tanpa bermaksud jadi nazi bahasa….

Gue agak gemes kalo dapet tiga komen berikut:

1. Anaknya pinter, deh, Bahasa Indonesianya. Masih kecil sih,  yaaaa, coba nanti kalo udah sekolah….lupa deh pasti. Anak saya juga gitu, tuh.

2. Saya ngomong bahasa Indonesia, kok, sama anak tapi tetep, tuh, anaknya cuma bisa ngomong bahasa sini.

3. Saya juga ngomong bahasa Indonesia tapi anaknya cuma mau jawab pake bahasa sini.

Khusus untuk komen pertama pengennya sih kasih bogem melayang ke pintu, jendela atau meja (tapi cukup dalam hati aja). Abisnya kesel,sih. Bukannya mendukung kok malah bikin nyali ciut. Kalo situ gagal mem-bahasa-Indonesia-kan anaknya bukan berarti saya bakalan gagal juga dong.

Untuk komen ke dua. Berdasarkan observasi kecil-kecilan gue, kebanyakan ortu yang merasa berbahasa Indonesia dengan anaknya, gak selalu melakukannya dengan benar, dalam artian…mereka suka ngomong pake bahasa campur-campur. Udah pernah gue jelaskan ya di tulisan dulu-dulu, kalau mencampur-campurkan bahasa menghambat proses belajar anak. Bocahnya jadi sulit membedakan mana yang bahasa Indonesia mana yang bahasa Finlandia. Akhirnya dia pilih ngomong pakai kosa kata yang dia tau aja.

Mencampur-campurkan bahasa begini juga memberi persepsi pada anak (yang sudah lebih besar dan sudah bisa membedakan bahasa) “Ooohh…ibuku bisa kok bahasa Finlandia. Tuh, kosa katanya banyak yang pake Suomi. Ya udah…aku ngomong pake bahasa sini aja lah, toh dia ngerti”

Belajar bahasa di usia sangat dini memang katanya gampang, tapi tetap butuh effort buat bocah-bocah cilik itu. Tiap kali berhadapan sama orang mereka harus berpikir bahasa mana yang harus dipakai. Jadi, ya, memang pemakaian satu bahasa aja lebih gampang dan tentunya anak cenderung pilih yang gampang-gampang aja.

Reaksi gue untuk komen yang ke tiga: bikin anakmu berbicara dalam bahasa Indonesia! Gue mendukung sepenuhnya gentle parenting, prinsip anak tidak boleh dipaksa dan yang lain-lainnya itu. Tapi tetep dong, ah, sebagai orang tua kita harus tau mana yang terbaik buat anak ketika mereka masih di usia piyik-piyik begini. Kalo mereka gak mau ngomong bahasa Indonesia, then YOU MAKE THEM DO IT! Period.

Berhubungan dengan komen ke dua, kalau kita menerima anak merespon pembicaraan dengan bahasa lain si anak bisa mendeteksi kalau sebenarnya kita mengerti bahasa tersebut. Karena itu ngapain doi susah-susah ngomong dua bahasa kalo toh satu bahasa aja sudah cukup buat emak dan bapaknya.

Berdasarkan pengalaman sendiri, di awal-awal belajar ngomong, dua anak gue cenderung aktif di satu bahasa dulu, baru bahasa lainnya menyusul. Jadi kadang mereka suka menuntut gue untuk mengerti apa yang mereka ucapkan walaupun yang mereka pakai bukan bahasa Indonesia. Kalo udah begini ya harus gue paksa mereka untuk ngomong dalam bahasa Indonesia.

Caranya gak harus dalam bentuk pemaksaan kasar, kok. Semakin kecil usia anaknya semakin gampang diajak berbicara dua bahasa. Gak banyak gontok-gontokannya.

Misalnya aja saat ini Sami sering ngomong:

“Sami jadi haua…hau..hau”

“Sami jadi apa?”

“Haua”

“Apa? Bahasa Indonesianya apa? Äiti gak ngerti”

“Ehhmmm….ehhmm…anjing!”

“Pinteeeer”

Di lain kesempatan ada kalanya Sami gak bisa menemukan padanan kata dalam bahasa Indonesia, tentu aja di sini gue bisa kasih bantuan

“Haua itu bahasa Indonesianya Anjing. Coba Sami bilang…Aaaan…Jiiing”

Contoh lain…kadang Kai bercerita tentang orang lain dalam bahasa Finlandia ke gue.

“Äitiiiiii….tadi Kai di kereta trus ada kondektur trus Kai bilang ke kondekturnya ‘Anteeksi, saisinko lipun?'”

Suka gue bertanya kepada Kai “Artinya apa itu? Äiti gak ngerti. Bahasa Indonesia dong”

“Aku tadi bilang ke kondektur ‘Maaf, aku mau tiket'” Kai kemudian menyebut terjemahan Indonesianya.

Kadang Kai suka sebel sih “Ya aku tadi bilangnya begituuuu…suomeksi. Kondekturnya gak bisa bahasa Indonesia”. Kalo udah begini gue menyerah, seandainya gue memang mengerti apa yang diucapkan Kai ke pak kondektur. Tapi suka juga Kai cerita percakapan panjang yang gue gak nangkep artinya, di kasus seperti ini gue lebih keukeh supaya Kai bisa mengucapkannya dalam bahasa Indonesia.

Sebenernya masalah ‘maksa’ anak untuk berbahasa Indonesia ke gue (dan bahasa Finlandia ke Mikko) gak pernah berat-berat amat buat gue dan Mikko. Mungkin karena sejak, crot, keluar dari perut mereka sudah terbiasa mendegar kami berbicara dalam dua bahasa berbeda. Sekarang mereka ngerti betul kemana harus bahasa Indonesia kemana harus Finlandia. Proses pembelajarannya lumayan mulus.

Tapi gue tau ada keluarga yang mulai mengenalkan bahasa kedua buat si anak di usia yang udah lebih besar. Mungkin 3-4 tahun. Ini tantangannya lebih berat. Si anak suka protes, kenapa ibu (atau bapak) yang tadinya cas cis cus pake bahasa tertentu tau-tau ngomong pake bahasa planet. Dari yang gue baca-baca sih seharusnya proses pengenalan bahasa baru tersebut dijalankan terus dengan konsisten, jangan menyerah pada kemauan anak. Tapi di sini gue gak bisa kasih komentar sampai sejauh mana proses pengenalan bin pemaksaan ini bisa dilakukan. Kalo anaknya nangis gerung2 lantas ortunya harus begimana? Sebaiknya tanya sama yang lebih ahli deh, ya.

Berikut gue tuliskan contoh-contoh pembicaraan yang kayanya sih kurang sempurna dalam proses pembelajaran dua bahasa. Sebagai catatan, percakapan seperti ini sering gue dengar di sini (Finlandia) dan juga di Indonesia, dalam artian mencampurkan bahasa Indonesia dengan Inggris atau bahasa lain (Jerman dan Jepang misalnya). Di sini gue kasih contohnya dalam bahasa Finlandia dan Indonesia saja karena memang seperti itu yang gue alami.

#1

Anak: “Liaaaat…Liaaaat….kiisaaa…kiiiisaaaaa”

Ortu: “Oh…kissa. Iyaaa, ada kissa ya. Kissanya lagi ngapain ya?”

Respon seperti ini menghambat anak belajar kosa kata bahasa Indonesia sekaligus juga suatu bentuk pembiaran mencampurkan bahasa. Kalau menurut gue respon ortu akan lebih tepat seperti ini

“Ohh….kissa. Bahasa Indonesianya kucing, nak. Itu kucing. Kucingnya lagi ngapain ya?”

#2

Ortu: “Äiti lagi di telepon. Odota vähän”

Ini satu lagi contoh pencampuran bahasa yang kerap terjadi tanpa sadar oleh pihak ortu.  Walaupun kadang ada juga, sih, yang memang sengaja campur-campur gini. Menurut gue lebih baik kalo ortunya ngomong:

“Äiti lagi di telepon. Tunggu sebentar”

#3.

Ortu: “Udah malem, Ayo tidur”

Anak: “En haluuuu. Halun leikki vielä”

Ortu: “Udah cukup mainnya. Besok lagi”

Anak: “Minä nukun joo. En halu enää”

Ortu: “Ya itu kan tadi tidur siang. Sekarang tidur malem”

Di sini ortunya berbahasa Indonesia dengan cukup baik tapi membiarkan anaknya merespon dalam bahasa Finlandia sekaligus doi menunjukkan kalau dia mengerti apa yang diucapkan anaknya. Percakapan tetap terjadi dengan lancar, anak dan ortu bisa saling mengerti walaupun masing-masing punya bahasa sendiri. Kalo udah begini anak jadi males ngomong Indonesia ke ortu. Toh pake bahasa Finlandia aja cukup kok.

Harusnya ortu bisa membuat anak mengutarakan maksudnya dalam bahasa Indonesia, menolak untuk menerima respon anak dalam bahasa lain, atauuu…paling gak mengulang/megkoreksi ucapan anak dalam versi bahasa Indonesianya.

Ortu: “Udah malem, Ayo tidur”

Anak: “En haluuuu. Halun leikki vielä”

Ortu: “Bilangnya ‘Gak mau. Masih mau main'”

atau

Ortu: “Pake bahasa Indonesia kalau ngomong sama äiti!”

Biar percakapan antara anak dan ortu di atas bisa kurang lebih seperti ini:

Ortu: “Udah malem, Ayo tidur”

Anak: “Gak mau. Masih mau main”

Ortu: “Udah cukup mainnya. Besok lagi”

Anak: “Aku udah tidur tadi. Gak mau lagi”

Ortu: “Ya itu kan tadi tidur siang. Sekarang tidur malem”

Ini contoh-contoh sederhana aja dan kesannya sepele. Tapi bayangin kalo yang kaya gini terjadi setiap hari, di setiap percakapan. Ya lama-lama anak enggan berbahasa Indonesia. Inget aja anak pasti nyari yang gampang. Kalo satu bahasa cukup kenapa harus dua?

Kembali ke prinsip pengajaran bilingualisme (atu multilingualisme), kuncinya adalah konsistensi. Pencampuran bahasa is a big no no. Termasuk juga penggunaan bahasa di luar konteks/wadah yang sudah ditetapkan. Konteks dan wadahnya tersebut kita yang bentuk sendiri.

Buat yang seperti gue, yang ber-OPOL, äiti jadi wadah berbahasa Indonesia sementara isi konsisten berbahasa Finlandia. Buat yang ayah ibu sesama Indonesia tapi anak berbahasa Finlandia di sekolah, ya begitu di rumah tunjukkan pada anak kalau sama ortu harus ngomong Indonesia. Atau buat yang di Indonesia tapi anaknya belajar di sekolah internasional. Anak sudah seharian bahasa Inggris di sekolah, jadikan rumah wadah untuk dia berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Sungguh bikin miris liat trend di Jakarta masa kini, dimana anak Indonesia, dengan bapak-ibu Indonesia asli, tapi gak bisa berbahasa Indonesia. Bagi gue ini bentuk kegagalan, bukan sebuah kesuksesan.

Kenapa orang Indonesia harus berbahasa Indonesia? Duuhh…males kalo ngebahas panjang-panjang di sini ya. Udah pada tau sendiri lah ya harusnya. Susah boook, hidup di suatu negara kalo gak bisa bahasanya. Bahasa Inggris memang penting, tapi bahasa lokal lebih penting lagi.

Seperti sekarang ini susah buat gue menggembar-gemborkan kemampuan Inggris gue (errr…yang kagak seberapa sih) kalo bahasa sini masih cengok. Pada akhirnya, dalam hal mencari kerja, gue akan kalah sama mereka-mereka yang lancar berbahasa sini. Jadi pendatang tuh susah, jendral! Harus bisa melawan segala macam stereotype dan prasangka. Bakalan tambah susah lagi kalo gak bisa bahasa lokal.

Apalagi kalo penduduk asli tapi gak bisa bahasanya, yaaaaaa….Ampun daaaaaaaah.

Buat yang membesarkan anak di luar negri..well,…gue pribadi sih selalu bertanya-tanya “sampai kapan gue di sini?” “kapan gue balik ke Indonesia?” atau “bagaimana kalo harus balik ke Indonesia?”

Nah…gimana tuh? Kalau ternyata kenyataan membuat kita harus kembali ke ibu pertiwi? Apa gak lebih baik anaknya disiapkan untuk bisa berjuang di medan laga? Salah satunya ya ngajarin bahasa Indonesia. Izin tinggal bisa expired atau tidak diperpanjang. Kontrak kerja bisa dihentikan secara sepihak. Pernikahan bisa berakhir dengan perceraian. Atau tiba-tiba dipanggil Presiden jadi mentri. Sebagai WNI harus ingat bahwa selalu ada kemungkinan untuk kembali ke Indonesia. Sekali lagi: Ajarkan anakmu berbahasa Indonesia!

Buat yang tinggal di luar negri, nikah sama WNA, udah jadi PR, atau mungkin udah ganti paspor, pokonya kemungkinan untuk balik ke Indo keciiiiiil banget. Tetap gak ada salahnya loh ngajarin bahasa Indonesia. Toh di Indo masih kakek-nenek, paman-bibi, om-tante, sepupu dan lain-lainnya yang juga merupakan bagian dari keluarga besar si anak. Susah kan mau akrab dengan keluaga sendiri kalo bahasanya beda.

Seluruh keluarga besar, sampe supir dan tukang cuci faseh bahasa Inggris/Jerman/Perancis dsb? Teteeeeeeup….ajarkan bahasa Indonesia untuk anak. Akan ada masanya si anak bertanya-tanya tentang asal-usulnya, akar budayanya.  Mungkin sekedar ingin menjelajahi negri asal orang tuanya? Atau malah ingin cari kerja di Indonesia? Semua akan lebih mudah dilakukan kalau bisa berbahasa Indonesia.

Kalau semua alasan-alasan tersebut masih dirasa kurang valid, inget aja pepatah “dua lebih baik daripada satu”. Kalau memang ada kemungkinan mengajarkan dua bahasa, instead of one (atau malah lebih dari dua) ya kenapa tidak dilakukan? Banyak riset yang membuktikan orang-orang bilingual/multilingual memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi, kemampuan berpikir kritisnya lebih terasah, dan juga lebih unggul dalam mempelajari bahasa baru.

Berdasarkan pengalaman gue tinggal di beberapa negara dan bertemu dengan banyak sekali pelaku bilingual dan multilingualisme (This is Europe after all, banyak beneeeer yang bisa bermacam-macam bahasa sekaligus di sini). Gak ada satupun yang menyesali bahasa yang mereka akuisisi dari ibu atau bapaknya. Mereka malah berterima kasih banget karena ortu mereka ngotot ngajarin dua bahasa. Yang sering gue denger malah penyesalan

“Yeaaahh…it’s such a shame I don’t speak Japanese. My father spoke really good German, and since my mom is German he thought it was easier for us to speak in just one language. Now we all regretted that decision.”

atau

“I loveeeeee Thailand. I love the food, the beaches,the sun. I wish I could live there. Too bad I don’t speak the language although my mom is Thai”

Nah….yang kaya beginian malah seriiiiiiing banget gue denger. Jadi gue yakin, kalau konsisten mengajarkan anak bahasa ibu mereka, your kid will thank you later.

Gue gak memungkiri sih kalau pembalajaran bahasa juga terkait sama kemampuan anaknya. Misalnya aja di rumah gue ini. Kai terlihat lebih piawai dalam hal bahasa dibanding Sami. Sampai saat ini kemampuan bahasa Indonesia dan Finlandia Sami cukup berimbang, tapi jumlah kosa kata, panjang kalimat dan pelafalannya masih kalah sama Kai di usia yang sama.

Kemampuan anak dalam berbahasa memang beda-beda, gak semua anak bakal super excellent dalam belajar dua, tiga, atau empat bahasa sekaligus. Lha, yang belajar cuma satu bahasa aja bisa beda tingkat kelancarannya. Tapi paling gak sebagai orang tua kita udah usaha yang terbaik. Biar gak ada penyesalan dikemudian hari.

Ini cuma sekedar cuap-cuap dari seorang ibu yang ingin anaknya puas bermain-main setiap mudik ke BSD. Bisa becanda sama oma, opa, om remi. Bisa ngobrol sama tukang delman. Bisa bayar belanjaan di kasir. Bisa begaul sama anak-anak di taman kompleks. Nanti udah besar mungkin bisa dengan mudah jalan-jalan ke pedalaman Indonesia sendiri.

Keinginan gue juga gak muluk-muluk banget. Gue sadar betul bahasa Indonesia, biarpun secara gramatikal termasuk gampang, tapi susah juga kalo mikirin perbedaan bahasa lisan dan tulisan yang bisa beda jauuuuuuh. Saat ini gue fokus anak-anak bisa bahasa lisan aja (alias non-formal). Gak sanggup aku, rek, ngajarin EYD. Untungnya di Helsinki ada kurikulum pengajaran bahasa ibu untuk orang asing, termasuk juga bahasa Indonesia, walaupun jamnya sedikit. Sayangnya di Kerava belon ada. Jadi sekarang gue lagi mecut-mecut suami biar makin giat kerja. Ayo kita beli rumah di Helsinki. Cetaaaaaaar!

Advertisements

90 comments

  1. Setuju, walau susah, anak mesti bisa bahasa ibu :-). Memang ngga gampang untuk ngajarin bahasa Indonesia yang formal. Selama ini nyoba ngenalin bahasa Indonesia formal via buku cerita anak , lewat lagu anak-anak, dan program jalan sesama dan diceknya dengan minta dia menulis kartu pos buat para sepupu dan eyang-eyangnya. Sejauh ini belum begitu kelihatan hasilnya, anak saya masih belum bisa membedakan mana yang formal mana yang bukan, mudah-mudahan seiring waktu bisa sukses.

    1. Gile feliiiis. Keren amat, udah sampai tahap pengajaran bahasa formal. Gue masih gak tau gimana harus ngajarinnya ke anak2. Pengennya bergantung ke sekolah aja, tapi kayanya ya gak cukup.
      Menurut gue penguasaan bahasa formal juga penting kalo kita mau cari kerja di Indo.

      Btw…sekalian tulis di sini ya. Mau terimakasih banget-banget-banget untuk resep rendangnya. Gue sukses masak rendang pake dutch oven. OMG!!! Pertama kalinya sukses bikin rendang. Dan gak pake capek biarpun harus nunggu lamaaaa di oven (total 4,5jam)

  2. wah hebat deh…kekonsistensian itu yang suka susah
    tapi baca cerita kai dan sama kayaknya bakalan fasih bahasa indonesianya yah 🙂

    1. mudah-mudahan yaaaa
      agak deg-degan juga nih misi ini gagal di tengah jalan

  3. Rika, ini lagi cemas sebenernya, karena sebenernya ngga tahu gimana caranya ngajarin bahasa ke anak dengan benar dan menarik.

    Bener banget Rika, nasib siapa yang tahu, mungkin saja nanti anak kita kepengen tinggal dan kerja di Indonesia.

    Sama-sama Rika :-).

    1. Kok sama felis….gue pun selalu cemas. Sama juga selalu merasa clueless gimana caranya ngajarin anak bahasa apalagi nanti semakin mereka tambah besar. Sekarang sih memang progressnya cukup membahagiakan, tapi semakin besar kan masalahnya juga semakin nambah. Belon lagi masalah bahasa formalnya. Duuuhhh…banyak deh yang bikin deg-degan.

  4. gue ga tau udh berapa kali gue nulis ini ke elo ya (atau jangan2 belom pernah? maafkan kalo gue pikun, hihih!), tapi dari bertaun2 lalu (jaman masih di MP) tulisan lo soal ngajarin bahasa ibu ke anak tuh jadi inspirasi besaaaaar bagi gue. 🙂 dan gue seneng banget ngeliat betapa suksesnya pengajaran lo ke anak2 lo, duh, you are my idol deh pokoknya!

    walopun gue sendiri belom beranak pinak, tapi gue udah wanti2 ke suami, bahwa gue bakalan ngomong ke anak gue nanti pake bhs Indonesia, dan mencoba sebisa gue untuk konsisten kyk lo. gue yakin bahwa bakalan susah, tapi kan ini semua buat kebaikan sang anak, bukankah begitu? hehehe… sama kyk lo, gue juga pejunjung tinggi bhs Indonesia.

    jadi intinya, gue justru mo berterima kasih karena lo udh berhasil menginspirasi gue, dan menurut gue sih org Indonesia memang butuh nazi2 bahasa seperti lo. 😉 yaa, teruskan usahamu ngajarin Kai & Sami berbahasa Indonesia! tsemppiä!

    1. awwwww puni
      gue jadi deg-degan nih dipuji gini. Kalo ternyata gue gagal nanti gimana? Gue masih suka deg-degan kalo mikir nanti anak2 makin besar, udah masuk sekolah, apa bener bahasa indonesianya suka terjaga? Gimana nanti gue menghadapi penolakan bahasa? Apakah bisa tabah dan tetap konsisten?
      Doakan akuuuuuuu

  5. Rikaaaaaa.. Gw udah bertekad bulat kalo nanti mibe lahir mau mulai aktif ngomong 2 bahasa. Dari skrg masih diperut juga udh mulai sih.. Gw selalu ngomong pake bhs Indo, bapaknya swedia, tapi kadang teteup suka kecampur2 juga >___<

    Dan sama kayak lo, tujuan gw ngajarin Mibe bhs Indo demi bisa ngob sama keluarga di Indo. Kesian nanti dia kalo liburan trus cuma bisa cengo2 doang, ga bisa ngobrol sama siapa2.. Emang ada bahasa inggris, tapi yaaa.. Aneh aja bagi gw..

    1. Ayo bebeeeeeee….usahakan supaya jangan campur2. Kalo nyampurnya sedikiiit sih gpp be. Kadang kan emang ada beberapa kata yang susah cari padanannya di bahasa lain. Untuk urusan permobilan dan berbagai macam alat bangunan juga gue pake istilah sini.

  6. Rikaaa, aku belon punya anak tapi aku setuju banget sama niat kamu supaya anak2 tetep bisa bahasa Indonesia selain bahasa yang laennya kan ya 🙂 . Semangat ya Rikaaa

    1. Kamu lebih beruntung Noni. Tinggal dimana pun kayanya resources berbahasa inggris banyak. Di sini susah banget cari buku bahasa Indonesia. Sama juga, kalo lagi di Indo, susah nemuin bahan2 bahasa Finlandia

  7. Pas gue masih di Vienna sih selalu bahasa Indo ‘Rik, tapi sejak gue menclok di Jakarta lagi, akhirnya disetujuin bahwa gue switch ke Jerman karena kan semua org udah ngomong Indo, sementara frekwensi Saif skypean sm suami kan max. 2 jam sehari yg mana minim buat ngembangin Jermannya. Jadilah gue cuss ke bhs Jerman..

    Nah tantangan gue sekarang itu gmn ngebiasain pembantu dan termasuk nyokap gue sendiri untuk ngomong bhs Indo yang baik dengan Saif, secara tata bahasa. Kayak misalnya mbak gue bilang “Nompang ya, Saif” kalo dia lagi nyapu dan nyuruh Saif ke pinggir dulu..
    Itu kan padahal katanya kan bukan “Nompang” atau “numpang” atau “menumpang” tapi “PERMISI” kan harusnya. Aahahahahahahaha..

    Gue lebih nazi lagi Rik, jadi yang begitu bikin gue stress juga secara Saif terbiasa bilang tidak instead of nggak, dan kata kata baku yang lain. Biar anak gue ntr gedenya bisa menulis karya ilmiah pake bahasa Indo juga *ibu ibu sok terencana*
    Trus sekarang jadi sedikit bubar jalan gitu hadoooh..
    Btw gak sabar rasanya nunggu suami gue dateng, biar seimbang gak dari gue aja yg bahasa Jerman. But well ternyata mertua gue yang udah booked tiket duluan, jadi bahasa Urdu kyknya motong antrian hahaha..

    1. Amy, lo kaya burung kakak tua, suka menclok-menclok.

      Kalo lagi jauhan gitu emang suka bingung ya. Pas liburan di Indo anak2 lupa aja loh sama bahasa sini. Walaupun pas balik sini cepet banget recovernya.
      Gue juga kepikiran nih soal bahasa formal. Tapi males banget mulainya. Aku berasa jadi ibu guru ngomong sama muridnya, hehehehehhe. Pengennya sih serahin ke sekolah aja. Gue pun pengennya kaya elo, mereka juga bisa bahasa formal sampai tahap bisa kuliah dan nulis thesis dalam bahasa Indonesia. Kali2 kan mereka pengen kul atau kerja di Indo?

      Kalo di rumah nyokap gue lain lagi masalahnya, My. Kalo anak2 keluar bahasa Suominya orang satu rumah suka ikut2an. Malah suka nyampur2in bahasa kalo ngomong ke Kai dan Sami. Lhaaa…gue jadi pusing.

  8. Soalnya orang indo itu suka males repot Rik (tunjuk diri sendiri). Anakku malah blom bisa bhs inggris inih.

    1. ya sama nop. kai dan sami juga belon bisa english. Ntar aja nanti belajar di sekolah.

  9. Setuju dan gue dukung penuh Sami dan Kai berbahasa Indonesia. Temen gue pernah cerita, dulu temen TK anaknya di Bandung berbahasa Indonesia sm ibunya, Inggris sama bapaknya, dan Cina sama neneknya. Karena mereka konsisten, si anak tau harus pake bahasa apa ke siapa, ga kecampur, dan switch language dia cepet.
    Gue sendiri kalo ngomong sama anak-anaknya temen-temen gue masih campur, sampai suatu hari di Bandung salah satu nenek mereka cerita, pengen ngobrol sama cucunya yang besar, tapi si cucu ga bisa jawab pake bahasa Indonesia. Jleb! Gue ngerasa bersalah! 😦

    Semangat Rik, lo pasti berhasil membahasa Indonesiakan mereka 🙂

    1. Ajeeeeeeng…alasan utama gue ngajarin anak2 bahasa Indonesia ya supaya mereka bisa akrab sama nyokap bokap gue. Gak kebayang sedihnya ortu gue kalo gak bisa ngomong sama cucu sendiri. Bayanginnya aja gue sedih banget. Kasian anaknya juga kan jadi berasa gak punya kakek nenek dong nanti kalo gak bisa akrab

  10. RIKAAAAA… suka banget sama tulisan ini, dan bener, sama kayak elu, gue sebel setengah mati sama orang Indonesia yang BANGGA kalau anaknya gak bisa bahasa Indonesia, dan malah maksa nyari pengasuh dan pembantu yang bisa ngomong bahasa Inggris. CAPE DEH! Terus ngomong sama kakek neneknya pake bahasa apa donk? PLANET?

    1. Itu dia Le. Kegagalan berbahas Indonesia kan bukan sesuatu yang dibanggakan ya? Tapi seperti artikel yang dishare Ira, sekarang ini banyak yang nganggep bahasa indonesia itu second class. CAPE DEH!

  11. aduh rika, gw jadi bersyukur punya suami orang Jawa #eh
    wkwkkwkw.. kidding…

    asli ini tulisan keren deh mesti gw kasih ke temen2 gw yang tinggal di luar.
    Sepupu gw alhamdulillahnya kaya lo gitu jadi pas dateng ke Indonesia ya ngmgnya pure bahasa Indonesia, karena dia tau ini Indonesia lingkungannya ngmg bahasa itu ya ya pake bahasa itu.

    1. HWAUHAUHAUHAUHUAUA
      untung jawaaaaa!!!
      komen lo juara deh li.

  12. Masih kecil sih, yaaaa, coba nanti kalo udah sekolah….lupa deh pasti.

    >> yaaah dari awal doanya udah begitu 😆 . ucapan adalah doa. makanya mending optimis aja, apalagi kalo ngomentarin idup orang 😀 😀

  13. tulisannya bagus mbak Rika 😀
    jadi ingat ada temenku, anaknya dari kecil dibiasain ngomong jerman ke bapaknya, indonesia ke ibunya, dan inggris di sekolah dari pas di jakarta ampe mereka di korea sini, dan diajak ngomong 3 bahasa itu lancar2 aja, kata ibunya emang harus konsisten 😀
    walaupun kalo anak ini suka bingung ngomong indonesianya, pasti nanya dulu ke ibunya

    1. makasih qonita
      si anak itu jadi trilingual dong ya. Apa malah sekarang tambah bisa bahasa korea? Kereeeen deh.
      Memang kuncinya di konsistensi.

      1. bahasa korea bisa dikit2, soalnya anaknya ikut kelas taekwondo ama dilesin piano ke orang korea 😀 tp belum ada rencana dibagusin gtu koreanya ama temen

  14. kuncinya parenting itu emang konsisten, konsisten, konsisten yah…cuman ternyata konsisten itu susaaaahhh bener…salut ih bisa konsisten OPOL, semoga aku bisa meniru…salam kenal ya…

    1. Halo Dwi…salam kenal juga yaaa
      pas baca alamat blognya kok kerasa familiar ya…ternyata dulu gue pernah baca blog lo. Kayanya gara2 pembahasa soal ITB deh, hihihihihih.
      Dulu pas di Jerman gue kenal banyak ITB dan salah satunya ada yg kenal elo. Makanya nama lo kok kaya familiar.

      1. Pembahasan tentang ITB yang katanya banyak lulusannya ngerasa hebat itu yah? hihihi…temen lo siapa? small world yah…

        1. hihhi, waktu itu gue sempet ngegoogle tentang lulusan itb gara2 heboh tulisan ttg alumni itb yang ditulis sama seorang headhunter itu loh

  15. Rika, salam kenal, gue biasanya jadi silent reader. Enw gue dukung untuk tetap mengajarkan multibahasa ke anak-anak Rika. Gue dulu ikut ortu sekolah, meski mmg sudah fasih Bahasa Indonesia dulu, tapi ortu gue tetap “memaksa” gue pakai bahasa Indonesia di rumah dan ke sesama orang Indonesia, pakai Bahasa Perancis di luar rumah dan di sekolah. Gue beruntung dg itu krn pas balik ke Indonesia, gak terlalu punya kendala bahasa dan malah mudah belajar bahasa lainnya. Gue suka sama tulisan ini, karena tahun ini anak gue bakal masuk sekolah berbahasa Inggris, gue lagi menimbang metode apa yg bakal gue praktekkan karena gue juga gak mau anak2x belajar bahasa campur-campur gak jelas juga.

    1. Salam kenal Tya. Gue pernah baca blognya. Inget jurnal tetang Paris 2013nya. Trus agak2 sirik pas tau lo lancar cas cis cus bahasa perancis. Sekolah di sana pula. Gue ini memendam kekaguman khusus deh sama orang yang lancar berbahasa asing. Mungkin karena diri ini kok ya gak berbakat amat dalam hal bahasa.

      Little Miss Koala udah mau sekolah ya? Dengan ortu kaya elo gue yakin baik inggris dan indonesianya bakal lancar.

      1. Salam kenal Rika, gue malah kagum Rika bisa survive di negara dingin, yg bahasanya beda jauh. Izin ya sering baca blog Rika, gue suka krn apa adanya ttg hidup di luar negeri. Semoga Kai dan Sami sukses dg bahasa Indonesianya.

        1. Hehehehe. Pake izin segala tyaa…
          sok aja atuuuh
          salam kenal juga yaa

  16. Temenku ada yg sejak menikah ikutan suaminya ke Australia. Melahirkan empat anak di sana, dan masih bisa ngobrol bahasa Indonesia + Jawa sekeluarga, hahaha… Seru. Kuncinya emang musti konsisten sih ya.

    1. Temenmu itu apakah Astri Nugraha? Australia. Anak empat.
      Hehehehehhehe

  17. anak gw bukan anak ente (lah, kecampur bahasa arab).
    jangan seenaknya nyamain duonk…
    anak gw pasti bisa 2 bahasa (3 kalo perlu, sama bahasa batak. hehehe).

    Bilang gitu aja tiap kali ada yg komen seperti komen pertama.
    Ato cuek bebek kwek-kwek gak usah dipikir tu komen gak enak n tetep konsisten ngomong bahasa indonesia.

    Lagipula bahasa Indonesia tidak serumit bahasa daerah yg punya ratusan dialek ^_^

    1. huwahuhauhauhuaa
      nasib ane belon tentu sama kaya ente.

      Biasanya sih gue pili cuek bebek biarpun dalam hati ya agak ketir juga. Kan deg-degan bok di”takut2″ in gitu. Takut kena tulah nih gue, gimana nanti kalo beneran anak gue melupakan bahasa indonya pas udah besar?

  18. BRAVO!!! Hebat Rikaaa… Konsisten itu yang paling penting. Nggak usah panjang-panjang, gue setuju sama semua yang ditulis disiniii. Masuk akal semua.

    1. Makasih, Lei. Kalo soal ini lumayan bisa konsisten, tapi kalo soal lainnya….deuuu ke laut semua. Toilet training? Sleep training? Makan sehat? Gak ada konsistennya blas

  19. mbak rika, silent reader ini, hihihi..
    salut deh sama mbak rika yang kekeuh bin konsisten ngajarin bahasa indonesia ke duo ganteng ini.
    kalo duo ganteng ini masih suka nyampur2 dua bahasa, itu sebenarnya wajar banget. kl dari psycholinguistics & sociolinguistics *ini sambil nginget2 materi kuliah akik yg super cetek dulu, namanya code mixing ya. sebenarnya wajar untuk early bilingual speaker, termasuk duo ganteng. tapi yg namanya wajar, bukan berarti boleh diteruskan ya. ntar kalo ga dibenerin jadinya kayak presiden kita mbak, suka bener sama yg namanya code switching 😀
    sepuluh jempol deh sama konsistensi mbak rika! 😉

    1. Halo santiiii. Anak2 gue pas baru belajar ngomong juga campur-campur kok, makin ke sini baru deh makin bisa membedakan mana yang indo mana yang suomi.
      Dan aku setuju, biarpun wajar bukan berarti dibolehkan. Sekarang sih lucu ya, tapi nanti kalo udah gede ngomongnya masih gitu ya kan gak lucu lagi

  20. Halo rika, slm ini silent reader.. tp yg ini mau komentar bagus postnya, konsisten terus ya.. n memang kadang kalo dilihat banyak orang indo yg justru pengennya ngomong lbh sdkt bhs indo ke anak.. pdhl anak2 bisa nyerap banyak bahasa, contohnya kami terutama sih adikku dr kecil ikut ortu keluar yg berbahasa perancis n arab, tp dirumah ttp bahasa indo,plg ke indo jg walopun masuk sekolahnya skolah int’l prancis,n belajar jg bahasa spanyol, tp bhs indo tetep nmr 1,n tau kalo ngobrol sm tmn skolahnya pake prancis,bbrp spanyol,sm keluarga pk bhs indo,n kdg sm nenek pake bhs sunda dikit2..

    1. waaaah…terus kamu bisa bahasa indo, perancis, spanyol dan arab? Inggris juga?
      Ampuuuuun…aku mau sembah dijeeeeee. Aku iriiii sama yang bisa banyak bahasa begini.

      satu lagi yang gue rasa salah di indo adalah: orang asing gak dituntut untuk bisa bahasa indo. Coba liat berapa banyak expat yang tinggal bertahun2 di indo tapi tetep gak bisa ngomong indo. Dan bagi kita itu mah oke2 aja. Sementara di sini (dan banyak negara lainnya juga gue rasa) kalo lo udah tercatat sebagai penduduk ya harus belajar bahasanya dong. Gue udah malu banget ngaku tinggal sini udah 4 tahun tapi masih belon bisa ngomong bahasanya. Langsugn dapet kerutan deh dari yagn denger.

  21. Gue sukaaaa sama postingan ini Rik. Soale mungkin kalo gue dapet laki bulai pun, gue bakal keukeuh sumeukeuh ngajarin anak kita bahasa Indonesia kayaklo. Untung dapet laki lokal, jadi gak rempong deh.

    Makanya gue suka heran sama ortu yang bangga banget dan ngobrol sama anak-anaknya dalam bahasa asing, padahal kulitnya sawo matang, hidungnya pesek, kagak ada bulai-bulainya. Mending kalo indo kayak Cincha Lawrah, lah kalo lokal 100% tapi gak bisa bahasa Indonesia kan aneh banget. Gimana bisa berkomunikasi sama kakek nenek dan teman-teman sekitar kalo gitu dong?

    Oh ya fenomena ortu Indonesia lebih milih berbahasa Inggris ke anak-anaknya bakan sampe diulas NYTimes lho. Ini nih artikelnya, bikin hati gue nelangsa deh 😦 -> http://www.nytimes.com/2010/07/26/world/asia/26indo.html?pagewanted=all%3Fsrc%3Dtp&smid=fb-share&_r=0

    1. buat gue gak repot2 amat kok ra. Namanya ngomong bahasa sendiri ya dimana repotnya. Paling capek pas bagian ngulang2 omongan aja sih.
      Kayanya ini karena gue emang gak lancar bahasa lain selain indo. Buat yang kemampuannya mencapai tahap bilingual (dalam english, suomi atau bahasa lainnya) apa mungkin lebih susah ya untuk strict ngomong di satu bahasa aja tanpa campur2?

      gue baca iraaaaaaaaaa artikel itu. Ada yang post di facebook.
      Dan gue gregetaaaaaaan….apalagi bagian yang bilang kalau bahasa indonesia acap dianggap sebagai second-class. Grrrrr

    2. ish kulit sawo matang idung pesek woii kalau kau lengkapin dengan PAKE KACAMATA itu kan akuuuuuhhhh hahahahahaTapi anakku bisa bahasa indonesia koook, bisaaaaa, beneraaaaan dikira mereka ngomong apa sama ompung ompungnyaa *eh pengennya sih sama ompungnya bahasa batak ahahaha*

      1. SONDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAANG!!!!!!!
        BWUAHAHAHAHAHHAHAHAHAHHAHAHAH

  22. setuju bener sama aiti yang satu ini! ga usah jauh2 rik ke finlandia, .. wong di singapur aja yang tinggal ngesot sama indo .. emak bapak indo tulen, lha anaknya ga bisa ngmg indo at all .. miris gw liatnyaaa .. terus kalo udah masih bisa cerita lagi kalo balik indo anaknya ga bisa ngmg sama sapa2 .. yakali loe kata anak loe doraemon yang bisa nguarin alat penterjemah serbaguna dari kantongya .. gemesh!!!! pengen gw uwel2 emaknyaaaaaaaaa …

    1. eh, pas di singapur gue banyak nemu indo keturunan cina yang lebih lancar ngomong english and cina (gak tau tepatnya dialek apa) daripada indonesia. Tapi ini bisa dipahami sih, dialek cina itu lebih jadi bahasa ibunya mereka ketimbang bahasa indo.

      tapi emang sih, yaaa…harusnya kalo baru sampe singapur doang tetep dijaga ya bahasa indonya, toh ke indo tinggal koprol, kan lebih enak kalo anak bisa bergaul di negara sendiri.

      di sana sekolah kasih nasehat buat menjaga bahasa ibu gak sih gi? kalo di sini sih iya, jadi gue lebih semangat ngomong indo ke anak2.

  23. sukaa,,print ah 😀

    1. makasiiiihhh

  24. Rikaaaa kenapa aku tak kenal kau di Multiplyyy duluuu? Errrr…aku pengen komen tapi panjaaaaaang eh sebenernya sih curhatos ya ihihihi nanti aku tulis aja kaliii yaaa, dan jurnal ini kurefer ya Eda sayaaang *tuih sok manggil eda* *dan aku udah punya utang dua tulisan yan mau kutulis karena terinspirasi orang huaaaa tunggu minggu ini ah yang bebas dikiiiit*

    1. lo multiply juga ya ndang?
      halaaaaaaaah
      memang kita berjodohnya di wordpress yaaaa

      gue jadi penasaran nih sama curhatosnyaaaaaa. Apakah yang kau orang ingin tuliskan?

  25. mbaaa aku punya kenalan, lucu banget deh. dia sama suaminya kalau di rumah ngobrol bahasa jawa sama anaknya. bahasa jawa yg halus gitu.. lucu banget :’D

    soalnya di sekolah anaknya udah ngobrol Indonesia-Inggris. mereka pengen anak-anaknya bisa bahasa daerah juga. :’D

    hasilnya, anak-anak mereka (yg gayanya gaya anak jakarta bgt), kalo di rumah jadi ‘ndeso’ 🙂

    -anti

    1. eh…kang dian yang di muenchen ngomong bahasa sunda loh sama anak2nya
      jadi anak2nya bisa sunda, indonesia dan jerman
      keren yaaaaaa

  26. Rika, aku suka banget tulisannya, dan dari dulu kaguuuum atas keberhasilan dirimu sejak memultibahasakan Kai

    1. makasih lulu

  27. semoga sukses ya Pelajaran Bahasanya Kai Dan Sammy…. smg jg cepet dapet rejeki biar bisa pindah ke helsinski…:)
    sudah ngikutin lama blognya dan selalu suka sm tulisan2 mbak rika…^_^

    1. makasih rheyyyy
      amiiinn…kalo udah sampe helsinki kontak2 aku yaaa

  28. di sini ga segitunya sih pemerintahnya, lebih ke arah terserah orang tua ajaa .. tapi gw sih suka kebawelan aja sama orang tua indo sok berkampanye kalo anak2 itu bisa diajarin berbagai macam bahasa dalam waktu bersamaan .. cuma mereka aja takutan! yaaaaa .. gw udah bertekad anak gw musti update sama gossip2 indo juga hahaha 😀

    1. nah, justru guru yang kaya elu gitu tuh gil yang harus dikembangbiakkan (LOH?), dicontoh maksudnyaaaa

      emang banyak yg takut sih anak bakal susah adaptasi masuk sekolah yang bahasanya belum mereka kenal. Padahal biasanya masa2 sulit ini cuma sebentar. Beberapa minggu or bulan aja palingan. Tapi kemampuan berbahasa kan buat seumur hidup

  29. Hihihi.. setujuuu. Btw Nyokap gw punya lidah (atau bakat ya) meniru berbagai bahasa dan logatnya, efeknya: dimanapun dia berada selalu dianggap orang lokal sana. Belanja juga jadi jauh lebih murah (penting!!).

    1. gileeee
      lihay banget nyokapnya
      sementara gue termasuk orang yang gak berbakat belajar bahasa. Mau pake inggris atau finlandia logatnya tetep indonesaaah

  30. Wah jujur aku baru nyadar pentingnya ngajarin bahasa Indonesia buat anak-anak :))
    Tadinya aku berpikir kalau sampai suami WNA, aku ga akan ajarin bahasa Indonesia. Cukup bahasa bapaknya + Inggris. Kalau agak besar biar dia ‘menentukan nasibnya sendiri’.

    Soalnya aku lihat ada temanku, suaminya orang Korea.
    Mereka tinggal di Indonesia, tapi anak-anak warga negara Korea dan nantinya bakal dikuliahin di Korea. Sekarang anaknya sekolah di sekolah internasional yang ngajarin bahasa Inggris + Mandarin. Menurut aku, kasian aja anaknya sampai bingung suka kebalik-balik. Jadi nilai pelajaran bahasanya itu jelek 😦
    Suaminya juga bahasa Indonesia-nya ga fasih, tapi temanku bisa ngobrol dalam bahasa Korea. Jadi anak lebih terdorong untuk ngomong bahasa Korea. Efeknya juga pas ketemu orang seperti aku, yang bahasa Korea-nya belepotan, dia ga berani ngomong.

    Aku mau nunjukin post ini ke temanku deh, mudah-mudahan dia terinspirasi utk keukeuh ngajarin bahasa Indonesia. Anaknya masih SD sih, dari sekarang ke kuliah masih lamaaa, susah keleus tinggal dimari tapi ga bisa bahasa Indonesia 😐

    1. Halo Prima

      Menurutku sayang banget ya anak temanmu itu. Walaupun udah disiapkan untuk kuliah di Korea tapi kan mereka hidup di Indo lama banget tuh ya. Masa gak bisa bahasa Indonesianya? Apalagi ibunya orang Indonesia. Jadi susah dong bergaul sama keluarga ibunya?
      Lagipula, yang namanya rencana kan belum tentu selalu kejadian ya. Maaf nih, bukannya mau nakut2in. Cuma…kalo misalnya aja nih gak jadi ke korea, atau anaknya tetap pengen di indonesia, kan susah dong dia kuliah di indo kalo ga bisa bahasanya?

      Cara tergampang belajar bahasa ya memang praktek langsung, makanya metode OPOL itu sebenernya gampang. Belajar bahasa di sekolah memang kadang lebih susah. Dan gak semua anak juga berbakat belajar bahasa, jadi wajar aja sih kalo pelajaran bahasa anaknya jelek. Susah juga ya belajar langsung dua bahasa di sekolah.

  31. Halo mba Rika,

    kenalin..saya asri, mahasiswa yang masih kelarin kuliah di Indo, saya suka deh baca postingan-postingannya Mba Rika, dibukuin aja mba cerita-cerita pengalamannya 😀

    1. halo asriiii
      dibukuin? waduuuu, ga berani. Kalo nulis iseng2 sih ok, tapi kalo nulisnya jadi keharusan malah macet otakku. Takut digorok sama publishernya.

  32. Manggut-manggut setuju baca baris per baris postingan ini…Eh, nanya dong Rik, sebagai pelaku OPOL, berdasarkan pengalaman, kalau misalnya waktu Kai dan Sami bicara sama orang Finlandia keluar kosa kata bahasa Indo, sementara saat itu cuma ada kamu dan gak ada Mikko, terus kamu jelaskan ke mereka kalau kosa kata tersebut bahasa Finlandianya apa, gitu? Anakku masih campur-campur, sering dia sebutin satu kosakata dalam dua bahasa, sering juga kebalik-balik, misalnya bilang bye-bye pas ketemu sama orang yang bicara Perancis, atau bilang dadah pas ketemu sama orang yang bicara Inggris (dia dapet Inggris juga di daycare-nya). Itu gimana ya? *maaf kepanjangan, jadi curhat deh*

    1. Dulu Kai juga gitu, Pungky. Kalo jalannya sama gue doang (tanpa Mikko), ngomongnya bahasa Indonesia terus. Lagi di kerata ngomong sama kondektur juga pake bahasa Indonesia. “Minta tiket”
      Gue selalu bilang ke dia “Sama kondekturnya ngomong bahasa Finlandia” Tapi umur segitu dia belom ngerti apa maksudnya “bahasa Finlandia” atau “bahasa Indo” jadi sambil gue kasih tau juga kalo sama kondektur ngomongnya “Saisinko lipun”

      Wajar banget sih menurut gue kalo diawal mereka suka kebalik2 bahasanya, atau campur2. Yang penting kitanya jangan bosen untuk selalu kasih contoh yang bener. Lama.lama anaknya ngerti sendiri.

  33. Halo Rika,
    Salam kenal ya, biasanya silent reader nih.
    Salam dari sesama pelaku OPOL . Kalo dari pengalaman gw sih (anak juga baru umur 3,5 tahun sih), emang kalo anak udah sekolah lebih susah, soalnya pengaruh sekolah lebih kuat. Apalagi kalo dia tau emaknya bisa Bahasa bapaknya, jadinya males deh pake Bahasa Indonesia .
    Kalo aku sih kalo anak gw ngomong pake Bahasa bapaknya, gw bilang mama gak ngerti, ulang dong .
    Semoga sukses terus ya sama pelajaran Bahasa Indonesianya

    1. Salam kenal juga maureen.
      Tos dulu sesama pelaku OPOL.
      Memang sih, kalo udah masuk sekolah exposure anak ke bahasa domisilinya udah gak terbendung lagi, makanya tantangannya disitu…kitanya jangan menyerah ngomong Indon terus. Dan emang gue liat, kalo si emak bisa bahasa bapaknya, anaknya makin males deh.
      Belon lagi kalo udah masuk tahap penolakan bahasa. Katanya umum terjadi tuh, si anak malu sama bahasa yang minor (di sini jadinya bahasa Indonesia) dan menentang untuk make bahasa Indonesia. Duuhh..cobaan…

  34. Semoga, sukses sampai nanti Kai & Sami gede ya, sampai mereka nulis beneran nulis tesis Bahasa Indonesia.
    Gue setuju banget nih, gak ada ruginya kok bisa bahasa lebih dari satu, banyak untungnya malah. Mau bahasa apa pun. Maksudnya Bhs Ind kan, ya karena kita udah cas cis cus dah…sekalian aja 😀 Gue nanti klo punya anak, mau ambisius ah, ajarin dia bahasa daerah juga, biar bapake yang ajarin Bahasa Ind, sementara Bhs Inggris / Mandarin, sekolahan aja yg ajarin #rencananya…. hihihi

    1. Bener banget inii. Bahasa daerah perlu dilestarikan juga.
      Dan bener banget juga….ngajarin anak bahasa Indonesia ya harusnya gampang, lha toh kitanya sendiri ngomongnya pake Indonesia toh. Apalagi kalo kitanya gak fasih2 amat sama bahasa asing (atau belon sampe tahap native speaker), gak usah lah maksain ngomong sama anaknya pake bahasa itu.

  35. Wahhh makasih ya, tips-tipsnya, memang saya banyak campur-campur kalau ngomong sama anak, salah banget tuh ya. Kata kuncinya memang kon-sis-ten! :). Salam kenal ya :).

    1. Salam kenal juga Rita. Ayo sama2 konsisten

  36. aaaa…rindu banget ama blog ini! Mbak Rikaaa…dari awal tema opol ini diangkat, aku banyak dapet pengetahuan. Aku juga setuju kalau manusia (gak cuma anak kecil) belajar sebanyak mungkin bahasa. Selain pengetahuan meluas, ada hal-hal yang gak bisa diterjemahkan ke bahasa lain. IMHO, keindahan puisi, syair, lagu dalam bahasa asli (Indo, Jerman, Inggris, etc) kadang gak ‘ketangkep’ kalo udah diterjemahin.
    Liat dan baca komentar pembaca blog mbak Rika jadi cengar/cengir sendiri. Orang Indonesia tapi anaknya gak bisa bahasa Indonesia. Sering ketemu tuh di Indonesia sini di mall. Bikin senyum sinis seringnya karena orang tua gagap berbahasa Inggris tapi memaksa diri ngobrol sama anak-anaknya pake bahasa Inggris. Logat Indonesia. Pengen ngakak.
    Aku pengen pake metode ini ah kalau punya anak, untuk bahasa daerah. Aku pengen anakku fasih berbahasa daerah asli kami. Jadi walau anak rantau tapi anakku nanti tetap bisa ngobrol dan bergaul waktu pesta adat Batak dengan keluarga besar. Seperti akyu, anak rantau tapi bisa bahasa daerah…jadi kebanggaan ompung karena cucu rantaunya bisa ngerti bahasa Batak 😛

    1. Kereeeeen….mau berOPOL untuk bahasa daerah. Aku tau kok pasangan yang kalo ngomong sama anaknya pake bahasa Sunda. Padahal hidupnya di Eropa loh. Keren kan? Tapi bahasa Indonesia anaknya juga tetep lancar.

      Dan setuju banget sama komennya, orang tua yang bergagap english tapi maksa ngobrol sama anaknya pake bahasa inggris. Ini kan malah menghambat proses belajar bahasa inggris anak. Dan juga…mana enak ya ngobrol sama anak dengan bahasa yg kita sendiri kagak lancar2 amat.

  37. Hi Rika,

    Pertama kali visit langsung gatel pengen comment :p

    Pas baca ini langsung inget interview Anggun C Sasmi di salah satu online TV yang percis cis cis ngebahas issue yang sama. Pas nonton itu asli gw terkagum-kagum. Dia udah puluhan taun tinggal di luar tapi ngomong sm anak bule nya itu pake bahasa Indonesia. Bahkan selama interview, gw sama sekali gak denger dia campur bahasa Indonesia dengan english di saat banyak orang yang baru tinggal di luar setaun dua taun tapi pas balik ke Indo langsung dehh mix bahasa. Orang-orang kaya Rika dan Anggun ini lah yang inspiratif dan bikin bangga 🙂

    Semoga Kai dan Sami sampai besar masih lancar berbahasa Indo nya yah. Semangaaat Aitiii!

    1. Halo Andaw
      wah, aku baru tau tentang Anggun. Makasih infonya
      Kalo gak salah Anggun itu kan udah jadi WN Perancis ya. Dalam artian bukan WN Indonesia lagi? Dan dia juga udah fasih was wes wos pake bahasa Perancis. Hebat banget dia masih mempertahannya bahasa Indonesia ke anak2nya. Repect!
      Soalnya aku pernah liat ibu2 di BSD yang ngomong sama dua anak setengah bulenya pake perancis juga. Aku yang gak bisa perancis aja tau loh kalo si ibu itu gak terlalu lancar Perancisnya. Jadi mikir…nyusahin diri banget sih bu, kan lebih enak ngomong pake bahasa sendiri ke anak. Anaknya jadi nambah bahasa juga kan.

  38. Saluuuut sama mba rika yg menerapkan OPOl ke kei dan sami.*keprok-keprok*.Jadi inget dulu jaman kecil nyokap-bokap ngomong bahasa daerahnya masing2. Bokap ngomong batak,nyokap ngomong ngapak (bahasa banyumas). hehehe

    1. wah…trus itu ibu bapakmu saling mengerti gak kalo lagi ngobrol?

  39. baru nemu mbak rika, dan langsung baca ini 🙂 inspiratif banget mbak.
    kalau aku sih lagi program bahasa daerah ke anak anak mbak , soalnya aku gak tinggal di luar negeri atau pun punya suami wna .
    aku dan suamiku sama sama indonesia tapi beda suku aja mbak , akunya minang suamiku sunda.
    aku juga suka pake bahasa minang buat ngajarin anak dirumah kayak trik nya mbak rika tu . persis 🙂 dan suamiku pake bahasa sunda kalau ngobrol bareng anak anak.
    karna disekolah udah diajarin bahasa indonesia yang formal, dan temen temennya juga pake bahasa indonesia . buat bahasa asing bagian les nya aja deh mbak 🙂
    aku khawatir nanti anakku gak ngerti bahasa daerah ayah ibu nya 🙂
    terbukti ampuh jadi anakku gak plangak plongok pas lagi ngumpul di keluarga ku atau keluarga suamiku .

    1. wawawaaaaw
      keren bangeeet
      nanti anak2nya bisa tiga bahasa. Minang, sunda dan indonesia. Belum lagi kalo belajar inggris atau bahasa lainnya.
      Memang aku ngotot ngajarin Indonesia ke anak2 juga supaya mereka bisa komunikasi sama keluarga besarku. Kan kasian kalo yang lain ngobrol2 mereka gak diikutkan karena beda bahasa.

  40. Heey I know this iѕ off tolic Ƅut Ӏ աaѕ wondering iff you kneա off ɑny widgets I сould add to mʏ blog thawt automatically tweet mу newest twitter updates.
    Ι’ve bsen lօoking foor a plug-in like thks foor qսite ѕome time annd was hoping
    mazybe yyou woluld hav ѕome experience ԝith sօmething liҟе this.

    Please lett me knnow if you run into anytɦing.
    I trily enjoy reading yοur bkog and I llook forward tto your nnew updates.

  41. Salam kenal Rika,

    Aku pembaca baru disini makanya lagi lihat-lihat dan komen dipos lama ini. Bagus ya kamu sukses jadi OPOL. Aku walaupun ngga konsisten membesarkan anak secara multilingual tapi dari dasar yang kuat sampe dia umur 4 tahun anakku ngerti dan bisa bahasa Indonesia. Dan yang terpenting dia bisa komunikasi dengan keluarganya di Indonesia.

    Waktu umur 10 tahun anakku sempet mogok berbahasa Indonesia tapi sejak 2 tahun lalu dia mau lagi. Kalau kita konsisten pasti sukses kok.

    Dan pengalamanku pribadi, semakin bisa beberapa bahasa asing (lebih dari dua) semakin gampang untuk belajar bahasa asing yang baru. Ada perbandingan untuk pemakaian struktur tata bahasa dan biasa memperbesar kosa kata.

    Ini ada blog temen yang sekarang belajar untuk PhD dibidang multi bahasa. Mungkin bisa jadi sumber informasi http://trilingual.livejournal.com

    1. Halo mbak Yoyen. Aku rajin berkunjung ke blog mbak, lho. Ngefans ceritanya. Kagum sama mbak Yoyen yang bisa berbagai macam bahasa (5 yang aku tau. Indonesia, Inggris, Perancis, Belanda dan Spanyol), mbak yoyen yang penari (aku suka banget nari walaupun gak jago) dan aku juga penikmat foto2 mbak di instagram. Salam kenal ya, mbak.

      Penolakan bahasa ini memang salah satu hal yang aku takuti. Sekarang sih belum kejadian tapi katanya di usia sekolah atau remaja biasanya terjadi. Gak salah juga sih kalo banyak yang bilang ke aku nanti anak2 sekolah paling juga lupa sama bahasa Indonesia. Kayanya karena fase penolakan bahasa ini bener2 menantang banget bagi ortu.

      Aku baca blog trilingual temen mbak itu pas waktu hamil. Dari blog itu juga aku pertama kali tau tentang OPOL. Sampai sekarang juga masih sering berkunjung ke blognya. Berguna banget buat ortu yang ingin membilingualkan anaknya.

      1. Oh lupa sih ngga Rik tapi memang ada fase tertentu dimana sianak menolak. Anakku mogok berbahasa Indonesia karena dia krisis identitas, maunya jadi bule londo 🙂 Setelah anakku semakin gede & merasa gunanya bisa bahasa Indonesia kalo liburan disana, dia bicara lagi.

        Sekarang aku ngga OPOL, aku & suami bahasa Belanda ke anak tapi tiap hari 30 menit – 1 jam aku berusaha ngobrol dalam bahasa Indonesia sama anakku. Dia bilang pusing, kepalanya penuh karena disekolah dapet bahasa Belanda, Ingrris, Jerman & Perancis. Sering ketuker tata bahasa dikepalanya 🙂

        Makasih ya ternyata kamu udah follow aku :-). Ini baru sempet BW setelah sejak akhir April maunya nulis terus dan jarang berkunjung keblog orang. Aku baca-baca lagi ya Rik disini.

        Salam untuk keluarga.

  42. Nanunot · · Reply

    Halo, mbak Rikaa. Salam kenal ya. Saya baru aja jadi reader blog ini, terus langsung maraton baca postingannya, hihi. Terus jadi tertarik komen deh di postingan ini.

    Yang mau kutanyain, konsep “sama aiti ngomong Indonesia, sama isi ngomong Finlandia” kalau pas ketemu keluarga besar gimana, mbak? Misal waktu Mbak Rika ketemu keluarga besar Finlandia atau Mas Mikko *halah, mas pun manggilnya XD* ketemu keluarga besar di Indonesia. Berarti masing-masing dituntut utk bisa ngobrol dengan bahasa yg dimengerti kel. besar.
    Menarik nih cara Mbak Rika ngajarin bilingualnya, saya jadi tertarik praktek juga kalo udah punya anak nanti *ceilah
    Makasih sharingnya ya, Mbak! 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: