dalam rangka tujuh belasan

Masih dalam suasana tujuh belasan ada beberapa hal yang lantas suka bikin gue berpikir. Hal pertama yang bikin gue sibuk berpikir sebenernya ada hubunganya dengan hobi blogwalking ngalor ngidul gue. Tapi mari kita flashback dulu sebentar ke sebuah acara yang gue hadiri di KBRI beberapa bulan lalu.

Alkisah saat itu KBRI Helsinki kedatangan tamu akademisi dari Jogjakarta yang sedang melakukan penelitian di Finlandia. Topik penilitian ibu dosen dari Jogjakarta tersebut adalah tentang kehidupan komunitas muslim di Finlandia. Bagaimana warga muslim beradaptasi di sini, berintegrasi dengan sistemnya dan penerimaan penduduk lokal terhadap pendatang muslim. Topik ini kemudian juga berkembang sehingga dibahas juga hal-hal seperti gaya hidup di Finlandia, gaya parentingnya, dan tentunya kalo ngomongin Finlandia pastilah ngomongin sistem pendidikannya juga. Buat gue topik-topik yang dibahas hari itu menarik sekali.

Untuk meramaikan suasana diskusi hari itu, beberapa tokoh muslim yang lumayan terkenal di Finlandia di undang untuk hadir, salah satunya adalah mbak aktivis/feminis muslim keturunan Somalia. Mbak aktivis ini datang ke Finlandia bersama keluarganya sebagai pengungsi di umur yang masih teramat belia. Bisa dibilang dia gak inget lagi tentang kehidupannya di Somalia dulu. Dia hidup dan dibesarkan di Filandia, mengambil kewarganegaraan Finlandia dan juga menikah dengan warga Finlandia. “I identify myself as Finnish” begitu kata si mbak.

Tapi memang, yang namanya rasisme itu ada dan terasa. Apalagi buat si mbak yang biarpun sudah sangat Finlandia tetap saja terlihat berbeda dan asing di tengah masyarakat lokal yang putih-putih beramput terang. Inilah alasan yang membuat si mbak terpanggil buat jadi aktivis dengan harapan bisa membawa perubahan dalam kebijakan-kebijakan pemerintah agar lebih berpihak pada pendatang, khususnya pendatang muslim.

Sebagai sesama pendatang tentunya gue respek banget dong ya sama aktivis kaya si mbak ini. Seandainya gue bermasalah sama sistem negara ini, orang-orang kaya dia lah yang bisa gue andalkan untuk menolong gue. Tapi…tapiiii…waktu dengerin si mbak berbicara tentang kehidupannya di Finlandia, gue jadi teringat kenapa gue suka sering merasa terintimidasi sama kata aktivis dan feminis.

Dalam bayangan gue orang yang is-is itu (aktivis, feminis) ya yang kaya si mbak. Ngomongnya berapi-api dan isinya protes-protes melulu. Ini salah, itu salah, semua salaaaah. Macam dunia mau kiamat besok pagi.

Mendengarkan si mbak berbicara waktu itu, kesannya tinggal di Finlandia ini ampuuuuun….berat banget jendral! Semuanya salah di sini. Semua bikin sengsara. Gak ada yang beres! Kebijakan negara gak berpihak pada perempuan. Milih karyawan berdasarkan koneksi, jadi udah pasti orang asing tersisihkan. Ruang publik gak menudukung umat muslim untuk beribadah. Sistem pendidikannya bagus on paper aja, padahal mah aslinya dibawah standar. Blablabla yadaa yadaa yadaaa….

Gue yang selama ini bahagia hidup di Finlandia tetiba merasa tertekan. Ih, ternyata selama ini aku hidup dalam khayalan. Aslinya mah negara ini bobrok banget.

Untung aja pikiran kaya gitu cuma bertahan beberapa menit di kepala gue. Apalagi kalo teringat sama si mbak yang aslinya berasal dari Somalia. MBAAAAAK, DI SOMALI EMANG DAPET APA MBAK? MAKMUR BANGET PASTI YA DI SANA HIDUPNYA KAYA RATU?

Pada akhirnya, setelah pulang dari KBRI gue berusaha untuk gak menilai si mbak dari omongannya selama dua jam tadi. Berhubung acaranya singkat, mungkin si mbak memutuskan untuk membicarakan hal-hal yang penting penting saja. Hal-hal yang menurut dia patut diperbaiki. Kalo nanti perbaikan itu tercapai kan gue juga yang seneng nikmati hasilnya.

Tapi, perasaan gak enak hati waktu dengerin protes-protesnya si mbak atas negara Finlandia ini bikin gue jadi ngaca juga. Apa jangan-jangan gue juga suka bikin kesalahan yang sama, ya? Ngomongin Indonesia dengan nada yang selalu negatif? Apalagi gue bisanya cuma ngomong tapi gak ada eksyen, gak seperti mbak aktivis. Bikin malu kaaaan.

Dan menilik dari banyak blog yang pernah gue baca -sepertinya sih ya, kalo gue boleh menyimpulkan- suka ada kecenderungan di antara blog perantau untuk bikin tulisan yang membanding-bandingkan tanah air kita dengan negara lain. Dalam perbandingan tersebut biasanya Indonesia dituliskan sebagai pihak yang kalah atau bahkan bersalah. Kecenderungan ini santer di kalangan perantau baru, baik online maupun offline, tapi semakin lama seseorang merantau komen-komen yang berat sebelah ini semakin berkurang. Kalopun ada perbandingan perspektifnya lebih objektif dan lebih dalam. Gak sekedar “Nih, liat nih di luar negri begini. Lo-lo mah yang di Indonesia tuh salah…salah semua!”

Bukan berarti perbandingan-perbandingan yang dibahas itu cuma khayalan sih. Emang sebenernya perbedaan itu terpampang nyata seperti bulmat palsunya Syahrini. Tapi mungkin:

  1. Kagum sama sistem baru, tatacara baru dllnya boleh aja tapi gak usah selalu dibanding-bandingkan sama yang ada di negara sendiri. Kayanya cukup berkata “Di sini enak nyetir karena jalannya lancar” dan gak usah ditambahin “Gak kaya di Jakarta yang macet melulu”
  2. Gak usah sering-sering. Ini sebenernya poin yang sangat penting. Sekali dua kali perbandingan ya wajar. Tapi kalo seringnya luar biasa -di blog ditulis, di twitter diulang-ulang, status facebook juga begitu molo – kesannya malah jadi pamer betapa senangnya hidup di luar negri yang gak kaya di Indonesia. Hebuset….aku lelah bacanya.
  3. Pilih-pilih kalimat yang lebih netral dalam menggambarkan Indonesia. Hindari kalimat yang terlalu judgemental atau menjatuhkan. You know lah maksud ai, kalimat-kalimat seperti: “Di sini orang-orang kalo wiken senengnya olah raga, hiking di gunung, volunteer to save the world atau sekalian bikin roket pergi ke bulan. Gak kaya di Indonesia senengnya ke mol doang/ Di sini anak-anaknya pinter makan sendiri, coba di Indonesia,… makannya harus digendong sambil disuapin/ Di sini bikin pesta sih sederhana aja, gak kaya di Indonesia yang dijadiin ajang pamer dan sombong-sombongan.” Kira-kira komen seperti itu yang gue maksud, yang bernada “My life here is so much better than yours”. Errr…gue juga bersalah kok suka keluar kalimat-kalimat yang bernada sama. Tapi semoga gak keseringan ya.

Kalau terlalu sering bikin perbandingan kaya di atas, selain bikin yang denger eneg huek-huek, yang ngomongnya juga dijamin akan dianggap sombong bin jumawa. Penyakit sombong “I am better than you” ini sering juga ditemui sama orang-orang yang kembali ke Indonesia untuk menetap. Reverse cultureshock katanya emang lebih berat daripada menghadapi culture shock di negara baru tapi ya gak usah dikit-dikit ngomongnya:

“Lama amat si ngantrinya? Di Amerika yang kaya gini-gini tuh cepet banget. Semuanya udah computerized”

“Emang gak bisa bayar pake kartu? Di Amerika gue jarang banget punya cash di dompet”

“Gile panas banget. Sejak di Amrik gue udah gak terbiasa lagi panas-panasan begini”

Sebagai catatan, omongan di atas (dan sejuta amerika-amerika lainnya) beneran gue denger selagi bikin SIM di Daan Mogot tiga tahun lalu. Gue sampe muak dan rasanya pengen teriak “MAS, BALIK AJA KE AMERIKA SANAH!”.

Kita sendiri sebagai manusia pada dasarnya punya kebutuhan untuk beradaptasi dan membaur ke lingkungan. Jadi yang ngomong “Orang Indo mah kegiatannya ngemol doang” Emang yakin kalo nanti balik ke  Indo gak bakal ngemol apah? Yang ngomong “Orang Indo mah dikit-dikit naik ojek, males jalan kaki” Emang nanti kalo balik ke Indo masih rajin jalan kaki berkilo-kilo meter? Menurut gue sih wajar banget kalau orang Indonesia katanya males jalan kaki. Jakarta panas, bung. Polusi tinggi, trotoar bolong-bolong, itu pun makenya rebutan sama motor, sepeda dan kaki lima. Mau jalan di mana akuh?

Lagipula, bikin pernyataan yang menggeneralisasikan seluruh warga Indonesia itu sebenernya susah dan gak adil. Indonesia sering disebut sebagai negeri dengan keaneka ragaman paling besar di dunia. Ribuan pulau, ratusan etnis dan bahasa. Gak gampang nemuin persamaan yang bisa ditemui di seluruh area Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Gue sendiri paling sering ditegur Mikko kalo udah ngomong “Di Indo begini, di Indo begitu. Di Indo enak naik mobil kemana-mana. Di Indo enak bisa punya ART”. Menghadapi  keluh kesah gue, Mikko berkata “Indonesia itu bukan cuma Jakarta dan Jakarta bukan cuma BSD”. Lha, iya! Karena BSD itu di Tangerang, bukan Jakarta.

Maksud omongan Mikko itu supaya gue lebih mengembangkan perspektif gue dalam menilai Indonesia. Persepsi gue tentang Indonesia, menurut Mikko, seringnya terbatas untuk sekitaran Jakarta, khususnya BSD. Dan tolak ukur yang gue pake umumnya temen-temen gue, keluarga, dan blogger kondang yang tulisannya rajin gue baca. Semua grup ini punya karakteristik yang sama: tinggal di kota besar, berpendidikan tinggi dan secara ekonomi berada di kalangan menengah ke atas. Padahal Indonesia jauh lebih luas dan lebih beragam dari itu. Masih banyak orang-orang yang tinggal di tempat yang gak ada molnya, gak bisa dibilang kalo orang Indonesia hobinya ngemol semua. Gue ke hutan sekali aja udah bangga bener, padahal di Indonesia masih banyak yang tinggal di hutan. Yang jalan kaki berkilo-kilo tiap hari demi datang ke sekolah? Adaaaa! Dan gak semua orang di Indonesia punya mobil, memangnya kenapa ente fikir KRL penuhnya luar biasa? Apalagi ngomongin ART, keluar dari kota-kota besar, umumnya orang hidup tanpa ART. Apa-apa ya kerjain sendiri, sama kaya di luar negri.

Kalo baca kisah hidup perantauan di luar negri yang diawali dengan “Di sini semua harus dikerjakan sendiri mulai dari memasak, mencuci hingga mengurus anak” Mikko bakal mendengus, “Pasti yang nulis orang kaya dari Jakarta soalnya she expects a life with a pembantu and a baby sitter in Indonesia” Maklum ya, Mikko ini emang hobinya jalan-jalan ke pelosok Indonesia yang gak kenal sama kata baby sitter.

Tapi tetep dong, ah. Kalau nanti balik ke Indonesia yang pertama kutelepon pastilah ahensi ART dan Babysitter. Kalau bisa hidup lebih enak siapa yang nolak sih? Lagipula, sangat wajar kalau orang barat terbiasa mandiri tanpa ART ini. Sistem kehidupan di sini memang dirancang supaya warganya bisa hidup mandiri. Daycare yang mudah diakses dan murah, jam kerja yang lebih singkat, cuti yang banyak, teknologi yang bikin pekerjaan rumah lebih mudah, dan lain sebagainya. Sebaliknya, buat yang hidup di Jakarta tanpa ART dan babysitter, silahkan tepuk dada dengan bangga. AKOH MAH KAGUM BANGET SAMA KALIAN SAMPAI MAU BERKOWTOW!

Kembali pada inti tulisan ini, membanding-bandingkan memang lumrah dan umumnya terjadi bila tiba di tempat baru. Selain yang bernada menjatuhkan Indonesia, pendatang baru yang masih terserang culture shock kadang juga suka mengeluhkan kehidupannya di negara baru.

“Di sini mah apa-apa lama. Ke dokter bikin janji dulu seminggu sebelumnya. Mau potong rambut aja juga harus nunggu berhari-hari. Di Indonesia mah enak, tinggal dateng asal bisa bayar”

“Di sini makanannya gak enak. Apa itu hambar-hambar semua?”

“Di sini servicenya jelek. Masa di restoran harus beresin meja sendiri”

“Masa di sini kalo hamil harus ke bidan. Di Indonesia kita kontrolnya ke obgyn dan pasti di USG, dapet fotonya pula”

“Di sini rumahnya kecil-kecil. Rumah gue di Indo tiga kali lebih besar”

Komen-komen kaya gini juga banyak loh dan juga bikin kesel buat pendengarnya. Mungkin sebelum mengeluh sebaiknya berpikir dulu kalo yang di Indonesia hidupnya enak tanpa masalah barangkali cuma elo aja. Yang lain-lain mah gak seberuntung itu dan bisa jadi malah sangat bersyukur akan keadaan di sini.

Semoga kita-kita yang merantau dijauhkan dari tindak tanduk yang bikin orang lain kesel ya. Gak bikin pundung penduduk lokal di negara baru maupun sesama saudara di negara sendiri. Sekaligus gue mau minta maaf kalo sendirinya juga pernah bikin pernyataan nyebelin seperti yang gue jabarkan di sini baik dulu maupun nanti karena memang sih, yang namanya perbandingan cenderung menempatkan satu pihak lebih tinggi dan satunya lagi lebih rendah. Tapi kembali pada prinsip Vetty Vera: sedang-sedang sajaaaaaa, alias jangan sering-sering.

Hal kedua yang ingin gue bahas dalam jurnal tujuhbelasan ini apalagi kalau bukan tentang bahasa kita, bahasa indonesia, karena cinta Indonesia pastinya berarti mencintai bahasanya. Tapi belakangan ini penggunaan bahasa Indonesia makin kegerus sama penggunaan bahasa inggris yang makin meluas bahkan mungkin sudah dianggap normal.

Gue gak bicara soal bahasa Indonesia ala Cincha Laura di sini atau pun soal anak-anak sekolah internasional yang gagap berbahasa Indonesia. Yang saat ini bikin gue lumayan prihatin adalah penggunaan bahasa Inggris untuk keperluan undangan (pernikahan, ulang tahun, baby shower atau pun siraman, peluncuran produk baru dan berbagai acara lainnya), website sekolah/perusahaan/dsb dan iklan.

Maksud gue begini. Sekarang ini kan lagi ngehits banget nih memakai produk lokal, produksi anak negri. Katanya bukti cinta sama negri sendiri. Lha, tapi trus segala macam tetek bengek si produknya – mulai dari website, iklan, buku panduan – dituliskan dalam bahasa inggris. Ini kan bertentangan sama tujuan memupuk cinta negri sendiri tadi. Apalagi kalau target pasarnya emang penduduk Indonesia, kenapa toh komunikasinya sangat keminggris? Apakah anda lupa kalau Indonesia punya bahasa sendiri, bahasa indonesia?

Kalau memang tujuannya untuk go international silahkan saja berbahasa inggris ria tapi tetap pertahankan komunikasi dalam bahasa indonesia. Buat dua halaman web berbeda, buku panduan yang bilingual atau semacamnya.  Yang jelas, jangan hapuskan penggunaan bahasa indonesia selama target pasarnya masih orang Indonesia. Jangan bikin bangsa kita lupa sama bahasanya sendiri.

Hal yang sama juga berlaku buat undangan, iklan dan lain-lainnya. Selama tamu yang diundang juga sesama orang Indonesia, dan acaranya juga di Indonesia, kenapa udangannya harus berbunyi “You are cordially invited to our blablablabla…..” Ada orang asing yang datang ke acara tersebut? Tetap bukan alasan yang bagus untuk tidak menggunakan bahasa indonesia selama orang asingnya cuma minoritas. Kalo mau repot bolehlah bikin tulisan dalam dua bahasa – indonesia dan inggris.

Misalnya aja nih, gue udah  jarang banget ngeliat undangan ulang tahun anak dan perintilan pestanya dalam bahasa Indonesia. Every kid is now turning 1, 2, 3 instead of  berulang tahun yang pertama, ke-2, ke-3.

Sama juga buat acara peluncuran produk baru. Suka sebel liat segala-galanya tertulis dalam bahasa inggris, padahal toh nanti di acaranya juga bakalan ngomong bahasa Indo, yekaaan? Tapi kayanya emang sekarang ini udah tertanam asumsi bahwa bahasa inggris lebih bergengsi dari pada bahasa ibu sendiri. Jadi kalau produknya mau dianggap serius sama pasar,bahasa inggris harus diselipkan di sana sini. Ini kenyataan yang agak menyedihkan dan gak sepenuhnya kesalahan marketing karena kita sendiri secara gak sadar ikut berperan dalam membentuk asumsi tersebut.

Mau gak mau gue harus bikin perbandingan di sini. Pengalaman tinggal di tiga negara eropa, gue sebagai orang asing dituntut untuk mengerti bahasa setempat, bukan sebaliknya- mereka mengakomodasi gue dengan senantiasi speak speak english. Pemakaian teks bahasa inggris umumnya dipakai ditempat dengan target pembaca yang mayoritas orang asing seperti di bandara, asrama mahasiswa international dan tempat wisata. Yang lain-lainnya tetap dalam bahasa lokal atau dibuat dalam beberapa bahasa tanpa pernah menghilangkan penggunaan bahasa setempat. Ini salah satu bentuk kebanggaan akan bangsa sendiri yang diwujudkan dalam pemakaian bahasanya secara baik dan benar. Sebuah tindakan yang gue rasa harus kita lakukan untuk Indonesia.

Salam merdeka!

Advertisements

74 comments

  1. Masalahnya juga konon kita (ooopss aku aja kali) masih punya karakter inferior mbak 😦 . Salam Merdeka!!

    1. aku termasuk! selalu ngerasa inferior sama orang sini, kalo ngomong ama mereka, pake bahasa mereka, langsung gugup dan terus bahasanya jadi acak adut

  2. Hicha Aquino · · Reply

    Halo mbak Rika. Perkenalkan saya silent reader blog-nya mbak Rika. 🙂
    Sebagai sesama perantau saya setuju sekali dgn pendapat mbak. Dulu pas awal2 disini mungkin juga menjadi pelaku seperti yg mbak bilang. Tapi makin kesini saya sadar dimana pun ada kekurangan-kelebihannya. Makanya belakangan saya memilih untuk “mikir dulu sebelum ngeluh”. Soalnya akhir2 ini suka sebel sm yg baru datang dan komennya “enak ya disini, ga kayak di Indonesia yg bla bla bla”. Pun sebaliknya sama yg udah agak lama dan mengalami fase jenuh, yg komentarnya “enakan di Indonesia, disini bla bla bla”, padahal pas balik kena reverse culture shock dan tetep aja jatoh2nya ngeluh. Hahaha..
    Mungkin udah sifat dasar manusia kali ya, gampang ngeluh-sulit bersyukur.. Hehehe…

    1. Halo, Hicha! Salam kenal ya!

      Aku juga pas awal-awal banyak euy ngeluh2nya sekaligus banyak bangga2in sistem di sini. Tapi mudah2an sekarang udah bisa nerapin yang kamu bilang ‘mikir dulu sebelum ngomong’

  3. Berhubung suami orang Aussie, nah kami jadi sering ngobrol soal imigran di Australia yg tipenya mirip mba Somalia itu.., yg ternyata jumlahnya lumayan banyak.. Katanya gara-gara imigran tipe rempong ini yg jadi salah satu penyebab Australia tutup pintu utk imigran pencari suaka.. Trus soal bahasa, gak cuma bhs Indonesia yg belakangan ini dianggap kurang keren, bahasa daerah bernasib sama bahkan mungkin lebih parah. Aku orang Sunda tapi banyak teman seumuranku yg gak ngomong bahasa Sunda ke anak-anaknya (hanya ngomong bhs Indonesia) padahal tinggal di kota-kota kecil di Jawa Barat yg 99% lingkungan Sunda, trus pasangan atau keluarga besar mereka ya orang Sunda juga.. Dan ya generasi ini sepertinya lebih diarahkan utk ngomong bhs Indonesia dan nantinya Inggris..
    Nah sebagai perantau antar benua, intinya buatku hidup di mana pun pasti ada plus minusnya.. Tinggal menyikapinya dengan bijak..

    1. Emmyyy….Australia ini strict banget ya dalam menerima imigran. Kalo gak salah mereka bener2 udah menutup diri buat pengungsi ya? CMIIW
      Keselnya tuh gara2 beberapa pendatang yang gak tau diuntung terus berimbas ke imigran lainnya ataupun calon2 imigran.
      Temenku yang dulu expat di Perancis juga bilang kalo di kantor mereka beberapa bangsa terkenal sulit dipuaskan. Viewing apartemen bisa sampe 20an biji karena adaaa aja salahnya, sama juga buat mobil, perabotan dllnya. Padahal yg pilihannya udah bagus2 banget dan mereka juga dateng dari negara berkembang yang haduhhh…semakmur apa sih di sana keadaannya. Apa karena di negaranya apa2 harus struggle, harus negotiate, trus jadi kebawa pas udah pindah ke negara baru ya?

      Soal bahasa…bener banget. Bahasa daerah sekarang udah makin tergusur. Aku pun kadang bertanya2 ke ortuku kenapa aku gak bisa satu bahasa daerah pun. Yah mungkin karena mereka pake bahasa melayu yg mirip banget sama bahasa indonesia sih.

  4. sukaaaa banget sama tulisannya mbak..

  5. aduh mba rika baca postingan ini pengen banget teriak merdeka!!!!!!! pokoknya suka lah isinya 🙂

    1. hahahahaha. Merdeka juga!

  6. anakserpong · · Reply

    Ga skalian bahasa resmi dijadiin 2: Indonesia n Inggris wkwkwk (sarcasm mode on)
    *kabur*

    1. haduuuuhh…ngomongnya aja belum becus, typo juga masih dimana-mana
      Ayam Goreng Frait Ciken 😀 😀 😀

  7. postingan juara mbaaaa! 😀
    disampaikan secara ringan tapi ngena banget

    1. awww…makasih

  8. Rikaaa.. seperti biasa, tulisannya manteb dan cerdas. Gue aja seringkali masih jadi peer nih, buat nulis full dalam bahasa Indonesia. Soalnya ada beberapa kata yang kayaknya kalau dipadanin ke bahasa Indonesia jadi terkesan kakuuuuu banget, jadi terkadang kalo pas lagi ngalir, ketulis aja gitu beberapa kata dalam bahasa Inggris, tapi ya udah lah, majority gue masih nulis pake Bahasa Indonesia (lah…barusan ketulis majority -_-).

    Gue jadi inget pas gue balik ke Indonesia, semua orang ngatain gue bego, bodoh, udah enak di luar negeri, kok balik ke negeri sendiri. Istilahnya, bangsa sendiri aja udah memandang negara sendiri tuh jelek! Ampun dah, memang sih banyak hal yang gue juga suka protes dari negara kita soal budaya kurang disiplin dan korupsi misalnya. Tapi daripada protes, kenapa kita ngga melakukan sesuatu ya daripada ngedumel. Misalnya kita bisa nulis hal-hal baik soal Indonesia, berusaha menegur orang yang nyerobot daripada ikut-ikutan nyerobot, memulai bikin antrian satu garis di wece (walaupun sukanya diprotes orang). Kalau ada hal baik dari luar yang bisa diaplikasikan di sini, ya lakukan, daripada cuma ngedumel. Kalau ke Ikea, gue makan sama orang yang belum ngerti kalau harus bersihin meja sendiri, gue bilang, “Jangan lupa ya tar bersihin meja”. Kalau orangnya protes dengan bilang ada mas-masnya yg bersih2, gue suruh baca aja tuh tulisannya. Sok-sok mau luar negeri, tapi giliran yang “susah”nya dari luar negeri diberlakukan, eh protes. Emang kampret! Intinya mah, manusia itu secara natural cuma mau ENAKNYA DOANG! hahahaha..

    1. leleeeeee….kok sama komennya. Dulu pas pulang gue juga puas banget dapet pertanyaan kaya gitu. Kenapa pulang? Kan enakan di sana. Lha, bikin gue jadi merasa gak diterima, kan. Agak sedih ya nerima kenyataan kalo hidup di Indonesia tuh kesannya susah sementara LN persepsinya pasti nyaman dan makmur. Walopun kadang ada benernya tapi ya gak usah terus2an diumbar dan dibanding-bandingkan.

      Seperti kaya yg elo bilang. Daripada ngedumel mulu, mending bertindak melakukan sesuatu walau sekecil apapun. Sesederhana bersihin meja di restoran Ikea.

  9. Mba Rika, aku kagum sama tulisan Mba Rika ini, meskipun panjang tapi bacanya enak 🙂

    1. makasih, Puji

  10. mysatanicverses · · Reply

    Hai, Rika. Salam kenal (lagi). Suka banget dg tulisan ini. Aku juga sering “gerah” dg hal2 yg sama. Dan, menurutku komennya Miko soal kita sering mengeneralisasi, bener banget…. Thank you udah nulisin ini.

    1. Iya, kadang suka keceplosan ya di Indo begini, orang Indo begitu. Padahal orang Indo kan buanyak bangeeeet, gak bisa disamain.

  11. mbak rika, aku bocahmuuuuu 😀 😀

    1. Aku indukmu dong 😀 😀

  12. “Di sini makanannya gak enak. Apa itu hambar-hambar semua?” –> hah, gue baru aja nulis soal ini di blog, hahahah!!

    idem sama semuanya, dan gue pun palinggggg sebellllll baca macem2 komen atau list yg di bangsanya buzzfeed soal “15 hal yg orang Indonesia lakukan… 20 hal yg bisa bikin org Indonesia marah… org Indoneisa ini itu dll” tapi yg dipakai sebagai referensi sebenarnya hanya org Jakarta. mikir ga sih klo Indonesia itu ga sekecil Jakarta doang? huh. bikin hati panas. :p maaf jadi ikutan kesel, tapi aku senang karna dirimu berhasil menuliskannya dgn positif, hehehe.

    trus soal bahasa. gue baru2 ini juga heran sendiri liat bbrp kenalan gue di FB, semua tinggal di Jakarta, protes rame2 ke suatu kedai kopi di Jkt di halaman FB mereka. semuanya rame2 pake bhs Inggris yg stengah asal. dan dibales sama si kedai kopi… pake bahasa Inggris stengah mampus juga. ini apaaa sihhhh, ngga ngerti kenapa mesti pake bhs Inggris semua padahal sama2 org Indonesia. *tepok jidat* gue kira cuma gue aja yg gemes. seneng rasanya liat Rika juga gemes sama hal2 gini. :p

    1. Puniiiii…gue juga ngalamin hal yg sama kaya elo. Mulai dari tahap apa2 kasih bumbu (dan cabe) seabruk tapi lama-lama mulai menghargai makanan minim bumbu seperti di sini. Malah jadi belajar mengenal rasa asli dari suatu bahan makanan.

      Eh, kedai kopi mana tuh, Pun? jadi penasaran. Ini kan ibarat sesama orang Indonesia berdebat pake bahasa inggris ya? Nyusahin diri sendiri aja. Tapi kayanya emang ada anggepan kalo kita bales dalam bahasa indonesia derajat kita langsung dianggap lebih rendah dari si orang yang berkomen dalam bahasa inggris. Ini macam balik lagi ke jaman feodal dimana bahasa belanda dianggap elit sementara bahasa lokal dianggap kelas dua. Menyedihkan

      1. gue kasih link-nya di FB ya. 😀

  13. Aku suka tulisan inii… Teguran juga buat aku supaya nggak sering2 ngomongin negatif mulu.. Makasiih “)

    1. Sama. Ini juga untuk aku inget-inget sendiri

  14. Suka banget sama tulisan lo! Sebab, gue eneg sama perantau yang reverse culture shock-nya kelebayan.

    Memang benar kata lo, gue perhatiin rata-rata ya lebay itu perantau baru ya, Rik. Padahal juga baru pindah 1-2 tahun. Pas balik Indo berasa ga pernah ke Indo sebelumnya, koar2 komplain ini itu. Kalau sesekali sih wajar aja. Tapi kalau setiap saat komplain, idih sumpah nyebelin banget. Pengin nimpuk trus bilang, “Ngapain ke sini? Sono balik aja!”

    Sementara, perantau yang sudah lamaan atau mereka yang sudah biasa wara-wiri dari satu negara ke negara lain, lebih santai dan bijaksana. Mungkin karena kemampuan adaptasi mereka lebih cepat dan luwes, ya.

    Semoga aja yang kelebayan itu buruan nyadar dan malu setelah baca tulisan lo ini. Apalagi tulisan dari sesama perantau juga. Hehe.

    1. Tau gak yang lebih lucu lagi, My? Yang ngakunya udah lupa sama bahasa Indonesia padahal baru juga pindah 2-3 tahun. Duuuuhhh…lebaynya kok kebangetan deeeeeeh.

      Dan seperti kata lo, yang udah banyak merantau, udah wara wiri kemana-mana malah biasanya lebih humble ya. Padi merunduk karena berisi vs tong kosong berbunyi nyaring

  15. Setelah sekian lama jadi silent reader, akhirnya pengen komen jg.
    Sukaaa banget sama tulisan mbak rika.
    Bukan cuma kalo keluar negeri ajah yang suka dibandingin.tapi dalam negeri juga tau mbak. Orang daerah yang ke jakarta juga suka banding-bandingkan kayak gt. Bilangnya di jakarta tu apa2 murah, jakarta itu gini, bla bla bla.
    Yah, manusiawi kayaknya.
    Tetep aja pengen gelitikin mereka biar sadar. Heheh.

    1. Betul ini. Banding2in kaya gini juga terjadi juga buat yang pindahan antara Jakarta dan daerah. Dimana-mana sama aja ya. Sama-sama bikin sebel yang dengerin juga

  16. intinya, dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung 🙂

    1. setujuuuuuu

  17. panicihuy · · Reply

    halo rika..
    aku salah satu pembaca blog mu yang (meski bukan perantauan) tapi cukup tertohok dengan tulisan ini..

    kadang aku juga suka ngerasa ngebanding2in hidup kita sama orang lain.. padahal kalau diresapi, kita harusnya bersyukur masih bisa hidup enak..

    makasih ya udah diingetin.. 😉

    1. huhuhuhu, aku nih sebenernya yg perlu inget-inget terus supaya gak terus2an membandingkan hidupku dengan orang lain atau hidupku di Indonesia dengan hidupku di sini

  18. Rikaaa, aku suka tulisanmu! (seperti biasa sih;). Gue sekaligus tertohok juga (sedikit) karena dua hal (ciyeh fomal bener):
    1. kadang-kadang gue suka gak sadar ketika gue ‘membandingkan’ kehidupan perantauan gue dan Indonesia itu buat sebagian orang terdengar seperti arogan. Tujuannya sih kebanyakan cuma pengen cerita aja kalo disini begini dan begitu, tapi gue makin lama juga belajar kalo lain orang bisa lain juga interprestasinya.
    2. Sejak Thaisa lahir gue terus terang juga sering ‘ngeluh’ sama suami gue. Yup, the usual: enak kalo di Indonesia, ada baby sitter, ada sopir, ada pembantu. Dan suami gue tanggepannya hampir sama kayak Mikko: you mean like those spoiled Jakartans (not all Indonesians)–> Disini adalah momen ketika istri meradang merasa disindir sebagai spoiled person :))
    Tapi emang bener kata lo, banyak juga orang Indonesia yang apa2 sendiri kayak gue (tapi gue masih tetep pengen punya helper..*loh gimana sih).

    Kalo gue biasanya mengingatkan diri sendiri dengan: ini adalah pilihanmu dan semua ada konsekuensinya. Jadi ya sutralah…hidup memang seperti roda..kadang di bawah, kadang di samping, terus ke bawah lagi (maju mundur doang :))
    Rikaaa…kapan sih ya kita bisa ketemuan..biar bisa ngobrol sampe puas:((

    1. Aniiinn….gue juga kadang kebablasan ngomongin Indonesia macet lah, polusi lah, konsumerisme tinggi lah, hobinya ngemol mulu lah, dllnya. Perasaan sih cerita gue lucu dan seru, tapi persepsi orang kan bisa jadi beda ya. Secara gue juga pernah denger temen gue yang cerita ke orang lokal tentang Indonesia yang katanya rumahnya besar-besar, ada ART, kemana-mana naik mobil, bioskop bagus, rumah sakit mewah…pokonya gak kaya di sini. Mungkin dia bermaksud membanggakan Indonesia tapi gue nangkepnya malah ‘ni orang songong banget’ 😀

      Elmer ini kok ucapannya mirip amat kaya Mikko? Malu gak sih lo kalo mengingat mereka tuh malah lebih sensitif sama keadaan di Indonesia daripada kita sendiri, bok?

  19. Mb rika salam kenal, saya selama ini silent reader hehe. Blog mb adalah blog kaporit saya, selalu ditunggu-tunggu tulisan terbarunya. 😀
    Saya setuju banget soal bahasa, dan menurut saya keadaan diperparah dengan penguasaan bahasa Indonesia yang gak bener. Contoh kecil, sekarang banyak banget orang yang membedakan imbuhan di- dengan kata depan di aja gak bisa. Dan kesalahan ini bahkan udah sering ditemui di media formal kayak koran gitu.
    Terus yang suka juga bikin greget itu kebiasaan nyampur-nyampur bahasa, pake bahasa Inggris tapi pola Indonesia. Contohnya ada iklan bertuliskan “service car” padahal maksudnya dia nerima servis mobil. Hadoh kaco. Bahasa sendiri gak bener tapi mo pake bahasa Inggris juga belepotan *maap ya mb komen pertama malah curhat hehe.

    1. Aku…akuuu!!!! Aku kadang masih suka salah dalam penggunaan imbuhan di. Tapi emang sebelnya setengah mati kalo ketemu kesalahan2 semacam ini di media formal. Sering tuh aku liat di detik.com. Harusnya kan media2 itu yang menjaga standar pemakaian bahasa kita ya. Jangan ikutan slenge’an dong.

  20. setuju.. mencintai bahasa ibu sebenarnya lebih gampang dikenal ya.. karena ada semacam unsur identitas gitu ya? ada ciri khas tersendiri yg harusnya kita banggakan 🙂

    1. Iya, bahasa ibu bagian dari identitas kita. Jadi yang ngerasa bahasa asing lebih bergengsi ketimbang bahasa ibu sendiri itu ibarat kacang lupa akan kulitnya

  21. selalu tulisannya cerdas, tajam, tapi enak banget dibaca dan kocak! i loooooooveee your blog 🙂

    1. waw! komen yang enak banget dibaca oleh penulisnya! Makasih, lho!

  22. qonita · · Reply

    mbak Rikaa….setuju banget ama tulisan inii…
    soal bahasa nih ya, kalo ada yg nulis pake bhs inggris atau ada yg jadi grammar nazi tulisan bhs inggris orang lain dianggap keren..lebih keren daripada bhs indonesia,,dan sampe sekarang gw geleng2 ama orang yg ngomong bahasa indonesia itu bahasa..
    dan kayaknya emang yg rata-rata jadi blogger nge hitz terkenal banyakan dari jakarta, atau kota besar lainnya jadinya yah mungkin gaya hidupnya begitu
    sedang yg tinggal di hutan mo internetan aja susah 😀

    1. Qonita! Aku juga paling kesel kalo denger bahasa indonesia disebut sebagai bahasa. I can speak bahasa. Ini apa sih? I can speak language????

  23. Rika emang deh kamu kalo nulis jago sekali. Moga2 aku bisa jd wn indonesia yg lebih baik. Biar kalo ada penjajah dalam bentuk baru, kita ga gampang dipecah belah karena isu ini dan itu yang mendeskreditkan indonesia

    1. Ah, Nopih! Kamu bisa azaaaa.
      Aku pun ingin jadi WNI yang lebih baik

  24. merdeka!

    setuju banget Rik, dimana2 itu ada enak dan nggak enaknya dinikmatin aja lah yaaaa…tp emang kl baru pindah masih kaya’ bulan madu, indaaaaah semua…kl kaya’ si mbak somalia bulan madunya udah abis 🙂

    1. Hahahahaha. Merdeka juga ya, bok!

      Klise ya perkataan ‘dimana-mana itu pasti ada enak gak enaknya’ tapi ternyata emang bener banget 😀

      Sebaiknya kalo bulan madu abis ya jangan jadinya datang bulan terus-terusan. Bawaannya ngomel terus. PMS, seus?

  25. Mba rikaa, baru nemu blog ini, langsung jatuh hati deh eike. Bukan karena themeblog kita sama yaa, hehe, tapi karenaa tulisan mba rika unik dan ngangenin buat dibaca 🙂 salam kenal mba

    1. wahh…tos dulu kalo themeblognya sama.
      Salam kenal juga, Rara!

  26. Sukaaaa banget tulisan ini.

    1. Ibu baruuuuuu….baru beranak dua. Apa kabar?

  27. baca tulisan mbak rika tetiba pengen nyanyi lagunya gombloh “….Indonesia…..Debar Jantungku, Getar Nadiku Berbaur Dalam Angan-anganmu” hahahaha. Saya bisa banget hidup tanpa mol, tanpa art,tanpa babysitter tapi gak bisa kalo gak ada INDOMARET dan ALFAMART hahaha

    1. HAHAHAHAHAHAHAHAHA. Hidup Indomaret! Hidup Alfamart!
      Kalo gue tambah lagi gak bisa hidup di Indonesia tanpa abang-abang jajanan

  28. Iya sama gue juga suka empet dengerin org yg meng-agung2kan negara lain, baik orang indo yg muja2 luar negeri (“di LN mah apa2 enak banget”) dan orang indo yg muja2 indo saat tinggal di LN.. tapi ini muja2 yg udah extreme ya bukan sekedar.. “aduh kangen mie tektek deh”..

    empet karena gw tuh merasa lo harus menghargai bumi dan lingkungan sekitar lo, termasuk orangnya.. ibarat kalo kita taneman, toh akar kita bakal tertanam ke tanah dimana kita tumbuh/tinggal (dalam amat yak)..

    enak, ga enak, kan cuman persepsi ya jadi kalo denger keluhan2 yg ngeselin itu jadi inget tokoh cartoon Tangled yg tereak2 “best day ever/worst day ever!”… lebaay amat zus 🙂

    1. Intinya mah memuji dan mengeluh boleh aja, tapi jangan lebay ya. Kalo Enak gak enak tergantung sama kitanya juga. Kalo semua dikeluh-keluhkan, dibanding-bandingkan ya jadinya gak enak melulu.

  29. aku suka dan setuju banget rika sm isi postingan loe pengen komen banyak tp lagi ngegendong bayik hahaha…refot!!

    1. oppiiiiiiiie!
      update blognya, atuh! mau liat ibu baru dan bayi baru

  30. Tulisan mba rika top banget! sama nelangsanya sekarang salaman sama bocah2 lucu musti pake istilah “shakehand” dan panggilan bu guru berubah jadi “miss”, email rapat sama orang lokal doang musti bahasa inggris… Tapi tiba2 di gramedia nemu bukuny JS Badudu yang EYD (ejaan yang disempurnakan) ternyata dicetak ulang!! Apa gara2 fenomena ini ya?
    Hihi tapi aku suka banget dengan bahasa indonesia untuk urusan makanan… Hayo coba translate sambel oncom leunca pake bahasa inggris…pasti keder! hehehe

    1. aku juga pernaaaaah dibikin bingung sama syekhen ini
      tiap kali Kai dan Sami ketemu bayi-bayi di taman susternya, ortunya, dan orang-orang sekitarnya bakal bilang “ayo syekhen, syekhen”. Ya ampooon…bilang aja salaman napaaaaaa?

      Eh, aku pun perlu loh bukunya JS Badudu. Tulisanku acak adul begini. Penggunaan “di” aja masih suka salah-salah

  31. Hai aiti! gemes bgt nih mau komen, hahaha.

    Pas bgt soalnya, aku jg sering bgt prihatin sama hal yg terakhir dibahas, tntg makin minimnya penggunaan bahasa Indonesia apalagi dikalangan Gen Y, atau millenials. Kmrn2 bahkan aku smpet beberapa kali ngebahas juga sama temen-temen, tapi anehnya beberapa dr mereka malah komentar “Kok mau maju malah di prihatinin sih?”. Padahal ya ngomong bahasa Indonesia bukan berarti mundur atau ngga ngikutin kemajuan zaman sih, hahaha.
    Apa pd merasa kampungan buat ngmg bahasa Indonesia? Padahal aku malah rencananya mau les bahasa jawa, hahaha.

    1. nanaaaaa…aku juga prihatin sama yang punya pemikiran kaya gitu. Bahasa ibu sendiri dianggap second class. Maju kan bukan berarti jadi kacang lupa kulitnya. Ya ambil contoh aja negara-negara yang beneran udah maju, pada tetap setia kok sama bahasanya sendiri. Malah bangga.

  32. Wow, smart lady 🙂

  33. Reblogged this on Reliquus and commented:
    rasanya di tampar pas baca ini!!
    semoga kedepannya aku gak lagi merendahkan indonesia..

  34. sriharyani · · Reply

    mba… tulisannya ini menohok sekali mba.. saya aja yang tinggal di Jakarta suka ikutan ngomong2 jelek Indonesia hehe … untuk yang produk local sok bahasa keminggriss saya juga sebel ngeliatnya apalagi produk local tapi harga internasional *hiks

    1. produk lokal harga internasional. oh em jiiii…ini bener banget!!!!!!!!

  35. Salam Merdeka! Sering banget denger ibu2 sm anak2nya yg masih pada kicil2 ngomong pake bahasa inglish sekarang2 ini mba..antara kagum dan herman, kenapa ya harus berbahasa inglish begitu..hehe..dari dulu cita2 saya ngajak anak les tari tradisional instead of (loh ko pake bahasa inglish =d) balet2an gitu..mudah2an anaknya mau =D

  36. Tulisan yang jempolan mba Rika …. sukaaa bangett… emang kadang suka sebel kalo denger ada yang sok keminggris dan merasa kalo bhs indonesia itu bukan bahasa “kekinian” :)))

    Salam merdeka *toss äiti

  37. saya ketinggalan haman eh jaman,, kereen kece badai lah mak,, walaupun panjang macam rel kereta apai, tapi asyikk nggak bikin jengah dan ingin terus berusaha mengerti sampai akhir. Pokoknya ciamiklah,,
    Aku belum pernah ke LN, jadi ya nggak bisa banding2in dweh,,, hahaha,, tapi memang ada beberapa rekan yg udah ngerasain LN, ya samalah macam orang2 (yg punya sifat diatas rata2), suka banding2-in.
    Kancil deh ah,,, baik-buruk semoga menjadi pelajarn buat kita, untuk melakukan sessuatu yang lebih baik. Salam dari kota manis-gudeg
    Semoga bisa merasakan perjalanan ke LN dan merasakan nikmat ALLAH lainnya, dibelahan dunia lainnya :*

    1. Hahahahaha, dulu pas aku lagi mudik ke Indonesia seorang temenku ada yang curhat tentang temen lainnya yang baru aja balik dari LN dan katanya suka ngeluh keadaan Indonesia begini dan begitu gak kaya di LN tempat dia dulu. Si temen yang curhat katanya kesel banget denger keluhan banding2in begitu.

      Untung banget aku dengerin curhat temenku, jadinya lebih menjaga lidah supaya gak telalu sering bikin perbandingan2 seperti itu

  38. Aku kegampar banget baca tulisan ini mbak rika. Aku si belum pernah ke luar negeri tapi biayasanya banding2in kotaku dengan kota lain. Huahaha
    Soal bahasa ni aku juga sama. Kadang beringgris2 ria kalo bikin status fb atu tulisan2 di blog atau tulisan2 lain di sosmed. Tapi gimana ya. Aneh aja gitu. Huhuhu

    1. kalau menurut aku, gak papa banget pakai bahasa inggris untuk ranah pribadi, untuk latihan atau untuk mengekspresikan diri. Yang malesin itu kalau udah masuk ranah formal tapi pake bahasa inggris padahal yang berkomunikasi sama2 orang indonesia. Kaya misalnya surat menyurat sesama orang indo, tapi pake english. Bikin undangan, yang di undang juga orang indo, tulisannya bahasa inggris. Bikin spanduk, bikin flyer, untuk market orang indonesia, tapi lagi2 bahasa inggris. Yang kaya gitu2 deh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: