Kreta – Hari ke-7

Bangun pagi dikabarin Mikko kalo gue salah info tentang Vamos. Ternyata Vamos itu pedesaan di atas gunung, bukan pinggir pantai. Jauh beda sama bangsanya Kissamos atau Paleohora. Yaaah, gue jadi nyesel dong gak jadi ke Vamos. Ah, gak usah nyesel, kata Mikko. Nanti dari Rethymno kita bisa ke Anogia, desa kecil di pegunungan juga yang katanya khas Yunani banget. Di benak gue langsung terbayang kambing berlari-larian. Kenapa kalo denger kata Yunani yang langsung teringat justru kambing?

Ternyata dapet transport gratis dari Finnmatkat ke hotel kami di Rethymno. Kejutan baget ini karena kami udah siap geret-geret koper ke terminal bis Hania dan naik bis umum dari sana. Tapi harus ikut ke anter tamu-tamu ke airport dulu, nunggu tamu-tamu baru yang mendarat dari Helsinki, baru ikut bis tujuan Rethymno. Ribet ya? Gak papa, yang penting gretong!

Dan alhamdulillah wa syukurilah, sepanjang perjalanan Hania-Rethymno mata gue rasanya dibelai-belai ngeliat pemandangan alam yang aduhai cantiknya. Bener-bener menakjubkan banget alam Pulau Kreta ini. Pegununungan nan hijau, laut biru toska, tebing-tebing putih, dan bunga-bungaan aneka warna mekar semerbak di pinggir-pinggir jalan. Ngeliatnya sungguh bikin gue terharu. Rasanya segala keluh kesah gue selama di Hania kemarin terbayar sudah dalam perjalanan singkat itu. Bener-bener perjalanan 60 menit yang akan gue ingat sepanjang umur hidup gue.

Alhamdulillah juga Kai jadi anak baik hari ini. Setengah perjalanan anteng ngobrol sama isi, setengahnya lagi tidur. Gue jadi puas menikmati pemandangan.

mirip banget sih kalian di foto ini

Sampai Rethymno tambah seneng karena hotelnya lebih bagus daripada di Hania. Kali ini kami menginap di Ibiscos Hotel yang tampaknya memang di design sebagai family hotel banget, soalnya banyak banget arena bermain buat anak-anak. Kolam renangnya ada entah berapa biji, ada playground, ada play rooms sampe children’s buffet buat makan-makannya. Hampir seluruh tamu di sini datang lengkap dengan buntut-buntutnya. Kai langsung hepi luar biasa liat segitu banyak anak kecil.

Sayang aja di kamar gue wifinya lagi rusak, katanya gara-gara badai minggu lalu, dan sampai sekarang masih belon bener juga. Untungnya ada si Thomson, wifi tak berkunci yang bisa dicolong dari balkon. Gue bela-belain deh ini online dengan handuk di kepala. Buat nutupin muka, bow, panas banget ini mataharinya.

Lewat tengah hari memutuskan untuk jalan ke daerah pantai. Jadi yah, hotel kali ini letaknya gak dipinggir pantai. Harus pake lima menit jalan kaki dulu kalo mau ke laut. Ngeliat pantai-nya Rethymno, ajegileeeee…rame buangeeeeeeeddddd. Beda sama Nea Hora yang sepi-sepi gimana gitu. Emang pas juga cuacanya lagi cerah banget ya, alias panas ngarojeng itu mataharinya.

Emang dasarnya gue bukan anak pantai gue cuma bisa geleng-geleng kepala liat orang-orang yang asik berjemur. Apa asiknya sih itu? Gue sendiri rasanya udah gak sabar mau balik ke hotel dan ngadem di kamar.

Bosen sama makanan ala yunani (yang padahal jarang banget gue makan selama di sini), gue ajak Mikko untuk makan di sebuah resto Italia. Piagacclio kalo ga salah namanya. Liat ada tamu berbahasa itali masuk ke sana dan langsung cupika cupiki sama (mungkin) pemiliknya gue langsung optimis. Pasti enak ini! Orang itali aslinya aja datengnya ke sini.

Dan rupanyaaaaa…..emang endang estaurina banget itu makanannya. Gue pesen spaghetti al cozze alias spaghetti pake kerang ijo, makannya sampe gue jilet-jiletin itu piringnya. Setelah makan di kasih secangkir kecil panna cotta gratis yang rasanya juga luar biasa. Pas bayar….iiihhh, harganya lebih bersahabat dari resto-resto yang pernah kami kunjungi di Hania. Udah pasti gue akan makan lagi di sini, kalo perlu tiap hari selama kami di Rethymno.

mantapo enak bangeto

Selesai makan niatnya mau nerusin jalan menyusuri pantai sampai ke pusat kotanya tapi apa daya kulit sensitifku protes dibelai matahari. Panas banget, joooo! Akyu tak tahaaaan, aku mau balik ke hotel. Lhaa, padahal baru juga lima menit jalan.

Kembali di kamar hotel  gue tanya apakah suami menyesal seharian ini kami gak kemana-mana? Gak disangka suami seneng-seneng aja hatinya. Kata doi holiday is about doing nothing. Kita ini disini liburan, bukan lagi travel. Gak usah pusing sama itenerary, gak usah terlalu ambisius mau kesana mau kesitu, gak usah kejar tayang mau melahap semua objek wisata, yang penting santai, banyak tidur dan quality time dengan keluarga. Hiks, gue jadi terharu dengernya.

Lucu juga ya, awal liburan kan niat gue memang cuma mau bermalas-malasan aja tanpa ada target apapun, tapi gara-gara baca lonely planet sedikit aja langsung panas dingin mau liat ini itu, pake acara sirik-sirikan pula sama suami yang sempet ke Samaria Gorge. Emang seharusnya buku lonely planet gue buang aja ke laut, dan mulai sekarang gue bertekad untuk lebih menikmati liburan ini dengan santai-santai, males-malesan, banyak tidur dan bermain sama Kai.

Advertisements

4 comments

  1. Itu Mikko sama Kai kayak anak kembar beda puluhan taun deh, miriiiip 🙂

    1. kebanyakan orang bilang Kai mirip gue, padahal akyu ingin Kai mirip bapaknya

  2. ditz · · Reply

    waaaa…spaghettinya emang porsinya dikit atau ydah setengahnya ada di perut u beb? dikit amaat

    1. keliatannya aja sedikit beb, tapi itu piringnya melegok ke dalem jadi porsinya lumayan banyak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: