Kreta – Hari ke-12

Ke Anogia.

Jelas ini suami yang pengen. Ke kota kecil (desa?) antah berantah yang biarpun tertera di lonely planet tapi sama sekali bukan tujuan wisata di Kreta pada umumnya. Gue mah ikut aja, deh.

Baru juga ditaro di stroller Kai udah ketiduran. Ini gawat, kalo tidur sekarang nanti di bis anaknya bakal lasak. Gue pengen bangunin Kai tapi dilarang-larang sama Mikko, katanya kasian. Aaahh, suami….kok gak percaya sama insting seorang ibu (tsaaaaaahhh), eike kan yang paling tau soal Kai.

Bener aja deh, pas naik bis Kai bangun dan terang benderang terus sepanjang perjalanan. Belon ada setengah jam jalan udah mulai ngek ngok mau ini mau itu. Niatnya mau ditawarin air sama pisang biar kaleman dikit, eh, gak disangka-sangka dapet teriakan dari supirnya “DON’T EAT ON THE BUS!”. Siiiiiiinnnnnng. Satu bis sempet terdiam. Takyuuuuuuutt.

Sungguh gue sangat tersinggug sebenernya, pak supir kok pake teriak-teriak gitu sih? Tapi anehnya Kai jadi kaleman setelah diteriakin, kayanya anak gue juga takut ama supirnya, kali ya?

Entah mimpi apa gue tadi malem kok dapet bis supirnya galak begitu? Untungnya bukan gue aja yang kena omel, hampir seluruh penumpang kena teguran pak supir. Dari anak ABG sampe nenek-nenek semua kena omelannya. Lagi dapet, pir?

Perjalanan ke Anogia jadi terasa panjang tak berujung karena gue merasa tertekan ketakutan diomelin pak supir. Kalo menurut buku panduan Rethymno-Anogia harusnya ditempuh dalam waktu 1 jam 15 menit, tapi ini udah dua jam kok belon sampe-sampe juga? Yah, gak heran juga sih perjalanannya jadi lama begitu, tiap lima menit adaaaaa ajaaaa yang dikeluh kesahkan pak supir, tiap pemberhentian ada aja yang harus diinspeksi, jalan hilir mudik depan-belakang ngecekin penumpang satu-satu. Ini supir apa sipir sih? Harusnya istilah “ampun dije” diganti aja jadi “ampun supir”.

Setelah 2 jam 15 menit akhirnya sampai juga kami di Anogia. Kaya keluar dari penjara rasanya. “Suamiiiii….aku stressss. Supirnya galak banget”. Maklum, gue kan phobia orang galak.

Langsung cari kamar ke Hotel Aris, yang sebenernya lebih mirip homestay daripada hotel. Rumah penduduk yang kamar-kamarnya disewakan buat yang butuh penginapan. Yang punya (atau pengurusnya) nenek-nenek tua yang gak bisa bahasa Inggris, tapi ternyata transaksi berjalan lancar-lancar saja campur aduk antara bahasa inggris, yunani, tulis-menulis dan bahasa tubuh.

Si nenek bertanya kenapa kita gak nginep di hotel sebelah? Hotel Aristea, yang lebih besar dan (mungkin juga) lebih ngetop.

“Aristea full?” tanyanya

“Oh, I don’t know, we came straight to here” jawam Mikko

“Ohh….Good! Good! Hehehehhehehehe!” si nenek terkekeh senang sambil menepuk-nepuk bahu Mikko. Kayanya girang beteul. Gue sama Mikko sampe ketawa ngeliatnya.

Kamar hotelnya sendiri biasa aja, tapi kamar mandinya bagus walopun butuh sejuta tahun cahaya nungguin bak mandinya penuh. Aliran kerannya keciiiilllll sekali, keluar keran panas, begitu sampe dasar bak airnya udah keburu dingin.

Hotel Aris

Si nenek lucu pemilik Hotel Aris

Sekitar jam 5 keluar hotel untuk jalan-jalan ngeliat Anogia. Panasnya dijeeee. Katanya pegunungan, tapi kok tetep fanas?

Ternyata Anogia gak seperti yang gue bayangkan. Biarpun memang di gunung tapi jangan bayangkan pegunungan hijau nan asri, apalagi yang banyak sawahnya. Pegunungan di di sini gersang dan berbatu-batu, tapi tetep banyak kambing dimana-mana, namanya juga di Yunani, malih! Sepanjang jalan selalu terdengar bunyi “kleneng-kleneng” kalung besi yang dipake para kambing.

biarpun gunungnya gersang tapi di Anogia banyak bunga-bungaan

poto paporit ceritanya

Kalo menurut (apalagi kalo bukan) lonely planet, Anogia ini gambaran nyata dari pedesaan di Kreta yang sesungguhnya. Pedesaan yang macho, where everybody drives a pick-up truck and all the guys love their guns. Bener aja ya bo, itu truk pick-up dimana-mana dan nyetirnya lumayan ugal-ugalan. Jalan-jalan di desanya sempit tapi nyetirnya kaya gak kenal rem.

Kami sampe di semacam alun-alun tempat nongkrongnya warga desa. Kalo di Anogia sini yang nongkrong di luar sepertinya cuma laki-laki, terutama yang tua-tua, cewe-cewenya hampir gak keliatan. Kata Mikko memang beginilah standarnya pedesaan tradisional, hampir di manapun di dunia ini, laki-laki nongkrong di luar sementara perempuannya jaga gawang di rumah.

Kalo diperhatiin semua laki-lakinya berkumis, berjenggot dan berbaju hitam. Alkisah, jaman WW II dulu warga Anogia membantu memyembunyikan tentara sekutu dari incaran Jerman, sayangnya ketauan, akhirnya oleh pasukan Jerman seluruh laki-laki di desa itu dimusnahkan. Dan warga Anogia (khususnya kaum senior) masih berkabung sampai sekarang. Karena itulah hampir seluruh kakek dan nenek di sini berbaju hitam. Setiap hari. Sepanjang tahun.

Minum jus jeruk sebentar di sebuah kafe terus kami lanjut lagi jalan mengelilingi desa. Ketemu satu tempat yang banyak jual kerajinan rajut-merajut. Gue yakin perekonomian desa ini dimotori oleh para nenek, abisnya yang jualan nenek-nenek semua. Nenek-nenek kecil, ringkih, keriput yang mungkin umurnya lebih dari 100 tahun. Sebenernya gue gak gitu tertarik mau beli apapun di sini tapi siapa yang bisa menolak tatapan melas seorang nenek? Pada akhirnya terbeli juga sebuah tas rajutan dan taplak meja. Setelah itu langsung buru-buru cabut, gak tahan gue denger bujuk rayu para nenek tersebut, gak kepengen belanja, tapi mau nolak juga gak tega.

tenunan karpet dari benang wool

terlanjur mem-foto si nenek, makin gak bisa nolak waktu disuruh beli taplak meja

Terakhir kami makan di sebuah restoran pinggir bukit. Makanannya gak enak tapi pemiliknya baik banget sama Kai. Sepanjang kami makan Kai dan si bapak sibuk ber “Yassu, yassu” yang sepertinya berarti “halo”.

Lucunya, di resto Ta Skalomata ini bapak dan ibu pemiliknya gak bisa bahasa Inggris, tapi gape ber- deutsch sprechen. Jadilah kami ngomong pake Inggris dan mereka jawab pake Jerman. Dan untungnya saling mengerti.

Habis makan gue sempet nge-warnet sebentar, trus pulang dan bobo. Besok harus bangun pagi-pagi soalnya. Bis ke Heraklion berangkat jam 8 pagi dari Anogia.

Anogia bukan tempat yang bakal gue kunjungi kalo gak karena Mikko. Gak ada sesuatu yang bener-bener menarik, indah, atau spektakuler di sini. Tapi ternyata gue senang bisa datang, pengalamannya berbeda banget dengan pengalaman jalan ke tempat yang udah jelas turistik. Pengalaman check-in hotel pake bahasa tubuh dan sibuk nebak-nebak menu makanan karena gak ada translasi inggrisnya.

Selama jalan-jalan kami berasa jadi satu-satunya turis di di sini (dan gue berasa diliatin orang-orang di sana). Mau ngapa-ngapain jadi lebih hati-hati, gak bisa sembarangan foto, sembarangan pake baju, atau sembarangan ngomong karena takut menyinggung warga setempat. Tapi buat gue warga Anogia sini jauh lebih ramah, semua orang ngajak Kai main dan gak sedikit yang mendekat sambil membawa anaknya buat main bareng Kai. Pada akhirnya kunjungan ke Anogia ini berkesan sekali buat gue.

Advertisements

7 comments

  1. motauaja · · Reply

    haduh… apa rasanya pake baju itam melulu di terik2 matahari gitu ya? ck ck ….

    1. kalo gue penasaran liat lemari-nya, bingung gak sih bajunya sewarna semua gitu?

  2. Hai Rika, salam kenal ya 🙂
    kamu lucu ^^ tulisanmu juga lucu ^^ mesem2 bacanya 😉
    ternyata menarik juga Kreta ini, ga kepikir jadi tempat tujuan wisata yang OK, aku naksir hotel rumahan itu, terlihat bersih dan asri ^^
    dan jaket tenunnya menurutku OK, suka motif tradisionalnya
    bagus deh 😀

    1. Halo Susan. Salam kenal juga ya. Gue selalu tersipu-sipu malu baca komennya 🙂

      Kalo bukan karena suami kayanya gue gak bakal kepikiran liburan di Kreta juga. Ternyata di sana rame banget loh sama turis, mungkin popularitasnya belon sampe aja ke Indonesia ya, masih kalah sama popularitas Eropa daratan.

      Hotel Aris itu bener2 “homey” banget, kaya nginep di rumah nenek sendiri. Dan bersiiiiiiih. Gue suka banget di sana.

      Jaket tenunnya gue juga suka, si nenek nawarin seharga 30 euro. Tp harga segitu sih buat gue kemahalan kalo buat baju anak2, paling dipakenya cuma sebentar.

  3. ditz · · Reply

    koq gak ada foto kambingnya? dari td gw cariin gk ada

    1. huwahahaha, penting ya dipanjang kambingnya di sini? Gak gue foto sih tuh kambing2, tapi percayalah…banyaaaaak!

      1. ditz · · Reply

        hahahhaha gara2 loe cerita byk kambing jd penasaran sama penampakannya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: