revisiting my childhood: Astrid Lindgrens Värld

Gara-gara gue harus implan gigi yang biayanya sampai ribuan euro kami sekeluarga hampir batal liburan tahun ini. Tapi menjelang cuti musim panas Mikko dimulai, si suami ini mulai resah gelisah. Kok sayang amat liburan gak kemana-mana? Ayolah kita jalan yang deket-deket barang sehari dua hari. Paling gak ya ke Tallinn.

Tallinn lagiii, Tallinn lagiiii. Buat warga Helsinki dan sekitarnya ke Tallinn ini memang udah kaya Jakarta-Bandung aja saking deketnya. Tapi senangnya, begitu sampe sana langsung dapet suasana yang berbeda.

“Tallinn moloooo. Kalo deket mah Stockholm juga deket tuh. Kita kan kalo ke sana kejer tayang melulu, belum pernah pake nginep” gue berkata, abisnya kalo cuma ke Tallinn mah kapan-kapan aja buat weekend gateaway.

“Ohh…Swedia ya? Okeee…mungkin kita bisa ke Vimmerby. Ke tempat impiannya istri”

“HWAPAAAAAAAAH? KE ASTRID LINDGREN’S WORLD? AKU MAUUUUUUUUUUUUUUU” sontak gue jadi histeris. Kan impian banget ini mau ke Astrid Lidngren’s World.

Flashback sedikit, ya. Sekitar 6 tahun lalu waktu baru sampai di Finlandia, gue dan Mikko jalan-jalan naik kapal jalur Helsinki-Stockholm. Begitu sampai Stockholm gue liat ada brosur Junibacken, semacam theme park kecil tampat kita bisa bertemu tokoh jaman anak-anak seperti Madita dan Lisbeth (Madicken dan Lisabet), Pippi, Muummi dan lain-lain.

“Aaaaaaa….ada Pippi! Ada Madita! Aku kan suka banget baca buku Astrid Lindgren” biasalah istri, dikit-dikit histeris.

“Kayanya ada deh themepark bertema Astrid Lindgren tapi bukan di Stockhom sini” kata Mikko.

Pada akhirnya hari itu kami gak sempat berkunjung ke Junibacken tapi begitu kembali di Kerava gue langsung google tentang keberadaan theme park Astrid Lindgren tersebut. Dan ternyata ada! Namanya Astrid Lindgrens Värld yang letaknya di Vimmerby, agak jauh dari Stockholm.

Masalahnya nih ya…Mikko malezbanget dot com liburan ke Swedia. Gue pun demikian. Dalam bayangan gue Swedia mah mirip-mirip aja sama Finlandia TAPI pake mahal. Liburan itu paling afdol ke selatan. Mencari hangat matahari sambil foya-foya lempar fulus karena segalanya terasa lebih murah.

Alhamdulillah ya, Mikko pernah berjanji untuk membawa gue ke tempat-tempat impian gue, salah satunya ya Astrid Lidngrens Värld ini. Udah dari dulu sih gue tagih-tagih janjinya tersebut ternyata harus nunggu bokek dulu baru akhirnya kami bisa berkunjung ke sana. Blessing in disguise banget rupanya si implan gigi mahal durjana.

Rencana pun disusun, tiket dibeli, hotel dipesan. Karena terburu-buru dan euphoria jadinya malah sempet salah pesen tiket. Gak bisa direfund pula! Apa kabarnya ini rencana mau liburan hemat?

Sepuluh hari kemudian kami sampai di Swedia. Menginap dulu dua malam di Stockhom dan baru kemudian kami naik kereta menuju Vimmerby. Selama musim panas ada kereta khusus yang berhenti di stasiun Astrid Lindgres Värld (ALV). Begitu turun kereta kami langsung memasuki halaman parkir ALV. Hati gue mulai deg-degan.

Pintu masuk ALV

Pintu masuk ALV

Pertama-tama kami check-in dulu di penginapannya yang ternyata terletak di luar taman ALV, sekitar lima menit jalan kaki dari gerbang masuk ALV, jadi kami sempet nyasar. Udah keliling ALV tapi kok gak ketemu juga sama yang mirip-mirip hotel?

Ketika akhirnya sampai juga ke area penginapannya…Oooohh, hati gue langsung berdesir. Kok cakep amat sih “hotel”nya?

Gak bisa dibilang hotel sih. Area penginapannya ini lebih mirip seperti camping ground. Areanya luas sekali dan terbagi-bagi menjadi area karavan, kemah dan pondokan (chalets/ stuga). Pondokannya juga ada tiga macem dari yang paling kecil hingga yang paling besar.

Camping/ chalets ground ALV

Camping/ chalets ground ALV

Pondok kami, no. 23

Pondok kami, no. 23

Inside the chalets (Enertopstugan)

Inside the chalets (Enertopstugan)

Kami sendiri menginap di pondok yang paling kecil, namanya Enetorpstugan. Pondoknya basic banget. 2 tempat tidur bertingkat, satu set meja dan kursi dan kabinet kecil di dekat pintu. Segitu basicnya sampe sepre aja gak ada! Harus sewa dari reception atau bawa sendiri dari rumah. Sementara kamar mandi, WC, dapur dan ruang cuci ada di area bersama yang lokasinya dekat reception. Akoh kan jadi tambah deg-degan. Kalo malem-malem mau pipis gimana? Takut ngompol akibat nahan pipis.

Konsep penginapannya ini mungkin mirip dengan konsep glam camping yang sekarang juga lagi marak di Indonesia. Tapi sepertinya konsepnya ini diciptakan supaya kita merasakan pengalaman menginap di summer cabin di tengah hutan (atau mökki kalau dalam bahasa Finlandia) yang umum dilakukan oleh warga negara nordik sini.

Mökki memang biasanya merupakan pondok kecil dengan fasilitas yang sangat basic. Semua kebutuhan mulai dari seprai, handuk dan bahan makanan harus bawa sendiri dari rumah. WCnya pun sering kali di luar rumah, terpencil di sudut halaman.

Kebanyakan tamu yang menginap di ALV memang datang pakai mobil. Dari mobilnya gue liat mereka mengeluarkan sejuta peralatan mulai dari seprai, bantal, sapu, makanan, sampai alat grill segala. Sore-sore sekeluarga ngumpul di depan pondok sambil bakar-bakar sosis dan jagung. Kok senang amat sih? Kalo kami sih cukup ngemil näkkileippa beli dari supermarket.

Dua malam tidur di stuga, anak-anak senang sekali. Terutama banget mereka senang bobo di tempat tidur bertingkat (biarpun malem-malem Sami turun ke bawah buat tidur di ketek äiti). Sore-sore setelah ALV tutup, area stuga ini jadi ramai oleh keluarga yang menginap. Saat itu sih hampir semua stuga yang ada di ALV terisi penuh dan menjelang malam banyak keluarga yang makan atau sekedar nongkrong-nongkrong di depan stuganya. Kai dan Sami dapet banyak teman baru buat main kejar-kejaran.

Di area penginapan ini juga ada playground yang cukup besar buat anak-anak. Ada minigolf juga. Pokonya anak-anak senang sekali lah di sini. Ibunya aja seneng!

20150608_195840

Ketika kami meninggalkan area ALV pagi-pagi buta untuk kembali ke Finlandia

Ketika kami meninggalkan area ALV pagi-pagi buta untuk kembali ke Finlandia

Kalo ALVnya sendiri, apakah sesuai dengan harapan gue? Wuaaaahh…tentunya! Malah melebihi ekspetasi gue.

Buat yang mencari permainan pemacu adrenalin seperti roller coaster, arung jeram atau bianglala, salah banget kalo datengnya ke ALV. ALV ini memang masuk ke dalam kategori theme park tapi wahana yang ditampilkan bukan permainan dalam bentuk rides.

Buat gue, berkunjung ke ALV rasanya seperti berkunjung ke pedesaan Eropa (khususnya Swedia) jaman dahulu. Ada padang rumput, ada rumah-rumah peternakan, banyak pepohonan, ada danau kecil buatan. Suasananya hijau, teduh, dan cantik dengan bunga-bungaan musim panas. FYI, ALV memang cuma dibuka selama musim panas saja, dari bulan Mei hingga Agustus.

20150607_170320

20150608_123348

20150608_153924

Daya tarik utama yang ada di ALV tentu saja melihat perwujudan tokoh-tokoh ciptaan Astrid Lindgren termasuk juga habitat tempat mereka tinggal. Ada Pondok Serbaneka, rumahnya Pippi si Kauskaki Panjang. Ada Katthult yang sangat indah- kompleks peternakan tempat tinggalnya Emil. Ada Benteng Mattis tempat tinggalnya Ronya dan rombongan penyamun Mattis. Ada jembatan batu, landmark penting di Nangijala – negri ajaib dari buku Kakak Beradik Hati Singa, dan masih banyak lainnya. Kalau tergila-gila sama bukunya Astrid Lindgren seperti gue, bahagia banget pastinya bisa berada di sini. Dinding rumahnya Emil di Katthult sampe gue elus-elus saking senengnya (dan terharu!).

Di musim low season seperti kemarin, tempat-tempat ini umumnya kosong. Cuma di beberapa tempat aja kita bisa melihat penampilan tokoh-tokohnya. Seperti Pippi di Pondok Serbaneka dan Emil di Katthult, mungkin karena mereka adalah dua tokoh paling terkenal dari Astrid Lindgren jadinya harus tampil setiap saat.

Hasil liat-liat di internet, saat peak season kita bisa menjumpai Madita dan Lisbet lagi main-main di Junibacken, Lotta yang lagi belajar naik sepeda di troublemaker street (nama jalan ini dalam bahasa Indonesianya apa ya?), Karlsson, dan masih banyak lagi.

Pondok Serbaneka (Villekulla kalau dalam bahasa Finlandia), rumahnya anak perempuan paling kuat sedunia

Pondok Serbaneka (Villekulla kalau dalam bahasa Finlandia), rumahnya anak perempuan paling kuat sedunia

Dapurnya Pippi

Meja makannya PIppi

rumahnya Pippi

rumahnya Pippi

Jembatan batu di cherry valley, Nagijala.

Jembatan batu di cherry valley, Nagijala.

The brothers lionheart versi Finlandia (gue baca versi bahasa Inggrisnya). Buku yang dua bab pertamanya bikin gue nangis sampe ingusan

Knights Farm, rumahnya kakak beradik hati singa di cherry valley

Knights Farm, rumahnya kakak beradik hati singa di cherry valley

Benteng Mattis

Benteng Mattis

Bullerbyn yang tidak mendapat area yang besar di ALV, apalagi kalau dibandingkan area Pippi dan Emil

Bullerbyn yang tidak mendapat area yang besar di ALV, apalagi kalau dibandingkan area Pippi dan Emil

Rumah utara, rumah tengah dan rumah selatan kecintaan kita semua

Rumah utara, rumah tengah dan rumah selatan kecintaan kita semua

Danau kecil di belakang Bullerbyn

Danau kecil di belakang Bullerbyn

Junibacken, desanya Madita dan Lisbet

Junibacken, desanya Madita dan Lisbet

ALV gak bisa dibilang besar, gak seperti Disneyland. Bahkan sama Dufan aja juga kalah besar. Berkeliling di ALV gak butuh waktu lama tapi kemarin itu kami dua hari di sana dengan pertimbangan kapan lagi bisa ke sana? Keputusan yang tepat ternyata, kami bisa puas nonton pertunjukkan yang ada di sana. Daftar pertunjukkan harian bisa diliat dari peta ALV yang disediakan di pintu masuk. Untuk musim low season kemarin pertunjukkannya gak begitu banyak. Ada teater Pippi di Pondok Serbaneka, teater Emil di Katthult, Rasmus yang bernyanyi keliling ALV, dan teater Most Beloved Sister di panggung tengah.

Sebagai bonus, selama musim low season ada banyak rehearsal untuk pertunjukkan di puncak musim panas yang bisa kita lihat. Rehearsalnya udah bagus banget kok, hampir gak beda dengan pertunjukkan aslinya nanti, hanya saja rehearsal ini tidak diumumkan di jadwal acara jadi untung-untungan banget kalau mau nonton. Kemarin itu gue selalu siaga pasang kuping. Begitu ada bebunyian sandiwara dengan nyanyi-nyanyiannya langsung gue cari lokasinya dan hasilnya gue beruntung bisa nonton rehearsal Ronya Anak Penyamun.

Yang agak disayangkan, seluruh pertunjukkan ini berlangsung dalam bahasa Swedia. Buat yang belum baca bukunya Astrid Lindgren mungkin gak akan terlalu menikmati tapi untungnya gue lumayan khatam sama kisah-kisah Emil, Pippi dan Ronya jadi nontonnya tetap dengan penuh pengertian. Apalagi waktu nonton pertunjukkan Emil and The Soup Tureen – kisah Emil yang kepalanya nyangkut di mangkuk sop, haiiisshh….udah di luar kepala banget itu mah. Mau pake bahasa jupiter juga gue bakal ngerti.

Sebelum pergi ke Swedia kita juga rajin membacakan buku Pippi buat anak-anak dan nonton video Emil sekeluarga, jadi Kai dan Sami pun bisa ikut menikmati pertunjukkan Pippi dan Emil karena udah tau ceritanya. Dan untungnya juga, suamiku ternyata cukup lancar berbahasa Swedia, paling gak secara pasif.  Selama pertunjukkan doi berperan sebagai penerjemah buat gue, Kai dan Sami.

Dalam pertunjukkan Ronya Anak Penyamun yang ditampilkan adalah potongan-potongan cerita yang diambil dari bukunya. Ronya bertemu Birk untuk pertama kalinya, Lovis memandikan kelompok penyamun yang jorok dan bau, Ronya dan Birk berjalan di tengah kabut, dan favorit gue: adegan Birk menyalamatkan Ronya yang terperangkap di hutan dan hampir ditangkap mahluk jahat. “Jangan tinggalkan aku, Birk. Jangan, jangan pernah tinggalkan aku” Kata Ronya kepada Birk kemudian. Ada penggemar Ronya di sini? Inget gak bahwa sehabis kejadian ini Ronya, yang dulunya marah-marah mulu sama Birk, malah akhirnya jadi sahabatan? Gue hampir menitikkan air mata loh nontonnya. Sebodo teuing sama bahasanya yang gue kagak ngerti. Gue nontonnya pake bahasa kalbu sih.

Pippi!

Pippi!

Pippi dan ayahnya

Pippi dan ayahnya

Pippi datang dengan kapalnya. Di akhir pertunjukkan kita bisa naik ke atas kapal ini

Pippi datang dengan kapalnya

Katthult yang cantik

Katthult yang cantik

Boneka kayu buatan Emil di dalam pondok perabot, tempat Emil dihukum setiap berbuat nakal

Boneka kayu buatan Emil di dalam pondok perabot, tempat Emil dihukum setiap berbuat nakal

Emil and the soup tureen

Emil and the soup tureen

Adegan yang bikin semua orang tertawa

Adegan yang bikin semua orang tertawa

Ida di tiang bendera

Ida di tiang bendera

Emil, Ida, Nyonya Svensson dan Tuan Svensson

Emil, Ida, Nyonya Svensson dan Tuan Svensson

Rasmus mengamen

Rasmus mengamen

Rasmus

Rasmus

Selain nonton pertunjukkan dan berkunjung ke rumahnya tokoh-tokoh idola, ALV sebenernya punya ‘wahana’ juga kok. Tentunya bukan dalam bentuk rides yang canggih-canggih, wong mau main kuda pusing aja gak ada di sini. Tapi di ALV ada perosotan besar buat anak-anak di rumahnya Karlsson Manusia Atap, ada arena bermain engrang, ada banyak instalasi Face in Hole, ada gua gelap buat adu nyali anak-anak dan tiga yang paling disukai Kai dan Sami: Tiny, tiny town, Troublemaker street dan You Can’t Touch The Ground Trail.

Sedikit tentang Tiny, tiny town: area ini merupakan miniatur kota Vimmerby di tahun 1920an, jamannya Astrid Lidngren menghabiskan masa kanak-kanaknya di sana. Beberapa gedung yang ada di miniatur tersebut mewakili tempat-tempat yang pernah muncul dalam buku Astrid Lindgren. Beberaoa bangunan di Tiny, tiny town juga bisa ditemui di Vimmerby modern seperti rumah Pak Walikota yang pernah muncul dalam kisah Emil. Masih ada loh di Vimmerby, walaupun sekarang tidak lagi ditinggali oleh walikota.

Di Tiny, tiny town ada beberapa minatur gedung yang bisa dimasuki anak-anak. Kai dan Sami seneng banget main petak umpet di sana sampe susah menggeret mereka beranjak ke tempat lain.

Town hall Vimmerby di tahun 1920-an

Town hall Vimmerby di tahun 1920-an

Tiny, tiny town

Tiny, tiny town

20150608_112738

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

The troublemaker street konsepnya juga mirip-mirip, rumah-rumahan yang bisa dimasuki oleh anak-anak, tapi dalam skala yang lebih kecil. Menurut gue sih lebih cantik, lebih imut-imut dan lebih berwarna-warni. Pas lagi di sana lagi banyak banget anak-anak kecil histeris keluar masuk rumah-rumah ‘boneka’ tersebut. Ya jelas Kai dan Sami ikutan histeris juga. Seneng banget deh pokoknya.

Troublemaker street ini dibikin untuk menyerupai sebuah ilustrasi di buku Lotta. Tepatnya dari buku bergambar Osaa Lottakin ajaa (Lotta naik sepeda dalam versi Indonesianya?) dengan ilustrasi oleh Ilon Wikland. Versi buku bergambar ini baru gue temui setelah tinggal di Finlandia, waktu di Indonesia dulu sih bukan seperti ini bukunya. Gue kurang tau apakah buku-buku bergambarnya Astrid Lindgren bisa ditemui di Indonesia atau tidak. Mau cari versi originalnya (non illustration book) aja sekarang udah langka banget.

Kalo ngikutin hati maunya sih gue berfoto seratus kali di troublemaker street yang cantik ini, tapi apa daya yah,…saat itu gue cuma liat satu dua biji turis Asia di ALV dan sisanya muka-muka bule eropa semua. Dan seperti yang kita ketahui, orang eropa kurang suka foto-foto (apalagi foto diri sendiri), jadi aku mau foto banyak-banyak kan malah malu. Dan seperti yang juga sangat kita ketahui bersama, suami eropaku bencinya setengah mati sama kegiatan foto-fotoan. Jadi begitulah…selama di ALV gue gak banyak foto-foto (dan Mikko berteriak: SEGITU GAK BANYAK?)

ilustrasi troublemaker street oleh Ilon Wikland

20150608_151015

Troublemaker street di ALV

20150608_151428

Rumah kuning, rumahnya Lotta

‘Wahana’ terakhir kecintaannya anak-anakku adalah You Can’t Touch The Ground Trail. Seperti judulnya, dalam permainan kita harus berjalan tanpa menyentuh tanah. Jadi jalannya harus di atas batu, kayu, pagar, dll yang sudah disiapkan di sepanjang jalurnya. Ide permainan ini tentunya diambil dari kisah Pippi si Kauskaki panjang. Inget gak Pippi suka mengajak Thomas dan Annika untuk bermain seperti ini, bahkan di dalam rumah? Di cerita Pippi mereka harus berjalan di dalam Pondok Serbaneka sambil meloncati meja, kursi, lemari, dll. Pokoknya jangan sampai menyentuh lantai.

Wahana satu ini paling ramai dimainkan oleh anak-anak dan juga orang dewasa. Emang seru sih. Banyak ayah-ayah yang ikut bermain sambil mentitah bayinya yang baru bisa jalan atau balita kecil yang belum lancar manjat-manjat sendirian. Cukup mengharukan loh liatnya. Sementara gue sibuk ngeker kamera karena maksud hati mau mengambil foto anak-anak dengan pose yang paling keren, tapi terus……anaknya kecebur kali.

Salah satu bagian dari jalur wahana ini memang sulit buat anak kecil seperti Sami. Harus meloncati batu-batuan di tengah sungai kecil yang jaraknya lumayan berjauhan. “Akuw bisa sendiri” Samiun, seperti biasa, selalu pede dan äiti, seperti biasa, sibuk pegang kamera. Yang terjadi selanjutnya Sami basah kuyup dan nangis kencang-kencang. Begini deh ibu Asia, yang diurusin kamera melulu.

Melewati pagar

Melewati pagar

20150608_104138

Orang dewasa juga ikut main

Anak besar juga ikut main

sesaat sebelum kecebur

sesaat sebelum kecebur

Di hari kedua kami seharian di ALV dan sempat menonton hampir semua pertunjukkan yang ditampilkan, dua kali bermain di You Can’t Touch The Ground Trail, dua kali bermain perosotan di rumahnya Karlsson dan setelah membeli kartu pos dari toko souvenir barulah kami say goodbye sama ALV. Dengan berat hati tentunya, paling gak buat gue. Kalo aja ALV gak sejauh itu dari Kerava, pengen rasanya berkunjung ke sana tiap tahun.

20150608_134403

Menyebrangi danau dengan menarik rakit

Menyebrangi danau dengan menarik rakit

Permainan lainnya: menyusuri labirin untuk menarik lonceng

Permainan lainnya: menyusuri labirin untuk menarik lonceng

Bermain engrang dan kuda-kudaan dari kayu

Bermain engrang dan kuda-kudaan dari kayu

Hei, Ronya!

Hei, Ronya!

Ronya dan Birk terjebak di kabut tebal

Ronya dan Birk terjebak di kabut tebal

“Jangan tinggalkan aku, Birk” dimulainya kisah Romeo dan Juliet cilik versi Swedia

Si cantik Ronya

Si cantik Ronya

Karena hari masih sore (ALV tutup jam 5 sore) dan matahari juga masih lama bersinar di langit musim panas, kami jalan-jalan dulu ke pusat kota Vimmerby sebelum kembali ke pondokan kami. Sebenernya di Vimmerby ini ada museum Astrid Lindgren yang dulunya merupakan tempat tinggal Astrid Lindgren dan keluarganya sebelum beliau pindah ke Stockholm di umur 18 tahun. Dan di sekitar Vimmerby kita bisa berkunjung ke beberapa tempat yang menjadi lokasi syuting film Pippi, Emil dan Bullerbyn. Kayanya gue bakal girang setengah mati deh kalo bisa ngeliat perwujudan desa Bullerbyn yang sebenernya. Sayangnya kami gak bisa berkunjung ke tempat-tempat tersebut. Selain gak punya waktu, kayanya susah juga bisa sampai ke sana dengan mengandalkan kendaraan umum. Semoga suatu hari gue bisa kembali berkunjung ke ALV dan Vimmerby sambil nyewa mobil, ya.

Vimmerbynya sendiri ternyata cukup menarik. Pusat kotanya cantik dengan gedung-gedung kayu berwarna pastel. Di market squarenya ada patung Astrid Lindgren, miniatur rumah-rumah Bullerbyn dan kapalnya Pippi. Di situ juga ada satu toko buku yang, bisa ditebak, menjual segala macam buku dan suvenir yang berhubungan dengan Astrid Lindgren. Satu kota ini berdedikasi sekali pada ratu penulis dari Swedia tersebut.

Bullerbyn di market square Vimmerby

Bullerbyn di market square Vimmerby

Vimmerby town hall

Vimmerby town hall

Vimmerby

Vimmerby

Storgatan, jalan utama di Vimmerby

Storgatan, jalan utama di Vimmerby

rumah cantik bunga-bunga di Vimmerby

rumah cantik bunga-bunga di Vimmerby

Kotak posnya si rumah cantik

Kotak posnya si rumah cantik

a closer look. me want!

a closer look. me want!

Halamannya si rumah cantik

Halamannya si rumah cantik

Biasalah, numpang foto dulu

Biasalah, numpang foto dulu

Setelah puas jalan-jalan di Vimmerby, berkunjung ke pemakamannya untuk mencari makam Astrid Lindgren (tapi gak ketemu), akhirnya kami kembali ke pondok kecil kami di ALV. Besoknya pagi-pagi buta kami harus menuju Stockholm, mengejar pesawat kembali ke Finlandia. Pagi-pagi sebelum cabut Mikko telepon taxi untuk mengangkut kami ke stasiun kereta. Ternyata armadanya kosong dong, dong, dong! Kota kecil seperti ini rupanya cuma punya taxi beberapa biji aja. Akhirnya kami setengah berlari ke stasiun. Gak jauh-jauh amat sih, sekitar 1,7km. Tapi karena terbirit-birit, napas gue jadi senin-kemis. Pas sampai stasiun pas juga keretanya datang. Telat satu menit aja kami akan ketinggalan kereta dan pastinya juga ketinggalan pesawat. Biasalah, liburan emang kurang seru kalo gak pake acara pacu jantung begini.

Perjalanan Vimmerby-Stockholm gue kembali sibuk foto-foto dari jendela. Pemandangannya baguuuuus banget. Padang rumput hijau dan rumah-rumah cantik dari kayu. Tapi seperti biasa, berhubung skillnya pas-pasan jadi hasil fotonya gak ada yang bagus.

Masih Vimmerby, rumah walikota dalam kisah Emil

Masih Vimmerby, rumah walikota dalam kisah Emil

Badhaus Vimmerby

Badhaus Vimmerby

Patung Astrid Lindgren di Vimmerb market square

Patung Astrid Lindgren di Vimmerby market square

Kembali lagi membahas soal ALV, berikut hal-hal lainnya yang gue perhatikan di sana:

  • Tentunya gue lebih kepengen ke ALV di puncak musim panas, sekitar bulan Juli, yang juga merupakan peak season kunjungan di ALV. Seperti yang udah gue tulis, atraksi yang ditampilkan lebih sedikit di musim low season. Padahal kan pengennya melihat semua yang bisa dilihat di ALV dong ya? Tapi waktu itu aku takut pak suami berubah pikiran. Kalo ditunda-tunda nanti malah gak jadi pergi lagi. Mau high, low atau durian season gue jabanin aja deh kunjungan ke ALV kapan pun memungkinkan.
  • Seperti yang juga udah gue tuliskan, ALV ini gak besar-besar amat dan pengunjungnya pun gak rame membludak seperti umumnya theme park di musim panas. Apalagi pas gue di sana kan masih masuk low season, puas banget ngiderin ALV tanpa berdesak-desakan. Mau main apapun hampir gak pernah antri, dan nonton pertunjukkannya bisa di tempat strategis. Tentunya di masa peak season taman ini akan jauh lebih ramai tapi tetap bukan level Disneyland atau pun Dufan di musim liburan sekolah. Ini yang bikin gue makin cinta sama ALV. Nyaman!
  • Salah satu alasan kenapa ALV gak rame-rame banget adalah target marketnya yang masih ditujukan untuk pengunjung lokal. Sebagian besar pengunjung ALV memang warga Swedia. Turis asing yang umumnya ditemui di ALV biasanya dari negara tetangga (Norwegia, Denmark, Finlandia), Jerman dan Belanda. Turis Asia masih sedikit sekali.
  • Di tahun 2009 ALV menghapus seluruh restoran fast food dari tamannya, walaupun resto-resto ini yang sebenarnya paling profitable. Sejak itu ALV berkomitmen dalam menyediakan menu yang homemade, lokal, dan sebisa mungkin organik.
  • Kunjungan ke ALV sepertinya akan sangat menyenangkan untuk anak-anak usia 3-7 tahun. Anak yang lebih dewasa mungkin lebih menyukai permainan rides yang seru-seru dan jadinya kurang mengapresiasi kesederhanaan ALV. Tapi permainan seperti You Can’t Touch The Ground ataupun sekedar lari-lari keluar masuk rumah miniatur sungguh bikin girang untuk anak-anak seumuran Kai dan Sami. Tentunya, buat anak yang cinta berat sama karyanya Astrid Lindgren, mau berkunjung ke ALV di usia berapa pun ya gak masalah. Liat aja gue yang udah bangkotan ini suenengnya bukan main bisa datang ke sana.
Sami dengan topi Emilnya

Sami dengan topi Emilnya

Begini caranya anak-anak turun dari rumahnya Pippi, meluncur di perosotan

Begini caranya anak-anak turun dari rumahnya Pippi, meluncur di perosotan

Karlsson on the roof. Karlsson si manusia atap.

Karlsson on the roof. Karlsson si manusia atap.

ALV

ALV

ALV

ALV

Isi sebagai Emil, Sami sebagai Ida yang dikerek di tiang bendera

Isi sebagai Emil, Sami sebagai Ida yang dikerek di tiang bendera

äiti sebagai Ida, Sami sebagai Emil

äiti sebagai Ida, Sami sebagai Emil

Kakak beradik hati singa

Kakak beradik hati singa

Rumahnya Lotta

Rumahnya Lotta

Dapur di rumah Lotta

Dapur di rumah Lotta

Begitu kembali ke Kerava kami sekeluarga masih saja menderita demam Astrid Lindgren. Gue memborong buku-bukunya dari perpus dan Mikko meminjam video-video Emil dan Pippi buat anak-anak.

Kai dan Sami ternyata terkesan sekali sama tontonan yang mereka saksikan di ALV. Cerita kepalanya Emil yang masuk ke mangkuk sup atau cerita kaki ayahnya Emil yang tergigit perangkap tikus atau cerita Pippi datang ke sirkus diulang-ulang terus oleh mereka. Termasuk juga lagu-lagu dari pertunjukkan tersebut. Biarpun dibawakan dalam bahasa yang kami tidak mengerti tapi lagu-lagunya memang catchy, easy listening dan enak buat sing-a-long. Untung banget ada versi finlandia untuk lagu-lagu tersebut. Sekarang Kai dan Sami udah teramat fasih menyanyikan soundtrack lagu Emil (atau Eemeli dalam bahasa finlandia). Dan diujung lagu Sami akan berteriak sekuat tenaga “Eemeeeeeeliiiiiii”, seperti bapaknya Emil yang sedang mengamuk menghadapi kenakalannya Emil. “Emiiiiiiiiiiiiiiiiil!!!”

Untuk video Emil ada versi yang sudah didub ke dalam bahasa finlandia tapi untuk video Pippi masih dalam bahasa swedia dengan pilihan teks finlandia atau inggris. Kalo gue gak salah, sepertinya ada deh di youtube video Emil dan Pippi dengan teks bahasa inggris. Silahkan dicari buat yang tertarik. Dan masih di Youtube, ada banyak orang yang mengupload video pertunjukkan Emil, Pippi, dllnya dari ALV. Sampe sekarang masih suka gue tontonin. Maklum, belon move-on.

Vahteramäen Eemeli alias Emil dari Lönneberga. Lagu versi finlandia

Terakhir, sebelum tulisan ini berakhir, gue mau ngucapin terima kasih teramat sangat buat Mikko, suamiku tercinta, yang membawaku ke tempat impianku ini. Berikutnya Disneyworld ya, suamiiiiii

20150608_154952

Advertisements

32 comments

  1. Aaaakkk… Cantik foto-fotonyaaa!!
    Tiny, tiny town-nya lucuuuu!!!
    Mauu aaah ke situuuuu!!!
    *langsung browsing tiket*

    1. Betewe, tiap baca posting lo, gue pasti ngakak deh Rik..
      ~ nonton pake bahasa kalbu
      ~ sami kecebur

      :))))))))

      Dan gue juga amaze loh sama Swedia ini. Dari jeman dulu sampe sekarang, bentuk rumah dan warnanya ya juga masih gitu-gitu aja. Ada sebagian daerah yang emang diatur sih regulasinya. Gue rasa banyak yang kayak gini juga ya di Eropa sini. Buat menjaga kelestarian budaya gitu deh ya.

      1. udah beli tiket beluum? bentar lagi tutup tamannya. Cuma sampe mid agustus aja bukanya. Mumpung di Swedia harus banget ke sana.
        Gue suka rumah2 kayu peternakannya. Lebih bagus daripada yang di finlandia sini.

  2. qonita · · Reply

    aakkk cantik banget itu tempatnya ALV….dan kayaknya seminggu kesitu mulu jg betah
    apalagi kalo pas low season gini hihi,,,
    btw mo ngucapin selamat hari raya idul fitri buat mbak Rika, suami, Kai dan Sami 😀
    dan kayaknya ini post paling panjang dan paling banyak foto2nya hihi

    1. selamat hari raya juga ya, Qonita. Maapin kalo pusing liat kebanyakan foto, hihihihihihi. Kalap ini upload fotonya

      1. qonita · · Reply

        gpp, malah seneng banyak fotonya..mumpung internetnya kenceng abis hihi..cantik yak tempatnyaa

  3. lucu banget tempatnya ya rik…
    gua sih emang bukan pembaca ALV jadi gak ngerti. tapi kebayang dah kalo yang emang pembaca buku2nya pasti histeris banget ya. gua ngeliat yang lu bandingin ama gambar di bukunya aja jadi ikutan excited. karena yang tadinya di gambar jadi keliatan di realita gitu ya…. 🙂

    1. mungkin sama kaya elu yang ngefans banget sama disney2an kali ya, man. ke disneyland pasti wow banget rasanya. Gue juga pengen sih ke disney, apalagi disneyworld. Tapi alamak jauhnyaaaa

  4. wah….. liburan yang sangat menyenangkan mbak rika 😀 semua anggota keluarga sangat menikmatinya, kelihatan dari poto2nya 😀

    1. iya, mikko pun suka di sini

  5. Aaaakkkkkk Birk ganteng amat seperti bayangankuuuuu..
    Makasih ya Mbak Rika, ini liat foto2nya aja udah bahagia deh.. Haha..

    1. Kamu fan-nya Birk yaaaa? Aku pun suka sama Birk soalnya anaknya baik banget

  6. tempatnya keren bgt mba rika..

    keceriannya begitu terlihat dari foto2nya..semuanya sukak dan happy bgt ya

    1. betul, betul…tempatnya cantik dan ceria bikin kita semua jadi suka

  7. Twindya · · Reply

    i was a silent reader before, but i just can’t help to say that:

    the place is soooooooooo beautifuuuuuuuuuuuuuuuuullllllllllll

    Indaaaaaah sekaliiiiiiiiiiii mba tempatnyaaa… sebagai salah satu pembaca Pippi si kauskaki panjang (walaupun tidak se-khatam mba rika baca buku2nya Astrid Lindgrens), postingan ini suksesssss bikin Swedia dan ALV jadi salah satu bucketlist tempat impian untuk dikunjungi. Aaakkk pengen banget liburan ke kampung halaman Pippi!

    Terima kasih atas tulisannya, terima kasih juga buat Mikko, saya senang sekali melihat mba Rika bisa revisiting childhood memories nya, sekaligus liburan menyenangkan bersama keluarganya. Semoga suatu saat saya juga bisa kesana 🙂

    1. Halo Twindya!
      ALV emang indah banget, aku liat foto2 ini jadi kepingin balik ke sana lagi. Kalo pun gak ngefans2 banget sama Astrid Lindgren kayanya tetep deh akan terpesona sama kecantikan tempatnya.
      Kalau nanti ke ALV foto2 yg banyak dan pajang di blog atau IG trus tag aku gituh ya,…aku pengen liat. Sampe sekarang masih obses nih nge-google-in foto dan video ALV yg ada di dunia maya.

  8. ya ampun rika… you’re so lucky yaa bisa main ke sini.. saya baca postingannya aja merinding gitu saking excitednya.. ternyata ada rumahnya pippi.. kasurnya.. selimutnya.. di mana yang diselimutin ampe kepala dan kakinya dibiarin aja… i’m a big fan of pippi…

    trus ada bullerbyn juga… hwaaaa…. nyaris histeris ini.. pengen banget someday bisa ke sini jugaaa…. aamiin…

    peluk buat sami ya.. kasian ampe kecebur gegara ibunya asik potopoto 😛

    1. gaya tidurnya Pippi itu suka ditiru Sami 😀 😀 :D. Heran, apa gak susah napas ya tidur begitu? Hihihihihihi
      Aku agak sedih karena Bullerbyn dapet jatah lokasi yang keciiiil sekali di sana. Padahal pengen banget liat perwujudan desa idolaku itu

  9. Wah serunya udah liburan. Enak ya di Helsinki kalo mau jalan2 gampang, airport deket ferry juga deket. Eh btw itu di Swedia ada engrang juga ternyata, kirain cuma di Indonesia ajah hahhaaa… Sekillas rumah2nya mirip kaya komplek cabin musim panas yg ada di Kuopio loooh, kecuali rumah2nya tokoh yg ada di buku yaa.

    Teruss..itu implan gigi mahal gitu ga coba reimburse ke Kela? atau gak termasuk benefit Kela kahh…

    1. Di Finlandia juga ada loh Dee, engrang. Kalo dateng ke acara juhannus di Seurasaari (Helsinki), ada arena main engrang juga, siapa aja boleh coba.

      Di Kuopio ada komplek cabin musim panas? Waaah, cakep dong ya daerahnya?

    2. O iyaaaa. Implan gak termasuk dalam servis public dentist di sini jadi harus ke privat yang harganya ajegileee mahal banget. Ada sih sebagian dicover sama Kela tapi sedikiiiiiiiiit. Misalnya dari total tagihan 2000an euro yang dicover mungkin gak sampe 200 euro

      1. Waduh dikit amet kurang dari 10% total tagihan yg dicover. Rawat yg bener ya Rik implannya biar ga perlu ke private dentist lagi wkwkwkk…

        Belom pernah ke Seurasaari huhuu… nasib tinggal jauh dari ibukota jadi kudet gini. Ada dong komplek kabin musim panas disini. Salah satunya yg dikelola sama Rauhalahti. Belom pernah kesana sih tapi kayaknya seru. Makanya main2 ke Kuopio sini yuuk..

  10. hai Rika..selama ini aku silent reader, tapi nggak tahan komen ini, karena…aku cinta Astrid Lindgren. tumbuh bersama Madita dan Lisbeth, Pippi Kaus panjang, Lotta dst. Paling favorit justru madita Lisbeth, dan selalu mengkhayalkan tinggal di rumah mereka. Aak..makasih ya postingannya. I love your blog!

    1. Halo Fanie! Aku puuuuun. Cintaaaaaaa sama Astrid LIndgren (yeee, udah ketauan banget ini mah :D). Aku juga sayang sekali sama Madita dan Lisbeth, terutama sama kisah-kisah mengharukannya Abe yang diceritakan dari sudut pandang Matilda.

  11. Rikaaaa… Sebagai penggemar themepark berkonsep kuat, I love thissss! Turut seneng bacanya ya Rik 🙂

    1. nah, ratu themepark muncul nih 🙂

  12. Rikaaa…. oot nih, boleh gak minta alamat emailnya? thank you

  13. aish.. keren bangeed.. berasa masuk negeri dongeng yaak.. 🙂

  14. aarrghhh…lagi gugling ttg ALV ini nyasar ke blog ini…jadi beneran ada yaa ini tempat!!..hastagahh…pengen banget ksanaa, gw fans berat Astrid Lindgren dan themepark, and all combined in this ALV, duh USD dan EURO kapan sih turun lagi kursnyaa…hiks..
    Salam kenal ya mbak Rika..Aku mau mulai baca2in blognya ahh..

    Just posted: Southbox, tempat kongkow baru di Jakarta | The Traveling Cow</a

    1. haloooooo sesama penggemar Astri Lindgren. Seneng banget kalo dapet komen dari sesama penggila buku-bukunya beliau.
      Iya…tempat ini terpampang nyata. Sebagai fans berat AL kudu banget harus ke sana. Aku pun berdoa kurs rupiah menguat biar keluargue ku bisa main-main ke sini

      Salam kenal juga ya, Vari.

  15. waaah mau juga kesanaaaaa!! baru tau ada tempat ini hikhik

    1. aku pun mau ke sana lagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: