memultibahasakan kai – 2

Niat awalnya mau lanjut nulis cerita pulang kampung tapi ganti haluan dulu karena mau nulis cerita tentang Kai. Ceritanya mau pamer anak gituuuu….

Selama di Jakarta gue menuai banyaaaaak sekali pujian tentang betapa Kai sangat lancar berbahasa Indonesia. Lebih dipuji-puji lagi kalo jalan sama Mikko karena saat itu orang-orang dapat melihat gimana Kai sangat lancar berganti-ganti antara bahasa Suomi dan Indonesia. Sampai saat ini kami masih menerapkan sistem OPOL, termasuk ketika kemarin di Indonesia, Kai ngomong Suomi sama Mikko, dan Indonesia sama gue, tanpa campur-campur ala cincha lawra.

Yang agak mengejutkan buat gue adalah ketakjuban orang-orang yang suka kaget mendengar Kai bicara dalam bahasa Indonesia. “Lho? Bisa bahasa Indo? Kok bisaaaa?” Kebalikan sama di sini, dimana anak-anak dari pasangan kawin campur umumnya diharapkan berbilingual, bahasa bapaknya dan bahasa ibunya. Makanya di sini gak ada yang muji-muji Kai sedemikan rupa karena keadaan bilingual Kai dianggap wajar-wajar aja, lha wong emaknya-babenya memang beda bahasa.

Jadi sebenernya gue agak sedih dengan ketakjuban orang-orang di Indonesia itu, kesannya kalo nikah sama orang asing, atau tinggal di luar negri, lantas bahasa Indonesia gak perlu dipraktekan lagi dalam keluarga apalagi diteruskan ke generasi berikutnya. Semacam gak ada kebanggan akan bahasa sendiri.

Selama dua bulan di Indonesia kemampuan bahasa Indonesia Kai melesat bagai roket. Gak sekedar nambah kosa kata, anak itu tiba-tiba aja suka ngomong pake akhiran “lah”

“Yang ini aja, lah…”

“Mau main aja, lah…”

Jelas ini nular dari orang-orang rumah BSD yang logat Sumatranya emang masih kuat.

Frase-frase seperti “Ya ampuuuuuuuunn” atau “Astagaaaaaa…” atau “Masalaaahh”(Masya Allah) juga udah trampil banget digunakan, gak lama lagi kayanya tu anak pun akan ber-“Ampun dije” kaya ibunya.

Setelah pisahan sama Mikko hampir 5 minggu lamanya, penguasaan bahasa Suominya memang jadi agak mundur. Waktu balik ke sini dan langsung masuk daycare dia mencampur-campur bahasa selama di daycare karena lupa bahasa Suominya apa. Tapi dalam 2 minggu berhasil back to normal dan sekarang kembali skornya 1-1 untuk bahasa Indonesia dan Suomi, alias sama lancarnya.

Sekarang kembali gue dihadapkan pada tantangan berat karena selama di sini kan Kai gak banyak tereskpos sama bahasa Indonesia, apalagi sekarang udah masuk daycare 6 jam sehari yang full bahasa Suomi terus, bisa jadi bahasa Indonesianya nanti jadi kurang terasah. Mau nunggu pulang kampung lagi kok masih lama amat yak?

Udah bawa sih setumpuk buku sama dvd kartun bahasa Indonesia. Bukan main senangnya gue waktu ke gramedia ada dvd Thomas, Chunggington, Elmo, dll yang udah di dub dalam bahasa Indonesia. Sekarang, karena sering nonton Upin-Ipin Kai jadi suka ber-aku-aku kalo bicara

“Aku mau makan dulu laaaah”

Gue asli kaget dengernya karena di keluarga gue (baik nuklir ataupun keluarga besar) anak selalu nyebut nama sendiri kalo ngomong sama ortu. Setiap Kai ber-aku-aku satu rumah gue ngakak bukan main, abisnya bener-bener di keluarga gue kata “aku” ini jarang banget kedengeran.

Walaupun Kai lancar berbahasa Indonesia tapi memang sih logatnya asing, kental logat Suomi yang sebenernya sih beti-beti sama logat batak. Jadi kalo Kai lagi ngomong banyak yang nanya

“Kok logatnya gitu, Rik? Batak gitu ya?”

Ya untung akika emang orang Batak, jadi anggep aja nurun dari emaknya.

Selama di Indonesia pula mau gak mau gue jadi ngebanding-bandingin antara keadaan di sini dan di Indonesia, atau Jakarta pada khususnya, dalam hal perbahasaan ini. Misalnya aja masalah pengharapan yang berbeda tadi. Kalo di sini semua orang saling menyapa dalam bahasa Suomi, termasuk ke orang asing, karena pengharapannya ya itu tadi…lo tinggal sini ya harusnya bisa bahasa sini dong. Kalo orangnya ternyata gak bisa baru ganti ke bahasa Inggris. Jadi, biarpun Kai keliatan sangat Asia, tetep aja pengharapannya Kai bisa bahasa Suomi, apalagi bapaknya emang pribumi sini yah.

Kalo di Jakarta,begitu keliatan anak campuran, apalagi tinggal di luar negri ,langsung deh disangkanya bisa bahasa…INGGRIS. Dan waktu gue bilang Kai gak bisa bahasa Inggris pada kaget aja gitu loh. “Jadi ngomongnya pake bahasa apa, mbak?” Dalam hati gue pengen teriak

“YA PAKE BAHASA INDO KALEEEEEEEEEEE. ATAU FINLANDIA. LO KIRA INGGRIS BAHASA SATU-SATUNYA DI DUNIA?”

Dan, kayanya ada seratus orang yang nanya ke gue “Kenapa gak diajari bahasa Inggris aja?”

Bukannya gak mau ya,…gue sih mau Β banget Kai bisa kemingris juga dari kecil. Langsung multilingual gitu. Tapi bahasa Inggris gue pas-pasan, dan Mikko pun ngerasa lebih nyaman berkomunikasi sama anak pake bahasanya sendiri. Jadi untuk bahasa Inggris kami serahkan saja sama sekolahnya nanti.

Tapi ya itu,…yang gue sayangkan adalah pemikiran bahwa bahasa Inggris adalah dewa dari segala bahasa. Lebih penting ketimbang bahasa ibu sendiri.

Misalnya aja nih, entah berapa puluh kali gue dan Kai papasan sama anak kecil dan ibu atau pengasuhnya kasih perintah syekhen syekhen ke anak itu.

“Ayo syekhen…syekhen sama adek bule. Adee…syekhen dulu dong”

Lha, jelas Kai gak ngerti ya. Wong, gue juga sempet bingung apa pula ini syekhen syekhen? Gak lama kemudian baru nyadar……….ya ampoooooooon. Shake hand! Bilang aja SALAMAN kenapaaaaaaaa?

Cukup ngomongin enggres-enggresan ini, ada satu hal lagi yang menurut gue bisa menghalangi kemampuan dwi bahasa anak: ngetawain! Secara Kai ngomongnya kan kentel logat batak gitu ya, jadinya sering diketawain. Dilain waktu malah ditiru-tiru atau ditanggap macam wayang “Ayo lagi…lagi…ngomong kaya tadi lagi” Yah,…anaknya jadi malu kan dan jadi gak mau ngomong. Yang kaya gini gak pernah gue temuin di sini, sementara di Jakarta….yaaa…gitu deh..termasuk gue juga pendosanya…suka ngetawain anak sendiri. Abisnya susah gak ketawa kalo Kai udah ngomong “Suara apa ituuu?” dengan logat batak yang teramat kental. Maafin aiti ya, nak.

Sekarang ini berarti kami sudah ber-OPOL selama 2,5 tahun lebih. Pada dasarnya sih prinsip OPOL ini sangat gampang diterapkan secara yang diminta kan cuma ngomong pake bahasa sendiri aja, tapi kenyataannya memang ber-OPOL ini butuh kesabaran dan ketelatenan kalo mau sukses. Umumnya sih dalam hal mengulang-ngulang omongan atau membenarkan perkataan anak. Kaya misalnya dulu setiap di jalan dan Kai menunjuk-nunjuk

“Waahh…auto…juna…traktori…”

sambil dorong stroller harus deh gue sibuk ngomong juga

“Mobil, Kai…kereta…traktor”

begitu terus sepanjang perjalanan gak hentinya membenarkan omongan Kai, secara anak satu ini kalo ngomong gak ada abisnya. Dan ngomong sambil dorong double stroller itu susah jendral. Bikin gue sesak napas.

Ada kalanya gue capek, dan rasanya pengen cuek aja, toh sebenernya saling mengerti walopun beda bahasa. Abisnya susah ya goreng ayam yang lagi meletup-letup di kompor sambil nyuruh Kai bilang “terima kasih” dan bukannya “kiitos”. Tapi nanti kalo otak udah seger lagi gue kembali usaha untuk konsisten ber-OPOL. Jadi boong sih kalo gue bilang OPOL itu selalu gampang, mulus, tanpa hambatan. Capek juga sebenernya.

Belon lagi masalah-masalah lain yang katanya bakal muncul. Penolakan bahasa lah, minder sama salah satu bahasanya lah, dll yang bakal lebih banyak butuh kesabaran, gak tau gimana nanti gue ngadepinnya.

Gue belum tau gimana nasib bilingualisme Kai ini. Apakah bahasa Indonesianya akan tetap lancar kalo kami menetap di sini? Apakah dia bakal lupa Suomi kalo kami pindah ke Indonesia? Entahlah apa yang akan terjadi nanti, yang jelas saat ini, di usia Kai yang hampir 3 tahun, gue bukan main bangganya sama Kai yang lancar bercas-cis-cus dalam bahasa Suomi dan juga Indonesia. Sungguh hati gue membuncah-buncah tiap kali melihat Kai akrab ngobrol sama Mummunya dalam Suomi, dan tetap bisa main-main sama Oma dalam bahasa Indonesia. Gak henti rasanya mengucap syukur alhamdulillah atas karunia dwi-bahasa Kai. Semoga kemampuan Kai ini terjaga terus ya, nak.

Oh ya, sedikit catatan kecil di sini, bukannya gue anti berbahasa Inggris atau anti ortu yang mengajarkan anaknya berbahasa Inggris, gue cuma menyayankan kalo ortu berfokus sama satu bahasa tertentu, yang sebenernya juga bukan bahasa si ortu, sambil menomor dua kan bahasa ibu-nya (atau bahasa setempat, apalagi kalo kita ngomongin Jakarta dimana bahasa setempat ya tentunya bahasa Indonesia).

Riset membuktikan anak kecil memiliki kemampuan untuk belajar LEBIH dari satu bahasa, jadi fokus sama bahasa Inggris aja sambil melupakan bahasa Indonesia, justru sebuah praktek yang meng-underestimate kemampuan si anak dan pada akhirnya akan merugikan si anak itu sendiri. Dan kalo soal belajar bahasa, gue rasa gak ada salahnya juga kita mengajarkan bahasa yang baik dan benar ke anak kita. Mungkin gak harus EYD kalo kitanya sendiri gak nyaman, tapi pemilahan bahasa yang baik, alias tidak mencampur-adukkan bahasa bisa jadi sebuah awal.

Pencampuran bahasa gak membuat anak menjadi bilingual, karena dalam prinsip OPOL, anak yang (misalnya) tau beberapa kata atau kalimat tertentu dalam bahasa Inggris, gak lantas berarti anak tersebut bisa bahasa Inggris. Anak itu CUMA tau beberapa kata atau kalimat dalam bahasa Inggris. Titik. Walaupun gue gak memungkiri, sometimes it helps to know a few words in English, terutama kalo lagi travel.

Tambahan lagi, setelah baca komennya Arman, ada beberapa kasus dimana mengajarkan satu bahasa saja, dan bukannya dua atau lebih, membawa efek yang lebih baik buat si anak. Dalam keadaan begitu sih gue mendukung penggunaan hanya satu bahasa di rumah, apalagi kalo udah pake rujukan ahli dari dokter atau ahli bahasa, mereka pasti lebih tau dari gue. Gue nulis cerita ini cuma untuk: 1) pamer anak dan 2) ngasih info aja tentang salah satu opsi yang mungkin bisa memaksimalkan kemampuan si anak. Karena gue sering nemuin orang tua yang ragu-ragu mau berbilingual ke anaknya karena takut anaknya bingung, atau merasa gak perlu mengjarkan bahasa ibu dengan alasan asimilasi ke tempat baru. Pengalaman gue ini membuktikan kalo mengajarkan dua bahasa sekaligus itu BISA apalagi kalo dimulai dari sangat dini, tapi pada akhirnya, tiap orang tua punya alasannya masing-masing dalam menetapkan pilihan yang menurutnya terbaik bagi si anak.

Advertisements

45 comments

  1. emang sih katanya anak2 itu paling cepet menyerap bahasa. jadi emang sebaiknya multilingual diajarkan sedini mungkin. tapi ternyata itu tergantung anaknya juga lho. gak semua anak bisa multilingual sejak dini.

    contohnya andrew. duluuuu kita mau nyoba multilingual ke andrew. gua ngomong indo, esther ngomong inggris, mertua gua ngomong mandarin. hasilnya? ngerti sih ngerti. kalo disuruh pake 3 bahasa, dia ngerti. tapi dia gak mau ngmong balik. alias gak ngomong bahasa apapun. πŸ˜›

    itu kejadiannya sekitar sampe umur 2-an. concern dong ya. masa udah umur 2 masih belum bisa ngomong. jadi tanya ke dokter. ternyata ya emang gak semua anak bisa ya multilingual. jadi dokter menyarankan pake 1 bahasa aja. ya udah lah kita banting setir ke bahasa indo. full. dan bener lho, abis itu dia bisa ngomong.

    jadilah walaupun kita trus pindah kemari, andrew tetep ngomongnya indo. pikiran ya toh kita orang indo ya ngomong indo aja lah, ntar belajar inggrisnya pas dia sekolah aja pasti bisa kan. kita gak usah sok2 ngajarin inggris lah secara inggris kita juga pas2an. πŸ˜›

    ternyata kendala lagi pas udah sekolah. andrew ini emang bukan anak yang cepet nyerap bahasa. jadi dia kesulitan komunikasi di sekolah. emang sih kemajuan inggrisnya lumayan pesat, tapi ya ketinggalan jauh ama temen2nya (temen2nya gak semua bule, disini kan multikultural jadi rata2 pada bilingual dan mereka bisa2 aja).

    jadilah kita banting setir lagi, ngomongnya campur inggris.

    eh kendala lagi… bhs indonya lama2 lupa! mampus! huahahaha.

    akhirnya kita berubah lagi sekarang. kalo kita ngomongin tentang pelajaran sekolah, kita ngomong pake inggris (karena soal2 matematika nya atau PR/test nya pake inggris kan… kadang kan mesti comprehension, mesti story telling, dll). tapi kalo ngomong di luar pelajaran sekolah, harus ngomong indo.

    ribet yaaaa… huahahaha.

    well ya gitu lah, namanya anak ya, kita kudu nyoba2 mana yang paling pas. tapi gua setuju ama lu, sebaiknya jangan lupa ama bahasa ibu. gimana2 anak harus tau kalo asalnya dari indo ya harus bisa bahasa indo ya… gua juga prihatin ama anak2 di indo sekarang yang malah berbahasa inggris terus dan gak bisa bahasa indo. gimana coba ya…

    ini sebenernya ironi di indonesia. makanya gak maju2. liat korea, liat china, liat jepang. negaranya maju, bangsanya begitu cinta tanah airnya dan mereka sangat bangga ama bahasanya. gak ada yang sok kemenggres. entah kenapa indo gak bisa mencontoh mereka ya…

    1. Armaaaaaaaan…seneng banget liat komen lo yang panjang dan komprehensif. Gue beberapa kali denger selentingan cerita tentang anak temennya si anu atau si itu yang katanya cuma bisa belajar satu bahasa aja karena alasan speech delay, learning problem, dan lain-lainnya. Dari cerita lo ini jadi lebih kebayang situasinya. Nah, kadang gue suka bingung juga, kalo baca riset di internet kok katanya bilingual bukan salah satu faktor dari speech delay atau masalah bahasa lainnya, tapi ada kok gue baca/denger beberapa anak yang disuruh fokus sama satu bahasa aja karena diangap terekspos sama kebanyakan bahasa. Jadi bingung kan. Mungkin promo bilngual/multilingualisme jadi kuat banget jadi yang dijembrengi data-data yang selalu mendukung.

      Yang gue sering gemes tuh kalo ngeliat ortu yang ngomong pake bahasa asing ke anaknya, padahal bahasa asing si ortu itu sendiri sebenernya gak faseh-faseh amat, banyak salahnya atau terbatas kosa katanya. Jadi mikir gak sih? Gimana coba berkomunikasi dengan lancar ke anak kalo ngomongnya pake bahasa yang kita gak kuasai? Sama anak sendiri gitu loh…kan pengennya ngomong yang bisa sampe heart to heart banget.

      Dan yang lebih gemes lagi ya itu….kalo trus menyepelekan bahasa ibu. Apalagi di Indo tuh, udah banyak kasusnya kan, orang Indo, tinggal di Indo,…eh, gak bisa bahasa Indo. Lha piye iki toh????

      Btw, kalo menurut sistem OPOL yg lo lakukan sekarang udah bagus tuh Man. Ada konteks yang jelas untuk dua bahasa yang berbeda, walopun yang ngomong masih orang yang sama. Bahasa Inggris utk konteks belajar, Indo untuk non-belajar.

      1. yah mungkin emang sebagian besar anak mestinya gak ada masalah ama multilingual ya rik dan gak menyebabkan speech delay. tapi kan dalam setiap teori pasti ada pengecualian ya walaupun mungkin statistiknya kecil jadi bisa diabaikan keberadaannya. dan mungkin si andrew masuk dalam pengecualian itu. πŸ˜€

        well anyway mungkin si andrew nurun dari gua juga. gua kemampuan bahasanya emang payah sih. gua ini orang yang paling susah belajar bahasa asing lho, even inggris. hehehe. bego banget dah kalo urusan bahasa. πŸ˜›

        eh iya gua setuju ama lu lho. mana enak ya kalo ngomong ama anak sendiri pake bahasa yang kita gak kuasai bener. gak puas pasti ngomongnya ya. haahaha. gua aja kadang ngomongnya masih nyampur bahasa jawa kalo gua merasa kata2 nya lebih pas. πŸ˜›

        iya kita sekarang nerapin beda bahasa dalam beda situasi karena andrew juga kan lebih gede ya, jadi mestinya lebih ngerti. dia jadi tau kapan nya gitu. walaupun ya kalo ngomong sehari2 masih suka nyampur2 juga rik. rada susah nih melawan arus dari sekolah. hahaha. jadi kalo dia ngomongnya nyampur ya kayak lu bilagn lah, kudu kita yang sabar2 bilangin dan ingetin lagi suruh ngomong pake bhs indo. walaupun ya kadang males juga ya, abis si andrew suka ngomongnya kebanyakan, kadang sih gua diemin aja. huahahaha. kacoooo… πŸ˜›

        ini juga dilema ortu ya. dulu concern anaknya gak ngomong, sekarang concern anaknya ngomong kebanyakan. huahaha. sampe kalo udah malem ya, sebelum tidur gitu, gua suka bilang ke andrew udah gak boleh ngomong lagi. mesti diem. huahaha. sadis ya. πŸ˜› *jarang berhasil sih*

        1. Gue pun kaya elo Man sekarang. Kalo Kai udah merepet tanpa henti suka gue suruh diem. Apalagi kalo gue lagi nyetir, lagi masak, atau dorong stroller….asli gak kuat ngeladeninnya.

          Dan sama kaya elo, gue juga slow banget kalo masalah belajar bahasa baru. Gimana ya…kebanyakan mindernya gitu. Kalo dikasih tes di kelas sih nilai bagus, baca tex ngerti, tapi coba disuruh ngomong…langsung blukutuk blukutuk aja yg keluar. Bahasa Inggris juga gitu, udah puluhan tahun belajar kok ya levelnya gak naik2. Dan gue liat juga, anak kecil ada yg kaya gitu…bisa pasif, tapi gak pede buat praktek langsung bahasanya. Padahal masih kecil banget loh, belum dua tahun, kalo ngomong Suomi lancar, tapi kalo ngomong Indo bisik2, katanya malu, doi masih gak pede gitu pengucapannya bener atau gak. Jadi belajar bahasa emang kompleks ya, kognitif dan emosi sama2 terlibat.

          Gue pun tau susahnya buat strict ke satu bahasa Man. Kadang kan ada juga kata2 yg gue gak inget atau gak tau bahasa Indonesianya apa, atau mungkin versi Indonya panjang dan susah…jadi males gitu, jadi suka gue biarin aja Kai nyerocos pake bahasa sini. Tapi dari situ gue jadi ikutan belajar sih utk lebih memperdalam bahasa sendiri.

          Oh iya…kalo di sekolah sana gimana? Ada penekanan ke bahasa ibu gak buat orang asing? Kalo di sini sampe ada penyuluhan gitu supaya orang2 asing atau mix-marriage utk tetep mempertahankan bahasa ibunya dan disarankan utk berOPOL ke anak.

      2. di sekolah sih gak sampe ada penyuluhan sih, tapi so far guru2nya andrew emang bilang kalo di rumah suruh pake bhs indo aja. mereka juga support itu.

        trus anak2 yang bahasa ibu nya bukan bhs inggris dan emang dirasa kurang, secara berkala ada kayak private lesson nya gitu deh untuk diliat kemampuannya udah sampe mana. jadi dipantau gitu. di rapor nya pun untuk bahasa, dibedain kolom nilainya antara anak yang emang first language nya inggris dan yang enggak.

  2. *sujud syukur*. Beberapa minggu ini dapet pelajaran parenting terus. Di sini dapet soal pelajaran berbahasa. Mau kirimin linknya ke istri ah Mbak. Mana komennya ko Arman juga lengkap banget. Kalo di share boleh ga? *ijin dulu*

    1. boleh aja di share tapi jadi malu siiih, berasa tulisan ekspert aja di share. Ini murni pengalaman dan pendapat pribadi aja yah.

      1. Makasih Mba Rika. BAru baca balesannya sekarang. Kemarin hari udah di share ke istri dan dia bilang gini dengan muka yang sangat “ngece” : Seeee??!!
        Hehehe. Selama ini saya yang sok-sokan memultibahasakan anak.. πŸ˜€

        1. yah gak papa kok memultibahasakan anak, asal dipilih aja metode yang tepat dan tidak menyampingkan bahasa ibu

  3. hihihihi opol ini kalau di pikir2 kyk ngajarin bhs indonesia plus bahasa daerah yaaaa….pada sukses lohhh kl di daerah. kl di jakarta rata2 bhs daerahnya itu diganti sama bhs inggris krn gak ada bhs daerahnya (kesimpulan gw sih)…kl di daerah sih jarang tuh yg anak2 kecil ber inggris ria di mall, pasti pake bahasa daerahnya masing2

    1. bener banget diiiiiiiiiiiiiit!!!
      Sebenernya sebagian besar orang Indo kan bilingual. Bahasa daerah sama bahasa Indonesia, cuma yg di Jakarta aja pada monolingual karena bahasa daerah gak kepake di ibu kota. Nah, kalo berkaca sama orang2 daerah harusnya kita kagum ya…bisa lancar bahasa daerah di rumah misalnya, tapi tetep berbahasa Indoensia juga di sekolah. Gue rasa ya karena mereka gak menyepelekan salah satu bahasa, dua2nya penting, jadi dua2nya dipraktekkan dengan baik.

      1. ho oh…gw aja sebenernya pengen misya bisa bahasa bali, cuma ya gak rela aja dia ngomong pake bahasa bali sama bapaknya sementara gw gak ngerti πŸ˜€

        1. kalo gue sih jadi banyak belajar beb dari Mikko dan Kai, kalo masih awal2 ngomong gini gampang ngikutinnya

  4. Yah seperti yang gue ceritain dulu (gue lupa cerita di sini ato di blog lain sih), gue sendiri pernah ketemu anak Indonesia yang cuma bisa ngomong bahasa Inggris. Ibunya bangga lho ngomong ke temennya “anak saya cuma bisa bahasa Inggris” ahahaha… Gue bengong aja dengernya.

    Gue sendiri ngomong pake bahasa Indonesia ke Nara, cukuplah gue ngomong pake bahasa Inggris di kantor. Tapi karena Nara juga suka nonton Disney channel, dikit2 dia tau juga beberapa kata dalam bahasa Inggris. Akhirnya gue pikir ya udah mending gue ajarin yang betul sekalian, gue betulin cara dia ngomong. Cuma sebatas itu, tau nama2 warna, sepeda, mobil. Kalo disuruh ngomong 1 kalimat ya mana bisa πŸ˜€ Dan gue sama sekali ga kepikiran untuk ngajarin dia bahasa Inggris yang serius (disuruh les misalnya) dalam waktu dekat, bahasa Indonesia aja masih baru belajar kan dia. Paling bentar lagi kalo masuk TK dia bakal bilingual sama bahasa Suroboyoan (Jawa kasar) πŸ˜›

    Bos gue nerapin OPOL kayak elo gitu. Dia orang Swiss, istrinya orang Taiwan. Jadi anaknya muka bule bener tapi yang keluar dari mulutnya bahasa Mandarin haha… Soalnya bos gue kan sering pergi2, jadi anaknya lebih fasih bahasa ibunya.

    1. iya Tyy…gue inget lo pernah cerita soal anak yg cuma bs Inggris itu dan ibunya bangga!

      Kalo anak tertarik untuk belajar bahasa baru emang ga ada salahnya kita dukung ya. Dikasih tau, diajarkan, dibenarkan pengucapannya, mau dimasukkan les Inggris pun gue tetep pro, asal ya itu…gak lantas menggagalkan pembelajaran bahasa Indonesia yang sebenernya bahasa ibu si anak. Apalagi ya booow, kalo anaknya pun tinggal di Indonesia. Lha, masa bisa dianggep gak penting sih belajar bahasa tempat kita menetap?

      Kai pun awalnya lebih lancar bahasa Indonesia, Ty, karena kan seringnya sama gue di rumah. Tapi ya lama-lama makin terekspos sama bahasa sini dari TV, dari buku2 yg dibacain babenya, dari Mummunya dan orang2 di luar rumah. Lama-lama bahasa Indonesianya kalah, tapi kemaren 2 bulan di Indonesia naik pesat lagi bahasa Indonya.

      1. Betul yang elo bilang, mo belajar 10 bahasa juga gpp asalkan bahasa tempat dia tinggal/bahasa ibu tetep diajarin dengan baik. Setuju! Rika, aku padamuuuu…

        1. Setujuuuuuuuuuuu!!!!!!!
          Kalo aku pada Nara dan mobil semennya!

  5. Kadang-kadang orangtua tuh lebih bangga aja anaknya bisa ngomong inggris, keliatan berkelas gitu kali tapi apa jeleknya bahasa indonesia? Hemm…kayaknya perlu diulangi tuh sumpah pemuda hehehehehe…Makasih mbak buat sharingnya, soalnya si oma pengennya anakku diajarin bahasa inggris halah lha wong bapak ibunya aja gak fasih ngomong inggris kog gaya-gaya ngajarin πŸ˜†

    1. pernah baca paper nemu di internet katanya sih orang Indonesia gak punya kebanggan terhadap bahasanya sendiri. Gue sendiri juga ngajarin bahasa Indonesia bukan karena bangga, tapi tetep, gue rasa itu penting secara Indonesia kan kampung halaman Kai juga. Sedih pasti kalo anak gak bisa berinteraksi dengan orang2 dari kampung halamannya sendiri

      1. org Indonesia bukan hanya gak punya kebanggaan terhadap bahasanya sendiri Rik, tapi juga gak bangga sama negaranya. Aku sekarang nih ngomong ke Katy pake bahasa Indonesia, nyokapku sendiri nyap-nyap, diblangnya “anak bule ntar gak bisa bhs inggris”. tapi skarang konsennya ke ngajarin bahasa indo dulu lah…secara di Jakarta biar bisa bergaul sama anak2 lain. trus ortu ngomong ke katy bahasa jawa halus (biar gak punah ini bahasa dari solo). masalah bahasa inggris ntar biar blajar di skolah aja.

        1. Padahal ya Nov, banyak juga kan bule2 yang gak bisa bahasa Inggris, mertua gue aja kagak bisa. Di Jerman sama Itali setau gue jg banyak yg gak bisa Inggris ya. Tapi mereka santai aja ya kayanya…tetep cinta bahasa sendiri, gak lantas mendewa2kan bahasa Inggris gitu.

          Bener banget tuh kata lo, tinggalnya di Jakarta kok, ya pengennya bisa bergaul sama temen2 sekitar kan…gimana bisa kalo gak fasih bahasanya?

          Jawa alus itu pun bagus banget…udah makin jarang soalnya yg bisa

  6. wah, ini sih anakku banget. bilingual. tapi bahasa indonesia dan..jawa (kromo alus). hehe..
    salam kenal mbk πŸ™‚

    1. canggiiiiiiiiiiihh…ngajarinnya pun langsung yg kromo alus. Aku salut!!!!!

  7. […] baca post Rika soal multibahasa, gue jadi mau cerita pengalaman gue sendiri yang memang kacau dalam berbahasa di luar bahasa ibu […]

  8. Wah, emang lagi cari2 info tentang bilingual ini nih, aku bertekad si baby harus bisa bahasa indonesia biar bisa ngobrol ama embah nya, selama ini bayi di perut aku ajak ngomong pake bahasa indonesia dan bapaknya pake bahasa icelandic, cuma aku gak ngerti bahas icelandic dan suami gak ngerti bahasa indonesia, jadi kalo dia ngomong sama si jabang bayi, pasti ku tanya, eh ngomong apa tuh, gak boleh ngomong jorok ama bayi :-D. kalau aku ngomong pake bahasa indo ke si jabang bayi, dia tanya, eh ngomong apa tuh, yang positive positive ya ngomongnya,,,,,akhirnya kadang kita ngomong ke bayi pake bahasa inggris, biar kagak pada tanya lagi deh apa yg di omongon ke si Baby,,,pusing mbakkk

    1. Alasanku dulu juga itu, biar anak tetep bisa ngomong sama Omanya kalo pulang ke Indo. Gak kebayang sedihnya ortu kita kalo gak bisa ngomong sama cucunya ya.

      Dulu pas masih diperut sih suamiku kalo ngomong sama anak2 pake bahasa Inggris juga, karena susah kali ya ngomong yg bener2 ke anak kalo masih dalam perut gitu, yang keliatan malah ibunya. Secara kan kalo aku sama suami ngomongnya pake Inggris.

      Tapi begitu anak lahir dia otomatis ganti full Suomi ke anak. Katanya karena sekarang anaknya udah beneran ada, bener2 individu yang terpisah dari ibunya, jadi ngerasa lebih bebas pake bahasa dia sendiri (Suomi). Awal2 aku gak ngerti sih, tapi ngomong sama anak kan biasanya kalimat2 sederhana yg gampan dipahami ya…akhirnya aku jd ikutan belajar Suomi juga dan pada akhirnya proses belajar ini membantu banget buat kehidupan sehari2ku di sini.

  9. Rikkkk… bukan elu doang yang banggaaaa… gue juga bangga sama si Kai… *peluk cium deh dari tante Leony siniii*…. gue gak tau elu pernah baca atau belum… tapi gue pernah nulis soal ini di blog gue, dan dulu sempet jadi topik hangat sih hehehehe (sebelum dikalahin sama postingan kawinan gue wakakakakak)… nih linknya: http://leonyleony.blogspot.com/2011/08/sorryi-cant-speak-bahasa.html. Postingan yang pas nulis, hati gue tersayat2 sembilu, lantaran ada orang tua, yang lebih bangga anaknya pake bahasa Inggris terus, dan lupain bahasa ibunya, dan mereka tinggal di Jakarta loh! Sadis pisan!

    1. Aiiiiiih, makasih Leonyyyyy sampe ikutan bangga gini. Gue jadi makin semangat nih berOPOL.

      Gue udah baca tulisan lo itu duluuuu waktu gue masih jadi silent reader lo (masih sok misterius gitu…hahahahah). Jadi makin yakin ngajarin bahasa Indo liat penalaman lo itu, Le. Berbasa Indonesia pas kecil tp besarnya tetep bisa sukses di kancah internasional (uhuuuyy, Leony!).

      Yah, bagus sih kalo dari kecil inggrisnya udah was wes wos, tapi ya jangan lupain bahasa ibu (kasian bener bahasa bapak gak pernah disebut, hehehehe)

  10. gue sendiri di rumah full indo kok rik, pasrah aja dia dapet inggrisnya dari tv ato dari sekolah. nyatanya oke2 aja kok.

    gue gak berani OPOL karena gue sama emir nyadar banget kalo english juga bukan sesuatu yg kita kuasain banget. biarlah anak2 belajar dari yang lebih expert, sementara gue fokus ke ngajarin bahasa indonesia yang (kurang) baik dan (kurang) benar diselingin bahasa bencong ato bahasa alay, hahahaha…

    *joget gangnam style*

    1. Lha, di sini temen2 gue yang sesama pasangan Indo ya gak pake OPOL-OPOLan Ran. Lha, apa yg mo di OPOL-in orang ortunya pada ga bisa bahasa sini? Jadinya ya pake Indo aja, ya emang nyamannya pake itu. Trus anak2nya mulai daycare, 2-3 minggu pertama pendiem di sekolah karena belum bisa ngomong, tapi sekarang mah udah cas cis cus anaknya.

      Bilingual kan memang gak harus dari rumah, bisa juga dari luar rumah seperti di sekolah itu.

      Gue juga kaya elo, males banget ngomong ke anak pake bhs Inggris, lha wong pas2an gini ya Inggrisnya

  11. Mba Rika (boleh kan ya panggil Mba?)! Akhirnya kuberanikan diri nongol di sini πŸ˜€
    Penasaran nih… Kalo Mba Rika ngomong sama suami pake bahasa apa?

    1. Rahinaaaaaa…itu blog mu isinya tugas2 kuliah ya? Hehehehehhe

      Kalo sama Mikko seringnya sih pake Inggris tapi banyak juga Indonesianya karena kan Mikko bisa bahasa Indo

  12. Dalem & menyentil tulisannya!

    1. sumur kaliiiiiii dalem…
      eh, tapi gak ada maksud mau menyentil siapa2 kok (sok suci)

  13. Aduh Rika, gue salut bener sama si Kai ganteng. Nyokap gue jg bilang, wah Kai fasih bgt bahasa Indonya. Keren! Gue kemaren ini pas pulang beli segaban buku cerita bilingual Indonesia Inggris. Bbrp minggu sblm pulang kesini lg gue mulai bicara dengan Franklin pakai bahasa Indonesia saja. Efeknya terlihat cukup lambat, I mean understanding-wise, tapi gue amati secara perlahan dia mulai mengerti beberapa pertanyaan gue dalam bhs Indonesia, dan menjawab benar (walaupun dlm bahasa Inggris). Gue agak2 menyesal tidak memulai OPOL ini dari sejak Franklin baru bicara, but better late than never, right? πŸ˜€ Mungkin sekarang dimulai dari pemahaman secara pasif, gue harap dia akan mau bicara balik ke gue dalam bahasa Indonesia. Meeting you and your boys was such an eye opening experience, thank you for that. πŸ™‚

    1. Wulaaaaaaaaaaan….bikin ge er aja komen lo.

      Selamat mencoba ya sama Franklin. Better late than never!!! Mungkin sulit di awal tapi gue yakin lama-lama pasti makin gampang. Lonya aja berkuat hati dan sabarnya dipanen tiap hari karena Franklin kan sekarang udah lumayan lancar ngomongnya, pasti bingung kok tiba2 disuruh pake bahasa lain. Tapi baru berapa hari dia udah ngerti pasif gitu artinya dia fast learner kan. Harus semangat terus dan selalu ingat untuk konsisten berbahasa Indonesia biar makin cepet perkembangannya.

      Gambatteeeeeee!!!

  14. Waktu masih hamil Raissa, gw bilang ke Kris untuk coba ngajarin anaknya at least bilingual yuk: English dan Indonesia tentunya. Jadi kita sepakat kalo gw ngomong English aja, dan Kris ngomong Indonesia aja. Kenapa tadi gw bilang at least bilingual karenaaaa… keluarga Kris pasti nyerocosnya pake Bahasa Sunda πŸ˜€ dan akhirnya kesepakatannya pake embel-embel, kalau lagi di kampung pas mudik, Kris boleh campur ngomong pake bahasa Sunda. heheheh

    Nah sampai Raissa umur 1.5 tahun, gw lumayan tertib praktek semi-OPOL. Begitu anaknya udah bawel banget dan mencerecet dalam Bhs Indonesia, gw jadi kewalahan praktekin OPOL… abis anaknya jago ngeles siiiih, jadi biar cepet ngebalesnya gw bales juga pake Bhs Indonesia. Jadi sekarang2 ini, gw ngomongnya campur deh.. 60% Indonesia, English 40%. Tapi sebisa mungkin gw tidak mencampur 2 bahasa itu dalam 1 kalimat. Kalau lagi ngomong English ya dalam 1 kalimat English semua. Dan gw minta Raissa minta menjawab gw dalam bahasa English juga. Kadang anaknya jawabnya tetap dalam Bhs Indonesia, ya gw koreksi.

    O iya, gw meminta skema itu bukan mau sok ato apa gitu siiih.. inspirasinya liat sodara dan teman yang tinggal di Malaysia. Kok mereka bisa ya anak2nya multilingual dari kecil, padahal gak praktekin OPOL. Gw pengen anak2 gw jg multilingual. Walau gitu gw selalu tahu.. seandainya gw tinggal di luar Indonesia kayanya yg bakal gw terapkan adalah dengan orang rumah pake bahasa Indonesia saja baik dengan gw dan Kris, di luar rumah baru pakai bahasa setempat.

    Untuk ade gw yg juga kawin campur pun, gw sarankan ke ade gw untuk menerapkan OPOL dengan anaknya yang baru umur 2 bulan. Gw bilang ke ade gw kalau jangan sampe kita keluarga besarnya ga bisa ngobrol sama anaknya nanti. Pasti kita bakalan patah hati banget, terutama ortu gw. Skrg dia pun praktekin OPOL, tapi katanya jadi yang banyak belajar juga suaminya.

    sok atuh lah… diatur wae nyak, pas nya kumaha kitu…

    1. Temen gue di Jerman ngomong anaknya pake Sunda loooh. Gue kurang tau mereka pake sistem apa tp anak2nya fasih Sunda, Indonesia dan Jerman. Canggih ya?

      Dan gue pernah denger, La. Memang yg harus dihindari itu ngomong satu kalimat dalam bahasa yang campur2. Karena kan jadi susah bgt buat anak utk mengidentifikasi kalo ada dua atau lebih bahasa dalam satu kalimat itu. Tapi sayangnya sekarang ini ngomong campur2 gitu emang udah jamak bgt ya di Jakarta, gue pun salah satu pelakunya juga sebenarnya.

      O iya, multilingual gak harus dari rumah aja kan. Jadi byk sistem lain selain OPOL. Misalnya di sekolah, mgkn kaya temen lo itu, di rumah mungkin pake Indo, di sekolah English, hasilnya lancar dua bahasa. Keren ya.

      Yang sayang itu kalo ada kesempatan utk multilingual tapi trus dimatikan salah satunya, misalnya karena di sekolah Inggris trus di rumah jadi Inggris juga dengan alasan biar gak ketinggalan di sekolah, jadinya bahasa Indonya terbelakang deh.

  15. Kai hebaaaat! ibu bapaknya juga hebat deh, disiplin sama pencanangan OPOL-nya πŸ˜‰ seneng ngeliat kalian sukses nerapin OPOL ke Kai, semoga terus lancar sampai nanti. baca ini gue jadi merasa punya harapan buat mendidik anak gue nanti (kapan ya punya anak, haha… belom skarang pastinya) untuk tetap bisa bhs Indonesia plus tentunya bhs Suomi. thanks for sharing, Rika!

    ~Puni

    1. Semoga bisa terus ya Pun. Abis jiper juga sebenernya karena hampir semua orang ngomong ke gue
      “Liat aja nanti kalo udah sekolah….lupa deh bahasa Indonya”
      Gak satu dua loh yg ngomong gini, asli banyaaak bgt, dan memang sedikit banget kan anak Indo (campuran) yg lahir dan besar disini bisa berbahasa Indonesia. Hmm…kayanya gue malah belum nemuin deh.

  16. Ih kita sepaham Rik! Makanya sampe sekarang faktor utama sekolah buat Nadira (selain harga ye) adalah bahasa. Gue gak demen banget masupin Nadira ke sekolah yang full Inggris. Lah wong sehari-hari dia di lingkungan bahasa Indonesia yang kebetawi-betawian dan kesunda-sundaan (dari keluarga gue) dan kejawa-jawaan (dari keluarga hubby). Bahasa Inggris mah pasti kena lah, wong sehari-hari dia terekspos tontonan di Disney Channel, Barney, etc. Tapi gue gak nge-push dia supaya bisa beringgris ria dr sekarang.

    Temen gue juga ada yang ngalamin masalah kayak Arman pas dia+keluarganya tinggal di Jepang. Anaknya baru bisa ngomong umur 3 tahun karena bingung dengan bahasa-bahasa yang digunakan di rumah dan lingkungannya. Ngerti semua sih, bahasa Inggris, Indonesia dan Jepang, tapi dia bingung ngomongnya gimana. Akhirnya pas balik ke sini, temen gue fokus ke b. Indonesia dan cari sekolah yang full Indonesia aja. Perkembangan bahasa si anak pun rapid banget.

    Yah kayak yang pernah bolak-balik gue tulis di blog (tsah macam iklan pribadi aje), kalo bukan kita yang mencintai dan melestarikan negara dan identitas kita sebagai orang Indonesia, siapa lagi dong? πŸ™‚

    1. Iiiih, setuju banget sama paragraf terakhir lo, Ra. Kalo bukan kita yan cinta siapa lagi? Kalo bukan kita yang melestarikan, yah siapa lagi?
      Dalam skala yang lebih kecil, ini juga cara gue mencintai nyokap dan mertua (ciyeeee), kebayang gak sih sedihnya kalo nenek sama cucu gak bisa komunikasi? Duuhh, gak rela mikirinnya.

      Beberapa orang ada yg masukin anaknya ke sekolah full Inggris trus di rumah jadi switch ke english juga karena katanya mau membantu anaknya di sekolah. Nah, ini yg gue sayangkan. Anak terbantu di sekolah tapi jadi ketinggalan di luar sekolah…lha secara tinggalnya tetep di Indonesia ya?

  17. tante iya' · · Reply

    aiih dah lama gak nengokin seerika…interesting posting tante rika as always….makasih ya…

    gue juga suka gak ngerti ya tiap balik temen2 sodara2 dan lain2 pada kebingungan si dama bisa ngomong bahasa indonesia dengan lancar dan reaksi gue selalu sama “lah wong ibu bapake orang indonesah”……pertanyaan itu selalu membuat kita geleng2 karena disituasi kita kedua orang tua pake bahasa yang sama di rumah, justru aneh gak sih kalo tuh anak gak bisa ngomong indonesia……nah kalo elo orang nanya masih mending ya anak lo bule gitu, nah kalo anak gue kaga ada bule2nya….mestikah pertanyaan itu keluar?

    adik ipar gue yang dulu pernah kerja di salah satu sekolahan pake bahasa inggris gitu (dia bukan staf pengajar, tapi sebagai creative teamnya gitu deh)….terus dia cerita, itu anak2 TK di sekolahnya obvious banget, mereka cuma mau ngomong pake bahasa indonesia cuma sama nanny-nya yang nungguin atau supirnya (kebanyakan dari mereka malah ngomong sama nanny-nya jg pake bahasa inggris). Terus parahnya keliatan perubahan sikap di anak2 itu ketika dia tau lawan bicaranya bisa berbahasa inggris dengan baik…..orang2 kecil di kepala gue langsung bilang “ehbujud, dari kecil udah di ajarin bikin kasta ya”.. similar sama keheranan gue kalo pulang kok beberapa kali orang2 baik2 aja tapi kalo ngomong sama pelayan restoran bisa jutek banget ya? beberapa dari mereka adalah orang yang gue kenal dengan sangat baik….tapi itu bahasan lain….hehe

    kayaknya buat anak2 di bawah umur2 tertentu terutama, language itu di acquire aja ya…jadi sebetulnya orang tua gak usah kuatir (in most cases)…..apalagi sekarang, kayaknya anak SD juga udah dapet pelajaran bahasa inggris, belum lagi dari tivi, game dan semua gadget2 yang lumayan sering berinteraksi dengan anak2 di indonesia pada umumnya………kalo emang concern-nya pingin anaknya bilingual….valid2 aja menurut gue….toh untuk knowledge advancement mayan beneficial juga banyak journal2 buku2 yang di publish dalam bahasa inggris (ya meskipun banyak jg translation-nya) tapi ketika itu sudah di gunakan sebagai tools untuk bikin garis strata sosial…kayaknya dah malah misleading ya….kok feodal banget gitu lho….

    utk bisa ngerti mother tongue juga salah satu cara untuk seseorang konek dan identify sama rootsnya..itu quoting dari gurunya si dama di paivakoti…hehehe…..

    gue perhatiin si dama belajar bahasa finlandnya rada lama ya, mungkin karena kita gak bisa ngajarin/ngoreksi (lah emang gak bisa maksa banget kalo sok2an ngajarin ya)…but he’s having fun with it…sama kayak bahasa inggris, kita gak deliberately push ini ke dia mskpun di rumah suka nyampur2 juga’….tapi gue nyalahin ini (lebih tepatnya mungkin berterimakasih) kepada perserikatan perpustakaan sehelsinki-espoo-vantaa yang gak punya buku bahasa indonesia (padahal buku anak2 bahasa arab aja ada lho)…gue kaget ketika masuk paivakoti gurunya bilang sm gue ini anak bisa bs bahasa inggris, meskipun kalo gue perhatiin struktur kata2nya masih belum bagus banget…tapi sekarang kita cuek2 aja sih, ntar ada waktunya jg buat formal learning tanpa harus kita impose mati2an…keliatannya dia lebih bisa absorb juga kalo sambil main ya sekarang2 ini, so i’m letting him have fun with it apapun second or third or fifth languagenya mau itu finnish, english, martians, bahasanya sama kakak yhdeksan,dll

    bener yg si bu guru minna bilang stick with your mother tongue, let him acquire the rest πŸ™‚
    jangan kaget ya kalo tiba2 si kai jago bahasa inggris picking up dari bits and piecesnya conversations lo sama si mikko…kayaknya itu yg terjadi sama nataniel deh, tb2 dia yang bisa bahasa inggris gitu lho….kai anak pintar…sini2 tante iya’ peluk gemes…

    *eh gue baru inget sesuatu…dulu nih waktu gue remaja kuliahan, beberapa keluarga indonesia di new england area, gue tau banget ortunya ngomong bahasa indonesia/sunda/jawa mati2an di rumah gak campur2 bahasa inggris deh pokoknya (atau untuk keluarga campur yg pake OPOL kayak elo)
    nah anak2nya pas udah gede2 (SD kelas 3-5an keatas gitu lah), gue tau banget mereka bs bahasa indonesia karena gue pernah nguping mereka ngomong bahasa indonesia sama orang yg gak bisa bahasa inggris tapi ketika mereka tau lawan bicaranya bisa bahasa inggris/ngerti (termasuk ke ortunya), mereka selalu jawab pake bahasa inggris (meskipun ortunya yang constantly koreksiin)…..ntar cowo2 kecil kita kalo dah ABG kayak gmn ya??
    **gue baru inget waktu si kai ulang taun kedua dirumah lo, gue pernah lagi main2 nyuruh dia bikin suara2 binatang….gak tau kenapa gue pas mau nanya suara anjing gue bilang koira ,terus si mikko langsung nyamber, bahasa indonesia aja nanti dia bingung….hehehehe…=)

  18. Wah,, kai hebatt.
    klo aku jg pengennya ngajarin anakku bisa bahasa jawa halus (scr babenya org solo) dan bahasa batak (aku batak).. Hihi

    Mb rika,, aku mau nanya deh.. Klo mb rika ngomong sm suami itu pake bahasa indonesia, inggris atw bhs suomi?

    1. eh, kok baru liat ada komen ini yg belum dibalas.
      Sama suami banyakan sih bahasa Inggris, Chie, tapi campur sedikit sama bahasa Indonesia juga. Suomi malah gak pernah dipake kalo ngobrol sama Mikko

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: