Kaaaaaii…Samiii…Ayo main!

Sekarang ini Kai dan Sami punya temen main baru. Anak-anak gedung sebelah. Sebut saja dua anak namanya Samir dan Sabina, dua anak Afganishtan yang kebetulan satu päiväkoti bareng Kai dan Sami. Setiap sore sampai menjelang malam Samir dan Sabina selalu main-main di halaman gedung mereka bareng anak-anak lain dari Turki, Afrika, dan entah dari mana lagi. Oleh Mikko dijuluki”The United Nations next to our building”.

Kai sering banget menatap mupeng ke rombongan PBB tersebut, pengen ikut main juga. Awalnya Kai cuma berseru-seru dari balkon “Heeeeeeeii…Heiiiii Samiiiir”. Berikutnya Mikko sering bawa anak-anak main ke halaman gedung sebelah biar mereka bisa main sama Samir. Sekarang Samir dan Sabina rajin banget teriak-teriak dari halamannya “Kaaaaaai…Samiiiiii…..Ayo maiiiiiiiin”.

Suatu hari Kai pernah mengajak teman-teman barunya itu ke rumah. Katanya dia mau nunjukkin kamarnya dan mainannya. Wuuiiih….Kai keliatan bangga banget loh sama kamarnya yang berantakan itu.

“Ini kamarku. Kamarku baru.”

Padahal maksudnya kamarnya baru diberesin sama äiti tapi, emang, tiap kali kamarnya habis diberesin Kai merasa kamarnya jadi “baru”.  Sementara Sabina memandang ruang tamu dan dapur kami sambil berkata “Onpas sotkuuuu” alias “Waaah…berantakan banget”. Asyeeem.

Setelah kunjungan tersebut hampir tiap hari bel di rumah berbunyi…ding dong ding dong. Pernah gue lagi mandi belnya dangdingdong mulu gak berhenti. Ampuuun maaaak…lagi asik keramas harus panik ambil handuk jadinya. Ternyata bocah-bocah ngebel rumah mau ngajak Kai dan Sami main. Ini lucu banget!

Sekarang ini Kai dan Sami udah kami biarkan bermain sendiri di halaman sebelah tanpa kami kawal. Tinggal dipantau aja dari jendela atau dari balkon. Lumayan banget loh rumah bisa tenang sebentar pas anak-anak main di luar. Gue juga gak perlu manyun dan kedinginan di luar nungguin anak-anak main.

Bukan berarti bisa tenang sepenuhnya juga, sih, karena Kai ini kalo lagi main banyak banget laporannya. Tiap tiga menit anak itu teriak ke arah jendela “Äitiiiiiiiiii………..isiiiiiiiiiiii…….Kai mau main pasir” atau “Äitiiiiii…isiiiiiiii….Samir gak mau main sama Kai” atau “Äitiiiiiii…isiiiiiii….jemput aku, aku takut pulang sendirian” Maap banget deh, ya buat tetangga yang harus mendengar kami bersaut-sautan.

Seperti biasa anak-anak selalu tertarik sama mainan anak lain. Samir dan Sabina begitu juga. Selalu suka sama mainannya Kai. Dan anakku Kai memang hatinya baik sekali. Selalu ingin menyenangkan orang lain. Tiap kali mau main dia repot menggotong berbagai macam mainan untuk di bawa ke halaman sebelah

“Samir suka main mobil ini. Sabina katanya mau main pake ember dan sekop ini” kata Kai.

Dan kemarin tiba-tiba bel rumah berbunyi lagi. Ding dong. Di luar pintu ada Samir dan Kai yang katanya mau bertanya.

“Kata Kai traktor sama pedang ini boleh buat aku. Boleh gak?” tanya Samir.

Wuaduuuhh…gue kaget juga. Kok anak gue bagi-bagiin mainan gini. “Kai beneran mau kasih buat Samir?”

“Iyaaa…Samir suka sama traktornya. Aku kasih Samir biar Samir senang”

“Beneran? Tapi artinya nanti Kai gak bisa main traktor lagi. Nanti di rumah traktornya gak ada lagi karena udah dibawa ke rumah Samir.”

Seperti dugaan gue Kai mulai ragu-ragu.

“Mau dikasih Samir atau mau dipinjemin aja? Gue tanya lagi ke Kai

“Dua-duanya. Kasih sama pinjemin. Soalnya Samir suka banget sama traktornya. Sabina juga”

“Ya udah…kita pinjemin aja ya”

Dengan kesulitan tingkat dewa akhirnya bisa juga gue menyusun kata-kata dalam bahasa Finlandia buat Samir “Mainannya dipinjem aja, ya. Sekarang boleh main tapi nanti dibawa pulang lagi sama Kai”

Samir tampak sedikit kecewa dan hati gue juga jadi sedikit sedih. Untungnya semenit kemudian gue liat Kai dan Samir udah asik guling-guling di halaman sebelah.

Ada juga saat-saat di mana Samir dan Kai berantem dan yang nangis pasti selalu Kai. “Äitiiiiiiii…Samir gak mau main sama Kai” kata Kai dengan air mata berderai-derai.

Pernah juga Sami yang berantem sama Samir dan lagi-lagi Kai yang nangis “Äitiiiiii….Samir gak mau main sama Sami. Kasian Samiiii” Kai menangis dengan muka teramat sedih. Padahal Saminya cuek bebek dan asik main sendirian di ayunan.

Gue  dan Mikko berkali-kali mengundang rombongan PBB tersebut untuk main ke rumah biar gak usah capek teriak-teriakan dari jendela. Tapi sayangnya Samir dan Sabina selalu menolak karena nanti äiti atau isinya bisa marah. Padahal Mikko udah ngomong langsung ke ibu mereka tentang undangan kami tersebut. Gak tau juga kenapa dua anak tersebut gak diizinkan main ke rumah kami.

“Aku tau…aku tau” suatu hari si cantik Sabina berkata “besok kalau äiti tidur siang kita diam-diam main ke sini. Tapi ini rahasia, jangan bilang äiti atau isi. Sssssh…rahasia. Kalau mereka gak tau kan mereka gak akan marah”

Suatu hari bel pintu berbunyi lagi. Kai mau masuk mengambil mainan untuk teman-temannya. “Mau ikut masuk gak?” tanya Kai ke Samir dan Sabina.

“Hmmm…nanti äitiku marah. Eh, tapi…kalo sebentar aja ga papa ya…äiti sama isi kan gak tau”.

Kai, Sami, Samir dan Sabina pun langsung menyerbu mainan di kamar Kai. Sebentar kemudian mereka mulai main kejar-kejaran keliling apartemen kami yang kecil mungil ini. Cuma empat orang anak tapi cukup bikin rumah gonjang-ganjing. Astagradragon, gini toh rasanya kalo punya anak empat.

Melihat ke empat anak itu bikin gue teringat akan masa kecil gue. Dulu gue dan Remi juga akrab dengan anak tetangga belakang rumah. Ari, Yuli dan Kiki. Jaman dulu itu kami main tanpa bikin janji playdate dulu, tanpa pake telepon dulu, dan tanpa di kawal orang tua. Tinggal lari aja ke belakang rumah sambil teriak-teriak “Ariiiii…Yuliiiiiii….main yuuuuuuuk”.

Seringnya kami main di halaman rumah atau di jalanan. Gak ada ayunan, perosotan, atau alat-alat lainnya tapi udah seneng banget lari dan loncat-loncatan sambil pura-pura jadi bajak laut, penyihir, polisi atau kodok. Belum juga kami mengenal internet atau ipad saat itu walaupun punya TV dan Atari. Sore-sore kami meriung di depan TV untuk nonton The Chipmunks atau Donal Bebek. Kadang juga kami main Atari rame-rame. Tapi yang lebih gue inget adalah masa-masa main sampai jungkir balik di halaman atau masa-masa kami menjelajah keliling kompleks naik sepeda (dan trus nyolong singkong di rumah kosong yang halamannya banyak pohon singkong. Pulang ke rumah dimarahin nyokap karena mencuri tapi singkongnya tetep dimasak juga)

Sebatas pengamatan gue, sepertinya di Finlandia sini juga gak umum bagi anak-anak untuk asal main tanpa bikin janji terlebih dahulu. Gak umum juga kayanya buat anak-anak main pencet bel ke rumah tetangga atau teriak-teriak dari balkon untuk ngajak main. Ataupun seharian bermain di halaman (seriusan, bisa seharian) tanpa di kawal orang tua. Memang sepertinya anak-anak PBB di gedung tetangga punya budayanya sendiri. Satu hal yang gue perhatiin, mereka itu saling “mengurusi” banget satu sama lain. Misalnya anak-anak Turki yang lebih dewasa sering terlihat main bareng sambil nagyomin temen-temennya yang lebih kecil. Satu gedung itu biarpun asalnya berbeda-beda negara tapi udah kaya satu keluarga besar aja.

Gue dan Mikko seneng banget bisa kecipratan budaya mereka yang unik ini. Kai dan Sami jadi punya temen main dan mainnya pun cuma sekali koprol aja dari rumah. Gak pake jauh. Mikko selalu percaya anak-anak harus dibiarkan bebas di luar selama mungkin. Kegiatan fisik di udara terbuka sangat penting untuk mereka, begitu menurut Mikko. Tapi kan, ya,… kita ini orang dewasa yang hobinya internetan, ya, bo abooooooo….memble juga kalo keluar terus nemenin anak main. Untung banget sekarang ada Samir dan Sabina.

Gue sendiri sebenernya suka diem-diem merasa bersalah kalau Kai dan Sami seperti terlihat kurang bermain. Mau ngajak mereka ke luar kok kurang tabah ngadepin cuacanya. Mau main di dalam rumah males ngurusin berantakannya. Udah sih baca-baca soal bermain kreatif yang bisa dilakukan di rumah. Tipe-tipe yang bermain sambil belajar itu lah…apa ya istilahnya? Ada yang disebut sensory play, scientific, dll. Tapi niatnya selalu kalah sama rasa males dan ogah ribet. Tab internet soal playing at home akhirnya ditutup semua, kalo perlu diblok buat mengurangi rasa bersalah dan rendah diri. Sekali lagi…untung sekarang ada Samir dan Sabina.

Punya teman itu salah satu kebutuhan manusia yang terpenting. Kalo inget dulu pernah nangis-nangis kesel waktu tau hamil Sami sekarang gak berhenti bersyukur punya anak dengan jarak berdekatan. Liat Sami dan Kai jadi temen main bikin hati gue hangat. Sekarang mereka punya tambahan teman main, Samir dan Sabina.

Gue juga jadi bersyukur tinggal di Finlandia yang dingin, sepi dan kadang kala membosankan ini. Paling gak di sini anak-anak bisa main di luar sambil menghirup udara segar tanpa polusi. Di sini bisa lebih santai bawa anak ke luar rumah tanpa terlalu was-was soal kriminalitas atau lalu lintas yang ribet. Dan juga di sini, seneng banget bisa nemuin taman tempat anak-anak bisa main gak pake bayar. Di Kerava sini, dalam radius satu kilo meter dari rumah gue, sepertinya ada delapan taman bermain. Gak gede and nothing fancy tapi cukup buat bikin anak seneng.

Terakhir, pastinya bersyukur bisa tetanggaan sama rombongan anak-anak PBB di gedung sebelah. Yang bikin bel rumahku sering berbunyi, yang suka teriak-teriak dari halaman sebelah, yang juga bikin hidup Kai dan Sami jadi lebih berwarna. Nanti anak-anak dewasa bisa jadi mereka lupa sama Samir dan Sabina tapi gue mau inget terus sama dua anak Afghan yang ganteng dan cantik ini. Hence, this journal.

Dari jendela rumah

Dari jendela rumah

Advertisements

49 comments

  1. Wah senengnya kai n sami punya temen. Iya juga ya klo jarak anak deketan, bisa punya temen main, kasian nih anakku gapunya temen. Oya mbak rika, klo anak yg gak berbahasa finland sekolah disana, apa akan jd kendala dalam sekolahnya? Suami berencana nerusin sekolah di sana, klo diterima.

    1. Halo Etikaaa…ayo dong ke sini, rame-ramein Finlandia.
      Makin kecil anaknya makin gampang penyerapan bahasanya. Biasanya masa-masa sulit cuma di minggu-minggu pertama. Tapi guru-guru di sini baik banget, si anak pasti bakal dipantau dan sebisa mungkin dibikin nyaman. Jadi menurutku sih gak perlu khawatir nanti anaknya bakal sulit adaptasi. Kesulitan memang pasti ada, tapi sebentar, setelah itu bakal banyak banget sisi positif yang bakal didapetin dari sekolah di sini

      1. Wah asik ya guru2nya baik, katanya sistem pendidikan finland paling bagus. Anakku sekarang baru 3 taun. Suami sekarang masih kuliah, taun depan lulus dan berencana melamar ke sana, semoga diterima. Klo jd tinggal d sana, bakalan lama, ampe anak sd mungkin. Oya, aku add mbak rika d fb, mau dong dikonpem hehehe.

        1. Wah, kayanya mau S3 ya kalo lama begitu sekolahnya. Pasti seneng deh nanti kalo anak sekolah di sini. Soalnya ortunya jadi santai banget, gak pake acara bantuin bikin PR atau deg-degan anak mau ujian. Paling repot beliin bajunya aja karena buanyak amaaaat perlengkapannya.

      2. Makasih mbak dah dikonpem. Wah asik ya klo gak harus deg2an klo anak ujian hihihi. Di sini kata temen, anaknya sibuk banget. Semoga dilancarkan bisa ke sana, amiiin.

        1. semoga cepet sampe sini etika. ntar kita nongkrong2 bareng, hihihihihi

  2. Fotoin anak2nya sambil berbaris lucu kali ya mba hehehe…

    1. Iya, pasti lucu! Tapi aku takut foto2 anak orang di sini. Etikanya harus minta ijin ortunya dulu, apalagi kalo mau di publish ke sosmed.

  3. Emang paling seneng ya mba, kalo liat anak kecil main bareng. Kadang2 mereka ngomong apa juga bingung, pake bahasa tubuh sama bahasa dewa hehe

    1. Dan biarpun suka saling gak ngerti tapi mainnya lancar aja ya. Anak-anak memang hebat

  4. Rikaaa…. anak2 itu memang punya cqra bahagianya sendiri ya. Enak banget elu bisa mantau langsung dari jendela. Dan lebih enaknya lagi apartment dengan sebuah playground di tengah.

    1. Ini masih pake capek si le karena teriak-teriakannya masih banyak banget, dan Kai masih belum berani pulang sendiri.
      Di rumah gue gak ada playgroundnya karena emang gedung apartemennya kecil banget, untung banget deh bisa main di playgroundnya Samir ini

  5. Apalagi nanti kalo udah kenal lebih deket sama orang tuanya, bisa tukeran makanan Rik 🙂 Beruntung ya bisa kenal dengan anak-anak dari negara yang lain kulturnya.

    1. Ini jadi kepikiran mau bikin kue buat dibagi ke keluarganya Samir. Pancingan, syukur2 dapet balasan….lho, kok jadi pamrih 😀

  6. Aku juga dulu waktu kecil mainnya di kebon mba… sekarang mikir, kok dulu ngga ada rasa takut yaa… 🙂

    1. karena dulu kebon itu hal yang biasa aja kali ya…sekarang udah jarang banget liat kebon, apalagi kalo di kota besar.

  7. aku dulu jg maen di kebon dan lari-larian ama tetangga, meski kadang lari beneran gara-gara takut ama anjing hihi,
    dari ceritanya mbak rika kayaknya seru abis itu mereka be4 mainnya, jadi bayangin ikutan maen bareng hihi

    1. aku puuun….korban dikejer anjing juga 😀
      udah gak jaman tapi ya main ke kebon dan lari-larian begini.

  8. Serunyaaaaaa.. Jadi kayak geng nobita dan teman-teman bayanginnya Mba. Hihihihi..

    1. Apalagi anak-anaknya multi kebangsaan begitu. Lucu liatnya.

  9. Aku jadi terharu ni baca ceritanya Rika, seneng banget Kai sama Sami dapet temen main dan tempat main terbuka yang asik.. semoga jadi memori / kenangan yang bagus buat Kai dan Sami sampai gede nanti..

    1. Iya. Aku pengen banget mereka punya masa kecil yang menyenangkan untuk diinget-inget terus sampai dewasa nanti

  10. The ability n chance of playing outside the house was the highlight of my childhood, indeed 🙂 senengnya masih terasa sampe skrg loh rik, klo inget masa2 sepedaan, berenang, main kasti, tak-umpet, visiting the library (tp ini indoor ya hehehe) dll. Apalagi klo udah nemu ayunan. Sampe skrg jg msh hepi sih klo nemu ayunan 😀

    1. Indeed. Indeed, ya, Tyk.
      Aku pun kalo inget-inget masa kecil berkotor-kotoran di kali atau main benteng di jalanan masih senyum-senyum sampe sekarang. Pengennya anak-anakku bisa kaya gitu juga, bisa bahagia dengan cara yang sederhana.

  11. ya ampun Kai baek amat ya, tampaknya dia dapet dari elo tuh Rik, lo juga baek banget bersedia ngundang anak2 ke rumah, sementara di mari temen anak gue mau masuk malah anak gue yang gue suruh keluar, haha…mumpung summer bok anak2 mau keluar nggak usah pake ribet, harus dimanfaatkan…

  12. wah ada rombongan PBB ternyata dekat rumahnya mbak… seru ya…enaknya di Luar negeri itu tadi berasa banget kalau taman itu ada dimana mana……….di sini mah orang sibuk bangun ruko mall terus kasihan anak anak tak punya tempat bermain, adanyapun playground di mall itu pun bayar lagi… semua bayar………….semoga pemerintah baru ini membawa sesuatu yang berbeda di masa depan………………

  13. waaa senengnyaaa, akhirnya anak2 punya temen. bisa leyeh2 sebentar.

  14. senangnya ya sami dan Kai py teman main deketan pulaks…

    1. ibu bapaknya juga seneng

  15. ih, enak ya punya temen gitu. coba anakku punya juga ya, temen tetangga. dulu pernah ada anak jepang yg ramaaah banget, kalo ketemu suka nyapa trus ajak main Nisa. tapi skrg anaknya udah pindah. huhu. ga ada lagi deh temennya. ada anak2 brazil pada ngeriung sendiri, itupun udah gede2 usianya, usia SD gitu.
    *ngunyah popcorn, baca post selanjutnya* 😀

    1. iya, dan anaknya juga keliatan seneng banget loh punya temen. Keliatan lebih ceria. Pernah Kai ketemu Samir di sebuah taman, mereka langsung peluk2an gitu. Aku sampe terharu.
      Kalo gak ada temen di deket rumah, biasanya nanti anak2 dapet temen di sekolah ya

  16. Reblogged this on Crystaaja and commented:
    Suka banget baca blognya 🙂

    1. aihh…aiihhh…makasih crysta. Akyu jadi ge-er

  17. Kai ini kok lucu sekali…..
    demi Sami rela nangis2…padahal Sami cuek aja….. 😀

    1. Kai ini paling suka gangguin Sami tapi juga paling gak rela kalo Sami dijahatin orang lain

  18. ahahah ternyata sama aja ya.. Kevin Bile juga tiap weekend minta izin “Mo..boleh ajak Lutfi main ps di rumah gak?” Atau mereka yang gantian ke rumahnya Lutfi sementara emaknya me time 😀

    1. Dan rumah juga jadi lebih rapi kalo anak2 di luar mulu. HAHAHAHAHA (emak durhaka)

  19. Widi Karim · · Reply

    Mba Rika, mana donggg edisi Oktobernya??pemirsah udah ga sabar nih 😀

    1. hahahahah…udah desember ini yaaaa…blognya mati suri

  20. Starlet · · Reply

    Mbak…aku nemu blognya terus seharian aku abisin baca semuanyaaa..pake ada acara terharu dangdut pula baca kisah bersambung 1-7nya, hahaha…
    Btw, happy belated bday mbak. All the best.
    Trus…ditunggu yak tulisan lanjutannyaaaaaa

    1. makasih starlet. Nama kamu bagus sekali.

  21. senang melihat anak anak gembira dngan teman temannya

    1. 🙂 makasiiih

  22. Salam kenal mba Rika, suka sekali baca blognya deh……
    boleh minta alamat imelnya ?, bukan kebetulan kami sekeluarga ada rencana akan pindah ke Finland.
    saya ingin bertanya tentang sekolah anak2 dan kehidupan di Finland
    Terimakasih 🙂

  23. disini gw perhatiin juga kalau imigran Afganistan itu lebih warm dan sopan dibanding imigran dari negara lain, terus raut muka nya cakep2 banget.

    1. yang terakhir: cakep-cakep….ini bener banget. Anak-anaknya ampuuunnn, ganteng dan cantik2 amat kaya malaikat

  24. […] perkataan tersebut keluar dari mulut si cantik Sabina.  Yang pertama berhubungan dengan dua anak anggota geng PBB, sebut saja Mawar dan Melati, yang […]

  25. helena · · Reply

    hiks pengen pindah ke Finland jg.
    salam kenal mb Rika, ak silent reader selama ini, blog mb benar2 seru, i love it
    hehehee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: