this!

Nemu link ke tulisan ini di facebook page seorang teman. Pengalaman yang dialami penulisnya mirip-mirip sama yang gue alami di tulisan ini. Minus ribut-ribut di kantor polisinya. Tapi baca ini bikin gue sadar akan hal-hal yang gue gak ngerti dulu kala itu. Kenapa gue yang posisinya sebagai korban laki-laki brengsek tukang tempel di kendaraan umum ibu kota malah diem aja dan gak berani bela diri? Kenapa temen-temen gue yang liat kejadian itu kok juga ikutan diem aja, malah setelahnya bisa becanda soal itu? Karena ya memang lingkup sosialnya meminta perempuan untuk diem dan nrimo. Diminta untuk menganggap hal-hal kaya ditempelin mas-mas di bis itu wajar aja. Gak usah teriak, gak usah bela diri karena nanti malah bikin orang lain gak nyaman.

A Letter to My Harasser

By: Noorjahan Akbar – Afghanistan Correspondent for Safe World for Women

Hello sir,

I do not know your name, but you passed by me a week after Eid-ul-Fetr in the Bazaar in Kabul. You might remember me. I was the young woman wearing a white scarf and a long red embroidered tunic with dark pants. I was standing by a vegetable stand and bargaining the price of fresh mint when you passed me and nonchalantly pinched my bottom. I turned red. The old man who was selling vegetables noticed but didn’t say anything. He probably sees this every day. This had happened to me more than once, but this time I felt more embarrassed because the old man noticed.

I ran after you and grasped your wrist. Scared and sweating I started yelling. “Why did you do that? How dare you? Do you do this at home to your family members too?” and you started yelling back louder, “you crazy woman! I haven’t done anything. You are not worth doing anything to.”

 I was still ashamed to tell people what you had done. You probably remember how everyone was watching us. Other women advised me to keep calm that this would only ruin my reputation, but I wasn’t going to give up now. I started yelling. Soon the police arrived and took us both to the station.

A tall man in uniform asked me what had happened. I told him. You opened your mouth and the police officer yelled, “You, shut up!” Next thing I knew he was beating you. You were on the floor and he was kicking you with his gigantic shoes. Sweat was dripping off his thick eyebrows. He must have been as angry as I was.

I didn’t see you again, but the friend who was walking with you followed me all the way home. He told me, “what is the big deal?! It is not like he f***ked you.” But I was too tired for a second fight that day.

You and your friend probably both claim to be Muslims. You probably even pray at the mosque every Friday or more often. You probably tell your wives that they should not get out of the house because the world out there is filled with horrible men who will disgrace them. You probably even believe that you had a right to touching my bottom because you think a “good” woman would never be out on the streets without a man. Your sisters are “good.” They stay at home when you pressure them to. If I were a “good woman” I would do the same. These streets belong to men.

I am writing this letter to tell you that I never intended for you to get beaten and humiliated, but I am not sorry for speaking out. I am writing to tell you that I know what you are up to. You want to threaten me, scare me, and keep me shut at home where I will learn to tend to many children and cook food for your kind and be submissive to a man that might someday marry me. You want me to be terrified of the world outside and not find my way and my place in it. You want me to believe that the only safe and “decent” place for me is in the kitchen and the bedroom. But I am writing you to tell you that I am not buying that ever again. Not you, not the Taliban, not this government, not my brother or mother, nor anybody else can convince me that I am less than a man, that I cannot protect myself, that I cannot be what I want to, and that the best life for me is in a “safe” kitchen where a man or a mother-in-law has control over my every move. I am not buying that. Not ever again.

I will come out of the home every day and walk bravely down the streets of my city, not because I need to, but because I can and neither your harassment or sexual assault nor an oppressive government will ever be able to take that ability from me again.

With Defiance,

A Woman You Harassed

Btw, setelah gue nulis blogpost tentang mas-mas brengsek tukang tempel itu ada beberapa temen yang cerita mereka juga pernah ngalamin hal yang mirip-mirip. Dan seperti gue, juga memutuskan untuk diem aja gak berani berontak. Ada yang sama-sama pernah jadi korban tempel di bis kota, ada juga yang kasusnya lebih parah dari sekedar tempel menempel, ada yang yang harrasernya malah orang yang dia kenal lumayan dekat.

Ada sedikit perasaan seneng pas denger cerita mereka, ternyata gue bukan satu-satunya pengecut di dunia ini. Tapi, banyakan sih sedih, ya, karena artinya masih banyak perempuan yang merasa dirinya gak punya hak untuk speak out dan bela diri sampai mau-maunya nerima aja dijadiin korban sexual harrasment begitu.

Mudah-mudahan perempuan jaman sekarang udah lebih empowered.

Advertisements

12 comments

  1. dulu waktu msh kuliah di jkt seriiing bgt liat aktivitas tempel menempel ini. dan krn msh piyik kali ya,aku blm pernah negor pelakunya. alhamdulillah,blm pernah jd korban. jangan sampe. prihatin,dgn korban pelecehan yg nggak berani melawan. tp bisa ngerti sih,knp suka byk yg lebih memilih diam,krn masyarakat kita kayaknya msh menabukan hal2 spt ini… 😦

  2. saya juga heran mbak, kenapa saya dulu juga diem aja saat kondektur bus nyolek dada saya waktu masih SMA (meskipun seiprit, tapi HEY ITU DADA!) dan saya juga diem dan milih pindah tempat duduk dan bukan mendaprat aja waktu bapak-bapak di bus duduknya nempel banget ke saya, mungkin saya waktu itu terlalu takut, terlalu takut kalo itu hanya perasaan saya aja, atau mungkin memang saya pengecut 😦

  3. Dulu pernah ada yang memegang dadaku waktu aku lagi di depan rumah teman nyokap aku, lagi nunggu untuk dibukain pintu… trus awalnya aku pura-pura ketakutan, trus dia mau pegang lagi untuk kedua kalinya, dan pas pada saat itu aku tarik tangannya trus jatuhin dia ke tanah, trus dengan sendal sol tebalku, aku injak2 di bagian kemaluannya. Setelah itu orangnya langsung kabur, waktu kabur aku teriak maki2 ke dia sampai tetangga2 semuanya berdatangan. Waktu itu aku kelas 2 SMP, dari saat itu hingga sekarang aku ga pernah yang namanya diam aja kalau di lecehkan. Tapi mungkin karena aku tomboy ya? jadi agak sedikit preman… hehehe… 😀

  4. gw baru aja mengalami kejadiannya kemaren mbak. Seumur2 denger temen crita, ternyata kena juga. Ga korban tempel sih, tapi sejenis.

    Gw lagi nunggu suami datang ke bandara, duduk di bangku² yang disediain di bandara, duduk disebelah ibu² sebelah kiri. Di korsi sebelah kanan jarak 2 tempat duduk ada bapak² bawa anak. Anaknya agak rese juga dorong² koper dan seenaknya megang hp gw. Karna males ribut karna anak kecil gw cuekin aja, dan bapaknya udah negor. Gw tetep sambil browsing dan smsan sama suami.

    Tapi feeling kok berasa beda, kayak ada yang ngeliatin gw terus dari arah kanan, Untungnya gw ga ngeliat langsung ke kanan, karna pas gw sadar dia sedang ngeluarin alat kelaminnya dan ditunjukkan ke gw, langsung gw berdiri tiba² nyentak koper yang ada diantara gw dan dia langsung pergi dari tempat itu. Padahal gw termasuk cewek yg keras jg tapi pas kejadian langsung cuma bisa bereaksi gitu. langsung nelpon suami sambil mewek dan gemeteran suruh cepet ngebut, dan dibandara kita cari lagi tuh org.
    Pas ketemu dia ngaku sakit gitu, untung lagi gendong anaknya kalo ga udah dihajar tuh.

    Naudzubillahi min dzalik. Semoga ga kejadian lagi sama kita semua.

  5. Gemma · · Reply

    Rik, gue merinding…

    Pas jaman-jamannya baru masuk SMA, gue naik angkot ke sekolah. Entah kenapa bapak sebelah gue duduknya nempel banget. Ngga lama kemudian gue ngerasa aneh, karna samping payudara gue berasa kesenggol-senggol. Ternyata itu bapak sok-sok menyilangkan tangan sambil duduk, dan tangan satunya berusaha nyolek-nyolek lewat bawah ketek gue. Asli pas sadar gue maluuuuuuuu banget, ditambah gue denger dia dengus-dengus kayak ngos-ngosan. Akhirnya gue bilang “bapak tangannya bisa ke sana aja ngga!”, penumpang lain bingung & gue langsung turun dari angkot dan berkaca-kaca.

    Ternyesel kenapa gue ngga bentak itu bapak atau ngadu ke penumpang lain, karna ya itu tadi, gue ngerasanya malu banget saat itu 😦

  6. hai mba akhirnya aku comment disini, salam kenal sebelumnya

    pengalaman waktu smp dulu lagi jalan kaki pulang dari sekolah, eehh tiba2 ada cowo naik motor nanya alamat trus gue jawab lempeng pass dia bilang makasie langsung lhooo dia megang payudaraku sembari senyum2 (ngingetnya aja eneg banget mba !!! ). asli kagettt n reflek gue teriak minta tolong and tuh orang gue pukul pake map papan yg buat alas ujian itu. dia malah blg ” eehh berani lo ama gue, awas ya” sembari kabur kenceng naik motornya T_T

    guepun langsung nangis sesegukan lari secepet kilat ampe rumah, rada trauma klo harus jalan kaki lagi ke sekolah. akhirnya sempat bberapa hari gak masuk sekolah krn takut 😦

    tapi pernah juga pas kuliah ngeliuat temen dapat perlakuan hampir serupa di halte deket kampus, gue jd reflek mukul pake sepatu converse yg dah lapuk gitu sembari triak2 ke orang2 sekitar ” tolong2 ada maling ” huehehehe

    masuk neraka deh orang2 kaya gitu, dunia akherat gak bakal selametttt !!

  7. tomtjok · · Reply

    Rika… Kenalan dong.. !!
    Duuhh senasib… Pernah gw ngalamin jg digrepe2 gt..Jijay bgt!!! Gw inget dl balik dr jakarta naik kreta, penuh pula. Lulus sma wkt itu msh culun bgt. Ada mas2 yg tampangnya alim #dalemnya blangsak..nawarin duduk. Iih msh ada ya jaman gini org baek. Krn dah malem, ga kuat nahan ngantuk, gw ketiduran. Trus gw kebangun krn ada yg aneh ky ngelus2 dibawah lipetan siku… Sompreet bener dia ngelaba dibalik jaketnya yg sengaja dipake terbalik. Gw ga brani negur,gw cuman bisa nyodokin siku gw kebelakang spy taangannya enyah dr badan gw. sampe stasiun tujuan ga tidur lg. Waspada banget…

  8. ester · · Reply

    Anak gw yang masih sd cerita payudaranya dicolek guru lesnya . Masih sd kelas 1. Laki2 memang binatang. Pendidikan seks harus di ajarin sejak kecil dan kita harus ngajarin anak bilang TIDAK dan BERONTAK saat dpt perlakuan tidak senonoh.

    1. guru les?
      anak kelas 1 SD?
      KURANG AJAAAAAAR!
      Hiiih, mendidih darah gue bacanya. Semoga lo tabok tu gurunya.

  9. Mba Rika! Salam kenal ya, saya nemu blog ini kebetulan karena lagi pusing nyari solusi naro nama keluarga babeh yang ga pernah nongol di akta lahir… (komplen sama babeh yang ga naro marga!!) Dan kebetulan baru kawin juga sama WNA India yang gombal banget dan bikin hati dan kuping kleper-kleper (emang enak gila digombalin!).

    Balik ke topik harassment, waktu saya masih SD dan baru masuk ke masa puber, payudara mulai tumbuh (emang tanaman kalee??). lagi asik-asik naik sepeda muter-muter komplek rumah, tiba-tiba payudara dicolong-colong grepe sama mas-mas ga jelas yang lagi berdiri di pinggir jalan yang biasa dilewati!! Gw shock dan ga berani ngadu ke ortu juga! sejak saat ga berani lewat jalan itu yang biasanya ada tuh mas, at least sendirian. I wished I had the courage to report to parents and Pak RT!! Don’t know if any other poor girl got molested by this sick bastard!!

    Kejadian ke-2 pas masih kuliah, tapi ditempel sama ibu-ibu (loh??), pagi naik kereta komuter jakarta-depok. lagi asik-asik duduk di kereta yang super padat n sumpek, masuklah seorang ibu dengan suaminya di gerbong yang gw naiikin. langsung dong doi berdiri di depan bangku gw, dan tanpa ba bi bu nyosorin tangan ke jendela di belakang kursi gw! Asem!! Tepatlah ketek si ibu 10 cm dari muka gw!!! Kayaknya dia maksa pengen dapat tempat duduk gw cuman gw diemin aja ampe stasiun tempat gw turun (pegel deh tuh ibu ngebungkuk ampe 6 stasiun!!), ga rela kalah ama ketek si ibu!! beda kasus sih, cuman sekarang dipikir2 ini kan juga harassment ya (maksa gitu!!), Seharusnya gw berhak untuk negur si Ibu karena bikin gw ga nyaman, cuman sejak kecil dididik untuk ga ngebantah orang yang lebih tua.

    1. Ini juga gue baru tau….cowo India ternyata jago ngegombal. Saingan kali ya ama cowo perancis. Gak heran pelem boliwud banyak yang temanya cinta-cintaan.

      Ditempel ibu2? Astagaaaa….tadinya udah siap2 mau komen kalo cowo2 suka brengsek, ternyata sesama perempuan banyak masalah ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: