memultibahasakan kai

Jaman masih hamil dulu gue dan Mikko sempet ikutan semacam training parenting singkat yang khusus diadakan untuk pasangan beda bangsa macam kami. Salah satu bahasan penting di training itu tentunya tentang multibahasa. Tentang metode dan tips yang bisa diterapkan untuk mengajarkan multibahasa ke anak dan tentunya pembahasan tentang tantangan – tantangan yang akan dihadapi.

Dilain waktu, di perhekerho (family club), tempat ngumpulnyaa para ibu dan anak, pernah juga dua orang guru sekolah datang untuk ngasih ceramah ke kami-kami para ibu asing (non-finnish, dan terutama sekali non-finnish speaking) tentang penggunaan bahasa di rumah dan di sekolah. Baik di training ini maupun di training parenting sebelumnya sama-sama ditekankan kalo mengajarkan bahasa ibu sangatlah penting. Sama pentingnya seperti bahasa Finlandia, bahasa dimana kami berada sekarang ini.

Gue dan suami sendiri sedari awal sudah memutuskan untuk mengajarkan dua bahasa kepada Kai. Indonesia dan Finlandia. Jaman masih hamil dulu gue baca-baca sedikit tentang topik multibahasa ini, rasa-rasanya metode yang paling gampang namun efektif, ya, metode OPOL (one parent one language) dimana gue berkomunikasi dengan bahasa Indonesia ke Kai, dan suami menggunakan bahasa Finlandia.

Kembali ke training parenting tadi, metode OPOL ini jugalah yang dibicarakan. Kunci sukses dari metode ini adalah: kon-sis-ten-si. Gue konsisten pake Indonesia terus, suami konsisten pake Suomi (Finlandia). Gimana dengan Inggris? Gue dan suami kan komunikasinya pake Inggris? Kalo menurut fasilitatornya lambat laun anak akan menyadari kalo orang tuanya punya bahasa yang berbeda ketika saling bicara, pada akhirnya dia akan mulai mengerti bahasa Inggris juga.

Apakah pembelajaran multibahasa ini akan menyulitkan anak? Tidak sama sekali. Bayi dan anak-anak kecil punya kemampuan menyerap berbagai bahasa. Buat pasangan multibudaya ini bener-bener kesempatan untuk mengajarkan lebih dari satu bahasa buat si anak. Pada kenyataannya banyak sekali orang-orang yang tinggal dalam lingkungan yang mendukung bilingualisme (ataupun multilingualisme), misalnya aja di Indonesia, kalo udah keluar Jakarta udah bisa dipastikan bahasa Indonesia dan bahasa daerah sama-sama beredar. Jadi multibahasa itu sebenarnya sangat normal dan sangat banyak contohnya disekeliling kita.

Ngomongin soal OPOL lagi, ada beberapa hal yang di highlight oleh si fasilitator:

1. Kembali lagi ke kon-sis-ten-si. Harus selalu kudu musti  konsisten. Gue full ngomong Indonesia, Mikko full ngomong Suomi. Jangan hari ini gue ngomong pake Indonesia, besok pake Inggris. Yang kaya begini bisa bikin anak bingung dan memperlambat proses belajarnya.

2. Tidak mencampur-campur bahasa. Misalnya: “Kai mau makan pisang?” dan bukannya “Kai mau makan banani?” Menyelipkan kata-kata asing akan menyulitkan anak untuk mendiferensiasikan bahasa. Mana yang Indonesia mana yang Suomi bingung nanti doi.

3. Berbicara dengan baik, benar, jelas dan lengkap. Biasakanlah berbicara dengan kalimat yang lengkap. Mengajarkan bahasa Indonesia gak sekedar menerima anak bisa ngomong “pisang”, “kereta”, “rumah”. Tapi juga memberi contoh penggunaan kata dalam kalimat. “Saya mau pisang”, “Lihat, ada kereta lewat”. Sama prinsipnya untuk bahasa lain. Anak bisa ngomong “orange”, “yellow”, “car” bukan berarti si anak bisa berbahasa Inggris. Dia cuma tau beberapa kata dalam bahasa Inggris. Anak yang berucap “Saya mau orange” tidak bisa dikatakan bisa berbahasa Indonesia maupun Inggris dengan benar.

4. Me-reinforce penggunaan bahasa yang benar, dan tidak me-reinforce penggunaan yang salah. Misalnya, kalo Kai ngomong ke gue “Kai mau pisang”, gue kasih dia pujian, gue kasih pisangnya. Tapi ketika doi ngomong “Kai mau banani” atau “Haluan banania”, gue gak akan kasih pisangnya sampai dia ngomong ke gue dengan bahasa Indoensia yang benar. Sama halnya kalo Kai ngomong ke Mikko. Kalo Kai ngomong pake Indonesia atau campur-campur Indo-Suomi, jangan ditanggepin! Kalo perlu suruh ulang sepuluh kali sampe bener.

5. Rajin mengulang-ngulang. Terutama ketika anak membuat kesalahan, harus sabar untuk ngasih penjelasan berulang-ulang sampe anaknya ngerti. Termasuk juga meminta anak untuk mengulang kalimatnya supaya benar.

6. Nyaman dan PD dengan bahasa yang dipake. Alasan utama kenapa gue berbicara bahasa Indonesia ke Kai. Karena cuma dalam bahasa inilah gue PD berbicara nyerocos wes ewes ewes. Buat ortu yang bilingual, misalnya aja gue punya temen yang lancar bahasa Indonesia dan Cina, pilihlah bahasa yang paling dikuasai untuk diteruskan ke si anak. Kenapa? Karena dalam proses pengajaran bahasa komunikasi yang lancar itu penting untuk mendapatkan hasil yang optimal. Agak susah buat gue untuk ber OPOL pake Inggris ke Kai kalo mau ngomel aja gue harus mikir seribu kali dulu untuk cari kata-katanya.

7. Penggunaan berbagai macam media pendukung bahasa. Selain ngomong ke gue dan Mikko tentunya pembelajaran bahasa Kai harus didukung juga sama hal-hal lain seperti buku, musik, video. Ini bisa jadi tantangan besar buat bahasa minoritas, dalam perkataan lain bahasa-bahasa yang kurang populer di dunia. Yah, macam bahasa Indonesia dan Finlandia inilah. Selagi di sini susah buanget buat gue nemuin buku -buku Indonesia, paling cuma di KBRI, itupun gak banyak. Sama aja kalo kami tinggal di Indonesia, pasti kesulitan nemuin bacaan dalam bahasa Finlandia.

8. Atur ekspentasi supaya jangan berlebihan. Terutama untuk bahasa Indonesia dan Finlandia yang bedaaaaa bangeeeeet tertulis sama lisannya. Kalo kami memutuskan permanen di Finlandia, rasanya mustahal buat Kai untuk masuk UI atau ITB (atau universitas manapun dengan bahasa pengantar bahasa Indonesia), bisa jadi Kai lancar ngomong tapi pas disuruh bikin thesis pastinya ancur dijeee. Kebalikannya berlaku kalo kami memutuskan untuk tinggal di Indonesia.

9. Tabahkan diri ketika menghadapi “penolakan bahasa”. Suatu hari nanti, ada masanya dimana si anak menolak salah satu bahasa yang diajarkan. Biasanya sih bahasa yang minoritas. Dalam kasus gue sekarang ini tentunya bahasa Indonesia, karena di sini kan Suomi  jadi mayoritas. Denger cerita orang-orang, jamannya si anak mulai sekolah (atau playgroup), jamannya mulai pengen bergaul tapi sekaligus menyadari dirinya berbeda dari yang lain (bahasa, warna kulit, rambut, dll), bahasa mayoritas akan terlihat lebih keren buat si anak. Terjadilah penolakan terhadap bahasa minor-nya. Tiba-tiba gak mau ngomong bahasa Indonesia (misalnya), ngomong sama emak yang jelas-jelas Asia ini pun pake Suomi. Ketika ini terjadi, orang tua harus tabah dan ingat lagi sama prinsip konsistensi dan reinforcement/ un-reinforcement yang udah dijelaskan di atas.

10. Semua bahasa yang dipelajari sama pentingnya. Gak ada ada yang lebih atau kurang penting. Sama juga halnya, jangan dianggap ada yang lebih mudah atau lebih sulit. Semuanya sama. Karena itu, ketika menghadapi tantangan jangan mudah menyerah dengan pikiran-pikiran “Ah, bahasa X kan gampang, belajarnya ntar aja, sekarang gak papalah si anak pake bahasa Y dulu, yang X nanti-nanti aja”. Inget lagi, kapasitas otak anak memungkinkan mereka untuk belajar lebih dari satu bahasa, jadi jangan sia-siakan kesempatan ini karena kemalasan kita atau ketidak pedulian kita terhadap suatu bahasa.

11. Bahasa ketiga juga dapat diintegrasikan di keluarga. Misalnya Inggris jadi bahasa ketiga di keluarga gue, lambat laun Kai pun akan menyadari orang tuanya punya bahasa yang berbeda dan pelan-pelan akan menyerapnya  juga. Untuk mendukung proses belajar bahasa Inggris ini bisa diciptakan situasi khusus dimana kami sekeluarga berbahasa Inggris. Misalnya waktu makan (Inggris jadi bahasa meja makan), atau lagi main (jadi bahasa bermain) dll. Yang jelas konteks atau situasinya harus berbeda supaya anak mengerti kalo bahasanya juga berbeda.

Di parenting training kemaren itu penerapan metode OPOL ini gak terbatas untuk pasangan  Finnish – non Finnish aja. Karena ada juga pasangan Latvia-Russia yang ikut training juga. Kapankah mereka harus mengajarkan bahasa Finlandia ke anaknya? Kalo menurut kata fasilitatornya: gak perlu. Bahasa Finlandia akan didapat si anak dari sekolah (atau playgroup, yang disini biasanya dimulai ketika anak usia 3 thn atau malah lebih awal).

Nah, ceramah singkat di perhekerho yang gue ikutin lebih menyinggung hal ini. Gimana caranya ikut aktif dalam pelajaran sekolah anak kalo ortunya gak bisa bahasa Finlandia? Cerita singkat aja, group gue di perhekerho kebanyakan isinya ibu-ibu suku Jarai dari Vietnam. Mereka tinggal di sini sebagai pengungsian, kabur dari negaranya karena merasa ter-opresi. Suami-suami mereka pun orang Jarai juga, jadi bisa dipastikan penggunaan bahasa Finlandia di dalam rumah sangat minim sekali.

Tapi menurut si penceramah, gak bisa bahasa Suomi bukan berarti kita lepas tangan dari pelajaran si anak. Setiap anak pulang sekolah, tanyalah selalu ngapain aja tadi di sekolah, minta doi menjelaskan dalam bahasa ibunya, liat buku dan tugas-tugas yang dia kerjakan dan membahasnya bersama. Misalnya aja nih, tadi di sekolah si anak belajar tentang warna, si ortu pun ikut belajar juga bareng si anak (“Keltainen..oooh, kalo dalam bahasa Indonesia apa? Kuniiiingggg) . Hal ini penting dilakukan karena berbagai hal: 1) menjaga bonding ortu-anak yang tentunya sudah berkurang secara kuantitas karena anak menghabiskan waktu panjang di sekolah, 2) memonitor kegiatan anak di sekolah dan 3) melestarikan penggunaan bahasa ibu

Sekali lagi ditekankan di sini betapa bahasa ibu sangat penting untuk dilestarikan. Sungguh saya terharu. Di saat kasus cincha lawra merebak di Indonesia, di sini gue malah dinasihati orang-orang Finlandia untuk melestarikan penggunaan bahasa ibu gue.

Lanjut lagi ke ceramah perhekerho, dihimbau juga untuk sering-sering membaca buku bareng anak. Gak punya buku bahasa Indonesia? Ya gak masyalaaahhh. Cari aja buku, dalam bahasa apapun, yang banyak gambarnya. Kemudian gunakanlah gambar-gambar tersebut untuk merangkai cerita dalam bahasa Indonesia. Membaca buku mendukung proses belajar bahasa anak. Karena itu harus dilakukan sedini mungkin. TV dan video game sangat tidak dianjurkan. Sebisa mungkin no TV untuk anak dibawah 2 tahun. Untuk anak usia sekolah jangan lebih dari 2 jam (TV, video games, computer, internet, ditotal semua maksimal 2 jam). Sungguh dengkul saya gemetar mendengarnya. Apakabarnya gue yang hobi ngendon depan TV dan berjam-jam surfing di internet???

Segitu aja sih yang gue inget dari ceramah di perhekerho. Lebih tepatnya, segitu aja yang bisa gue tangkep, soalnya ceramahnya pake bahasa Suomi booowww….meneketeheeeeee. Tapi anehnya ya, walopun mereka ngomong full pake Suomi, gue bisa ngerti maksud-maksud yang disampaikan. Padahal bahasa Suomi gue  ini kan jebloknya setengah mati. Sungguh mereka pengajar yang sangat jempolan. Kalo semua orang Finlandia ngomongnya kaya para guru itu pasti gue gak takut lagi bertegur sapa sama penduduk sini.

Gak kerasa gue udah nulis panjang banget. Pada intinya gue mau nulis kalo bilingualisme atau bahkan multilingualisme itu mungkin diterapkan sejak usia sangat dini. Jadinya gue gak setuju dengan pendapat yang mengatakan “ajarkan satu bahasa dulu (bahasa ibu), berikutnya baru belajar bahasa lain”. Lhaaa….buat yang bahasa ibunya lebih dari satu macam Kai ini gimana dong? Gak rela gue Kai cuma belajar bahasa Suomi, ntar kami liburan ke Indonesia masa dia ga bisa ngomong sama oma-ompungnya???

Pada kenyataannya di Finlandia sini banyak private daycare yang memfasilitasi multibahasa (Spanish daycare, English daycare, French daycare), dan ternyata banyak anak-anak asli Finlandia yang dimasukkan ke daycare asing itu dengan harapan mereka bisa belajar bahasa asing sejak dini. Apakah terus mereka jadi lupa bahasa Finlandia? Ternyata gak tuuuhhhh. Hasilnya mereka lancar berbahasa Spanyol (or whatever) dan Finlandia sekaligus. Gak pake acara lupa-lupa ala cincha lawra.

Kalo menurut gue sih kegagalan berbahasa terjadi karena prinsip2 yang gue tulis di atas tadi tidak dijalankankan. Ortu tidak konsisten dalam mengajarkan bahasa, atau mungkin juga tenaga pengajarnya gak qualified, gak nyaman dengan bahasa yang dia ajarkan, ortu mengijinkan anak untuk mencampur-campurkan bahasa (malah me-reinforce, misalnya: seneng banget denger anak ngomong “Liaatt ada plane” ketimbang anak ngomong “Liaat, ada pesawat”), mengijinkan penolakan bahasa terjadi belarut-larut dll dsb. IMHO ya…gue bukan ahli bahasa, ini sekedar dugaan dan pendapat gue aja.

Dan terakhir, buat para pasangan beda budaya, ataupun pasangan Indonesia yang tinggal di luar negri, ayo kita ajarkan bahasa Indonesia ke anak-anak kita. Kalau orang asing aja menyadari pentingnya keberadaan bahasa ibu, kenapa kita tidak? Selain itu, di parenting training fasilitatornya bilang, “those who master their mother language(s ) tend to be happier adults”, anak-anak yang terpapar dengan multibudaya (misalnya: anak-anak dari perkawinan campur, atau mereka yang tinggal di luar daerah asalnya, atau mereka yang sering pindah-pindah) sering menghadapi krisis identitas diri di masa dewasanya, penguasaan  bahasa ibu dapat membantu mereka mengatasi krisis ini dengan baik. Ciyeeeeeeeeee……

Advertisements

14 comments

  1. Sungguh tulisan yang bermutu tinggi dari Kak Rika! 😛

    Keren ya di sana, sampe ada seminar ginian segala. Di sini? Oh boro2… sampe cape gue denger anak kecil ngomong kata2nya nyampur semua. Eh tapi orang2 kantor gue juga begitu sekarang, sampe gue pernah lagi diskusi dia (orang Indonesia ya) pake bahasa Inggris gue jawab bahasa Indonesia 😀

    Abis gue baca2 dan gue resapi, kayaknya bener juga tuh penyebab kegagalan berbahasa yang lagi heboh di Indonesia. Ibunya mungkin ngomong bahasa asingnya ga terlalu fasih dan blom ngerasa terlalu nyaman, trus juga suka nyampur kata2 dalam 1 kalimat. Akhirnya anaknya makin bingung, dan yang lagi belajar ngomong malah makin ancur aja hasilnya.

    1. Ah, adik Otty, saya jadi tersipu-sipu sama puziannya.

      Yang gue seneng seminar2nya itu gretongan bok. Tinggal bawa badan aja, dompet tinggal di rumah. Tapi bukannya di Indonesia juga sekarang lg getol seminar2an ya? Mulai dari masalah ASI sampe disiplin (siapa itu yang tenar? Ibu Elly kalo ga salah namanya). Gue yakin bentar lagi pasti ada juga seminar ttg bahasa.

      Kalo soal ngomong campur2…errrr…liat aja tuh tulisan gue. Nyampur2 juga bok. Jauh teori dari kenyataan. Tapi sebisa mungkin kl ngomong ke Kai gue pk kata2 Indonesia aja soalnya anak kecil kan blon tau mana yang Indo mana yang Enggres. Beda ama orang dewasa.

      Tapi berkat seminar ini gue gak takut lagi kalo misalnya mau nyekolahin Kai ke international school, asal pengajarnya bagus2. Boleh aja di sekolah ngomong basbisbus, di rumah ya gue jadikan wadah berbicara bahasa Indonesia. Sayang aja nih fulusnya gak ada buat sekolah international begitu. Wakakakakakaka

      1. Yah kalo udah seumur kita dan ngomong nyampur2, gue anggap itu udah “rusak” aja 😛

        BTW di sini seminar bayar lho! Beberapa gratis, tapi sebagian besar bayar.

  2. motauaja · · Reply

    wooow…. keren… dikit lagi jadi thesis nih beb, tinggal sidang doang… hihii tapi bener kok gud2! (nah lo, nyampur2 deh).

    1. Thesis gue malah lebih ancur dari ini kayanya, beb. Bwahahahahhaa.
      Tapi you like no? Tulisan punya ai orang? Danke2. Ai juga bisa loh ngomong asahab kilab. (Makin campur2)

  3. oh Rika, senangnya daku membaca tulisanmu ini 🙂
    mo nanya dikit dong, di situ diterangin ga, kenapa bahasa ibu itu penting (bhs Indonesia dlm kasus kita ya..) walopun anak itu tinggalnya di Finlandia? suami gue masih rada2 kurang percaya gitu bahwa buat anak kita nantinya (belom, belom hamil kok :D) lebih penting belajar bhs Indonesia + Suomi dibanding Suomi + Inggris..menurut dia, karna kita tinggal di Finlandia, mendingan ajarinnya bhs Suomi + Inggris dulu..huuuu, aku tak mauuuuu…gue tetep ngotot mo ngajarin bhs Indonesia, tapi klo lo tau alasannya dari pakar2 training parenting itu, kasih tau gue yahhh..biar ada alasan kuat yg mendukung ke-ngotot-an gue itu, uhuks :p

    1. Seinget gue sih waktu itu diterangin kalo pengajaran bahasa ibu ini penting sekali dalam membentuk identitas diri si anak, karena gimanapun anak kita nantinya kan gak bisa dibilang 100% Finnish, secara fisik aja mereka bakal keliatan berbeda. Ketika anak menyadari perbedaannya itu dan tertarik utk menggalinya kefasihan berbahasa ibu akan membantu sekali.

      Waktu training diingetin kalo anak dari pernikahan campur bukan 1/2 Indonesia, 1/2 Finnish. Anak itu both Indonesian and Finnish. Gak setengah2. Jadi sebisa mungkin kenalkan kedua budaya (termasuk bahasa tentunya) dua negara itu ke si anak.

      Selain itu pernikahan kan melibatkan banyak orang selain suami istri, kalo nenek kakek si anak ga bisa Suomi/English gimana si anak bisa komunikasi sama mereka?

      Dan yang penting juga tentunya masalah bonding anak-ortu. Berbicara dalam bahasa yang sama akan membuat si anak merasa lebih kenal orang tuanya.

      Katanya sih di masa dewasanya nanti banyak anak2 multiculture yang mengalami pencarian jati diri. Pengen mencari akar budayanya. Mereka yang gak bisa bahasa ibu-nya menurut riset (yg gue kagak inget sumbernya) sering mengalami frustasi.

  4. Rusti · · Reply

    Pantesan gue sekarang suka frustasi. Emak gue lupa ngajarin bahasa inggris( masih sedaraan ama Dodi Elfayed)

    1. Erruuuuuuuuuuusssss……..kok bisa nyasar dimari? Pegimana ceritanya????
      Ngobrol sama bang Philipp pake bahasa apa Erus jadinya?

  5. ahh bagus banget tulisanlo ini Rika. kecup..

    1. cup balik
      mwaaahh

  6. Hi Rika.. Maaf, ini Rika temannya Vera yg kerja di WTC (law firm) bukan ya? Aku lagi browsing soal OPOL dan masuk ke website ini, setelah lihat foto profile-nya kok kaya kenal-kenal ngga.. Hehe..
    Maaf ya kalo salah orang.. 🙂

  7. Hi Rika,

    Maaf, ini Rika temennya Vera yg kerja di WTC (law firm) bukan ya?
    Aku lagi browsing soal OPOL dan ketemu website ini, setelah lihat poto profile-nya kok kaya kenal-kenal ngga.. Hehe..
    Maaf ya kalo salah orang 🙂

    1. halo shintaaaaaaaaa….iyaaa, ini rika temennya vera. Gue masih inget kok sama kamu. Kalo gak salah vera pernah cerita kamu sekarang di US ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: