(jurnal nostalgia) masih tentang introvert dan ekstrovert

Ini lanjutan dari jurnal sebelumnya. Dalam rangka memahami si mantan gue mulai baca-baca artikel tentang introvertisme. Biar hubungan kami makin mulus, gitu. Namanya juga waktu itu lagi cinta-cintanya, ya. Gak taunya ya tetep…ujung-ujungya putus juga sama doi. Tapi paling gak ilmunya tetap berguna buat ngadepin suamiku yang ternyata lebih introvert lagi. 

————————————————————————————————————————————————————

Hebatnya pacar gue itu, dia selalu ingin memperbaiki dirinya. Setelah dapet banyak feedback tentang ke-introvert-an-nya (terutama dari gue sih, hehe), ternyata dia jadi sering baca-baca artikel tentang introvertisme dan trik-trik bergaul dan berkomunikasi.

Suatu hari gue pun menemukan tumpukan artikel yang dia telah baca. Dalam rangka ingin lebih mengerti pacar gue jadi ikutan baca juga. Tapi heran, kok gue gak suka sama apa yang gue baca. Mungkin karena artikel-artikel tentang introvertisme itu pada umumnya ditulis sama orang-orang introvert juga, jadi isinya lebih banyak berkisar tentang betapa uniknya kaum introvert (yang, btw, cuma minoritas kalo dibandingkan sama populasi ekstrovert di dunia ini), dan bagaimana mereka selalu disalahmengertikan oleh orang-orang ekstrovert.

Kata artikelnya lagi “Mudah bagi introvert untuk mengerti orang yang ekstrovert, tapi tidak sebaliknya. Sangat sulit bagi orang ekstrovert untuk mengerti apa yang dirasakan oleh kaum introvert”

Loh, loh…kenapa artikel-artikelnya malah jadi ajang narsisari buat orang-orang introvert? Introvert itu unik, introvert butuh dimengerti, blablablabla,…

Tapi mungkin yang bikin gue ngerasa sangat terganggu adalah: menerima kenyataan kalo orang-orang introvert itu memang beda dan punya kebutuhan yang berlainan dari orang-orang ekstrovert. Orang ekstrovert yang katanya mendominasi populasi dunia itu loh.

Sulit banget bagi gue untuk ngerti kenapa pacar gue suka butuh waktu untuk sendiri, apalagi kalo lagi capek. Katanya untuk merefresh energi. Kalo mau sendiri dari orang lain sih gak papa…tapi gue loh…gue…pacar loe!! Haloooooooooooooo?????? Kebalikannya di gue, the greatness of being in a relationship is being together. Kalo perlu all the time deh.

Aneh banget bagi gue ngeliat dia yang diam, merenung dan mengawang-ngawang dengan muka bertekuk, mata sendu dan dahi berkerut tapi diam seribu bahasa kalo lagi punya masalah. Sementara gue tipe yang langsung mencari kuping nganggur yang bisa gue curhatin. Tentunya dengan emosi yang meledak-ledak dan cerita yang didramatisir sejadi-jadinya.

Susah banget nerima dia yang selalu bilang “gak ada apa-apa, lagi pengen diem aja” sementara bagi gue kalo orang diem JELAS berarti dia punya MASALAH!!!!

Lebih aneh lagi nih, menurut artikel yang gue baca dan menurut pengakuan pacar juga, “Kalo orang introvert sedang diem, mengertilah bahwa dia sedang punya masalah dan perlu memikirkannya sendiri dulu. Jangan sekali-kali tanyakan padanya ‘Are you allright?’. Just let him be alone.” Dan yang lebih parah lagi (katanya), jangan pernah memaksa seorang introvert untuk berbicara. Introverts are quiet people, they don’t say alot and they don’t express themselves with words.

KOK BISA???
BAGAIMANA MUNGKIN?????
Wahai orang-orang introvert, ingatkah kalian pada anggota tubuh yang bernama mulut?

Sementara gue, temen-temen gue, mantan-mantan pacar dulu, tokoh-tokoh cerita di buku, komik, sinetron dan film-film, pada umumnya merasa nyaman, damai, tentram atau bahkan terselamatkan mendengar the magic words itu.

“Are you allright? Is there anything I can do to ease your burden?”

Ketika pelukan, belaian, dan kata-kata manis bisa meringankan hati orang-orang yang bermasalah, kelompok introvert malah (katanya) terganggu sama hal-hal tersebut.

GILA APA YA????????????

Yah, mungkin itu yang bikin gue sebel baca setumpuk artikel tentang introvert itu. Gue kaget kalo ternyata hal-hal yang gue lakukan dengan penuh niat baik itu ternyata malah dianggap gak berguna bahkan potensial jadi gangguan.

Tadinya gue berharap membaca artikel yang isinya kurang lebih “How to be more extrovert” atau “Hey, introvert, be more sociable like the rest of the world, will ya?.” Taunya gue harus menghadapi kenyataan kalo gue yang perlu mengubah tingkah laku gue untuk sekelompok orang yang katanya unik ini. Dan gue kasih tau aja, gak mudah loh buat mengubah tingkah laku yang udah mendarah-daging selama bertahun-tahun. Gak mudah juga untuk membiasakan diri menerima perlakuan yang kita anggap aneh dan gak sesuai dengan pandangan, value dan harapan kita.

“Eh, kamu lebih milih sendirian daripada ama aku?”
“Eh, aku udah jungkir balik nih bikin mie ayam jamur bakso tahu pangsit kuah buat kamu. Pujian kamu masih kurang panjang. Paling gak 3 paragraf lagi.”
“Aduuuhh saaaaaay,…..aku kan lagi ngambek nih!!! Udah dari tadi lho, kok belum dibujuk-bujuk juga sih????” (Jawaban doi pasti: Oh, maaf,…aku kira kamu lagi pengen sendiri. Makanya aku diemin” —> TET TOT!!! Jawaban Anda Salah! Gak mungkin laaahhh gue butuh didiemin. Gue butuh ditanya-tanyain, dirayu-rayu, dipeluk-peluk, dimanja-manja gitu looohhhhh)

Nah-nah liat kan? Aksi-reaksinya suka gak pas. Jadi kalo orang bilang yang namanya perbedaan itu untuk saling melengkapi, gue malah merasa kalo perbedaan itu juga bikin repoooooooott.

Tapi disitulah keluar kata kompromi. Emang gak mudah, dan gak selalu dikerjain dengan rela hati sih. Seringnya mah gue kerjain karena emang terpaksa, karena gak ada jalan lain. Tapi jelas gue rela beradaptasi, jelas gue rela merubah diri gue, jelas gue mau kompromi. Kenapa? Karena gue tau dia juga berusaha untuk melakukan hal yang sama. Gue yang merasa normal inipun kalo diliat dari kacamata seorang introvert pastinya terlihat aneh juga.

Walaupun pacar gue masih suka ketiduran kalo gue lagi cerita, atau perlahan-lahan lost-track ama omongan gue yang emang kadang suka terlalu panjang ini, tapi paling gak daya retensinya makin lama makin panjang.

Kalo dulu kata-kata favoritnya dia “Gak tau, gak bisa dijelasin”, sekarang dia lebih bisa menggunakan kata-kata untuk mengekspresikan dirinya. Kemaren gue seneng banget waktu dia ngomong “Aku gak suka karena ini, itu dan anu, karena aku jadi ngerasa begini dan begitu” ketimbang dulu waktu dia cuma ngomong “Yah gak suka aja…susah jelasin kenapanya”. Haaahh…lega gitu loh rasanya kalo kita bisa tau apa maksud orang lain tanpa harus sibuk main aksara bermakna dulu.

Gue sendiri gimana? Udah berubah sejauh apa?
Hmmmmhh….gak tau juga yah.
Gue masih suka sebel kalo dia udah mulai masuk privacy time nya.
Gue masih sering penasaran kalo dia sunyi senyap dengan muka resahnya.
Dan gue malah jadi suka ngasih kuis-kuis dadakan untuk ngecek apakah dia mendengarkan semua cerita gue atau gak.

Tapi jelaslah gue berusaha,
berusaha untuk lebih mengerti kebutuhan kaum introvert ini, kaum yang katanya unik dan jumlahnya sedikit ini. Yah, intinya sih, mau introvert, ekstrovert, wasaivet atau apapun…asalkan untuk orang yang loe anggap the one and only dalam hidup loe, apa sih yang gak??? Ceileeeeeeeee,……

———————————————————————————————————————————————————-

Membaca lagi tulisan ini mau gak mau gue membanding-bandingkan antara Mikko dan si mantan. 

Misalnya aja nih, gue ngerasa Mikko jauh lebih introvert dari si mantan karena biarpun introvert dan suka ngerasa butuh privacy time, si mantan tetep suka kumpul dan kongkow-kongkow sama temen, suka seru-seruan, dan tahan (juga enjoy) menghadapi keramaian. Coba deh ajak Mikko ke acara rame-rame, misalnya, sale akhir tahun. Bisa pingsan doi! Dibandingkan si mantan Mikko juga punya sedikit sekali teman dan dia jarang merasa punya kebutuhan untuk kongkow atau ngumpul-ngumpul. Beda banget ya sama gue…seminggu gak ketemu temen langsung mutung. 

Tapi, biarpun sama-sama introvert, Mikko gak pernah menarik diri dan menyepi ala petapa. Dia juga gak pernah ngerasa harus jauh-jauh dari gue walaupun memang ada kegiatan yang dia minta pengertian gue buat membiarkan dia melakukannya sendiri. Kaya acara jalan-jalannya ke pelosok Indonesia yang dia lakukan tanpa gue. Soalnya kalo sama gue ribet, begitu kata Mikko. Ya maklum, estri kan manja, mana mau diajak naik pelni kelas ekonomi terus bobonya di hotel kelas curut. 

Anyway, masalah perbedaan sifat dengan si mantan tentunya juga sering muncul di pernikahan gue dan Mikko. Gue sering frustasi sama Mikko yang gak suka keramaian, yang suka gak ngerasa butuh temen, yang emosinya datar-datar aja kalo denger gosip-gosip super dahsyat dari gue. Tapi baca jurnal nostalgia ini bikin gue inget kalo relationship needs a lot of work. Sampe harus riset segala soal introvertisme. Kalo dulu jaman pacaran aja gue mau usaha, sekarang di pernikahan usahanya harus sepuluh kali lipat lebih banyak. Karena jelas hubungan gue dan Mikko jauh lebih berharga dari apa pun yang pernah gue punya dengan mantan-mantan terdahulu. 

Dari hubungan gue dan si mantan, dan kemudian gue dan Mikko, gue juga jadi lebih banyak belajar tentang diri sendiri. Dulu gue terlalu frustasi ngadepin mantan yang introvert sampe merasa diri ini ekstrovert banget. Padahal mah, sekarang ini gue menyadari kalo biarpun gue sepertinya ekstrovert tapi pada dasarnya gue pemalu. Cuma di lingkungan teman dekat aja gue bisa ngobrol rame, selain itu…hayaaah…mingkem kaya kerang. Dan Mikko tau tentang sifat pemalu gue ini! Menurut Mikko gue ini ada juga pendiemnya walaupun lagaknya udah kaya yang paling asik bin gaul sekota aja pun!

Selain itu, rasa-rasanya gue juga berubah. Makin ke sini gue juga jadi ikutan introvert, atau paling gak, gue jadi belajar untuk menhargai waktu menyendiri. Ini karena punya anak kali, yaaa. Bisa sendiri kok sekarang terasa seperti surga dunia. Tapi gue yang dulu sangat tidak mandiri dan apa-apa maunya ditemenin orang sekarang bisa juga jalan-jalan sendiri (ke Helsinki aja keluar masuk toko, kalo travel sendirian mah…bhaaaaay), gak lagi tancap gas pengen ikutan begitu tau ada keramaian, bisa menikmati waktu sendirian di rumah, dan jadi lebih suka ke acara kumpul-kumpul kecil bareng temen deket ketimbang rame-ramean sama orang sekampung. 

Pada akhirnya sih, gue ngerasa gak ada yang salah dengan introvertisme ataupun ekstrovertisme. Memang sih hubungan dengan manusia dari dua kubu berbeda gini bakal banyak gonjang-ganjingnya tapi kan katanya love can conquer all, yes?

Advertisements

9 comments

  1. 10x lipat usahanya !!! Kerennn!!!
    Memang ribet juga mba Rika kalo andaikan punya suami yg sama ekstrovertnya… bisa berantem rebutan siapa duluan mau ngomong.
    Buatku cowo2 introvert itu menarik..ya ga tau ya kalo dah ngejalin hub..stress juga. Tapi mungkin benar kalimat yg bilang..pernikahan itu ya saling melengkapi.

  2. Aku suka cowok introvert…. karena cocok sama aku… 🙂

  3. cucok bgt sama Mikko berarti.saling melengkapi…

  4. Paragraf terakhirnya kok bikin hati gimanaaaa gituuu…

  5. kalimat terakhirnya manis banget mbak 😀

    eh tapi emang kalo ama orang introvert suka jadi bingung kalo dia nya diem..takutnya marah gtu hihi..makanya kalo ama orang yg begitu aku jg diem haha

  6. tetap semangat terus beradaptasi,,dari cerita dibatas banyak pelajaran yg bisa diambil buat yg punya pasangan introvert juga ,makasih dh sharing ya rika 🙂

  7. BIG YES to the last paragraf!
    makasih udah sharing kak rikaa 😀
    as always bikin senyum2 geli bacanya hwahahaha

  8. Ekstrovert,introvert,wasaivet???bhs alay thn 90-an kan yaaa,wkwkwk#piiisss mb rika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: