One Man, Two Weeks, Three Pairs of Underwear

Masih edisi buka-buka facebook, gue curi foto-fotonya suami waktu dia travel sendirian ke Flores tahun kemarin. Abisnya kesian amat ini blog kagak ada isinya.

Foto-fotonya sih jelek (haha!), tapi objek fotonya lumayan menarik untuk dilihat, terutama buat anak Jakarta seperti gue yang gak pernah amat jalan ke pelosok terpencil di Indonesia.

Pembukaan sedikit. Tahun kemarin sehabis liburan ke Bali Mikko lanjut berpetualang seorang diri ke beberapa kota di Flores. Gue gak inget nama-nama kotanya karena semua terdengar asing di kuping gue, alias belum pernah gue dengar sebelumnya. Yang gue ingat sampai sekarang cuma dua: Adonara dan Lembata (oke, yang terakhir ini sebenernya pulau, bukan nama kotanya)

Di Adonara Mikko naik gunung sama beberapa turis lainnya dari penginapan yang sama (dan beberapa guide penduduk lokal tentunya). Belum berhasil sampai puncak tapi matahari sudah hampir terbenam, karena itu Mikko inisiatif ngajak rombongan untuk turun gunung. Sayangnya dua orang turis Spanyol tetap ngotot mau terus mendaki, jadinya Mikko pun memutuskan untuk turun sendirian. Ditungguin sampai tengah malam dua Spaniard itu gak juga balik kembali ke hotel. Mulai panik deh. Jangan-jangan ilang? Nyasar di dalam hutan? Atau kecelakaan? Masuk jurang?

Besoknya hebohlah Mikko manggil polisi dan kembali rame-rame naik gunung buat ekspedisi pencarian orang hilang. Untung aja sore-sore dapet kabar kalo dua orang hilang yang dicari tersebut ditemukan di desa lain. Ternyata mereka memang sempet nyasar tapi selamat turun gunung biarpun dari sisi yang berbeda.

Gue yang denger ceritanya lewat telepon udah pasti berasa mules-mules. Langsung deh keluar larangan buat suami, gak ada lagi ya jalan-jalan ke antah berantah seperti ini. Inget di rumah ada anak istri yang masih perlu diurus.

Dari Adonara Mikko lanjut menyebrang ke Pulau Lembata, his ultimate destination, yang tersohor akan tradisi penduduknya yang suka berburu ikan paus. Gue yang sok jadi aktivis animal rights langsung ngambek denger Mikko semangat banget mau liat kegiatan seperti ini. Tapi, toh, berhari-hari di Lembata gak ada satu pun ikan paus yang muncul di perairan sana.

Jangankan ikan paus, sekedar mau ngikut nelayan nangkep ikan aja kagak kesampean. Selama di sana cuacanya mendung dan hujan melulu, gak ideal buat melaut. Begitu cuaca cerah ternyata ada perhelatan besar yang lagi digelar di desa, jelas bukan hari untuk melaut. Besoknya, para nelayan masih hangover kebanyakan minum tuak, lagi-lagi gak jadi melaut. Eyalah…Mikko jadi pundung sementara istri berkicau terus di Jakarta nyuruh pulang. Akhirnya….begitulah, sebagai suami yang berbakti petualangan di Lembata harus diakhiri dan mulai berjalan balik menuju Jakarta. Byebye ikan paus.

And now, without further adieu, here it is…

One Man, Two Weeks, Three Pairs of Underwear

(dan istri bertanya: kenapa judulnya begini amat sik? Penting ya disebut kolornya cuma tiga biji?)

Pantai Pasir Putih on Adonara jumped up to no. 2 on my ranking of best deserted beaches on Indonesia after Pasir Panjang on Kei. Not a soul during the few Sunday hours I sprent here.

The French East Indies company was a bit of bust. Should have kept better care of their cannons as well. Found this one lying on the village yard on North Adonara, thousands of kilometers east from the company’s operating area.

 

Ok, boys and girls, time to get offended. That’s dried dolphin meat on sale at the Waiwerang market, straight from Lamalera village.

The inter-village football cup on Adonara had hefty penalties for taking off your shirt during goal celebrations. Not only did you get booked, you also faced a stiff 10.000 rp (85 cents) fine.

 

Now what are hundreds of years old elephant tusks doing in Adonara, thousands of kilometers from the nearest elephant population? They are used as dowry, of course. This lot would set you back about 15.000 euros!

 

Ok, I did lose two Spanish tourists on volcano on Adonara, my bad. But I did organize a search party the following morning. It turned into a big picnic for the police who were not quite fit enough to climb a mountain. Luckily the Spaniards were safe after spending a night on the mountain.

 

After their heroic picnic efforts the police were rewarded by rounds of palm wine, paid by me. Here’s the no. 2 police officer on the island getting his sip.

 

The main church in Waiwerang has a painted statue of Jesus Christ saluting on the balcony. Seriously.

 The skeleton of which great mammal lies here on the beach in Lamalera? Hint: It lives in the sea and is protected by international agreements banning its hunting – except in this one village.

The sperm whales hadn’t migrated to Lamalera’s waters yet but the fishers still managed to catch dolphins, sharks and manta rays.

 

Deep in the mountains of Lembata and who are showing me around the village? A ladyboy and a nun of course! They are cousins, by the way.

 

Traders will pay the villagers of Tapobali around 13 euros for this small piece of swift’s nest. The villagers collect them from a cave underneath the village.

 

There’s an amazing village on the slopes of Ile Api above Jontona village. Everything has been left exactly as it was on 1950’s when the government ordered the villagers to move down to healthier surroundings.

 

They have left the tusks too. This is too big for an elephant tusk. Mammoth seems to be the only explanation. It’s probably worth more than 10.000 euros on the local dowry market but nobody has dared to steal it for the fear of the magic repercussions.

 

Climbing the Ile Api Volcano was a fitting end for the trip. Pictured here are the smoking caldera, my travel beard and a bag of delicious jagung titi (“flat popcorn” peculiar to these islands).

Sedikit catetan tambahan. Sesampai Jakarta Mikko bawa dua plastik jagung titi sebagai oleh-oleh. “Ini enak banget, sayang” katanya. Dan ternyata,….gue gak sukaaaa…buat gue rasanya hambar-hambar dan agak melempem. Disebar ke seluruh rumah oleh-oleh ini cuma bisa diapresiasi sama bokap gue. Akhirnya si jagung titi abis juga dimakan bokap dan Mikko buat cemilan sambil nonton TV.

Selain itu, sejak kembali ke Jakarta, orang-orang yang Mikko kenal dari perjalanan Floresnya sempat beberapa kali sms nawarin barang. Misalnya nawarin kain tenun khas Flores. Handmade, natural dye. Harganya? 4000 euro saja. PINK SUN!!!!!!!!!!! 

Advertisements

59 comments

  1. Well, sedih liat Dophin dan Shark meat nya… 😦
    Don’t think I’ll visit flores though. Huaaaa

    1. Iya, gue juga sedih pas liat.
      Tapi katanya sih, karena mereka nangkep lumba-lumba, hiu dan ikan paus untuk kebutuhan lokal aja, jadinya gak dianggap sebagai threat buat populasi ikan-ikan tersebut. Beda sama penangkapan paus atau hiu yang komersial kaya di jepang atau cina.
      Tapi tetep sih yaaa….yang kebayang kan langsung ikan lumba-lumba yang unyu-unyu itu.

  2. Chelle Handojo · · Reply

    dolp-dolph-.. kesiaaaaaan D:
    itu yang 13 euros sarang walet bukan sih kak?

    1. betul, itu sarang burung walet

      ________________________________

  3. Kayaknya paus itu mulai menipis persediannya Rika 😰. Aku pengen bgt ke Lembata gak kesampean trus hiks. Hebat Miko udh kemana2

    1. Mungkin juga ya. Jadi sedih mikirinnya.  Susah kayanya jalan ke Lembata itu, gak bisa langsung. Di sana juga penginapannya seadanya banget, semacam di rumah penduduk yang kamarnya disewakan gitu. Makanya Mikko ke sana sendirian, gak sama aku  

      ________________________________

      1. Haha tp justru seru di flores itu Ka😊. Orang2nya juga asik. Btw tenun flores itu emang mahal bgt ya tp keren. Miko gak beli ya?

        1. iya, memang mahal. Tapi kalo yang 4000euro ini sih gue rasa emang mau malak aja orangnya. Mikko beli versi yang versi murahnya. Kecil, macam selendang gitu. Cuma bisa jadi pajangan aja, gak bisa dipake.  Tapi gue lebih suka tenun bali atau palembang yang lebih warna-warni.  

        2. Palembang ada juga ya? Taunya cuman songket. Pengen mulai ngumpul2in kain tenun ka, tapi koq harganyaaaa bikin berdarah hiks

        3. eh iyaaaa,…maksudnya songket.
          Tapi songket itu hasil proses tenun juga kan ya? Tapi kalo yg di flores katanya tekniknya tenun ikat? Duh, kurang tau deh. Tapi gue memang lebih tertarik yang warna-warni sih.
          Katanya tenun ikat yg paling bagus sih dari Ende. Ini gue denger dari orang Italia yang bisnisnya jualan kain tenun dan karpet, dan sering banget ke Ende buat beli kain.

        4. Iya tenun ikat. Yg di ende itu ukuran 1×1 aja bisa sejuta huhu

        5. pernah ke Ende gak, Non? Kata si orang Itali itu bagus banget.

          ________________________________

        6. Pernah sekali😊. Gak beli sih hehe abis muahal. Aku cuman punya yg dr sumba, bali sama lombok.

  4. Hahhhhhh 4000 euro???? *ikutan PINKSUN*

    1. jadi pengen gelitikin yang sms pake obeng

      ________________________________

  5. Huakakakakakak jewer pk tang aja mak :p

  6. Hahahaa, baca judulnya, gw kira ini tentang gimana cara packing yang compact dan efisien :).
    Fotonya bagus, dan captionnya lucu, kaya didongengin.

    1. nah kan,…lagian sih, judulnya kok pake underwear begitu ya

  7. dhira rahman · · Reply

    Speechless!
    Mikko ini naluri berpetualangnya gede banget yah.. Eh ka, ada mantan pacar adekku yang suka juga berpetualang kaya gitu, sampe tinggal di irian dan make koteka (!!) selama beberapa minggu.. Naluri petualangan macam gini jelas gak ada di darah anak kpta macem kita ya hihihi…

    Eh ka, mikko dapet darimana sih referensi travellingnya? Trus dia ujug2 dateng tanpa kenal siapapun disana gitu?

    1. Hahahaha…tos dulu Dhir sesama anak kota.

      Mikko juga pernah tuh ke pedalaman Irian dan beli koteka. Ini kotekanya ada di rumah sampe sekarang. Wuih, Mikko suka banget loh ke Irian, udah dua kali malah ke sana.

      Saat ini Mikko udah cinta mentok sama Indonesia Timur, jadi kalo jalan2 pengennya ke sana mulu. Tentang pemilihan kotanya, biasanya liat2 dari lonely planet dan internet, tempat mana yang menarik untuk dikunjungi. Kalo udah ada kata2 rural, untouched, secluded, nontouristic dsbnya makin tertarik deh doi. Tapi setiap ngeliat2 ya pasti gak jauh2 dari seputar Indonesia Timur.

  8. duuuh kasian banget lumba-lumba sama pausnya.. teganya.. teganya.. teganya.. *malah nyanyi*

    itu foto suami kak Rika miriiiip banget sama Kai versi gedenya. *yaeyalaahbapaknyagituuu* hahaha

    komen aku sampah banget ya? 😆

    1. hahahahahhaha….silahkan aja komennya kakaaaaak. Seneng2 aja kok.
      Tapi kalo menurut banyak orang Kai itu mirip banget sama aku, padahal aku pengennya Kai mirip bapaknya.

  9. itu patung Yesus nya seriusan begitu? hahahahah

    1. gue juga nanya begini ke Mikko. Seriusan ituuuu? Beneran Yesus? Salah kali?

  10. *tutup muka* pas liat tulang ikan paus nya, aduh..ini masih pedalaman bgt ya suku nya. Wah salut lho ini si Mikko mblusuk mblusuk kesana, kayaknya suami gw jg berdarah petualang..udah bbrp taun ini gw di hipnotis supaya mau ikut petualangan doi ke Siberia (e buseett) naek trans-Siberian ekspress apa lah. Di Holland aja udah mengkeret mane kite ke siberia. Cuma ya klo gw mudik lg pengen menjelajah Indonesia Timur banget! Lovely pics!!!

    1. Si..si..siberiaaaaaaa? Aduuuh, tulang langsung gemeteran dengernya. Tapi sounds really exotic gak sih buat kita yang orang Indonesia ini? Gue sih diajak kemanapun jadi asal transport sama hotelnya nyaman. Kalo yg pake nelangsa baru dah ogah.

      Orang Eropah emang banyak yg suka berpetualang ya, Nov. Mikko ini kalo gak keiket kantor kayanya udah ngider mulu gak pulang2 ke Finland.

  11. Berarti elu udah tau dong Ka hobi si Mikko apaan, jadi kl pas perayaan 17-an di KBRI udah tau yak jawabannya…

    1. travel memblusuk begini? kalo travel gak bisa disebut hobi kata mikko. Soalnya gak tiap hari dikerjain, palingan cuma setahun sekali.

  12. Mikko suka banget ya ketempat2 secluded gt. kalo bubu dan teman2nya gw rasa ga bisa jauh dari kita deh. hahaha..

    itu 4000euro ga bisa tuker sama 3 kolornya Mikko aja Rik? 😛

    1. BWUAHAHAHAHAHA si bebe gelooooooo-
      Coba yah gue lego dulu kolornya Mikko di ebay, kita liat laku berapa juta.

  13. Wah, tampak seru petualangannya (ditunggu petualangan berikutnya). Kalo gw senengnya liat foto2nya aja deh *hidup anak kota manja!*

    1. ayo tos dulu sesama anak kota. Kita jadi penikmat fotonya aja ya

  14. Duuuh jadi kangen sama Flores 😐

    Dan itu beneran harganya 4000 euro?! Mahal pisan euy…

    1. nah, aku sih gak percaya harganya beneran 4000 euro. Mungkin sekedar coba2 aja, kasih harga tinggi sukur2 laku. Ini suudzon ku aja sih, soalnya kalo di Indonesia, kalo orang ngeliat Mikko yang bule gitu apa2 suka dihargai mahal. Naik ojek biasa 5000 kalo Mikko yg naik jadi 15ribu.

  15. Ya olo…di Flores ya ini? Kampungnya BS gue di Bajawa, deket dong ya sama tempat itu… Gue gak nahan liat: A Ladyboy and A Nun, dan mereka cousins hahahaha… Kocak bangettt!!

    1. Itu juga foto faforit gue!!! Coba baca tulisan di baju si lady boy-nya deh. Little Miss VIP. Ya ampuuunn…kocak banget sih tu orang.

  16. Love the photo travelogue Rika & Mikko! Lol @ polisi yg ternyata tidak fit ndaki, malah leyeh2, hahaha. Gading yg utk dowry itu mahal2 bgt ya. Hiks, kasin para binatangnya ya ka, para ikan Dan gajah. Gotta love the nun & ladyboy cousins 😀 pantainya bagus bgt, so sublime.. mdh2an kesampean ke Indonesia timur someday, amin. Thx for sharing the photos & stories ka 🙂

    1. Sama-sama, Lan. Gue juga ketawa baca piknik besar para polisi itu. Lha pegimana coba mau cari orang ilang kalo baru setengah jalan tim SARnya udah pada letoy semua?
      Gue pun mau juga ikut Mikko jalan2 ke Indonesia Timur, tapi mungkin yg medannya lebih gampang. Yang transportnya jelas dan ada penginapan.

      1. Jangan lupa harus banyak tokonya juga ya Rik.. Sama tempat hiburan.. *itumah gw yang demen kali*

        1. ujung2nya paling bali lagi bali lagi ya be

        2. Yoiiih.. hahaha 😀

  17. Ternyata fotonya mantabh. Kemaren udah buka di kantor tapi foto ga kebuka. Itu kenapa ga ambil satu gadingnya Mba? Harus beli juga ya? 😛

    1. muahaaal amaaat itu gadingnya. Lagipula cewe Jakarta mah mana ada yg mau dilamar pake gading.

  18. Ke Indonesia timur, aku baru pernah ke NTT, Rika. Belum sebanyak Mikko. Tapi memang benar sih, Indonesia Timur itu alamnya masih bagus. Kurangnya adalah perawatan dan fasilitas umumnya.

    1. ya bener! Masalah fasilias umum ini yang bikin jalan2 ke Indonesia Timur berasa susah. Hotel belum tentu ada, transport gak ada yg langsung, harus sambung menyambung naik bis atau kapal yg jadwalnya gak tentu. Makanya Mikko ogah banget ngajak aku yg manja ini kalo ke tempat beginian. Cuma ngerepotin aja nanti, hihihihihihi

  19. Kaka Abba Lamablawa · · Reply

    hi………sya asli adonara yang skrng bedomisili di bali…adonara keren koq…klw ada yang mau tau bnyak tentang Adonara bisa tanya2 Dsaya aj…orangnya baik2 alamnya keren bgt…dijamin….cuman promosinya sja yang masih kurang…

    1. iyaaa…suami saya seneng di Adonara. Orangnya baik2 katanya. Tapi memang kurang banget ya promosinya, aku aja yang orang Indonesia belum pernah denger Adonara kalo bukan karena suami yang pergi ke sana

  20. ayah saya orang Flores tinggal di kota yang namanya Ende. Di usia saya yang udah 17 tahun lebih baru sekali main ke kampung ayah. itupun waktu masih SD kelas 1 hehe

    1. Halo Andiesta,
      aku belum pernah ke Ende. Tapi kata suamiku Ende itu bagus sekali. Kalo ga salah Ende terkenal dengan tenun ikatnya ya?

  21. Saya pernah dengar kisah dua spanish nyasar ni. Waktu itu semua kepala desa di kaki gunung disuruh membuat pengumuman lewat pengeras suara kepada warga bahwa ada dua turis nyasar. Paginya, seorang petani di kampung Watololong ke pondoknya dan pas dia lihat bule langsung mengenal mereka sebagai turisyg diumumkan semalam……

    1. Halo Simpet. Mungkin memang kisah dua Spaniard ini yang kamu dengar kisahnya itu ya? Kamu tinggal di Adonara ya?

  22. k miko… ada mampir ke pulau adonara gaa

    1. iya, dia ke adonara dan naik gunung di sana

  23. k serika Sekali kali… ke Adonara donk…

    Adonara island di jamin…betah….

    1. Mikko udah pernah ke Adanora. Dan dia memang suka di sana. Tapi waktu itu aku gak diajak sama Mikko…huuuuh

  24. Saya dari kecil pengen bgt ke Flores gara-gara acara Anak Seribu Pulau, programnya TPI. Akhirnya baru kesampaian awal tahun ini karena selalu kalah sama opsi jalan-jalan keluar. Ternyata ya…Flores itu dari Maumere sampai Labuan Bajo dan pulau2 serta kampung tradisionalnya bener2 bikin takjub, dan justru dengan alamnya yg masih belum terjamah dan orang2nya yg menyenangkan ini yg bikin Flores makin eksotik. Langsung deh jadi tempat liburan favorit dan minggu lalu baru balik dari sana lagi…

    1. Aku belum pernah ke Floresss….huhuhu. Sekarang jadi kepengen banget setelah baca komen kamu.

  25. Faizah · · Reply

    Dulu ketika masih lajang, saya juga kepingin travelling ke daerah yang terpencil dengan fasilitas yang minim, Dan ternyata keinginan saya dikabulkan Allah,saya kerja di Taman Nasional di Pulau Seram,Maluku, daerahnya terpencil, perjalanananya ditempuh via udara, laut, darat. Kawasannya luas banget, 189.000 Ha, isinya hutan saja,pemandangan alamnya bagus, ada gunung yang bagus banget yg termasuk salah satu puncak tertinggi di Indonesia, tapi karena udah punya anak, mau tugas ke gunung saja mikir ribuan kali. Kalau cuma travelling ke tempat terpencil sih nggak masalah, tapi kalau kerja di sini (berarti sampai pensiun di sini juga)dengan fasilitas yang minim, rasanya pingin balik ke Jawa..hihihihi..#malahcurhat

    1. Aduh..aduuuhh….Mikko kepingin sekali nih ke Taman Nasional di Pulau Seram tapi sampai sekarang belum kesampaian karena lokasinya yang sulit dicapai. Jadi kamu masih kerja di sana gak, Faizah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: