serba serbi finlandia: parenting habits of ’em finns

Haloooo…kembali lagi dalam serial Serba-serbi Finlandia. Topik kali ini tentunya bakal mengena di hati kita ebo-ebo sekalian. Apalagi kalo bukan tentang pengasuhan anak.

Sebenernya sih,…tulisan ini dipersembahkan untuk website mamarantau, website yang lagi naik daun itu, loh. Tadinya ada wacana untuk membuat tulisan Kerava 101 untuk mamarantau, seperti banyak tulisan lain yang ada di sana: Aachen 101, Sydney 101, Kanagawa 101, dll. Tapi kalo mau nulis tentang Kerava,…aduuh, gak pede. Mau nulis apa tentang kota sekecil ini? Makanya kemudian gue ganti aja topik 101nya ke topik parenting-parenting-an yang kebetulan memang udah ada di draft sebagai bagian dari serial serba serbi finlandia.

Tulisan ini telah di publish di mamarantau dua hari yang lalu. Monggo, lho, cek ke websitenya langsung, ada banyak gambar-gambar menarik di sana. Oleh Chica dari mamarantau tulisan ini sudah di edit supaya lebih manis dan beberapa urutan penulisannya juga ada yang dirubah, tapi secara isi sih sama. Nah, kalo di blog ini masih tulisan versi “raw”nya.

Untitled 1

Kalo ngomongin soal parenting, lain padang lain belalang, begitu kan kata pepatah? Gaya pengasuhan orang tua bisa berbeda-beda tergantung lokasi tempat tinggalnya. Katanya di Spanyol udah biasa kalo anak-anak tidur di atas jam 10 malam,  sementara orang Jawa gak bawa bayinya keluar rumah kalo belum berumur 40 hari. Nah, berikut ini praktek-praktek pengasuhan yang menurut gue “Finlandia banget”. Warning dulu nih: this is gonna be a loooong post dan kebanyakan sudah pernah dibahas di berbagai tulisan gue sebelumnya. Baru sekarang gue coba gabungkan menjadi satu di bawah kategori tulisan serba serbi finlandia. Jadi maaf dulu ya kalau bikin pembaca bosen.

KELA MATERNITY BOX

Gue udah pernah cerita di sini ya, tapi boleh dong gue ulang lagi. Kela box ini adalah paket berisi kebutuhan bayi yang diberikan secara cuma-cuma oleh pemerintah bagian urusan sosial (Kela, aka Finnish social security system) kepada semua ibu hamil. Kotak Kela ini biasa diterima di minggu 34-36 kehamilan sang ibu. Isinya perlengkapan bayi mulai dari baju-bajuan, snowsuit, handuk, mainan, sikat gigi, buku cerita, popok kain, dll. Ukuran bajunya bervariasi mulai dari ukuran 60-86, jadi bisa dipakai untuk bayi baru lahir sampai kira-kira umur setahunan.

Kela box edisi 2014

A Finnish couple rejoice in opening their maternity package (from wikipedia)

Isi kotak Kela sama untuk semua orang, gak ada perbedaan untuk bayi perempuan ataupun laki-laki, makanya variasi warna yang ada di dalam kotak umumnya netral semua. Putih, kuning, hijau, abu-abu atau krem. Isi barang-barangnya juga selalu sama setiap tahun, hanya saja Kela mengubah desain dan warna untuk setiap tahunnya. Jadi jangan heran kalo ngeliat bayi sini kok snowsuitnya sering seragaman karena snowsuit pertama anak sini umumnya memang dari Kela.

Waktu Kai masih bayi, gue pernah pergi ke acara bayi-bayian di Helsinki. Di sana gue bertemu bayi-bayi lain dengan snowsuit yang sama dengan Kai. Bukan cuma satu atau dua, tapi lusinan! Lucu banget kalo mereka dijejerkan bersama. Seragaman, seperti rombongan sekolah bayi.

Nah, terus, yang juga sangat penting, adalah kotak paketnya sendiri. Kotak ini bukan sekedar jadi wadah barang tapi juga dipakai sebagai tempat tidur pertama bayi-bayi Finlandia. Bikin kita jadi bingung kan? Ini bayi atau anak kucing kok tidurnya di kerdus?

Menurut bidan sini, bayi yang baru lahir menyukai tempat yang kecil dan sempit, seperti di kandungan ibu. Baby crib sebenarnya terlalu besar untuk bayi dan sering bikin bayi kecil gelisah. Kotak kecil dari Kela ini memang ideal sebagai tempat tidur bayi. Sebelum dipakai kotaknya dialasi dulu dengan matras tipis dan selimut yang juga didapat dari Kela box.

Dulu Kai juga pernah beberapa minggu tidur di kotak Kela. Kotak Kelanya gue taro di crib yang dikasih oleh mertua. Kotakception ceritanya.

Kai yang senang sekali melihat kela box untuk adiknya

Kotak Kela ini sudah beredar selama 75 tahun di Finlandia! Bener-bener udah jadi bagian penting dari kehidupan rakyat sini. Mulai dari kakek-nenek, ayah-ibu dan anak-anak pernah merasakan tidur di dalam kotak Kela. Setiap modifikasi yang ada di kotak Kela pasti jadi bahan pembicaraan hangat karena memang isi kotaknya nostalgic banget untuk orang-orang sini. Mulai tahun 2010 kemarin mainan kerincingan berwarna merah tidak disertakan lagi di dalam kotak Kela, pembahasannya sampai ada di koran dan TV segala. Sekarang mainan tersebut dianggap sebagai barang koleksi.

TIDUR DI LUAR

Nah, bayinya kan tidur di kerdus Kela. Trus kerdusnya itu taro dimana? Umumnya sih di dekat tempat tidur orang tuanya. Tapi, sering juga kotak bersama bayinya itu diletakkan di balkon! Ho-oh! Di luar!

Orang Finlandia percaya udara luar yang segar membuat bayi tidur lebih nyenyak. Jadinya, jika udara lagi bersahabat – tidak hujan dan tidak terlalu dingin, bayi-bayi dibiarkan tidur di balkon atau di teras rumah.

Dulu mertua juga selalu naro Mikko tidur di balkon sementara beliau  menggeret kasur ke ruang tamu dan tidur dengan pintu terbuka.  Dibantu dengan hembusan angin musim panas yang sepoi-sepoi Mikko slept like a baby di udara terbuka begitu  (ya, emang masih bayi, sih, yaaaaa)

Udah jadi kebiasaan juga buat orang sini untuk mengajak bayi keluar setiap hari. Kadang sambil belanja, tapi gak jarang liat orang sini menggeret stroller sekedar untuk bawa bayi jalan-jalan sambil menghirup udara segar. Biasanya bayi-bayi lantas tertidur di strollernya.   Dan kalau bayinya sudah tertidur, orang tuanya bisa mampir ke cafe, ke restoran, atau kembali ke rumah sementara strollernya di tinggal di halaman. Lagi-lagi orang sini percaya kalau udara segar sangat baik untuk tidurnya bayi-bayi, jadi biarkan mereka tidur di luar lebih lama.

Praktek ini dilakukan di segala musim, termasuk juga di musim dingin. Tidur di suhu subzero bukan masalah selama stroller dan pakaian bayinya tahan dingin. Dulu ibu bidan pernah bilang ke gue bahwasanya selama suhunya tidak di bawah minus 15, masih baik untuk membawa bayi ke luar. Malahan tidurnya jadi lebih nyenyak di udara dingin begitu.

Jadi jangan heran kalau di pinggir jalan atau di halaman rumah ada stroller bertengger sendirian berikut bayinya. Pemandangan yang cukup umum di Finlandia, terutama di Kerava, di tempat gue tinggal sekarang. Di Helsinki pun gue sering lihat stroller, dengan bayi tertidur di dalamnya, diparkir di pinggir sebuah cafe sementara orang tuanya mengawasi dari jendela.

This is actually a picture from Denmark, a country that shares some common parenting habits with Finland.

Gak terbayang rasanya bisa meninggalkan bayi tertidur sendirian di jalanan Jakarta. Pasti langsung dianggap gila! Tapi hal tersebut mungkin dilakukan di Finlandia berkat situasi negaranya yang terbilang aman. Tingkat kriminalitas di sini relatif kecil terutama untuk kasus-kasus penculikan anak. Gue pun sering membiarkan Kai dan Sami tidur di halaman sementara gue menunggu dari apartemen kami yang ada di lantai dua. Tiap beberapa menit gue melongok dari jendela untuk memastikan apakah mereka sudah bagun. Jendela juga dibiarkan terbuka supaya gue bisa mendegar kalau mereka nangis.

Tapi pernah ada kejadian menggemparkan di tahun 2009. Seorang bayi hilang dari strollernya yang di parkir di halaman rumah. Satu Finlandia geger seketika. Panik! Gimana kalau mereka gak bisa menidurkan bayi di luar lagi? Ini kan udah jadi tradisi nenek moyang!

Untungnya, bayi tersebut ditemukan beberapa jam kemudian, di gundukan salju. Ternyata ‘penculik’ nya adalah seorang anak perempuan usia 9 tahun yang sedang terobsesi main bayi-bayian. Niatnya cuma mau main-main tapi si anak panik ketika bayinya mulai menangis dan akhirnya melarikan diri setelah ‘mencampakkkan’ bayinya ke gundukan salju. Untung saja ada polisi yang kemudian mendengar tangisan bayinya dan bayi tersebut pun selamat sebelum kedinginan.

Berita penemuan bayi ini bikin warga Finlandia kembali lega karena kasusnya tidak dianggap sebagai kasus kriminal, tidak tergolong kejadian penculikan anak ataupun human trafficking. Tapi gak ada salahnya juga untuk lebih berhati-hati saat membiarkan bayi tidur di luar.

HAALARI (SNOWSUIT)

Gue pernah baca buku berjudul “How to Marry a Finnish Girl” (hilarious and very recommended, btw), di buku itu penulisnya berkomentar bahwa “Finnish kids are always, ALWAYS, in their overalls”

Selain di negara-negara nordic, memakai haalari (aka snowsuit, aka winter overall) sepertinya memang tidak umum kecuali untuk kegiatan tertentu seperti ski atau bermain air. Anak Finlandia memakai haalari setiap hari sejak musim gugur sampai musim semi yang berarti dari bulan September hingga April. Sekitar 8 bulan. Lama bingits, gilak!

Haalari dianggap lebih praktis ketimbang jaket biasa karena haalari lebih tahan air, tahan angin dan tahan banting. Haalari juga lebih melindungi anak dari udara dingin plus menjaga anak tetap bersih di acara main-main air atau salju.

Biasanya ada dua macam haalari yang harus dimiliki seorang anak: välikausihaalari (mid season haalari) dan talvihaalari (winter haalari). Välikausihaalari bahannya lebih tipis dan lebih ringan, cocok untuk cuaca yang tidak terlalu dingin di musim gugur atau semi. Di musim dingin barulah dipakai talvihaalari yang lebih tebal karena didalamnya ada lapisan thermal. Selain itu ada juga kurahaalari (rubber overall) yang lebih tahan air dan sangat cocok dipakai di musim hujan.

Beberapa merk melengkapi haalari mereka dengan lapisan fleece biar kehangatannya lebih terjamin. Merk yang terkenal di sini adaah Reima yang merupakan merk asli Finlandia, dan merk-merk lain dari Swedia dan Denmark seperti Polarn O Pyret, Didriksons, Molo dan Ticket to Heaven.

Selain haalari, anak-anak sini juga dilengkapi dengan pipo (beanie, topi kupluk), sarung tangan, long john berbahan wol, kaos kaki wol dan sepatu bot untuk menghadapi musim dingin. Banyak, yaaaaa, perlengkapannya.

LASTENKIRPPIS (TOKO PERLENGKAPAN ANAK BEKAS)

Waktu gue baru sampai di Finlandia dalam keadaan hamil besar, banyak sekali orang-orang sini yang ngasih tau dimana gue bisa beli pakaian bayi bekas. BANYAK! Gue sampe sedih. Segitu kentara ya muka melarat gue sampe beli barangnya cuma bisa yang bekas-bekas?

Ternyata memang begitulah adatnya di sini. Untuk bayi-bayi, banyak orang tua yang lebih suka beli barang bekas ketimbang yang masih baru. Alasannya karena harga perlengkapan bayi tuh mahal-mahal banget padahal dipakainya cuma sebentar. Makanya pasar barang bekas laku sekali di sini.

Dalam bahasa Finlandia pasar barang bekas disebut sebagai kirpputori. Ada dua macam kirpputori di sini, kirpputori swalayan yang memang seperti swalayan/toserba di mana penjual menyewa sebuah meja dan meninggalkan dagangannya di situ. Sementara pembeli tinggal masuk kirppis, cuci mata dari meja-ke meja dan membayar barang yang disuka di kasir. Yang kedua adalah kirpputori dengan kontak langsung antara pembeli dan penjual, biasanya outdoor (di musim panas) atau di hall besar. Kirppis seperti ini biasanya cuma ada di waktu-waktu tertentu atau cuma di akhir minggu saja. Sistemnya penjual menyewa sebuah meja untuk kemudian membawa barang-barangnya dan berjualan langsung di situ. Di kirppis seperti ini bisa terjadi tawar-menawar, malah, di penghujung hari harga barangnya makin diobral.

hietalahti kirpputori, salah satu kirpputori outdoor di Helsinki

Lastenkirppis adalah kirpputori yang khusus menjual perlengkapan anak-anak saja. Di Rekola, tiga stasiun dari Kerava, ada lastenkirppis yang terkenal dan cukup besar. Di sana ada puluhan meja dengan bermacam-macam barang, mulai dari baju-bajuan, sepatu, kaos kaki, buku cerita, mainan bayi, sampe pispot juga ada. Di sudutnya ada juga bagian khusus menjual peralatan besar seperti stroller dan tempat tidur bayi.

Kondisi barangnya juga bermacam-macam mulai dari yang keliatan ‘bekas banget’ sampe yang masih baru lengkap dengan label harganya pun ada, tentunya dengan harga yang sudah dimiringkan.

lastenkirrpis pikkukarhu di Pori

Pertama kali berkunjung ke kirpputori gue masih males-malesan melihat barang-barang bekas begitu, akhirnya keluar tanpa beli apa-apa. Tapi makin hari gue semakin hobi dan semakin ahli pula untuk menemukan harta karun yang biasa terpendam di tumpukan barang-barang dekil, baik untuk diri sendiri ataupun anak-anak. Puas banget rasanya kalau bisa nemuin barang bagus tapi murah dari kirpputori.

Saking meriahnya pasaran barang bekas di sini, harganya juga gak murah-murah amat akibat demand yang terlalu tinggi. Sebagai bandingan, harga barang yang sama di ebay.co.uk suka lebih murah bahkan setelah ongkos kirim.

Kalo gitu ngapain beli yang bekas? Beli yang baru aja dong sekalian? Tapi orang-orang sini akan mejawab: beli bekas tetap lebih bagus karena artinya kita berpartisipasi dalam proses daur ulang, mengurangi sampah, dan menjaga kelestarian bumi kita. Dan hatiku pun meleleh….Aaaaaaaaw. Hidup kirpputori!

KECINTAAN AKAN RUANG TERBUKA

Ada yang bisa menemukan benang merah dari poin-poin yang sudah gue tulis di atas? Bayi yang tidur di balkon, stroller di parkir di halaman, haalari dan bukannya jaket, dan baju-baju bekas?

Jawabannya adalah: OUTDOOR. Ruang terbuka.

Udah ketauan ya kalo orang Finlandia suka banget sama udara segar dan ruang terbuka? Bayinya aja disuruh tidur di balkon begitu! Kok ya gak takut di gondol kucing?

Menurut anjuran ahli kesehatan di sini, bayi dan anak-anak harus dibiarkan di udara terbuka minimal 2 jam sehari. Makanya udah jadi rutinitas orang tua sini untuk membawa bayi dan anaknya jalan-jalan keluar. Bisa sekedar muter-muter sambil dorong stroller atau sekalian bawa anak ke taman bermain. Di Finlandia memang banyak tersebar taman bermain untuk anak. Seinget gue nih, untuk daerah Kerava, pengaturan kotanya melingkupi: minimal ada 1 taman bermain dalam radius 400m dari tiap pemukiman, 1 daycare dalam radius 500m dan 1 sekolah dasar dalam radius 1km.

Dalam radius 1km dari rumah gue kayanya ada 6 taman bermain untuk anak-anak. Gak gede dan nothing fancy, tapi kalo dibandingkan dengan yang ada di Indonesia sudah mencukupi sekali.

Di päiväkoti (daycare) anak-anak juga dibiarkan main di luar, dua kali dalam sehari. Pagi-pagi setelah sarapan dan sore setelah tidur siang. Mau panas, dingin, atau hujan, tetap saja halaman päiväkoti ramai dengan anak-anak. Kalau hujannya deras baru deh mereka ‘disimpen’ di dalam kelas.

Dan kalau sudah di luar,….ampun dijeeeeeeeeeeee…anak-anak sini mainnya ganas. Guling-gulingan di salju, loncat-loncat di kubangan air, tidur-tiduran di bak pasir, bergumul di tanah berlumpur, pokonya pulang ke rumah dijamin kotor, tor, tor, tor. Kalau sepatu Kai dibuka isinya pasti pasir semua.

Jadi mengerti kan sekarang, kenapa lebih praktis pakai haalari ketimbang jaket-jaket trendy seperti parisian kids? Jantung gue bisa copot kalo liat jaket wol dipake buat main lumpur. Haalari yang terbuat dari bahan poliester lebih tahan banting buat main basah-basahan dan kotor-kotoran.

Orang tua sini memang lebih permisif dalam hal kotor-kotoran begini. Bayi-bayi dibiarkan goler-goler di rumput di musim panas, kalo sekali-sekali rumputnya kemakan atau tanahnya dijilet sedikit ya gak masalah. Anak-anak juga diharapkan sudah makan sendiri sejak umur 1 tahun, kalo baju kotor dan rumah juga ikutan kotor ya gak masalah, yang penting  anaknya belajar untuk lebih mandiri. Makanya ada temen bule gue yang bilang “Anak-anak cukup dikasih pakaian bekas aja, orang cuma buat dikotor-kotorin kok”

acara jalan-jalan (retki)ke hutan sebuah päiväkoti

Sami bermain di rumput

wpid-20140319_160033.jpg

Sami bermain salju di hutan kecil dekat rumah

Kembali ke udara terbuka, ada banyak kegiatan outdoor yang bisa dilakukan di sini. Dari mulai usia päiväkoti anak-anak dibiasakan untuk retki (outing) alias jalan-jalan ke hutan, ke taman atau empang kecil buat kasih makan bebek setiap minggu. Ada juga päiväkoti yang punya program bersepeda, ski, dan ice skating. Yang jelas pergi keluar dan bermain dengan alam jadi kegiatan rutin orang Finlandia yang sudah diterapkan sejak anak-anak.

Dan hutan adalah bagian yang sangat penting dari alam Finlandia. Orang sini bangga sekali akan hutan mereka. Di hutan anak-anak diajarkan tentang jenis-jenis arbei dan jejamuran yang merupakan kekayaan hutan Finlandia. Pulang dari retki Kai dan Sami sering bawa oleh-oleh untuk isi dan äiti berupa ranting pohon atau daun-daun kering yang mereka kutip di hutan.

AYAH FINLANDIA

Negara Nordik sangat terkenal dengan prinsip keseteraan gendernya dan Finlandia hampir selalu berada di posisi teratas dalam daftar negara-negara dengan kesetaraan gender terbaik. Karena itu, gak heran kalau tugas-tugas membesarkan anak diemban dengan hampir setara antara ayah dan ibu. Gue bilang hampir karena tetap ibu yang harus bertugas hamil, melahirkan dan menyusui. Tapi di luar tiga hal tersebut, segala hal tentang pengurusan anak harus diemban baik oleh ayah maupun ibu.

Kisah-kisah SAHD yang ditulis oleh Laila banyak ditemui di Finlandia. Hal ini memungkinkan karena setiap ayah di Finlandia berhak atas 18 hari kerja paid paternity leave dan ada 158 hari kerja paid parental leave yang bisa diambil baik oleh ayah atau ibu atau di-share di antara keduanya. Banyak juga orang tua yang meneruskan parental leave hingga anaknya berusia 3 tahun, usia yang dianggap ideal untuk masuk päiväkoti.

Di Finlandia tidak ada stigma negatif untuk ayah yang terlibat langsung dalam pengasuhan anaknya. Wanita Finlandia juga gak segan-segan menunjukkan protesnya kepada ayah yang pemalas. Ditambah dengan adanya paternity leave dan parental leave yang memadai, ayah Finlandia punya cukup waktu untuk mendampingi anaknya dan mereka jadi sangat terlatih dalam mengurus anak. Gak heran kalau Finlandia kadang disebut sebagai negara dengan ayah-ayah terbaik.

Ada berapa banyak SAHD di Finlandia? Sayangnya gue belum nemuin statistiknya, tapi, hingga sampai saat ini parental leave lebih banyak diambil oleh wanita, apalagi untuk parental leave yang panjang hingga tiga tahun. Biarpun digadang-gadang sebagai negeri dengan kesetaraan gender terbaik, tetap saja di Finlandia masih ada ketimpangan antara pendapatan wanita dan pria. Pada umumnya gaji pria masih lebih tinggi dari wanita dan karenanya wanita lebih sering mengambil parental leave. Biar dapur tetap ngebul ya, bok.

Di Finlandia sendiri istilah SAHD dan SAHM sebenarnya tidak banyak terdengar karena semua orang di sini, baik wanita maupun pria, umumnya bekerja atau sekolah. Orang-orang yang tinggal di rumah untuk mengurus anak di bawah usia tiga tahun disebut ‘sedang cuti’ atau ‘sedang mangambil parental leave’. Mereka yang masih di rumah ketika anaknya di atas tiga tahun biasanya disebut pengangguran. Haiish, kejam, ya?

Tapi memang begitulah kenyataan hidup di sini. Biaya hidup yang tinggi dan wanita Finlandia yang menginginkan status independen, membuat semua orang harus bekerja, baik dari rumah atau pun di luar rumah. Tidak seperti di negara lain dimana banyak label seperti full time mom/dad, working mom/dad, stay at home mom/dad atau work from home mom/dad, pelabelan seperti ini tidak ditemui di Finlandia. Kerja ya kerja aja, terserah mau dari mana, kek, ngurus anak ya jalan terus. Begitu mungkin menurut mereka.

PIKKU KAKKONEN

Logo Pikku Kakkonen yang rasanya dikenal oleh setiap warga Finlandia. Pikku Kakkonen berarti Little Two dalam bahasa Inggris karena memang disiarkan di channel 2

Ini dia serial TV anak-anak paling populer se-Finlandia. Program sepanjang satu jam di channel YLE 2 yang ditayangkan dua kali di hari kerja (jam 7 pagi dan jam 5 sore) dan sekali di akhir pekan (jam 8 pagi).

Pikku kakkonen ini bagian dari masa anak-anaknya Mikko dan mertua gue, dan sekarang jadi bagian dari hari-harinya Kai dan Sami. Programnya berisi gabungan serial anak-anak yang sudah di dub dan judulnya pun sudah diganti ke bahasa Finlandia seperti Postimies Pate (Postman Pat), Arvaa Kuinka Monta Minä Rakastan Sua (Guess How Much I Love You), Kaapo (Caillou), Saara ja Sorsa (Sara and The Duck). Kalo menurut gue, serial yang ditampilkan dipilih dengan hati-hati dan sangat cocok untuk anak-anak. Gak ada konten kekerasan, humornya gak slapstik, dan ceritanya sarat tentang kekeluargaan atau kehidupan anak sehari-hari. Selain itu ada juga konten lokal yang temanya berganti-ganti, misalnya, tentang polisi lalu lintas, tentang kehidupan anak-anak di pedesaan, tentang hutan, tentang cuaca, dll.

Pembawa acara di Pikku Kakkonen bervariasi dari anak-anak, remaja, orang dewasa dan nenek-nenek. Biasanya mereka memakai baju warna-warni tapi dengan motif sederhana. Sambil membawakan acara mereka biasa bernyanyi dengan iringan gitar atau berprakarya kecil-kecilan.

Barusan kemarin waktu mudik di Indonesia Kai dan Sami rajin nonton Disney Junior di TV, salah satunya acara High Five. Kalau dibandingkan Pikku Kakkonen yang nuansanya tenang dan ceria secukupnya, begitu ngeliat high five langsung puyeng. “Apa pula ini kok heboh banget?” begitu komentar Mikko. Dibanding Pikku Kakkonen acara anak-anak lain terasa terlalu gegap gempita. Warna-warninya bombastis dan cerianya berlebihan sampai terasa dipaksakan.

Orang Finlandia memang menjunjung tinggi kesederhanaan dan ketenangan. Gue sendiri juga mungkin udah kelamaan tinggal di Finlandia karena setelah rajin nonton Pikku Kakkonen, nonton High Five langsung bikin ilfil.

Jyrki dan Neponen, dua tokoh yang sering muncul sebagai pembawa acara di Pikku Kakkonen

VAUVAUINTI

Alias kelas berenang untuk bayi. Bayi-bayi usia 3 bulan hingga 1 tahun di Finlandia biasanya diikutkan ke kelas vauvaunti yang walaupun artinya berenang bayi tapi pada kenyataannya bayi-bayi tidak lantas jadi jago berenang di sana.

Gue sempet kecele, kirain habis vauvauinti Kai, yang waktu itu usianya 4 bulan, bakal jadi perenang handal, bisa ngebut berenang dari ujung ke ujung. Ternyata gak ya, booooook. Rupanya tujuan vauvauinti bukan untuk mengajarkan bayi berenang, yang ingin dicapai di sini adalah perkenalan bayi dengan air dan kegiatan air. Jadi isinya ya cuma main-main di air aja.

Orang sini percaya kalau air adalah habitat kedua buat bayi. Selama 9 bulan, kan, bayi-bayi sudah berenang di air ketuban ibunya. Bayi yang baru lahir biasanya sangat mencintai air karena mengingatkan mereka akan perasaan nyaman di dalam perut ibu. Semakin kecil bayinya, semakin sedikit ketakutan mereka akan air, semakin gampang untuk diajak menyelam ke dalam air. Kalau bayi diajarkan menyelam sejak dari kecil, nantinya mereka akan lebih mudah diajarkan berenang.

Vauvauinti biasanya diadakan di kolam renang yang dalamnya kurang dari 1m dan suhunya sudah dipanaskan ke 32 derajat celcius. Bayi-bayi berenang sambil digendong ibunya, ayahnya, atau keduanya. Di kolam kegiatan dimulai dengan bernyanyi dan bermain air di dalam lingkaran, setelahnya bayi-bayi diajarkan untuk mengepak-ngepakkan tangan dan kakinya, memutari kolam sambil bergelayut di tangan orang tuanya, dan menyelam di dalam air selama beberapa detik, bahkan kadang dilepas untuk melayang sesaat di dalam air.

Dua kali kami mengikuti kelas vauvauinti dan dua-duanya gagal total karena Kai selalu menangis dan gak pernah mau mengikuti instruksi. Sementara bayi lain kecipak kecipuk sambil senyum lebar gue dan Mikko grogi di pojokan nanganin anak yang nangis melulu. Apakah Kai gak suka berenang? Ternyata bukan begitu, sih. Sekarang anaknya minta diajak berenang melulu, tuh. Yang Kai gak suka, bahkan sejak masih bayi, adalah kegiatan berkelompok.  Di-les-in berenang nangis, di-les-in sepak bola tersiksa, di-les-in kelas musik nyanyinya sambil bisik-bisik (tapi terus di rumah nyanyi kenceng-kenceng).  Padahal kalau berenang berdua sama isi-nya Kai seneng luar biasa.

circle time sebagai pembukaan dan penutupan di tiap sesi vauvauinti

selalu banyak mainan yang disebar di kolam dalam tiap sesi vauvauinti

SIKAP YANG CENDERUNG SANTAI TERHADAP PENDIDIKAN 

anak-anak kelas satu SD yang mulai belajar membaca

Tentunya pendidikan adalah bagian yang sangat penting dalam pengasuhan anak. Satu dekade belakangan ini sistem pendidikan Finlandia menggemparkan dunia karena dianggap berhasil menghasilkan anak-anak yang berprestasi dengan kurikulum yang santai dan tidak membebani anak.

Anak-anak Finlandia mulai sekolah di usia 7 tahun, usia yang mungkin dianggap terlambat di negara lain,  dan di usia itulah mereka baru akan belajar membaca dan berhitung secara formal.

Mulai tahun 2015 ini ada peraturan baru yang mewajibkan setiap anak umur 6 tahun untuk ikut esikoulu atau preschool. Esikoulu biasanya berupa sebuah kelas khusus di päiväkoti, di sana anak-anak diajarkan tentang angka dan huruf dan tentang kegiatan bersekolah – bahwa di sekolah anak-anak harus duduk dan tidak boleh lari-larian di kelas, bahwa di sekolah akan ada guru yang berbicara dan harus didengarkan, dsb. Kegiatan membaca dan berhitung tetap dimulai di sekolah dasar.

Sebelum usia sekolah (atau esikoulu) anak-anak ditempatkan di päiväkoti atau perhepäivähoito yang kalau diterjemahkan artinya kira-kira ‘daycare’. Di päiväkoti kegiatannya ya cuma main, main dan main tanpa ada kurikulum khusus.

Sekolah anak Finlandia terkenal santai, banyak liburnya, jam istirahatnya panjang, dan PRnya sedikit. Pendidikan di Finlandia ditujukan untuk menghasilkan generasi yang mandiri dan bisa bepikir sendiri karena itu keterlibatan orang tua dalam proses belajar mengajar tidak banyak dituntut, bahkan bisa dibilang sangat minim. Pelajaran di sekolah  disesuaikan dengan tingkat kemampuan anak di usianya sehingga anak-anak bisa mengerjakan PRnya sendiri tanpa bantuan orang tua. Kegiatan yang melibatkan kehadiran orang tua di sekolah juga sangat jarang, palingan untuk ambil rapor atau menonton pertunjukkan akhir tahun. Gak banyak acara bazar-bazaran, prakarya bersama, atau seminar ini itu. Pernah ada cerita tentang orang tua Finlandia yang pindah ke Amerika, katanya di Amerika beliau kewalahan menghadiri bermacam kegiatan di sekolah anaknya.

Orang Finlandia sangat mengagungkan kemandirian, karena itu sejak kecil anak-anak sudah diajarkan untuk mandiri. Mulai dari belajar makan sendiri di umur satu tahun, belajar pakai haalari sendiri di päiväkoti, dll. Anak-anak harus mengerti bahwa keberhasilan dan kegagalan yang mereka capai adalah hasil perbuatan mereka sendiri. Keberhasilan di sekolah adalah tanggung jawab si anak pribadi, bukan orang tuanya.

Sekolah di Finlandia juga minim ujian. Ujian-ujian kecil sih pasti ada tapi ujian besar seperti UN cuma berlangsung sekali-dua kali sepanjang masa sekolah mereka. Penilaian dari guru juga umumnya gak berbentuk nilai. Rapor sekolah biasanya berisi keterangan apakah si anak lulus atau tidak lulus di tiap mata pelajaran. Tapi tiap guru tau benar akan kemampuan masing-masing muridnya. Gak jarang guru membuat soal ujian yang berbeda tingkat kesulitannya untuk siswa tertentu. Murid-murid diharapkan bersaing dengan dirinya sendiri di sekolah, bukan dengan orang lain. Sistem pendidikan di Finlandia memang jauh dari kompetitif. Tiger mothers dan tiger fathers adalah mahluk langka di negara ini.

EQUALITY

Prinsip kesetaraan adalah prinsip yang dianut sepenuh hati oleh bangsa Finlandia. Prinsip inilah yang mendasari pemberian Kela baby box, daycare bersubsidi dan pendidikan gratis untuk seluruh penduduk, demi memastikan bahwa semua orang bisa memulai hidupnya dengan cara yang sama. Anak-anak Finlandia memulai hidup mereka dengan baju-baju dari kotak Kela, mendapat layanan kesehatan di puskesmas, dan kemudian menuntut ilmu di sekolah negri.  Perlu diingat bahwa tidak ada sekolah swasta di Finlandia (dan tidak ada universitas swasta) sehingga tidak ada sekolah elit atau universitas Ivy League yang lulusannya membentuk kalangan eksklusif di masyarakat. Semua sekolah di Finlandia dianggap sejajar secara kualitas.

Revolusi pendidikan di Finlandia dimulai di tahun 1970an, di mana saat itu cuma kalangan berada yang bisa mengakses pendidikan yang baik di sekolah-sekolah elit. Setelah revolusi berlangsung, nama Finlandia mulai naik daun sebagai negara dengan kualitas pendidikan terbaik. Bukan status itu yang sebenarnya ingin mereka capai melalui revolusi pendidikan. Mereka tidak ingin menjadi yang terbaik, mereka cuma ingin memastikan bahwa semua rakyatnya bisa menikmati pendidikan tanpa pandang bulu. Bukan kompetisi yang mereka cari, melainkan kesetaraan. Equality and not competition.

Kesenjangan tentunya tetap ada di antara individu tapi pemerintah berusaha meminimalisirkannya sehingga kesenjangan yang ada di negara ini bisa dibilang sangat kecil dibanding negara lain seperti Amerika Serikat, UK dan banyak negara maju lainnya.

Advertisements

71 comments

  1. Rika…. kemaren gue udah baca. KEREN BANGET SIHHH!!! BIKIN GUE PENGEN PINDAH KE FINLAND! *eh gak jadi deh, gak tahan idung gue beler terus ingusnya lgsg beku….*.

    Sebenernya yang gue rindukan itu adalah perasaan dimana anak-anak nyaman dan aman di lingkungannya, otaknya dibiarkan “kosong” alias diisi penuhnya dengan kebahagiaan serta interest mereka, bukan dijejelin sama akademik dan les2an yang bejibun.

    Kalo soal keseimbangan suami istri ngurus anak, gue sudah cukup happy dengan suami gue yang masih lumayan mau urus anak, dan gue rasa keluarga Indonesia modern, bapak sudah lebih banyak turun tangan. Tapi faktor luar itu yang memang susah banget terjadi. Mana baca penculikan anak di mana-mana. Ah sudahlah… mari bermimpi dulu soal Indonesia yang lebih baik.

    1. gue setuju le. Sebenernya pria Indonesia, atau setidaknya jakarta, udah banyak kok yang mendukung kesetaraan gender ini, tapi sayangnya belum didukung sama pemerintah malah kadang sama masyarakat sendiri juga gak. Seperti misalnya, masih banyak cowo yang gue temui beranggapan kodratnya cewe yang di rumah ngurus anak. Ih, kesel gak sih dengernya

  2. wiiih habis baca ini lalu daku jatuh cinta sama Finland~ ehehehehee.. tapi aku suka banget pendidikannya di sana,, terus soal outdoor nya, heuu mauuuu… kadang jadi pengen balik jd anak sekolahan hehehe
    semoga semoga oh semoga ntar kalo kerja sukur2 ada penempatan di Finland X)

    1. sama, aku pun juga pengen balik jadi anak sekolahan kalo baca2 cerita tentang sekolah di sini. Kayanya menyenangkan. Mungkin aku gak bakal goblok soal fisika dan matematika kalo cara ngajarnya santai seperti di sini

  3. *silent reader akhirnya komen juga*

    wah menarik banget ini.. makasih sharingnya ya mbak 🙂

    1. sama-sama

  4. Keren bangeeeeet di sana. Iri banget Mbak Rika,. Yatapi gak mungkin pindah sana juga ya sekarang. Huhuhu. Makasih Mbaaak Rika. Kasih linknya ke istri ah. 😀

    1. memang keren sih, tapi hatiku tetep di endonesaaa

  5. Rikaaa gie udah baca waktu diterbitin di mmarantau kemaren. Keren ya emanh Finlandia ini!! Bisa ngematlaahh klo baju2 bayi dikasih gratisan dari oemerintah huehehe jadi uangnya buat emaknya aja belanja2 ke zara *eehh huehehehe jadi pengen nyuru suami pindah kesana *lhooo ;p thank you shark g infonya Rik 😉

    1. ayo nisaaaa…kelitikin chicco buat tinggal sini. kali2 kan kita tetanggaan, hihihihih
      tapi kalo aku bisa milih sih malah aku lebih pengen tinggal di australia

  6. Semoga presiden kita baca tulisan ini.. hhehehehe

    1. aduuh, aku bisa grogi kalo blog ini dibaca presiden. jangan deh

  7. Udah baca di mamarantau 2 hari lalu. Ampe kuceritain sama suami ttg box kela itu dan ttg anak tidur di luar. Ahhhh kerennya Finland ini..suma banget kecuali suhu udaranya. Hehehe…

    Dan yg paling suka adalah sistem pendidikannya plus kebiasaan membawa anak main di luar selama 2 jam per hari…ah bahagianya mereka *lalu tetiba inget di jkt yg padatmeraya* (kecuali ngana tinggal di perumahan elite)

    1. favoritku sih box kelanya. Kaya dapet kado siang hari bolong. Mana kotaknya gede banget pula kan dan isinya pun banyaaaak. Senaaaaang

  8. Halo mba rika, salam kenal.

    Saya baca postingan ini di mamarantau kemarin. Daaaan, jadi keterusan blog walking di sini. Suka sekali dengan tulisan-tulisannya yg ringan tapi cukup informatif buat saya.

    Sepertinya Finland jadi negara yg sangat ramah anak. Mengarahkan anak untuk berkembang dengan semestinya dan tanpa tekanan. Entah bisa diadopsi atau tidak yaa hal-hal positif seperti ini di negara kita tercinta.

    1. Insya allah bisa diadopsi beberapa poinnya ya, walopun kalo mau ditiru plek ketiplek ya gak bagus juga secara kondisi di Indonesia sama sini kan beda. Misalnya aja Finlandia ini negara yang sangat homogen sementara Indonesia sangat majemuk dengan banyaknya perbedaan suku, agama, bahasa, dll. Makanya emang pemerintah kita bakal lebih pusing merancang sistem yang tepat utk pendidikan anak2 Indonesia

  9. Iri parah! Bikin pengen tinggal dan besarin anak di sana >.<

    1. sebenernya kalau tinggal di pedesaan di indonesia, apalagi kalo di timur, byk juga elemen yang sama loh. Belajarnya lebih santai, gak kiasu kaya di ibu kota. Trus, lebih aman dan lebih dekat ke alam juga

  10. postingan yang inspiratif banget, apalagi dari negara yang edukasi nya no 1 dunia…hebat ya Finland ini 🙂

    1. Halo Fab, eh Mbak Fab. Eh, jadi bingung manggilnya apa ya?
      Makasih mbak Fab. Btw, aku penggemar blog kamu, loh. Penikmat foto2 jalan-jalannnya

  11. itu foto samiiii waktu bayii yaowohhh .. mau aku uwel2 .. terus inget foto instagram anaknya throw tantrum tetep aku pengen uwel2 tapi pake ngeringis sekarang hehehehe …

    ih kece abis nih mama rantau dari negeri kulkas ini, .. kmren temen gw ada yang screen capture tulisan loe di mamarantau donk, terus gw baca2 … koq kayak familiar ya ngeliat ini foto bocah2nyaaa hahaha

    1. huwahuahuwhuah…Sami pas bayi memang bulat sempurna. Padahal sekarang anaknya langsing loooh

      Giiii, mampir sini napah liburannya? Ayo…ayoooo

  12. Wow.. sementara disini PAUD aja udah diajari huruf angka, SD banyak PR. Beruntunglah mbak bisa punya pengalaman dinegeri yg berbeda meski Indonesia pasti tetap di cinta 🙂

    1. oh ya? Masa? Kukira justru di PAUD isinya main2 aja, kalo ke TK swasta baru belajarnya digenjot.

  13. Terima kasih sekali lagi ya Mba Rikaa…–> “tulisan ini dipersembahkan untuk website mamarantau, website yang lagi naik daun itu, loh.” Ahahhaha, aminnn… naik dauun x)

    Jatuh cinta deh sama Finlandia dan keluarga kalian..! Gemes banget sama Kai dan Samiun! ahaha. Kayaknya semakin baca tulisan2mu, aku menemukan banyak kemiripan *halah*, sepertinya kita akan nyambung kalo kopdar, hoho. Aku dan suami juga menyimpan impian pindah ke bagian Timur Indonesia, tapi ke Sulteng – Kendari sana. Kalo2 kalian jadi ke Tomohon barangkali kita bisa bersua…!

    Anyhow, jadi tambah bucketlist ke Finland: Kerava + kota2x cantik di sana, Helsinki – naik ferry ke Tallinn…:)

    1. Sama-sama, Chica.

      Haduh, ge-er nih kalo dibilang mirip. Aku juga baru baca blog mu sampai ke belakang2 dari tahun 2011. Wuidiiih, niat sih sama, Chica, mau vegetarian di rumah aja, mau eat (more) locally ta…ta…tapiiii…suka hancur lebur nih niatnya. Hiks hiks hiks
      Trus lagiii…kamu ini saingan yaaaaa sama Astri Nugraha. Punya dua balita tapi ikut volunteer ini itu, rajin bikin DIY di rumah buat main sama anak2. Tenaganya darimana Chicaaaaaaa? Aku mau pengsaaaaan bacanya. Salut!

      Aku pun masih memendam impian bisa ke Amerika sambil berhaji ke Disney World. Udah impian lama banget ini. Semoga suatu saat terkabulkan, syukur2 kalo bisa mapir ke New Bedford yang cakep banget kalo liat dari IG kamu

  14. orang finland emang suka kegiatan outdoor yak…diajakin temen yg baru dari finland buat naik gunung haha,, dan gw malas jadinya naek cable car dan dia naik gunung sendiri, kita ketemuan di puncak saja 😀

    semoga pendidikan indonesia kayak finlandia suatu saat nanti, tapi berhubung indonesia orangnya jg lebih banyak dan karakternya lebih beragam kayaknya tantangannya lebih gede jg 😀
    kalo di korea sih pendidikannya competitive sekali, jadi curiga itu emang common trait nya orang asia..rata-rata competitive :/

    kalo di korea bayi umur 100 hari baru boleh dibawa keluar, pas bawa bayi temen umur 2 bulan ke taman, langsung gw sukses dimarahin ama nenek2 yg liat hihi

    1. huwahuhauhawuha….pulang dari finland langsung mau naek gunung ajeee. Santai dulu, bang. Temennya orang mana, qonita? Korea atau Indonesia?

      WAAAAAAAT? 100 hari? Trus ibunya gimana? Lumutan deh aku kalo 100 hari gak keluar rumah. Kasian bayinya juga, apalagi kalo tinggal di apartemen yang kecil mungil.

      1. qonita · · Reply

        orang indonesia,,abis bisnis trip dari helsinki gtu pulang2 jadi hobi naik gunung lagi..eh bukit hihi
        orang korea sih semua suka naik gunung,komplit ama peralatan trekkingnya…

        ibunya si bayi ya kalo di korea mau kelaur rumah ya keluar aja, biasanya ada neneknya yg gantian jagain si bayi selama 100 hari hehe..lumutan jg kali yak diperem jg ibu nya slama 100 hari itu 😛

        1. hwauhuwhauhahahaha…tahun noceng gini siapa jugaaa yang tahan gak keluar rumah 100 hari.

  15. yg pake id kuku barusan saya mbak rika hihi

    1. pantesaaaaan, biasanya yang dari korea kan qonita, bukan kuku

  16. Halo mba Rika, salam kenal ya..dari mamarantau mendarat disini, sukaaa sama tulisan2nya! semalem melototin cerita bersambung nya yang berakhir dengan bikin blog juga (emang uda niat lama tapi belum dikerjain) thanks for sharing ya mba =)
    sirik deh dengan gaya hidup di finland yang sepertinya nyaman banget..

    1. selamat ya buat blog barunya…ayo bikin cerita bersambung jgua !

  17. Aku pernah nonton dokumenter tentang Finlandia ini dan persis seperti yg diceritakan di sini.. Duh.., jadi pengen pindah ke sana..😄

    1. alhamdulillah, artinya tulisanku lumayan akurat ya. Ayo donggg main ke sini, Emmy.

  18. Tazqira · · Reply

    Menarik banget tulisanmu mbak. Maaf jika tak keberatan, saya mohon ijin untuk beberapa gambar yang saya save dan share nantinya. Gak ada unsur plagiat artikel. Hanya untuk berbagi info menarik seputar finlandia. Salah satunya, untuk saya pamerin sang suami.

    1. Terimakasih tazqira. Gambar yang mana ya yg ingin kamu save? kalo bukan gambar anak2 sih gpp. Sebenernya gambar2 di tulisan ini pun kebanyakan saya ambil dari internet.

  19. Keren banget finlandia.. Beberapa pimpinan sekolah saya saya tahun lalu ke finlandia.. Dan emang keren bgt bgt.. Mari bermimpi indonesia seperti inih.. soal parenting nya.kela dan daycare nya..kyk nya cikal bakal generasi yg hebat. Guru disana yg bikin kurikulum, bukan pemerintah. Itu hebat bgt. Makasih mba rika dah share.

    1. oooohh, kamu di sekolah mana fitri? barusan aja ada juga rombongan sekolah dari indonesia yang berkunjung ke sini. Aku liat foto2nya di facebook KBRI. Bagus ya, artinya ada usaha dari pemerintah untuk mengadaptasi kurikulum luar ke indonesia

  20. Hwaa lengkap banget mbak rika, hehe aku jadi pengen maen2 ke finland ^_^ (benernya pengen tinggal tapi ketinggian keknya mimpinya :P)

    1. hei, jangan pesimis dong. dulu aku juga seperti mimpi aja kalo bisa ke luar negri apalagi kalo sampai bisa tinggal dan menetap, tapi alhamdulillah kesampaian. Banyak2 berdoa dan berusaha yaaaa

      1. Huaaa makasih mbak rika, encouragementnya! 🙂 oiya ada komen yg ketinggaln (pdhl mah emg bawel), biarpun namanya negeri kulkas tapi keknya org2nya hangaaat *tsahh*

  21. Di Finland ada shower toilet nya ya Ka.. jd kl mau c*bok nyaman.. udah kyk di Indonesia… ☺☺

    1. hahahahaa…itaaa…yang dibahas malah toilet. tapi bener banget ya bok, gue pun seneng banget sama semprotan toilet ini terutama banget buat nyebokin anak yang abis pup kalo pake tisu doang kan refyoottt

  22. Pendidikan sana enak ya….. ga kaya disini repot-repot ujian mulu semua hal diajarin sampe botak tapi malah bikin anak-anaknya stress…. :’) btw suka banget artikel ini kak, nyaman sekali jadi pingin pindah kesana…. ;’)

    1. hahahahah….sampe botak.
      Udah banyak yang ribut-ribut soal pendidikan kita yang membebani anak, semoga didengarkan pemerintah dan diambil tindakan secepatnya

  23. aku aku aku baca ini di mamarantau dan sekarang semua temenku pada share link artikelnya mbak rika lhoo hihi aku si silent reader blogmu emang ngefans berat sama parenting a la finlandia (yg suka ditulis di blog ini) dan setelah baca artikel itu jadi makin jatuh cinta deh… thanks for sharing ya, mbak 🙂

    1. sama-sama Tiasani

  24. Terima kasih untuk sharingnya. Luar biasa. Selama ini yang saya dengan soal mengapa Finlandia bagus pendidikannya, karena tidak adanya UN. Namun ternyata tidak sesederhana itu.

    Semuanya bermula dari box Kela, dan kebiasaan-kebiasaan kecil lainnya. Sungguh aktifitas sederhana yang dalam sekali maknanya, dan sayangnya banyak ditinggalkan oleh orang-orang kota di Indonesia.

    Saya jadi terinspirasi untuk melakukan apa bersama si kecil.

    1. Iya, UN yang setiap tahun memang tidak ada, tapi tetap ada ujian2 kecil dari guru kok.

      Kalau ada box Kela di Indonesia pasti asik juga, ya? Tapi di Indonesia angka kelahiran lumayan besar, kotaknya harus berjuta-juta

      1. Hihihi. Indonesia kaya kok. Tinggal bagaimana mengaturnya. Btw, saya jadi penasaran, resourcenya Finlandia apa ya? Kalau kemana-mana pakai apa? Kok sepertinya tingkat polusinya rendah.

        Kalau tidak keberatan, bikin tulisan tentang bagaimana kehidupan sehari2 di sana. Kalau belanja di mana, rata2 orang melakukan perjalanan ke tempat kerja berapa lama? Berapa jauh?

        Hehehe… Maaf banyak pertanyaan. Aseli penasaran. Karena saya yakin, banyak faktor yang mendukung pendidikan. Beberapa sudah saya temukan di tulisan ini. Saya mau yokoten. Heheee…

        1. Resourcenya yg utama sih hutan (kayu buat dibikin kertas). Trus untuk makanan mereka lumayan bisa swasembada dan orang sini suka beli produk dalam negri.
          Tingkat polusi memang rendah karena regulasi yang ketat ttg penggunaan hutan, pelaksanaan pabrik/industri dan car ownership cuma 30% untuk daerah perkotaan karena kendaraan umumnya bagus. Di daerah non-urban sih rata2 punya mobil ya, tapi di sana kan penduduknya sedikit. Dan jgn lupa, populasi Finlandia cuma 5 juta orang, jadi ya jelas lebih mudah diatur dibanding Indonesia.

          Kapan2 aku nulis tentang Finlandia lagi ya. Sayangnya aku ini kalo nulis mood-mood-an banget

  25. Mbak Rika, salam kenal.

    Tadi baca dari mamarantau tentang OPOL, jadi mau tanya sesuatu nih.

    1. Kalau di luar rumah,…misalnya lagi belanja, atau di taman, bahasa yang digunakan tetap bahasa Indonesia?. Saya juga menerapkan metode yang sama, tapi masalahnya kalo di luar saya menggunakan bahasa Perancis, soalnya gak enak sama orang2 Perancisnya, takutnya terlihat kurang menghargai, apalagi kalo lagi sama mertua.

    2. Apakah penggunaan sistem ini membuat Sei dan Kai jadi terlambat berbicara?. Soalnya anak saya 2,5 tahun kosa katanya masih sangat sedikit sekali…(benar-benar sedikit).

    Terima kasih yaaa

    1. Halo H.O

      1. Untuk pertanyaan pertama: saya sendiri sih tetap pakai bahasa Indonesia dengan anak-anak ketika di luar rumah tapi saya baca-baca, banyak juga orang tua yang menerapkan peraturan berbeda, misalnya: setiap di luar rumah mereka menggunakan bahasa lokal, jadi saya rasa bisa ada beberapa pilihan di sini. Tapi kalo ngomongin soal “menghargai” bahasa setempat sih, saya rasa gak ada masalah. Orang Eropa kan sangat terbiasa dengan multilingualisme, paling gak di Finlandia sini gak ada tuntutan buat kita berbicara pakai bahasa lokal selagi kita berbicara dengan bangsa sendiri. Malah kadang-kadang orang sini suka menegur orang asing yang sedang berbicara dengan bahasa Finlandia dgn anaknya. “Kenapa kamu gak bicara dengan bahasa kamu saja ke anak kamu?”. Selain itu, tergantung penguasaan bahasa kita juga. Kalau kita memang sudah sangat menguasai bahasa setempat, gak ada salahnya menerapkan peraturan utk menggunakan bahasa tersebut ketika sedang di tempat umum. Tapi kalau penguasaan kita belum begitu bagus, saya rasa sih lebih baik stick to our native language.

      2. Kai mulai ngomong di umur 16 bulan, Sami di umur 18 bulan, menurut ahli kesehatan sini sih semua normal. Tapi kalau ngomogn sama orang Indo banyak yang bilang kalau mereka sedikit terlambat karena katanya anak-anak biasa mulai bicara umur 1 tahun. Beda-beda ya standarnya. Tapi di sini lumayan normal ya anak umur 2 tahun baru mulai bicara. Kalau kamu khawatir coba aja tanya ke ahli kesehatan di sana.

      1. Heiho mba’e makasih banget buat balasannya. Masalah anak telat bicara karena bilingual itu emang wajar kalo kata dokter anak di sini. Terus kemarin juga gak sengaja ketemu ama seorang ibu yang kerjaannya baby sitter, kata dia ada anak yang dia asuh udah 2,5 tahun masih belum bisa bicara sama sekali. Sebenarnya sih kata mereka gak ada yang perlu dikhawatirkan…,tapi kan ya namanya juga emak-emak, jadinya yaa begitulaaahh ehehehe…

        Sekali lagi terima kasih untuk balasannya yaa

        1. iya, namanya juga emak-emak ya. Kalo dibanding sama di Indo mungkin anak sini memang lebih telat ya bicaranya. Dulu waktu Kai umur 14 bulan mudik ke Indo ibuku panik banget karena Kai belum ngomong sepatah katapun. Sementara anak tetangga umur 1,5thn udah bisa diajak ngobrol

  26. Eeee maaf saya nyebut nama Sami jadi Sei…maafkan🙈

  27. Sami yang di rumput itu astagaaaaaaa… gemesin banget siiih

  28. Tulisan ini jadi terinspirasi, makin terbuka pengetahuanku ttg seluk beluk anak ngga cuma di Indonesia, tapi juga di luar negri. Contoh kalo di sini anak selalu pakai kaos dalem, pakai minyak telon, kyknya takuut banget anaknya kedinginan. Sedangkan di sana ‘dijemur’ di suhu dingin! Hahaha..

    1. halo golda….duluuuuu sekali aku suka baca blog kamu. Mungkin sepuluh tahun yang lalu. Kaget liat kamu komen di sini. Salam kenal yaaaa.

      Iya, aku suka kegerahan liat bayi-bayi pake singlet trus bertabur telon pula, apa gak kepanasan ya?

  29. Faizah · · Reply

    Mbak Rika salam kenal ya.. Tulisannya bagus sekali mengenai pola pengasuhan anak di Finland dan pendidikannya. Pendidikannya ga bikin stres karena tidak sering-sering ujian seperti di sini. Jadi kepingin kuliah di sana (dulu pernah ada program beasiswa Erasmus Mundus), tapi kayaknya sekarang ga ada deh program yang ke Finland..Tentang parental leave juga menarik, bayangkan bisa cuti lama dalam mengasuh anak. Di sini cuti melahirkan saja hanya 3 bulan(padahal pingin cuti lebih lama lagi biar maksimal pengasuhan dan memberi ASI ekslusifnya)..Kehidupannya nyaman banget ya..jadi kepingin tinggal di sana

    1. Coba cek terus program Erasmus Mundusnya, tiap tahun kan ada aja perubahan. Kalo pun gak ke Finlandia ikut aja program Erasmusnya, kali2 setelah itu bisa lanjut S3 di Finlandia kan?

      Cuti melahirkan di sini memang lumayan bgt. Tapi sebenernya ada yang lebih dikit loh cutinya dibanding Indonesia. Di US aja cutinya gak sampe 3 bulan. Bahkan di Singapur byk juga yang cuma boleh ambil cuti hamil 1-2bulan. Berharapnya sih semua orang tua di dunia bisa mendapat cuti yang memadai ketika anaknya lahir ya. Amiiiiin

  30. Mba Rika tulisannya seru bingit dan nggak bosenin, suka deh!! Aku sempet baca buku Smartest Kids in the World dan paparan sistem pendidikannya persisi sama yang ditulis, aku ngiler.. :)))

    1. makasih bening. Wah, aku malah belum pernah baca buku the smartest kids in the world itu, menarik ya?

  31. wah mbak, saya berkali-kali baca tulisan mbak yang di mamarantau, demi penghayatan yang lebih mendalam….:)))asli seru, terimakasih mbak rika 😀

    1. hihihihihihi, ini bukan UUD, gak usah terlalu dihayati 😀
      makasih juga ya untuk kamu

  32. Ahh bagus bangettt sistem pendidikannya dan cara hidup secara umum orang Finlandia. Tapi ada satu hal sih yang paling mengganjal, bahasanya! Hahaha kayaknya sulit bgt ya? Salam kenal ya.. Suka baca tulisan di blog ini! 🙂

    1. kalo soal bahasa sampe sekarang masih ganjalan nih buat saya 😀

  33. susi simelekete · · Reply

    hallo mba rika sallam kenal ya dari aq… susi dari bogor. aku salah satu pembaca setia blog kamu loch, seneng bgt klu lg baca ttg anakw mu yg super duper lucu.

    1. hihihih, makasih susi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: