semoga papa Mba Rika dimudahkan jalannya di akherat. Amiinn… Tahun ini masuk 11 tahun sejak terakhir ketemu Ayah, masih suka inget dan kangen tapi rasanya beliau masih tetap dekat di hati. Hug

    1. Makasih, Puji. Doa yang sama buat ayah kamu juga

  34. Rika, percaya aja, rencana Tuhan selalu lebih indah daripada rencana manusia. Mungkin beberapa tahun kemudian lu baru akan menyadari, kenapa Tuhan panggil bokap 2 bulan lalu itu, dan kenapa bukan sesudahnya atau sebelumnya. This year marks 15 years of my father’s death. Gue yang awalnya nanya kenapa begini kenapa begitu, sekarang jadi paham, oh begitu toh yang Tuhan mau, and that put a big smile on my face.

    1. Makasih ya lele, udah jadi orang yg setia menghibur gue di grup. Seneng banget sama penghiburan kalian semua ibu-ibu (hampir) ideal

  35. Ririn Ruby · · Reply

    Halo Rika, salam kenal ya. Sebelumnya sy suka lihat Rika di komen postingan bbrp blog yg suka sy baca & sy pernah intip intip juga blog ini..
    Membaca pos ini sy jadi teringat sama alm. Papa yg tahun ini nanti genap 6thn meninggal dunia – meninggal Desember 2010.
    Ya, sy setuju yg Rika bilang bhw hubungan anak dengan ortu adalah hubungan yg unik. Sy pun merasakan ups & down ketika dulu papa masih ada. Sama dengan Rika, sy pun juga tidak ada bersama keluarga di Jakarta ketika papa meninggal. Oh, papa sy meninggal di kampung halamannya di Karawang, Jawa barat. Beliau sendiri yg minta dibawa kesana bbrp hari sebelum keluar dari RS. Jadi saat itu mama & 2 adik sy gak bisa menolak permintaannya krn pd saat itu pas juga ada adik adik papa /bibi saya yg langsung membawa papa sy pulang ke kampung. Sekitar 3-4 hari setelah keluar dr RS tsb, beliau meninggal. Sy sangat bersedih krn meskipun boleh dibilang sy hanya tinggal di Malaysia – yg dekat banget sm Indonesia tapi saat itu kondisinya sy baru punya baby yg belum genap 2bln dan ASI sy lagi bermasalah jadi sy juga tidak bisa begitu saja pulang ke Jakarta jadilah sy hanya bisa komunikasi by phone dgn keluarga sy..
    Bagaimanapun juga pasti kita semua akan mengalami momen seperti ini, semoga kita semuanya bisa kuat & sabar yg pada akhirnya nanti kita bisa ikhlas..
    Doa sy utk Rika & segenap keluarga semoga diberikan oleh Allah banyak banyak ketabahan & kekuatan.. Amin..
    😊

    1. Ririn, baca komen kamu bikin hatiku perih-perih sendu. Kebayang sedihnya kamu gak bisa pulang padahal padahal dekat. Belum lagi ditambah repotnya ngurus bayi baru dan bermasalah dengan ASI. Dicampur dengan hormon2 pasca kehamilan pasti deh waktu itu perasaan di hati campur aduk banget. Huhuhuhuhu, bayanginnya aja bikin aku mau nangis nih

      Makasi untuk doanya ya, Rin.

  36. Aku bacanya sambil menitikan air mata😥
    Semoga selalu diberi ketabahan ya untuk Mbak Rika dan keluarga. Al-fatihah untuk papanya Mbak Rika.

    1. Makasih ya, Ilmi

  37. Ah Rika, hugs dri sini ya semoga semua kenangan tentang Papa jadi penghiuburan (entah nantipun) buat seluruh keluarga , semoga kalian sekeluarga dikuatkan.
    Rika, baru kemarin kami datang ke kebaktian penghiuburan temen yang lagi kuliah di sini dan bapaknya meninggal dan tiba-tiba , dan kata-kata yang sama dia ucapkan dan bikin aku mewek di sana dan mewek baca ini lagi, “baik-baiklah sama ortu selagi mereka masih hidup,”
    Peluk lagi Rik.

    1. Hugs dari Kerava juga, Ndang.
      Apa yang dibilang temen lo itu sungguh klise, tapi pada waktunya akan terasa banget kebenarannya

  38. […] pos ini adalah pos terakhirnya Rika, di situ dia cerita dua bulan lalu kehilangan ayahnya. Baca pos Rika yang sangat jujur dan ditulis dari hati, membuat gw berempati ke dia karena gw juga […]

  39. Gasana · · Reply

    Allahhummaghfir lahu warhamhu wa’aafihi wa’fu anhu khususon ila arwahi….. (siapa nama papa nya mba Rika?)

    Artinya:
    “Ya Allah ampunilah dia, berilah rahmat, kesejahteraan dan ma’afkanlah dia (khusus untuk arwah papa mba rika bin fulan)

    Saya hanya bisa menghaturkan doa utk papa mba Rika dan keluarga yg ditinggalkan termasuk mba Rika semoga Allah berikan ketabahan, kesabaran dan keikhlasan serta amal keluarga yh ditinggalkan dapat menjadi ladang pahala almarhum papa mba Rika di akhirat kelak karena bimbingan beliau kepada seluruh keluarga, aamiin Allahummaa aamiin

    1. Terima kasih untuk doanya, Gasana

  40. Al-Fatihah untuk Papa ya Rika…dan tengkyu banget untuk postingan ini, pembelajaran banget dalam banyak hal…maafin kata2 (sok) menghibur gw yang kurang berkenan, peluuuuk erat dari Aachen

    1. Makasih buat doanya, Dwi. Peluk balik dari Kerava

  41. Mba Rika. *peluk*
    Semua orang yang ada disekeliling kita itu cuma titipan Allah. Ayahku meninggal Agustus 2010 dan sampai hari ini aku masih suka nangis inget beliau. Semoga dijauhkan dari siksa kubur dan semoga amal ibadah orang tua kita diterima Allah yah mba..

    1. Doa yang sama untuk ayah kamu ya, Dwi

  42. *berpelukan*

    Aku baca ini sambil nangis kejer lho, kak. Hari ini baru hari keduabelas beliau pergi, mendadak, tanpa sakit dan meninggalkan tanda apa apa dan pfftttt… He’s gone. Jadi ya begitulah, airmata masih bercucuran sana sini.

    Dan iya sekali, kalimat paling menenangkan itu adalah “kami bantu doa ya.” Rasanya adeem sekali. Huhuhu..

    Ayo kak kita semangat lagi, semoga Ayah ayah kita bener bener bahagia disana, dilapangkan dan diterangkan kuburnya, diampuni perbuatannya dan diterima amal ibadahnya. Al Faatihaah~

    *dan masih tetep nangis*

    1. Feni, aku jadi gak tau mau bilang apa buat kamu.
      Baru 12 hari. Kebayang sedihnya masih kaya apa. Keinget aku sendiri yang masih nangis setiap saat dua minggu setelah ditinggal bokap. Takut banget ditinggal sendirian karena ujungnya pasti mikir yang sedih-sedih dan nangis sampe sesak nafas.

      Sama-sama semangat, ya Fen
      Al Fatihah buat ayah kamu

  43. sri sundari · · Reply

    ikut berduka cita mb rika , semoga amal ibadah papanya di terima di sisinya dan di ampuni segalah dosa – dosanya , dan buat mb rika dan keluarga semoga di beri kekuatan dan kesabaran dalam menghadapi cobaan ini . amin. al faatihaah buat papa mb rika.sabar ya mb rika .

    1. Makasih ya, Sri

  44. Mba salam kenal and turut berduka cita ya… aku titipkan doa untuk Papanya.
    Habis baca postingan ini aku lgs hubungin orangtua gitu jadinya, tiba2 jadi kangen, pengen tahu kabar mereka hari ini gimana :’)

    1. Salam kenal juga, Mariska. Aku suka baca blog kamu loh.

      Habis baca postingan ini aku lgs hubungin orangtua gitu jadinya, tiba2 jadi kangen, pengen tahu kabar mereka hari ini gimana :’ –> Komen kamu ini bikin hatiku hanget.

      1. Awww makasih dah baca blog aku!🙂
        Btw makasih postingannya juga karena aku jd bertekad mau membenahi hubungan dengan bokap for real… Hubungan kita nggak buruk sih tapi kakuuuu banget and jauh dari obrolan2 kecil. Hari ini mau mulai coba reach out and semoga kita bisa haha hihi kayak aku haha hihi sama nyokap🙂

  45. Mba Rik, semoga bapaknya diberikan tempat terbaik, amiin.

    1. Makasih, Bening

  46. turut berduka ya Rika, peluk erat-erat… semoga Rika, Mama & adek-adek, semua keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan & kekuatan.

    1. Makasih ya, Ruth

  47. Turut berduka cita untuk mbak Rika dan keluarga. AL Faatihah.

    1. Makasih, Adis

  48. Innalillahi wa innalillahi rojiun. Turut berbela sungkawa atas berpulangnya ayahanda mbak rika, semoga beliau dimudahkan jalan menuju surgaNya, diampuni dosa-dosanya, dan keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran dan kekuatan. aamiin.
    mbak rika, waktu mbak rika nulis status di IG klo ga salah, pulang mendadak ke Indonesia, kebetulan aku komen dan mengalami hal yang sama. Bapakku sakit gula sejak 26 tahun yang lalu, ketika beliau makin tua, gulanya mulai merenggut banyak kesehatannya. Dan waktu itu aku juga pulang mendadak ke solo karena Bapak opname. Aku bisa ngebayangin beratnya mbak pulang itu, apalagi mbak yang lebih jauh perjalanannya dibandingkan aku yang cuma jakarta-solo. ibuku pernah ngasih nasehat, ilmu sabar aja susah apalagi ilmu ikhlas yang stratanya lbih tinggi. Tapi susah bukan berarti ga bisa diraih, jalanin saja, sedikit demi sedikit, klo stok sabar mulai nipis, tuang lagi, tuang lagi, jangan berhenti. mungkin benar bahwa time will heal the pain. aku ga tau mau nulis apalagi, cuma bisa bantu doa, doa dan doa. Aku nangis baca tulisan mbak ini, padahal aku lagi di kantor, huuuuu, nggembeng banget deh aku.

    sabar ya mbak, sabar dan kuat.

    1. Aku jadi buka IG lagi buat liat komen kamu. Dan bener ya…kamu memang tau rasanya lagi merantau tapi terus ortu sakit😦. Mau jarak jauh atau dekat sedih dan paniknya sama aja.

      Btw, papaku juga diabetes, aku lupa udah berapa tahun, tapi memang dia gak tahan untuk diet sehat dan menjaga makanannya dan cuma bergantung dari obat aja. Tapi sampai 3 minggu di RS kemarin itu, dia selalu terlihat sehat dan segar bugar. Makanya masih suka susah terima kalau beliau udah gak ada sekarang.

  49. Salam kenal mba, dan saya kirimin Al Fatihah untuk Papa mba. Tulisan ini banyak ngasih ilham buat saya

    1. Salam kenal juga, Mira. Makasih ya untuk Al Fatihahnya

  50. allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu
    allahumma laa tahrimna ajrohu wa laa taftinna ba’dahu waghfirlana walahu

    aamiin..

    take your time to grieve, mbak..
    it’s okay..
    semoga diberi keihlasan dan hati yg ringan nantinya..

    1. Makasih, Shanti. Komen kamu sungguh bikin hatiku adem

  51. Innalillaahi wa innailaihi raajiun. Turut berdua ya, Mbakku. Semoga Iman Islam Papa-nya Mbak Rika diterima Allah. Amin Ya Robbal Alamin. Yang kuat ya mbak, jaga kesehatan.

    1. Amiin. Makasih, ya, Rahma.

  52. Turut berbelasungkawa.
    Semoga iklas segera didapat ya mbak Ika.. Yang paling sering menghambat prosesnya itu pertanyaan2 “what if” 😞.

  53. salam kenal,mbak rika.sy pernah sesekali mampir blog mbak rika.baru ngeh kalo mbak rika baru kehilangan ayah tercinta.saya doakan mbak rika dan keluarga diberikan penghiburan.menangislah sampai masa berduka itu usai.ayahanda sudah pergi,tapi tahun2 bersama beliau pasti terpatri di hati. terima kasih utk teguran lewat posting ini,untuk sy sendiri lebih menghargai waktu bersama orangtua dan keluarga.peluk sayang.xx

  54. Innalillaahii wa innaa illaihi rojiuun …

    Allahumma firlahu warhamhu wa’afihii wa’fuanhuu

    Mba rikaaa, turut berduka cita. Semoga Allah memberikan tempat terbaik untuk Papa, dilapangkan kuburnya dan semua ilmu yang diajarkan ke anak-anaknya menjadi amal jariyah setiap dilakukan.

    Sehat-sehat selalu untuk mama dan keluarga semua yaaa…. I know so well what you feel mbaaa, peluuuuuks ❤️❤️

  55. Salam kenal, innalillahi wa inna illaihi rajiun, ikut berduka cita ya kak Rika. Semoga papanya diberikan tempat yang terbaik di sana.

    Terimakasih tulisannya ya mbak, jadi pengingat dan tamparan harus baik2 sama ayah. Mumpung masih dikasih waktu dan kesempatan. Mumpung banget masih di dunia. Papanya mirip dengan ayah saya banget sifatnya galak dan otoriter, dekat banget juga nggak, tapi dalam hati sayaang sekali😦

  56. hi rika, salam kenal ya. selama ini aku silent reader kamu. 13 maret 2016 lalu keluargaku baru menggelar doa mengenang 1 tahun kepergian papaku. bener banget seperti yang kamu bilang menceritakan apa dan kenapanya papa kita ‘pergi’ selalu bikin hati kita perih. itu sebabnya sampe sekarang aku belum menuliskan sedikitpun cerita tentang kepergian papa di blog aku. setiap kali akan mulai menuliskan cerita tentang kepergian papa, setiap kali itu pula jari-jari ini serasa berhenti gak bisa menuliskannya. semoga dalam waktu dekat aku mampu untuk menuliskannya sebagai cara untuk mengenang beliau….
    yang tabah dan sabar ya rik, semoga papa2 kita diampuni segala kesalahannya, dihindarkan dari siksa kubur dan siksa neraka, diberikan tempat terindah di sisi Nya.
    Al Fatihah….

  57. putri · · Reply

    Aku tau gimana rasanya mba rika. Aku juga kehilangan ayah dr bulan september tahun lalu. Baca tulisan ini bikin aku nangis lagi

    Al Fatihah buat papa mba rika. Semoga amal ibadah di terima Allah SWT

  58. Agustus nanti adalah tahun ke7, papa tidak bersama kami lagi. Tapi, rasa sedihnya tetap sama seperti hari pertama beliau kembali…Al Fatihah untuk papanya MbaRika

  59. Gw nyesel waktu bokap sakit di kampung gw cuman 1 malem nemenin tidur disamping bokap. Itupun setelah gw dibangunin bokap buat tidur disampingnya (sebelumnya gw nawarin diri untuk nemenin bokap tidur) selebihnya gw lebih milih tidur di lantai atau kamar lain, padahal kalo gw sakit gw paling rewel ama bokap. Pas keterima jadi PNS, nyokap ditelpon bilang “Papa pasti seneng kalo denger Vera lulus PNS”, mungkin itu satu-satunya kebanggaan mereka terhadap gw. Baca tulisan loe bikin gw inget lagi ama bokap.

  60. Turut berduka cita ya mba rika😦

    Al Fatihah buat papa nya mba rika

  61. Mba Rika salam kenal.
    I feel you,,,semoga Allah menerima amal ibadahnya dan mengampuni kesalahan almarhum Papa mba Rika.

    Izin cerita ya, Bapak saya juga meninggal bulan januari, tp tahun 2015, mendadak tanpa riwayat sakit berat. meski udah setaun berlalu, rasanya seperti baru kemarin ditinggal. Bapak meninggal 2 minggu setelah mengunjungi kami, anak-cucunya di Jakarta, yg terakhir ketemu masih ceria segar bugar. Umur memang rahasia Allah. Bapak juga ngotot minta ke ibu waktu pengen nengok kami, karena takut ga sempet lagi (dan emang bener😦 ). Bahkan bisa-bisanya kegiatan & omongan bapak sama kedua cucunya direkam sama adikku selama di Jakarta. Sampai kejadian anakku rewel tengah malem nangis kejer ga tau sebabnya, bapak ikut bangun nenangin cucunya, sambil baca doa, ayat Al -Qur’an, dan kasih wejangan ke aku…nggaa biasanya. itu jadi kaya nasehat terakhir buatku selama hidupnya.

    Rasa sakit kehilangan dan kangen sampai sekarang masih ada, mungkin terus ada. selama ini cuma bisa minta time out ngabur bentar kalo lagi mellow inget beliau. Setaun ini mikiiir terus knp bapak yg masih belum terlalu tua dan jaga banget kesehatannya bisa meninggal, kenapa ada kakek2 hidup di jalanan serba kekurangan masih hidup sampe sekarang, kenapa aku ga dikasih kesempatan membahagiakan bapak lebih lama, dst., dst. Dan mungkin sempet juga ngalami depresi tuh, semangat hidup droop.

    Cuma yg aku inget terus, amal ibadah manusia yg sudah mati akan terputus, kecuali 3: sedekah yang masih bisa dirasakan, ilmu yang masih bermanfaat, dan doa anak sholeh.

    Jadi aku ga tau sekarang bisa ikhlas dan sabar apa belum, entahlah masih sering nagis kangen, sampe mimpiin. tp aku skrg dalam tahap berusaha cari hikmah di balik ini. pengen bisa membahagiakan bapak meski terpisah dunia, dengan salah satu dari 3 itu. pengen jadi org yg bermafaat, pengen bisa kasih sedekah ke org2 yg butuh meski aku juga pas-pasan, pengen jadi orang yang baik buat orang di sekitar (kalo mau dosa-cheating jd lebih mikiiiir lagi, bapakku ntar di akherat gimana yaa??).

    Terapi sad healing ku adalah mendoakan beliau setiap kali kangen atau sedih atau lg ada masalah.
    Pokoknya mudahkan urusan bapak di alam kubur ya Allah…gitu deh.

    Hati lbh adem jadinya.

    Silakan dicoba ya mba, semoga sedikit demi sedikit hatinya terobati.

    Btw, perjuangan Mba Rika sebagai ibu mendidik anak-anak untuk jadi manusia yg baik insyaAllah juga bernilai pahala, dan pahalanya insyaAllah juga mengalir ke Papa mba Rika karena sudah membesarkan mba dengan baik hingga skrg.

    Semangat yaa….

  62. silfanie · · Reply

    Al fatihah buat alm. papa mba rika ya. Semoga amal beliau diterima di sisiNya, dan diampuni segala dosa. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan, keikhlasan. amiin.Makasih ya, tulisan ini sekaligus jadi pengingat. Semoga juga, kenangan akan Ompung akan selalu ada di benak Kai dan sami ya

  63. doa, alfatihah, dan surat yasin dari semarang buat kebahagiaan papah kak rika di alam sana..:D

  64. Innalillaahi wa inna ilaihi rooji’uun.
    Allahummaghfirlahu warhamhu wa’aafihi wa’fu ‘anhu.
    Al faatihah.

    Semoga Allah SWT melapangkan kubur beliau ya, Mbak Rika.

    Maaf, cuma bisa bantu doa dari jauh.

    *kisses n hugs

  65. Agustus nanti adalah tahun ke-7 Papa saya berpulang. Tapi, rasa sedihnya tetap sama seperti hari pertama beliau tiada. Tetap berkaca-kaca mata ini setiap bercerita tentang beliau. Al Fatihan untuk Papa Mba Rika…

  66. Qonita · · Reply

    Innalillahi wa innailaihi rajiun..
    Allahumaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu.al fatihah untuk papa mbak rika…

    Emoga doa2 mbak rika selalu menjadi amal hariyah untuk papa..
    Virtual hug ke mbak rika…..

  67. […] seperti halnya di blognya mbak Rika, sampai hari ini aku masih berusaha mencari ikhlas. Berusaha melawan pedih yang masih sering aku […]

  68. Rika, turut berduka cita ya. Semoga Rika, keluarga di Jakarta dan Kerava diberi kekuatan dan kesabaran. Mamaa saya perpulang 6 tahun yang lalu dan semua yang Rika rasakan masih saya rasakan sekarang… seorg teman bilang rasa kangen, sedih, penyesalan itu akan terus ada tapi moga2 seiring waktu kita diberi keiklasan ya…terima kasih Rika tulisan2nya selalu menghibur dan kasih pelajaran…

  69. jadi ikut sedih membacanya,,, Al Fatihah buat papa kak Rika,,

  70. Saya sampai nangis mbak bacanya. Semoga diberi ketabahan untuk keluarga yang ditinggalkan. Al Fatihah untuk papanya mbak Rika.

  71. Turut berduka cita atas kepergian papanya Kak Rika. Semoga diberikan ketabahan untuk kakak dan keluarga yg ditinggalkan. Saya silent reader yg udah lama rutin baca2 blognya kakak. Jadi teringat sama bapak saya yg juga otoriter tapi ya begitulah, kalo kehilangan pasti saya sedih juga seperti kakak. Terima kasih buat post dari kakak yg selalu sarat makna, as usual.

  72. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
    Allahummaghfir lahu, warhamhu, wa ‘afihi, wa’fu ‘anhu, wa akrim nuzulahu, wa wassi’ mudkhalahu, waghsilhu bil-ma’i wats-tsalji wal-baradi.
    Semoga mb rika sekeluarga diberikan kekuatan dan kesabaran dalam menghadapi kehilangan ini. Hugs untuk mb rika

  73. Turut berduka Mbak Rika
    Akupun sampai sekarang masih mencari arti ikhlas yg sebenernya. Aku baru ditinggal suamiku 1.5 bulan yg lalu, tanpa sakit apapun, langsung diambil Yang Kuasa.
    Ga ada kata-kata yg bisa menggambarkan yg aku – kita – rasakan dalam kondisi seperti ini.
    Mudah-mudahan rasa sedih, hancur, sakit, menyesal yg dirasakan bisa berganti dengan ikhlas dan sabar ya Mbak.

  74. turut belasungkawa ya mba..

    al fatihah buat papanya..

    Iya mba,..ilmu ikhlas susah bgt ya, aku udah 13 tahun kehilangan papa,,..kliatan biasa aja setelahnya, tapi setelah setahun berlalu dan harus pergi ke RS yang sama, langkah berat banget dan besuk orang yg penyakitnya sama , langsung tangis meledak..dan bingunglah semua orang2 disana yang ikut besuk…pdhl gak kenal juga sama orangnya karena suaminya temannya suami..padahal setahun lalu bolak balik besuk di RS sampai menyaksikan beliau wafat, setelahnya penguburan bisa tegar tanpa menangis, ternyata tidak setegar itu mba..samopai sekarang rasanya seperti ada yang bolong di rongga hati yg gak akan pernah bisa ketutup…

  75. Saya nangis bacanya… g kebayang rasanya… pasti sediiih banget..
    Semoga papanya mbak rika dapat tempat terbaik ya,,, dan smg keluarga smua bisa diberi ketabahan sama yang kuasa…. aamiin
    Sehat terus mbak rika sekeluarga…..

  76. turut berduka cita ya… saya juga turut berdoa untuk papanya Rika.. *sunjauh*

  77. “Allahhummaghfir lahu warhamhu wa’aafihi wa’fu anhu…” (“Ya Allah ampunilah dia, berilah rahmat, kesejahteraan dan ma’afkanlah dia”).

    Semoga kak Rika&keluarga selalu dalam lindungan Allah SWT dan diberikan ketabahan jg keikhlasan oleh Allah SWT. Btw, salam kenal ya kak🙂

  78. Rika, gw nangis sejadi-jadinya baca post ini. Berasa diingetin banget.
    Semoga bokap khusnul khotimah dan dilapangkan kuburnya ya..

  79. Hai Rika, turut berduka cita ya atas meninggalnya papa tercinta. Semoga beliau mendapatkan tempat di sisi Nya, dan elo sekeluarga kuat. Gw sedih dan berkaca2 baca postingan ini, karena bokap gw desember thn kmrn jg baru meninggal. Dan banyak what if seperti yang lo tulis juga terngiang2 di gw. Tapi bagaimanapun kehidupan ada akhirnya, dan insya Allah bokap kita mendapatkan tempat yang layak di sisi Nya. Big hug

  80. mynesha · · Reply

    Turut berduka cita atas kepergian papanya mbak.

    Dan terima kasih untuk artikel ini, terima kasih telah mengingatkan saya untuk belajar ikhlas.
    Sangat pas untuk saya yang baru Jumat lalu menerima vonis dokter bahwa kondisi papa saya memburuk dan hanya tinggal menunggu waktu.
    Dari dulu saya nggak pernah suka RS, siapa sangka ternyata sekarang RS adalah tempat pelarian paling sempurna karena di sini saya bebas menangis tanpa dipandang aneh oleh orang-orang yang lewat🙂

    Saya yakin rasa kosong itu tidak akan pernah hilang, tapi waktu akan membuat kita semakin kuat, Inshaa Allah.

    Doa saya untuk papa mbak, dan juga untuk mbak dan keluarga yang ditinggalkan.
    Sekali lagi, terima kasih.

  81. itsibitsy · · Reply

    Peluk mba rika dari silent reader.. semoga almarhum ayah mendapat tempat yan layak di sisi Allah…. amin

  82. drmahita · · Reply

    Halo Kak Rika yang sering aku baca tulisannya,

    In sha Allah Papanya Kak Rika termasuk orang yang banyak sedekahnya, rajin mengamalkan ilmu, serta memiliki anak shalih dan shalihah yang dosanya tidak tertolak ya Kak. Aku harap hatinya Kak Rika lekas lapang. Allah Swt sebegitu rindunya sama Papa Kakak, jadi Dia ingin segera bertemu. Semoga timbangan amal Papa Kakak diterima di tangan kanan, in sha Allah.

    Tidak mudah untuk tenang, tapi benar bahwa rahmat Allah Swt lebih besar dibanding siksanya. Tulisan ini bikin saya refleksi akan shalat saya dan ibadah lainnya.

    Makasih Kak Rika.
    In sha Allah Kakak akan jadi lebih baik lagi setelah melewati ini semua.

  83. aku baru baca postingan mba rika yang ini dan mewek dikantor. bapakku sakit sejak juni 2015 dan walopun sekarang alhamdulillah udah mendingan banget tapi tetep gabisa balik ke keadaan kaya sebelum sakit aja hatiku hancur banget apalagi mba rika😦
    aq kirimin al fatihah buat papa mba rika yah🙂 selalu sabar dan bahagia mba rika aitinya kai n sami :* semoga kita selalu jadi amal yang ga terputus buat orang tua kita ketika mereka meninggal ya mba …. aamiiin.

  84. Elskan · · Reply

    Innalillahi wa innalillahi rojiun, yang sabar ya Mbak Rika, 4 tahun yang lalu,Aku juga dengar kabar Bapakku masuk ICU, langsung beli ticket pulang, ketika di angkasa Bapak pergi, pas sampai rumah hanya melihat pusaran tanah, masih beruntung mbak masih bisa bertemu, sudah jalan NYA dan begini CaraNYA, jadi Iklaskan, kangen bapak ku, Alfatiha untuk kedua Bapak kita tercinta.

  85. Innalillahi Wa Innailaihi Roji’un, semoga almarhum diampuni segala dosanya, diterima segala amal ibadahnya, serta dilapangkan kuburnya. dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan, kesabaran dan keikhlasan, Aamiin Yaa Robbal Alamin

  86. kiki · · Reply

    habis solat, ak doakan untuk Papa nya ya Mba,

  87. Alfatihah buat bokap ya Rika. makasih sharingnya jadi kebayang rasanya kehilangan papa. Thx a lot

  88. Rani · · Reply

    Sedih banget baru baca postingan ini sekarang..Al fatihah buat papanya kak rika yah..
    I’ve been there kak! But life must go on..salam buat keluarga khususnya mama🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: